Spend My Lifetime Loving You

Standar

spend my lifetime loving u

Terkadang cinta bisa menyakitimu setiap hari
Terkadang kau dapat jatuh cinta pada semua orang yang kau lihat
Tapi hanya satu benar-benar dapat membuatku yakin
Sebuah tanda dari langit yang berkata kepadaku
“Kau satu dalam sejuta”
Kau sekali dalam seumur hidup
Kau membuatku menemukan salah satu bintang yang ada diatas

(One in a Million – Bosson)

Teuki’s POV

Memandanginya tertidur pulas ditempat tidur. Aku pulang terlambat hari ini karena ada kasus perampokan Bank yang memakan korban. Mencari beberapa saksi namun tidak ada yang begitu jelas keterangannya. Yang aku pikirkan adalah dua mayat yang tergeletak di sela-sela Bank dan sebuah toko besar. Mayat lelaki itu sudah di autopsi, dan dia mati karena sebuah tusukan besi panjang. Entah berkaitan dengan perampokan bank atau itu adalah kasus lain, aku masih belum bisa meraba. Dan kembali kedua kasus itu menyita waktuku bersama Eun Kyo. Apalagi dia sekarang dalam keadaan hamil. Anak pertamaku, animo untuk menjadi seorang Appa memang membuat rasa bahagiaku menyeruak ke permukaan, namun segera terhempas dengan kasus yang aku tangani sekarang. Karena berhasil meringkus Kepala Polisi Jung beserta komplotannya, kini kasus datang silih berganti, dan masih membuatnya sendirian. Aku membelai perutnya yang semakin membesar kian hari. Pasti sangat melelahkan, harus membawa perutnya kemana-mana.

“Oppa, kau sudah pulang?” tubuhnya menggeliat melihatku sambil mengusap wajahnya.

“Ne, sudah pulang.” Aku mengecup bibirnya.

“Jam berapa sekarang?” tanyanya.

“Jam 2 pagi.” Jawabku sambil tersenyum.

“Dan kau baru pulang?” jawabnya sambil menampakkan wajah cemberutnya yang menggoda.

“Hem, ada dua kasus yang sedang aku kerjakan.”

“Begitu?” seperti biasa, dia tidak terlalu antusias dengan pekerjaanku, mungkin karena dia memang tidak suka atau karena kesal pekerjaan itu menyita waktuku untuknya, aku rasa jawabannya adalah keduanya.

“Bagaimana kabar ini?” aku membelai perut besarnya sekali lagi. Merebahkan tubuhku di sampingnya. Menatapa wajah yang kini kembali mulai mengantuk. Wajahnya terlihat lebih seksi seperti ini.

“Dia baik-baik saja, aku baru saja memeriksanya. Perkiraan melahirkan lima minggu lagi.” Sahutnya dengan suara serak sambil berusaha memejamkan matanya.

“Begitu?” dia mengangguk tanpa menjawab. Aku menyusupkan tanganku di kepalanya, menopang kepalanya di lenganku. Dia mendekatkan tubuhnya padaku. Sekesal apapun dia padaku, aku tau dia akan terus bersikap manja padaku, terlebih lagi saat mengandung seperti ini.

“Oppa…”

“Hem?” sahutku.

“Aku ingin dipeluk.” Dia semakin mendekatkan tubuhnya namun terhalang perut buncitnya. Aku tersenyum sendiri melihatnya yang menggeser tubuhnya namun tetap dengan mata terpejam.

“Berbaliklah.”

“Shireo..”

“Tapi jika kau tidak berbalik, aku tidak bisa memelukmu.”

“Bisa…:” rengeknya. Aku menarik lenganku. Kali ini aku yang mengalah. Merangkak melalui tubuhnya dan berbaring di belakangnya. Apa anakku begitu berat hingga kau kesusahan untuk sekedar membalik tubuhmu?

“Sekarang tidur.”

“Em..” sahutnya menggumam.

“Saranghae.” Bisikku ditelinganya.

“Bohong.” Jawabnya.

“He? Kenapa berkata seperti itu?” tanyaku.

“Kau bohonng, kau selalu melupakanku.”

“Ya.. aku tidak pernah melupakanmu.” Aku membelai rambut panjangnya.

“Apa kau ingat apa yang aku inginkan hari ini?” tanyanya sambil menoleh kepadaku.

“He? Apa?” tanyaku bingung, benar-benar lupa apa yang dia inginkan.

“Benar kan apa yang aku katakan?” dia merajuk, menjauhkan tanganku yang memeluknya. Namun aku kembali memeluknya.

“Jangan sentuh aku.” Aku tahu jika orang hamil itu sangat sensitif, aku sangat tau itu, sekarang dia dalam fase itu dan parahnya aku benar-benar lupa apa yang dia inginkan. Aku terdiam sejenak. Mencoba mengingat apa yang dia inginkan.

“Oppa, aku ingin Jajangmyeon yang ada di dekat kantormu, jangan lupa atau kau tidak boleh pulang!”

Aku ingat! Dia ingin Jajangmyeon, dan aku melupakannya. Dia tidak bergeming dari tidurnya. Aku minta maaf padanya juga pasti percuma. Aku segera meraih ponselku dan mengirim pesan singkat pada Hyuk, untuk membelikanku Jajangmyeon jika dia pulang dan aku menyuruhnya untuk tidur di tempatku saja. Hyuk pertama-tama protes, tapi aku memaksanya, kujadikan Eun Kyo sebagai alasan, karena memang dia alasannya. Aku membelai rambutnya, aku tau dia tidak benar-benar tertidur, karena aku tau jika dalam keadaan kesal dia tidak akan bisa tidur. Memandangi wajahnya adalah pekerjaan yang tidak pernah membosankan, semakin aku pandang dia semakin mempesona. Gadisku yang apa adanya, masih menyukai cara makannya, masih sangat menyukai cara marahnya dan sangat menyukai cara manjanya. Aku tidak bisa tidur, masih menunggu Hyuk datang membawakan makanan.

Setelah beberapa lama menunggu akhirnya dia datang juga, aku turun perlahan melewati tubuhnya agar tidak membuatnya terbangun.

“Mau kemana?” tanyanya dengan mata terpejam.

“Ada tamu, Hyuk datang membawakan makanan.” Jawabku.

“Kau menyuruhnya?” tanyanya lagi dengan nada dingin, sepertinya dia marah.

“Ye.” Sahutku tidak bisa berbohong jika caranya berbicara seperti itu.

“Bisakah kau tidak merepotkan orang lain Oppa? Eoh?!” matanya terbuka dan langsung menatap manik mataku tajam.

“Aku hanya ingin menyenangkanmu.”

“Menyenangkanku?”

“Kau ingi Jajangmyeon kan?”

“Kau pulang tepat waktu itu sudah mampu menyenangkanku.” Aku tertunduk.

“Sudahlah, cepat bukakan pintu untuknya.” Aku segera keluar dan membukakan pintu untuk Hyukjae.

“Hyung, ini pesananmu.”

“Ah, ye, gomawo.” Sahutku pelan.

“Wae? Dia sedang tidur? Kalau begitu aku pulang saja, tidak ingin menggangggumu.” Jawabnya.

“Tidak jadi menginap disini?” tanyaku.

“Auranya mengerikan.” Jawabnya lagi. Hyukjae melangkahkan kaki keluar, tidak ingin mengambil resiko untuk kesekian kalinya merasakan aura tidak menyenangkan Eun Kyo.

Eun Kyo’s POV

Aku benar-benar kesal padanya. Dia melupakan pesananku. Padahal itu sangat dekat dengan tempanya bekerja. Apa karena kasus baru itu lagi dia tidak ingat apa yang aku katakan? Tidak salahkan jika kau mengatakan dia melupakanku? Dia hanya ingat pekerjaannya saja. Dan yang paling tidak aku suka, dia selalu menyuruh Hykjae atau kalau tidak menyuruh Sungmin Oppa untuk membelikannya. Aku beranjak dari tempat tidur mengikutinya. Dia terlihat sedang berbincang dengan Hyukjae dan menenteng sebuah kantong makanan di tangannya.

“Hyuk~a, mau minum kopi hangat?” tawarku pada Hyukjae. Dia menolehkan wajah padaku.

“Ne?”dia terlihat bingung.

“Menemaniku di ruang makan?” aku mengambil bungkusan ditangan Oppa. Dia terlihat bingung dengan tingkahku. Hyukjae menggaruk kepalanya dan menatap Oppa, seolah meminta persetujuan.

“Bagaimana?” tanyaku kembali.

“Baiklah.” Jawabnya akhirnya.

“Mau minum apa?” tanyaku tanpa menghiraukan Teuki Oppa yang mengikuti kami ke ruang makan. Hyukjae dan Teuki Oppa duduk di kursi dan aku menyeduh kopi panas untuk mereka berdua. Mengambil mangkuk untuk jajangmyeon yang Hyukjae bawa untukku.

“Enak?” tanya Oppa meminta jawabanku, aku hanya mengangguk. Rasanya begitu lezat! Saat aku hamil aku sangat suka sekali jajangmyeon. Melahapnya dengan cepat. Aku suka sekali saus kacang kedelai hitamnya, rasanya tidak bisa digambarkan, seperti seorang musafir mendapatkan minum setelah berhari-hari melakukan perjalanan di padang pasir, begitulah rasanya saat lilitan mie di garpu dan dicampur dengan pasta kacang kedelai hitam itu menyetuh indra pengecapku. Mereka berua memandangiku makan tanpa sadar, setelah aku habis baru aku menyadari mata mereka menatapku kagum, hanya dalam hitungan menit makanan itu habis aku lahap.

“Mau lagi?” tanya Hyuk masih dengan tatapan tidak percayanya.

“Jika ada lagi aku masih mampu menghabiskannya.”

“Uhuk.” Oppa tersedak. Aku dan Hyukjae berganti menatapnya. Dia terlihat malu.

“Mau berapa banyak lagi kau makan?” tanya Oppa sambil membulatkan matanya. Aku tidak menghiraukannya. Dan kembali ke kamar tidur.

Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur, membelai perutku dengan lembut. Merasakan setiap gerakan yanf bayiku ciptakan. Terkadang terasa tendangan kaki kecilnya di dalam rahimku. Aku senang jika dia aktif seperti ini. Terkadang aku bisa terjaga dari tidurku merasakan tendangannya.

“Ya.. kau mau bermain dengan Eomma?” tanyaku. Dia masih menendang pelan perutku, terasa sedikit nyeri tapi itu membuatku bahagia. Itu artinya dia masih beraktifitas dan masih hidup. Tiba-tiba Teuki Oppa masuk ke dalam kamar dan mengambil posisi di sampingku.

“Hyukjae menginap disini?” tanyaku sambil menyandarkan kepalaku dilengannya.

“Ne, terlalu jauh jika dia harus kembali kerumahnya.” Jawabnya, benar juga, kamar tamu kan kosonng.

“Oppa, kau mencintaiku?” mataku menatapnya wajahnya seiring dengan pertanyaan yang aku lontarkan kepadanya.

“Wae? Kau mulai meragukanku?” tanyanya balik.

“Ani.” Jawabku sambil mengalihkan pandangan darinya.

“Katakan padaku, apa yang kau rasakan?” tanyanya sambil meraih daguk, memaksaku untuk menengadahkan wajah menatapnya.

“Ani, aku hanya bertanya.” Elakku, aku merasakan dia mulai berubah, bukan berubah dalam artian dia tidak mencintaiku, hanya saja entahlah, aku merasakan  perubahan padanya. Apakah ini karena sebentar lagi dia akan menjadi Appa?

“Baiklah, kalau begitu kau tidur saja, ini sudah pagi, sebentar lagi matahari terbit.” Dia memeluk dan mengecup kepalaku.

***

Aku membuka mataku dan Teuki Oppa masih tertidur pulas disampingku. Wajahnya terlihat lelah, aku membiarkannya sebentar lagi menikmati tidurnya. Dia pasti bekerja keras, aku menyukai sifat kerja kerasnya, namun terkadang dia terlalu memaksakan dirinya bekerja.

Aku berjalan menuju dapur dengan tertatih, aku merasa beban perutku benar-benar bertambah akhir-akhir ini. Kau tumbuh dengan baik sayang? Aku mengelus perutku sambil berjalan menuju dapur. Di depan pintu kamar Hyukjae, aku mengetuknya.

“Lee Hyukjae, sudah pagi, kau tidak bekerja?” tanyaku. Tidak ada sahutan dari dalam, aku melanjutkan langkahku menuju dapur. Mulai mamasak untuk mereka. Mulai mencuci beras sampai menyiapkan lauk aku kerjakan denga hati-hati, aku tidak secepat dulu lagi, dan aku sudah mempelajari beberapa masakan yang mudah.

Tak berapa lama Hyukjae keluar dari kamar dan menghampiriku.

“Memasak apa?” tanyanya.

“Sebisaku, jika tidak enak tidak perlu dimakan.” Jawabku.

“Sini biar aku cicipi.” Dia mengambil sendok dan mencicipinya. Aku jadi menunggu reaksinya saat merasakan masakanku.

“Hem, lumayan, masih bisa dimakan.” Jawabnya santai, sialan. Tak berapa lama Oppa juga bergabung denganku di dapur, bedanya dia sudah mandi meski belum berpakaian rapi. Mencium bibirku sekilas lalu duduk dengan manis di meja makan.

“Kalian berdua membuatku muak.” Ujar Hyukjae sambil berlalu dari dapur.

“Makanya cepatlah cari istri.” Sahut Oppa. Aku memukul lengannya, karena menurutku pernikahan itu hal yang sangat sensitif. Aku menyiapkan makanan untuknya, tidak berapa lama Hyuk juga bergabung makan bersama kami. Selesai makan mereka berangkat bekerja, Hyuk karena masih sendiri dia sering membawa baju ganti dalam mobilnya, aneh sekali, dia mengatakan biar lebih efektif dalam bekerja.

“Aku mungkin pulang terlambat lagi malam ini.” Sebelum dia berangkat dia mengecup pipi dan perutku terlebih dahulu.

***

Kembali lagi aku sendiri, disaat seperti ini aku terkadang merindukan seorang yang bisa diajak untuk berbicara. Aku teringat Hye Mi, sudah lama aku tidak bertemu dengannya, dia sekarang tinggal dan mendapat perlindungan dari negara, dan masuk dalam lembaga sosial anak. Aku mengutak-atik majalah yang entah sudah berapa kali aku bolak-balik, dia kan pulang terlambat lagi pulang hari ini, apa yang harus aku lakukan?

Aku mencoba membuat jus pisang, tiba-tiba saja aku ingin makan pisang, ck!

“Sayang… kau mau pisang? Eoh?” aku mengajak bayiku berbicara, karena aku hanya punya dia di rumah ini.

“Baiklah, kita buat jus pisang paling enak di dunia, bagaimana?” aku segera membuka internet dan memulai mengerjakannya. Aku memilih cara yang paling sederhana dan persediaan yang ada di dalam lemari es. Aku menuangnya dalam gelas dan mulai meminumnya.

“Eum.. mashitta…” aku tersenyum dan memuji minuman buatanku sendiri.

“Bukan begitu kan sayang? Kau suka?” tanyaku lagi pada seseorang yang ada dalam diriku.

“Sekarang saatnya kita santai dan melepaskan rasa lelah.” Aku meletakkan tubuhku dilantai yang beralaskan karpet bulu tebal. Lalu meluruskan kakiku.

“Kau semakin berat saja, Eomma semakin kewalahan membawamu, tapi Eomma bersyukur, kau tumbuh dengan baik kan?” entah elusan yang keberapa yang aku berikan pada perutku, tak pernah bosan aku menyapanya mengingat aku disini memang hanya sendiri.

“Ya… kau merindukan Appamu?” tiba-tiba saja aku merindukan suamiku yang akhir-akhir ini mengacuhkanku. Ck! Demi apa aku merindukannya, perasaanku benar-benar aneh akhir-akhir ini, apakah ini pengaruh dari rasa takutku akan persalinan? Aku memang tidak bisa memungkiri jika aku juga merasakan cemas itu, tinggal menunggu beberapa waktu lagi. Rasa khawatir yang aku tekan sedemikian rupa kini meluap karena Teuki Oppa kembali dengan kegilaannya tentang pekerjaan. Apa yang dia katakan? Perampokan Bank? Mayat laki-laki? Berhubungankah? Ck! Dan sialnya, meski aku berusaha mengacuhkan masalah itu, tapi masih saja pertanyaan-pertanya muncul dalam otakku, mengapa pembunuhan bertepatan dengan perampokan? Ada hubungan? Atau bagaimana?

“Sayang, saat kau sudah dewasa nanti, bekerjalah seperti Appamu sebagai bukti tanggungjawabmu pada istrimu, tapi bersikaplah seperti Harabeojimu, yang senantiasa perhatian pada keluarganya.”

“Mau menonton TV atau mendengarkan musik?” tanyaku.

“Kita lakukan keduanya saja, kau mendengarkan musik, Eomma yang menonton TV, keputusan yang bijaksana kan?”

Teuki’s POV

Aku meluncur menuju gedung tempatku bekerja, berbagai pertanyaan mengambang di benakku. Aku masih tidak memperdulikan Hyukjae yang mengutak-atik memutar gelombang radio untuk mendengarkan suara, karena dia tidak suka kesunyian.

“Hyung, menurutmu, kira-motif apa pembunuhan yang terjadi di dekat Bank itu? Dan itu kan Manager Bank itu sendiri? Mengapa bisa tergeletak tak berdaya disana?”

“Itu juga yang sedang aku pikirkan.” Jawabku.

“Tidak ada saksi satu orangpun? Atau takut menjadi saksi? Mungkinkah ini adalah permainan orang berkelas lagi?” tanyanya lagi.

“Entahlah.” Jawabku. Sebenarnya aku juga lagi mencari jawaban dari semua itu. Tapi masih tidak menemukan jawabannya.

“Hyung, kapan jadwal istrimu melahirkan?” eh? Mengapa Hyuk tiba-tiba menanyakan itu?

“Kenapa tiba-tiba kau menanyakan itu?”

“Ani, hanya saja, yang kudengar jika perempuan ingin melahirkan, dia mempunyai tingkat kecemasan yang tinggi.”

“Darimana kau mendapatkan teori seperti itu?” tanyaku.

“Aku ku tau saja.” Jawabnya santai.

“Aku lupa, kau kan memang petualang wanita.”

“Kau ini, aku sedikit mengkhawatirkannya.” Ucap Hyukjae.

“Lee Hyukjae, dia istriku! Bukan istrimu! Jadi jangan mengkhawatirkannya!” protesku, aku sangat sensitif jika seseorang memperhatikan istriku.

“Aku kan hanya mengkhawatirkannya.”

“Kau urus dirimu sendiri, dia urusanku.”

“Hey, kau lupa? Siapa yang selama ini mengabulkan semua permintaannya? Aku, kau hanya bisa melakukan pekerjaanmu, tidak pernah memikirkannya.”

“Apa yang kau tau tentangku?” tanyaku sinis. Dia partner terbaikku, namun jika sudah menyangkut Eun Kyo dia adalah rival berdebat yang handal, mengapa dia tau banyak tentang wanita?

