Colourfull of Love (#2)

Standar

CL

Kau tidak tahu, apa yang telah kau lakukan untukku.
Antara aku dan kau, aku merasakan getaran.
Tidak akan membiarkan seorang pun datang dan mengambil tempatmu.
karena cinta yang kau berikan tidak dapat diganti.
Tidak melihat orang lain mencintaiku seperti yang kau lakukan.
Itulah sebabnya aku tidak keberatan

untuk menghabiskan hidupku denganmu.
Ingin memberikanmu apa saja yang aku bisa.
Ingin berbagi duniaku.

Tidakkah kau mengerti?

(One in a Miliion – Aaliyah)

Teuki’s POV

Aku membawa gadis yang aku kenal beberapa menit yang lalu ini di dalam mobil. Tidak berusaha menanyakan dimana dia tinggal karena aku ingin bermain-main dengan ketakutannya sebentar, aku membawanya ke kantorku. Dia terlihat menoleh kekiri dan kanan memandangi jalanan yang kami lewati. Wajahnya terlihat lucu, benar-benar membuatku ingin menggodanya karena kepanikannya. Apa dia berpikir aku akan berbuat sesuatu padanya? Haha, sepertinya ini sangat menyenangkan, aku tidak mengeluarkan sepatah katapun dan dia juga tidak menanyakan apapun dari tadi setelah pembicaraan singkat kami. Dia mulai tenang dan pasrah, menyadarkan tubuhnya di kursi. Aku menghentikan mobilku tepat di depan pintu masuk gedung kantor. Aku turun dari mobil dan segera membukakan pintu untuknya, menarik tangannya agar mengikutiku. Dia hanya terdiam, aigoo pasrah sekali? Wajah polosnya terlaihat bingung karena dari tadi dia menoleh kesana kemari dan menganggukkan kepalanya jika berpapasan dengan orang lain. Aku memasuki lit dan memencet nomor lantai  kantorku. Pintu lift menutup dan hanya kami berdua di dalam lift, dia mengibaskan tangannya melepaskan genggamanku. Tanganku terasa nyaman menggenggam tangannya, ada kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhku.

“Lepaskan aku!” ujarnya ketus.

“Wae? Apa aku tidak boleh memegang tangan tunanganku sendiri?” ledekku padanya.

“Kau bukan tunanganku.” Jawabnya tak kalah ketus dari ucapannya tadi, wajahnya terlihat kesal.

“Jinjja~yo? Lalu kenapa kau mengatakan seperti itu?” aku menaikkan alisku menunggu jawabannya.

“Aku hanya ingin menghindari orang asing yang mencoba mengantarku, aku tidak suka orang asing.” Jawabnya sambil mengalihkan pandangannya dariku.

“Lalu kenapa kau mengatakan aku tunanganmu?”

“Karena hanya itu alasan yang ada di otakku!” serunya. Aigoo wajahnya, beribu ekspresi, dari mulai gugup, takut, kesal dan sekarang terlihat putus asa dengan keputusannya sendiri.

“Ah.. aku mengerti lalu mengapa memilihku sebagai pengalih perhatian?” tanyaku penasaran.

“Aku hanya asal bicara dan asal menghampiri orang.” Jawabnya lirih.

“Apa kau tidak berpikir jika kau telah memilih orang yang salah?”

“Aku sudah menyadarinya tapi kau memaksaku naik ke mobilmu!” dia menjaga jarak dariku.

“Kenapa kau mau?”

“Kau tidak ingat kau mengancamku?!”

“Apa  hubunganmu dengan Siwon? Setahuku dia tidak dekat dengan wanita manapun selain dengan sekretarisnya.”

“Tidak ada hubungan apa-apa,  aku juga baru bertemu dengannya tadi pagi.”

“Begitu?” dia mengangguk. Ada sebuah rasa lega menyeruak dalam dadaku, saat mendengar dia tidak ada hubungan apa-apa dengan Siwon.

“Lalu kenapa memilihku?” tanyaku penasaran, apa dia tertarik denganku? Haha, Park Jung Soo kau terlalu percaya diri.

“Apa maksudmu?” dia menatapku tajam.

“Mengapa tiba-tiba menoleh padaku dan langsung mengatakan kita sudah bertunangan?”

“Sudah aku katakan! Karena hanya itu yang alasan yang terlintas dalam otakku! Lagipula mana aku tau kau kenal dengan Siwon?”
“Kau dalam masalah Agasshi.”

“Nde?” dia membulatkan matanya.

“Karena aku benar-benar ingin kita bertunangan.” Aku mulai mendekatinya dan menggodanya dengan tatapanku.

“MWO?!” teriaknya.

“Haha, kau terlihat cantik jika sedang seperti itu.” Dia mengatupkan mulutnya dan mengerjapkan matanya dengan penuh pesona.

“Kau gila!” dia memukulku dengan tasnya. Tiba-tiba lift berhenti dan menimbulkan sedikit guncangan.

“OH!” dia terlihat kaget dan memegang lenganku sambil mengedarkan pandangannya bingung.

“Ada apa?” tanyanya panik.

“Sepertinya liftnya sedang ada kerusakan.”

“Mwo? Eottokhae?” dia masih panik dan masih mengedarkan pandangannya ke suluruh ruangan kurang lebih 2×2 meter itu.

“Sampai berapa lama? Apa tidak ada apa-apa?” suaranya bergetar menahan gugup.

“Mungkin sebentar saja.” Aku memandangi wajahnya yang panik. Begitu mempesona, Park Jung Soo, tidak mungkin kau menyukainya dalam hitungan menit kan? Tiba-tiba lampu lift mati. Gadis itu tiba-tiba memelukku dengan erat.

“Kya… ada apa lagi ini? Kenapa tiba-tiba lampunya mati?” tangannya erat mencengkram punggungku. Tidak ada jarak sepersekian milipun antara aku dengan dirinya. Aku bisa merasakan dadanya kembang kempis menahan detak jantung yang tiba-tiba meningkat.

“Sampai berapa lama ini?” suaranya semakin lemah dan bergetar.

“Aku juga tidak tau.”

“Jung Soo~ssi.. aku takut gelap.” Ucapnya lirih, tubuhnya bergetar dalam pelukanku. Nafasnya berat menerpa leherku, menimbulkan getaran-getaran halus yang mulai tercipta dalam tubuhku. Aku balas memeluk tubuhnya, sambil mengelus rambutnya yang digulung keatas seadanya.

“Kau menangis?” aku merasakan baju yang berada didalam jasku mulai basah.

“Aku sulit bernafas jika dalam keadaan gelap.”

“Lalu harus bagaimana?” tanyaku bingung, aku memencet tombol darurat, aku harap keadaan ini segera normal. Tubuhnya semakin lemas dalam pelukanku.

“Gwaechana?” tanyaku cemas. Aku gugup, takut terjadi apa-apa padanya karena cengkramannya berubah lemah di punggungku.

“Eun Kyo~ssi?” aku mrngguncang tubuhnya, dia tidak menjawab. Aku meraba kantongku dan meraih ponselku, menyalakannya agar ada sedikit cahaya yang bisa kami lihat. Dia terisak, tubuhnya bergetar.

“Kenapa tidak dari tadi?” dia memukul dadaku pelan, dan mulai menangis, melepaskan pelukannya.

“Ya… jangan menagis, sudah ada cahaya yang bisa kau lihat kan?” dia mengusap airmatanya.

“Sedikit lagi kau terlambat, aku akan benar-benar pingsan.” Jawabnya lirih.

“Apa separah itu? Kau ini seperti anak kecil saja.” Kembali dia memukulku. Aku mematikan ponselku.

“Yak! Jangan dimatikan!” teriaknya. Dia kembali mendekat padaku.

“Berhenti memukulku maka akan aku nyalakan.” Ancamku.

“Arasseo.” Jawabnya pasrah. Kami duduk dilantai tanpa berbicara apapun. Kenapa kerusakan ini lama? Aku akan pecat orang yang memperbaiki ini! Aku melirik wajah gadis yang ada disampingku. Memperhatikan setiap garis wajahnya. Sederhana, bukan sederhana, biasa tapi mempesona. Aku jadi berpikir Siwon menyukainya. Sebentar, dia bilang tidak suka orang asing, tapi denganku? Megapa tidak menolakku? Bukankah kami posisinya juga sebagai orang asing? Park Jung Soo jangan terlalu percaya diri bahwa ini takdir.

Jina’s POV

Aku masih memikirkan pertemuanku dengan seorang lelaki tadi malam. Apa? Apa yang mereka katakan? Bertunangan? Menikah? Yang benar saja! Aku baru bertemu dengannya tadi malam, dan apa-apaan itu dia menerima semua keputusan orang tua kami? Hah! Tapi mengapa aku juga tidak bisa mengatakan ‘tidak’? mungkinkah aku juga menginginkannya? Tidak mungkin! Bagaimana dengan Sungmin Oppa? Tidak mungkin aku menyakitinya, orang yang selama ini menghiasi hariku penuh warna. Tapi, tapi mengapa aku hanya mengangguk saja? Seolah terpesona dengan lelaki yang ada dihadapanku. Baiklah, aku akui dia memang menawan dengan matanya yang mampu membiusku. Apa dia seorang ahli hipnotis? Hanya dengan melihat matanya saja aku bisa mengatakan iya? Tidak mungkin, dia bahkan tidak banyak melihatku meski terkadang aku merasa dia melirik kearahku. Aku berguling-guling kesana kemari penuh kebingungan diatas tempat tidur. Apa-apaan ini Park Jina? Menikah? Aku tidak pernah memikirkan ini bersama Sungmin Oppa, apa aku tidak ingin menikah dengannya? Andwae! Aku sudah beberapa tahun mengenalnya, tapi mengapa tidak ada terlintas sedikitpun memikirkan tentang pernikahan?

“Jina~ya? Kau sudah bangun?” suara Eomma dari luar menyapaku.

“Ne, Eomma.” Jawabku malas.

“Kau harus bekerja, kau lupa?” tanya Eomma.

“Ye, sebentar lagi.” Sahutku. Aku berjalan menuju kamar mandi. Mandi dan bersiap-siap untuk bekerja.

***

Aku berjalan menuju ruanganku. Pikiranku melayang dan terus memikirkan kejadian tadi malam, tanpa sadar aku melewati ruanganku dan menyebabkan orang-orang yang melihatku menjadi bingung, aku berbalik dan membungkukkan badanku lalu memasuk ruanganku. Setelah berada didalam ruanganku, aku tersenyum sendiri, bodohnya aku! Aku membuka semua gorden yang yang ada di ruanganku, berharap ada pemandangan yang bisa aku lihat untuk mengusir bimbangku. Aku duduk di meja sambil memperhatikan pemandangan diluar kaca, sebenarnya tidak ada yang dilihat, aku hanya memperluas jarak pandangku. Bagaimana ini? Bagaimana dengan Sungmin Oppa? Apa aku harus mengatakan padanya?

“Tidak mungkin! Tidak mungkin!” aku menggelengkan kepalaku.

“Aku tidak mungkin mengatakannya.” Aku menggumam pada diriku sendiri. Ditengah kekalutanku tiba-tiba ponselku berbunyi.

