Money, Love and Trouble (Part 9)

Standar

MLT part 10 8 9

Aku mencintaimu seiring berjalannya waktu
Aku mencintaimu meskipun jika dunia telah berubah
Tidak ada yang bisa menggantikanmu
Cintaku tidak dapat beristirahat seharipun
Aku tidak bisa hidup tanpamu sedetikpun
Aku bisa bernapas hanya jika kau bersamaku
Aku mencintaimu selama-lamanya

Kata-kata ini tidak aku katakan dengan mata tapi dengan hatiku
Aku akan mencintaimu selamanya

Bahkan jika sepuluh tahun berlalu
Seperti bintang yang menyinari malammu
Bahkan jika aku dilahirkan kembali
Aku hanya akan mencintaimu seperti ini

(Love 119 – K Will feat. Mc Mong)

Eun Kyo’,s POV

Aku menuju ke mobil Jung Soo dengan perasaan senang. Entahlah, aku merasa lega dan merasa seperti memasuki hidup baru. Memandang tubuh mungil Ryu Jin di dalam gendongan Jung Soo Oppa membuatku ingin terus tersenyum. Aku menggandeng tangan Oppa dengan riang berjalan sampai ke mobil. Ini kah sebuah hadiah untukku? Saat aku kehilangan, aku mendapatkan sesuatu yang lebih, benarkah Tuhan begitu mencintaiku, hingga sejak bertemu ddengan Lelaki yang berada disampingku ini hidupku menjadi lebih berwarna.

“Ryu~ya, sini, Appa susah menyetir.” Aku membentangkan tanganku pada Ryu Jin. Dia menyambutku dengan tawa. Astaga, siapa yang tega meninggalkan anak semanis dan sepintar ini disini? Apa dia tidak tau jika ada sebagian wanita lain yang sangat ingin memili malaikat kecil seperti ini? Ryu memelukku manja, airmata yang tadi menggenang di pipinya perlahan kering, pipi kenyalnya, mata, mulut, hidung yang kecil, begitu sempurna. Tangannya yang lembut dan mungil senang sekali memainkan rambut panjangku dan sesekali membelai pipiku.

“Eomma.” Serunya. Aku tersenyum padanya dan menciummu.

“Wae? Kau haus?” dia mengerjapkan matanya.

“Atau lapar?” tanyaku padanya, dia hanya menatapku bingung, mungkin masih belum mengerti. Aku tidak tau pasti berapa umur anak ini, sekitar 2 tahun muungkin, bahkan bisa saja belum genap 2 tahun. Dia masih terbata-bata saat berbicara, hanya lancar mengatakan Eomma dan Appa. Apa benar anak ini tidak mempunyai orang tua? Dia sangat lancar menyebut Eomma dan Appa, tidak mungkin dia tidak mengenal sosok ibu. Tapi mengapa dia sendirian di taman? Mengapa dia memanggilku Eomma? Dan dalam hitungan detik dia hapal benar dengan diriku? Bahkan terkesan tidak ingin ditinggalkan olehku. Aku mengusir segala pikiran buruk yang melintas di kepalaku. Menatap wajah Ryu, lalu memeluknya erat, diapun balas memelukku. Oh Tuhan, aku tidak akan menyia-nyiakan anak ini, aku bersumpah. Jung Soo Oppa menoleh padaku, aku meneteskan setes air mata di pipiku. Ryu melepaskan pelukanku, mungkin karena tubuhku tiba-tiba menegang dan bergetar, dia menyapu air mataku denganjari kecilnya, aku mencoba tersenyum padanya.

“Gwaenchana~yo…” aku berbicara padanya, lalu mencium dan memeluknya lagi. Ada perasaan hangat menjalar ke seluruh tubuhku, kubelai kepalanya, hingga dia tertidur di pelukanku.

“Darimana kau dapatkan anak ini? Bagaimana jika dia tiba-tiba orang tuanya mencarinya.”

“Kita orang tuanya.” Sahutku tanpa menolehnya, bahkaan lebih mengeratkan pelukanku.

“Kyo~ya.. kau jangan begini..”

“Begini bagaimana maksudmu Oppa?” sahutku cepat. Dia tidak menjawab, lama terdiam dan memperhatikan jalan. Aku juga mengacuhkannya dengan mengalihkan pandanganku ke jendela.

“Baiklah, untuk hari ini dia bisa tinggal dengan kita, tapi besok kita harus melaporkannya ke kantor polisi.”

“Shireo!” aku menggelengkan kepala. Membuat Ryu Jin yang tadinya tertidur jadi terbangun.

“Sssttt, mianhae membangunkanmu, sekarang tidur lagi.” Aku menepuk punggung anak yang kunamai Ryu Min beberapa menit yang lalu. Oppa mendengus.

“Yeobo..” dia menghentikan mobilnya, padahal rumah kami tinggal seratus meter lagi.

“Coba kau bayangkan jika menjadi ibu anak ini. Tiba-tiba anak kita menghilang. Apa yang kau rasakan?” aku hanya diam, karena aku tau rasanya pasti terluka.

“Kau sudah pernah mengalaminya kan?” aku masih membisu.

