Colourfull of Love (#3)

Standar

CL

Cinta akan menemukan jalannya

Hatiku mengatakan padaku

Jalan mana yang telah engkau lalui

Apa yang kau tidak punya

Apa yang sedang engkau cari

Sesuatu yang tidak terkatakan yang tidak terucapkan

Kata-kata itu membuat detak jantungmu bergetar

Mengalunkan lagu cinta

Jangan menahan diri dari kebenaran ini

Kedua matamu telah menemukan jalan kehidupan ini

Jika berani menari mengapa kakimu terikat rantai

Berikanlah pada kakimu sebuah kuasa

Untuk lagu-lagu cinta

 

Eun Kyo’s POV

Aku mengalihkan pandanganku kearah suara yang meneriakiku. Melihatnya dan membelalakkan mataku karena yang berdiri didepan pintu adalah seorang wanita setengah baya yang dipanggil Teuki Eomma.

“Eomma.” Panggilnya lirih, tak tau apa yang harus aku lakukan, tubuhnya juga masih menindih tubuhku. Dia juga menatap wanita yang berdiri di depan pintu. Aku langsung mendorong tubuhnya. Dia sedikit limbung karena dorongan kuat dariku. Aku merapikan bajuku dengan menarik kemejaku yang sedikit kusut. Membungkuk dihadapan wanita itu.

“Annyeong haseyo.” Sapaku sambil salah tingkah, benar-benar bukan waktu yang tepat dan situasi yang tepat.

“Jung Soo~ya..” wanita itu menarik Teuki dan melirikku sekilas. Seperti tatapan tidak terlalu suka. Aku hanya terdiam memandang mereka dan aku sungguh tidak tau harus berbuat apa, hanya mematung sambil memilin kemejaku.

Aku masih terpaku disamping tempat tidur. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus keluar dan ikut berbincang-bincang dengan mereka? Atau menunggu saja disini? Atau kabur lewat jendela? Yaiks! Aku benar-benar bingung apa yang harus aku lakukan!

Aku akhirnya berjalan menelusuri kamar lelaki aneh yang beberapa hari ini membuatku merasa aneh. Merasa aneh karena dia selalu berada disekitarku. Seperti aku hanya berkisar di medan magnetnya, dia selalu ada. Aku  memperhatikan beberapa foto yang tertata rapi di lemari yang di desain khusus untuk foto. Foto sejak dia kecil hingga remaja dan beranjak dewasa.  Sangat lucu, terkadang juga terlihat sangat lugu. Kakiku bergeser ke meja yang ada tak jauh dari sana. Terdapat sebuah laptop dan beberapa sound system kecil yang terletak disampingya. Semua kamar ini di dominasi oleh warna putih. Hem, bagus juga, lumayan. Aku bergeser lagi menuju sebuah meja kosong kayu berukir. Tanpa kursi, hanya sebuah meja saja. Aku merasa bingung, untuk apa meja ini?

“Kau suka desain kamar ini?”  sebuah suara mengejutkanku. Dia sudah berdiri di belakangku ternyata. Aku sedikit menggeser langkahku dan berbalik menghadapnya.

“Lumayan.” Sahutku. Sambil terus memandangi dekorasi kamar ini.

“Akan jadi kamar kita nantinya.” Jawabnya santai berbisik di telingaku, nafasnya menerpa rambutku hangat, menjalar hingga leherku.

“Kau gila!” jawabku sambil mendorong tubuhnya ingin pergi meninggalkannya, tapi tangannya menahanku, langkahku terhenti.

“Kalau begitu aku permisi.” Sebuah suara kembali mengejutkanku. Aku menoleh padanya.

“Ah, ye.” Aku mengangguk dan menyentuh rambutku. Benar-benar salah tingkah.

“Dia ibuku, aku belum sempat memperkenalkannya padamu. Sangat sibuk, biasa wanita karier.” Jelasnya padaku tanpa diminta.

“Bukan urusanku.” Jawabku.

“Dia akan jadi ibumu juga kan nantinya?” tanyanya, aku mengerutkan dahi menatapnya, bingung. Lelaki ini benar-benar aneh, jangan katakan kalau dia benar-benar menganggapku sebagai tunangannya. Dia tersenyum tapi aku tidak ingin meladeninya.

“Aku pulang saja.” Aku mendorong pelan tubuhnya untuk memberiku ruang gerak dan segera beranjak dari sini sebelum aku gila.

“Tunggu dulu.” Dia menarik lenganku. Aku tidak memperdulikannya dan menarik lenganku agar terlepas darinya tanpa ingin sedikitpun menoleh padanya. Aku terus menarik lenganku, tapi dia tidak melepasku, malah lebih kuat mencengkramku. Aku menatap jari-jarinya yang kuat mencengkram lenganku, lalu beralih pada wajahnya yang terlihat serius. Aku membesarkan pupil mataku sebagai perintah padanya untuk menjelaskan ada apa sebenarnya. Dia tidak menjawab malah menyeretku duduk di tepi ranjang. Aku menghela nafas.

“Wae gurae?” tanyaku. Dia tidak menjawab. Aku menatapnya heran. Mukanya terlihat sangat serius.

“Yak, kau kenapa?” tanyaku menoleh padany, sedikit merasa khawatir.

“Kau kenapa?” tanyaku kini mulai merasa cemas.

“Kita menikah saja.” Jawabnya datar. Aku langsung menatapnya heran.

“Kau gila, aku mau pulang.” Aku beranjak bangkit dan melangkah dari kamar itu, kembali dia menarik telapak tanganku.

“Kau ini kenapa? Eoh? Aku tidak mengenalmu.” Tanyaku.

“Kita bisa mengenal setelah menikah.” Jawabnya masih dengan nada datar dan misterius.

“Kau? Sedang kumat?” aku mendekatkan wajahku memandang wajahnya dengan maksud meremehkannya. Tapi tanpa aku duga, dia langsung meraih tengkukku dan mendfaratkan bibirnya tepat di bibirku. Bertahan beberapa detik setelah aku tersadar dan mendorong tubuhnya kuat hingga dia terjungkal ke tempat tidur.

“KAU!” teriakku.

“Aku selalu tidak bisa mengontrol tubuhku jika berada di dekatmu, aku selalu ingin di dekatmu. Jadi aku putuskan untuk menikahimu, karena aku tidak pernah merasakan seperti ini.” Ujarnya seolah putus asa.

“Kau gila! Jadi hanya karena itu?”

“Sepertinya aku memang tertarik padamu.”

“Itu bukan suatu alasan untuk menikah, sudah lah, aku tidak ingin melanjutkan lelucon ini, besok akan aku jelaskan semuanya pada Siwon.”

“Jangan.” Larangnya cepat.

“Jangan? Apa maksudmu dengan jangan?” tanyaku bingung dan kembali menatapnya.

“Tidak bisa, kita sudah bertunangan.”

“Kau bermimpi?” aku memegang dahinya dan berpura-pura memikirkan tentang keadaannya.

“Aku tidak bercanda, aku sudah bilang pada Eomma aku akan melamarmu, dia menyuruhku untuk membawamu ke rumah besok malam.” Jelasnya. Yak! Dia benar-benar gila!

“Kau! Kau gila?! Kita bahkan hanya bertemu beberapa jam, bagaimana mungkin aku bisa menghabiskan hidup bersamamu?”

“Kau tidak ada pilihan. Ayo kuantar pulang.” Dia meraih pinggangku dan menarikku keluar dari kamarnya. Aku masih tidak bisa mencerna apa yang dia katakan. Aku hanya membisu sampai dia membawaku berjalan hingga di depan mobilnya.

“Jung Soo~ssi, sepertinya ada yang salah paham disini.” Aku melepaskan tangannya di pinggulku. Dia  menatapku.

“Begini, ini hanya sebuah lelucon, aku menyebutmu tunanganku hanya karena aku tidak ingin membuat Nanhee cemburu padaku, jadi aku menolak Siwon untuk mengantarku pulang waktu itu. Dan aku tidak mungkin menolaknya tanpa alasan, dan maaf aku menjadikanmu tameng dari semua itu. Lagipula aku garis bawahi, aku tidak suka berhadapan apalagi berduaan dengan orang asing. Jadi maafkan aku telah membuat semua ini menjadi rumit.” Aku meninggalkannya yang terpaku disamping pintu mobilnya yang sudah terlanjur dia bukakan untukku. Aku berjalan keluar dari pagar. Menoleh ke kiri dan ke kanan. Eh? Ini kan komplek perumahan elit, tidak ada taksi lewat. Aish! Sial! Aku menoleh ke belakang dan melihatnya tersenyum senang. Aku mengalihkan pandangan.

“Kau tidak bisa lari dariku Yeobo, tidak salah jika aku menyebutmu takdirku.” Senyumnya mengembang setelah tadi mukanya datar tanpa ekspresi. Aku hanya bisa menghela nafasku dan mengurut dada. Bagaimana mungkin aku bisa sebodoh ini? Dan aku benar-benar terlihat bodoh dihadapannya, selalu.

Kyuhyun’s POV

Aku melihat wajahnya takjub. Wajahnya memakan ice cream yang ada di tangannya. Ingin rasanya aku merengkuhnya dalam dekapanku, namun aku masih mengedepankan akal sehatku diatas segalanya. Dia yang menyukai Siwon Hyung, aku harus bersabar untuk mendapatkan cintanya. Sekarang jalan sudah terbuka.

“Boleh aku tanya sesuatu?” tanyaku sambil memainkan bolpoin di tanganku, bersandar pada sebuah meja yang memisahkankan badanku dan badannya.

“Bertanya?” tanyanya bingung, sambil menjilat ice cream yang meleleh di tangannya.

“Em, boleh? Tentang sahabatmu.” Dia berhenti memakan ice creamnya dan menatapku.

“Sahabatku? Nugu~ya?” tanyanya.

“Park Eun Kyo.” Jawabku.

“He? Wae? Kau menyukainya juga?”

“Ani, aku hanya mencari informasi tentangnya.”

“Informasi?”

“Ne, informasi tentangnya.”

“Untuk?”

“Untuk Siwon Hyung.” Jawabku sambil meliriknya dan tersenyum, aku tau dia tidak mungkin senang dengan pembicaraan ini. Dia menghela nafas.

“Tanyakan saja.” Jawabnya acuh.

“Benar dia sudah bertunangan?”

“Uhuk!” dia terbatuk mendengarnya. Mulutnya belepotan ice cream di kedua sisi mulutnya. Aku mengambil tissue dan membersihkan mulutnya dia sedikit terpaku dengan perlakuanku. Terdiam sejenak.

“Aku hanya membersihkan mulutmu, jangan salah paham.” Aku memperhatikan matanya yang terus menatapku seolah tidak percaya apa yang aku lakukan. Dia mengerjapkan matanya dan membersihkan mulutnya dengan tangannya sendiri.

“Siapa yang salah paham?” ujarnya ketus.

“Mungkin saja kau menyukaiku karena perlakuanku tadi.”

“Kalau begitu kau yang salah paham.”

“Nde?” sahutku bingung.

“Kau yang salah paham, aku tidak akan menyukaimu hanya karena kau berbuat baik satu kali padamu.” Dia berdiri dan ingin keluar dari ruangan.

“Kau mau kemana?” tanyaku pada nya yang mengambil tas warna merahnya tak jauh dari tempatnya duduk.

“Aku mau pulang, memangnya kau mau menginap disini?” tanyanya sambil berjalan.

“Tunggu, temani aku.”

“Aku sedang sibuk, tidak bisa menemanimu.” Jawabnya. Aku menarik tangannya.

“Kenalkan aku lebih dekat dengan Eun Kyo.” Dia membelalakkan matanya.

“Kenapa semua orang ingin dekat dengannya?” tanyanya dengan nada sedikit tidak suka.

“Kau cemburu?” tanyaku sambil tersenyum mengejeknya.

“Siapa yang cemburu?” dia berjalan mendahuluiku sambil memasang wajah cemberutnya. Aku sangat suka jika dia sudah seperti ini. Aku kembali menarik tangannya. Saat itu Siwon Hyung sedang melintas di hadapan kami. Nanhee segera melepaskan tanganku yang memegang tangannya namun aku bersikeras agar tetap menggenggam tangannya.

“Ehem.” Siwon berdehem melihatku, dia melirik tanganku yang bertaut dengan tangan Nanhee.

“Kalian mau pulang?” tanya Siwon.

“Ne, kami mau pulang.”

“Ah, kalau begitu hati-hati.” Jawabnya.

“Ne, Hyung, kami permisi. Kau lembur?”

“Ani, mungkin aku sebentar lagi akan pulang.” Jawabnya.