“Yeoboseyo? Oppa?” jawabku malas.

“Jadi makan siang seperti biasa?”

“Ne, Oppa.” Jawabku lemah.

“Wae? Kau sedang sibuk?”

“Ani, tunggu aku Oppa, mungkin ak sedikit terlambat.” Pintaku.

“Sejak kapan kau pernah menepati janjimu?” tanyanya. Haha, aku memang selalu terlambat.

“Benar juga, aku tidak pernah menepati janjiku. Mianhae.” Sesalku.

“Gwaenchana.. Aish! Aku hanya bercanda. Baiklah aku tunggu saat makan siang.” Dia memutuskan sambungan. Aku memandangi layar ponselku.

“Mianhae Oppa, aku tidak pernah menepati janji, benar-benar tidak bisa menepati janjiku. Aku harus menepati janjiku pada orang tuaku.” Aku berkata pada ponsel ynag telah diputuskannya, seolah benda itu dapat menyampaikan yang aku ucapkan.

Aku tidak bisa berbuat apa-apa kali ini. Kubiarkan semua berkas yang menumpuk dimejaku tanpa kusentuh sedikitpun. Aku hanya memandanginya. Aku memikirkan bagaiman denga Sungmin Oppa? Apa aku harus mengatakannya? Ini yang dari tadi aku pikirkan, aku takut menyakitinya meski aku tau ini pasti menyakitinya. Tanpa terasa aku menghabiskan waktu terlewati tanpa melakukan apa-apa dan tidak memutuskan apapun, waktu makan siang telah tiba. Aku segera menyambar tasku dan berlari ke luar ruangan menuju Kafe di seberang jalan, tempatku biasa menghabiskan istirahat makan siang dengan Sungmin Oppa. Aku melihatnnya sudah menungguku.

“Sudah lama Oppa?” tanyaku sambil menarik kursi dihadapannya. Duduk dengan manis. Pelayan menghampiriku.

“Aku pesan seperti biasa.” Jawabku. Aku tidak banyak bicara hari ini. Aku benar-benar bingung harus berkata kali ini. Aku yang biasa berceloteh tanpa henti kali ini terdiam seribu bahasa. Bibirku bungkam, ingin sekali aku mengatakan sesuatu. Mengapa tiba-tiba bibirku kelu? Tak dapat berbicara sedikitpun? Apa yang harus aku lakukan? Sampai pelayan mengantarkan pesananku, aku masih membisu.

“Gwaenchana?” tanya Sungmin Oppa sambil menyuap makanan ke mulutnya.

“ye.” Sahutku. Sungmin Oppa terus memandangiku, dan aku berusaha menghindari kontak mata dengannya, karena jika dia menanyakan ada apa, aku benar-benar tidak bisa berbohong.

“Jina~ya, kau sakit?” tanyanya. Aku menggeleng.

“Lalu ada apa?” akhirnya pertanyaan yang aku takutkan keluar juga.

“Oppa…” aku menatap matanya, dia berhenti melakukan kegiatannya menyuap nasi.

“Aku akan menikah.” Kini dia melepaskan sendok dan garpu dari tangannya. Aku tau dia kecewa.

“Aku akan menikah.” Tegasku, juga untuk menegaskan diriku sendiri.

“Aku akan menikah.” Aku mengatakannya berkali-kali, hampir membobol pertahanan airmataku, sebelum itu terjadi Sungmin Oppa berdiri dan meletakkan beberapa lembar uang lalu menarikku dan menggandeng tanganku dengan lembut.

“Jangan bicara disini.” Dia berbisik di telingaku. Aku mengikutinya, kamu menuju sebuah bangku di bawah sebuah pohon, jarang dilalui orang, duduk disana dan terdiam beberapa saat.

“Aku sudah menduga semua ini pasti akan terjadi.” Ucapnya lirih.

“Mianhae.” Aku menunduk.

“Sudahlah, tidak ada gunanya kita meratapi, aku sudah mengantisipasi hatiku, tapi… rasanya tetap sakit, namun aku berusaha menerimanya. Aku tau kau tidak bisa membantah.” Terang Sungmin Oppa. Aku semakin terisak, tubuhku bergetar. Dia merangkulku. Ini salah, seharusnya aku yang menenangkannya, bukan sebaliknya. Aku menatap mata Sungmin Oppa, dia tersenyum penuh ketulusan. ‘terbuat dari apa dia diciptakan hingga bisa hatinya sesempurna ini? Dan aku, aku orang yang jahat membiarkan orang yang ada dihadapanku ini terluka karenaku.’ Aku melihat sorot kesedihan dimatanya, namun senyum tulus yang mengembang di bibirnya.

“Oppa, kau tidak marah padaku?” tanyaku padanya. Dia menggeleng.

“Aku tidak bisa marah padamu, karena ini memang jalan yang harus kita jalani.” Aku memeluknya.

“Aku ingin marah padamu, tapi tidak bisa. Aku tidak ingin melihatmu menangis seperti ini, berjanjilah padaku. Aku lebih senang mendengarmu berbicara hingga memekakkan telingaku ketimbang harus melihat airmatamu.”

“Oppa….” aku memeluknya. Ya Tuhan, tidak mungkin aku menyakitinya, tapi pada kenyataannya aku memang menyakitinya.

“Jam berapa sekarang?” tanyanya.

“Waktu makan siang sudah habis.” Jawabku.

“Aku harus kembali, kuantarkan kau.” Sungmin Oppa menarik tanganku, namun aku menahannya.

“Aku masih ingin disini, bersamamu.” Sahutku.

“Jina~ya, Oppa harus kembali bekerja.” Tolaknya.

“Hari ini saja…” aku merengek padanya. Berharap dia mau menemaniku.

“Tapi kan kau tidak akan menikah besok, besok kita masih bisa bertemu.”

“Aku ingin disini! Bersamamu!” teriakku. Dia terlihat bingung namun akhirnya kembali duduk disampingku. Aku menyadarkan kepalaku dibahunya.

“Oppa, mianhae.”

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, karena tidak ada yang salah.” Dia membelai rambutku. Kehangatan ini yang akan aku rindukan nantinya jika aku menikah.

Donghae’s POV

Kegiatan pagiku kini bertambah, menunggunya datang. Aku masih duduk dikursiku masih memandang kearah kaca luar, menunggu pemandangan itu. Beberapa saat aku menunggu, akhirnya datang juga. Dia terlihat manis pagi ini, menggunakan pakaian santai ke kantornya, membuatnya terlihat sangat manis, rambut di ikat ke samping dan poni dijepit degan pita manis, sangat manis. Dia baju bermotif bunga kecil berwarna merah, duduk di mejanya sambil memperhatikan semua berkas yang ada di hadapannya. Aku mendekati kaca agar bisa melihatnya dengan jelas. Terkadang dia menggelelng sendiri, mengacak rambutnya dengan lucu, menggigit bibir, begitu mempesona, aku ketagihan memandangnya. Dia tidak bisa melihatku karena ruanganku 3 lantai diatasnya. Dengannya aku akan menikah. Rasanya begitu lama menunggu waktu itu terjadi. Tapi ada yang aneh dengannya hari ini, dia tidak menyentuh berkas itu satu lembarpun, duduk dengan posisi yang sama. Apa yang sedang dipikirkannya? Sampai hampir tiba waktu makan, dia masih tidak bergeming dari tempat duduk. Sekarang dia terlihat sedang menelepon. Aku meninggalkannya dan keluar dari ruanganku.

“Sungmin~ah, dimana tempat makan siang menurutmu enak?” tanyaku pada Sungmin, asistenku mulai hari ini.

“Ah, diseberang gedung ini, biasanya saya makan disana.”

“Begitu?” tanyaku.

“Ye.” Sahutnya sambil kembali bekerja.

“Aku mau keluar sebentar.”

“Ye.” Aku meninggalkannya yang masih sibuk bekerja tanpa memperdulikanku. Aku melangkah, namun aku berhenti, dan menoleh padanya.

“Jika ada yang mencariku, jika penting tolong telpon aku, dan batalkan semua rapat hari.” Pintaku padany.

“Ye.” Jawabnya sambil menundukkan kepala.

Aku berjalan menyusuri jalanan kota.Bisa dikatakan aku bolos bekerja hari ini. Aku ingin melihat-lihat kota ini, apa saja keindahan yang terdapat didalamnya, apa bisa lebih indah dari pemandangan diatas gedung tempatku bekerja? Aku tersenyum membayangkan wajah gadis itu  pagi ini. Aku berhenti disebuah kafe, kafe itu menari perhatianku, sederhana namun nyaman, terlihat elegan tapi tidak meninggalakn kesan sederhananya, sangat. Lama aku memandang kafe itu dan akhirnya memutuskan untuk turun.

Aku memasuki ruangan yang tidak bisa dikatakan besar itu. Klasik, itu yang pertama kali aku tangkap dari bangunan itu. Pintunya dilengkapi dengan sebuah loncong yang berbunyi saat dibuka. Terbuat dari kayu tersusun. Aku menyukainya. Saat memasuki ruangan itu, lukisan terpampang secara acak namun terlihat rapi, artistik. Meja dan kursi terbuat dari anyaman rotan, smua perabotan juga hampir semuanya alami.

“Annyeonghaseyo, silakan duduk.” Seseorang menyapaku sambil menunduk hormat, aku membalasnya.

“Sepi sekali.” Komentarku.

“Ah, iya, disini biasanya ramai saat sore.” Sahutnya. Aku menarik sebuah kursi dipojok di dekat jendela, memandang kearah luar.

“Pesan apa Tuan?”

“Aku mau minum secangkir cofe latte saja.” Pintaku tanpa memandang wajahnya. Kina mataku tertuju pada seseorang dibawah pohon sedang menyapukan kuasnya disebuah kanvas. Mukanya serius memainkan tangannya, matanya sangat jeli dan tajam memperhatikan hasil karyanya. Aku tertegun sejenak, sepertinya aku mengenal wajah gadis itu, tapi dimana? Aku terus memperhatikannya.

“Ini pesanan Anda.”sebuah suara membuyarkan konsentrasiku mengingat.

“Tunggu.” Pelayan itu berhenti dan berbalik.

“Siapa yang ada dibawah pohon itu?” tanyaku padanya, matanya menyipit memperhatikan orang yang aku tunjuk.

“Ah, itu, dia adik pemilik Kafe ini.” Jawabnya, aku memandangnya berkerut dahi.

“Dia sangat suka melukis jika ada waktu luang. Semua lukisan ini sebagian besar adalah lukisannya, dan juga lukisan Appa.”

“Begitu?” dia mengangguk. Aku menyeruput kopi yang dihidangkannya, membawanya dan berjalan mengelilingi ruangan yang dipenuhi dengan lukisan, memperhatikannya satu persatu.

“Lukisan ini dijual?” aku menunjuk pada sebuah lukisan yang tergantung disana. Lukisan abstark sebuah bunga.