“Kita kehilangan janin yang belum kita lihat, dan belum lahir ke dunia saja sangat menyakitkan. Bagaimana dengan ibu anak ini? Dia mengandungnya selama 9 bulan, melahirkan dan merawatnya, tiba-tiba anaknya menghilang dan kita yag merebutnya.” Jung Soo Oppa membujukku, menghadap padaku, aku tidak ingin menatap wajahnya, karena aku tau, dia memberikan tatapan memelas padaku.

“Tapi kita tidak merebutnya.” Sahutku lemah, “Aku menemukannya.” Sambungku semakin lemah.

“Arasseo, aku mengerti, tapi jangan seperti ini, kita serahkan anak ini ke polisi, ne?” aku menatap wajahnya, ‘Oppa-mengertilah’ begitulah kira-kira kata yang ingin aku ucapkan, namun tercekat di tenggorokanku.

“Begini saja, kita laporkan ke polisi, tapi kita minta ijin untuk membawanya, bagaimana?”

“Tapi aku..”

“Aku berjanji, kita bisa membawanya pulang, kalau perlu dengan jaminan apapun agar kita bisa merawatnya sebelum ada yang mengambilnya, hem?” tangan Jung Soo Oppa membelai pipiku. Memberikan tatapan agar aku mengerti dan mengangguk. Aku akhirnya mengangguk lemah.

Dia memutar balik arah mobilnya dan melajukannya menuju kantor polisi. Aku sangat gugup dan khawatir. Apa yang aku khawatirkan sebenarnya aku juga tidak tau. Khawatir ibu anak ini mencarinya? Mungkin saja. Demi Tuhan, aku sangat menyukai anak ini. Dan biarkan aku merawatnya. Kembali butiran krisatal air meleleh di pipiku. Salahkan jika aku berharap orang tuanya tidak menemukannya. Sebenarnya apa yang membuat anak ini menjadi begitu terikat padaku? Eoh? Apa ibunya mirip denganku sehingga dia mengira aku ibunya? Aku tau dan pernah mendengar, kita mempunyai 40 kembaran di belahan dunia yang berbeda. Tapi mengapa dia juga mengenali Jung Soo Oppa sebagai Appanya? Permainan apa sebenarnya yang terjadi? Tanpa terasa kami sudah memasuki halaman kantor polisi. Jung Soo Oppa membukakan pintu untukku dan menungguku untuk keluar. Aku enggan melangkahkan kakiku. Dia mengambil Ryu Jin dari pangkuanku yang mau tidak mau aku harus mengikutinya. Aku melangkah dengan berat, Jung Soo Oppa menggenggam tanganku dan sedikit menarikku, setelah sampai di depan resepsionis, Jung Soo Oppa menyerahkan Ryu Jin padaku dan berjalan mendekati petugas.

“Selamat Sore, saya ingin memberitahukan bahwa saya menemukan seorang anak kecil tanpa orang tua.” Petugas itu melirik kearah anak kecil yang aku pangku.

“Dia?” tanya petugas itu.

“Nde.” Sahut Jung Soo Oppa.

“Bawa kemari.” Aku membawa Ryu Jin ke hadapan petugas itu.

“Tidak ada orang yang melaporkan kehilangan anaknya beberapa waktu ini.”

“Tapi kami baru menemukannya sekitar satu jam yang lalu.” Petugas itu mengernyitkan dahi.

“Baiklah, nanti akan aku umumkan, silakan tinggalkan identitas anda dan tinggalkan anak itu disini.”

“Baiklah, terima kasih.” Jawab Jung Soo Oppa. Aku menatap pada Jung Soo Oppa, bukankah tadi dia meminta untuk merawat anak itu sampai orang tua anak ini menjemputnya? Tapi mengapa jawabannya seperti itu? Aku ennggan menyerahkan Ryu Jin, menatap Jung Soo Oppa, tapi tidak ada pembelaan darinya. Saat aku menyerahkan Ryu Min pada petugas itu, tiba-tiba dia bangun.

“Eomma…” Ryu Jin mulai menangis dan melambaikan tangannya menggapaiku.

“Apa maksudnya ini?!” teriak petugas itu.

“Kalian ingin membuang anak sendiri?”

“Nde?” jawab Jung Soo Oppa terkejut.

“Mengapa anak ini memanggil wabita itu Eomma?” tanyanya tajam.

“Ye?” Jung Soo Oppa semakin bingung, aku tersenyum dan melangkah menuju Ryu Jin.

“Sini biar aku yang merawatnya.” Ucapku sambil tersenyum bahagia. Jung Soo Oppa terlihat bingung dan tidak percaya dengan kejadian yang terjadi di depan matanya. Ryu Jin berhenti menangis setelah sampai di pangkuanku. Aku berjalan emndahului Jung Soo  Oppa, dia terlihat masih bingung.

Dia tidak bicara apa-apa di belakang kemudi mobilnya. Aku juga tidak mengatakan apa-apa, lama kami membisu, aku hanya bermain dengan Ryu Min. terkadang menggelitiknya hingga tawa kecilnya terdengar merdu di telingaku. Anak itu balas menggelitik leherku, aku pura-pura gelid an dia tertawa bahagia penuh kemenangan. Sesekali Jung Soo Oppa menoleh padaku dan menynggingkan senyumnya.