“Ani, kau hanya tau bekerja dan bekerja, apalagi sekarang kau mendapatkan kasus baru, ingat kau punya istri yang sedang hamil.” Nasehatnya memang baik, tapi seolah mengguruiku, aku tidak suka itu, tapi kali ini dia benar. Aku tidak perlu bernafsu seperti waktu itu lagi.

***

Aku memeriksa setiap foto yang ada di mejaku, dan sesekali menatap layar monitor. Rekaman CCTV saat perampokan itu, aku memutarnya beberapa kali. Aku menemukan sedikit atau lebih tepatnya sekilas bayangan orang yang ada saat perampokan itu terjadi. Gadis kecil yang terlihat sedang menunggu di ruang tunggu giliran antrian, para pengunjung Bank itu hanya dia, apa dia masih berada saat kejadian itu terjad? Entahlah, PR ku adalah mencari gadis kecil itu.

“Hyuk~a.. bisa ke ruanganku sebentar?” aku memencet tombol satu pada telepon, sambungan paralel pada Hyukjae.

“Ye, sebentar lagi. Ah, iya, kita punya partner baru.” Jawabnya.

“Begitu?” respon tidak terlalu antusias.

“Aku akan datang bersamanya.” Sambungannya terputus. Tak berapa lama dia datang dengan partner kami yang baru.

“Hyung, kenalkan ini Lee Chaerin.” Aku menoleh pada mereka. Jadi partner kami sekarang wanita. Aku berdiri dan menjabat tangan wanita yang bernama Chaerin itu, dia membalas menjabat tanganku.

“Selamat datang dan selamat bergabung.” Aku mengawali kalimat kerjasama dengannya.

“Ne, mohon kerjasamanya.” Jawabnya. Hyukjae terlihat tersenyum di belakang Chaerin, aku meliriknya sebentar. Chaerin memang cantik, dengan pembawaan yang tegas dan muka yang benar-benar cantik, pantas saja jika makhluk mesum yang berdiri dibelakangnya itu tersenyum bahagia.

“Mejamu ada di dekatku.” Sahut Hyukjae karena Chaerin tidak terlalu memperhatikannya.

“Ah, ye.” Sahutnya lalu mengalihkan pandangannya.

“Bekerja mulai hari ini?” tanyaku pada Chaerin, dia kembali menolehku

“Em, dan aku dengar kalian sedang menangani kasus yang sedikit rumit? Dua kasus dalam satu kejadian?”

“Hem, aku belum bisa memastikan apa motif pembunuhan dan perampokan itu, kalau perampokan mungkin tidak ada motif, tapi mengapa tiba-tiba manager Bank tersebut tergeletak tak bernyawa disela Bank?” aku mencoba berbagi pemikiran dengan mereka.

“Lalu mulai darimana kita mengawali penyelidikan kasus ini?” tanya Hyukjae.

“Kalian bisa lihat rekaman CCTV yang aku dapatkan.” Aku menyambung kabel LCD ke laptopku dan menayangkan rekaman itu di layar putih setelah aku membuat ruanganku menjadi gelap. Aku menekan tombol ‘pause’ saat gambar itu menayangkan sebuah adegan seorang anak kecil lebih tepatnya remaja sedang duduk di kursi tunggu nasabah. Hanya anak itu yang ada disana sedang menunggu, tidak ada orang lain.

“Aku ingin mencari anak ini.” Aku menatap mereka berdua.

“Caranya?” tanya Hyukjae.

“Aku rasa pihak bank punya transaksi pada hari itu. Kita cari informasi dari sana.” Terangku pada mereka.

“Biar aku yang melakukan.” Jawab Chaerin.

“Sekarang?” tanya Hyukjae.

“Lebih cepat lebih baik.” Kataku.

“Biar aku antarkan.” Hyukjae menawarkan jasanya pada Chaerin, dia menatap Hyukjae dan tersenyum, aku juga ikut mengulum senyumku, dasar Hyukjae.

“Sebaiknya kita bertiga saja.” Jawab Chaerin.

“Tidak masalah.” Jawabku. Kami bertiga menuju Bank itu dan memulai investigasi. Memberikan pertanyaan seputar perampokan itu. Tidak banyak yang dapat memberikan pernyataan, karena semuanya seolah takut akan sesuatu.

“Bisa kami minta transaksi hari itu?” tanya Chaerin dengan lembut pada seorang teller.

“Maaf, itu rahasia. Anda harus meminta ijin terlebih dahulu pada Manager baru.” Jawabnya.

“Baiklah, bisa kami bertemu dengannya?” tanya Chaerin lagi, aku hanya memperhatikan caranya berkomunikasi, dia memang memikat, tubuhnya bisa dikatakan seksi. Hyukjae tersenyum disampingku.

“Dia sangat mempesona.” Ucap Hyukjae.

“Memang.” Jawabku. Mata kami tak lepas darinya yang sedang mengintrogasi pegawai Bank itu. Aku terus memperhatikannya, memang cantik, aku sedikit terpesona. Tapi sekelebat bayangan Eun Kyo melintas dalam otakku.

“Tapi Eun Kyo lebih mempesona.” Hyukjae mengatakan itu mendahuluiku. Aku menatap tajam padanya. Dia tersenyum mengejek.

“Aku menyuarakan hatimu Hyung. Jika hatimu tidak mengatakan seperti itu, aku mengingatkannya.” Jawab Hyukjae cepat.

“Dia tidak bisa dibandingkan dengan apapun.” Jawabku.

“Syukurlah kau menyadarinya, jadi kau ingat kalau dia bagianku.” Ujar Hyukjae, matanya tidak lepas dari wanita itu. Chaerin berjalan menuju kearah kami.

“Dapat?” tanya Hyukjae. Dia melambaikan selembar kertas pada kami, menyerahkannya padaku.

“Tidak ada yang bisa aku selesaikan.” Jawabnya bangga. Hem, selain cantik dia juga cerdik dan pintar.

***

Sudah seminggu aku mencari alamat gadis kecil itu. Namanya Lee Eunjung. Gadis berusia 17 tahun itu aku yakin dia mengetahui sesuatu. Alamatnya sudah pindah, dan kami kehilangan jejaknya, mencarinya mulai dari titik nol, mengumpulkan beberapa informasi dari tetangganya, dia hanya tinggal berdua dengan Appanya, 5 hari yang lalu Appanya meninggal, dia pindah rumah ke Busan. Kini aku dalam perjalanan menuju Busan, tempat gadis itu tinggal bersama saudara dari Appanya.

Sesampainya di Busan, kami menyusuru alamat yang kami dapatkan dari tetangganya. Berpencar mencarinya menjadi tiga. Sudah satu jam aku mencari alamat itu, namun tidak juga menemukannya. Ponselku berdering. Aku segera mengangkatnya tanpa melihat layar. Pasti Chaerin.

“Wae~yo, Chaerin~a? Kau sudah menemukannya?” tanyaku.

“Chaerin? Nugu~ya?” suara dalam speaker ponselku, sepertinya aku kenal, aku menjauhkan ponselku dari talinga dan menatap layar, Eun Kyo! Mampus aku.

“Yeobo.. maaf, aku kira Chaein yang menelepon.” Jawabku gugup.

“Hem, kau pulang hari ini?” tanyanya.

“Eeemmmm.” Aku berpikir sejenak, bagaimana aku harus menjawabnya? Apa aku harus berkata akan pulang, tapi aku pulang besok pagi seperti biasanya, atau membuatnya kecewa dengan mengatakan tidak pulang hari ini.

“Arasseo, aku sudah mengerti, kau tidak akan pulang.” Sahutnya dari seberang.

“Mianhada… aku sekarang sedang di Busan.”

“Bersama Chaerin itu?”

“Ne.” Jawabku. Dia menghela nafas.

“Baiklah, aku hanya ingin menanyakan itu.” Dia langsung menutup telpon tanpa sempat aku menjelaskan siapa Chaerin. Ponselku kembali berdering. Aku langsung mengangkatnya.

“Yeobo, aku belum sempat menjelaskan.” Kataku langsung.

“Yeobo? Ini aku Chaerin.” Jawab suara dalam telponku.

“Ne? Oh, ah, mianhae. Kenapa? Ada jejak?” tanyaku padanya.

“Aku menemukannya.” Dia menyebutkan lokasinya. Aku segera menuju kesana. Setelah sampai ditempat itu, aku sudah mendapati Hyukjae dan Chaerin berbicara dengan gadis itu. Aku menghampiri mereka.

“Dia tidak mau banyak bicara, Hyung.” Ucap Hyukjae ketika aku sampai disana. Memang, dia seperti menatap kami tidak suka. Aku bisa merasakan dari tatapan tajamnya.

“Sebaiknya dia kita bawa ke Seoul saja, agar lebih mudah mengintrogasi.” Jawab Chaerin. Lagi? Membawa saksi lagi? Dan akan di tempatkan dimana lagi?

“Siapa yang akan menampungnya?” tanyaku, tidak ingin mengulangi kejadian setahun yang lalu, yang hampir membuatku kehilangan Eun Kyo.

“Mungkin bisa ditempatku.” Jawab Chaerin. Benar juga dia kan perempuan, aku menyetujui usul Chaerin. Setelah meminta ijin untuk membawa Eunjung ke Seoul dan menjaminnya dengan alasan kepentingan penyidikan dan keadilan hukum, akhirnya kami berhasil membujuk Eunjung untuk ikut. Sebenarnya bukan membujuk tapi memaksanya.

Eun Kyo’s POV

Ck! Sudah aku duga, dia tidak akan pulang hari ini. Ada di Busan? Untuk apa? Chaerin? Siapa Chaerin? Mengapa dia bersama wanita itu? Chaerin itu wanita kan? Pasti wanita. Siapa? Aku tidak ingin memikirkan hal yang negatif, tapi tanpa bisa aku cegah, aku memang terganggu dengan nama Chaerin itu. Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur, tidak taukah dia jika aku sebenarnya ingin dia disini? Menemani kekhawatiranku yang kini mulai meningkat menjelang persalinan. Apa persalinannya akan lancar? Baik-baik saja? Beberapa minggu lag, sekitar 3 sampai 4 minggu, tidak akan terasa. Aku mengajak bayiku berbicara lagi, kegiatan yang akhir-akhir ini sering aku lakukan.

“Sayang, kau sudah tidak sabar ingin melihatku? Aku sudah tidak sabar ingin melihatmu.” Aku tersenyum.

“Tumbuhlah dengan baik, dan jangan menyusahkan Appamu, ne?”

“Dia memang sibuk akhir-akhir ini.” Aku tersenyum kecut, mengangguk dan memutar kedua bola mataku memandangi ruangan yang sepi ini.

“Ah, kau lapar?” aku bangkit dari posisiku yang berbaring ditempat tidur.

“Eomma mau makan nasi goreng kimchi buatan Sungmin Ahjussi, bagaimana sayang?” aku segera menyambar jaket tebalku dan menelpon taksi untuk segera menjemputku. Tidak berapa lama aku menunggu, akhirnya sebuah taksi menghampiriku. Aku segera meluncur ke sebua kedai di dekat Sungai Han. Sebuah kedai makanan milik Sungmin Oppa.

“Sungmin Oppa.” Aku menyapanya yang sedang menjamu tamu. Duduk disebuah meja yang dekat dengannya bekerja.

“Dengan siapa kau kemari?” tanyanya sambil membawakan nampan berisi makanan pada pelanggannya.

“Aku sendirian saja.” Jawabku pelan.

“Teuki Hyung?” tanyanya berhenti di depanku, masih dengan nampan ditangannya.

“Bekerja.” Jawabku sambil memilin rambutku.

“Kau! Kau kan sedang hamil, mengapa tidak meneleponku terlebih dahulu? Aku bisa menyuruh seseorang untuk menjemputmu!” protesnya saat mengetahui aku benar-benar sendirian menuju kesini.

“Aku tidak ingin sendirian di rumah, aku kesepian.” Jawabku membela diri agar dia tidak menyalahkan tindakanku.

“Tapi kau..” dia tidak melanjutkan kalimatnya melihat wajahku.

“Baiklah, aku mengerti, tapi jika kau ingin kemana-mana dan Teuki Hyung tidak ada, kau harus menelponku, ara?” tanyanya dengan wajah sedikit mengintimidasiku untuk menjawab iya. Aku mengangguk.

“Kau mau makan apa?” lanjutnya setelah dia selesai melayani pelanggannya. Hari ini tidak seramai hari-hari biasanya karena cuaca memang tidak mendukung. Seoul diguyur hujan dan baru reda saat malam, itulah mungkin orang-orang enggan untuk keluar rumah. Cuaca dingin.

“Seperti biasa.” Aku tidak terlalu bersemangat, mengapa aku merindukannya akhir-akhir ini? Merindukannya pulang lebih cepat seperti biasa. Kadang aku berpikir, tidak bisakah meluangkan waktu sebentar saja? Mengapa tingkat kejahatan tidak berkurang setiap hari? Tidakkah mereka berpikir jika terjadi bermacam kasus, memakan banyak korban? Bukan hanya pihak yang melakukan kejahatan yang akan dijatuhi hukuman, tapi juga bagi para pemburu keadilan seperti suamiku dan berbagai lembaga yang berkaitan. Aku menghela nafas. Bingung antara harus bangga atau kecewa terhadap apa yang dilakukan Teuki Oppa. Bangga karena dia bertindak benar, tapi juga dengan sebuah kebenaran yang dia tegakkan, dia mengorbankanku. Tapi harusnya aku menyalahkan diri sendiri. Aku seharusnya sudah tau konsekuensi menikah dengannya, tidak sepantasnya aku kecewa padanya. Aku tersenyum sendiri menertawakan kebodohanku.

“Ini, silakan dinikmati, aku membuatnya tidak terlalu pedas, khawatir seseorang yang ada di perutmu tidak akan tahan.” Ucap Sungmin Oppa saat mengantarkan makanan untukku.

“Em, hufh, aku merindukan Appa.” Keluhku padanya, sebenarnya bukan merindukan Appa, tapi merindukan perhatiannya, aku tau dia tidak mungkin kembali, lebih tepatnya aku ingin Oppa seperti Appa.

“Aku juga merindukannya, tapi kan tidak mungkin beliau ada disini bersama kita, maksudku dalam wujud lahir, tapi dia ada dalam wujud lain.”

“Oppa.. aku kesepian.” Keluhku lagi padanya.

“Suamimu jarang pulang?” aku mengangguk, entah mengapa aku tidak bisa menyembunyikan apapun dari orang yang ada dihadapanku ini. Aku bisa saja menyembuyikan sesuatu dari Teuki Oppa, tapi tidak mampu menyembunyikannya dari Sungmin Oppa, mungkin karena dia sudah sangat mengenalku.

“Dia punya kasus baru?” tanya Sungmin Oppa.

“Ne, perampokan Bank beberapa hari yang lalu, dan penemuan mayat Manager Bank tersebut tidak jauh dari tempat kejadian.” Jelasku pada Sungmin Oppa.

“Kasusnya tidak sebesar yang kemarin kan? Tidak akan sampai menunda persalinanmu seperti kasus itu yang menunda pernikahanmu.” Ejek Sungmin Oppa sambil tersenyum.

“Oppa…!” aku memajukan bibirku sebagai tanda protes padanya yang mengejekku.

“Persalinanmu tetap akan terjadi jika sampai waktunya apapun yang terjadi.” Jawab Sungmin Oppa.

“Ne, itu benar, tapi aku tidak ingin sendirian melewatinya.”

“Tapi kan masih ada aku.” He? Aku membelalakkan mataku mendengar jawabannya. Apa? Dengannya? Tidak bisa, aku tidak ingin dia meski aku berterima kasih ada untukku selama ini, tapi kali ini aku tidak ingin orang lain, aku ingin Teuki Oppa.

“Aku ingin duduk disana.” Aku mengambil piring nasi dan membawanya ke pinggiran Sungai. Memakannya sesuap demi sesuap. Tanpa terasa airmataku menetes. Appa… kini saat aku duduk disini seperti beberapa tahun lalu, aku benar-benar merindukan Appa. Merindukan sosoknya yang selalu melindungiku, yang mengajarkanku tentang hidup dan bekerja keras, tapi dia juga sering menempatkan posisi sebagai teman.

“Hapus airmatamu.” Sungmin Oppa menyerahkan beberapa lembar tissue padaku. Aku menghapus airmataku.

“Sangat merindukannya? Apa yang bisa aku lakukan?” tanya Sungmin Oppa.

“Tidak ada, tidak ada yng bisa kita lakukan.” Jawabku.

“Kau ingin aku menyuruh suamimu untuk pulang?” tanyanya lagi. Aku menggeleng.

“Aku tidak ingin mengganggunya.”

“Tapi kau..”

“Aku tau apa yang dia lakukan.” Potongku saat Sungmin Oppa untuk yang kesekian kalinya ingin mengasihani aku.

“Baiklah kalau begitu, kau harus bersabar.” Dia mengelus punggungku untuk menenangkanku, hal yang kerap kali dia lakukan jika aku sedang berkeluh kesah padanya.

“Oppa, kau selalu mendengarkanku, terima kasih telah ada untukku. Harusnya aku tau inilah konsekuensi menikah dengannya, harusnya aku tau dan menyadari itu. Aku yang egois, tidak mengerti dirinya.”

“Kau jangan begitu, bukan salah kalian jika salah satu bertindak egois, kau dengan tuntutanmu, dia dengan pekerjaan, tapi memang keadaan yang membuat kalian seperti ini.” Terang Sungmin Oppa menenangkanku. Ini yang aku suka darinya, dia tidak pernah memihak salah satu dari kami.

“Apa aku salah jika aku juga ingin seperti pasangan lain? Bersama pergi check up ke dokter, makan bersama atau menghabiskan akhir pekan berdua?”

“Tidak salah, tidak ada yang salah, tapi cobalah mengerti dia, jangan pernah lelah untuk selalu mengalah, karena yang kalah bukan berarti yang rugi. Bisa saja yang kalah yang terlepas dari kerugian.” Terang Sungmin Oppa lagi. Aku tidak terlalu mengerti maksud dari ucapannya, tapi aku menangkap jika kita mencintai seseorang, perbanyaklah mengerti, jangan perbanyak tuntutan. Semakin tinggi pengertian, maka akan semakin besar cinta yang kau miliki tanpa ada rasa lain yang mengganggu.

“Em, arasseo.” Aku menyandarkan kepalaku dipundaknya.

“Anakmu laki-laki atau perempuan?” tanya Sungmin Oppa.

“Laki-laki.” Jawabku.

“Huwaa, pasti sangat lucu.” Jawabnya. Semoga dia sepertimu, sifatnya. Sedikit banyaknya aku menemukan banyak kesamaan antara Appa dengan Sungmin Oppa, perhatiannya mengingatkanku pada Appa.

“Kau tidak mau pulang?” aku menggeleng.

“Lalu kau mau disini saja? Kasihan bayimu Kyo~ya…”

“Aku masih kuat Oppa, aku ingin disini, sambil mengingat Appa.” Jawabku, tapi sebenarnya aku tidak ingin sendirian. Bingung apa yang harus aku lakukan jika sendirian.