“Tanyakan sendiri pada pemiliknya. Biasanya memang dijual jika dipajang disini.” Sahut pelayan itu lalu kembali ke dapur. Aku memperhatikan gadis yang sejak tadi sudah asik dengan kegiatannya. Aku keluar dan bermaksud menghampirinya. Namun aku berhenti saat melihat sesuatu ditangannya. Tangan itu, balutan itu, dia gadis yang au tabrak tadi malam. Aish! Mengapa aku sampai lupa? Padahal aku mengantarnya tadi malam.

“Asik sekali.” Dia menoleh padaku saat aku berada tepat dibelakangnya.

“Ah, ye.” Jawabnya.

“Bagaimana tangamu? Masih sakit? Terganggu?” tanyaku.

“Aku baik-baik saja, memang sedikit mengganggu tapi tidak masalah.” Jawabnya.

“Kau suka melukis?”

“Begitulah kira-kira.”

“Lukisan yang di dalam dijual?”

“Hem.” Sahutnya, sepertinya dia masih berkonsentrasi.

“Aku menggagnggumu?”

“Sedikit.” Sahutnya jujur.

“Kalau begitu aku pulang saja dulu, nanti sore aku akan kembali, lukisan bunga, nomor 9 yang tergantung dekat meja kasir.” Sahutku.

“Ye, nanti saat Onnie datang, kau bicara dengannya saja.”

“Baiklah, jangan dijual pada siapapun, aku pasti membelinya dan akan kembali secepatnya.”

“Onnie akan pulang menjelang malam.” Balasnya, kami saling berteriak karena aku berbicara sambil melangkah meninggalaknnya.

Aku meninggalkan tempat itu setelah membayar minuman yang aku minum. Memperhatikan jalanan kota yang sudah mulai ramai karena makan siang sudah tiba, perutku jadi keroncongan minta diisi. Aku teringat tempat yang disarankan oleh Sungmin. Aku berhenti tepat di depan tempat itu. Masuk kedalam tempat itu dan seperti biasa, aku mengambil tempat dipojok, karena kadang aku suka memperhatikan orang.  Mataku kini tertuju pada sebuah meja. Sungmin? Dengan seseorang, seseorang yang aku kenal, Park Jina. Mereka tidak melihatku karena aku rasa mereka berbicara dengan serius, tak berapa lama, Sungmin membawa Jina dan merangkulnya, membisikkan sesuatu padanya. Rasanya dadaku bergemuruh seketika, ada perasaan aneh menyelusup dalam sanubariku, entah apa itu, aku juga tidak mengerti, aku mengekori mereka dengan mataku, mereka masih tidak menyadari kehadiranku, mungkin mereka terlalu serius. Duduk di bangku yang ada dibawah pohon diseberang jalan, aku masih bisa melihat mereka, terlibat adalam pembicaraan serius. Jina sepertinya menangis. Ada apa dengan mereka? Ada sebuah hubungan? Apa ini berhubungan dengan rencana pernikahanku? Mengapa aku merasa tidak rela mereka mempunyai hubungan? Heh? Benarkah aku menyukai Jina? Sejak kapan? Dan aku merebut kekasih asistenku sendiri? Bukan! Bukan merebut, karena aku tidak pernah memaksanya. Aku meraih ponselku dan memecet sebuah nomor.

“Yeoboseyo?” sapaku dingin.

“Appa, aku ingin rencana pernikahannya dilaksanakan secepatnya.” Ucapku dingin. Aku menutup sambungan dan segera kembali ke tempatku bekerja. Melangkah dengan pasti. Park Jina, aku akan menunjukkan padamu, siapa aku sebenarnya.

Kyuhyun’s POV

Aku melihat gadis yang ditunjukkan Siwon Hyung melalui foto itu ada dihadapanku saat aku akan pulang dari kantor. Tap mengapa dia bersama Teuki Hyung? Eh? Apa mereka sudah saling mengenal? Aku terus mengikutinya, dia keluar bersama Teuki Hyun ke kantornya, untuk apa? Aku menunggunya beberapa lama. Tidak juga keluar, akhirnya aku memutuskan untuk kembali, baiklah, aku lanjutkan besok saja.

***

Aku mendatangi alamat yang aku dapat kartu nama gadis itu. Yaish! Kenapa aku mau dengan rencana konyol Hyung seperti ini? Aku seperti orang bodoh mengikuti gadis ini, dan menungguya keluar dari rumahnya. House Cafe, begitu dia menamainya, lumayan, disini teduh. Aku juga suka. Tidak beberapa lama dia keluar, ternyata dia cantik juga, aku memperhatikannya. Begini tipe Siwon Hyung? Haha, lumayan, tapi tetap tidak bisa mengalahkan Nanhee. Dia gadis yang sangat menarik, Nanhee maksudku. Sikapnya yang sedikit angkuh dan penuh percaya diri, itu yang membuatku tertarik padanya. Sedang gadis ini? Dia biasa saja, namun menurutku dia punya aura positif yang menyenangkan, Siwon Hyung tidak memperdulikan status sosial, karena dia tidak butuh itu kurasa, dia punya segalanya dan yang dia butuhkan hanya seorang pendamping. Saat gadis itu sudah pergi, aku turun dari mobilku, dan memasuki Kafe itu.

“Annyeonghaseyo.” Seseorang menyapaku sopang, aku membungkuk membalas sapaannya.

“Silakan duduk.” Orang itu menarik kursi untukku.

“Tunggu, aku ingin bertanya padamu.”

“Ye?” sahutnya.

“Apa ini benar rumah Park Eun Kyo?”

“Ye. Dia pemilik semua ini.” Aku memperhatikan sekelilingku. Sangat artistik, aku rasa Nanhee tidak salah merekomendasikannya. Aku tersenyum memperhatikan tata letak ruangnya dan lukisan yang tergantung di dinding.

“Dia sudah menikah?”

“Nde? Menikah? Wahahahahaha, jangankan menikah, dia saja tidak mempunyai seorang teman priapun yang akrab selain aku.” Jawabnya.

“Jinjja~yo?” tanyaku memancing.

“Eo, dia bilang hanya akan menikah jika adik kesayangannya sudah lulus kuliah.”

“Adik?”

“Eo, dia mempunyai seorang adik, kuliah jurusan arsitek.”

“Lalu, kau?”

“Aku? Aku disini juga adiknya, setidaknya dia menganggapku begitu meskipun aku tidak menganggapnya begitu.”

“Hem?” tanyaku bingung.

“Aku anak angkat disini.” Jawabnya sambil membersihkan meja dihadapannya.

“Lalu apa Eun Kyo dekat seseorang?”

“Dekat?seyahuku tidak, dia sudah berjanji dengan dirinya sendiri, aku rasa dia seorang yang menepati janji.” Jawabnya. Dia langsung menutup mulutnya.

“Yak! Kenapa aku menceritakan semua ini padamu?” tanyanya bingung, aku juga ikut mengangkat alis.

“Aish! Kebiasaan jika membicarakan tentangnya.” Dia memukul sendiri mulutnya. Aku masih meperhatikan beberapa lukisan yang tergantung, berjalan, selangkah demi selangkah, tanganku kumasukkan dalam saku celana. Lumayan juga, aku rasa nilai jualnya juga lumayan.

***

“Hyung, aku sudah dapat kabar.” Aku menelepon Siwon Hyung.

“Kabar apa?” jawabnya.

“Sebentar lagi aku sampai, maaf Hyung, aku terlambat.” Aku menutup ponselku dan segera menginjak pedal gas dengan kencang.

Sesampainya dikantor, aku segera menuju ruangannya. Berpapasan dengan Nanhee dan dia terlihat bigung. Aku segera masuk.

“Hyung, dia belum punya kekasih, kau punya kesempatan.” Ucapku segera setelah mendapatinya duduk di kursinya seperti biasa. Dia tidak menggubrisku.

“Kau tidak senang?” tanyaku. Dia hanya diam dan menghembuskan nafasnya, melepas kecamatanya.

“Dia suda bertunangan.” Jawabnya singkat namun mampu membuatku tercengang.

“Nde?!” aku tidak percaya.

“Dia sudah bertunangan, dengan Teuki Hyung.”

“MWO?!” aku semakin tidak percaya.

“Tapi aku sudah menyelidikinya, dia masih sendiri, dia hanya akan menikah jika adiknya sudah lulus kuliah.” Terangku meyakinkannya.

“Dari mana kau dapat berita semacam itu?”

“Aku baru saja dari rumahnya, orang rumahnya mengatakan seperti itu.”

“Dia mengatakan sendiri padaku.”

“Mworago~yo?!”

“Ne, dia dijemput Teuki Hyung.”

“Ye?” aku masih bingung, masih tidak percaya. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin orang tadi membohongiku? Ah, aku tidak mau ambil pusing, tapi melihatnya seperti itu sepertinya Hyung baik-baik saja. Aku meninggalkannya yang memang dari tadi tidak terlalu antusias dan terkesan dingin.

***

Makan siang bersamanya lagi, tanpa suara, tapi kami memang entah sadar atau tidak selalu memilih meja yang sama, tidak ada penolakan darinya, aku juga tidak masalah. Hanya satu, kami jarang bicara. Dia memakan makanannya dengan sangat elegan dimataku. Aku memperhatikan makannya.

“Mengapa memandangku seperti itu?” tembaknya. Shit! Ternyata matanya jeli juga.

“Tidak ada yang memandangmu, kau percaya diri sekali.” Jawabku tak mau kalah.

“Begitu? Kalau begitu aku sudah selesai, aku duluan.” Jawabnya sambil pergi meninggalkanku. Susah sekali mendekatinya, apa tidak ada celah sedikitpun selai Siwon Hyung dihatinya? Sudah tau Siwon tidak menyukainya. Aku menyelesaikan makanku dengan cepat lalu menyusulnya.

“Hey, tunggu, aku ingin bertanya padamu.” Dia tidak memperdulikan aku.

“Ini tentang temanmu, Park Eun Kyo.” Dia langsung berhenti dan berbalik padaku.

“Ada apa dengannya?” tanyanya. Assa! Pancinganku berhasil. Apa kau akan berhenti mengejarnya jika aku memberitahumubahwa Siwon Hyung menyukainya?

“Apa dia akan menikah?” dia mengerutkan dahinya.

“Maksudku apa dia sudah mempunyai kekasih?” tanyaku lebih jelas. Dia semakin bingung.

“Apa maksudmu?”

“Aku ingin menanyakan apa Eun Kyo mempunyai kekasih dan apa benar dia sudah bertunangan? Dia akan menikah?” tanyaku.

“Mwo?” dia terkejut.

“Yang aku dengar seperti itu.”

“Siapa yang mengatakan seperti itu?” matanya menyipit.

“Siwon Hyung yang mengatakan seperti itu.” aku menjajari langkahnya.

“Lalu apa hubungannya denganmu?” tanyanya dengan nada dingin, dia memajukan langkahnya beberapa langkah dariku. Aku berhenti.

“Siwon Hung menyukainya.” Teriakku. Dia berhenti sejenak namun beberapa detik kemudian dia melanjutkan langkahnya.

Lee Nanhee, permainan sebenarnya baru di mulai, bersiaplah!