“Lihat kan? Dia tidak ingin berpisah denganku.” Ucapku sambil mencubit pipip kenyal Ryu Jin. Dia tersenyum ceria.

“Hufh, baiklah, kita akan merawatnya.” Sahut Jung Soo Oppa.

“Aku sudah tau aku tidak akan kehilangan anak ini.” Aku mengecup bibir kecilnya.

“Tapi jangan terlalu, ingat dia..” Jung Soo Oppa tidak melanjutkan perkataannya.

“Dia bukan anak kita? Itu yang mau kau katakan?” tembakku sinis.

“Buka n begitu maksudku, Yeobo..”

“Kau tidak menepati janji. Kau tidak berusaha membaa Ryu Jin ke rumah kita.” Aku kesal padanya.

“Ya… bukan itu yang aku inginkan, tapi jika kita dikira penculik bagaimana?” tanyanya sambil menoleh padaku.

“Stop! Hentikan pembicaraan ini dan turunkan aku!” rajukku padanya. Dia tidak meu menghentikan mobilnya.

“Hentikan atau aku akan melompat.”

“Melompat bersama Ryu Jin?”

“Jangan sebut namanya, aku tidak suka kau menyebut namanya.”

“Eun Kyo! Jangan seperti anak kecil! Sejak kapan kau suka mendebatku dan cerewet seperti ini?” Jung Soo Oppa membentakku. Aku menjadi semakin kesal padanya.

“Nde?! Apa kau bilang? Cerewet? Kau yang tidak menepati janji!” aku balas berteriak padanya. Ryu Jin terlihat kebingungan, dia melihat wajahku dan wajah Jung Soo Oppa bergantian setelah kami selesai berteriak. Dia mulai terisak, dan menangis dengan nyaring.

“Ssssstttt, aigoo.. uljima.. ya… aku menakutimu? Hem? Aku tidak marah padamu, aku hanya kesal dengan Appamu.” Aku berusaha meredakan tangisnya dengan memeluknya, dan mengusap punggungnya.

“Oppa, ini gara-gara kau.” Aku mendengus dan menatapnya tajam, dia tidak menjawab apa-apa.

“Antarkan aku ke toko pakaian anak-anak.” Pintaku, dia tidak menjawab dan mulai mencari toko pakaian anak-anak. Setelah sampai disana aku, langsung turun tanpa menunggu Jung Soo Oppa membukakan pintu untukku. Dia mengikutiku dan Ryu Jin. Banyak sekali baju anak-anak disini, aku jadi bingung, pakaian yang menurut aku cocok untuk Ryu Jin aku ambil. Jung Soo Oppa keheranan melihatku.

“Sebanyak ini?” tanyanya membesarkan matanya. Aku mengangguk yakin, dia mengeluarkan kartu kreditnya.

“Bagaimana kalau, orang tuanya…” dia menghentikan kata yang ingin diucapkannya.

“Kita orang tuanya, tidak aka nada yang bisa mengambilnya dariku!” sahutku. Aku menyerahkan Ryu Jin pada Jung Soo Oppa, dia manyambutnya.

“Sekarang kita membeli susu.” Aku merangkul tangannya keluar dari toko itu.

“Oppa, kira-kira susu formula apa yang bagus untuk Ryu Jin?” tanyaku sambil memberikan senyumku padanya, Jung Soo Oppa mengusap rambutku.

“Biasanya wanita lebih tau.” Sahutnya sambil tersenyum. Ryu Jin ikut tersenyum dan membelai pipi Jung Soo Oppa, anak ini mirip denganku, dia suka menyentuh tubuh orang lain. Aku tertawa melihat mereka berdua. Aku masuk ke dalam mini market di sekitar itu. Melihat beberapa susu formula yang tersusun rapi disana. Aku melihat beberapa susu formula, membanding angka kecukupan gizi antara susu formula ynag satu dengan yang lain. Mengambil salah satu merk susu formula dan memasukkannya ke dalam trolly, aku mengambil susu kaleng itu beberapa buah kira-kira cukup untuk Ryu Jin minum susu sebukan. Oppa hanya memandangiku sambil menggendong Ryu Jin.  Oppa terlihat senang bersama anak itu, terdengar suara tawa mereka lirih. Ryu Jin menunjuk sesuatuyang dia ingin dan Oppa mengambilnya ntuk Ryu Jin, lalu menaruhnya di trollyku.

“Ne? sebanyak ini?” tanyaku tidak percaya.

“Anakmu yang minta, bisa menolaknya?” aku menggeleng lemah.

“Bukannya Oppa yang bayar.” Aku mendorong trollyku meninggalkan mereka berdua, Jung Soo Oppa terpaku, lupa jika dia yang bayar?