“Baiklah kalau begitu.” Aku menarik tangan Nanhee untuk segera meninggalkan tempat ini. Dia tidak melakukan perlawanan. Aku terus menariknya hingga sampai pada mobilku.

“Aku akan mengantarmu pulang.”

“Aku bisa naik bus sendiri.”

“Aku yang akan mengantarmu.”
“Aku tidak mau.”

“Tapi kau harus pulang denganku.” Dia menghela nafas dan membuka pintu mobil sendiri sebelum aku membukakannya. Aku mengemudikan mobilku ditengah jalanan kota Seoul yang mulai padat karena banyak yang pulang kantor pada jam ini.

“Ini bukan jalan ke rumahku.” Ujarnya ditengah kebisuan kami.

“Memang bukan, aku ingin kau memberiku informasi tentang Eun Kyo.”

“Mengapa harus selalu dia?”
“Apa benar dia bertunangan dengan Teuki Hyung?”

“EH?” dia menoleh bingung padaku, aku tetap memegang stir mobil tanpa menoleh padanya.

“Bertunangan dengan Teuki Hyung.” Tegasku sambil terus menatap jalanan.

“Apa kau bilang?” dia membelalakkan matanya sekali lagi.

“Em, dia bertunangan dengan Park Jung Soo, yang biasa dipanggil Leeteuk, relasi dari Siwon.” Jelasku padanya yang membuatnya semakin tidak percaya.

“Dia tidak pernah bercerita padaku.” Ucapnya lirih.

“Bisa temani aku ke rumahnya? Bagaimana?” tanyaku.

“Hem, baiklah, kita pastikan.”ajaknya.

Aku mengemudikan mobilku menuju rumah Eun Kyo. Terus menelusuri jalanan dengan diam, bergelut dengan pikiran masing-masing. Hari ini kami tidak terlalu banyak berdebat.

“Kau sudah tau rumahnya?”

“Tadi pagi aku sudah kesini.”

“Oh, begitu, jadi sekarang dia jadi pusat perhatian? Kau juga menyukainya?” tanya Nanhee.

“Aku suka dengan talentanya, dia menarik, makanya mungkin Siwon menyukainya, aku juga menyukainya. Aku beritahu aku rasa Siwon tidak sembarang mencari pasangan hidup.” Aku meliriknya, dia terlihat tidak suka. ‘tapi kau jauh lebih menarik dimataku Lee Nanhee’ sambungku dalam hati.

“Kita sudah sampai, turun.” Aku membuka safety-beltku.

“Tunggu.” Nanhee menahan tanganku. Aku merasa hangat menjalar ke seluruh tubuhku. Meliriknya yang sedang menatap ke depan.

“Lihat.” Dia menunjuk ke depan. Aku mengikuti arah telunjuknya. Seolah tidak percaya. Teuki Hyung dan Eun Kyo baru saja keluar dari mobil. Eun Kyo terlihat buru-buru, namun Teuki Hyung menahannya dan memberikan sebuah kecupan di bibirnya lalu tersenyum. Nanhee melihatnya tak percaya, dia menutup mulutnya dan pupil matanya membesar. Terlihat sangat manis. Disisi lain aku melihat Siwon sedang keluar dari mobil dan sama keadaannya dengan kami, terkejut tidak percaya. Namun raut wajahnya langsung berubah. Dia menyapa Teuki Hyung.

“Kita bergabung.” Ajak Nanhee menarik tanganku.

“Yak, aku lewat sebelah sini saja.” Dia melepaskan genggaman tangannya segera, dan langsung berbalik meninggalkanku.

“Kau juga disini?” tanya Teuki Hyung menunjuk kearahku.

“Ne, tadi aku lewat sini, dan berniat untuk mampir.” Jawabku.

“Oh, begitu.” Jawab Teuki Hyung.

“Ayo silakan masuk.” Eun Kyo memandangi tunangannya dengan wajah bingung.

“Annyeonghaseyo..” laki-laki muda yang pagi itu menyambutku kini kembali menyunggingkan senyum sumringahnya.

“Key? Kau tidak kuliah?” tanya Eun Kyo..

“Sebentar lagi.” Jawab laki-laki yang disebut Key oleh Eun Kyo.

“Rae Na , Eodi~ya?” tanyanya.

“Tuh, masih betah duduk di bawah pohon.” Jawabnya.

“Kalian mau minum apa?” tanya Eun Kyo, terlihat beberapa pengunjung lain sedang menikmati coffe latte di hadapannya. Aku mengambil duduk berempat dengan Teuki, Siwon serta Nanhee.

Nanhee’s POV

Kami duduk berempat saling berhadapan di meja bulat. Eun Kyo masuk ke dalam dan mengambilkan minuman untuk kami. Segelas Coofe hangat menjalari lidahku, hem, enak juga buatan Eun Kyo, mengapa kami tidak pernah berkumpul disini saja? Tidak pernah terpikir olehku.

“Jadi sekarang ceritakan padaku.” Aku menatap Eun Kyo tajam, dia harus menjelaskan semua yang terjadi. Dia menngankat sebelah alisnya menjawab pertanyaanku.

“Menjelaskan apa?” ujarnya sambil meneguk air putih dalam tenggorokannya.

“Kau, sudah bertunangan? Dengan Leeteuk~ssi.”

“Panggil Oppa saja, biar lebih akrab.” Jawab Teuki padaku. Eun Kyo langsung menurunkan gealas yang sedari tadi ada di mulutnya. Menatap Teuki Oppa tajam.

“Aku sebentar lagi jadi kaka ipar kalian semua.” Air yang ada dimulut menyembur ke baju dan wajah Teuki. Dia sibuk membersihkan baju Teuki. Dan membawanya ke dalam.

“Menurutmu apa mereka benar-benar bertunangan?” tanya Siwon. Aku melirik padanya.

“Hem, aku juga tidak tau, tapi aku melihat mereka ciuman sebelum masuk.”

“Begitu?” tanya Siwon sambil mengaduk minuman yang ada dihadapannya. Mengaduknya perlahan hingga menyebabkan suara dentingan antara sendok dan cangkir yang berirama. Aku memperhatikan kelakukan mereka berdua. Kyuhyun sedang menyesap kopi panas sambil meniupnya.

“Disini lumayan nyaman.” Ujarku mengalihkan pembicaraan mereka.

“Hem, benar juga.” Jawab Kyuhyun, dia mengamati dekorasi kedai kopi ini. Memang lumayan bagus. Beberapa lukisan Rae Na terpampang di dinding.

“Nyaman untuk kencan kalian.” Celetuk Siwon sambil tersenyum. Baru kali ini aku melihatnya tertawa lepas seperti ini. Sangat mempesona, aku tertegun melihatnya.

“Aku permisi dulu, tidak ingin mengganggu kalian.” Siwon bangkit dari duduknya dan meninggalkan beberapa lembar uang di meja.

“Bawa kembali uang itu, aku tidak menerima sumbangan.” Teriak Eun Kyo dari dalam. Aku menoleh bersama Kyuhyun. Dia melihat melalui jendela kaca.

“Baiklah, aku ambil  kembali.” Siwon menarik kembali uang kertas yang tergeletak di meja. Kemudian menghilang dibalik pintu.

“Hyung, sedang apa kau di dalam sana?” teriak Kyuhyun. Aku menendang kakinya. Dia meringis.

“Jangan mengganggu mereka.” Bisikku padanya. Dia memegang kakinya.

“Sakit!” dia menatap garang padaku. Abalas menantang tatapannya.

“Sekarang kau percaya?” Kyuhyun mendekatkan wajahnya padaku, aku refleks menarik tubuhku bersandar di kepala kursi.kyuhyun mengacungkan telunjuknya isyarat agar aku mendekat. Aku mendekatkan wajahku padanya. Mataku dan matanya saling beradu, aku terpaku, benar-benar terpaku, tidak pernah melihatnya sedekat ini. Kurasakan dadaku mulai bergemuruh, telingaku berdengung, tak lagi mendengar perkataannya yang berbicara panjang lebar mengenai pertunangan Eun Kyo dan Teuki.

“Kau mendengarkanku?” tanyanya sambil menjentikkan jarinya.

“Eoh?” aku seolah tersadar dari hipnotis yang menguasai kesadaranku.

“Kau dari tidak mendengarkanku?” tanyanya sedikit kecewa.

“Aku? Aku sedikit sakit telinga.” Aku memegang telingaku tak berani menatapnya. Mengapa suhu tubuhku berubah menjadi panas begini? Aku pura-pura mencari ponsel dalam tasku.

“Kita menyelidiki kedekatan mereka.” Jawabnya.

Untuk apa?” tanyaku ling lung. Yaish! Kenapa aku tiba-tiba berubah tida punya otak begini?

“Memangnya kau tidak penasaran?” tanyanya.

“Nanti aku tanyakan pada Eun Kyo langsung. Tapi sepertinya mereka lagi sibuk.” Sudut mataku memperhatikan apa yang dilakukan Eun Kyo pada Teuki. Aku tersenyum melihatnya. Eun Kyo yang tidak pernah mencintai orang lain dalam artian dia tidak pernah menjalin cinta dengan lelaki, hanya dekat dengan adiknya dan bocah pinky-nya itu. Tidak pernah sedikitpun aku mendengarnya jatuh cinta pada lelaki, tapi tiba-tiba tanpa di duga seorang lelaki datang dalam kehidupannya. Aku tidak tau pasti apa yang dia rasakan, tapi ciuman itu? Astaga Park Eun Kyo, kau benar-benar tak berkutik sepertinya kali ini.

“Kau sudah selesai? Ayo kita pulang.” Kyuhyun menarik tanganku, kembali aku merasakan desiran hangat mengalir lewat aliran darahku.

“Sudah, aku sudah selesai.” Aku mencoba berdiri, tapi tanganku menyenggol gelas kopi yang masih belum habis aku minum. Nodanya menciprat ke bajuku. Aku mengibas rokku dan Kyuhyun membantunya.

“Kau ceroboh sekali.” Omelnya padaku. Aku tidak bisa berkata apa-apa, hanya bisa terpaku dengan perlakuan Kyuhyun kali ini. Dia mengambil tanganku dan menarikku berjalan keluar. Aku masih tidak sadar dengan apa yang aku lakukan. Aku hanya berjalan seperti orang ling lung mengikutinya. Sampai di depan pintu, aku tidak menyadari jika pintu sudah menutup, dan kepalaku sukses menabrak pintu. Kyuhyun segera berbalik dan mengusap dahiku. Aku menatap wajahnya, mengapa baru kali ini aku menyadari bahwa dia tampan?

***

Aku mengikuti Eun Kyo dan Teuki yang sedang makan siang bersama. Aish! Aku dan Khutyun sekarang punya side job, menguntit Eun Kyo dan Teuki. Dari kejauhan aku melihat mereka memang terliaht seperti sepasang kekasih. Baiklah kalau begitu, bagus lah, aku tidak perlu repot-repot lagi menyuruuhnya mencari kekasih atau menikah. Pilihannya lumayan.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Kyuhyun sambil memasukkan cemilan ringan ke mulutnya. Mataku dan matanya sama memandang satu titik.

“Hem, aku tidak bisa memastikannya.” Aku mengambil makanan yang ada di tangannya dan menyuapnya ke mulutku. Tangannya mengetuk setir mobil dengan berirama hingga menimbulkan suara seperti sebuah ketukan lagu. Aku menikmatinya sambil memperhatikan dua makhluk di depanku yang sedang menikmati makannya di pelataran sebuah Kafe. Kami seperti menonton film layar lebar, dan seperti berkencan? Ah, tidka-tidak! Tapi mobil, cemilan dan dua gelas orange jus, benar-benar menonton layar lebar? Dan terlihat seperti menonton sebua film? Aish! Tidak-tidak ini tidak benar. Aku merah gelas orange jus yang terletak disamping jok. Tapi aku? Aku hanya merai angin, salah satu atangan telah mendahuluiku dan tidak perduli dengan wajahku yang bingung memandangnya. Dia meminum jusku. Meminum jusku? Satu cangkir. Saat dia mengalihkan pandangannya padaku aku cepat-cepat membuang muka.

“Wae?” tanyanya.

“Kau meminum minumanku.” Sahutku. Dia memandang minuman yang ada ditangannya lalu memandang minuman yang ada di dashbor mobil.

“Ah, mianhae aku meminumnya hampir setngahnya.” Sesalnya sambil menyodorkan minuman itu padaku. Aku mengambilnya dan ragu untuk meminumnya. Terdiam beberapa detik lalu menteruput minuman itu melalui sedotan. Aku meliriknya, dia hanya terdiam dan kembali menatap Eun Kyo dan Teuki.