Nanhee’s POV

“Siwon Hyung menyukainya.” Seru Kyuhun. Aku sangat terkejut? Apa? Siwon menyukainya? Benarkah? Bohong! Pasti bohong! Dia tidak pernah menyukai siapapun, aku tau itu, aku bisa memastikan itu. Aku melanjutkan langkahku dan berjalan menuju mejaku. Rasanya ada ribuan jarum menusuk dadaku. Andwae! Maldo andwae. Aku  masih mempuyai kesempatan, benar kan Lee Nanhee, kau pasti masih punya kesempatan.

“Jagi..” suara itu. Aku tidak menjawabnya.

“Bossmu ada di dalam?” tanyanya.

“Ye.” Jawabku malas. Dia mengetuk pintu, terdengar suara dari dalam mempersilakannya masuk. Ayolah Lee Nanhee, dia saudaramu, seperti saudara, kau tidak perlu cemburu padanya. Belum tentu dia menyukai Siwon kan? Tapi bagaimana jika dia ternyata menyukainya? Mati kau Lee Nanhee, pupus sudah harapanmu. Aku menunggu dengan was-was, mengapa Eun Kyo lama sekali di dalam? Apa yang mereka bicarakan?

“Melamun saja.” Aku tersentak oleh sebuah suara.

“Cish..” desisku. Orang itu, siapa lagi kalau bukan Cho Kyuhyun.

“Penasaran apa yang mereka bicarakan?” tanyanya dengan wajah jahil sedunianya, senyum sumringah terpampang jelas diwajahnya. Yak! Cho Kyuhyun, berhenti meledekku!

“Mau aku bantu untuk menguping?” tanyanya, aku tidak menanggapinya. Kyuhyun terlihat menempel pada daun pintu. Yak! Apa dia benar-benar menguping pembicaraan mereka? Sepertinya memang begitu.

Aku tidak terlalu  memperdulikannya. Bukannya aku yang banyak andil dalam hal ini? Aku yang mengenalkan Eun Kyo padanya? Kau bodoh Lee Nanhee. Dan aku tidak seharusnya menyalahkan Eun Kyo? Menyalahkan? Aku tidak menyalahkannya, hanya saja aku sedikit kesal padanya, mengapa harus dia orangnya? Mengapa bukan aku? Aku yang lebih dulu dan lebih lama mengenalnya. Harusnya dia jatuh cinta padaku, bukan pada sahabatku sendiri yang baru dikenalnya beberapa hari.

“Yakin tidak mau menguping?” tawar Kyuhyun, aku menoleh padanya. Aku juga dilema antara gengsi dan penasaran.

“Sepertinya mereka membicarakan…”

“Memangnya terdengar sampai ke pintu?” tanyaku akhirnya.

“Jelas sekali.” Aku beranjak dari kursiku dan mengikutinya menempelkan telingaku ke pintu.

“Mana? Tidak terdengar sama sekali.” Protesku.

“Sebelah sini.” Di memberikan ruang untukku. Aku kembali menempelkan telingaku di pintu. Kyuhyun berdiri di belakangku. Nafasnya menerpa tengkukku, begitu dekat dia denganku.

“Tidak terdengar apapun.” Aku masih protes. Aku manabraknya, tubuhnya tepat berada di depanku. Aku terpaku sejenak, belun pernah aku sedekat ini dengannya. Aku menjadi gugup. Ada yang berdesir dalam tubuhku.

“Coba dengar sekali lagi.” Dia membalikkan tubuhku. Aku menurutinya, kali ini aku menurutinya, entah kenapa. Aku kembali menempelkan telingaku, dia mengikutiku menguping, tubuh kami menempel satu sama lain. Aku jadi begitu gugup. Tiba-tiba pintu terbuka dan aku juga Kyuhyun tersungkur kedepan, terjatuh. Kyuhyun menindih tubuhku, aku benar-benar mati kali ini, posisinya sangat memalukan. Siwon dan Eun Kyo terbelalak dan menganga melihat kami.

“Yak, kalian berdua, jika mau berbuat mesum jangan disini.” Ucap Siwon.

Kyuhyun tepat berada diatas tubuhku. Mata kami saling beradu, tidak memperdulikan perkataan Siwon, aku dan dia masih betah dengan posisi seperti ini beberapa detik.

“Nanhee~ah, gwaenchana?” suara Eun Kyo membuyarkan lamunanku. Kyuhyun bangkit, dan berlalu begitu saja. Aku berdiri dibantu Eun Kyo, ku kibas rokku.

“Kau kenapa?’ tanya Eun Kyo.

“Ani, tidak apa-apa.” Jawabku gugup.

“Lalu tadi?” dia menunjukk Kyuhyun.

“Itu bukan apa-apa, lupakan saja.” Aku mengusap wajah Eun Kyo.

“Apa yang kau bicarakan tadi?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Tadi? Kapan?” tanyanya bingugn, aku memukul pelan kepalanya.

“Baru saja kau keluar dari ruangan itu, apa yang kau bicarakan?” tanyaku, dia tersenyum.

“Oh, itu, aku hanya membicarakan kontrak, sepertinya aku tidak masalah.” Jawabnay santai.

“Eun Kyo~ssi, pembicaraan kita belum selesai, kita lanjutkan saat makan siang, aku tunggu kau di bawah.” Siwon memerintah Eun Kyo. Eun Kyo hanya mengangguk, hey, apa dia lupa, Siwon incaranku? Tidak mungkin dia tidak tau, Jina pasti mengatakannya, gadis ember itu pasti sudah menceritakannya.

“Oh, baiklah.” Sahut Eun Kyo, sepertinya dia antusias. Aku menatapnya kesal. Aku kembali duduk di kursiku dan menatap layar monitor.

“Kau cemburu?” tanya sebuah suara.

“Siapa yang cemburu?” tanyaku ketus.

“Kau.”

“Pada siapa?” tanyaku acuh.

“Kau cemburu pada Siwon kan?” tanyanya dengan nada mengejek.

“Untuk apa aku cemburu?” nadaku sinis.

“Akui saja Lee Nanhee, kau memang cemburu kan?” tanyanya.

“Cerewet.” Sahutku.

“Berarti benarkan?” tanyanya sambil mendekatkan wajahnya padaku.

“Cho Kyuhyun, berhentilah mengganggu hidupku! Urus urusanmu sendiri!” aku meneriakinya. Aku benar-benar kesal dengannya, bisakah dia tidak mengurusiku?

“Ugh, pemarah sekali.” Dia meninggalkanku. Benar-benar menyebalkan!

Aku mencoba mengalihkan rasa kesalku dengan mengerjakan pekerjaanku. Berkali-kali aku melakukan kesalahan. Aku tidak bisa okus dengan pekerjaanku. Setelah tadi memikirkan apa yang mereka bicarakan di dalam ruangan Siwon, kini aku memikirkan apa yang mereka bicarakan saat makan siang yang terlambat.

“Masih memikirkan mereka?” sebuah suara menggangguku lagi.

“Yak! Apa kau tidka punya pekerjaan selain menggangguku? Hah?!” bentakku nyaring, kini aku tidak peduli lagi takut ada yang mendengarnya karena aku begitu kesal padanya.

“Ice cream?” tawarnya tanpa memperdulikanku yang sedang marah padanya. Aku menatapnya, dia menungguku untuk mengambil ice cream itu dari tangannya.

“Hem?” dia menyodorkanku sebuah ice cream. Aku melihat ketulusan dari matanya, setelah lama berpikir dan mempertimbangkannya, akhirnya aku mengambilnya dan segera memakannya. Lumayan mendinginkan otakku yang hampir hangus terbakar.

“Gomapseumnida.” Ucapku padanya.

“Kau lebih manis jika tidak marah.” Balasnya.

Cho Kyuhyun aku tidak ingi bertengkar hari ini, tapi besok, kau tidak akan lepas dariku!

Author’s POV

Eun Kyo terlihat tergesa-gesa dengan meneteng berkas ditangan kiri, ponsel ditelinganya dan sebuah tas uang tergantung manis dibahunya.

“Sekarang?” tanyanya.

“Oh, ye. Baiklah, sebentar algi aku kesana, aku mengantar berkas ini dulu.” Eun Kyo menutup teleponnya dan segera berjalan menuju sebuah ruangan.

“Permisi?” dia menyembulak kepalanya setelah menegetuk pintu.

“Silakan masuk.” Seseorang di dalam menyuruhnya masuk.

“Siwon~ssi, ini desain yang telah aku buat, kau bisa memeriksanya, jika tidak setuju, aku bisa mengubahnya.”

“Mana?”

“Ini.” Eun Kyo menyerahkan berkas itu pada Siwon.

“Lumayan, aku menyukainya.” Eun Kyo tersenyum, Siwon meperhatikannya. Saat mata mereka beradu, Eun Kyo mengalihkan pandangannya.

“Terima kasih sudah menyukainya.”

“Aku akan menyukainya. Pasti menyukainya.” Jawab Siwon sambil tersenyum, hal yang jarang dia lakukan.

“Gamsahamnida.” Eun Kyo menunduk.

“Jika tidak ada yang dibicarakan lagi, aku permisi.” Siwon menatapo gadis itu.

“Kapan kalian akan menikah?” tanya Siwon saat Eun Kyo, Eun Kyo berhenti.

“Eh?” tanyanya bingung.

“Kapan kau dan Teuki Hyung? Menikah? Dia jahat sekali menyembunyikannya dariku.” Siwon menunggu jawaban Eun Kyo.

“Nde? Menikah? Aku?” Eun Kyo terlihat bingung, akhirnya dia ingat dia mengaku sudah bertunangan dengan orang yang bernama Teuki.

“Ah, itu, kami belum memikirkannya.”

“Apa kau mencintainya?”

“Nde?” Eun Kyo semakin tersudut dengan pertanyaan Siwon.

“Ye? Ah, tentu saja. Aku, aku permisi dulu, aku punya urusan.”

“Kau terlihat tidak mencintainya.” Ucap Siwon, Eun Kyo tidak memperdulikannya, dia melangkah pergi meninggalkan Siwon.

***

Eun Kyo tergesa-gesa memasuki tempat biasanya mereka berkumpul. Meletakkan tasnya lalu duduk dengan  manis.

“Aku terlambat?” tanyanya memandang Jina dan Nanhee.

“Sangat.” Jawab Nanhee dingin.

“Aku mengantar desainku dulu, memeperlihatkannya pada Siwon.” Eun Kyo memanggil pelayan dan memesan makanannya.

“Ah, ya, kau kan sekarang sibuk dengan Siwon.” Jawab Nanhee.

“Lebih cepat menyelesaikannya lebih baik.”

“Bukannya kau senang?”

“Senang? Tentu saja, honornya bisa aku gunakan untuk biaya kuliah Rae Na, juga sebagai tabungan.” Jawab Eun Kyo.

“Kau senang bersamanya kan?” tanya Nanhee sedikit sinis sambil menyuap sepotong cake ke dalam mulutnya.

“Apa maksudmu?” tanya Eun Kyo.

“Kau menyukainyanya kan?”

“Menyukainya? Siapa? Apa maksudmu?”

“Hentikan.” Jina menengahi. Mereka bertiga terdiam.