Teuki’s POV

Aku memutuskan untuk pulang hari ini, pasti sampai dirumah tidak seperti sebelumnya. Sudah sangat merindukannya padahal baru beberapa jam aku meninggalkannya. Entah mengapa rasa rinduku menggebu beberapa waktu terakhir, namun pekerjaan menyita waktuku, aku tidak ingin membiarkan kasus ini berlarut-larut seperti waktu itu. Aku membawa Eunjung yang aku duga kuat mengetahui dengan benar kejadian itu, terlihat dari sorot matanya yang kosong, aku melihat sebuah ketakutan dari kedua manik matanya.dia duduk di belakang bersama Chaerin, dia diam membisu tanpa berkata sepatahpun, Chaerin juga diam, tak tau harus berbuat apa. Ponselku berbunyi. Ada sms, aku langsung membukanya, dari Sungmin.

Hyung? Kau ada dimana?

He? Sungmin? Kenapa tiba-tiba menanyakan keberadaanku? Pikiranku langsung melayang pada Eun Kyo, aku langsung memencet nomornya dan menghubunginya.

“Yeoboseyo?” jawabnya.

“Terjadi sesuatu pada Eun Kyo?” tanyaku langsung tanpa basa basi.

“Ani, dia kesini dan duduk di tepi sungai Han, aku khawatir, dia tidak mau pulang, kau dimana?” tanyanya.

“Aku dalam perjalanan, dari Busan, ada sesuatu yang harus aku kerjakan.”

“Pulang malam ini juga?” tanyanya.

“Ne, ini mungkin sebentar lagi akan sampai, wae?” tanyaku.

“Ani, bisa menjemputnnya disini? Aku khawatir, udara sangat dingin, aku takut dia kenapa-kenapa.” Satu lagi orang yang membuatku merasa tersaingi. Eun Kyo itu istriku, kenapa harus ada orang lain yang lebih memperhatikannya? Bukannya aku tidak suka, aku hanya seorang suami yang punya rasa cemburu yang besar. Aku tau aku mungkin terlalu sibuk, bahkan terkadang mengabaikan Eun Kyo, tapi bukan berarti lelaki lain bebas memperhatikannya. Tapi walau bagaimanapun, aku juga harus berterima kasih padanya, ditengah kesibukanku, dia ada untuk Eun Kyo, tapi hal itu juga tidak bisa aku pungkiri membuatku cemburu.

Aku mengantar Chaerin dan Eunjung ke apartemen Chaerin, ada untungnya juga bekerja sama dengan wanita. Chaerin wanita yang pintar, aku rasa dia bisa menanganinya dengan mudah, aku berharap banyak padanya, agar sebelum Eun Kyo melahirkan aku sudah menyelesaikan kasus ini. Setelah itu mengantar Hyukjae, lalu dengan cepat mengemudikan mobilku menuju Sungai Han. Setelah sampai aku segera menghampirinya, tapi Eun Kyo tidak sendirian, dia bersama Sungmin, dan posisinya yang membuatku hatiku sedikit meradang. Aku urung untuk mengusik mereka, Eun Kyo sedang bersandar dipundak Sungmin.

“Kau tidak mau pulang?” tanya Sungmin pada Eun Kyo, aku masih dapat mendengarnya, Eun Kyo menggeleng. Jadi dia tidak ingin pulang?

“Lalu kau mau disini saja? Kasihan bayimu Kyo~ya…” deg! Hatiku serasa tertimpuk kerikil kecil, dia bahkan mengkhawatirkan bayiku, sedang aku sendiri?

“Aku masih kuat Oppa, aku ingin disini, sambil mengingat Appa.” Appa? Aku tidak pernah sedikitpun mendengarnya mengeluh tentang Appanya. Tapi Sungmin?

“Kau jangan seperti ini, Appa akan sedih jika kau meratapinya.” Sungmin mencoba menenangkannya, harusnya aku yang berada diposisi itu.

“Tapi aku kesepian, biasanya Appa akan menemaniku bila aku merindukan Eomma, tapi saat aku merindukan mereka ataupun salah satu dari keduanya, tidak ada yang menemaniku.” Jawab Eun Kyo. Mendengar pernyataan Eun Kyo, membuatku merasa tertampar. Aku yang selama ini membuatnya kesepian.

“Masih ada aku kan? Aku akan menemanimu jika sedang tidak ada pekerjaan, lagipula saat kau melahirkan dan mempunyai bayi, kau pasti tidak akan kesepian lagi.” Lagi-lagi aku merasa kecolongan dengan sikap Sungmin. Aku yang memang sangat mencintainya, tapi aku tidak berusaha beradaptasi dengan semua perilakunya, hanya mementingkan pekerjaanku dan menuntutnya untuk mengerti. Benar apa yang dia katakan, aku melupakannya.

“Yeobo..” aku tidak tahan melihat kebersamaan kedua sahabat ini lagi dan menggangunya dengan kehadiranku. Aku menyapa Eun Kyo.

“Oppa..” dia menoleh padaku bingung, tidak menampakkan wajah bersalah telah membuatku cemburu, begitu juga dengan Sungmin.

“Ne.. kita pulang sekarang?” tanyaku tidak sabar ingin segera membawanya pulang.

“Sejak kapan kau ada disini?” tanyanya masih dengan wajah polosnya.

“Sudah dari tadi.” Jawabku dingin. “Ayo kita pulang.” Lanjutku. Dia menoleh pada Sungmin, ck! Aku mulai muak dengan mereka berdua, Eun Kyo menoleh seolah meminta persetujuan Sungmin untuk pulang.

“Sungmin Oppa, aku pulang.” Pamitnya pelan pada Sungmin.

“Ye, hati-hati.” Jawab Sungmin. Ck! Mereka mencoba memanas-manasiku? Aku menggandeng tangan Eun Kyo.

“Oppa, aku tadi makan nasi goreng kimchi, buatan Sungmin Oppa memang masih yang terbaik di dunia.” Apa lagi ini? Dia memuji orang lain di depan suaminya sendiri?

“Ye.” Sahutku malas.

Aku membisu sepanjang perjalanan, dan Eun Kyo tertidur sepanjang perjalanan pulang menuju rumah. Saat sampai di rumah, aku mengangkat tubuhnya, dengan susah payah mengangkatnya, bobot tubuhnya memang bertambah pesat akhir-akhir ini, tapi masih terlihat cantik dengan fisiknya yang sediki lebih berisi dan perut yang membuncit. Aku meletakkan tubuhnya di tempat tidur. Dia tidak terbangun saat aku meletakkan tubuhnya dengan hati-hati mengingat seseorang paling berhaga dalam dirinya yang perlu penjagaan ekstra.

Aku melepaskan dasi dan semua peralatan yang melekat ditubuhku. Setelah mandi dan berganti pakaian, aku berbaring disampingnya. Kembali memperhatikan wajahnya, menelusurinya dengan mataku, setiap sudut wajahnya semakin mempesona setiap hari. Apa anakku perempuan hingga dia terlihat sangat cantik saat hamil? Meski memang dia tidak pernah menggunakan make-up, tapi aku merasa dia terlihat semakin cantik setiap hari, tentu saja dengan caranya sendiri. Dia membuka matanya.

“Oppa, aku mau jus pisang.” Dia berkata pelan sedikit serak dan masih mengerjapkan matanya saat mengucapkan permintaannya.

“Akan aku buatkan.” Jawabku. Aku ingin sesekali memanjakannya seperti yang Sungmin lakukan tadi, membuatkannya nasi goreng kimchi? Dia memperhatikanku membuatkannya minuman, ada rasa bangga tersendiri saat membuatnya tersenyum meminum minuman buatanku. Mungkin ini yang dirasakan Sungmin yang tidak pernah aku rasakan.

***

Seminggu pula telah berlalu, tapi masih tidak ada kemajuan dari Eunjung dia masih tidak membuka mulutnya untuk memberikan keterangan. Aku mulai gerah dan sedikit tertekan mengingat beberapa hari lagi Eun Kyo akan melahirkan, kapan aku bisa tenang? Setiap hari aku ke apartemen menjenguk keadaan Eunjung.

“Dia masih tidak mau bicara. Hanya mengurung dirinya dikamar.” Jelas Eunjung tentang keadaannya.

“Tidak ada informasi sama sekali?” Chaerin menggeleng.

“Kau mau makan? Aku membuat sesuatu tadi, semoga kau suka.” Ajaknya sambil menarikku ke ruang makan. Aku ingin menawari Eunjung tapi tidak sempat karena Chaerin sudah menarikku ke dapur, Eunjung hanya menatapku dengan tatapan kosong.

“Bagaimana? Enak?” tanyanya.

“Enak sekali.” Jawabku singkat. Masakannya memang sangat enak, dia memang pintar, selain itu dia juga sangat cerdas. Sudah berapa kali aku memujinya?

“Bagaimana dengan masakan istrimu? Lebih enak mana?” aku menghentikan makanku.

“Eh? Masakan Eun Kyo?” tanyaku bingung, masakan Eun Kyo memang sedikit aneh, tapi aku menyukainya, entah kenapa aku menyukainya.

“Dia tidak terlalu pintar memasak.” Jawabku.

“Begitu? Bagaimana jika kau makan setiap siang disini? Aku bersedia jadi kokimu setiap makan siang.” Tawarnya. Eh? Maksudnya?

“Ehem.” Suara deheman mengagetkanku.

“Aku mau minum.” Aku menoleh kearah suara. Eunjung. Dia terlihat acuh dan begitu juga dengan Chaerin.

“Maaf mengganggu kalian.” Ucapnya sambil berlalu dari dapur.

“Jangan pedulikan dia, dia memang seperti itu, susah sekali mendekati anak itu.” Aku menoleh pada Chaerin dan melanjutkan makanku. Chaerin memang aneh akhir-akhir ini, sering mengajakku makan malam dirumahnya dan selalu memintaku untuk menemaninya, namun aku menyyuruh Hyukjae untuk menemuinya, bukannya terlalu percaya diri, hanya saja aku takut terjadi kesalahpahaman lagi seperti dulu yang hampir membuatku kehilangan Eun Kyo, aku tidak ingin terulang. Selesai makan aku menghampiri Eunjung.

“Eunjung~a, kau bisa mengatakan sesuatu pada kami, tolong bantu kami meringkus penjahat itu, aku tau kau mengetahuinya, aku mohon jangan mempersulit kami.” Gadis itu tidak menjawab seperti orang bisu dia tidak bergeming sama sekali dengan pertanyaanku.

“Benar kan? Anak ini susah sekali diajak bekerjasama.” Sahut Chaerin.

“Eunjung~a.. dengarkan aku.”

“Dia tidak bisa diajak kerjasama, dia sepertinya menginginkan kekerasan kali ini.” Sepertinya Chaerin ssangat kesal dengan anak ini.

“Biarkan dulu dia.” Aku menenangkan emosi Chaerin.

“Hyung, aku menemukan istrimu sedang berjalan kaki membeli ice cream. Aku membawanya kesini.” Tiba-tiba Hyukjae dan Eun Kyo muncul dihadapanku.

“Oppa..” sapa Eun Kyo, dia terlihat bingung melihat kami.

“Ne? Kenapa berjalan sendiri?” tanyaku sedikit tidak terima dia selalu melakukan hal apapun sendiri, aku seperti tidak berguna baginya, atau kalau tidak dia meminta Sungmin untuk menemeninya.

“Nugu~ya?” tanyanya memandang Eunjung.

“Oh, ini kenalkan, dia Eunjung, saksi yang aku jemput dari Busan.”

“Oh, annyeong Eunjung~a…” sapa Eun Kyo, Eunjung menoleh, eh? Bukankah Eunjung tidak pernah memperduliakn orang lain? Dia menarik kedua sudut bibir kiri dan kanannya membentuk sebuah senyuman meski tidak terlalu terlihat. Sebuah kemajuan.

“Eunjung~a, jika kau terus seperti ini, kau menyulitkanku.” Chaerin angkat bicara dengan amarah karena Eunjung tak kunjung bicara.

“Oppa, kenapa tidak membawanya kerumah kita saja? Biar kau lebih leluasa mengintrogasinya?” tanya Eun Kyo. Park Eun Kyo, aku menghindari itu mengapa kau menawarkannya padaku?

“Tidak usah, biar dia disini saja.” Chaerin bersikeras juga menahan Eunjung.

“Oppa, biar ditempat kita saja.” Eun Kyo tak mau kalah, aku terkadang tidak mengerti dengan jalan pikiran wanita.

“Eun Kyo~ssi, dia dalam perlindungan kami, kau tidak berhak ikut campur.”

“Aku hanya menawarinya, seperti yang dilakukan Oppa dulu.” Eun Kyo membela diri. Dan kedua wanita ini seringkali berdebat jika bertemu, aku sangat heran.

“Tapi kau tidak berhak ikut campur!” seru Chaerin dengan sikap tegasnya. Eun Kyo memandangku meminta pembelaan, tapi aku tidak ingin kejadian waktu lalu terulang, mianhae Yeobo~ya, Eunjung memang lebih baik disini.

“Aku tidak ingin disini.” Eunjung angkat bicara. Kami semua menoleh padanya. Apa-apaan ini? Dia berbicara? Akhirnya aku memutuskan untuk membawa Eunjung pulang kerumahku.

***

Sudah beberapa hari Eunjung dirumahku, tidak juga memberikan keterangan. Chaerin juga sering datang kerumah untuk kepentingan penyelidikan. Hal itu membuat Eun Kyo sedikit berubah. Dia sedikit lebih dingin padaku. Entah ini karena kecemasannya tentang persalinan atau karena cemburu yang seperti biasa dipendamnya sendiri.

Eun Kyo’s POV

Saat aku melihat gadis itu, aku tertarik padanya. Oppa tidak membawanya ke rumah seperti yang dulu dia lakukan. Mungkin menghindari hal yang dulu pernah terjadi terulang kembali. Tapi entah kenapa aku menyukai gadis itu. Jika Oppa bekerja setidaknya ada yang menemaniku. Sudah beberapa hari dia disini. Sikapnya sangat dingin, dia hanya keluar kamar saat dipanggil, dan aku sering memintanya menemaniku memasak ataupun menonton TV, tak jarang kami tertidur saat menunggu Teuki Oppa pulang. Seperti malam ini, dia menemaniku menonton TV tanpa berkata apapun, tetapi hari ini ada kemajuan, dia tersenyum saat kami menonton film komedi. Anak yang sangat manis.

“Kau suka?” tanyaku basa-basi. Dia menoleh padaku, senyum yang tadi menghiasi wajahnya, kini memudar. Dia kembali diam, aku juga tidak berani mengusiknya.

“Aku sering menonton film dengan Appaku.” Oh! Ini kalimat kedua yang pernah aku dengar dari mulutnya.

“Hem? Appamu? Aku juga suka menonton film bersama Appa, tapi kami lebih senang menghabiskan waktu bersama dengan makan-makan.” Aku jadi teringat Appa saat dia menyebut kata itu.

“Sepertinya menyenangkan.” Jawabnya dingin, ada sebuah kegetiran yang tersirat dari kalimat itu.

“Sangat menyenangkan, tapi sekarang aku tidak bisa bersamanya lagi.” Sahutku pelan.

“Memang sangat berbeda saat kita berpisah dengan orang yang kita cintai.” Lanjutnya. Aku menoleh padanya.

“Kau juga tidak mempunyai Appa?” tanyaku.

“Dia meninggal sekitar setengah bulan yang lalu.” Sahutnya.

“Ah, kalau begitu mianhae, aku turut berduka cita.” Ucapku sambil memegang tangannya. Aku mengerti rasa kehilangan itu, sangat mengerti. Begitu paham dengan kerinduan itu.

“Aku yang membuatnya meninggal.” Lanjutnya, aku terpaku dengan ucapannya. Apa maksudnya? Saat aku masih bingung dengan ucapannya, tiba-tiba bel berbunyi menarikku dari lamunan dan keterkejutan.

“Oppa sudah pulang aku rasa.” Aku berdiri dan ingin melangkah membukakannya pintu.

“Onnie, aku saja, kau duduk saja.” Dia langsung mendahuluiku membukakan pintu, dan benar Teuki Oppa dan Chaerin yang datang. Hufh, sampai kapan wanita ini akan kesini? Aku tidak suka auranya. Aneh, mengapa aku merasa dia seperti mendekati Teuki Oppa? Hufh, akankah terulang lagi seperti yang kemarin? Semoga tidak.

“Eunjung~a? Mana Eun Kyo?” tanya Teuki Oppa, aku menoleh kearah pintu. Eunjung tidak menjawab apa-apa, hanya menjawab dengan isyarat mata yang tertuju padaku, lalu dia menjauh dari mereka berdua. Tangan Chaerin menarik tangan Eunjung, melarangnya untuk pergi.

“Eunjung~a, aku kesini untuk menemuimu dan bertanya beberapa hal padamu.” Ujar Chaerin. Eunjung mencoba melepaskan tangan Chaerin tapi  ditahan oleh wanita itu.
“Eunjung~a! Aku tau kau mengetahui semuanya, dan cepat katakan pada kami! Apa yang sebenarnya terjadi saat itu?! Mengapa kami tidak bisa menemukan jejak sedikitpun?” tanya Chaerin tidak sabar. Eunjung masih berusaha melepaskan tangan Chaerin yang berubah mencengkram lengannya. Aku menghampiri mereka, mengapa Teuki Oppa diam saja?

“Eunjung~a, saatnya kau istirahat.” Aku melepaskan cengkraman Chaerin dengan paksa dan menarik Eunjung menjauh dari mereka.

“Apa kalian lupa ini sudah jam berapa?! Sudah hampir jam 12! Dan kalian berdua masih ingin memaksanya dan tidak membiarkannya istirahat? Itu pelanggaran!” aku membawa Eunjng kedalam, anak itu hanya diam dalam gandenganku.

“Kau mau menginap disini Chaerin~ssi?” tanyaku menoleh dan menatapnya tajam.

“Ne, dia akan menginap disini, besok aku dan dia ada rapat pagi-pagi sekali.” Oppa yang menjawab, bagus sekali, mereka sangat cocok!

“Chaerin akan tidur bersama Eunjung.” Lanjut Oppa.

“Aku tidur disofa saja.” Jawab Eunjung, aku menatap anak itu.

“Aku saja yang tidur disofa, kau mau tidur bersama Eun Kyo kan?” Eunjung mengangguk.

“Baiklah, kau tidur dikamarku.” Aku menarik Eunjung kekamar dan Chaerin segera masuk ke dalam kamar.

Aku berbaring disamping Eunjung. Dia memeluk guling tanpa bergerak, menatap langit-langit. Aku menghadap kepadanya.

“Ada yang kau pikirkan?” tanyaku. Dia menggeleng. Aku heran, anak ini seperti menyimpan sesuatu yang sangat tidak ingin diketahui seseorang. Entah apa itu aku juga tidak tau.