Jina’s POV

Aku memegang ujung bajuku, menahan airmataku agar tidak keluar, menatap keatas sesekali mengerjap untuk menghentikan produksi airmataku. Hufh, mengapa secepat ini? Bukannya baru kemarin aku bertemu dengannya? Meskipun aku merasa dia sangat menarik namun aku sudah melukai orang lain, andai saja aku masih sendiri, mungkin aku tidak akan dilema seperti ini. Aku masih tidak percaya apa yang dikatakan Appa.

“Jina, kau dengar apa kataku?” tanya Appa sambil mengayunkan tangannya di wajahku.

“Ah, eoh? Mian Appa, tadi Appa bilang apa?” tanyaku gugup.

“Pernikahanmu setengah bulan lagi, pihak keluarga Lee ingin ini dipercepat.” Jawab Appa.

“Ne?” aku masih tidak terlalu jelas mendengarnya.

“Pernikahanmu dua minggu lagi, kau sakit sayang?” tanya Eomma. Eomma, jika bukan karena demi Eomma, aku mungkin tidak akan menerima semua ini. Aku belum sempat mengenal orang itu, bagaimana mungkin aku bisa menghabiskan waktuku bersamanya.

“Ani Eomma.” Aku menunduk.

“Baiklah, kalau begitu, beberapa saat lagi kau akan fitting baju bersamanya.” Ujar Eomma.

“Tapi dengan Eomma juga kan?” aku menatap Eomma.

“Mian sayang, aku harus cek tempat resepsimu.” Tolak Eomma sambil memegang tanganku. Caranya jika sedang meminta maaf adalah memegang tangan orang itu.

“Gwaenchana.. aku bisa sendiri.” Jawabku lirih. Jika bukan keran jantung Eomma, aku tidak akan menerimanya, setidaknya akan mengulur waktu.

“Dia akan menjemputmu sebentar lagi, kau siap-siap saja.” Eomma mengibas bajuku, seolah aku masih anak kecil yang selesai bermain dan kembali dengan baju kotor, padahal aku sudah akan menikah. Aku menahan tangannya.

“Eomma, aku bukan anak kecil lagi.”

“Ah, ye, aku lupa, tapi bagiku kau masih gadis kecil Eomma.” Eomma menitikkan airmata saat memegang wajahku dengan kedua tanganku.

“Hiduplah dengan baik, ne?” tanya Eomma. Aku mengangguk.

“Pasti.” Jawabku yakin. Tak berapa lama lelaki itu datang menjemputku.

Aku duduk disebelahnya terdiam tak tau harus berkata apa, aku yang biasanya banyak bicara kini diam seribu bahasa di dekatnya. Aku jadi teringat Sungmin Oppa, hanya dengannya aku bisa menjadi diriku sendiri. Aku memainkan jariku sendiri untuk menghalau kegelisahanku. Menatap keluar jendela dan berharap hari ini cepat berakhir.

“Kita ke butik baju dulu atau ke toko perhiasan?” tanyanya.

“Terserah kau saja.” Jawabku lemah. Aku tak tau harus berbuat apa di depannya. Rasanya begitu gugup. Aku tidak tau ini gugup karena apa, gugup karena menjelang pernikahan yang aku sendiri masih meragukannya, atau karena aku gugup karena berada di dekatnya. Aku beberapa kali menghela nafas berat. Memandangi dashbor mobilnya yang diatasnya terdapat kotak tissue dan pengharum mobil berbentuk binatang. Lucu, aku tersenyum.

“Mengapa tersenyum?” tanyanya.

“Ani, aku suka ini.” Aku menunjuk pewangi yang berbentuk singa.

“Kau suka?” tanyanya, aku mengangguk.

“Untuk mengenal lebih jauh, bagaimana kalau kita bertemu setiap sore? Atau saat makan siang?” tanyanya. Eh? Makan siang? Itu kan waktuku dengan Sungmin Oppa.

“Bagaimana?” tanyanya.

“Eh? Oh, boleh saja.” Jawabkupasrah, dia tersenyum, aku melihatnya dari sudut mataku, ada sesuatu yang berbeda yang aku rasakan dalam dadaku saat dia tersenyum, aku juga ikut tersenyum.

“Kita ke toko perhiasan saja dulu.” Dia menghentikan mobilnya di depan toko perhiasan. Masuk dan melihat-lihat beberapa cincin pernikahan.

“Kami mau lihat yang ini.” Donghae menunjuk salah satu cincin yang terpajang disana.

“Coba pakai.” Dia menyerahkan cincin itu padaku, aku menyambutnya dan memasangnya di jari manisku. Donghae meraih tanganku dan memandangnya sebentar.

“Coba lihat yang satunya.” Dia kembali menunjuk salah satu cincin dan memakaikannya padaku. Aku lebih suka pilihannya yang kedua, simpel dan lebih terlihat manis di jariku.

“Kau suka?” dia menatap mataku yang tak lepas dari jari manisku. Aku mengangguk sambil tersenyum.

“Kami ambil yang ini, satu pasang, tapi aku ingin sedikit ada perombakan, aku ingin berliannya yang lebih besar sedikit, aku datang kesini 3 hari lagi, bisa kan?” Pinta Donghae pada penjaga disana.

“Ah, ye.” Jawab penjaga itu sambil mengangguk.

“Sebenarnya itu sudah bagus.” Ujarku sambil memandang cincin itu.

“Aku ingin lebih sedikit istimewa.”

“Terserah kau saja.” Jawabku, dai menarik pinggangku saat keluar dari toko itu, dan berhasil kembali membuat dadaku berdegup kencang.

“Kita ke butik baju pengantin.” Dia kembali diam dalam mobil, aku juga jadi bingung harus berkata apa.

“Kau, mengapa kau mau menikahiku?” tanyaku memberanikan diri.

“Wae? Kau tidak suka? Jika tidak suka belum terlambat untuk membatalkannya.” Jawabnya. Aku terdiam. Tak lama kemudian aku sudah sampai pada sebuah buti mewah di pusat perbelanjaan. Aku masuk dalam butik itu dan menyentuh beberapa baju pengantin dan memang semuanya sangat bagus. Aku tersenyum memandangi ruangan yang penuh dengan gaun putih sakral itu.

“Kau suka yang mana?” tanyanya sambil mengikutiku. Aku berbalik, ternyata dia sudah ada di belakangku.

“Em, semuanya bagus.” Jawabku sambuil menyentuh salah satu gaun.

“Coba yang ini saja.” Dia menyodorkanku sebuah gaun, aku mematap gaun itu dan mengambilnya lalu menuju kamar ganti. Aku memakai gaun itu dan mulai memandangi tubuhny di depan cermin. Harusnya Sungmin Oppa yang berada diposisinya.

“Agasshi, ada yang bisa saya bantu?” terdegar suara perempuan dari luar dan mengetuk pintu kamar gantiku.”

“Ah, ne.” Aku membuka pintu dan melangkahkan kakiku.

“Oh, yeoppeuda..” jawab pelayan toko padaku.

“Kau terlihat sangat cantik Agasshi.” Ulang pelayan itu.

“Jeongmal?” aku melihat tubuhku lagi dikaca. Tidak terlalu jelek.

“Sudah?” tanya Donghae sambil masuk ke dalam. Dia terpaku saat menoleh padaku. Aku bisa melihat keterkejutannya melalui kaca besar yang ada di hadapanku.

“Sudah, bagaimana?” tanyaku sambil membalikkan badan.” Dia masih menatapku.

“Donghae~ssi..” panggilku.

“Oh, lumayan, ambil itu saja.” Jawabnya sambil memutar badannya keluar.

Donghae’s POV

Aku memainkan bolpoint yang ada ditanganku. Menggerak-gerakkannya melalui sela jariku. Memandangi jendela seperti beberapa pagi yang lalu yang sering aku lakukan. Gadis itu belum juga datang. Aku terus menantinya. Mengetuk-ngetukkan bolpoin keatas kertas kosong dan terus menatap jendela. Aku merasa bosan. Meraih jasku dan segera meluncur menyusuri jalan Seoul yang sangat segar. Aku berhenti di depan Kafe itu lagi. Terdiam di dalam mobil tanpa ingin keluar. Ponselku berbunyi. Sungmin. Aku mengangkatnya.

“Yeoboseyo?”

“Sajangnim, hari ini ada rapat jam 10 pagi.” Ujarnya sopan di telingaku.

“Ne, sebentar lagi aku kesana.” Jawabku sambil menutup ponsel. Aku melirik Rolex yang melingkar manis ditanganku. Masih jam 9. Aku masih sempat untuk minum kopi. Aku membuka pintu mobilku dan memencet tombol kunci pengaman ditanganku. Berjalan dan mendorong pintu yang terbuat dari kayu itu. Terdengar bunyi klentang-klenteng dari lonceng yang ada diatas pintu. Aku suka mendengar lonceng itu berbunyi, sangat unik. Seseorang menoleh padaku, aku juga memandangnya dingin tanpa ekspresi. Dia mengalihkan pandangannya. Aku mengambil duduk di pojokan agar tidak terlalu terlihat sedang membolos bekerja meskipun aku tidak akan ketahuan bolos kerja.

“Mau pesan apa?” tanya gadis itu ketus padaku.

“Kopi panas.” Jawabku seadanya. Aku melirik tangannya lagi, dia menarik tangannya ke belakang.

“Aku sudah baik-baik saja.” Ujarnya, melirik mataku yang memandang tangannya.

“Aku tidak menanyakan itu.” Jawabku.

“Aku hanya memberitahumu.” Ujarnya lagi sambil membalikkan badan. Aku hanya tersenyum mendengar jawabannya. Aku memikirkan saat-saat mencari baju pengantin semalam. Dia begitu cantik memakai baju itu. Tidak ada perlawanan sedikitpun darinya. Tidak membantah ataupun berbicara sesuatu yang menyiratkan dia keberatan dengan pertunangan ini.

“Ini minumannya.” Dia meletakkan secangkir kopi hangat diatas mejaku. Aku menatap tangannya yang masih terbalut perban. Dia menarik tangannya lagi ke belakang.

“Masih sakit?” tanyaku tidak tahan dengan rasa bersalahku.

“Aku bilang aku sudah tidak apa-apa.” Jawabnya masih dengan nada setengah tidak suka.

“Bisa temani aku minum sebentar?” tanyaku. Dia menatapku berbalik.

“He?” tanyanya dengan wajah bingung.

“Temani aku sebentar, aku tidak ingin sendirian disini seperti orang bodoh.” Aku berdiri dan menarik kursi yang ada dihadapanku. Dia memperhatikanku yang memainkan bibir cangkir dengan sendokku.

“Aku hanya menemanimu berdiam disini?” tanyanya.

“Hufh, boleh aku bercerita padamu?” aku bersandar di belakang kursi.

“He?”

“Kau pernah jatuh cinta?” tanyaku.

“Nde?”

“Maksudku, ah, entahlah. Apa menurutmu jika aku menikah dengan orang yang sudah mempunyai kekasih itu salah?” tanyaku. Dia tidak menjawab.

“Tapi dia diam saja saat dijodohkan denganku, apa aku salah?” tanyaku lagi sambil memandang keluar jendela.

“Kau sebenarnya kenapa?” tanyanya bingung. “ Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.”

“Aku menikah sebentar lagi, tapi aku juga merasa bersalah telah memisahkan mereka.”

“Mereka? Nugu~ya?”
“Aku, yak! Kenapa aku bercerita padamu.” Aku baru sadar aku sudah terlalu banyak bicara.

“Aku ada rapat, sebentar lagi. Baiklah, aku permisi saja.” Aku menuju kasir, dia mengikutiku dan masuk kedalam ruangan kasir yang terbuka, memencet keyboard komputer lalu menyerahkan bon padaku.

“Sisanya kau ambil saja.” Aku berbalik meninggalkannya.

“Tunggu, kembaliannya terlalu banyak.” Sahutnya.

“Buatmu saja.” Ujarku sambil menaruh donpetku kedalam saku tanpa menoleh padanya.

“Aku tidak suka pelanggan yang tidak mengambil uang kembalian. Kami sudah ada untungnya, jadi tidak perlu memungut uang kembali.” Dia menyerahkan uang kembaliannya kedalam saku jasku. Aku menatapnya takjub, gadis ini, sangat keras kepala. Aku menatapnya tajam.

“Apa aku menyebutmu seperti itu?”

“Aku tidak menuduhmu seperti itu.” Jawabnya.

“Ck! Kau ini.”

“Ahjussi, apa terlalu susah mengambil kembalianmu? Eoh? Kau masih berada tidak sampai satu meter dariku. Apa tidak bisa sama sekali mengambilnya? Bukankah itu suatu pelecehan.”

“Hey, gadis keras kepala, kau terlalu berlebihan.”

“Aku tidak suka pelanggan yang tidak mengambil uang kembalian.” Dia melangkah melaluiku, aku memandangnya dengan heran.