“Aku akan menikah.” Sambung Jina. Semua menghentikan makannya.

“Nde? Kau tidak pernah menceritakannya pada kami.” Nanhee sedikit protes.

“Kapan? Dengan siapa?” sambung Eun Kyo.

“Aku tidak tau kapan, tapi sepertinya tanggal sudah ditetapkan.” Jawab Jina lemah.

“Dengan Sungmin?” tanya Eun Kyo. Jina menggeleng.

“MWO?!” pekik Eun Kyo dan Nanhee bersamaan.

“Bagaimana mungkin?” tanya Nanhee.

“Bagaimana dengan Sungmin?” tanya Eun Kyo.

“Aku juga tidak tau.” Sahut Jina. Mereka bertiga terdiam dan memakan makanan mereka, hingga habis.

Rae Na’s POV

Aku baru saja pulang dari kampus dan melarikan diri dari lelaki gila itu. Yang benar saja?! Aku jadi pembantu di rumahnya? 3 bulan? Yak! Dia yang menabrakku kenapa harus aku yang ganti rugi?! Menyebalkan sekali! Aku masuk ke rumah dengan perasaan kesal. Tak kupedulikan tatapan bingun dari Key yang memndangku dengan aneh.

“MWO?!” aku melotot padanya.

“Yak, kau itu gadis aneh! Kenapa datang-datang mukamu aneh seperti itu?!” balasnya.

“Kau yang gila!” aku menutup pintu dengan keras. Menyebabkan suara dentuman yang cukup keras.

“Kau mau membuat semua pelanggan disini pergi?” tanyanya dengan marah.

“Suaramu yang membuat mereka kabur.” Sahutku, tolong jangan memancingku Kim Kibum, aku sudah cukup kesal hari ini. Apa-apaan dia menungguku seperti itu?! Yak! Aku bukan tahanan! Dan untung saja dia masuk kuliah setelahnya, aku terbebas darinya. Aku masuk ke kamar mandi dan melepaskan semua bajuku lalu mengguyur tubuhku. Hufh, segar sekali.

Aku mengambil baju piyamaku dan merapikan rambutku, saatnya makan malam. Aku sudah mencium harum makanan di bawah. Heum.. dia pasti memasak masakan yang enak. Aku menuruni tangga dengan tergesa-gesa.

“Kau masak apa hari ini?” tanyaku pada Key. Ia tidak menjawab.

“Yak! Aku bicara denganmu!” teriakku.

“Kau bisa lihat sendiri.” Jawabnya acuh.

“Mengapa hari ini semua orang bersikap menyebalkan?” gumamku.

“Annyeonghaseyo..” seseorang membuka pintu, menyebabkan lonceng ayang tergantung diatas pintu berbunyi. Aku dan Key memandang pada orang itu. Orang yang tadi pagi kesini.

“Aku mau membicarakan lukisan itu.” Dia menunjuk kearah lukisan yang tergantung di dinding. Aku dan Key mengikuti arah jarinya menunjuk.

“Aku beli 1 juta won.” Aku dan Key saling berpandangan, saling mengerjapkan mata. Aku tidak terlalu mengerti tentang harga lukisan, tapi apa benar semahal itu? Aku masih bingung.

“Kurang?” tanyanya. Aku masih saling berpandangan dengan Key, tidak terlalu memperhatikan dia berbicara.

“Ah, maaf, aku tidak terlalu memperhatikanmu. Untuk hal itu kau bisa membicarakannya dengan Onnie, sebentar lagi dia mungkin akan datang.”

“Oh, baiklah.” Jawabnya.

“Sementara menunggunya kau mau makan sesuatu? Atau minum mungkin?” tanya Key.

“Seperti tadi pagi saja.”

“Baiklah.” Sahut Key sambil berlalu ke dapur.

“Bisa temani aku bicara?” tanya orang itu. Aku memandangnya, dia tidak melihat kearah siapapun, aku menyapu seluruh ruangan, mungkin saja dia bicara dengan orang lain, tapi tidak ada siapapun.

“Kau.” Dia mengangkat kepalanya dan menatapku.

“Aku?” aku menunjuk hidungku.

“Ne. Duduklah.” Jawabnya. Aku menarik kursi di hadapannya.

“Tanganmu masih sakit?” tanyanya.

“Aku sudah bilang sudah tidak sakit.” Jawabku, mengapa dia selalu menanyakan itu? Apa tidak ada pertanyaan lain?

“Jeongmal?” tanyanya sambil memainkan ponsel yang ada ditangannya.

“Apa kau tidak ada pembicaraan lain selain menanyakan lenganku?” tanyaku kesal. Dia menghentikan tangannya yang memainkan ponsel, lalu menatapku. Aku menunjukkan wajah kesal.

“Aku tidak suka jika orang yang menanyakan sesuatu padaku tapi orang itu sudah tau jawabannya.” Jawabku sedikit ketus. Dia tertegun melihatku.

“Jangan melihatku seperti itu.” Jawabku masih dengan wajah kesal, berdiri dan berniat meninggalknannya.

“Tunggu, temani aku minum kopi, aku bosan selalu makan dan minum sendirian.” Dia menarik tanganku, tanga sakitku, aku sedikit meringis. Suara rintihan kecil keluar dari mulutku.

“Sakit kan?” tanyanya tanpa menatapku, aku menoleh padanya.

“Kalau sudah tau maka lepaskan.” Jawabku sambil mengibas tanganku, dia masih memegangnya erat.

“Aku tidak suka seorang pembohong.” Jawabnya dingin.

“OH! Kalau begitu mengapa datang kesini? Eoh? Jika kau tidak suka padaku mengapa kembali kesini?” aku meneriakinya.

“Aku ingin kau mengakui kebodohanmu.” Jawabnya dingin.

“Setelah itu kau akan pulang?”

“Aku akan membeli lukisan itu.” Tunjuknya tanpa melepaskan tangannya dari tanganku, mulai terasa sakit saat dia memegangnya terlalu erat.

“Kau mau mematahkan tanganku?” tanyaku.

“Akui kalau itu sakit.”

“Baiklah, ini masih sakit! Sakit sekali!” teriakku.

“Kau lau begitu kita ke rumah sakit.”

“Shireo!” tolakku.

“Wae?” tanyanya.

“Aku benci rumah sakit. Ini akan sembuh sendiri, kau tidak perlu khawatir.”

“Kau ini.” Key memukul kepalaku.

“Sopanlah sedikit pada pelanggan.” Dia memarahiku.

“Jweosonghae~yo.. dia memang seperti ini, sedang stres!” Key memutarkan jari telunjuknya di kepala. Orang dihadapanku yang seingatku bernama Donghae tersenyum.

“Gwaenchana.”sahutnya.

“Ini pesanannya.” Key menyerahkan minuman padanya.

“Gomapseumnida.” Sahutnya sambil melepas tanganku.

“Mau kemana?” tanyanya saat aku melangkah meninggalkannya tepat saat lonceng berbunyi.

“Onnie sudah datang, kau bicara dengannya saja.” Ucapku lalu meninggalkannya.

Sayup-sayup aku mendengar pembicaraan mereka tentang lukisanku. Benar kan? Hari ini semua orang menyebalkan? Aku menendang pintu kamarku. Menyebalkan sekali! Berapa kali aku menggertu tentang hari menyebalkan ini?

“Biarpun kau menendangnya, tidak akan mengubah suasana hatimu.” Sebuah suara membuatku menoleh kearahnya.

“Diam kau!” aku masuk kamar dan menutup pintu.

“Sering marah, cepat tua!” serunya dari luar.

“Kim Kibum, jika kau mau selamat, enyak dari depan kamarku!” ancamku.

“Kau itu hobby sekali marah, ada yang mendekatimu tadi, kau harusnya bersyukur, bukannya marah-marah seperti ini.”

“Itu bukan urusanmu! Pergi kau!” aku melemparkan sebuah buku tebal ke pintu, suaranya sangat keras karena aku melemparnya sekuat tenaga.

“Dasar nenek sihir!” teriaknya. Aku tidak memperdulikannya.

Aku mencoba mendengarkan musik untuk menurunkan emosiku. Kupasang headset di telingaku dan meenyalakan ipod ku. Lagu kesukaanku mengalun. Namun tiba-tiba sebuah kepala menyembul di pintu.

“Kau sudah tidur?” onnie, dia masuk dalam kamarku.

“Nih, ponselmu, seseorang memngantarkannya.” Ponsel?mengapa ponselku ada ditangan Onnie? Aku meraih tasudan mengeluarkan isinya. Benar. Itu ponselku!

“Seseorang mengantarkannya padaku.”

“Kapan?”

“Baru saja.” Saat ponsel itu berada ditanganku, tiba-tiba saja ponselku berbunyi. Nomor asing.

“Kenapa kau meninggalkanku?!” sebuah suara nyaring terdengar melalu speaker ponsel yang menempel di telingaku. Aku langsung menutup ponselku.

“Nugu~ya?” tanya Onnie.

“Salah sambung.” Jawabku. Ponsel berbunyi beberapa kali.

“Yak! Baiklah! Mulai besok!” teriakku saat mengangkatnya. Bisa kudengar suara tawanya yang menjijikkan. Choi Minho!

Minho’s POV

Aku terkikik saat dia mengangkat teleponku. Bisa kubayangkan wajahnya yang murka, pasti sangat menarik. Park Rae Na, kau sudah masuk perangkapku, tunggu permainan selanjutnya. Aku beranjak dari sofa menuju kamraku. Kurebahkan tubuhku diranjang ukuran king size. Berguling kesana kemari. Ingin aku mengenyahkan bayangan gadis itu, tapi tidak bisa, matanya, bibirnya, suaranya, bentakannya, marahnya. Semuanya hampir membuatku gila! Gila! Ini gila karena beberapa jem yang lalu aku bertemu dengannya.kini aku sudah pusing memikirkan pertemuanku selanjutnya. Hari kau bisa lepas dariku Park Rae Na, tapi selanjutnya kau tidak bisa berkutik dariku!

Seseorang membunyikan bel apartemenku. Aku berjalan gontai membukakannya pintu. Aku mengusap mataku sat melihat sosok yang berdiri dihadapanku.

“ Siwon Hyung…” gumamku.

“Temani aku malam ini.” Dia masuk tanpa aku persilahkan.

“Wae? Kenapa tiba-tiba malam-malam kesini?”

“Kenapa? Tidak boleh?”

“Ani, hanya saja, kau aneh, kenapa setelah sekian lama kau tidak pernah menjengukku dan hanya memikirkan tentang perusahaanmu itu, sekarang kau memintaku menemaniku.”

“Jangan banyak bicara!” dia membungkam mulutku dengan tangannya lalu merangkulku.

“Kau sendirian?” tanyanya.

“Memangnya dengan siapa lagi?” tanyaku balik.

“Mungkin saja kau bersama gadis.”

“Enak saja, aku bukan lelaki seperti itu.” Dia terkekeh.

“Kau sudah besar, sudah menemukan gadis yang membuatmu tertarik?”

“Mengapa menanyakan itu? Apapedulimu?”

“Aish, kau benar-benar sudah besar.” Dia meremas lenganku yang dirangkulnya.