“Kalau begitu kau tidur saja.” Aku menarik selimut dan mulai memejamkan mata. Setelah mencoba beberapa lama untuk tidur, aku tidak bisa, aku tak kunjung terlelap. Untuk membuatku mengantuk aku ingin membuat jus pisang lagi. Membuka pintu kamar dan menuju dapur. Langkahku terhenti saat melihat sofa yang ada di ruang tengah. Chaerin dan Teuki Oppa sedang duduk disana. Mereka terlihat serius, mungkin mengerjakan laporan. Aku masih tidak bisa melangkahkan kakiku, seolah terpaku dilantai dan tidak bisa bergerak. Bagaimana wanita itu memperlakukan suamiku, membuatku meradang. Dia menatap Teuki Oppa sesekali dan tersenyum, mencoba selalu berdekatan dengannya. Ck! Tidak mungkin aku cemburu, mereka hanya partner kerja.

“Apa Eun Kyo sering bersikap dingin padamu?” tanya Chaerin, pertanyaannya membuatku terkesiap. Apa maksudnya menanyakan sikapku terhadap Oppa?

“Ani, dia biasanya sangat perhatian.” Jawab Teuki Oppa tanpa melihat Chaerin.

“Dia pintar memasak sepertiku?” tanyanya lagi. Apa maksudnya?

“Masakannya paling aku suka.” Jawab Teuki Oppa lagi.

“Begitu?” nada bicara Chaerin terdengar kecewa.

“Kau mencintainya?” tanyanya lagi. Teuki Oppa hanya diam, dia serius dengan pekerjaannya.

“Aku sepertinya menyukaimu.” Lanjut Chaerin tanpa malu. Terulang lagi, kejadian seperti waktu itu terulang lagi, kali ini bukan dengan seorang saksi tapi dengan seorang partner kerjanya. Aku mencoba melangkah dengan berat, karena aku membawa beban berat mungkin langkahku terdengar oleh mereka, Chaerin yang tadinya duduk merapat pada Teuki Oppa, kini Teuki Oppa bergeser sedikit darinya. Terlihat kaget Teuki Oppa melihatku, tapi wajah wanita itu? Wajah wanita itu biasa saja, seolah mendekati suami orang lain itu hal wajar baginya.

“Aku ingin minum, maaf mengganggu kalian.” Ujarku sambil berlalu menuju dapur.

“Kau mau minum apa?” tanya Teuki Oppa menghampiriku.

“Kau bekerja saja, sepertinya bekerjasama dan menjadi partnernya menyenangkan sekali.”

“Kyo~ya, apa maksudmu?” tanya Teuki Oppa bingung.

“Tanyakan saja pada dirimu sendiri, minggir.” Aku mendorong tubuhnya.

“Kau cemburu?” tanyanya lagi.

“Ani, aku tidak cemburu, tapi aku marah!” jawabku jujur. Dia menarik tanganku, aku berusaha melepaskannya namun dia tetap menahanku.

“Oppa, sakit.” Aku melepaskan jari-jarinya satu persatu, tapi saat aku melepaskan satu jari, jari yang lain meraih tanganku lagi, kudiamkan dia yang mencengkram tanganku.

“Aku rindu dengan kata ‘Oppa, aku akan melakukannya setelah menikah’.” Dia berbisik di telingaku hingga membuatku sedikit bergidik. Deru nafasnya menggelitik kulitku. Dia semakin mendekatkan tubuhnya menempeliku, memelukku dari belakang karena dari depan sangat tidak mungkin, perutku yang besar menghalanginya.

“Kau tau? Aku mungkin saja menyukai orang lain, dan itu wajar menyukai wanita cantik, aku kan juga lelaki, sayang. Tapi yang membuatku jatuh cinta dan kehabisan kata-kata saat merindukan seseorang, hanya kau Nyonya Park.” Dia mencium tulang selangkaku. Aku tau dia sangat suka mencium leherku. Itupun akhirnya membuat leherku adalah area yang paling suka disentuh.

“Tidak usah merayu, tidak akan mempan.” Aku melepaskan tangannya dari perutku.

“Aku tidak merayu, aku berkata jujur.” Jawabnya tidak berusaha untuk mengejarku yang kini sudah menuju kamarku.

Aku melewati Chaerin yang duduk di sofa, dia menatapku dengan tatapan meremehkan. Aku tidak peduli dan tetap masuk ke kamarku.

“Kau sudah tidur?” aku bertanya pada Eunjung, dia membuaka matanya.

“Aku membawakan jus pisang, mau?” tanyaku lagi, dia menyambut gelas yang aku suguhkan padanya.

“Setelah ini kita tidur.” Aku merebahkan tubuhku di sampingnya. Mencoba kembali memejamkan mata, tapi ucapan dan tingkah laku Chaerin terbayang dalam benakku. Aku tidak bisa tidur akhirnya.

“Onnie, kau tidak cemburu?” tanya Eunjung seperti biasa, hari ini dia banyak bicara denganku.

“Hem?”

“Dia selalu mendekati suamimu.”

“Eh? Maksudmu?” tanyaku bingung. “Tidur saja.” Aku mengusap kepalanya. Dia benar, aku memang cemburu.

Teuki’s POV

Seperti biasa, setiap sore kami selalu mencoba mengintrogasi Eunjung, mengorek informasi darinya, dan hasilnya selalu sama, dia selalu diam dan menjawab aku sudah lupa. Apa maksudnnya dengan lupa? Tidak mungkin dia melupakan tragedi itu, yang menghabiskan uang milyaran Won, tidak mungkin dia lupa dengan peristiwa yang sempat mengguncang perekonomian Korea karena itu adalah salah satu Bank berpengaruh di Korea.

“Eunjung~a! Kau! Jika kau terus bersikap seperti ini! Kau akan aku tuntut! Menyulitkan penyidikan!” ancam Chaerin tidak sabar. Aku menangkapnya karena melihat Chaerin begitu emosi menghadapi dinginnya sikap Eunjung. Eun Kyo juga menjauhkan Eunjung dari kami.

“Aku sudah sangat tidak sabar dengan sikap kekanak-kanakannya!” aku masih memegangi Chaerin. Nafasnya menderu menahan gelegak emosi yang memuncak. Aku bisa merasakannya.

Sikap Eunjung memang terlihat sangat dingin dan sangat tidak bekerjasama, membuat penyelidikan kami menjadi terhambat dan semakin membuatku pusing dengan sikpa ketiga gadis ini. Eunjung dengan sikap dinginnya, Eun Kyo dengan sikapnya acuhnya padaku dan Chaerin dengan emosinya. Hufh, aku yang terjebak.

“Bukankah dia sangat menyusahkan?” tanya Chaerin.

“Hem, tapi hanya dia saksi kunci kita.” Jawabku.

“Oppa..” sahut Chaerin, sejak kapan dia memanggilku Oppa? Tak berapa lama Hyukjae datang.

“Bagaimana?” tanyanya. Aku mengangkat bahu.

“Lalu apa yang harus kita lakukan? Tidak ada titik terang dari kasus ini. Semua keterangan tidak ada yang mengarah pada pelaku, karena yang melakukan bertopeng dan benar-benar licin, mengenai mayat itu, juga tidak ada titik terang.” Terang Hyukjae.

“Sepertinya lebih rumit dari kasus sebelumnya padahal terlihat lebih mudah.” Jawabku.

“Sepertinya.” Jawabku dalam kebingungan. Aku, Hyukjae dan Chaerin duduk bertiga di ruang tengah sambil memikirkan masalah ini, bergelut dengan pikiran masing-masing.

Suara bel mengejutkan kami. Aku segera berlari ke depan dan membuka pintu, seorang lelaki berdiri di hadapanku dengan senyum cerianya. Lee Sungmin, dengan beberapa kantong plastik di tangannya, aku terpaku melihatnya, pasti Eun Kyo yang menyuruhnya kesini. Belum keluar dari keterpakuanku, tiba-tiba sebuah suara kembali mengejutkanku.

“Oppa, kau sudah datang, ayo masuk.” Aku menoleh sumber suara, Eun Kyo menarik tangan Sungmin, sekilas Sungmin menatapku setelah kemudian dia melangkah mengikuti Eun Kyo. Aku juga mengikuti mereka di belakang. Memperhatikan gerak mereka menuju dapur. Sepertinya Eun Kyo lebih senang di dekat Sungmin daripada denganku

“Hyung?” Hyukjae mengerutkan dahi menatapku, aku juga bingung. Aku mengerti maksud Hyukjae, mengapa Sungmin terlalu dekat dengan Eun Kyo.

“Sepertinya mereka lebih mesra.” Ledek Hyukjae. Aku hanya terdiam. Hyukjae dan Chaerin membicarakan langkah selanjutnya namun aku tidak mendengarkan rencana mereka. Mataku sibuk mengawasi Eun Kyo dan Sungmin di dapur, Eunjung duduk memperhatikan mereka, terkadang ikut tersenym melihat tingkah Eun Kyo yang terkadang memang kekanak-kanakan. Telingaku sibuk mendengarkan pembicaraan mereka yang penuh dengan gelak tawa, terkadang Eun Kyo memprotes Sungmin yang terlalu banyak memasukkan bumbu, padahal dia sendiri tidak bisa memasak. Pasti sedang memasak nasi goreng kesukaannya lagi. ‘Nasi goreng buatan Sungmin Oppa masih yang terbaik di dunia’, masih ingat perkataan Eun Kyo tentang itu. Mengapa dia tidak menikah dengan Sungmin saja kalau begitu? Eoh? Mengapa repot-repot menikah denganku?

“Bagaimana Hyung? Kau setuju?” tanya Hyukjae sambil menepuk lenganku.

“Eh?” tanyaku seperti orang linglung, tapi mataku tetap terpaku pada sososk yang sangat aku cintai diseberang kaca yang memisahkan ruangan tengah dan dapur. Mata mereka berdua akhirnya menatapa apa yang aku tatap. Kami terdiam memperhatikan Eun Kyo.

“Oppa, menurutmu, apa kasus ini rumit?” tanya Eun Kyo pada Sungmin, kami terlebih lagi aku konsentrasi pada apa yang mereka bicarakan, aku penasaran apa yang sebenarnya yang membuat Eun Kyo nyaman disamping Sungmin.

“Eeemmm, menurutku iya, tapi bisa juga tidak.” Jawab Sungmin sambil tersenyum, senyum itu yang membuatku iri, siapa saja yang dekat dengannya aku rasa akan merasa nyaman.

“Kata Teuki Oppa, Eunjung adalah saksi kuncinya.” Ucap Eun Kyo sedikit berbisik, namun aku masih mendengar, aku rasa Eunjung juga pasti mendengarnya. Sungmin menatap Eunjung, yang ditatap malah tidak peduli.

“Oppa, bisa bantu aku memecahkan masalah ini?” tanya Eun Kyo dengan mata penuh harap pada Sungmin. Sungmin balas menatapnya, ingin rasanya aku mencongkel matanya yang memperhatikan istriku penuh perhatian seperti itu.

“Tapi ini bukan kuasaku mencampuri urusan mereka.” Jawab Sungmin. Eun Kyo masih menatapnya penuh harap.

“Oppa..” sikap manjanya yang kini mulai memudar beberapa hari ini dia berikan pada Sungmin.

“Aku tidak suka kau memandangku seperti itu.” Jawab Sungmin, benar-benar membuatku muak! En Kyo masih menatap Sungmin tidak berkedip.

“Arasseo, aku mengerti kau ingin kasus ini cepat selesai dan Teuki Hyung bisa menemanimu selama persalinan yang sebentar lagi kan? Tidak ada Teuki Hyung kan masih ada aku?” goda Sungmin. Aku meremas bantal yang ada di sofa.

“Yak! Aku tidak mau denganmu! Aku maunya Teuki Oppa.” Sahut Eun Kyo sambil cemberut. Sungmin meneruskan memasaknya. Aku merasa lega mendengar jawaban Eun Kyo, aku tau dia mencintaiku.

“Oppa!” seru Eun Kyo karena Sungmin tidak menghiraukannya.

“Kau mau nasi ini gosong bukan nasi goreng?” tanya Sungmin mengaduk nasi.

“Aku hanya ingin meminta bantuan padamu.” Sahut Eun Kyo pelan, sambil menunduk.”Jika tidak denganmu, lalu siapa lagi?” lanjutnya. Aku terus memperhatikan mereka, tanpa aku sadar, aku juga diperhatikan Hyukjae dan Chaerin.

“Hyung, sepertinya kau kalah step.” Ledek Hyukjae lagi. Aku menatapnya tajam, tak mampu berkata apa-apa karena apa yang dikatakan Hyukjae benar adanya.

“Jangan menatapku seperti itu.” Kembali suara Sungmin terdengar di telingaku. Apa mereka tidak sadar aku dan semuanya memperhatikan mereka?

“Kau membuatku tidak punya pilihan Eun Kyo~ya, aku tidak bisa mengatakan ‘tidak’ padamu.” Jawab Sungmin lagi.

“Gomawo Oppa.” Eun Kyo memeluk Sungmin. Kembali tubuhku meradang.

“Mulai darimana?” tanya Sungmin.

“Bisa kau carikan sesuatu yang berhubungan dengan perampokan itu di internet?” Sungmin mengangguk dan menyiapkan makan untuk mereka bertiga, bahkan mereka tidak menawari kami. Mereka mulai memakan makanan yang dihidangkan Sungmin.

“Eunjung~a.. kau bisa membantu kami?” tanya Sungmin dengan suara lembutnya. Eunjung menatap Sungmin, tapi tetap tidak menjawab.

“Kau tau sendiri, kasus ini membuat orang semakin sulit, kau tidak kasian denganku?” Eun Kyo menambahkan.

“Baiklah, kau mungkin tidak kasian padaku, tapi aku mohon, kau seperti ini aku jadi prihatin, kau harusnya bermain bersama anak sebayamu, bukan terkurung disini, bukan aku tidak menyukaimu, tapi apa kau tidak ingin bebas? Aku merasa kau seperti terkurung dalam sebuah ketakutan, benar seperti itu?” tanya Eun Kyo sambil menatap Eunjung, kali ini aku merasa Eunjung ada kemajuan, dia menatap Eun Kyo saat berbicara, aku jadi penasaran, apa yang selanjutnya istriku lakukan untuk membuka mulut Eunjung?

“Baiklah, kalau kau tidak mau bercerita sekarang, aku bisa memakluminya. Tapi asal kau tau, kami, aku, Sungmin Oppa, Teuki Oppa, Hyukjae, dan Chaerin ada untuk membantumu, apa kau tidak rindu dengan masa remajamu? He?” tanya Eun Kyo sambil masih menatap mata Eunjung.

“Eunjung~a… ini semua tentangmu, bukan tentang masalah perampokan yang memusingkan itu, yang mungkin membuatmu syok, tapi ini tentang hidupmu sendiri. Apa kau merasa tidak aman hingga kau tidak mau mengucapkan dan memberikan pernyataan apapun?” tanya Sungmin menambahkan. Aku seperti melihat dua orang tua yang membujuk anaknya, itu sedikit membuatku emosi namun juga penasaran. Sudah segala cara kami lakukan, introgasi dan semacamnya, apa dua orang sahabat itu mampu melakukannya?

“Eunjung~a..” Eun Kyo menyentuh tangan Eunjung.

“Kami ada disini untukmu, apa yang mereka lakukan padamu? He? Kau diancam hingga pindah ke Busan?” tebak Eun Kyo, istriku yang lugu ini kadang memang memakai perasaannya melakukan sesuatu.

“Oke, baiklah, mereka mungkin memegang kartu As, mereka maksudku orang yang aku duga mengancammu. Tapi kau harus yakin menang, kami akan membantumu. Ibarat dalam sebuah permainan, saat mereka mengeluarkan kartu As mereka, kami juga akan mengeluarkan kartu As kami untuk membantumu menang, tapi kita harus bekerjasama, ne?” tanya Eun Kyo, Eunjung masih terdiam. Eun Kyo terlihat putus asa.

“Baiklah jika kau tidak mau dibantu, aku tidak bisa memaksamu.” Jawab Eun Kyo putus asa. Dia beranjak dari kursi dengan gontai.

“Mereka membunuh Appa, mereka mengancamku.” Pernyataan Eunjung membuat kami semua terpaku. Akhirnya Eunjung angkat bicara. Aku, Chaerin dan Hyukjae saling berpandangan, Chaerin langsung berdiri, namun Hyukjae menahannya.

“Biarkan mereka yang bekerja.” Jawab Hyukjae. Tapi kembali Eunjung terdiam, Eun Kyo dan Sungmimn juga tak kalah terkejut mendengarnya.

“Mereka melakukannya.” Jawab Eunjung sambil menatapku kosong. Eun Kyo memeluknya.

“Siapa yang melakukannya?” teriak Chaerin tidak sabar, mata ketiga orang itu tertuju pada kami.

Eun Kyo’s POV

Aku terkejut mendengar apa yang dikatakan Eunjung. Appanya meninggal karena dibunuh? Dan sekarang itu mengingatkanku pada Appa. Aku memeluk tubuhnya yang tidak menangis sama sekali, malahan airmataku yang turun menetes dari pelupuk mata. Aku bisa merasakan kepedihan anak ini, bohong jika dia mengatakan sekarang dia baik-baik saja. Dia pasti sangat ketakutan. Aku tidak tau harus berbuat apa padanya. Memeluknya adalah hal yang pertama aku lakukan meskipun itu susah untukku.

“Mereka melakukannya.” Ucapnya dingin.

“Siapa yang melakukannya?” teriak Chaerin dari luar. Eh? Mereka mendengarkannya? Chaerin segera menuju ke ruang makan dan menghentakkan tangannya di meja makan.

“Siapa yang melakukannya?! Kau harus mengatakannya padaku!” teriak Chaerin.

“Diam kau Chaerin~a..” aku tidak suka dia meneriaki Eunjung.

“Kau yang diam! Kau bukan siapa-siapa, dan jangan ikut campur urusan kami!” Chaerin juga meneriakiku, aku tau mereka mungkin merasa stres dengan kasus ini, mungkin dengan sikap Eunjung, tapi tidak begini juga reaksinya.

“Eun Kyo~ssi, sebaiknya kau istirahat, biarkan Eunjung aku yang mengurus.” Ujar Chaerin lagi. Ini keterlaluan, benar-benar keterlaluan. Dan Teuki Oppa tidak berkata apa-apa.

“Ini rumahku, kau yang jangan ikut campur disini!” aku benar-benar tidak sabar dengan sikap Chaerin, seolah-olah menganggapku sebagai parasit disini.

“Yeobo~ya, sebaiknya kau istirahat saja, ne?” Teuki Oppa merangkulku dan ingin membawaku ke kamar. Aku menggidikkan bahuku dengan keras melepaskan rangkulannya.

“Aku tidak mau, kalian yang keluar dari sini! Kau, kau dan kau! Keluar dari sini! Dan kau Lee Chaerin! Jika merasa kau tersaingi atau merasa lebih hebat dariku silakan coba kau ungkap sendiri kasusnya! Janga bawa-bawa suamiku! Dan jika kau menyukai Teuki Oppa, silakan saja kalian pergi dari sini!” teriakku tidak sabar.

“Eun Kyo~ya, kumohon tenanglah.” Teuki Oppa mencoba menenangkanku lagi.