“Bukankah itu sebuah keuntungan?” tanyaku. Dia berhenti, langsung berbalik dan menatapku.

“Itu yang aku tidak suka, aku tidak suka mengambil keuntungan yang bukan semestinya, lagipula kembalianmu terlalu banyak.” Jawabnya. “Aku merasa diremehkan.” Sambungnya sambil kembali berbalik dan kembali ketempatnya tadi.

“Gadis aneh.” Aku mengambil uang yang diselipkannya di saku jasku tadi dan merapikannya. Tapi gadis ini unik. Aku menarik pintu keluar dan berjalan menuju mobilku, memencet alarm pengaman dan membuka pintu mobilku, melaju dengan cepat ke kantorku. Mengambil ponselku dan memberitahu Sungmin aku sebentar lagi sampai.

***

Aku meraih ponselku dan memencet nomor dalam kontak. Saat aingin memencet tobol ‘call’ aku menahan jempolku untuk menyentuhnya, ragu-ragu untuk menghubunginya. Aku terdiam sebentar  dan hanya memandangi layar ponsel yang ada di telapak tanganku. Memandang keluar jendela mobil memencet tombol itu tanpa melihatnya, mengangkatny ketelingaku.

“Yeoboseyo?” suara itu, suara itu yang membangkitkan getaran berbeda dalam jiwaku. Terasa menyengat hingga membuatku membisu.

“Yeoboseyo?” ulangnya lagi. Aku tersadar dan menjawabnya dengan gugup.

“Ah, ne?” aku mengatur suaraku.

“Aku ingin kita bertemu.” Jawabku kemudian.

“Ye? Dimana?” tanyanya.

“Di Caffe House saja, kau tau?” tanyaku padanya.

“Ah, aku tau, jam berapa?” tanyanya lagi.

“Sekarang saja, mumpung belum malam, aku jemput.” Aku memutuskan sambungan. Dan menjemputnya. Dia duduk di sebelahku, aku mengemudi dan sesekali meriknya yang sedang memainkan jarinya. Gugup kah? Apakah perasaanya seperti yang aku rasakan? Saat sampai di Kafe itu aku membuka pintu mobilku dan berlari kecil untuk membukakan pintu untuknya, dia hanya terdiam dan tertunduk. Aku membuka pintu dengan lonceng khas itu lagi.

“Mau apa lagi k!” gadis itu menatapku lalu mengarahkan pandangannya pada seseorang yang disampingku.

“Onnie..” gumamnya.

“Rae Na~ya, Onniemu mana?” tanya Jina, aku menoleh padanya. Mereka sudah saling mengenal? Mengapa aku tidak tau? Yak! Lee Donghae, kau baru saja mengenal mereka berdua, bagaimana kau tau mereka saling mengenal sebulm kau bertemu dengan dua gadis ini.

“Onnie? Dia sedang bekerja, akhir-akhir ini sepertinnya dia sangat sibuk.” Jawab Rae Na.

“Ah, kalian mau kopi? Onnie? Kau Cappucino ice?” tanya Rae Na melirik Jina. Jina mengangguk.

“Kau kopi panas?” tanyanya acuh padaku.

“Hem.” Jawabku. Aku memandangi gadis di hadapanku, masih tidak menyangka dia begitu cantik dengan gaun pengantin yang dicobanya kemarin.

Rae Na,s POV

Aku mengaduk kopi panas untuk dua orang yang ada di depan. Apa itu yang dia sebutkan menikah dengan orang yang sudah dimiliki orang lain? Bukannya Jina Onnie sudah mempunyai pacar? Meski aku tidak pernah bertemu dengan pacarnya secara langsung, namun aku rasa aku tidak amnesia. Ah, untuk apa memikirkan mereka?  Aku mengambil nampan dan meletakkan dua buah cangkir dengan hati-hati.

“Untuk siapa?” tanya Key yang tiba-tiba masuk dapur.

“Untuk pelanggan.” Jawabku.

“Oh, mungkin saja untuk orang yang mencarimu.” Jawabnya santai. Eh? Mencariku? Aku berusaha tidak memperdulikan perkataan Key.

“Tidak ingin tau siapa yang mencarimu?” pancing Key. Sial! Kenapa dia tau aku penasaran?

“Dia pacarmu?” lanjutnya. Aku menoleh padanya dan memberikan tatapan mematikanku padanya.

“Ugh, aku sangat takut padamu Rae Na~ya.” Dia memegang dadanya dan berpura-pura takut dengan sikapnya yang kekanak-kanakan.

“Cis..!” aku mendesis padanya. Dia tertawa lepas melihat mukaku yang kesal.

Aku keluar mengantarkan pesanan Jina Onnie dan Donghae. Meletakkanna dihadapan mereka masinng-masing. Aku tersenyum melayani mereka.

“Gomawo~yo Rae Na~ya.” Jina Onnie mengambil cangkir yang aku suguhkan mendekat dengannya dan meminumnya. Lalu meletakkan secangkir kopi hangat di hadapan Donghae.

“Silakan dinikmati.” Aku berlalu dari mereka, dan mataku menangkap senyum seseorang yang duduk dipojok. Aku menghela nafasku. Dia lagi. Dia melambaikan tangannya. Aku berjalan gontai padanya.

“Mau pesan apa?” tanyaku padanya tanpa melihat wajahnya, entah kenapa aku sangat tidak suka melihat wajahnya.

“Kenapa kau hari ini tidak ke rumahku?” aku menatapnya. Aku bertanya tapi dia malah balas bertanya.

“Kau mau minum apa?” ulangku bertanya padanya dengan sedikit keras.

“Rumahku sangat berantakan kau tau?” dia memencet game di ponselnya.

“Minho~ssi, apa kau tidak bisa merapikannya sendiri?” tanyaku sedikit tajam. Dia tidak memperhatikanku.

“Aku tidak sempat.”

“Yak! Kau ini keterlaluan sekali!” aku tidak peduli dengan beberapa pasang mata yang memperhatikan kami, lebih tepatnya memandangku aneh.

“Kau bisa membuat pelangganmu pergi dengan teriakanmu.” Dia memegang telinganya. Menggerak-gerakkan telunjuknya di permukaan lubang telinga.

“Kau tidak liat aku sedang sibuk?” tanyaku.

“Baiklah, hari kau kulepaskan. Tapi lain kali tidak akan ada lagi kata toleransi.” Matanya masih memandangi layar onselnya dan tidak memperdulikanku.

“Terserah kau saja.” Jawaku meninggalkannya.

“Aku pesan moca latte.” Aku berhenti dan berbalik memandangnya yang masih tidak lepas dari ponselnya. Ck! Dia mempermainkanku. Baiklah bersabarlah kali Rae na~ya. Dia bertindak sebagai pelanggan disini.

Aku melangkah menuju dapur dan menyiapkan minuman untuknya. Pikiranku mulai jahil dan penuh pikiran balas dendam. Aku memasukkan garam pada minumannya.

“Kalian sedang ada masalah?” tanya sebuah suara yang sangat aku hapal karakter getarannya yang khas. Suara cempreng yang tinggi.

“Masalah apa maksudmu?”

“Apa dia punya kekasih lain? Atau kau yang sudah tidak menyukainya lagi? Hem, jaman sekarang jarang ada yang setia, hanya aku saja.” Jawabnya berceoteh mmbanggakan dirinya sendiri. Aku muak mendegarnya.

“jika dia tidak baik, kau cari yang lain saja.” Lanjutnya masih merecokiku dengan pendapatnya yang tidak masuk akal. Aku mencoba mengacuhkannya.

“Dia sih lumayan tampan, tapi masih belum bisa mengalahkanku.” Sekali lagi dia berbicara aku akan mencekik lehernya.

“Tapi harusnya kau bersyukur dia sudah mau denganmu yang tidak seperti yeoja pada umumnya, hobbymu marah-marah dan bersikap seperti anak lelaki.”

“Daripada kau yang bersikap seperti gadis.” Balasku. Meningalkannya yang masih berbicara sendiri.

Aku mengantar pesanan Minho ke mejanya. Meletakkannya dengan sedikit kasar dan berniat meninggalkannya.

“Tunggu.” Cegahnya.

“Apa lagi?” jawabku malas.

“Aku ingin kau mencoba minuman ini.”

“Mwo? Itu kan minumanmu.”

“Ani, aku hanay berjaga-jaga dan memastikan jika kau menaruh racun di dalamnya.”

“Apa maksudmu?” tanyaku protes.

“Untuk memastikan minuman ini aman, mengingat kau punya dendam terhadapku, mungkin saja kau menginginkan aku mati.” Benar sekali, itu sangat benar. Aku menginginkan kau lenyap Choi Minho, agar aku bosa hidup tennang tanpa gangguanmu.

“Shireo!”

“Berarti benar dugaanku, aku bisa menuntutmu. Percobaan pembunuhan.”

“Kau juga akan aku laporkan pencemaran nama baik.”

“Tapi itu akan terbukti jika minuman itu tidak beracun.” Sahutnya.

“Tapi aku tidak percaya. Kau minum baru aku juga meminumnya.” Sial, dia mempermainkanku? Dan ugh! Aku meraih gelasnya dan meminumnya lalu segera berbalik memalingkan wajah dan melangkah pergi ke dapur. Aku berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan cairan yang ada dalam mulutku yang belum aku telan. Aish! Benar-benar aneh rasanya, suss bercampur garam aku tidak tau jika rasanya seperti ini. Aku tersenyum dibalik kaca dan melihatnya meneguk minuman aneh itu. Wajahnya memerah dan dia berusaha tenang. Menaruh beberapa lembar uang dan langsung pergi. Aku tersenyum menang. Ponsel di sakuku bergetar.

‘Kau akan terima balasannya.’

Aku tidak memperdulikan pesan yang tertera di layar, yang penting hari ini aku puas melihat mukanya yang tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah meminum minuman itu.

Aku melayani beberapa pelanggan yang mulai berdatangan hari ini. Ah, sangat melelahkan, hari ini tidak ada kuliah sore jadi aku bisa membantu di Kafe ini lebih lama. Sebentar lagi juga Key akan berangkat kuliah malamnya hari ini.

“Hey, kau kenal orang yang beberapa hari ini mengantar Noona?” tanya Key sambil menggigit sendok di mulutnya.

“Memangnya kenapa?”

“Ani, hanya saja terlihat aneh.”

“Kau cemburu?” tanyaku sambil tersenyum mengejeknya.

“Yak! Siapa bilang aku cemburu. Dia tidak ada apa-apanya dibandingka denganku.

“Hah! Percaya diri sekali kau.”

“Em, selama ini kan Noona hanya dekat denganku, tidak ada lelaki lain selain aku.”

“Hati-hati jika tiba-tiba Onnie menikah dengan orang lain.”

“Yak! Aku tidak ingin membicarakan ini.” Sungutnya sambil menampakkan wajah cemberutnya. Aku mengikutinya.

“Bagaimana kalau itu adalah…?” aku mendahuluinya dan langsung meotong langkahnya.

“Kekasih Onnie? Hem? Bagaimana menurutmu?” aku mendekatkan wajahku dengan maksud menggodanya. Dia meihatku tidak suka. Bibir tipisnya maju beberapa mili.

“Tidak mungkin.” Dia mendorong tubuhku.

“Key~ah.. aku masih ingat kau dua hari mengurung dirimu di kamar, saat seseorang mengatakan cinta pada Onnie.” Aku masih senang mengusiknnya, wajahnnya yang memerah saat marah membuatku selalu senang menggodanya.

“Aaaaaaaaaaa… aku tidak mendengarnya…..!!” dia menutup telinganya sambil berjalan kesana kemari. Key, aku tau kau menyukai Onnie, hanya saja kau masih terlalu kecil buatnya, kami perlu orang lebih tua dan berpikiran dewasa Key~ah.

Minho’s POV

Aku mengemudikan mobilku dengan kencang. Membawa segala kekesalan dalam dadaku. Gadis itu mempermainkanku. Kau akan terima balasannya Gadis keras kepala. Aku membawa mobilku memecah jalanan senja yang memberikan semburat merah di langit. Hufh, aku menghentikannya di halaman rumah Siwon Hyung. Memencet bel rumahnya, berdiri di depan rumahnya sambil memegang daguku. Mungkinkah dia belum pulang? Aku membalikkan tubuhku namun langkahku terhenti saat mendengar bunyi kenop pintu terbuka.

“Wae~yo Minho~ya?” sapanya menyembul di sela pintu.

“Ah, Hyung, ani, aku, aku hanya ingin bertemu denganmu.” Jawabku.

“Kalau begitu silakan masuk.” Dia menatapku, aku masih ragu untuk menerima ajakannya, masih terpaku membalas tatapannya.