“Kau menyukai seseorang?” tanyaku penuh selidik.

“Tapi dia sudah bertunangan.”

“Mwo?” tanyaku terkejut, tidak menyangka jika pria semacam dia yang terlihat sempurna tapi menyukai gadis lain, apa susahnya mencari gadis yang lebih baik baginya?

“Tapi aku tidak terlalu memikirkannya, aku harus tetap berjalan kan?” kami merebahkan tubuh di tempat tidur.

“Hem, kau bisa mencari gadis lain, sekretarismu itu? Bagaimana?” tanyaku, aku dengar dari Kyuhyun sekretarisnya itu menyukainya.

“Kyuhyun menyukainya.”

“Kau menyukainya?” tanyaku.

“Entahlah.”

“Malang sekali nasibmu.” Ejekku.

“Sialan kau!” dia memukulku dengan bantal.

Aku memejamkan mataku, tanpa terasa aku terlelap tanpa melepas sepatuku dan mengganti bajuku. Saat aku membuka mata, sinar matahari sudah mulai masuk membuatku silau. Choi Minho! Hari ini kau harus ke kampus. Aku segera bangkit dari tempat tidur danm meluncur kekamar mandi. Kutinggalkan Siwon Hyung yang masih terlelap.

Setelah siap dengan semua perlengkapanku, aku segera pergi menuju kampusku, tidak ingin kehilangan jejak gadis itu lagi kali ini. Aku melihatnya sedang berjalan menuju kelasnya. Aku segera berlari menghampirinya.

“Hari ini, kau harus bekerja.” Dia terkejut dan menoleh padaku, beberapa detik kemudian dia membuang muka.

“Caramu kampungan sekali, apa-apaan, kau menamai dirimu di kontaku dengan nama ‘my boss’?!” katanya sengit, aku hanya tersenyum dikulum. Aku senang sekali melihatnya penuh emosi seperti ini.

“Hahahaha, memang benar seperti itu kan? I’m your boss!” aku memancingnya untuk bertengkar. Dia mendengus kesal. Aku suka sekali ekspresinya.

“Aku tunggukau pulang dari kampus” aku mengedipkan mataku padanya. Dia menatapku tajam. Tidak sabar rasanya bertemu dengannya lagi.

***

Aku menunggunya di depan pintu kelasnya, menunggunya keluar dan membawanya segera ke apartemenku. Saatnya pembalasan Park Rae Na. Setelah lama menunggu, akhirnya dia keluar, aku segera menangkap tangannya dan menariknya.

“Yak! Kau ini apa-apaan.” Berontaknya.

“Nanti kau lari lagi.”

“Aku tidak akan lari!” teriaknya. Orang-orang mulai melihat kearah kami, aku tidak perduli.

“Sudah jalan saja.” Jawabku.

“Aku bisa jalan sendiri!” dia menghentak tanganku. Aku berhenti, membiarkannya mendahuluiku dan aku mengikutinya dari belakang. Aku membawanya ke apartemen. Sesampainya disana, dia tercengan melihat apartemenku. Memang lumayan besar.

“Kau mau membuat tulangku patah?”  aku mengernyitkan dahi.

“Ruangan seluas ini? Aku harus membersihkannya?” aku mengangguk. Dia mendecak kesal.

“Mulai darimana?” tanyanya, gadis yang aneh, mau saja aku kerjai.

“Cuci piring kotorku dulu. Ah, jangan, bersihkan dulu kamarku.” Ujarku, kamarku tidak sempat aku bersihkan. Dia mulai membersihkan kamar. Mengumpulkan sampahku bersama Siwon Hyung. Aku memperhatikannya dari pintu.

“Sudah selesai.”

“Sekarang piring kotor.” Dia masih dengan muka kesalnya menuju dapur dan membersihkan piring kotor. Aku menunggunya sambil memakan cemilan di depan TV. Beberapa saat kemudian dia sudah berada di hadpanku.

“Sudah, sekarang antarkan aku.” Dia melepas celemek anti air.

“Bersihkan lantainya.” Perintahku.

“Aish!” dia mengepalkan tangannya dan ingin melayangkannya padaku. Aku bisa melihatnya dari layar TV yang memantulkan bayangannya. Aku hanya tersenyum menanggapinya. Dia mengambil air dal kain pel, lalu mulai bekerja. Pikiranku mulai jahil. Aku mengambil sendal rumahku yang sudah kotor. Memakainya, dan berjalan di lantai yang sudah dia bersihkan.

“Yak! Itu sudah bersih, sendalmu kotor. Lepaskan!” dia langsung mengomeliku. Aku menghindar dan semakin menjadi-jadi berjalan kesana kemari, senang sekali melihat muka marahnya. Dia mengejarku, aku menghindar darinya, membalikkan badanku  langsung berhenti secara tiba-tiba. Dia masih mengejarku dan tidak bisa menghentikan langkahnya saat aku berhenti. Dia menabrakku dan menimpa tubuhku. Kami terjatuh, dia mendarat mulus diatas tubuhku. Lama terdiam, aku merasakan ada yang ingin meledak dalam dadaku saat melihat matanya dengan jarak beberapa centi. Dia pun terpaku dalam posisi ini. Nafasnya menyapu wajahku, aku rasa diapun merasakan hal yang sama, marasakan nafasku menerpa wajahnya.

“Apa yang kalian lakukan?” sebuah suara mengejutkanku.

“Kau benar-benar sudah dewasa Minho~ya..”

“Hyung!” Rae Na segera bangkit, wajahnya memerah. Ternyata wajahnya seperti itu lebih manis. Apa aku menyukainya?

Eun Kyo’s POV

Aku bangun di pagi hari. Ah, hari ini harus bekerja lagi, memang benar aku bukan pegawai tetap tapi aku juga harus menunjukkan disiplinku. Hari ini survey ke lapangan. Rasanya malas sekali, mengapa harus kerja ke lapanga? Aku kan hanya bagian interior? Tapi Siwon mau aku membantu Kyuhyun, hufh, aku tidak bisa menolak. Aku segera mandi dan memakai baju yang menurut aku pantas, tidak terlalu formal juga tidak terlalu santai. Aku menuruni tangga dan Key sudah menyiapkan makan pagi di meja. Aneh sekali kan? Kami adalah sedorang gadis tapi yang menyiapkan makanan adalah satu-satunya lelaki dirumah ini. Tapi masakan yang dibuat Key sangat enak, dia memang suka memasak.

“Key? Rae Na mana?” tanyaku.

“Dia sudah berangkat.”

“Tidak sarapan lagi?” tanyaku, dia menggidikkan bahunya. Aku menarik kursi dan duduk dihadapan Key. Mengambil nasi dan lauk lalu memakannya.

“Noona, siapa lelaki tadi malam?”

“Nugu?”

“Yang tadi malam.”

“Yang menyerahkan ponsel Rae Na? Entahlah.”

“Bukan, yang mengantarmu pulang.” Tanya Key dingin. Aku menghentikan makanku. Teuki maksdunya? Aku harus menjawab apa?

“Dia temanku.”

“Aku tidak suka cara dia memandangmu.”

“Memangnya bagaimana cara dia memandangku?” tanyaku pura-pura acuh, padahal aku juga penasaran.

“Dari sorot matanya, entahlah, aku tidak suka.”

“Wae?” tanyaku.

“Naluri lelaki.”

“Kau ini.” Aku menyelesaikan makanku.

“Aku harus bekerja.” Aku bangkit dari dudukku dan meraih tasku.

“Ah, iya. Menu baru? Lezat.” Pujiku, Key senang sekali mencoba resep baru yang didapatnya entah darimana.

“Jinjja~yo? Menikahlah denganku Noona, maka akan aku buatkan setiap hari.” Teriaknya ketika aku sudah keluar.

“Kau masih kecil, sampai kau lebih tua dariku maka aku akan bersedia menikah denganmu.” Candaku.

“NOONA! Aku serius!”

“Aku juga serius!” balasku. Dasar Key, dari dulu dia memang sedikit lebih protektif padaku, salah satu alasan juga kenapa aku tidak ingin mempunyai kekasih, pernah ada seorang lelaki yang membawakanku bunga. Key marah dan satu hari satu malam tidak bicara denganku. Sampai dia mempunyai kekasih baru aku akan mencari pasangan hidup.

Aku berjalan menuju halte terdekat. Sekitar 200 meter dari rumahku, aku sampai di halte tersebut dan menunggu bus. Setelah lama menunggu bus tidak juga datang. Sebuah mobil lewat di depanku lalu berhenti. Dia membuka kaca mobilnya.

“Yeobo, mari aku antarkan.” Tawar seseorang di dalam mobil. Yaish! Dia lagi! Mengapa bertemu dengannya lagi? Sudah cukup aku dipermalukan semalam? Mengapa aku masih dipertemukan dengannya? Aku mengalihkan pandanganku, orang-orang yang ada disampingku memandang bingung.

“Yeobo.. aku tau kau marah padaku. Tapi aku bersumpah, aku hanya mencintaimu, tidak pernah sedikitpun mengkhianatimu.” Yak! Apa yang dia katakan? Menjijikkan sekali! Aku tidak menghiraukannya.

“Yeobo… ayolah..” kali ini dia keluar dari mobil dan menghampiriku.

“Jangan marah padaku, aku benci kau mengalihkan wajahmu dariku.” Dia menarik wajahku menghadapnya. Astaga! Apa-apaan ini! Dan mengapa aku juga tidak bisa menghindarinya? Tubuhku seolah berkhianat dari otakku. Otakku mengatakan jangan mengikuti permainannya, tapi tubuhku malah bereaksi sebaliknya.

“Sekarang kita pulang, ne?” dia menarik tanganku hingga aku berdiri dibuatnya.

“Tolong jangan tinggalkan aku lagi. Kembali ke rumah seperti dulu.” Dia memegang wajahku dan menatapku lembut. Orang-orang disekitarku memandang heran, mungkin mereka berpikir dua orang gila sedang berlakon di hadapan mereka, mungkin juga ada yang berpikiran oranga aneh atau tontonan gratis.

“Kita pulang sekarang?” dia memelukku. Yak apa-apaan ini? Aku hanya terpaku! Dia menarikku ke mobilnya dan membawaku. Aku masih diam tak berkata apapun, masih shock dengan apa yang dia lakukan tadi.

“Kau ini apa-apaan?!” tanyaku sengit. Akhir setelah mengumpulkan seluruh kesadaranku, akhirnya kau bisa mengatakan sesuatu.

“Haha, bagaimana? Kita kan bertunangan?”
“Kau gila!” aku melempar berkas yang aku bawa ke dadanya.

“Ugh, kau pemarah sekali, tidak bisa diajak bercanda.”

“Bercanda? Itu sangat memalukan!”

“Sekarang kita kemana? Pulang ke rumah kita?”

“Yak! Berhenti bercanda!”

“Arasseo, arasseo, kau cantik saat cemberut dan marah seperti itu.” Godanya. Aku melempar koran yang ada di dashbor mobilnya ke wajahnya.

“Aku mau bekerja.” Sahutku.

“Ke kantor yang kemarin? Chio Coorp?” aku mengangguk.