“Aku tidak suka jika dia sok berkuasa disini!” teriakku pada Teuki Oppa.

“Kau yang diam! Harusnya kau memperhatikan bayimu dan sekarang kau harus istirahat.” Teuki Oppa menarik tanganku.

“Lepaskan aku!”

“Tidak bisa kau harus istirahat!” dia tidak memperdulikanku dan terus menarikku. Aku merasakan kontraksi pada perutku.

“Oppa, lepaskan, sakit.” Aku meringis. Dia tidak memperdulikanku dan terus membawaku ke kamar. Sesuatu kurasakan mengalir basah di organ intimku, diiringi rasa sakit karena kontraksi. Aku meringis duduk di tepi ranjang. Melihatku meringis dan memegangi perutku muka Teuki Oppa berubah panik.

“Gwaencana?” mukanya terlihat pias melihatku kesakitan. Dia ingin menyentuh perutku, tapi aku mengibas tangannya.

“Urusi wanitamu itu.” Jawabku sinis. Rembesan cairan kental merah menodai selimut yang aku duduki. Rasa diperutku mulai  berkontraksi namun berangsur pulih ketika aku mengatur nafasku.

”Kita ke dokter saja.” Ajaknya.

“Aku tidak mau, kalian pergi dari sini, aku muak sampai ke ubun-ubun melihatnya!”

“Melihat siapa?”

“Melihatmu dan wanita itu setiap hari aku tidak suka!” aku tidak bisa membendung airmataku lagi membasahi pipiku.

“Mianhae, aku selama ini mengacuhkanmu.” Aku berhenti menangis seketika, dan aku benar kesal sekarang, aku berniat menolong mereka, tapi begini balasannya?

“Pergi kau Park Jung Soo, aku tidak ingin melihatmu.” Dia membeku memelukku.

“Eun Kyo~ya, tolong jangan seperti ini…” dia berkata lembut padaku.

“Aku tidak ingin melihatmu. Aku tidak ingin melihatmu.” Aku mengulangi kata itu berkali-kali. Mendorong tubuhnya dan beranjak ke kamar mandi. Membersihkan diriku.

Aku keluar dan masih menemukan Teuki Oppa mematung di tepi tempat tidur. Aku tidak menghiraukannya dan keluar dari kamar, orang-orang disana juga terpaku melihatku. Aku menatap mereka satu-persatu. Sungmin Oppa, Hyukjae dan Chaerin serta Eunjung.

“Jika kalian bertiga tidak mau keluar, aku yang akan keluar.” Aku kembali ke kamar dan meraih tas, dan memasukkan bajuku, tangan Oppa menahanku.

“Tolong jangan lakukan ini.”

“Aku sudah mulai lelah.”

“Kau mengusirku?”

“Jika kau menganggapnya begitu mungkin benar seperti itu.” Jawabku.

“Jika kau melakukannya aku akan benar-benar pergi dan kau akan kehilanganku.” He? Dia mengancamku? Itu sebuah ancaman halus?

“Aku sudah sejak lama kehilanganmu Oppa.”

“Kau hanya cemburu, ayolah, kau pasti bisa mengatasi perasaanmu, aku tau itu.”

“Tolong pergi dan biarkan aku tenang.” Aku menatapnya penuh harap. Sebenarnya aku tidak ingin dia pergi, tapi benar-benar tidak ingin naik amarah lagi melihatnya.

“Kau hanya cemburu.” Di memelukku, menangis.

“Dia menyukaimu.”

“Tapi aku mencintaimu.”

“Dia lebih baik dariku, kau bisa seharian bersamanya, jika denganku, aku hanya merepotkanmu.” Dia semakin mengeratkan pelukannya.

“Kau tidak pernah merepotkanku, aku yang selalu membuatmu kecewa.”

“Lepaskan aku.”

“Tidak mau, aku tidak akan melepaskanmu.”

“Lepaskan aku.”

“Sampai kapanpun akan selalu bersamaku.”

“Lepaskan aku.”

“Aku tidak bisa tanpamu.”

“Lepaskan aku.”

“Tidak mau.” Tetesan airmatanya  menetes pundakku, membasahi bajuku.

“Sakit Oppa.” Dia melepaskan pelukannya dan kembali panik.

“Sakit? Apanya yang sakit? Kau istirahat, ne?” aku benar-benar tidak bisa menolak karena ini memang benar sakit. Dia membelai rambutku. Mengecup dahiku dan aku mulai terlelap.

Paginya aku bangun dengan kepala yang pusing dan benar-benar sakit, mungkin aku terlalu mengikuti amarah kemarin hingga membuatku merasa sedikit pusing. Aku membuka mataku perlahan.

“Kau sudah bangun?” aku melihat muka Oppa saat aku membuka mataku. Aku membalikkan badanku dan memunggunginya.

“Kau mau minum sesuatu?” tanyanya. Aku menggeleng.

“Aku hanya ingin mereka keluar dari sini.” Aku menghela nafas.

“Terutama wanita itu.”

“Yeobo…”

“Kau mau membelanya lagi? Oke, dia memang cantik dan pintar, aku tid!” dia membalik tubuhku dan mencium bibirku untuk menghentikan semua ucapanku. Melumatnya kasar dan menaiki tubuhku. Menopang tubuhnya dengan tangannya agar tidak menimpa perutku. Aku terdesak dan tidak bisa bernafas, memukulnya, namun dia tidak juga menghentikan ciumannya, aku mengalah akhirnya dan membiarkannya menciumku. Setelah dia puas dan aku dirasanya sudah bisa diatasinya baru dia melepaskan ciumannya.

“Tidak ada yang bisa membuatku jatuh cinta lagi selain dirimu, terserah kau percaya atau tidak, dan aku akan mundur dari kasus ini jika itu bisa membuatmu bahagia.” Aku terdiam dengan perkataannya, baru pertama kali dia menomorsatukanku dari pekerjaannya.

“Aku akan menyuruh mereka untuk pulang.” Dia mengecup dahiku lagi sebelum keluar dari kamar.

***

Hari pertama Teuki Oppa benar-benar bersamaku. Aku sangat senang, berbelanja ke pasar dan ingin memasakkannya sesuatu. Aku begitu bahagia dia bersamaku. Aku mulai memotong dan mengiris sayuran dan yang lainnya.

“Hyung aku menemukan perkembangan kasusmu.” Sungmin Oppa tiba-tiba datang dan mengejutkan kami.

“Ini bukti-bukti bahwa kematian Ayah Eunjung bukan karena komplikasi penyakitnya. Dia diracuni dan disiksa. Para dokter yang menangani itu aku rasa telah disuap.” Jelas Sungmin Oppa pada Teuki Oppa. Aku langsung menuju kamar Eunjung dan mendapatinya sedang duduk di jendela.

“Eunjung~a.. kau sedang apa?” sapaku padanya, dia hanya menoleh.

“Eunjung~a.. aku turut berduka dengan kematian Appamu, tapi apa kau tidak merasa ini sangat tidak adil? Aku harap kau bisa mengatakan dan bersaksi sesuatu agar bisa menghukum pelakunya itu.” Aku mengelus kepalanya dia tidak menjawab seperti biasanya.

“Kau tau? Appaku juga meninggal dengan tidak wajar, aku mengetahuinya setelah 7 tahun. Kau tau? Batapa sakitnya rasa itu? Aku seperti orang bodoh mengira itu adalah serangan jantung. Appa saat itu sedang mencoba mengungkap kasus besar yang ternyata melibatkan para pejabat negara. Tapi beliau tidak sempat menuntaskan kasus itu. Teuki Oppa yang menuntaskannya, dan aku yang mencari buktinya.” Eunjung menoleh padaku, tatapannya seperti tidak percaya, aku balas menatapnya.

“Aku memberanikan diri masuk dalam sindikat prostitusi dengan  modal nekat, tapi aku yakin aku bisa. Dan memang benar bisa.” Aku tersenyum padanya.

“Kau jangan takut, ketakutanmu akan mengurungmu dan semakin membuat para pembunuh Appamu tertawa bahagia karena ketakutanmu.”

“Aku tau kau gadis yang berani, jangan takut mengatakan kebenaran, kau akan aman karena sesungguhnya Tuhan bersama orang berani dan berpegang pada_Nya.”

“Mereka membunuh Appa, meminumkannya racun, aku saat itu sembunyi dibawah tempat tidur saat mereka membuka paksa rumah. Mereka mengancamku jika aku membocorkan apa yang aku lihat saat itu.”

“Saat itu kau ada dimana?” tanyaku.

“Aku saat itu ada di toilet, saat aku melihat perampokan itu aku bersembunyi, mencari tempat yang aman, ternyata aku masuk dalam ruang kontrol dan pengamanan.”

“Lalu setelah itu?”

“Aku melihat semua kejadian itu dalam beberapa layar. Mereka banyak, ada yang masuk ke dalama ruaangan-ruangan entah apa itu.” Dia berhenti bercerita.

“Manager Bank itu terlibat, dia yang memerikan kode, dan membalik papan ‘OPEN’ menjadi ‘CLOSE’.” Aku tetegun mendengar ceritanya.

“Lalu?”

“Lalu aku mengambil semua kaset itu dan bersembunyi di dalam lemari, aku terus berdo’a agar mereka tidak menemukanku, dan do’aku dikabulkan.”

“Lalu bagaimana kau bisa keluar dari sana.”

“Aku tidak tau bagaimana caranya keluar dari sana, yang aku tau, saat aku sadar aku sudah tidak  di dalam Bank itu lagi. Dan aku melihat pembunuhan itu, mereka membunuh Manager Bank itu untuk menghilangkan jejak dan mengaburkan kasus itu kurasa.” Gadis ini sangat pintar. Dan aku memegang tape recorder dibalik tanganku. Merekam semua perkataannya.

“Lalu?”

“Lalu beberapa hari kemudian mereka mengetahuiku aku masih berada ditempat itu saat kejadian itu terjadi, aku tidak tau mereka tau darimana, tapi aku rasa, mereka bukan orang yang bodoh.”

“Setelah itu?”

“Mereka membuka paksa rumahku, aku tanpa sadar juga bersembunyi di bawah tempat tidur, dari sana aku bisa melihat Appa dibunuh. Mereka meninggalkan pesan padaku, agar jangan berani macam-macam.”

“Lalu kaset-kaset itu dimana kau menyembunyikannya?”

“Aku selalu membawanya, ada didalam tasku.”

“Boleh kami melihatnya sayang?” dia mengambilkannya untukku. Kami memutarnya diruang tengah. Tertegun melihat kejadian itu dan gadis kecil ini begitu kuat melihat semua itu, bagaimana mereka menyiksa semua korban yang ada disana.

“Kau memang pemberani.” Aku menggenggam tangannya.

“Semoga ini menjadi bukti yang kuat, selain kesaksianmu tentunya Eunjung~a.” Ujar Teuki Oppa. Eunjung memandang Teuki Oppa dengan sedikit ragu.

“Kami akan melindungimu.” Lanjut Teuki Oppa. Eunjung masih terdiam.

“Tuhan akan bersamamu Eunjung~a..” tambahku. Dia mengangguk. Akhirnya kasus ini akan segera berakhir, dan Teuki Oppa bisa mengambil cuti untuk menemaniku yang tinggal menghitung hari lagi menjelang persalinan. Rasa takutku sedikit mengabur dengan selesainya kasus ini.

Teuki’s POV

Aku bisa bernafas lega karena telah menemukan bukti-bukti dan titik terang dalam kasus perampokan ini. Manager itu juga terlibat, lalu mengapa dia mati tidak jauh dari tempat itu? Itu masih dalam tanda tanya dalam benakku. Sangat menggangguku, kasus perampokan itu mungkin sudah selesai, para pelakunya juga sudah ditangkap, dan meringkusnya sangat mudah, ini sangat aneh, meskipun aku bersyukur, tapi masih menggangguku. Ditambah lagi dengan tinggal menghitung hari Eun Kyo melahirkan, perkiraan Dokter seminggu lagi, tapi bisa lebih cepat. Itu semakin membuatku cemas, satu kasus masih mengusikku.

“Hyung, sudah tenang kan?” tanya Hyukjae menghampiriku.

“Ada yang masih janggal, mengapa manager Bank itu terbunuh, siapa yang membunuhnya? Kawanan perampok itu?”

“Mungkin saja, mungkin saja mereka tidak setuju dengan pembagian hasil rampokan, atau mungkin ingin menghilangkan jejak?”

“Kalau pembagian hasil rampokan yang tidak adil mungkin masih masuk akal, tapi menghilangkan jejak? Aku rasa Manager Bank itu punya andil besar dalam kasus ini.”

“Benar juga, tapi mungkin itu memang rencana awal mereka?”

“Mungkin juga. Sudah lah Hyung, jangan memikirkan itu lagi, pikirkan istrimu yang akan melahirkan, sudah mempersiapkannya? Kamar? Peralatan bayi?” eh? Aku tidak pernah memikirkan itu, aku bingung menatap Hyukjae.

“Sudah kuduga kau melupakannya, kau tau? Menunggu kelahiran anak itu menurutku sangat luar biasa, tapi kau melewatkan sensasi proses itu, aku yakin kau tidak pernah mendiskusikannya dengan Eun Kyo, akan dominan warna apa kamarnya, bajunya seperti apa, tempat tidurnya, mainannya, sangat yakin kau tidak mempersiapkannya.”

“NDE?” sahutku semakin bingung.

“Jangan terlalu memikirkan pekerjaan hingga kau melupakan sesuatu hal yang sangat penting dalam hidupmu Hyung.”

“Yak! Seperti kau sudah punya istri saja!” aku melempar koran pada Hyukjae, dibalas dengan tawa mengejeknya.

Benar juga, selama ini aku tidak pernah memperhatikan itu. Aku selalu sibuk di kantor hingga tidak sempat memperhatikan Eun Kyo, jadi yang dia katakan sudah lelah itu benar, dia lelah menghadapiku itu benar adanya, karena dia selalu melakukannya sendirian. Rasa penyesalan menyusup perlahan dalam hatiku, memenuhi rongga dadaku dan membuatku sesak. Park Eun Kyo, mianhae, aku egois mementingkan diriku sendiri hingga melupakan semua itu.

Dddrrrtt..

Ponselku bergetar diatas meja, sebuah pesan. Aku langsung menyambarnya, berharap itu dari Eun Kyo. Nomor tidak dikenal, aku membaca pesannya.

‘Istrimu sedang selingkuh’

Begitu isi pesan singkat yang aku baca. Eun Kyo maksudnnya? Selingkuh? Tidak tidak! Tidak mungkin, dia tidak mungkin melakukan itu, aku tau dia mencintaiku.

Tapi tidak bisa dipungkiri, itu memang mengusikku. Aku segera menelepon Eun Kyo.

“Yeobo, kau ada dimana?” tanyaku langsung  ketika dia mengangkat teleponnya.

“Hyung, ini aku Sungmin, Eun Kyo sedang tertidur, ada pesan?” tanya Sungmin yang mengangkat telepon.

“Ani, mengapa kau ada disana?” tanyaku penasaran.

“Aku mengantar makanan untuknya, dia bilang sangat lapar dan ingin makan, aku bawakan dia makanan.” Jawab Sungmin. Aku sedikit tidak suka jawabnan Sungmin, mengapa jika Eun Kyo perlu sesuatu dia selalu memanggil Sungmin? Mengapa bukan aku suaminya sendiri? Apa benar yang dikatakan Sungmin? Dia akan selalu ada untuk En Kyo meskipun aku tidak ada? Seperti yang diucapkannya di Sungai Han kemarin?

“Oh, ye, Gamsahamnida. Kau telah mengurusnya.”

“Hyung, kau tidak perlu berterima kasih, itu sudah seharusnya aku lakukan.”

“Tidak, aku tetap harus berterima kasih padamu karena kau telah menjaga Eun Kyo-ku.” Kutambah kata ‘ku’ sebagai tanda sebuah kepemilikan terhadap Eun Kyo, agar Sungmin mengerti dia itu milkku.

“Arasseo, aku mengerti, baiklah, aku akan pulang,kau jangan khawatir aku akan merebutnya darimu, tapi jika kau membuatnya menangis dan putus asa sekali lagi seperti waktu itu, aku akan benar-benar merebutnya.”

“Kau mengancamku?”

“Bukan, aku hanya mengingatkanmu.” Teleponnya aku tutup setelah itu. Mengingatkanku? Tanpa dia ingatkanpun aku tidak akan melakukannya lagi! Jadi kau tidak perlu menaruh perhatian padanya lagi Lee Sungmin!

“Oppa, kau sudah makan siang?” tanya Chaerin masuk dalam ruanganku.

“Belum.” Sahutku malas. Aku sedikit risih denag wanita ini, dia terkesan mendekatiku. Semoga ini hanya perasaanku saja.

“Kita makan bersama saja.” Ajaknya.

“Aku makan dirumah saja.”

“Oppa… aku sudah membawakannya untukmu, kau tega makanan ini terbuang?” dia menatapku penuh harap, aku tidak suka dia selalu memaksaku dengan tingkah sedikit manjanya itu.

“Baiklah, taruh saja disana, nanti aku makan.”

“Aku mau makan bersamamu.” Lanjutnya sedikit memaksa dalam nada bicaranya.

“Baiklah, ayo makan.” Aku mengalah akhirnya.

“Kau.. bagaimana dengan istrimu yang manja itu?” tanya Chaerin blak-blakan, apa maksudnya dengan manja?

“Apa maksudmu?” tanyaku tidak suka.

“Aku tau kau terbebani dengan tingkahnya yang kekanak-kanakan, benarkan?”

“Lee Chaerin.” Aku tidak suka dia merendahkan istriku.

“Ayolah Oppa, aku tau kau sudah bosan dengannya.”

“Lee Chaerin!”

“Aku mencintaimu Oppa, sejak aku bertemu denganmu aku sudah menyukaimu, terkejut saat aku menerima telpon darimu dan memanggilku Yeobo, tapi ternyata itu kau kira telpon dari istrimu. Tapi kau sudah terlanjur menumbuhkan perasaan itu, kau harus bertanggung jawab!” paksa Chaerin.

“Lee Chaerin, aku mencintai istriku dan tidak berniat mengkhianatinya sedikitpun.” Tegasku.

“Ani, kau pasti menyukaiku juga kan? Aku lebih cantik darinya, lebih pintar darinya, lebih berpendidikan darinya!”

“Dia hanya wanita yang lemah, mengurus suami juga tidak becus, bisanya hanya bertingkah manja dan menyusahkanmu.” Ingin sekali aku menampar wajah angkuhnya itu.

“Tapi aku sangat mencintainya.”

“Bukan, itu bukan cinta, aku tau, kau hanya kasihan padanya jika kau meninggalkannya karena dia tidak punya siapa-siapa selain kau!” teriak Chaerin.

“Lee Chaerin, hentikan.”

“Aku tidak akan menghentikannya sampai kau mau meninggalkannya. Bisanya hanya menyusahkanmmu, menghambat kariermu, Oppa, jika kita bersama kita akan mencapai karier yang cemerlang karena aku akan selalu mendukung dan membantumu, tidak seperti Eun Kyo yang bisanya hanya menangis dan memaksakan kehendaknya!” aku tidak tahan lagi dan menampar wajahnya.