“Tidak jadi?” tanyanya menaikkan alisnya.

“Ah.” Aku memulai langkahku menapaki rumahnya.

“Sudah lama aku tidak kesini.” Aku membuka pembicaraanku dengan Siwon Hyung.

“Em, kau terlalu sibuk dengan kuliahmu, dan sekarang, itu? Kekasihmu?” tanyanya sambil menuangkan segelas minuman lalu menyerahkannya padaku.

“Gomawo. Ani, dia bukan kekasihku, dia m]pembantuku.”

“Ne? Pembantu?” matanya membelalak mendengar jawabanku.

“Em, pembantuku.” Aku duduk di sofa empuk di depan TV.

“Tapi dia terlalu cantik untuk jadi pembantu.”

“Yak! Jangan meliriknya, dia bagianku.” Sahutku nyaring.

“Kau menyukainya?” tanyanya duduk di sampingku dan menyandarkan tubuhnya disofa, meluruskan tangan kanannya di sandaran sofa dan mengangkat kaki kanannya diatas kaki kirinya.

“Em, sepertinya.” Jawabku sambil beringsut dari sofa, menyandarkan badanku juga.

“Apa selalu seperti ini rasanya menyukai?” gumamnya pelan.

“Eh? Hyung? Kau juga sedang menyukai orang lain? Maksudku kau sedang menyukai gadis?” tanyaku sambil menarik tubuhku dari sandara sofa menhadap kearahnya. Dia menatapku.

“Sepertinya, tapi dia menyukai orang lain. Dia sudah bertunangan, dengan temanku sendiri.” Jawabnya lemah.

“Malang sekali nasibmu, masih mending aku, dia adalah gadis yang sangat keras kepala.”

“Hem.” Jawabnya sambil mengarahkan remote kearah TV.

“Hyung, mianhae, aku harus pulang.” Aku bangkit dari dudukku dan ingat hari ini aku harus mengerjakan tugasku yang dikumpul besok pagi.

“Wae? Terburu-buru sekali.” Tanyanya bingung.

“Tugasku, aku lupa!” aku segera berlari kemobil dan pulang ke apartemenku.

***

Aku membuka mataku dengan berat. Ck! Aku mengerjakan tugas kuliahku hingga pagi, menyebabkan mataku terasa melekat dengan kuat enggan untuk membuka. Aku meraba jam weker yang berdering dengan keras diatas meja di samping tempat tidurku. Merabanya tanpa membuka mataku hingga menyebabkan aku menjatuhkan jam tersebut. Aih! Kenapa harus pakai acara jatuh? Aku menggeser tubuhku ke tepi tempat tidur. Selimmut yang melilit tubuhku tak beraturan menyusahkanku untuk menggeser tubuhku beberapa centimeter saja. Aku menjulurkan tanganku ke lantai dan menyipitkan mataku untuk mengitip dimana letak weker yang masih tak mau berhenti berbunyi. Ah! Aku mendapatkannya dan memencet tombol untuk menghentikan lolongannya. Aku membuka mataku perlahan dan melihat lebih jelas angka-angka yang terdapat dalam jam itu. Aku kembali menyipitkan mataku. Angka 7,4 dan angka 0. Aku membuka mataku lebar, jam 7.40! itu artinya aku hanya punya waktu 20 menit lagi untuk ke kampus duduk di deretan kursi untuk menyimak materi dan… mangumpulkan tugasku!

Aku melompat dari tempat tidur dan langsung menuju kamar mandi tidak aku pedulikan tempat tidurku yang seudah tak berbentuk lagi. Membersihkan gigiku, mencuci mukaku dan langsung mengganti bajuku, menyambar kunci yang ada diatas meja lalu melesat pergi ke kampus.

Ditengah perjalanan aku berlari menuju ruangan kelasku aku terpental menabrak seseorang. Aku menepuk pantatku dan membersihkan bajuku dari debu.

“Kau!” dia menatapku garang. Ck! Gadis ini lagi, benar-benar jodoh.

“Kau lagi.” Aku bangkit berdiri dan memungut tasku, behitu juga dengan dia.

“Aku tidak punya waktu meladenimu, aku tunggu kau di apartemen sehabis kuliah.” Aku mengarahkan jari telunjuk dan jari tangahku kearahnya. Dia sedikit mundur. “Kita masih pnya perhitungan Rae Na~ya.” Aku menatapnya tajam sebelum meninggalkannya yang memasang wajah kesal.

Materi telah berakhir. Untung saja hari ini dosen itu terlambat 15 menit dan aku bisa masuk kelas dengan tenang. Aku berjalan pulang ke apartemen, menghabiskan waktu beberapa jam mendengarkan celotehan orang yang berdiri di depan membuat telingaku sedikit terganggu. Aku sudah punya rencana untuk membuat hari ini senang. Aku membelokkan mobilku ke mini market. Segera masuk dan membeli perlengkapan. Aku membeli cream wajah dan segera membayarnya lalu pergi ke apartemen

Aku memandang wajahku di cermin, sudah sempurna. Aku meraih mantel dan memakainya, menunggunya datang. Sambil menunggunya aku membuat ramen untuk mengisi perutku. Beberapa waktu kemudian bel berbunyi, aku segera berlari ke depan pintu. Berdiam sejenak lalu menghela nafas dan membuka pintu.

“Kau ini apatid!” dia ingin memarahiku seperti biasanya namun berhenti saat memandang wajahku.

“Kau sakit?” tanyanya.

“Entahlah, aku merasa sedikit pusing.” Jawabku sambil memegang kepalaku. Dia masuk ke dalam dan melihat apartemenku yang benar-benar berantakan.

“Apa kau tidak pernah membersihkan tempat tinggalmu sendiri?!” tanyanya dengan nada tinggi.

“Aku lebih senang tidur daripada membersihkan rumahku.” Jawabku sedikit lemah. Dia mulai membersihkan lantai dan merapikan barang serta meletakkannya pada tempatnya. Aku memperhatikannya yang sedang bekerja. Titik keringat mengalir di dahinya. Aku memang tidak membersihkan rumahku, dan aku akui itu memang… sangat berantakan. Aku terus memperhatika gerak geriknya. Mengapa dia sangat menarik perhatianku? Aku sungguh merasa bingung, apa ada yang salah dengan otakku?

“Bisa kau bantu aku ke tempat tidur?” tanyaku pura-pura kesakitan kepala. Dia berbalik menatapku.

“Kepalaku sakit sekali.” Lanjutku. Dai berjalan menghampiriku dan  membantuku berdiri. Tangannya yang halus memegang kulit tanganku. Aku melingkarkan tanganku di pundaknya. Mendadak aku merasa benar-benar lumpuh dan tidak berdaya saat aku merangkulnnya. Dia terlihat kesulitan membawaku ke tempat tidur, aku juga tidak berdatya menahan bobot badanku sendiri. Saat aku ingin melepaskan rangkulanku, kakiku menginjak jam weker dan menghilangkan keseimbangan tubuhku. Aku terjatuh di tempat tidur menimpa tubuhku. Bibirku dan bibirnnya menempel. Sejenak aku benar-benar terpana melihat wajah terkejutnya sedekat ini. Dia mendorongku untuk bangkit tapi aku menahan tubuhnya, dia tidak bisa lepas dari tubuhku, tanganku memeluk tubuhnya dan bibirku perlahan melumat bibirnya tanpa aku sadari. Dia memukul dadaku. Saat aku kehabisan nafas, aku baru sadar apa yang aku lakukan. Dia menginjak kakiku dan meninju perutku. Tenaganya tidak terlalu besar namun pukulannya terasa sakit.

“Kau!” dia memegang bibirnya dan masuk ke dalam kamar mandi. Menutup pintunya keras lalu membukanya lagi setelah beberapa detik. Aku menatapnya bingung.

“Mana pintu keluarnya?!” tanyanya nyaring. Aku menunjuk kearah pintu keluar dari kamarku. Dia langsung menuju pintu dan menghilang. Eh? Apa perlakuanku tadi menggeser otaknya? Hingga dia lupa dimana pintu keluar?

 Author’s POV

Nanhee terlihat gelisah menunggu kedua sahabatnya di bangku yang biasa mereka tempati. Dia memainkan sendoknya, diketuk-ketukkannya diatas piring yang berisi setengah waffle yang tidak habis dia makan selama menunggu. Untuk  mengusir rasa bosannya dia membuka majalah usang yang ada di dalam tasnya, membolak-baliknya tanpa membaca.

“Mianhae, aku terlambat.” Jina datang lebih dulu.

“Kalian membalasku?” tanya Nanhee ketus.

“Ya… aku benar-benar tidak bisa meninggalkannya.” Jawab Jina.

“Meninggalkan apa?” tanya Nanhee. Jina terdiam sambil memperhatikan buku menu yang dari tadi di pandanginya namun dia tidak juga mengambil keputusan untuk minum atau makan apa.

“Kau mau pesan apa? Dari tadi hanya melihat saja.” Ujar Nanhee.

“Aku pesan seperti biasa saja, tapi hanya minum.” Jawab Jina.

“Kau kenapa? Kau sakit?” tanya Nanhee. Jina menggeleng.

“Lalu kenapa dari tadi diam saja?” tanya Nanhee .

“Aku hanya tidak enak badan.” Jawab Jina sambil menyerahkan kertas pesanan pada pelayan.

“Jina~ya, kau ada masalah?”

“Hufh, darimana aku harus menceritakannya?”

“Terserah kau saja, ceritakan darimana saja, asal kau merasa nyaman.”

“Aku tidak tau apa nanti kita masih bisa berkumpul seperti ini apa tidak.” Ucap Jina lirih.

“Memangnya ada apa denganmu? Ceritakan padaku.” Nanhee memegang telapak tangan Jina. Mereka berdua terdiam.

“Maaf, aku terlambat.” Eun Kyo akhirnya datang dan bergabung bersama mereka. Menarik kursi dan duduk disamping Jina. Eun Kyo terlihat bingung dengan raut wajah Nanhee dan Jina. Jina terlihat bingung lalu Nanhee terlihat memandang tajam kearah Eun Kyo.

“Ada apa ini?” tanya Eun Kyo memandang Jina dan Nanhee bergantian.

“Kau terlalu asik dengan para lelaki itu.” Jawab Nanhee.

“Eh? Aku? Lelaki? Para lelaki? Siapa maksudmu?” tanya Eun Kyo semakin bingung.

“Siwon dan Teuki.”

“Lee Nanhee, aku tidak ingin bertengkar denganmu, ara?” pandangan Eun Kyo beralih pada Jina.

“Kau kenapa? Sakit?” tanya Eun Kyo. Dia melihat buku menu lalu memesan jus melon kesukaannya.

“Aku akan menikah dalam bulan ini.” Jawab Jina.

“MWO?!” Eun Kyo dan Nanhee menjawab bersamaan.

“Lalu, lalu apa kau menyetujuinya?” tanya Eun Kyo.

“Sungmin? Bagaimana dengannya?” tanya Nanhee. Jina menatap kedua sahabatnya yang menunjukkan raut muka yang sama,  sebuah keterkejutan.

“Aku tidak bisa menolaknya, karena Eomma, kalian tau sendiri keadaan Eomma, aku takut jika aku menolak, akan membahayakan nyawanya.” Jawan Jina.

“Mengenai Sungmin, aku sudah bercerita padanya, dan dia bisa memakluminnya.”

Begitu?” tanya Nanhee. Eun Kyo hanya terdiam tak bisa berkata apa-apa.

“Dan yang membuatku sedikit terganggu. Sepertinya…” Jina memandang wajah kedua sahabatnya satu persatu. Nanhee dan Eun Kyo menanti kelanjutan dari kalimat Jina.

“Sepertinya aku menyukai lelaki itu.” Jawab Jina.

“MWO?” ulang mereka lagi sambil terkejut dengan caranya masing-masing. Eun Kyo menghentikan sendok yang mengambang ingin masuk ke dalam mulutnya, sedangkan Nanhee membelalakkan matanya menatap Jina.

“Aku tidak tau harus bagaimana.” Jawab Jina.

“Apa kau sudah yakin?” tanya Eun Kyo.

“Harus yakin.” Jawab Jina lagi. “Lalu kau bagaimana?” Jina menatap Eun Kyo.

“Eh? Aku?” Eun Kyo kembali menghentikan aktifitasnya, kali ini gelas yang mengambang diantara meja dan mulutnya.

“Dia sudah bertunangan, dan kita tidak tau sama sekali.” Jawab Nanhee. Jina menatap Nanhee mencari kebenaran, lalu beralih ke wajah Eun Kyo.

“Benar begitu?” tanya Jina.

“Ah, bukan begitu aku..” Nanhee manatap Eun Kyo, begitu juga dengan Jina.