“Baiklah kalau begitu, siap mengantarmu Tuan Putri.”

“Gombal.” Bukannya merasa dilecehkan, aku malah merasa sebaliknya, aku senang dia menggodaku, caranya yang menjijikkan itu aku suka, tatapan matanya meski hanya pura-pura untuk mempermainkanku, aku suka. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku tertarik. Aku menggelengkan kepala mengusir semua pikiran menjijikkan dalam otakku.

“Sudah sampai.” Tanpa terasa aku sudah berada di depan gedung besar itu. Dia membukakan pintu dan menungguku keluar. Setelah aku keluar, dia membelai rambutku.

“Pulangnya aku jemput.” Lagi-lagi aku terpaku, tak bisa berbuat apa-apa, tak mampu menolaknya. Dia memegang kedua tanganku dengan satu tangannya, aku menoleh pada tanganya yang tiba-tiba memegang tanganku. Satu tangannya meraih daguku, lebih cepat dari kilat dia mengecup bibirku. Dan aku hanya bisa terpaku. Ciumanku!

“Morning kiss.” Serunya sambil tersenyum. Aku merasa tidak berpijak ditanah. Eun Kyo, Pabo~ya! Mengapa tidak menghindar?! Hah?! Benar-benar minta dibunuh aku ini, kau tidak punya hubungan apa-apa dengan lelaki ini Park Eun Kyo, mengapa kau membiarkan dirimu dilecehkannya?! Tapi yang lebih aneh lagi mengapa aku tidak bisa menghindar? Seperti terbius oleh aura dalam dirinya.

“Hyung.” Seru sebuah suara. Siwon, jadi karena itu dia bersikap seperti itu? Hufh. Ternyata dia hanya menyempurnakan akting yang dia lakonkan sejak pagi tadi. Ini hanya permainan Kyo~ya… tapi mengapa aku berharap itu adalah sebua kesungguhan? Yak! Kau gila Park Eun Kyo! Aku berjalan meninggalkan mereka.

“Jangan lupa telepon aku jika kau mau pulang, atau tunggu aku jika aku terlambat.” Teriaknya. Aku tidak memperhatikannya. Terus melangkah maju menuju ruanganku yang disediakan untukku. Aku memperhatikan Nanhee yang sedang duduk di belakang mejanya. Aku memperhatikannya, dia terlihat dingin, apa karena pembicaraan semalam? Benarkah dia cemburu padaku? Sepertinya memang iya, dia tidak menyapaku sma sekali.

“Nanhee~ah..” aku menyapanya lebih dulu. Dia tidak menghiraukanku. Benar kan? Biasanya dia bertindak lebih dingin jika sedang kesal atau marah.

“Kau marah padaku?” tanyaku dari mejaku yang terletak beberapa blok meja darinya. Tidak ada orang lain selain kami berdua.

“Ani.” Jawabnya singkat. Aku tidak ingin mengikuti permainannya.

“Eun Kyo~ssi, aku ingin bicara.” Siwon tiba-tiba melintas diantara Nanhee dan aku. Nanhee langsung menatapku tajam, aku menghela nafas sebelum masuk ke ruangan Siwon, menatap Nanhee terlebih dahulu.

“Kau berlebihan Nanhee~ah.” Nanhee memang orang yang sensitif, aku mengerti, tapi apa dia berpikir aku akan mengkhianatinya? Itu tidak mungkin, lagipula jika benar Siwon menyukaiku, aku tidak suka padanya sama sekali, tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Dan Siwon, mengapa suka sekali berdiskusi denganku? Menyusahkanku saja! Tapi aku harus profesional.

Teuki’s POV

Aku senang sekali menggoda gadis penakut itu. Dia phobia kegelapan, haa, dan aku senang menggodanya, entah mengapa, senang melihat muka bodohnya saat aku permainkan. Bukan maksud mempermainkannya, hanya saja ada rasa tersendiri melihatnya terpaku saat aku menggodanya. Aku suka melihat tekstur wajahnya yang sederhana, matanya, bibirnya, dan dia yang tidak bisa berkutik jika aku sadah menggodanya. Seoalh meneriam semua perlakuanku, dia tanpa sadar atau tidak mengikuti permainanku. Baru saja aku mengantarnya, dan sempat bertemu dengan Siwon yang memandangku dengan mata tajamnya, aku tau dari raut wajahnya kau menyukainya Siwon~ah, tapi sayang, dalam hitungan detik dia juga menarik perhatianku, bukan ingin bersaing denganmu, namun sepertinya takdir sedang berpihak padaku, dan dia tanpa aku minta akan selalu berada didekatku. Baru hitungan menit aku meninggalkannya, tapi ada sebongkah rindu yang mengganjal di dadaku. Gadis aneh, benang merah macam apa yang kau gunakan?

Aku tidak bisa konsentrasi dengan pekerjaanku hari ini, masih memikirkan gadis itu, hari ini aku mencium bibirnya, baiklah, aku akui itu memang terlalu cepat dan keterlaluan, tapi dia tidak menolak. Park Eun Kyo, aku menunggu saat-saat menjemputmu. Aku mengambil jasku dan segera meluncur ke kantor Siwon. Beberapa jam menunggunya pulang serasa berhari-hari.

Sesampainya aku di tempat itu aku segera mencarinya. Aku melihatnya sedang berjalan kearahku, tapi dia tidak menyadari kehadiranku. Beberapa langkah lagi dia menghampiriku, mata kami beradu. Saat itu terjadi, dia memutar arah, menghindariku, aku mengikutinya. Dia terlihat mempercepat langkahnya menuju lift. Hap! Sedetik lagi aku terlambat, aku mengulurkan tanganku agar pintu lift tidak menutup. Dia menghela nafas.

“Sepertinya kita berjodoh.” Ucapku mengawali pembicaraan. Dia tidak menjawab. Masih membisu, bahkan tanpa bicarapun dia terliat mempesona.

“Mau ke lantai berapa?” tanyaku.

“Dasar.” Jawabnya.

“Bukannya tadi kau sudah di lantai dasar? Mengapa kembali keatas dan ingin kembali ke lantai dasar?”

“Jangan banyak tanya, pencet saja.” Ucapnya tanpa menoleh padaku. Aku suka sikap acuhnya.

“Baiklah.” Aku menekan tombol lantai dasar. Pintu lit terbuka, dia segera keluar dari lift dan ingin meninggalkanku.

“Eun Kyo~ssi, kau mau kemana?” suara Siwon, aku tersenyum mendengarnya, takdir memang berpihak padaku.

“Aku? Aku mau makan siang.” Jawabnya terbata.

“Sendirian?” tanya Siwon.

“Ani, aku bersama tunanganku.” Jawabnya cepat.

“Oppa..” dia menoleh ke belakang dan menarik tanganku. Haha, tidak salah kan jika aku mengatakan takdir memang berpihak padaku?

“Mau makan dimana?” tanyaku sambil merangkul pinggangnya. Aku bukan bermaksud memanaatkan kesempatan, namun aku benar-benar menginginkannya.

“Siwon~ah, mau ikut bersama kami?” tawarku.

“Ani, kalian berdua saja, aku tidak ingin mengganggu.” Jawab Siwon, Eun Kyo bernaas lega. Setelah Siwon berlalau, dia segera melepaskan pelukanku.

“Lepaskan!” dia mengibas tanganku. Aku melepaskannya sambil mengikutinya.

“Kita makan dimana?” aku menjajari langkahnya.

“Tidak ada kita. Kau makan dimana itu terserah padamu.” Jawabnya ketus sambil mempercepat langkahnya.

“Ya.. jangan tinggalkan aku.” Aku meraih tangannya.

“Mau aku ulangi adegan tadi pagi disini?” ancamku ditelinganya.

“Kau mengancamku?” dia berhenti dan menatapku tajam.

“Ani, aku hanya memberimu penawaran, makan denganku atau adegan tadi pagi akan terulang dan kau akan tetap makan siang bersamaku.”

“Cish..! terserah kau saja!” jawabnya ketus. Akan aku buat kau bertekuk lutut memilihku Park Eun Kyo, aku tidak aka melepaskanmu,  mungkin ini terlalu cepat, tapi aku tahu, aku mempunyai rasa itu.

***

Setelah makan siang bersamanya. Aku kembali ke kantor, harus, demi kelangsungan bisnisku. Aku menunggu sore tiba untuk menjemputnya. Park Jung Soo sejak kapan kau seperti ini? Selalu ingat dengan jadwal orang lain, lebih tepatnya jadwal gadis itu, padahal jadwal rapatmu sendiri, kau harus diingatkan oleh sekretarisku. Setelah berkutata denganbeberapa ile, akhirnya selesai juga pekerjaanku. Aku segera bernajka menjemputnya. Kuakui sekali lagi, ini memang terlalu cepat mengingat aku baru bertemu dengannya baru beberapa hari. Tapi au tidak bisa menghentikan getaran itu. Getaran yang tercipta menjadi sebuah alunan melodi di dalam tubuhku. Aku berubah menjadi hangat dan perhatian meski aku memang perhatian dengan orang lain, tapi berbeda rasanya dengan yang aku rasakan dengan gadis itu. Aku seperti tertarik auranya, melebur menjadi satu dengan auraku yang menciptakan sebuah hubungan layaknya sebuah ikatan dalam sebuah ikatan kimia, saling melengkapi antara ion positif dan ion negatip dalam sebuah senyawa, itu menurutku.

“Lama sekali.” Serunya saat aku baru sampai di halaman gedung. Dia langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil duduk dengan manis.

“Kau menungguku?” tanyaku. Dia tidak menjawab.

“Menghindari Siwon lagi?” tembakku. Dia tidak menjawab.

“Kita teruskan pertunangan ini.” Jawabnya dingin.

“Mwo?” tanyaku bingung.

“Kau tidak mau? Baiklah, maaf, aku salah orang.” Jawabnya cepat.

“Ani, bukan begitu maksudku, menikah juga aku tidak masalah.” Jawabku. Lama kami terdiam, berkutat dengan perasaan masing-masing. Aku putuskan untuk membawanya ke rumahku.

“Dimana ini?”

“Calon rumahmu.” Jawabku. Dia menatapku tajam.

“Ayo masuk.”

“Aku mau pulang.” Jawabnya.

“Kau mau membuat semua berantakan? Jika tiba-tiba mereka menanyakan tentang kita. Lucu kau tidak tau rumahku kan?” dia tersenyum sambil mengalihkan wajahnya dariku.

Dia memasuki rumah dan aku menjelaskan secara detail bagian rumahku. Dia hanya mengangguk. Dia terdiam sat aku menunjukkan dimana kamarku.

“Masuk saja, tidak perlu malu.” Otakku mulai jahil lagi.

Dia masih terpaku di dalam kamar memandangi seluruh ruangan. Aku mendekatinya, berdiri dibelakangnya dan mengikuti kearah mana dia memandang.

“Disini kau akan tinggal nantinya.” Godaku berbisik di telinganya. Dia memukulkan sikunya padaku, namun aku cepat menghindar, dan memegangi tangannya. Dia ingin melepaskan tangannya namun aku menahannya. Mataku dan matanya saling berpandangan. Saling beradu tarpukau mematung dalam posisi itu.