“Kau kira kasus ini selesai karena siapa? Siapa yang membuat Eunjung bicara? Siapa yang membuat Eunjung mau menjadi saksi? Siapa yang meyakinkan Eunjnng bahwa semua ni baik-baik saja jika dia membuka mulutnya? Hah?!” aku juga berteriak padanya.

“Dia, Park Eun Kyo yang melakukan semua itu, Lee Chaerin. Dia tidak mengandalkan pangkat dan kepintaran, dia tidak mengandalkan intelejensi yang tinggi sepertimu. Tapi dia mengandalkan hati dan ketulusan.” Chaerin terpaku.

“Sejak dulu dia yang selalu memecahkan kasusku, bukan aku. Dia yang selalu ada dibalik kesuksesanku. Dia punya cinta, mungkin sama sepertimu, kau juga mempunyai perasaan yang sama. Tapi satu yang tidak kau punya Lee Chaerin, rasa sayang dan ketulusan.” Aku meninggalkannya yan terpaku sendiri.

Aku mengangkat ponsel yang berbunyi dari sakuku. Melihat layarnya, nomor tidak dikenal ini lagi. Aku ragu untuk mengangkatnya dan memboarkannya berbuunyi hingga mati sendiri. Namun beberapa detik kemudian kembali berbunyi, aku mengangkatnya.

“Park Jung Soo, istrimu sangat cantik, dia sedang hamil kan? Anak pertamamu? Kau bahagia? Pasti kau sangat bahagia. Tapi aku akan mengambil kebahagiaan itu, kau akan kehilangannya Park Jung Soo.” Ponsel itu terputus sendiri, orang itu yang memutuskannya. Aku terpaku, mungkin hanya orang iseng yang mau menakut-nakutiku. Tapi tiba-tiba ponselku kembali berbunyi. Eun Kyo, aku segera mengangkatnya.

“Oppa, kau punya teman bernama Kim Kibum? Dia ada dirumah sekarang, tingkahnya sangat aneh, aku takut.” Terdegar suara Eun Kyo bergetar, pikiran negatif langsung menghinggapiku.

“Kau jangan takut, aku segera pulang.” Aku bergegas pulang ke rumah, takut jika ancaman orang itu benar-benar terjadi pada Eun Kyo. Aku segera pergi dengan mobilku menuju rumah.

Eun Kyo’s POV

Aku seperti biasa sedang menonton TV, Eunjung sudah pulang ke Busan karena dia sudah memberikan kesaksiannya. Aku kembali sendirian dan merasa kesepian saat dia tidak ada, biasanya ada teman untuk berbicara meskipun dia tidak merespon pembicaraanku. Aku sering menceritakan sesuatu padanya dan terkadang aku sering meminta pendapat padanya tentang peralatan bayi yang aku beli meskipun jawabannya hanya anggukan dan gelengan. Aku sibuk membuka internet dan melihat online shop tentang baju-baju bayi yang lucu, tiba-tiba bel berbunyi. Aku segera menghampiri pintu depan, pasti Teuki Oppa.

“Oppa, kau sud..” aku menatap orang itu, bukan Teuki Oppa. Aku bingung menatapnya terpaku. Dia membungkukkan badannya dan memberikan salam padaku.

“Annyeonghaseyo, apa benar ini rumah Park Jung Soo?” tanyanya.

“Ne, benar.” Jawabku heran.

“Ah, maaf mengganggu, anda siapa?” tanyanya lagi.

“Aku.. aku istrinya, anda sendiri?” tanyaku kembali padanya.

“Aku, aku Kim Kibum, aku teman saat dia kuliah dulu.” Jawabnya, aku memperhatikannya dari ujung kaki sampai rambut. Sepertinya dia sengaja datang kesini. Membawa tas besar dibahunya, setelah jaket tebal dan sepatu lengkap, seolah baru datang dari jauh.

“Ah, ye, Park Eun Kyo.” Aku menyebutkan namaku.

“Park Jung Soo ada?” tanyanya sambil melirik ke dalam. Wajahnya terlihat dingin.

“Dia sedang bekerja.” Jawabku.

“Boleh aku menunggunya?” tanyanya.

“Ye, ah, silakan masuk.” Aku mempersilakannya masuk dan memberinya minum. Dia tidak bicara lagi setelah itu, hanya menatapku dingin. Aku jadi curiga, dia siapa? Tiba-tiba aku teringat sedang memasak sebelum menonton TV tadi.

“Maaf aku tinggal dulu, aku sedang memasak.” Aku meninggalkannya di ruang tamu. Mematikan kompor dan tertegun sejenak. Bagaimana kalau dia orang jahat? Aku memandang lelaki itu dari balik kaca yang menyekat dapur. Aku menelpon Teuki Oppa untuk memastikannya.

“Oppa, kau punya teman bernama Kim Kibum? Dia ada dirumah sekarang, tingkahnya sangat aneh, aku takut.” Aku berbicara di telpon dengan suara pelan agar tidak di dengar olehnya. Aku benar-benar takut kali ini.

“Kau jangan takut, aku segera pulang.” Jawab Teuki Oppa sambil memutuskan telpon. Aku kembali ke ruang tamu dan menemaninya. Tapi kami hanya membisu, tidak ada yang dibicarakan.

“Sejak kapan kau menikah dengan Teuki? Aku tidak diberitahu.” Ujarnya masih dengan nada dingin dan misterius.

“Ne?” tanyaku. “Oh, aku menikah dengannya setahun yang lalu.” Jawabku seadanya. Jantungku berdebar kencang menanti kedatangan Teuki Oppa.

“Em, langsung hamil.” Gumamnya. Aku tak menjawab karena aku bingung harus menjawab apa. Pembawaannya yang pendiam membuatku merasa canggung, padahal aku termasuk orang yang tidak betah berlama-lama canggung dengan orang asing.

Suara kenop pintu dibuka dengan keras menyebabkan mataku langsung tertuju kearah pintu. Teuki Oppa sudah pulang, wajahnya sedikit tegang dan menatap seseorang yang duduk bersamaku.

“Hyung.” Kibum berdiri dan memberi salam pada Teuki Oppa. Teuki Oppa terdiam sejenak, tak berkata apa-apa hingga membuatku juga ikut tegang.

“Kibum~a..” Teuki Oppa memeluk orang yang ada bersamaku tadi dengan erat seolah sudah menahan rasa rindu yang begitu banyak.

“Kau kemana saja?” dia menepuk bahu Kibum. Ternyata anak itu jika tersenyum tidak seperti apa yang ada dipikiranku.

“Kau menghilang sejak itu.” Lanjut Oppa.

“Aku hanya menenangkan diri.” Jawab Kibum.

“Ehem.” Aku berdehem sebagai tanda bahwa mereka melupakanku.

“Kau sudah makan? Makan disini saja.” Tawar Teuki Oppa. Kibum tidak menolak, dan kami makan siang bertiga.

Mereka berdua asik bercerita hingga melupakanku, aku membiarkan mereka berdua mengenang masa kecil mereka tanpa ingin aku ganggu. Sesekali aku ikut tersenyum ketika mereka bercerita tentang hal yang lucu. Setelah selesai mekan, aku membersihkan piring kotor di meja. Dan Kibum pamit untuk pulang.

“Hyung, aku pulang dulu.” Pamitnya.

“Tidak menginap disini?” tanya Teuki Oppa.

“Ani, aku tidak ingin mengganggu kalian.”

“Aku tidak merasa terganggu.” Sergahku.

“Aku pulang kerumah saja.” Ujarnya sambil membungkukkan badan lalu berlalu dari hadapan kami.

“Jika kau punya waktu luang, sering-sering lah kemari.”

“Ne, aku akan sering kesini.”

Aku kembali ke dapur dan mencuci piring kotor. Sepasang tangan melingkar di perutku. Aku mendiamkannya dan terus mencuci.

“Sudah mulai terasa sakit?” tanyanya sambil mencium leherku. Aku menggeleng.

“Hem, aku sudah tidak sabar untuk melihat jagoanku hadir.” Kembali dia mencium bahuku.

“Kau enak, tapi aku yang sakit.”

“Kau menyesal?” aku menggeleng.

“Aku juga menantikannya, namun terkadang aku takut.”

“Aku akan ada bersamamu.”

“Semoga.”

“Ya.. jangan begitu, aku pasti menemanimu.” Aku ingin mempercayainya, tapi mengapa hati kecilku berkata tidak?

“Kau tidak percaya?” dia mengangkat wajahku, mata kami saling bertatapan. Lama dan akhirnya bibirnya sampai menyentuh bibirku.

***

Aku berbaring ditempat tidur. Malam ini aku tidak bisa tidur, bayi dalam perutku menendang dari tadi, mebuatku merasa sedikit nyeri. Aku mengelusnya untuk menghentikan atau setidaknya memberitahunya bahwa dia menyakiti Eommanya. Aku memandang wajah Teuki Oppa yang tertidur disampingku. Dia berkeringat, aku menyekanya dengan jariku. Dahinya berkerut lalu membuka matanya.

“Wae?” tanyaku lembut. Dia mengatur nafasnya, keringat dingin mengucur di tubuhnya.

“Bermimpi?” tanyaku. Dia mengangguk.

“Aku bermimpi tentangmu.” Dia meletakkan kepalanya di pangkuanku karena aku dalam posisi duduk.

“Aku bermimpi buruk tentangmu, kau meninggalkanku.” Dia membenamkan wajahnya di perut besarku.

“Itu hanya mimpi, jangan dipikirkan.” Dia mengangkat wajahnya dan beralih kedadaku, aku memeluknya.

“Aku tidak bisa jika tidak mendengar detak jantung ini lagi saat tidur, tidak bisa tanpa belaian tangan ini lagi saat aku lelah, tidak bisa tanpamu, sedetikpun aku tidak bisa.” Dia semakin dalam membenamkan wajahnya di dadaku. Sepertinya kali ini dia tidak sedang menggombal.

“Kau akan mendengarkannya setiap hari. Kau saja yang terkadang terlalu sibuk.” Dia terdiam, aku membelai kepalanya. Terkadang suamiku memang seperti anak kecil yang takut kehilangan ibunya. Dia sudah terlelap kembali.

***

Teuki Oppa sudah berangkat bekerja. Aku kembali sendirian. Tapi bel di depan rumah berbunyi. Aku menuju pintu depan dengan susah payah. Beban di perutku menyulitkanku untuk berjalan. Aku mebuka pintu.

“Eunjung~a, silakan masuk.” Dia mengikutiku di belakang.

“Kau sendirian?” tanyaku, dia masih membisu seperti biasa, hanya menjawab dengan anggukan dan gelengan.

“Sudah makan?” dia tetap tidak menjawab.

“Kalau begitu, temani aku makan.” Aku menariknya ke meja makan. Dia menemaniku makan tapi dia menolak untuk makan.

“Kau sudah sekolah kembali?” tanyaku. Da menggeleng. Aku terkejut, bel rumahku kembali berbunyi. Aku berdiri untuk membukakan pintu.

“Aku saja Onnie.” Eunjung bangkit dan melangkah keluar. Lama aku menunggunya, tapi tidak kunjung kembali.

“Eunjung~a..” aku memanggilnya, tidak ada jawaban.

“Siapa yang datang?” tanyaku lagi. Masih tidak ada jawaban. Aku beranjak dari kursi memeriksa keadaan Eunjung. Seseorang membekap mulutku dan semuanya menjadi gelap.

***

Aku mencium bau lembab dan apek, tak bisa menjabarkan bau apa sebenarnya ini, antara debu, kayu yang sudah tua dan aroma tak sedap yang entah dari mana. Aku membuka mataku perlahan, mengedarkan pandangan ke semua sudut ruangan. Kursi yang hanya 3 buah kaki, satu kaki tergeletak tak jauh dariku. Ruangan yang sedikit gelap, entah dimana aku juga tidak tau, penerangannya hanya bohlam kuning 5 watt yang sudah tidak berfungsi dengan baik. Aku mencoba mengumpulkan seluruh kesadaranku, namun sakit kepala yang aku dapat, aku menyipitkan mataku, mendapati seseorang yang tergeletak tak jauh dariku. Aku mencoba mendekat tapi aku baru sadar ternyata tanganku diikat d sebuah meja yang ada di belakangku. Eunjung! Aku menendang-nendang kakiku membangunkann Eunjung, bukannya membangunkannya karena memang kakiku tidak sampai tapi malah perutku yang sakit.

“Eunjung~a.. ireona..” suara serakku tak mungkin membangunkannya.

“Eunjung~a..” aku menendang kaleng minuman dan mengenai kakinya, dia sedikit terkejut dan membuka mata.

“Eunjung~a..” tangannya terikat tak jauh berbeda denganku.

“Onnie, dimana kita?” tanyanya sedikit panik.

“Molla, bangun, bantu aku melepaskan ini.” Ujarku padanya sambil mencoba melepaskan ikatan ditanganku.

“Bagaimana caranya?” tanyanya bingung, wajahnya menyiratkan ketakutan.

“Jangan takut, aku ada bersamamu, ne?” meskipun aku takut juga melebihi rasa takutnya mungkin karena keadaanku sekarang lagi dalam keadaan kritis, masa persalinanku tinggal menghitung hari bahkan mungkin tinggal beberapa jam lagi.

“kesini lah, aku tidak bisa kesana. Buka ikatanku dengan tanganmu.” Aku menyuruhnya untuk mendekat. Dan dia menurutinya, dan mulai membuka ikatanku, sepertinya dia sangat kesusahan.

“Bisa?” tanyaku.

“Sedikit lagi Onnie.” Jawabnya. Saat ikatanku terlepas, bersamaan dengan itu derak kunci pinti besi mengejutkanku. Kami saling berpandangan. Eunjung melepaskan tangannya dan sedikit menjauh dariku. Dua orang lelaki besar masuk dan menghampiri Eunjung.

“Sepertinya kau lumayan juga gadis manis.” Salah satu lelaki menyentuh dagu Eunjung, tubuh gadis kecil itu bergetar.

“Kau juga sebenarnya wanita yang sangat menarik, namun sayangnya, kau sedang..” dia tidak melanjutkan pembicaraannya, hanya memandang perutku. Aku mengerti maksudnya.

“Aku heran, mengapa Boss menyuruh kita menculiknya juga.” Ujar satu lelaki lagi yang rambutnya sedikit berantakan dari satu lelaki lainnya yang berpakaian rapi.

“Masalah cinta.” Jawab lelaki yang berpakaian rapi, aku tidak terlalu memperhatikannya. Aku mengkhawatirkan Eunjung, jangan biarkan sesuatu terjadi padanya, Tuhan. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika itu terjadi. Ini pasti berhubungan dengan kasus yang ditangani oleh Teuki Oppa. Teuki Oppa? Dimana dia sekarang, semoga dia cepat datang, atau siapapun yang dapat menolong kami.

Kibum’s POV

Aku mengeluarkan mobilku dari area parkir apartemen. Apartemen yang sudah lama sejak kepergian Appa 10 tahun yang lalu. Kematian Appa membuatku terpukul dan aku melanjutkan studyku di California. Tapi sesuatu yang membuatku kembali ke Seoul. Jejak pembunuh Appa. Mereka akan melakukan aksinya lagi disini. Dengan perampokan sebuah Bank sebagai umpan untuk memancing kekeruhan situasi. Teuki. Itu adalah target mereka. Kasus yang dituntaskan Teuki pada setahun yang lalu tentang trafficking terbesar di Korea sebenarnya adalah kasus Appa yang tidak tuntas. Kini sudah selesai berkat Teuki. Dan sekarang, Teuki lah yang jadi target mereka.

Aku melajukan mobilku menuju rumah Teuki Hyung untuk menceritakan yang sesungguhnya. Sebenarnya aku sudah tau perampokan Bank itu sebelum terjadi, tapi aku membiarkannya untuk memancing pelakunya. Terus menginjak pedal gas dan sampai ke rumah Teuki Hyung. Tapi setelah aku sampai disana pintu rumah terbuka, tidak ada orang di dalamnya. Aku jadi curiga. Mobil yang berpapasan denganku beberapa menit yang lalu. Aku segera berlari dan mengendarai mobilku dengan cepat. Mengejar mobil itu, semakin cepat, hingga akhirnya melihat mobil itu dari kejauhan. Aku mengikuti mereka. Dia ke sebuah gedung tua yang tidak selesai dibangun jauh dari perkotaan. Aku memarkir dari jauh, melihat mereka membopong dua orang wanita. Satunya seorang gadis, satunya lagi, shit! Benar dugaanku, istri Teuki Hyung!

Aku berjalan mengendap mengikuti mereka. Aku tidak bisa masuk karena banyak anak buah yang berjaga disana. Aku mencari celah untuk masuk kedalam. Beberapa orang anak buah yang sedang berjaga-jaga kubunuh dengan senjata peredam suara yang aku dapatkan dari pasar gelap di California.

Aku terus berjalan dengan waspada, dimana mereka menyembunyikan Eun Kyo? Ck! Aku tidak menyangka akan seperti ini. Umpanku memakan korban yang tidak aku duga. Aku sudah tidak sabar, segera menarik pelatuk senjataku dan meluncurkan timah panas pada beberapa orang. Mencari tempat Eun Kyo disekap. Tapi aku tidak menemukannya. Tak berapa lama, aku mendengar sirine polisi. Aku bersyukur, akhirnya ada yang menolong. Beberapa polisi mengamankan tempat ini.

“Pak, mereka menculik dua orang gadis.” Polisi itu mendekat dan memborgolku.

“Kau ditangkap atas pembunuhan yang terjadi.” Ujar polisi itu, aku jadi bingung. Apa yang sebenarnya terjadi. Bukankah aku sebagai penyelamat disini. Aku tidak bisa menghindar saat polisi itu menjebloskanku ke penjara yang dingin dan pengap. Hanya beberapa menit aku disana dan dibawa lagi ke ruang introgasi.

“Kau dituduh membunuh beberapa anggota polisi dan penculikan.” Ujar seorang polisi yang berpakaian preman. Aku terbelalak dengan tuduhannya.

“Yak, aku tidak melakukan semua itu, baiklah, aku memang membunuh, tapi aku membunuh penculik bukan seorang polisi.” Polisi itu geram dan menendang meja.

“Aku punya bukti, aku punya bukti bahwa ini sudah direncanakan. Perampokan Bank itu, dan semuanya , dan aku tidak melakukan penculikan.” Ujarku keras. Aku mengeluarkan sebuah memory card yang menyimpan semua bukti, bahwa mereka memang merencanakan perampokan Bank itu sejak dari California. Aku menyadap semua kegiatan jaringan ini, akar-akar yang yang masih belum diberantas dari jaringan yang sudah lelah aku sebutkan, ada rasa getir saat aku menyebutnya, karena memakan korban adikku satu-satunya dan nyawa Appa.

“Darimana kau dapatkan ini?”

“Aku menyelidikinya.”