“Nanti aku ceritakan, bukan saatnya.” Jawab Eun Kyo.

“Sejak kapan kau main rahasia dari kami?” tanya Nanhee.

“Ani, aku hanya… belum ingin membicarakannya.” Jawab Eun Kyo.

“Cih, kau ini, kau tau Jina~ya? Tunangannya seorang direktur perusahaan.” Nanhee mendekatkan wajahnya kepada Jina.

“Yak, apa-apaan kau Nanhee~a?” jawab Eun Kyo tersipu.

“Dia juga tampan.” Tambah Nanhee.

“Wae? Kau suka?” tantang Eun Kyo.

“Ani, di bukan tipe-ku.” Jawab Nanhee sambil mengibaskan tangannya di depan wajahnya.

“Hem, karena tipe-nya adalh pria tampan yang sekarang menjadi bos kesayangannya itu. Tapi Nanhee~a, apa kau tidak merasa bahwa Kyuhyun itu menarik?” tanya Eun Kyo sambil menatap Nanhee, Nanhee balas menatap Eun Kyo dengan raut yang tidak bisa diartikan oleh Eun Kyo.

Mereka bertiga tertawa. Menghabiskan separuh waktu malam sambil bercanda. Hari ini mereka lebih lepas.

***

Key terlihat membersihkan meja yang kotor dengan kain lap yang ada di tangannya. Dengan semangat menggosok permukaan meja itu. Gerakan memutar dan berulang membuat meja itu terlihat bersih cemerlang. Dia baru saja pulang dari kuliahnya. Rae Na sudah meringkuk di dalam kamarnya, ‘sepertinya hari ini banyak pengunjung’ batin Key berkata. Dia terus membersihkan meja dan mengangkat kursi ke atas meja setelah selesai membersihkan meja tersebut. Dia memegang kain lap lalu menyemprotkan pembersih kaca dan mulai membuat kaca itu lebih mengkilat. Key terdiam saat melihat seorag gadis berjalan di depan rumah. Gadis itu terlihat melambai-lambaikan tangannya kearah Key, Key mengerutkan dahinnya dan menunjuk batang hidungnya sendiri. Lalu mengedarkan pandangan ke sekitarnya.

“Hanya aku saja disini, tidak mungkin dia melambai pada hantu kan?” tanya Key pada dirinya sendiri. Gadis itu kembali melambaikan tangannya seolah ingin menyuruh Key keluar.

“Aku?” tanya Key. Gadis it mengangguk. Key segera mebuka pintu dan menghampiri gadis itu.

“Annyeong haseyo..” gadis itu membungkuk, otomatis Key juga ikut menunduk.

“Kau.. Kim Kibum kan?” tanya gadis itu. Key terlihat bingung, mengapa gadis ini tau namanya.

“Ye, wae~yo?” tanya Kaey bingung.

“Aigoo… aku sudah terlalu lelah mencarimu, akhhirnya aku temukan juga.” Jawab gadis itu sambil membungkuk memegang perutnya serta mengatur nafasnya.

“Kau habis berlari?” tanya Key. Gadis ini aneh, pikirnya.

“Hah.. hah… hah…” gadis itu meletakkan tangannya di dada Key. Key merasa bingung.

“Aku, aku menemukan dompetmu di halte.” Jawab gadis itu sambil menyerahkannya dengan tangan kanannya.

“Eh? Di halte?” tanya Key.

“Ye, coba periksa dulu.” Key memeriksa dompetnya , tidak kurang apapun. Dia memandang gadis itu.

“Kau berlari dan mencariku hanya untuk dompet ini?” tanya Key lagi. Gadis itu mengangguk.

“Kau pasti membutuhkannya.” Jawabnya saaambil tersenyum.

“Tapi isinya tidak seberapa.” Jawab Key pelan.

“Gwaenchana~ mungkin saja kartunya yang penting.”

“Benar juga.” Jawab Key. “Kartu Mahasiswaku.” Gumamnya.

“Sudah kan? Kalau begitu aku permisi.” Jawab gadis itu. Key masing memandangi gadis itu yang masih melambaikan tangannya.

“Annyeong…” gadis itu berbalik. “Awal yang baik Kim Kibum.” Gumamnya. Key terus memandangi kepergian Gadis itu dengan bingung.

“Yak, siapa namamu?” teriak Key saat gadis itu mulai menhilang dikegelapan malam.

“Shin Yoo Hee.” Jawab  gadis itu sambil melambaikan tangannya.

“panggil saja aku Yui.”

Eun Kyo’s POV

Aku melepaskan jaketku dan menyampirkannya di kepala kursi. Melepaskan sepatuku, lalu menurunkan kursi yang sudah rapi diatas meja. Key memang anak yang rajin. Aku tersenyum. Menopang wajahku dikedua tanganku. Aku memikirkan Teuki. Yang akhir-akhir ini selalu berada disekitarku. Tidak mungkin dia memata-mataiku kan? Untuk apa? Memang salahku yang mengatakan kami telah bertunangan, tapi aku hanya memikirkan alasan itu waktu itu, tidak ada yang lain yang terlintas. Aku membuka tasku dan merogoh ponselku didalamnya. Memandangi lagi sms yang tadi dia kirim untukku.

‘Besok pagi aku akan menjemputmu.’

Darimana dia dapatkan nomerku? Ck! Kau bodoh Eun Kyo~ya, tentu saja di kartu namamu. Pesan singkat itu mengusikku. Menjemputku? Membuatku kesal sekaligus membuatku merasa menantikan hari esok.

“Kau sudah pulang Noona?” tiba-tiba saja Key sudah ada di ruangan ini dan menyalakan lampu.

“Kau belum tidur?” tanyaku, aku memasukkan kembali ponselku kedalam tas.

“Kau belum menjawab pertanyaanku.” Jawab Key dingin.

“Ne, aku baru pulang 10 menit yang lalu.” Jawabku sambil menatapnya.

“Siapa yang mengantarmu larut malam seperti ini?” tantanya tajam. Aku menatapnya.

“Yang tadi?” tanyaku pura-pura bodoh.

“Yang mana lagi?” tanyanya.

“Dia temanku.”

“Tapi menciummu? Begitu caramu berteman Noona?” aku tertegun dengan ucapannya. Jadi dia melihatnya? Lelaki itu mencium pipiku tanpa bisa aku hindari? Dan bodohnya aku hanya terdiam saat dia menciumku. Dia melihatnya. Aku terdiam.

“Begitu caramu berteman.”

“Key, Key, ini tidak seperti yang kau pikirkan.” Jawabku gugup.

“Memangnya seperti apa yang aku pikirkan?” tanyanya lagi.

“Aku, makudku. Kau… sudahlah, aku ingin tidur, aku lelah Key..” aku mengambil jaketku dan berlalu dihadapanku. Bocah ini, jangan katakan dia benar-benar menyukaiku. Aku terkejut saat dia meraih tanganku dan merengkuh punggungku dalam pelukannya. Aku terpaku, tangannya melingkar di leherku. Aku terdiam tak tau harus berbuat apa.

“Noona, kau milikku.” Dia semakin erat memelukku.

“Key, aku..” aku mencoba melepaskan pelukanya, bukannya terlepas malah semakin erat.

“Key, lepaskan aku, jika Rae Na melihat, apa pikirnya.”

“Kau selalu memikirkan orang lain, berpura-pura tau apa yang aku pikirkan. Dan sekarang aku bertanya padamu.” Dia membalik tubuhku dengan cepat.

“Aku bertanya padamu, apa yang sedang aku pikirkan sekarang?” dia menatapku, aku tak berani menatapnya, takut melukainya. Karena yang aku rasakan tidak seperti yang dia harapkan.

“Kau tidak bisa menjawab kan?” dia meraih daguku dan mengangkatnya sedikit agar mataku tepat beradu dengannya.

“Kau tidak tau atau berpura-pura tidak tau Noona?” tanya Key tajam. Aku mau tidak mau aku juga harus menatapnya.

“Aku mencintaimu Noona.” Ucap Key lirih sambil mendekatkan wajahnya padaku, aku memundurkan tubuhku menghindarinya. Key berhenti dan kembali menatapku.

“Wae?” tanyanya.

“Key, ini sudah keterlaluan.” Jawabku.

“Wae? Bukannya ciuman itu wajar untuk seorang teman sekalipun?” jawabnya.

“Key!” aku berteriak di hadapannya. Dia mencengkram lenganku.

“Kenapa? Kau mau mengatakan aku masih kecil lagi?”

“Tapi memang kenyataannya seperti itu kan?” tanyaku sengit.

“Lalu apa salahnya? Apa salahnya jika umur kita berbeda jauh?”

“Key, kau aku anggap seperti adikku sendiri.”

“Noona! Aku bukan adikmu! Aku bukan adikmu!” dia mengguncang tubuhku lalu memeluknya erat. Aku balas memeluknya. Bocah ini, seandainya dia tau hatiku mulai tertambat pada satu hati, apa reaksinya?

“Aku menyayangimu, tapi bukan sebagai kekasih, apa kau merasakan yang seperti itu?” dia mengangguk

“Key, dengarkan aku.” Aku melepaskan pelukannya.

“Biarpun aku nantinya sudah mempunyai kekasih, aku akan tetap menyayangimu seperti aku menyayangi Rae Na, memperhatikan Rae Na, ne?” dia mengeleng.

“Aku tidak ingin kau dengan yang lain.” Dia kembali memelukku. Aku menghela nafas.

“Ada saatnya kau akan mengerti semua ini, jika cinta tak hanya antara sepasang kekasih.” Dia masih menggeleng.

“Ada saatnya kau merasakan cinta yang lain.” Aku mengusap punggungnya. Setetes airmata menetes di bahuku dan membasahi kemejaku.

“Sekarang tidur, aku sudah lelah, hem?” dia melepaskan pelukannnya.

“Kau tidak menerima cintaku?” aku tersenyum dan menggeleng.

“Aku menerima sisi cintamu yang lain. Sudah, aku mau tidur, besok kau harus mengurus ini dan kuliah kan?”

“Noona, jika aku sukses dan sudah mempunyai segalanya seperti orang yang menciummu tadi, apa kau akan mencintaiku?” tanyanya polos.

“Key, aku akan selalu mencintaimu, meski nantinya aku sudah menikah.”

“Kau masih tidak akan menerimaku?” dia menunduk.

“Akan ada orang lain yang menerimamu apa adanya Key.” Aku menepuk pipinya. Dia mulai menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman disela airmatanya.

Aku berjalan menaiki tangga meninggalkannya. Membuka pintu kamar lalu menutupnya, dan berdiri terpaku di depan pintu. Key, mianhae… Aku bukannya ingin menyakitimu, tapi aku hanya ingin kau berpikir lebih dewasa dan memang aku hanya mencintaimu sebagai adikku, tidak lebih.

Aku berjalan ke kamar mandi, mencuci mukaku dan membuka seluruh pakaianku lalu mengguyur tubuhku dengan air. Setelah selesai mandi aku memakai pakaian tidurku, duduk di tepi ranjang dan merebahkan tubuhku lalu menarik selimutku, tertidur pulas.

***

Aku membuka mataku dan mengingat kembali apa yang dikatakan Key semalam. Memikirkannnya, apa yang salah? Tidak ada yang salah, dia tidak salah, aku juga tidak salah. Aku menghela nafasku. Hari ini aku berniat tidak ke lapangan karena kepalaku terasa berat. Suara ketukan pintu membuatku terpaksa beranjak dari tempat tidur. Aku membuka pintu perlahan.

“Onnie, kau tidak bekerja?” tanyanya Rae Na yang sudah rapi dengan kemejanya ingin pergi ke kampus.

“Kau mau berangkat kuliah?” tanyaku.

“Ne, kau sendiri?” tanyanya.

“Aku tidak enak badan, kepalaku sakit.” Jawabku sambil memijit kepalaku yang benr-benar sakit, aku tidak berbohong.

“Tapi bagaimana dengan jemputanmu?”

“Eh? Jemputanku? Maksudmu?”

“Itu coba lihat dibawah sana.” Aku segera berlari ke dalam kamar dan menyibak jendelaku. Mobil Audi putih terparkir di depan rumah. Tidak salah lagi, itu dia. Aku merasa bersemangat, entah kenapa.

“Key tidak jadi membuka Kafe saat melihat orang itu bertengger di depan pintu.” Ujar Rae Na sambil terkekeh. Aku masih terdiam memandang mobil itu.

“Kau tidak menyapanya?” tanya Rae Na membuatku tersadar.

“Eh?” tanyaku.

“Dia menunggumu.” Rae Na bersandar di daun pintu sambil bersidekap menatapku.

“Eh?” tanyaku masih bingung.