“Aku haus.” Ucapnya setelah sekian lama mata kami beradu. Aku keluar mengambilkannya sebotol minuman kaleng. Dia membukanya, namun karena krang hati-hati  atau apa, yang jelas kaleng minuman itu sebagian isinya tumpah ke baju dan celananya. Dia langsung menjauhkan kaleng itu dan mengibas kemeja putihnya, terpampang jelas tubuhnya dibalik kemejanya yang basah. Aku tanpa sadar meperhatikannya, dia menatapku.

“Yak! Apa yang kau lihat! Berbalik!” teriaknya. Aku masih tak bergeming. Dia mendorongku, tapi kakinya tersandung sisi karpet dilantai, tubuhnya limbung dan menimpaku. Kami terjatuh diatas tempat tidur.

“Apa yang kalian lakukan?” sebuah suara mengagetkan kami. Aku memandang kearah suara.

“Eomma…” ucapku lirih, Eun Kyo juga memutar tubuhnya menatap Eomma.

TBC

Note : Kya.. akhirnya selesai juga, susah payah menyelesaikannya, part ini malah aku kehilangan feel teukyo, bukan kehilangan sebenarnya. Hanya saja aku masih terbawa romantisme MLT, sedangkan disini kisah cinta kami baru dimulai… hasilnya jadi aneh dan menjijikkan seperti ini, mian jika mengecewakan yang menunggu… udah ah, jangan banyak bicara, silakan kalian komen jika berkenan… *bow bareng Teuki*

Ini ide bersama, jadi mungkin aku sedikit sulit menuangkannya. Tapi jika aku memikirkannya sendirian, aku juga tidak sanggup. Aku sudah hampir gila sepertinya, kadang-kadang saking asiknya memikirkan  dan menulis aku jdi kurang tidur. Curcol lagi fika ini, ya udah, terima kasih sudah mau baca dan menunggu.

52 responses »

  1. waaaaahhh fikaaa,,eonn suka teukyo yg seperti ini,,
    oppa ayo cpat nikahin eunkyo
    keburu digaet ma siwon,,
    eunkyo jgn jual mahal gtu ah
    ntar nyesel lho,,ntar oppa digaet cwe lain lho
    uminnnn,,relakanlah jina menikah dengan plihan org tuanya,,masih ada noona dsini untukmu,,*peluk umin*noona tidak akan meninggalkanmu sperti jina*ditimpuk*
    raena bersih2 nya lbih semangat lagi ya,,kalo udah selesai kerumah eonn ya
    piring kotor numpuk nih*ditajong*
    nanhee ga usah cemburu ma eunkyo
    eunkyo ga kan ngrebut siwon kok
    siwon tetap milikmu dan kyu utkku wkwkwkwkwk
    hae sayangku terima kasih atas lukisannya,,
    kamu beli itu untuk noona kan,,terharu*peluk hae*,,
    cukup sekian komen dri saya
    kurang dan lbihnya saya ucapkan terima kasih

    • apaan deh onnie… bentar lah onnie… aku mau mnikmati masa lajang…
      ih, onnie…. itu mah brondong…. jgn sm umin…
      ini onn, bukan rae na skrg mah, si iyem pelayan jutek onn…
      yak! orang itu lukisan buat dkantor diaaaaaa

  2. di part ini yg ngegemesin dan bikin senyum2 saat baca kyuhee couple, apalg di bumbui cemburu karna won2 suka ma eunkyo
    Wah bakalan ada perang dingin atara NanHee vs eunkyo *seru* kekekekeke

    Itu itu umin manis bgt jd ga tega ninggalin nya *mana popo nya*
    Tp bagai manapun jinhae pasangan dunia akhirat hahahahaha *ngakak guling2*

    Beuhhh yg aman mah minna couple *adem2, ga ada orang ke3* mrk menyenangkan *lucu* apalg sikap raena yg tomboy n jutek

    • terima kasih udah baca syg… kyuhee rada brkembang… hehehe, aku yang kehilangan teukyo feel nya…
      kaga ada versus2an… aku tetap cinta mati teuki, tdk melirik lain…
      iya minna tunggu cerita selanjutnya…

  3. eoni, aku suka part 2nya, lucu, ngegemesin dh setiap couplenya, sbnernya aku nunggu perkembangan jina hae couple…hehe
    Tp sumpah dh teukyo couple rada beda, sbnernya teuk appa yg rada frontal sih apalagi maen cium aja… Aigoo, eunkyo eon diem aja lg… Tp gk papa lah perkembangannya bagus! Haha
    Ah klo nanhee kyu mah blm da perkembangannya y eon!
    Trus rae na minho lumayan lucu dh mreka…
    Ohy eon nti key ma siwon d pasangin sama siapa?
    Pkknya part 2 ini bkin aku senyum2 gaje dh…
    Hehe
    Aku tunggu part 3nya eon, dan jg MLT nya… Hehe
    Hwaiting eon!!! *chu

    • tau noh, aku bikin nafsu kali *plak*
      teukyo mah ancur…
      key sm siwon g dipasangin sm siapa2, bisa gila aku mikirnya…
      mlt sbntr yah… aku lg esmosi ini entah kenapa… lg mens mgkin..

  4. umin itu cuma beda satu bulan fik ama eonn,
    jdi dia bukan berondong,
    lagian sekarang tuh jamannya cwo
    ma cwe yg lebih tua,,
    berarti sah2 aja dong
    eonn kan ga kalah imut ma umin*boong*
    itu drumah fika ada dua cwe tpi knpa key yg masak,,
    eonn nunggu ryujin ahhh

  5. fika, eonn itu tidak tua tapi dewasa

    malah di antara orang dewasa
    eonn msh kelihatan lebih muda
    kalo ga percaya tanya ja ma han oppa
    iya kan oppa,,*kedip2 mata ke oppa*

    hanppa : iya baby

    *lompat2 guling2 saking bahagianya*

  6. lari2 k sana k mari,,,,
    eh,,,, onni,,,, kamu suka yg lbih muda kah???
    kemarin minho skrg key,,,

    key kamu sama aku aja,,,, #tarikkey#
    tuh ajhumma dah punya ajushi angel,,, *plakkk*
    jadi critanya jadi rebutan kuda ma angel nih,,,
    menarik onn,,,
    sebanrnya kamu suka ma ciwon kan onn #blink2#
    tapi krn menjg persahabtan ma nanhee jd pura2 nolak,,, hehehehe…
    kasihan bangat nih nasibnya bang ciwon…
    smua cwek yg pengen d dekati dh ada yg incar,,,
    sini bang ciwon saya tampung juga,,,
    akhirnya,,,
    saya hruz lari dulu ke pelukan statistik,,,,
    #EVILSMILE#

  7. gereget banget kenapa teukyonya ditaro di belakang, kenapa bersambung
    geeeeezzzzz *banyak protes*
    jangan jangan leeteuk disuruh nikah gara gra kepergok sama ibunya?! asik asik asik😀

  8. Hwahahaha. seru seru eon*ces bareng fika eon.
    ini part castnya pada ngegeregetin deh.
    jadi ngenes nich.wkwkwk

    Aduh umin kenapa kaw ditakdirkan dengn jina. sungguh menyebalkan!!hehe

    itu lagi wonppa ngapain pake suka ama eunkyo segala. Gk setuju aye sbg adiknya. *digetuk reder laen.wkwkwk
    kyuhee kalian membinggungkan.
    teukyo apa yang kalian akan lakukan. jinhae aku tidak tau harus begimana.!!!*pada gk jelas
    minho and raena kalian memang couple serasi.*angkat jempol.
    jadi berbahagialah . dng kisah cinta kalian.

    • lah? ini anak baru datang…
      uminmah takdir aku, plak, digampar jina…
      tau noh siwon kenapa suka sama aku, aye sebenarnya kaga minat…
      aku? apa yang aku lakukan? tunggu berita selanjutnya tentang kami…

  9. Yeoboooooooo…
    Ini fanfic kan?
    Ini bukan kenyataan kan?
    Tapi kenapa aku serasa nonton drama sih???
    Ini tulisan…bukan gambaarr….tapi otak aku mikirnya audio visual, serasa didepan tv ntn drama korea !
    Aigoo..daebak say..
    Kamu pantes bgt masuk daftar author paporit aku !
    Penjabaran keadaannya aku suka, bahasanya jugaa…apa lagi pergantian povnya..
    Huweeee… Saranghae lah..*ciumteuki*

    • km orang kedua yang bilang ini drama korea…
      ini hanya tulisan yeobo…
      jiah? aku bukan author, aku hanya gila mengkhayal…
      pergantian povnya nyambung kan? ya saya juga belajar itu dari nonton drama.. biat semuanya nyambung dan bernyawa *plak*
      nado saranghae “Jauhkanteuki*

  10. Aq dataaang..
    Akhir’y bsa ol jga stlah skian lma ga ol..
    Teukyo couple’y ngegemesin, lucu n romantiiiiss.. Kkk~
    ya ampun, sungmin oppa baik bgt c.. Dmnaa bsa nemu cwo kyk sungmin oppa.. Jina ya~ kmu psti nyesel dh ninggalin sungmin oppa…
    MinNa couple jga ngegemesin, brantem mulu lgi.. Hehe..
    Ok, lnjut k part 3… Kajjaa..

  11. Jaelah pke kga msuk lg nih komeng -_-
    komen ulang…

    makin seru nih crita’a eonni,
    hadeeehh..
    Kyu,nanhee,siwon, teukie, sm eunkyo eonni hbungan cinta mreka bner2 rumit,
    lom lg umin,jina sm hae
    ck! Memusingkan -_-
    minna couple sperti biasa brtngkar d’awal brsatu d’akhir,
    *sok tau dah*
    wkwkwkwk

  12. kyu licik jg ya.. pk manas2in nanhee
    trz siwon kya.a ms brush dktn eun kyo, msk ga trus terang, aneh jg si sm eun kyo, takut d dktn siwon(kalo org lain mh lgsg mau aja)

    teuki blak2an bget ya, bkn deg2an aja

  13. sungmin oppa sbner’a terbuat dri ap hati mu itu.. knpa sabar bgd ..

    ommo.. pasti oemma teuki oppa berpkiran yg mcem” deh.. tpii bagus deh klo bgtu biar mreka cpet” nikah..

  14. kyaaa teukyo suit bgt, suka ama cara’a teuki yg menggoda eonni sebener’a agak gag tega umin patah hati, minna jga ok, kasian u siwon u tdk akan p’nah menang dari teuki utk dpetin eonni

  15. donghae sbnernya suka siapa siihh masih abu2 deh aku liatnya,,hihihihi…teukyoo ngegemesin dehh hahahhahah…siwon kasian sihh..kira2 siwon akn tetep ngejar eunkyoo gg ya..mmm author oke bngt bikin alurnya,,nyantai tapi pasti..hahahahha

  16. ternyata q dh pernah bca ff ini n ninggalin jejak disini..
    dlu id coment q ririn skrg msih sma sih oen cuma d’rambahi e doank sblum hruf n..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s