Jung Soo’s POV

Aku akhirnya mengalah dengan kemauan keras Eun Kyo untuk mengambil dan merawat anak itu. setelah tadi berdebat dengannya sampai melaporkan anak itu ke polisi, tetap tidak bisa menggoyahkan keinginannya. Aku heran, memang terlihat aneh, bagaimana mungkin anak kecil seperti itu tiba-tiba memanggil Eun Kyo Eomma, apa dia gila? Tidak mungkin anak sekecil itu mengalami gangguan jiwa. Dia terlihat sangat polos dan manis. Saat bersama anak itu Eun Kyo terlihat lebih ceria, bahkan lebih ceria dari pertama kali kami bertemu. Aku memperhatikannya yang sedang memilih-milih susu formula untuk Ryu Jin, begitu dia memanggil anak ini. Ryu Jin? Mirip dengan Jung Jin, aish disaat seperti ini aku masih sempat cemburu.

“Appa.” Lamunanku buyar oleh sapaan anak kecil dalam gendonganku.

“Ne?” aku menoleh padanya, mengalihkan pandanganku dari Eun Kyo. Anak itu menunjuk salah satu cemilan untuk bayi, cemilan? Ralat, itu biscuit untuk bayi, aku mengambilnya beberapa kotak, dan meletakkannya di trolly yang didorong oleh Eun Kyo.

“Ne? sebanyak ini?” tanyanya bingung .

“Anakmu yang minta, bisa menolaknya.” Jawabku santai, dia hanya menganggu lemah.

“Bukannya Oppa yang bayar.” Jawabnya sambil mendorong trolly menjauh dariku. Aku baru sadar jika aku yang membayar semua ini. Aku terdiam dan mematung. Tanagn kecil Ryu Jin menepuk-nepuk pipiku, aku tersadar. Lalu tersenyum padanya.

“Kajja, kita pulang, kau sudah lelah kan?” Ryu Jin mengangguk, eh? Dia mengerti apa yang aku apa yang aku bicarakan?

“Ingin tidur?” tanyaku. Tapi matanya tertuju pada sebuah barang. Aku menatap barang yang ditatapnya. Bantal sapi.

“Kau mau?” dia menatapku dan mengerjapkan mata lucunya.

“Baiklah, kita ambil.” Aku mengambil bantal itu. wajah anak itu terlihat berbinar, benar-benar manis, pantas saja Eun Kyo tidak ingin melepasnya. Dia mencium pipku tanpa berkata apa-apa.

“Jika ada seseorang yang memberikan seuatu katakan Gomapseumnida, coba katakan?” aku mengajarinya untuk mengatakan terima kasih, dia mengikutiku sambil menundukkan wajahnya, memilin telinga sapi yang ada di tangannya, aku tersenyum dan memeluknya. Benar yang dikatakan Eun Kyo, tidak akan melepas malaikat kecil ini. Siapa yang tega meninggalkannya sendirian di taman seperti itu.

“Oppa, sudah selesai?” panggil Eun Kyo. Aku menoleh padanya.

“Eomma sudah memanggil, kita pulang?” dia mengangguk. Kami mengahmpiri Eun Kyo, trolly penuh dengan berbagai macam makanan. Aku kerampokan hari ini, tapi sebanding senyuman yang aku lihat, yang akhir-akhir ini menghilang. Tidak ada lagi wajah sendunya, hanya sempat bersitegang sedikit tadi, pertama kalinya dia menjadi keras kepala seperti tadi, sangat kekanak-kanakan menurutku. Pertama kalinya dia tidak menurut padaku. Tapi itu terbayar dengan wajah cerianya. Eun Kyo berubah 180 derajat, beberapa waktu terakhir dia seperti kehilangan semangat hidup, bukan seperti tapi memang benar-benar kehilangan semangat hidup. aku mebayar semua tagihan dan kami segera meluncur pulang. Dalam perjalanan aku melihat Eun Kyo dan Ryu Jin. Melihatnya membuatku terinagt dengan kehamilan EunKyo, jika seandainya anak kami lahir, apa mungkin dia akan seperti ini? Lebih hangat dari biasanya. Yang pasti mungki lebih bahagia dari ini, menemukan anak orang lain saja dia bisa berubah seperti ini, bagaimana dengan anak kami sendiri? Aku tersenyum membayangkan masa depan kami.

“Wae~yo Oppa? mengapa tersenyum sendiri?” tanyanya memecah keheningan.

“Ani, memangnya kenapa kalau ak tersenyum?”

“Kau membayangkan apa?”
“Tidak membayangkan apapun?”

“Tidak mungkin tidak membayangkan sesuatu.” Debatnya.

“ Tidak membayangkan apapun.”

“Bohong!” dia tidak menerima alasanku.

“Membayangkan bagaimana caranya memberikan Ryu Jin seorang adik dengan cepat.” Sahutku asal.

“Cish..!!” dengusnya, sambil cemberut, aku mulai senang kembali menggodanya. Beberapa hari belakangan jarang aku lakukan.

“Kenapa Wanitaku sekarang berubah cerewet.” Aku mengecup bibirnya kilat bertepatan dengan lampu lalu lintas yang berubah warna menjadi merah, tepat saat mobil berhenti. Dia terpaku, bibirku masih menempel di bibirnya. Aku melumatnya beberapa detik. Dia mendorongku.

“Yak! Jangan melakukannya di depan anak kecil!” protesnya, Ryu Jin hanya bingung menatap kami berdua.