“Onnie, jangan katakan kau mulai ling lung hanya karena seorang lelaki menjemputmu di pagi hari dan kau benar-benar belum siap. Rambutmu, bajumu, mukamu, aigoo.. kau terlihat menyedihkan.” Rae Na memandangiku dari atas sampai bawah. Aku segera berlari ke kamar mandi. Jadi dia benar-benar menjemputku? Aku kira itu hanya menggodaku, meski aku berharap itu benar.

Aku turun ke bawah  menemuinya. Sudah berpakaian rapi namun aku tidak masuk kerja hari ini. Aku benar-benar merasa tidak enak badan, tidak berniat untuk bekerja.

“Kau tidak masuk kerja?” tanyanya sambil memandangiku. Aku menggeleng.

“Kau sakit?” dia mendekat padaku dan memegang dahiku. Aku tertegun kembali dengan perlakukannya. Aku memulai semua ini dan aku bingung bagaimana caranya mengakhirinya. Aku terjebak dalam permainanku sendiri dan sekarang benar-benar tidak bisa keluar dari pesonannya.

“Aku sedikit kurang enak badan.”

“Aku antar ke dokter?” tawarnya dengan wajah khawatir

“Ani, tidak perlu, aku hanya pusing.”

“Tidak, tidak kau perlu ke dokter.”

“Jung Soo~ssi, kau tidak perlu mengkhawatirkanku, kit atidak punnya hubungan apa-apa.”

“Apa aku harus punya hubungan dulu untuk mengkhawatirkanmu?” tanyanya.

“Ani, maksudku, akuhanya menegaskan padamu.”

“Oppa, panggil aku Teuki Oppa. Ayo kita ke dokter.” Dia menarik tanganku.

“Tidak perlu, kau hanya mengatakan pada Siwon, tolong katakan padanya aku sakit dan tidak bisa turun ke lapangan hari ini.” Jawabku.

“Jeongmal? Kau benar tidak apa-apa?” tanyanya khawatir.

“Jeongmal Gwaenchana.” Jawabku menenangkannya.

“Kalau begitu aku permisi, nanti aku bilang pada Siwon kau sakit, istirahatlah.” Dia membelai pipiku. Yak! Park Eun Kyo, apa-apaan kau ini? Jangan katakan kau mulai merasa punya hubungan dengannya!

“Kalian mesra sekali.” Cibir Key yang keluar dari dapur. Aku tidak menjawab apapun. Tidak ingin juga memberikan pernyataan.

“Seperti itu orang yang kau sukai? Aku juga bisa bersikap sepertinya.”

“Key, aku tidak ingin berdebat denganmu, jadi tolong jangan pojokkan aku dengan semua perkataanmu.”

“Kau merasa terpojok?” aku terdiam, aku semakin tidak mengenalnya sejak dia mengatakan perasaannya padaku.

“Tidak.”

“Jika kau tidak mempunnyai perasaan padaku, mengapa kau merasa terpojok?” tanyanya sinis.

“Key, mengertilah, baiklah, aku akui aku memang menyukainya. Kau puas? Aku menyukainya, jadi tolong berhenti memberikan komentar yang sebenarnya itu menyakiti dirimu sendiri.” Ucapku lantang sambil meninggalkannya keatas menuju kamarku. Bodoh! Apa yang aku lakukan? Aku tidak bermaksud membentaknya apalagi menyakitinya. Dan aku semkin membuat permainan ini menjadi rumit.

Teuki’s POV

Aku masih mengingat wajahnya yang sedikit pucat pagi ini. Begitu bahagia melihat wajahnya hari ini. Mengapa aku merasa telah mengenalnya sudah lama? Aku aku pernah mengenalnya? Bertemu dengannya ataupun di kehidupan dulu aku memiliki hubungan dengannya? Aku merasa sangat deat dengannya. Menyukai setiap sikap dan semua ekpresi serta tekstur wajahnya. Aku mengambil ponselku dan memencet nomor Siwon.

“Hyung, wae gurae?” tanyanya saat mengangkattelpon dariku.

“Aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa Eun Sedang sakit, dia tidak bisa mesuk kerja hari ini.” Jawabku.

“Dia tidak bilang padaku.” Jawab Siwon lagi

“Dia minta padaku menyampaikannya padamu.” Jawabku lagi, kau cemburu Siwon~a?

Ah, aku lupa kalau kau tunangannya. Baiklah, tidak apa-apa, Kyuhyun bisa menanganinya sendiri, kau sudah membawanya ke Dokter?” tanya Siwon, mengapa dia yang memperhatikan Eun Kyo, benar-benar suka kah? Aku tersenyum.

“Sore ini akan aku bawa ke dokter.” Jawabku. Aku menutup flip onselku dan menaruhnya ke dalam saku celanaku. Tersenyum, kali ini aku lebih maju selangkah lagi.

Aku berusaha memfokuskan pikiranku pada pekerjaan, tapi yang ada malah aku terus mengingat gadis itu. Teringat saat pertama kali bertemu dengannya. Wajah bingungnya, tangannya yang tiba-tiba menarikku masih terasa di pergelangan tanganku. Aku memegang tanganku. Tangan halus itu, aku masih merasakannya. Masih terasa juga hangat bibir tipisnya di bibirku, aku menyentuh bibirku sendiri. Aku duduk diatas meja kerjaku dan

“Sajangnim, anda mau kami pesankan makan?” tanya sekretarisku melalu terlpon paralel.

“Ah, terima kasih. Aku bisa cari sendiri saja.” Jawabku. Aku meraih jasku dan berjalan keluar dari gedung kantorku. Menyusuri beberapa ruangan dan meja kerja para karyawan. Mereka membungkuk saat aku berjalan di hadapan mereka, aku membalasnya dengan menganggukkan kepalaku.

Aku berjalan menuju area parkir dan menuju mobilku. Makan siang, aku akan makan siang di tempatnya saja. Ku kemudikan mobilku menuju Kafe tempatnya tinggal, menyusuri beberapa pengendara lain dan berusaha menyelip mobil-mobil lain agar aku bisa lebih cepat sampai kesana. Kota Seoul diguyur hujan, menyebabkan beberapa butirab air mengaburkan pandanganku. Air yang menggenang membuat jalanan sedikit licin. Namun tidak menghalangiku untuk berusaha cepat sampai dan melihat wajahnya lagi. Saat sampai di halaman aku langsung membuka pntu mobil dengan tergesa-gesa. Membuka pintu Kafe itu dengan tidak sabar dan menarik kursi dengan sedikit kasar hingga menyebabkan beberapa pasang mata menoleh padaku, aku membungkukkan badanku sebagai tanda permintaan maaf telah mengganggu mereka. Seseorang menghampiriku.

“Anda mau pesan apa?” tanya seorang gadis padaku.

“Mana Eun Kyo?” tanyaku tidak sabar sambil menyapu seluruh ruangan mencari sosoknya. Lalu berhenti di wajah gadis itu yang menatapku bingung menanti jawabanku.

“Onnie?” tanyanya lagi.

“Dia Onniemu?” tanyaku sambil berdiri. Dia mengangguk ragu.

“Ah, ye, annyeong adik ipar.” Aku memberi salam padanya. Dia semakin bingung. Mereka mempunyai ekspresi bingung yang mirip.

“Eoh?” dia tersenyum memandangku. “Onnie? Dia tadi keluar.” Jawabnya. “Kau mau makan apa OPPA?” dia menekankan kata Oppa padaku.

“Panggilan begitu aku lebih suka.” Aku tersenyum memandangnya.

“Ne, sekarang mau pesan apa?” tanyanya.

“Onnie suka nasi goreng buatan Key, kau mau coba?” tanyanya. Aku mengangguk.

“Boleh.” Jawabku. “tunggu, siapa namamu?”

“Rae Na, panggil saja begitu.” Dia berlalu menuju dapur.

“Rae Na~ya, setelah itu temani aku makan.” Teriakku. Dia mengacungkan tangannya, telunjuk dan ibu jarinya melingkar membentuk sebuah huruf ‘O’ yang artinya dia bersedia.

Tak berapa lama menunggu, akhirnya gadis itu datang membawakan pesananku dan duduk dihadapanku. Aku menyuap nasi goreng yang dihidangkannya.

“Hem, lumayan.” Komentarku tentang masakannya.

“Itu bukan buatanku.” Dia melipat menopang tangan kanannya di dagu dan tangan kirinya menjuntai bebas.

“Itu buatan Key.” Lanjutnya.

“Kemana kira-kira Onniemu?” tanyaku penasaran.

“Em, hujan seperti ini, aku tidak tau, katanya dia bilang dia mau beli obat.” Jawab Rae Na. Aku menyuap nasiku dengan cepat.

“Begitu?”

“Sepertinya begitu.” Jawabnya.

“Kearah mana dia pergi?”

“Biasanya dia membeli obat di toko obat yang ada di ujung jalan sana. Tapi ini sudah sangat lama.” Jawab Rae Na.

“Dia membawa payung?” Rae Na menggeleng.

“Ini, sisanya kau ambil saja.” Aku langsung berlari ke mobilku menerobos hujan. Menginjak pdal gas dan melajukan mobilku. Mencari toko obat di sekitar sini. Aku tidak menemukannya, dan harinya hujan lebat, dimana dia berada? Mengapa aku memikirkannya. Aku seperti orang bodoh, mencarinya kemana-mana. Mengalihkan pandanganku ke jendela saat aku menghentikan mobil di tepi jalan raya. Aku menatap seorang gadis yang duduk di sebuah kursi di atas trotoar dibawah sebuah pohon. Titik-titik hujan membasahi tubuh dan rambutnya yang panjang serta bajunya. Aku membuka pintu mobil dan mengambil payung. Berjalan kearah gadis itu dan memayunginya. Gadis itu menengadahkan telapak tangannya, mungkin dia heran mengapa titik air hujan tak lagi membasahinya. Dia menoleh kesamping kiri dan kanan, lalu mendongakkan kepalanya memandang payung yang aku pegang. Dia terdiam menoleh ke belakang.

“Sedang apa kau disini?” tanyaku. Dia tidakmenjawab, mengalihkan pandangannya ke jalan raya. Aku melangkah mendekatinya dan duduk disampingnya.

“Bajumu basah, kau bisa tambah sakit.” Dia masih tidak menjawab. Aku membiarkannya diam tanpa ingin mendengar jawabannya. Aku tau mungkin dia tidak ingin di ganggu.

“Apa aku terlalu berlebihan?” tantanya sambil meletakkan kepalanya di pundakku.

“Apa yang aku lakukan salah? Berbuat baik padanya?” aku tidak mengerti apa yang dia bicarakan.

Bocah itu, bocah itu menyukaiku dan itu sangat membebaniku.” Lanjutnya.

“Nugu~ya?” tanyaku padanya.

“Key.” Key? Key yang dia maksud yang tadi disebut Rae Na?

“Dia sudah aku anggap seperti adikku sendiri.” Aku terdiam.

“Sebaiknya kita pulang saja.” Aku menarik tangannya.

“Aku tidak ingin pulang. Jika aku pulang denganmu, dia pasti akan marah.”

“Tapi kau harus mengganti bajumu, nati kau tambah sakit. Kajja!” aku menarik tangannya tapi dia menahannya.

“Baiklah, kita kerumahku saja, aku panggilkan dokter setelah itu kau pulang naik taksi, bagaimana?” tawarku. Dia akhirnya mau mengikutiku

Sesampainya dirumah aku memberinya handuk dan menyuruhnya ke kamar mandi. Lama menunggunya di kamar mandi aku mengganti bajuku. Sebelumnya aku mengirim pesan pada Sekretarisku bahwa aku tidak kembali.

“Jung Soo~ssi, aku tidak punya baju ganti.” Ujarnya lirih dari dalam kamar mandi. Ah, aku lupa, aku sgera menuju lemari, aku lihat dan ku bongkar semua isinya. Tidak ada baju perempuan. Aku mengambil kemeja putih yang lebih panjang dari yang lain dan mengetuk pintu kamar mandi.

“Ini, aku hanya punya ini.” Dia membuka sedikit pintu kamar mandi dan meraihnya. Beberapa menit aku menunggunya duduk di tempat tidur. Masih tidak keluar.

“Jung Soo~ssi… boleh aku pinjam handuk keringmu?” tanyanya lagi.

“Ye.” Aku mengambil handuk kering dan aku serahkan padanya.

“Untuk apa?” tanyaku lagi bersandar di pintu kamar mandi.