“Darimana kau dapat akses rahasia seperti ini?” rahasia? Maksudnya rahasia? Aku berpikir sejenak, aku membunuh anggota polisi? Aku yang ditangkap dan dituduh menculik? Akses rahasia? Jangan katakan ini adalah ulah oknum polisi! Haha, tidak salah lagi.

Sekarang aku berpikir bagaimana caranya bisa lolos dari sini. Yakin! Sangat yakin kalau beberapa jam lagi nyawa Teuki ataupun istrinya akan melayang. Ini adalah sebuah pembalasan dendam atas apa yang dilakukan Teuki.

Saat mereka ingin membawaku ke mobil aku menghantam kedua polisi yang ingin membawaku itu dan berlari. Aku melihat seseorang ingin mengemudikan mobilnya, aku menariknya dan mendorongnya. Kuambil alih kendali mobil dan segera menuju ke kantor tempat Teuki Hyung bekerja. Sesampainya disana, aku melihat Teuki Hyung sedang memandang layar monitor bersama dua orang lelaki. Aku mengatur nafasku.

“Hyung.” Nafasku belum berhembus secara normal. Namun teuki Hyung memandangku tajam.

“Kau sudah tau semua rencana perampokan ini, dan kau sudah tiba satu bulan yang lalu, kenapa baru muncul sekarang?!” tanya Teuki Hyung dengan keras. Aku hanya bisa menghela nafas.

“Mianhae Hyung, aku tidak memberitahumu, tapi sekarang ada yang lebih penting!” dia mendekat dan melayangkan pikulannya ke perutku.

“Kenapa baru sekarang! Kenapa tidak memberitahuku tentang rencana perampokan itu?” dia mengamuk, seolah merasa kecolongan. Dia terus memukulku.

“Kita saudara kan? Tapi kini kau bukan saudaraku lagi, bagaimana bisa disebut saudara jika kau menjadikanku umpan untuk memancing pembunuh Appamu keluar, kau sungguh licik! Jika kau memberitahuku, maka aku pasti akan membantumu! Dan sekarang aku bukan saudaramu!” dia masih memukulku.

“Hyung hentikan, kau bisa membunuhnya.” Seseorang menarik dan menenangkannya.

“Lee Hyukjae! Bagaimana aku bisa tenang jika karena kasus ini aku tidak bisa bersama Eun Kyo menemaninya, sedangkan dia pasti merasa cemas dengan kehamilannya. Dan dia!” Teuki Hyung menunjukku.

“Dia yang membiarkan semua ini.” Lanjutnya.

“Hyung, tapi sekarang semua sudah berakhir.” Jawab seseorang yang dipanggil Hyukjae itu.

“Semua belum berakhir.” Jawabku dingin. Mereka semua menoleh padaku.

“Apa maksudmu?” tanya Hyukjae.

“Semua ini belum berakhhir, kasus perampokan Bank itu hanya sebagai umpan agar membuatmu panik, Hyung. Sasaran utamanya adalah kau sendiri. Dan sekarang istrimu ada ditangannya.” Teuki Hyung menatapku tajam, seolah mencari kebenaran dari setiap ucapanku.

“Kau jangan bercanda!”

“Aku tidak bercanda, mianhae, jika ini semua menyeret istrimu juga, aku tidak menyangka. Aku sudah hampir melumpuhkan mereka dan saat polisi datang, mereka malah menangkapku, aneh sekali, aku rasa semua ini menyangkut orang dalam.” Jelasku pada mereka.

“Kau jangan bercanda!”

“Aku tidak bercanda!” jawabku tak kalah keras dari suaranya.

“Kumpulkan semua anggota, mana Chaerin?” tanya Teuki Hyung.

“Dia ijin hari ini.” Jawab Hyukjae. Mereka semua bergegas menuju tempat yang tadi aku datangi.

Eun Kyo’s POV

Aku semakin takut. Rasa takut ini membuat kontraksi ringan di perutku. Tuhan, jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi pada kami, terlebih lagi pada seseorang yang baru akan menjalani hidup di dunia ini. Aku memandang Eunjung yang mukanya semakin pucat.

“Tenanglah, tidak akan terjadi apapun.”

“Mereka tidak segan untuk membunuh.” Jawab Eunjung bergetar.

“Ssssttt, jangan seperti itu, Tuhan bersama orang yang pemberani.” Jawabku menenangkannya, karena akupun sedang mengumpulkan keberanianmu. Aku meringis menahan sakit perutku.

“Onnie~ya, gwaenchana?” tanya Eunjung khawatir.

“Ya, nan gwaenchana. Terulang lagi.” Ujarku.

“Terulang lagi?” tanya Eunjung.

“Terualng lagi seperti dulu, aku juga pernah dalam keadaan seperti ini. Dalam sekapan seseorang. Hanya bedanya dulu aku masih belum menikah dan tidak dalam keadaan hamil seperti ini.” Jelasku padanya mencoba mengusir ketakutannya denga sebuah cerita.

“Lalu? Bagaimana kau bisa keluar?” tanyanya.

“Malarikan diri.” Aku tersenyum.

“Tapi dalam keadaan seperti ini, kita tidak bisa melarikan diri.” Jawabnya lemah.

“Tapi aku yakin Teuki Oppa pasti menolong kita.” Jawabku.

“Kau seyakin itu?” tanyanya.

“Sangat yakin.” Jawabku.

“Onnie~ya, kau punnya rasa cinta dan keyakinan yang begitu besar  terhadap suamimu, aku sangat salut padamu. Kau juga membantunya menyelesaikan kasusnya, aku juga sangat salut.”

“Kau ini, dibalik kesuksesan seorang lelaki, pasti ada seorang wanita.” Jawabku.

“Jadi jangan takut, karena sesungguhnya kita adalah makhluk yang kuat, jangan pernah merasa takut hanya karena kita lemah.”

“Onnie~ya..” dia memelukku dengan erat.

“Aku ingin menceritakan sesuatu. Aku tidak suka dengan Chaerin, dia terlihat menyembunyikan sesuatu. Saat aku tinggal dirumahnyapun aku tidak pernah diintrogasinya. Aneh sekali. Dia sangat mencurigakan.”

“Apa maksudmu?” tanyaku.

“Apa aku salah jika menduga kalau Chaerin terlibat dalam semua ini?” tanyanya.

“Sayang, dia memang tidak ramah, dia sedikit kasar, tapi tidak seharusnya kita berpikiran negtif terhadapnya.”

“Onnie~ya, dia mencoba menggoda suamimu, kau tau?”

“Aku tau.”

“Lalu kau diam saja?”

“Haha, aku hanya membiarkan Teuki Oppa memilih.”

“Onnie, kau bodoh.”

“Tapi dia memilihku kan?”

“Bagaimana seandainya jika tidak?”

“Tapi aku percaya dia hanya mencintaiku.”

“Onnie, kau memang aneh.” Disaat seperti ini Eunjung malah banyak biacara. Aku suak melihatnya seperti ini. Kami tertawa bersama, lalu suara langkah menghentikan pembicaraan kami. Aku dan Eunjung saling berpandangan. Seseorang masuk ke dalam ruangan pengap ini.

“Bagaimana, Nona-nona? Senang berada disini? Membicarakanku?” tanya seseorang pada kami.

“Chaerin?” gumamku pelan.

“Benar, ini aku Lee Chaerin, bukan orang yang mirip atau kembarannya, aku adalah Lee Chaerin.” Dia mendekatkan wajahnya padaku dan menatapku meremehkan.

“Kau terkejut?” tanyanya.

“Ternyata kau tidak sebodoh yang aku perkirakan Park Eun Kyo!” ucapnya keras.

“Mengapa kau melakukan hal ini?”

“Hahahahaha, kau pasti menanyakan itu, mengapa aku melakukan ini? Karena kau menggagalkan rencanaku. Aku sudah mempertingatkanmu untuk tidak mencampuri urusan ini, tap kau bersikeras untuk ikut campur, sekarang terima akibatnya”

“Rencanamu?”

“Yah, rencanaku, perampokan Bank itu, aku yang melakukannya.” Jawabnya sambil duduk di kursi.

“Pembunuhan itu, aku yang melakukannya.” Eunjung menegang mendengarnya.

“Dan Appamu Eunjunng~a, aku yang melakukannya.” Dia menatap Eunjung, Eunjung bangkit dan ingin menendang Chaerin.

“Eit, gadis manis, jangan macam-macam denganku.”

“Dan kau tau? Targetku sebenarnya adalah suamimu, Park Jung Soo.” Seringainya menjijikkan.

“Dan kau pasti bertanya mengapa aku melakukan ini kan, Eun Kyo~ya?” aku sebenarnya penasaran, tapi berpura-pura acuh.

“Aku adalah istri simpanan Kepala Polisi Jung, kau ingat? Jaringan yang kau kacaukan setahun yang lalu.”

“Dan Teuki beberapa hari yang lalu mengatakan padaku, jika semua kasus yang terungkap ini sebenarnya adalah kau dibalik semuanya, rencanaku berubah. Suamimu sangat mencintaimu, jadi dengan melenyapkanmu, aku bisa melumpuhkannya sekalian. Kau adalah kunci hidupnya. Jadi sebaiknya aku melenyapkanmu saja. Satu umpan dua korban.”

“Kau memang licik.” Caciku.

“Benar sekali, kau membunuh asetku, dan menghancurkan bisnis kami, dan aku rasa kalian setimpal mendapatkan semua ini, aku mempermudah jalanmu masuk surga, kau senang kan?” tanyanya dengan wajah mengerikan. Aku hanya diam, tidak ingin meladeni pembicaraannya dan membuatnya semakin marah.

“Dan aku, aku menyukai suamimu Eun Kyo~ya, berniat mengambilnya dariku setelah kau tidak ada.” Tambahnya lagi sambil tersenyum.

Teuki’s POV

Aku kecolongan lagi, lagi-lagi Eun Kyo yang menjadi korban. Aku tidka bisa memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu padanya. Aku melirik orang yang duduk disampingku. Kim Kibum. Wajahnya begitu tegang, begitu juga dengan Hyukjae dan Sungmin. Aku mengemudikan mobilku diatas rata-rata kecepatan, yang ada dalam otakku sekarang adalah melihat Eun Kyo dalam keadaan selamat.

“Dimana tempatnya?” tanyaku tidak sabar pada Kibum.

“Belok di jalan ujung sana, terus saja, akan ada gedung yang sudah tidak terpakai.” Aku menuruti semua perkataannya. Dan kami sampai pada gedung itu. Memang ada terlihat beberapa orang penjaga, aku melumpuhkan mereka dengan timah panas pada kedua tangan dan kakinya.

“Berpencar dan temukan Eun Kyo segera!” perintahku tidak sabar dan menembak salah satu anak buah penjahat itu beberapa kali.

“Hyung, tidak ada.” Suara pelan Hyukjae bagaikan sebuah petir yang menggelegar bagiku.

“Cari sampai dapat! Dan aku tidak mau mendengar kata-kata tidak berhasil!” aku menatap tajam satu persatu rekanku yang ada disana. Dan aku menendang meja rapuh yang ada disana. Aku melihat sesuatu. Cincin pernikahanku. Ini berarti apa yang dikatakan Kibum benar. Eun Kyo tadinya disini. Aku terkejut dengan bunyi dering ponsel dalam sakuku. Lee Chaerin.

“Pasang penyadap.” Ujarku pada Hyukjae, setelah memastikan alat penyadap sudah terpasang. Aku mengangkat telpon itu.

“Yeoboseyo? Chaerin~a?”

“Ne, ini aku.” Jawabnya.

“Kau ada dimana?” tanyaku berusaha sebiasa mungkin menahan amarahku yang menggelegak dalam dada.

“Kau sudah makan? Kita makan bersama?” ajaknya padaku.

“Kau tunggu saja di apartemenmu, aku akan menjemput.” Aku melihat posisinya memang di apartemennya, dugaanku kuat jika dia memindahkan Eun Kyo kesana.

“Ani, kita bertemu direstoran biasa saja.”

“Baiklah, sampai jumpa.” Sahutku. Dugaanku semakin kuat.

“Geledah apartemen Chaerin.” Perintahku, kami semua menuju kesana. Aku membuka paksa kombinasi kode dengan tembakan dan membuat pintu itu terbuka.

“Eun Kyo~ya!” aku memanggil Eun Kyo.

“Yang lain tangkap Chaerin di restoran.”

“Park Eun Kyo!” panggilku lagi, tidak ada yang menyahut. Aku menjadi panik, kubuka seluruh ruangan tak terkecuali kamar mandi, semuanya tidak ada. Park Eun Kyo, dimana kau? Bertahanlah.

 Aku berhenti di depan lemari besar dan tertegun sejenak. Perlahan aku buka lemari itu dan melihat isinya. Omo! Isinya membuatku hampir berhenti bernafas. Istriku dengan mulut tersumpal sapu tangan bersama Eunjung yang tidak berbeda jauh keadaannya. Aku segera meraih tubuhnya yang lemah. Dia tergeletak tak berdaya.

“Eun Kyo!” aku menjerit melihatnya seperti ini. Ada sedikit darah dibajunya.

“Oppa.. perutku sakit.” Ucapnya lemah.

“Lee Hyukjae! Siapkan mobil!” aku mengangkat tubuh Eun Kyo keluar dari kamar dan segera melarikannay ke rumah sakit. Dalam perjalanan, Eun Kyo mengeluh sakit pada perutnya. Keringat bercucuran di kedua pelipisnya.

“Oppa.. Sakit sekali.” Dia mencengkram lenganku. Aku membiarkannya.

“Sebentar lagi sampai, harus bertahan.” Aku menyeka keringatnya.

“fuh.. fuh.. fuh..” dia mengatur nafasnya untuk mengurangi rasa sakit kontraksi perutnya.

“Bisa cepat sedikit?” tanyaku pada hyukjae yang sedang mengemudi.

“Aku usahakan Hyung.” Lirik Hyukjae di kaca spion. Begitu sampai di rumah sakit, aku segera mengangkat Eun Kyo keatas ranjang, dan beberapa perawat mendorongnya.

“Oppa, jangan tinggalkan aku.” Dia memegang tanganku erat, dan tubuhnya meringkuk diatas ranjang.

“Aku tidak akan kemana-mana, selalu ada disini.”

“Anda mau ikut ke dalam?” tanya seorang perawat padaku.

“Boleh?” tanyaku.

“Boleh saja, tapi ganti dulu baju anda. Aku melepas genggaman Eun Kyo dan mengganti bajuku, masuk keruangan itu dan menyaksikan proses persalinan Eun Kyo. Wajahya penuh dengan kerinagt. Sesekali dia mengaduh kesakitan. Aku sebenarnya tidak tega melihatnya seperti ini, bertarung mempertaruhkan nyawanya demi anak kami. Tangannya menggenggam kuat tenganku, sangat kuat, seolah ingin mengalihkan rasa sakitnya. Seandainya saja rasa sakit itu bisa berpindah padaku, aku rela. Aku sudah tidak kuat melihatnya.

Tuan, jangan biarkan istrimu mengejan, pembukaannya belum lengkap, jika dia terus seperti itu, nanti tenaganya akan habis. Coba lihat pada layar monitor itu, jika kurvanya meningkat, tolong beri semangat istrimu untuk mendorong, paham?”

“Arasseo.”

“Eun Kyo~ya, bertahanlah, sedikit lagi, hem?’ aku mencium puncak kepalanya.

“Aku sudah tidak tahan, Oppa.” Sahutnya lemah.

“Ssssttt, jangan berkata seperti itu, aku tidak suka.” Dia mencakar lenganku.

“Baiklah, kau boleh melakukan apapun terhadapku, tapi jangan patah semangat. Aku tau kau kuat.” Aku menenangkannya yang sedang mengaduh kesakitan. Dia mencoba mengatur nafasnya.

“Benar-benar sakit.” Keluhnya. Seseorang berada dihadapan kakinya. Dan memeriksa pembukaannya.

“Pembukaannya sudah lengkap, kita tinggal menunggu kontraksinya.”

“Tidak bisakah dipercepat dengan suntikan mugkin?”

“Kami sudah memberinya melalui infus beserta penahan sakitnya Tuan, anda bersabar saja.” Jawab perawat itu. Dia keluar memanggil Dokter. Beberapa orang mengikutinya dan bersiap siap. Aku melihat kurva di layar mulai meningkat.

“Yeobo, masih kuat kan?” dia mengangguk. Tangannya semakin kuat menggenggam tanganku dan mulai mendorong. Aku tidak mampu berkata apa-apa saat dia mulai mendorong sekuat tenaga. Aku tau Eun Kyo-ku bisa. Hanya itu yang ada di benakku. Eun Kyo-ku sangat luar biasa, aku tidak bisa lagi menjabarkan bagaimana kuatnya dia, hingga mendengar suara tangisan itu. Eun Kyo menhela nafas lemah. Dia tersenyum.

“Kau sangat hebat, aku sangat mencintaimu.” Bisikku di telinganya.

“Na do, Oppa.” Jawabnya lemah.

“Selamat, anak anda laki-laki.” Dokter itu membungkus bayiku dengan selembar kain dan meletakkannya di dada Eun Kyo. Bayiku lahir selamat dengan sehat. Mulut kecilnya terlihat mencari puting payudara Eun Kyo, sangat lucu, air mataku keluar tanpa aku sadari.

Setelah dimandikan dan Eun Kyo sudah membersihkan diri. Mereka berdua dibawa ke ruangan. Aku mengikutinya dan juga Kibum, Sungmin serta Hyukjae.

“Chukkae Hyung, kau sudah punya jagoan sekarang yang bisa menjaga istrimu.” Ujar Hyukjae.

“Gomawo.” Jawabku sambil menatap mereka satu persatu.

“Aku akan kembali ke California.” Ujar Kibum. Aku memeluknya. Memeluknya erat.

“Mianhae, mianhae telah menyalahkanmu kemarin.” aku menepuk punggungnya.

“Gwaenchana, jika aku di posisimu pun aku mungkin akan bertindak yang lebih brutal.” Jawabnya.

“Sudah bisa melihat anakmu, Hyung?” tanya Sungmin.

“Boleh, mari masuk.” Aku melihat Eun Kyo sedang berbaring menghadap kearah anak kami. Dia terus memandanginya. Wajahnya masih sedikit pucat tapi tidak meudarkan daya tariknya dimataku.

“Mau kau beri nama siapa?” tanya Sungmin.

“Dia imut sepertiku.” Tambahnya.

“Dia seperti ibunya, eanak saja mirip denganmu.” Protesku.

“Park Yong Jin, aku menamainya Park Yong Jin.” Jawabku.

***

“Sedang apa?” tanyaku pada wanita yang paling aku sayangai seumur hidupku, memeluk pingganggya.

“Memasak makanan tidak enak untukmu.” Jawabnya.

“Bagiku semua yang kau masak semua terasa enak.”

“Begitu? Bukannya masakan Chaerin lebih enak? Selalu makan siang bersamanya.”

“Ya.. jangan begitu, aku hanya tidak enak enak dengannya yang membawakanku makanan setiap siang.”

“Hem? Begitu?”

“Hem.” Aku mengecup lehernya.

“Minggir Yong Jin sudah lapar.”

“Aku juga lapar.” Jawabku.