“Hm…” aku menyapu bibirku seoalh habis memakan sesuatu. Dia memukul dadaku.

“Oppa!”

“Wae? Mau lagi?” aku mencondongkan badanku padanya.

“Shireo!” dia mendorongku.

“Sudah lama tidak melakukannya.”

“Tapi jangan di depan Ryu Jin!”

“Jadi kalau tidak di depan Ryu Jin, boleh?” aku tersenyum menggoda.

“Lampunya sudah hijau ayo jalan!” serunya sambil memukul lenganku dengan semburat merah terpancar dari wajahnya.

“Jangan nakal seperti Appamu, ara? Kau tidak boleh mencium seorang gadis sembarangan!” Eun Kyo berbicara kepada Ryu Jin dengan peringatan tangan.

“Yak, kenapa menyalahkanku?” aku tertawa.

“Kau mencontohkan sesuatu yang tidak baik di depan anak kecil.”

“Itu salahmu, mengapa terlalu menggoda.”

“OPPA!” teriaknya.

“Ingat jangan seprti Eommamu yang suka berteriak, ara?” aku menatap Ryu Jin dia semakin bingung. Aku tersenyum melihat wajah anak kecil ini.

“Jangan dengarkan Appamu.” Eun Kyo menutup telinga Ryu Jin. Hari ini benar-benar berbeda, aku terlalu bahagia.

Tanpa terasa kami sudah sampai di halaman rumah. Terlihat sebuah mobil terparkir di depan rumah, pasti Minho. Aku segera turun dan embukakan pintu untuk Eun Kyo dan Ryu Jin. Mereka keluar dari mobil, aku menutup pintu dan menuju bagasi mobil.

“Rae Na~ya…” teriakku.

“Jika kau sampai di dalam dan menemukan Rae Na tolong katakan padanya tolong bantu aku membawa barang-barang yang segunung ini.” pintaku pada Eun Kyo.

“Arasseo.” Sahut Eun Kyo sambil berjalan menggendong Ryu Jin, mereka menyenandungkan sebuah lagu anak-anak, aku tersenyum mendengarnya. Ternyata yang diperlukan Eun Kyo hanya anak. Begitu besarkah pengaruh kehilangan janinnya terhadap hidupnya, aku tidak ingin mempercayai pengaruh itu begitu, namun aku tidak bisa menolaknya, tidak bisa memungkiri jika pengaruhnya sangat besar, hampir memisahkanku dengannya, aku seperti hidup dengan mayat hidup. tapi semua itu telah berlalu. Rae Na datang dan kebingungan melihat belanjaan kami.

“Oppa, apa ini?” tanya Rae Na.

“Bawa masuk kedalam.” Jawabku.

“Oppa, jawab pertanyaanku, apa ini?”

“Ini makanan balita, dan pakaiannya serta persediaan makan kita. Aku kerampokan hari ini.” Jawabku.

“Makanan anak? Maksudmu anak yang bersama Onnie tadi?” Rae Na menunjuk ke dalam rumah.

“Eo, cepat bawa.”

“Ada yang bisa aku bantu Hyung?” aku menooleh kearah suara, Minho.

“Tolong bawa barang-barang ini ke dalam Minho~ya.” Minho mengangkut sebagian barang ke dalam rumah.

“Oppa, darimana kau dapatkan anak itu? aku jadi merinding.” Ujar Rae Na sambil mengangkat beberapa barang.

“Merinding? Wae?”

“Onnie berubah dalam sekejap.”

“Itu juga yang aku bingungkan, tapi setidaknya kita tidak perlu lagi bingung melihat perubahan sikapnya yang seperti mayat hidup.” ujarku.

“Benar juga.” Rae Na mengangguk sambil menerawang.

“Tapi mengerikan juga Oppa.” Rae Na bergidik.

“Kau ini.”

Aku dan Rae Na menyusun belanjaanku di kulkas dan lemari makanan. Aku sedikit bingung Eun Kyo banyak sekali membeli susu. Menggeleng melihatnya membeli susu 10 kaleng besar, pantas saja aku kerampokan, belum lagi baju yang dibelinya. Eun Kyo tiba-tiba datang membantu.

“Mana anak itu?”

“Anak itu? Ryu Jin?” tanya Eun Kyo balik, aku mengangguk.

“Dia sudah tidur.”

“Dimana?”

“Dikamar.” Sahutnya sambil meletakkan susu-susu itu dengan rapi.

“Iya, maksudnya dikamar mana?” tanyaku lagi.

“Dikamar kita, memangnya dikamar siapa lagi?” dia menatapku.

“Tapi kan itu… kamar kita.” Jawabku menurunkan nada ketika menyebut ‘kamar kita’.

“Tapi mau dikamar mana lagi? Kita hanya punya dua kamar. Atau kau mau tidur di ruang tamu?”

“TIDAK!” jawabku cepat, enak saja, ini kan rumahku.

“Atau kau mau tidur dengan Ryu Jin karena sama-sama lelaki, aku tidur dengan Rae Na. tidak mungkin kan menyuruhmu tidur dengan Rae Na? hem?” dia berhenti dihadapanku dan menunggu jawabanku.