“Pakaian dalamku basah semua.” Jawabnya pelan. Hufh aku lupa lagi. Dia menarik kenop pintu dan membukanya, membat tubuhku melayang ke belakang mengikuti pintu. Aku enoleh padanya setelah keseimabngan tubuhku terjaga. Aku tertegun memandangnya. Kemejaku memang kebesaran di tubuhnya. Aku melihatnya dari atas sampai bawah. Handuk kecil itu dia gunakan untuk menutupi daerah sensitifnya, aku bisa melihatnya, karena kemeja putih itu dapat membentuk bayangan tubuhnya dengan jelas meski terlalu besar di tubuhnya. Da terlihat menarik kemeja itu kebawah karena merasa risih.

“Apa yang kalian lakukan?” aku dan Eun Kyo menoleh kearah suara.

TBC

Buahahahahahahaha, akhirnya selesai juga… hufh, lap keringat dulu. Aku buntu ide… ini sebagan besar ide Rae Na dan ide Dwi aka Jina. Huweeeeeee lama banget yak aku ga publish ini..aku lagi ga terlalu semangat, laporan dan kegiatanku lagi banya akhir tahun ini… dan saat aku lagi ga ada ide buat MinNa tapi mengapa aku mengambarkan kegiatan Minho bangun tidur dengan detail? Aneh deh, padahal aku udah minta-minta ide buat pasangan temperamental ini. Tapi ga ada yang ngasih ide, ya sudah lah akhirnya jadi gaje, tapi malah jadi detail yak? Suka aku part Minho pas bengun tidur.

Dan yang membuat saya heran, fika sadar fika… Key itu masih kecil, aku terlalu mempesona baginya… buahahahaha, apa-apaan deh ini part sama Key aneh banget! Jangan dipikirkan lah, tapi senang juga bisa dipeluk sama bocah cantik itu.

Banyak bacot lagi aku ini. Baiklah aku tidak berpanjang kata lagi, karena udah lama ga publish ff… bagi yang sudah baca… silakan apresiasikan perasaan kalian setelah membaca ff gaje bin aneh ini… sudah aku bilang, komen bisa melalui media apa saja, asal jangan dari hati ke hati, aku bukanpembaca hati, wahahahahahaha, aku harap kalian juga bisa mengapresiasikannya seperti halnya aku menulis buat kalian… meski aku bilang biarpun kalian ga komen aku akan tetap berhayal liar, tapi ada kalanya aku ingin mengetahui tanggapan kalian,, yak fika janjinya tadi tidak berpanjang kata, ini udah berapa kata? Okeh, my stimulans, love me, muah muah… ini ga aku edit lagi karena cape… maaf jika typo.

51 responses »

  1. Eon!!

    Kok di putus di bagian yg menarikk..
    Aghhh~..

    Eon, kok deskripsiin anduk yg d pake eunkyo gitu sih?
    Ga d omg’in aja kalo menutupi bgian bawahnya..
    Hwhahahhaa

    Owkee abis ini MLT ya?
    Hohohoh..

  2. teukppa sukanya nyosor aja ni. .
    Key bneran mencintai eunkyo? Aigo dya msh kcil, akhirnya eunkyo nyadar jga kalo dya suka ma teukppa. Kasian wonppa sma sypa dong? Nanhee hrus d p’hatiin trus ni sma kyu, biar dya cpat jtuh cinta😀

  3. uwoooo! Aigoo nama aku udah mulai kluar biar baru sdkit…hehe
    Seneng dh… Kamsahe eon…
    Hahay…

    Dan wahnya dsni udah pada mulai2 mengakui perasaannya nih jina dan eunkyo eon., hehe
    Klo minna jg udah ada perkembangan lumayan kiss scene, hahay
    Dan aku kasih smangat bwt kyu! Fighting kejar nanhee!
    Aku pnasaran dh siapa yg dtng k apartemennya jungsoo itu.?
    Eonni ni mah seru sih…
    Ditunggu kelanjutannya! Hehe

  4. aku tdk suka TBC,,aplgi di bagian yg lgi asik2nya,,
    ahhhh key,,lupakan eunkyo
    cobalah untuk mencintai noona,aku tdk akan mngecewakanmu

    untuk adikku tercinta,prince charmingku donghae,kamu ga usah mrsa berslah krna jina sudah punya kekasih,,
    umin ga akan ptah hati lma2,kan ada noona yg akan mngobati luka hatinya*peluk umin*

    evil magnaeku sayang,,ayo kamu pasti bsa menaklukkan hati nanhee,,noona memberi dkungan dri sni,,,semangat,,.semngat*lompat2 gya cheerleaders*

    minhoooo,,,saat bngun tdur drimu pasti terlihat sangat seksi,,
    raena grogi yaaaa,,dicium ma adikku,,msa salah buka pintu,,untung bkan pintu doraemon yg d buka

    komen terakhir untuk kakaku tercinta park jungsoo,,oppa aku kmren kenalan ma istrimu yg lagi2 umurnya lbih muda driku,,aigooo knp istrimu slalu lbih muda driku,,aku ga mau manggil mreka eonni,,
    oppa takdirmu itu eunkyo jdi ga prlu heran kalo kau akan selalu mrasakan ikatan batin,,aku hanya merestui hubungan sahmu dngannya,,kalo yg lain hnya istri siri,,

    untuk eomma restui teukyo ya,,*eomma ngangguk2*,,

    seperti biasa komenku suka ngelantur,,,bodo ah,,jgn kan komen ngerjain yg lain aja suka ngelantur*curcol*,,,

    saya pamit dri pda curcol lgi,,,

    • ga papa onn ngelantur, ngelantur itu nyenengin tau..
      biarin aja lebih muda dr onnie… wahahahahaha, nasib onnie punya adik ipar byk bgt…
      ih apaan deh onnie umin umin…
      trnyata onnie anggota chers jg yah??
      minho mah seksi abis… huwaaaaaa semaput fika bikin part minho…
      rae na kaga setuju onn di cium minho, wahahahahaha
      kyu? hihihihihihi, msh bngung sm yg ini…

  5. Huaa jumma…
    Ak nunggu udh lama lho ff nie..

    C’eunkyo tryata udh kmakan pesona c’ajussi, hahaha bener” c’eunkyo ma cinta mati ma leetuk..
    Yak jumma jngan ktakan ibu.a leetuk g stuju agy sama dirimu.. Ckckck

    minho, g kasian kah dirimu, tangan raena lagi skit, dan kau m’nyurh.a beres” rmh. Dan huaa knapa c’minho mesum bgt g d.MLT ga disini.. Ckckck

    hae kau nikah ajj ma ak biarin jina ma sungmin oppa*d.cekekjina* hahaha clu jina g mw nikah ma hae ak mw ko jumma.. Ak ajj yg nikah ma hae

    huaaa nanhee bru sadar clu kyu ganteng.. Hehe udh brpaling dri abang kuda?? Hehehe

    aduh key kasihan dirimu.. Cari ajj yg laen dripada ngjar” nuna” hahaha

    hahaha mian jumma commen.a g jelas..
    Smangat lanjutin ff.a jumma..
    HWAITING

    • terima kasih udah nungguin syg… ini jg demi kalian…
      eomma kaga setuju? siapa blg? aku mah plg disayang…
      minho itu romantis!! semuanya mah romantis, romantis dari sisi berbbeda…
      ih, hae mah udah trjerat cinta…

  6. eonni cepatan nikah aja ma teuki oppa..kykx teuki oppa dah cepet2 nikah tuh..hehehe..:)..
    Wah..jina dah terpesona dg donghae ya??
    Nanhee jgn2 dah suka ma kyuhyun??hehehe..
    Tbcx pasti lg berduaan ma teukie oppa??jd penasaran..
    Kpn yg MLTnx,kangen ma ryu jin..:)..

  7. Wah eon ini mah bener” colourfull of love lha . . . . Hahaiy ada yg cintanya brtpuk sbelah tangan (nanhee > siwon > eunkyo ) ada yg cintanya pindah ke laen hati (?) ( jina > hae ) pa lg kisah cintanya teukyo & minna couple bkin gemes >_< can't wait 4 next part eon

  8. wah…ternyata part 3 nya udah publish…akhirnya…

    huah eon..tu TBC nya bikin panasaran…><
    ahh…akhirnya Eun Kyo eonni terjerat oleh pesona Leeteuk oppa juga…cinta mati nih…
    hehehe~

    nah eonni-ya…kelanjutan nasib Sungmin oppa gimana tu..??
    huhuhu~ kasian Minppa…
    sini oppa sama aku saja….
    *jiah…
    hehe~

    wah eon pemainnya saling brkaitan ya…
    tpi itu yang bikin menarik…hehe~

    ne eon,,aku tunggu part berikutnya
    \(^^)/

  9. I’m comeiiiiiiiiiiiiiiiiiiinggggggggggggggggggggggggggggg,,,,,,,,,,,,,,,,,,, hohohohohohohohohoohoh
    itu onni pake handuk doang,,,,,, kek na ada yg lagi nahan tuh lihat,,,,, smirk,,,,
    itu yg datang omma kah?????

    hahahahha,,,,, dilihatin kek gitu lama-lama disuruh nikah tuh,,,, bukan lagi tunangan palsu,, nyanyi lagunya ayu ting2,,,, plaaakkkkk,,,,,, gak nyambung,,,,

    buahahahahahahhahahaha,,,,,
    akhirnya,,,,, apakah park eun kyo akan bersama park jung soo #adekurangajar#

    marilah kita nantikan sodara2,,,,,,,, ala komemtator sea games,,,,,, hehehehhehe

    kek na kebanyakan ketawa-ketiwi aku,,,,,,,

    PS: tapi aku maunya eunkyo onn ma ciwon appa,,,,
    lariiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii,,,,,,,,,,,,,,,,,

  10. suka….suka….suka….sukaaaaaaaa…….
    aku makin suka ma ni ff…….

    aigo…..aku *Nanhee* mulai terpesona olehmu yeobo *kyuhyun*
    ayo, keluarkan terus pesonamu, buat aku menggilaimu, ampe aku melupakan pangeran kudaku *siwon* hoho……

    MinNa….
    Mino dah mulai suka ma Na, siap2 ja Na…..(?)

    huaaaaa……Jina dilema neh…….
    ayo jina…….embat ja 22nya……..
    ga usah ngrasa brsalah ma umin *plak/ngajarin ga bener*

    kyaaaaa…….teukppa agresif bgt, ky’a bentar lg teukyo mo nyusul jinhae nikah…….
    btw, sapa thu yg tiba2 masuk k rmh teuki???????

    whahaha……komen aku nyampah bgt…….
    lanjut dund……..*plak*

  11. Saiaaa telaaat..mian..
    Jinhae.. ayo cepet menikah n beri Rae Na ponakan #lol umin kudu sabar ini, hae misterius skli..wkwk
    Kyuhee, waduh mulai deket nie ky’y,penguntit mmbawa berkah #plakk nanhee,bukalah matamu utk kyu,jgn hnya mlht won2 sja..🙂
    Teukyo., jiah oppa.. annyeong kk ipar..wkwk kau manis sekali oppa, hwaithing!! taklukkn eonnie q,ne😉
    Minho~yaa. . kau sllu mnggunakn cara licik,ckck udh 2 kali bersentuhan itu bibir woey!! #pletak *jitakin kodok*
    Key-Yui,bnr2 awal yg baik,yui srg2 mampir ya

  12. Knapa slalu d interupsi pas bag. Yg mnarik c.. Itu yg interupsi eomma’y lgi kah? Hehe..
    Ide’y kyu oppa bwt ngikutin teukyo cma alesan doang tuh, biar bsa dket nanhee trus.. Kkk~
    tpi sprti’y nanhee’y udh mulai ska sma kyu oppa..

  13. aigoo lucu bgt reaksi rae na wkt d cium minho, smp linglung
    key bnern suka eun kyo? aku kira suka.a sm rae na..tp udh ada yui, kyk.a bkaln sm dia..
    itu siapa lg yg liat eun kyo sm teuki dlm keadaan yg agak intim(bju.a mksd.a)hehehe

  14. aigoo lucu nya reaksi rae-na di cium minho itu kenapa tbc nya datang pas lagi dibagian yg seru sih eon~~ terus minho jahat ih udah tau tangan raenanya lagi sakit kenapa malah disuruh ngerjain pekerjaan rumah dsih -3-

  15. oen ff mu menarik… uda part 3 aja tinggal1 lagi,
    mlt udah aku tamatin tp gak komen soalnya gak tau mau blg apa tp yg pasti DAEBAKKKKKK

  16. teukyo so sweet bngt..key?? spertinya dy masih ababil aj ,,hanya prasaan mengagumi eunkyo aj..buat namhee-kyu uhhffff wahhh uadh ada percikan2 cinta nihh hahahah..donghae-jina semoga mereka bersma ya pengen liat mereka adegan romantise deh..hhihihihi..waduhhh siapa tuh yg mergokin teukyo di kmar???omonim???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s