“minta saja pada partnermu tersayang itu.”

“Kau partner tercintaku.” Dia melepaskan tanganku dan berlalu menuju kamar.

Sekarang hidupku terasa sempurna, tidak ada lagi yang aku inginkan di dunia ini, selain meliat dan membuat dua orang terhebat dalam hidupku tersenyum.

FIN

NOTE : buahahahahahahaaha, ini cerita aneh apa yah? Aye juga bingung pemirsa, kenapa jadi bikin cerita ancur beginian, terlalu dipaksakan, tapi ngetiknya udah banyak, ya sudah lah, teruskan saja kehancurannya. Bukan aku banget begini. Kaga ada skinshipnya jadi aneh, ga romantis juga. Huweeeeeeee padahal kepengen bikin yang romantis tapi jadinya malah begini. Oh iya, sebelum ada yang menanyakan bagaimana nasib Chaerin, dia udah di tangkap dan di proses. Jelas kan? Ini cerita Teukyo, Teuki dan Eun Kyo, jadi Chaerin jangan ditanya. Ini proses persalinannya juga ga jelas banget, aku ga bisa menjelaskannya, pokonya ya begitu lah, aku si pernah liat orang melahirkan secara Mamih aku bidan, tapi menguraikannya dalam cerita aku bingung… mau tampil beda dengan menjabarkan proses itu malah jadinya ngawur prosesnya. Buat Rita, kamu ga jadi nyamuk, tapi jadi gadis kecil yang menderita, ga ada bedanya juga si sama nyamuk. Bener ga itu namkor kamu, saya juga ga tau, itu dapat bocoran dari Na, wahahahahahahahahaaha, semoga kamu senang. Buat para pencintaku *yaelah, pecinta? Kaga ada kali Fika*, selamat menikmati, maaf mengecewakan. 36 halaman cukup kan mengobati rindu yang nanyain aku, ga publish ff.. tapi maaf ceritanya ancur ga ada intinya sama sekali. Bagi yang udah baca silakan apresiasikan apa yang ada di otak kalian berbentuk komen, oke bebeh? Muah muah..

51 responses »

  1. Onnie-yaa… Ssaeng tinggalin jejak yaaa… Saeng lgi online di hape neh.. Ga puas klo bacanya lewat hape… Ntar pasti muncul lgi.. Siapin ajj ntar oksigen berlebih yaa onn.. Haha #apacoba #ditendang xD

  2. eonnie ini sekali buka ado postan ff ehhh malah cerita genre ini TT^TT
    aku mau MLT TT^TT
    tapi ya sudah lah toh tetep kubaca juga nyaahahhahah
    ahhhhh kalo gini eunkyo sama monkey aja deh,untuk apa gitu sama ahjusshi yang gak sayang ma istri #plak
    cerita ya ini kalo boleh jujur agak datar yah eonn kurang gitu skinship sama romancenya kayak eonnie bilang hehehe .___.V

    buat fika eonni,aku baru nonton ep 4 WGM hahhh ahjusshi diragukan eksistensinya jadi Hallyu Star LOL
    eonnie kagak cemburu yak?😛

    jangan bilang ini ntar ada lanjutannya lagi dan malah gak lanjutin MLT.. *death glare*
    oh iya eonn raena yg dalem cerita eonn di MLT itu ada yang punya? siapa eonn? buat ff juga gak? *mata berbinar-binar* #plak

    • emang, cerita gajenya berlanjut panjang banget, ga ada feel bikin, semua juga ga ada feel…
      tp ya udah banyak ngetiknya yah diterusin aja…
      MLT nanti yah… ini udah tamat! ga diapa2in lagi…
      dia tetap super star dihati aku, jadi aku tidak pernah meragukannya…
      tentang WGM… aku ga kepengen berkomentar banyak…
      meski aku cemburu juga ga bakalan berentiin acara itu kan?
      terima aja… dia senang aku juga senang… dia tersenyum aku mencoba tertawa.. paling engga ikut tersenyum… daripada dia menghilang sama sekali….

      MLT nanti aku lanjutin… aku masih bingung mau lanjutin yang mana…
      CL… MLT… 2 oneshoot lagi…

      • wajar eonnie juga manusia,ada pasang surutnya hahaha komen aku terlalu pedas yak .__.?
        maap deh eonn yak bawaan lagi uts ini -__-”
        dalem yak eonn bahasanya……….
        eonnie udah cinta mati sama leader dah terharu aku sebagai ponakannya(?) #plak……
        oke ditunggu😀
        tak kirain aku yg pertama komen ternyata udah keduluan yah -___-

        SEMANGAT EONNIE (\n__n/)

  3. Eonny..

    Eunkyo’na agak” ga mau ma teukie..
    Dah, teukie bwt aku aja dhee.. ∩.∩
    Hehehe…

    Walopun agak gaje, ttp asik d baca kok eon..

    Soory eon br smpet baca, soal’na tdi sibuk aku..
    Hehe..

    Ayoo eon, MLT’naaa..
    Ga sabar pgn baca mlt..

  4. Onnie-a.. Kenapa kau jahat begitu pada teuki oppa..
    Benar2 pasangan yg mengesankan..
    Aaaaaaa rasanya pengen cepat2 berumah tangga dengan wonppa.. Kekeke~

    ahh.. Pasangan yg membuat cemburu.. T,T’
    Wonppa cepat lamar aku.. #plaak #ngarep
    Moga bayinya cepat lahir, anak laki2 yaa onnie, biar bisa maen dengan keponakanku.. Wkwk #ngayal

    Saeng agak sedikit geli bacanya, tapi juga ketagihan (?).. Emm, maksudnya geli baca karena kebanyakan skinshipp dan ketagihan krena wonppa masih sibuk syuting jdi blum bisa skinshipan (?).. #cemburuberat

    Teukyo kope d’bestlah.. Hyowon kopel pasti lebih d’best.. #ngarep #maksa
    *piss “V”
    yawdah segini ajj comentnya onn..
    Kritik kyknya ga ada cuman kebanyakan perasaan iri karena udah punya anak 2 tuh.. Kekeke xD

      • Ne, pengen cepat2 berumah tangga, tpi ortu ga ngizinin seung hyo punya suami superstar*padahal khan banyak duitnya tuh* #plak
        Nde, biarpun begitu cinta Seung Hyo dan Wonppa akan selalu abadi.. *tebarin kembang* #geje

        Jinjja??
        Saeng blum s4 baca,. Pengen baca tapi daging di dapur minta di sate, jdi ga s4 lgi.. Hehe xD
        ngemeng-ngemeng *ngomong2* Met Idul Adha Onnie..🙂
        hehe

  5. Onnie-a.. Kenapa kau jahat begitu pada teuki oppa..
    Benar2 pasangan yg mengesankan..
    Aaaaaaa rasanya pengen cepat2 berumah tangga dengan wonppa.. Kekeke~

    ahh.. Pasangan yg membuat cemburu.. T,T’
    Wonppa cepat lamar aku.. #plaak #ngarep
    Moga bayinya cepat lahir, anak laki2 yaa onnie*memang laki*, biar bisa maen dengan keponakanku.. Wkwk #ngayal

    Saeng agak sedikit geli bacanya, tapi juga ketagihan (?).. Emm, maksudnya geli baca karena kebanyakan skinshipp dan ketagihan krena wonppa masih sibuk syuting jdi blum bisa skinshipan (?).. #cemburuberat

    Teukyo kope d’bestlah.. Hyowon kopel pasti lebih d’best.. #ngarep #maksa
    *piss “V”
    yawdah segini ajj comentnya onn..
    Kritik kyknya ga ada cuman kebanyakan perasaan iri karena udah punya anak 2 tuh.. Kekeke xD

  6. Huaa pagi” dpt sms eh dri fika on..
    Ad ff bru.. Tpi g ad plza.. Hiks.. Tpi tenang udh blie huahahaha

    huaa on ini terusan ff yg masalh prostitus it y? Hua .. Dibuat deg”an agy ma nie ff.. C’ajussi cmburu bgt ya.. Tpi c’ajussi bgt ma jumma.. Ckckck

    n lee chaerin huaaa ak pen jmbak rmbut.a.. Nyebelin bgt th cewe.. Godain laki orng.. Iss nyebelin bgt th cwe..

    Akhir.a lahir jga anak.a teukyo.. Psti imut.a mirip ak ya on? Hehehe
    eh on ak pnasarn gmana cara ma reaksi chaerin waktu d.tngkep??
    Add lanjutn.a agy g on.. Demen ma ff yg bikin deg”an kya gini, n nie ff g gaje kok on.. Bgus malh feel.a dpt bgt ak iktan emosi baca.a.,

    oh iya on bt knapa?? Sabar on.. Ak jga agy stres dg tugas yg menumpuk.. N ak hrs brhubngan dg angka”.. huaa pusing..

    Ok yg trakhir d.tnggu karya on slanjut.a..
    HWAITING

    • ada yang nyampe feel nya? alhamdulillah…
      aku malah g banget ini ff… tapi udah terlanjur nulis ya udah…
      anaknya unyu banget… tapi aku lebih cinta sama ryu jin *plak*
      dan aku tergila-gila dengan kata ‘Jin’ entah kenapa…

  7. keren bnget onn. .
    Eunkyo slalu deh ya jdi pmecah msalah2 ini. .
    Chaerin sok gmana gtu, ga suka bgt dya dketim teukppa. .
    Aiya, nyuk kan udh punya istri. Istri.a kan aju ngpain d suruh nyari lg? Aku smpat ngira loh cherin bkalan sma nyuk, udh esmosi ni p’tma kali nyuk knalin chaerin. . Aku cemburu bgt nyuk p’hatian.a sma onnie. . Hihi
    awas ya onn, ga bleh t’pesona dgn suamiku. Msalah kehamilan knapa ga nanya aku, aku kan bidan *ga ada yg nanya*

    • buahahahahahahahahahaha, terima kasih syg…
      nah it dia, aku tau prosesnya ada pembukaan gtu kan? g scepat iitu prosesnya, mski ada juga yang cepat, tapi biasanya anak pertama itu sedikit susah kan ya? mengenai alat yang mendeteksi kontraksi itu, aku ga tau namanya, aku pernah liat di film perancis…
      trus, biasanya perangsang sekarang uadah g terlalu di pergunakan ya? cuma penghenti pendarahan kan ya? wahahahahahaha.

  8. fikaaaaaaaaa,,berani2nya mengusir oppaku,,
    ayo oppa plg kerumahku aja,,
    aku bantu oppa cari istri baru,

    fikaaa,,biarpun drimu blg ini ga da feelnya,,buat eonn ttep kerennnnn
    eonn cuma sedkit kcewa ga bisa menyaksikan chaerin babo itu menderita d penjra,,
    ngapain dia pake ngerayu2 oppa segala,,teuki itu cuma milikku* dilirik hyuki*

    eonn sma skali ga bhong,,buat eonn ini krennn,,,ga nyangka ternyta si chaerin yg ngelakuinnya,,jadi tertarik buat peran antagonis nih,,

    fikaa eonn suka pokoknya mah,,,kibum drimu kembali sayangggg,,dri kmaren aku memkirkanmu trus,,apa lgi wktu liat postermu di gath kmren,,kangeeennnn

    fika inetnya dah bisa ya,,,
    inet ku kembalilah,,,hiks hiks

    • habisnya lagi sebel onn, begini lah fika klo lagi bete, ga ada feelnya sama skali datar…
      onnie ah… tanyain chaerin lagi, ini teukyo onnie… biarin lah chaerin itu dia begimane nasibnya kaga usah dpikirin…
      hah?kpengen jd peran antagonis??

  9. I’m coming,,,,, hehehehhe,,,,,
    onn gak ada feel tapi bagus kok,,,,

    BTW,,,, itu cewekX chaerin truz onn ganti yang lain kek misx,,,, S_ R _,,,

    buahahahahha,,,,,

    ujung2X onni kwmbali lg ma tueppa,,,,

    kirain mo selingkuh,,,, plakkkkk,,,,

    blurrrrr first,,,,,

    • enak aja mau aku selingkuh…
      selingkuh bukan gayaku….
      aku wanita setia… sang penjaga hati…
      aku ingetnya cuman chaerin, kynya dia bakal jd peran antagonis mulu deh disini, udah di kontrak…
      klo yang lain tar aku lupa, km tau sendiri aku suka amnesia…

  10. fika eon astaga, hampir seharian aku bru sls bacanya, soalnya aku sambil blajar buat uts…wkwk

    Eoh ini lanjutan toh, suka sm ceritanya, aku udah dag dig dug aja tuh yg pas eunkyo d culik… Ahh…
    Tp aku pkir bkal ada cara pembebasan yg pke brantem dlu gtu eon ky yg pertama tuh cr kaburnya keren, ini sih udah bgs tp pas bagian penyelamatan eunkyo eon kurang dpt gregetnya gtu eon…hehe

    Tp untungnya eunkyo eon lahir dgn selamat.. Hehe

    • aku suda putus asa mikirin cara pembebasannya gimana, memang kurang greget, sampai hampir pingsan noh aku dalam leari… hey, si saya lagi hamil tua, masa iya aku lari-lari kaya dulu? kan udahdbilang Eunjung noh, kita tidak mungkin melakukan hal itu, maksudnya ga mungkin melarikan diri seperti dulu… aku sudah benar-benar putus asa ngelanjutinnya tapi sayang, aku udah banyak ngetiknya… endingnya aja gaje begitu…

  11. aigoo, eon drimu mah gk usah lari2 tp bkin teuk oppa yg mati2an nyelamatin drimu gtu eon…wkwk *kan romantis*
    Tp ini beneran keren kok tenang aja, trus aku suka tuh motif penjahatnya dpt bgt!!
    Eon dsn kurang skinship jg nih teukyo apa gra2 hamil nih? Wkwk
    Dan omg aku melupakan kibum yg dtng dr california, aigoo agioo welcome uri namja! Hahay

    • aku aja lupa motifnya apaan? balas dendam yah? buahahahahahaha.
      masa iya aku lagi hamil skinship2…
      menurut pengamatan saya, orang hamil itu sensitif… mengingat saya dan keluarga pernah digegerkan oleh orang hamil.
      kaka spupu aku sempat ilang magrib2…
      gara-gara sang suami sibuk ngerjain laporan di rumah, dia kepengen mie rebus, kaga dibeliin, eh dia beli sendiri ga bilang2, kabur gitu aja, lah kita semua kalang kabut, dianya datang2 muka cemberut ngambek, wahahahahahahaha, inget banget itu aku…
      padahal tinggal menghitung hari.

  12. alur ceritax trakhirx aja yg kurang dpt feelx..klo awalx dah ada feelx..agk binggung das pov kibum ma akhir crita akhirx yg lngsung ke persalinanx..hehehe..
    Dtunggu ff yg lainnx..:)

  13. anyeong…Q reader bru!!!asli gara2 bca ff-ff d sni jd mkir bwt cpt2 nkah ma yesung…LOL
    tp bner gra2 bca ff-ff yg nyritain after married jd pngen cpt2 nkah jg..ha..ha btw kpn nih update MLT….he..he

  14. anneyong reader baru ^^ Giyoon imnida. pernah baca ff Onnie yang di YFI, yang Love Like Last Bite. sekarang seneng banget ada sequelnya /:D\

    aku suka banget sama model cerita kayak gini! kayaknya ada rasa tersendiri gitu ya pas nebak-nebak dan nyocok2in petunjuknya. tapi sumpah deh ngga nyangka kalau Chaerin pelakunya -_-v kereeen Onnie tetep lanjutin ya bikin ff yang kayak gini😀

    • annyeong Giyoon~a.. bangapseumnida…
      terima kasih syg udah mampir…
      suka? aku yang susah bertapa dulu, buahahahahahahahaha
      terima kasih syg udah mampir…
      mungkin ada lg, tp bkn teukyo… tp g trlalu teka teki kaya gni…

  15. wooah…
    seriuuuss aku suka bangetttt…*gigit baju*plak
    sedih nya dapet, apalagi greget nyaa…
    yang aku heran yak, Jungso itu pake ajian apa siih, cew pada nemplok sama pas pandangan pertama.. wkwkwk xD

  16. Onnie aku suka bgd ma crtny sk ma konflikny sk ma smuanya eunkyo ma teukie bnr” psangn romantis nih jadi iri
    #lirik hyukjae
    Gk nyangka trnyta chaerin dalang dibalik smuany ksel bgd pas chaerin goda” teukie trnyta teukie kuat iman ia onnie wnita itu tdk bs mnglahkan pesonamu..
    #lirik onnie

  17. Lg nyri lanjtan yg LALB, ku bka blog eonn 22ny! Akhrny ktemu, yeay,,,,,, q liat postingan nov 2011 & skrang kkkkk q jga nyasar eonn bca ffmu yg d.YFI & ahrny mncri jejakmu smpai ksini😀
    Ga nysel dah q cri2 sequelny, puas bcanya n feelny dpet bnged! One word 4 u =>
    DAEBAK!!!!

  18. Untung Eunkyo melahirkan dengan selamat..
    Agak kesel jg ama Jungsoo, dekat2 ama Chaerin trus.. ckck..
    Gak nyangka Chaerin tuh ternyata biangnya..
    Benar2 Eunkyo dewa penyelamatnya Jungsoo dah..
    Klo gak ada Eunkyo mana bisa kasusnya terpecahkan.. wwkwk

  19. Aaaaaaa eonni!! Keren bangeettt, nggak ancur kok, sama sekali enggak!
    Awalnya aku lg bosen, trus keinget blog eonni. Eh taunya aku langsung semangat bacanya.
    Eonni emang pinter banget bikin cerita kayak giniT-T
    Aaaaaaaaa eonni, daebaaaakkk!:D

  20. Aaaaaaa…….. Knapa smw org ketiga DD antara teukyo harus cewek yg Ga tw malu????!!!! Mian eon klo agak kasar, trbawa esmosis saiia -__-v
    Tp salutttttt banget sm eun Kyo eonnie,.bs menghadapi mereka dgn tegar (?)
    Tp kesal juga sm Jung soo oppa, knapa Ga bs mengabaikan wanita2 itu????? -___-
    Aihhh,….

  21. deabakkkkkkkkk!!!kerennn onnie critanyaa..konflikknya jg bikin sesak nafas…haha
    tegang bgt bacanyaaa..
    untuk endingny sy ngerasa kyk dipercepatt..*piss🙂

  22. deabakkkkkkkkk!!!kerennn onnie
    critanyaa..konflikknya jg bikin
    sesak nafas…haha
    tegang bgt bacanyaaa..
    untuk endingny sy ngerasa kyk
    dipercepatt..*piss

  23. chaerin bener2 menjengkelkan,,,

    he he he daebak eon,,,, si Oppa bener2 panik dibuatnya,,,, xixixixixi 😀

    biar papok, tatain, tala tendiyi (kapok, rasain, salah sendiri) 😀

  24. eonni keren pake bgt, emang rasa’a mau cakar’ tuh muka’a chaerin *emosi huft untung’a kibum gag terlibat, coba aja eon sedikit di gambarin waktu chaerin ketangkep pasti seru hehehe tapi ff’a tetep keren eon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s