“Dia tidur dikamar kita.” Jawabku tidak rela.

“Bagus, itu baru aku suka.” Dia berjinjit dan mencium bibirku. Aku langsung memeluk pinggangnya agar bisa lebih lama dalam posisi ini.

“Ehem.” Minho tiba-tiba ada dihadapanku. Eun Kyo langsung mendorongku, melepaskan ciumannya, tapi tanganku masih di pinggangnya.

“Sepertinya akan ada banyak anak kecil nantinya.” Ucap Minho sambil mengambil air minum.

“Aku hanya mengambil ini, silakan lanjutkan.” Lanjutnya santai sambil mengacungkan segelas air pada kami lalu menghilang.

“Oppa!” Eun Kyo tersadar dan langsung mendorongku.

“Hahahaha, wae? Kau yang memulainya duluan.”

“Tapi kau!” dia tidak melanjutkan kalimatnya karena mendengar sebuah tangisan seoranga anak kecil memanggil ‘Eomma”.

“Ryu Jin!” serunya sambil berlari menuju kamar. Aku hanya menggeleng melihatnya. Begitu antusiasnya dia menjadi seorang ibu. Mampu mengubahnya menjadi wanita yang perhatian dan hangat tapi juga terkadang kekanak-kanakan. Tidak seperti kemarin yang masih suka merajuk dan sedikit gengsi seperti anak remaja.

Rae Na’s POV

Aku baru saja merebahkan tubuhku di sofa. Hari ini pulang tanpa penguntit. Wah, senangnya, sehari, ah bukan, satu waktu aku tanpanya. Aku memejamkan mataku sejenak, rasanya hari ini sangat melelahkan. Tapi aku baru sadar, mengapa rumah sepi sekali? Dimana Onnie? Kenapa dia tidak ada dirumah? Bukan kah dia sedang sakit? Hem? Tidak mungkin dia kemana-mana kan? Aku mengurungkan niatku untuk tidur. Aku berjalan ke kamar memeriksa keberadaan Onnie, tidak ada. Aku cari di dapur, juga tidak ada. Ada yang tidak beres! Aku segera mengambil tasku dan mengeluarkan semua isinya, setelah melihat ponsel aku langsung menyambarnya dan membuka kontakku. Terus menekan scroll kebawah, Jung Soo Oppa! aku langsung memencet tombol panggilan. Lama aku menunggu tidak diangkat.

“Ayolah Oppa.. angkat..” aku berjalan kesana kemari menunggu Jung Soo Oppa mengangkat panggilan dariku.

“Oppa, Onnie bersamamu?” tanyaku saat Jung Soo Oppa mengangkat telponku.

“Rae Na~ya, wae? Aku angkat langsung menanyakan Onniemu, memangnya kenapa?”

“Onnie tidak ada di rumah, dia bersamamu?”

“Dia tidak bersamaku.” Sahut Oppa.

“Mwo? Jadi kemana dia?”

“Cari di kamar mandi dia sering ada di kamar mandi akhir-akhir ini.”

“Tidak ada! Aku sudah mencarinya kemana-mana, tidak mungkin dia berjalan sendiri kan? Disini tidak ada mobil atau halte terdekat.”

“Sebentar, tenang dulu.”

“Oppa, kau lupa dia sedang sakit?”

“Iya, sebentar aku hubungi dia dulu.”

“Jika kau menemukannya, tolong hubungi aku.”

“Ye.” Sahut Oppa, sepertinya dia sibuk. Tapi bagaimana jika Onnie menghilang, aish! Tingkahnya akhir-akhir ini sangat aneh. Apa karena kejadian waktu itu? Apa mungkin? Begitu terpukul kah dia? Aku tau dia terpukul, tapi haruskan seperti orang depresi berlebihan seperti itu? aku sering merinding melihat perubahannya, seperti bukan Onnie. Beberapa saat kemudian suara ponselku menggema, aku segera mengangkatnya.

“Oppa, bagaimana? Sudah menemukannya?” tanyaku langsung tanpa basa basi.

“Ya, ini aku.” Hem? Bukan suara Oppa, aku menjauhkan ponsel dari telingaku dan melihat nama siapa yang tertera di layar, shit! Itu Minho. Aku menempelkan kembali ponselku di telinga.

“Wae?! Kenapa menelponku?!” tanyaku ketus.

“Ehem, galak sekali, kau pulang dulan?”

“Tuan Choi tidak bisakah kau tidak menanyakan sesuattu yang sudah kau tau jawabannya?”

“Arasseo, kau memang pulang lebih dulu dariku, tapi wae?”

“Itu semua terserah aku, aku mau pulang cepat atau lambat itu kan urusanku, tidak ada hubungannya denganmu.”

“Aku akansegera kesana, jangan kemana.” Dia langsung menutup telpon, aku hanya terdiam dan mengernyitkan dahiku, ada apa dengannya? Aneh sekali.

Beberapa saat setelah dia menutup telponnya, aku kembali merebahkan tubuhku disofa. Ponselku kembali bordering.

“Mau apa lagi kau?” tanyaku dengan nada keras.

“Rae Na~ya, ini aku.” Eh? Suara Jung Soo Oppa.

“Ah, Oppa, mianhae.” Jawabku sedikit menyesal telah membentaknya.

“Ye, diganggu Minho lagi?” aku mengangguk meskipun dia tidak melihatku.

“Aku sudah menemukan Eun Kyo, dia ada di taman, biar nanti aku yang menjemputnya.”

“Oh, baguslah kalau begitu.” Dia menutup telponnya. Aish! Choi Minho, ini semua gara-gara kau! Aku mendengar deru mobil di halaman, aku mengintipnya, ck! Tidak salah lagi, itu Minho! Dia keluar dari mobilnya, mengenakan celana jeans dan kaos oblong, pakaian santai, mengapa dia semakin.. ah tidak tidak! Rae na, sadarkan dirimu, jangan terpesona! Dia memencet belnya, aku membiarkannya beberapa saat. Setelah 4 kali dia memencet bel baru aku membukakan pintu.

“Wae? Ada apa kesini?!” tanyaku garang.

“AKu merindukanmu.” Sahutnya santai.

“Yak! Sembarangan.” Sahutku, padahal dalam hatiku sangat hangat mendengat ucapannya, entah kenapa aku akhir-akhir ini memikirkannya, tapi aku selalu menepisnya. Dia langsung masuk kedalam rumah tanpa aku persilakan. Aku mengikutinya dengan perasaan kesal.

“Aku lapar, ongin masakanmu seperti pertama kali kau ke apartemenku.” Pintanya tanpa dosa.

“Aku lagi malas.” Tolakku.

“Ayolah.. aku lapar sekali.”

“Di apartemen ka nada Ahjumma.”

“Aku tidak sempat pulang, langsung kesini.”

“Aku tidak mau.” Aku masih menolak dan duduk di sofa sambil menyalakan tv.

“Kalau begitu aku tidur disini saja.” Di merebahkan kepalanya di pangkuanku dan tangannya melingkar di pinggangku.

“Yak Choi Minho!” bukannya melepaskan dia malah semakin erat memeluk pinggangku.

“Arasseo, aku buatkan, lepaskan aku!” dia masih tidak melepaskanku.

“Lepaskan atau aku lempar kepalamu!” ancamku. Dia melepaskanku beberapa setelah aku mengancamny. Aku segera bangkit dari sofa dan menuju dapur memasak sedanya untuknya. Setelah selesai dia melahapnya dengan cepat,  sepertinya memang kelaparan. Kami menonoton TV setelahnya. Dai tertidur di sofa dan aku meninggalkannya untuk mencuci bajuku.

Setelah aku selesai mencuci semua baju kotorku, aku masih mendapati Minho masih tertidur di sofa. Aku mendekatinya dan memukul lemah pipinya.

“Ya, bangun, nanti kau dicari Ahjumma, sebaiknya kau pulang, ini sudah sangat sore.” Dia msih tidak bergeming.

“Minho~ya..” aku mengguncang tubuhnya, dia malah berbalik memunggungiku. Sayup-sayup aku mendengar suara mobil memasuki halaman. Aku tidak memperdulikannya, itu pasti Onnie dan Oppa. masih mencoba membangunkan Minho namun hasilnya dia tidak bangun juga.

“Rae Na~ya, tolong bantu Oppamu memasukkan barang.” Aku menoleh kearah suara, Eun Kyo Onnie sedang berjalan ke kamarnya. Tapi ada yang aneh, anak siap yang dia gendong?

***

Aku enggan sekali membuka mataku dipagi hari ini. ayolah, matahari sehari saja kau terlambat untuk datang hingga aku masih bisa menutup mataku dan bermimpi. Tapi sayangnya matahari selalu tidak pernah melanggar janji, dia selalu menepati janji untuk datang dan pergi. Aku mendengar suara gaduh di luar sana. Sayup terdengar suara Onnie sedang berteriak, yak! Tidak bisakah dia diam? Yaish! Aku menutup kedua telingaku denganbantal, tapi tempat tidurku tiba-tiba bergoyang.

“Ryu~ya, ayo cepat mandi.” Suara Onnie terdengar di telingaku. Seseorang memelukku. Aku sangat terkejut dan membuka bantal yang menutupi wajah dan telingaku. Anak kecil? Darimana?

“Ayo sekarang mandi dan setelah itu kita sarapan.” Onnie menarik anak kecil itu dan membawanya keluar kamarku. aku masih setengah sadar dan mau tidak mau aku harus bangkit karena dadaku berdegup kencang saat terkejut tadi. Aku duduk di tepi ranjang beberapa saat, memegang kepalaku yang sedikit sakit karena bangun dengan tiba-tiba. Aku keluar dari kamar. Mendapati Jung Soo Oppa juga sedang keluar dari kamar.

“Ribut sekali.” Dia mengucek matanya.

“Di dapur.” Aku menunjuk ke dapur. Kami berdua berjalan menuju dapur. Dan mendapati pemandangan yang begitu tidak biasa. Seorang anak kecil duduk dengan manis di meja makan dan Onnie terlihat sedang sibuk memasak sesekali menyuapi anak itu bubur. Aku dan Oppa saling berpandangan.

“Oppa, dia kesurupan?” tanyaku setengah berbisik.

“Sepertinya.” Jawab Oppa tak kalah pelan.

“Kalian berdua, jangan hanya berdiri saja, mandi dan sarapan.” Tegur Onnie sambil tidak menghentikan pekerjaannya. Aku dan Jung Soo Oppa hanya berpandangan lalu saling menggidikkan bahu. Kami berdua mandi dan sarapan bersama setelahnya.

Minho’s POV

Aku mendengar suara Eomma lirih di telingaku, timbul tenggelam yang memanggilku, menyuruhku untuk bangun. Aku malas sekali bangun, tapi aku dengar Eomma membuka pintu kamarku, aku menutup tubuhku hingga kepala dengan selimut.

“Minho~ya.. ireona.” Eomma menepuk pantatku, namun aku enggan untuk bangun.

“Minho…” panggil Eomma sekali lagi.

“Aku panggilkan Rae Na jika kau tidak mau bangun.” Ancam Eomma.

“Panggil saja.” Sahutku sambil tersenyum dibalik selimut. Panggil saja Eomma, aku malah lebih senang. Saat membuka mata melihat wajahnya.

“Yak! Itu sih memang maumu!” Eomma memukulku dengan guling.

“Hahahahahaha.” Aku tertawa dan membuka selimut.

“Eomma, bagaimana menurutmu tentang Rae Na?” aku memeluk Eomma. Aku berubah menjadi anak yang manja setelah bertemu dengan Gadis Kepala itu.

“Hem.. menurutku dia baik.”

“Apa kau suka?” tanyaku. Eomma mengangguk.

“Dia gadis pemberani.” Jawab Eomma.

“Em, aku juga berpikiran begitu.” Aku menaruh daguku di pundaknya.

“Kau harus bersabar.” Ujar Eomma sambil memegang pipiku yang ada di pundaknya.

“Aku tau, tidak akan mudah menghadapi Appa.”

“Dia sangat keras kepala, tapi sebenarnya dia sangat menyayangimu.”

“Tapi dia menekanku, aku tidak suka.”

“Dia hanya mengikuti nalurinya, aku dan Appamu dulu juga seperti itu.”

“Benarkah?” aku menoleh padanya.

“Hem, dulu kami juga dijodohkan sepertimu.”

“Tapi kau tahan dengannya?”

“Sebenarnya dia orang yang baik, hanya saja wataknya yang sedikit keras.”

“Kau mencintainya Eomma?” dia mengangguk. Aku memeluk pinggangnya.

“Terkadang cinta butuh pengorbanan. Aku juga berpikiran aku tidak akan bahagia dengan Appamu, karena dulu aku juga punya seseorang yang aku cintai, tapi setelah aku membuka hati, ternyata cinta datang perlahan, setelah kau dan Noonamu lahir, aku jadi tambah bahagia.”

“Tapi kau tahan dengan sikap memaksanya?”

“Bukan memaksa, dia hanya tidak ingin dibantah.” Dia menatapku.

“Apa bedanya?”

“Berbeda, jika dia pemaksa dia akan memakai segala cara untuk dapat membuat orang itu menurutinya, tapi dia tidak bertindak apa-apa kan?” aku mulai berpikir, benar juga, dia masih membiarkanku.

“Dia itu jangan dibantah, tapi beri dia pengertian, lambat laun dia pasti akan menerimanya.” Eomma memberikan solusi.

“Tapi aku terlanjur kesal dengannya.” Aku melepaskan pelukanku.

“Jangan begitu, biar bagaimanapun dia tetap Appamu, Minho~ya.” Eomma menyentuh punggungku.

“Sudah biarkan saja dia, sekarang kau mandi dan sarapan, hari kuliah kan?” aku memukul dahiku.

“Aku lupa Eomma!” seruku.

“Lupa atau kau pura-pra lupa? Eoh?”

“Hehe, aku hanya malas Eomma.”

“wae? Cepat selesaikan kuliahmu dan menikah.”

“Karena hari ini Rae Na tidak masuk pagi, tapi siang.”

“Kau memang benar-benar gila Minho~ya…” eomma menjinjit telingaku.

“Eomma, appeuda…”

“Sekarang kau mandi lalu sarapan! Sudah aku aku siapkan.”

“Arasseo.” Aku mencium pipi Eomma.

“Sekarang kau lebih manja.” Komentar Eomma.

“Jinjjayo?” tanyaku pura-pura tidak percaya.

“Cepat sana mandi saja…!” Eomma mendorong kepalaku.

***

Aku melangkahkan kakiku di sepanjang jalan menuju kelasku, terasa tidak bersemangat. Aku tidak menjemput Rae Na. rasanya ada yang kurang, aku seperti tidak sedang hidup, mengawang-awang di dunia antah berantah rasanya, dunia yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Rae Na telah mengubah duniaku.

“Minho.” Teriak suara perempuan memanggilku, aku tidak menghiraukannya dan memasang headset di telingaku menghindari teriak itu.

“Minho~ya.” Teriaknya lagi masih terdengar di telingaku, segera aku naikka volume mp3.

“Minho..”  dia menjajari langkahku dan meraih lenganku, aku mengibasnya. Aku terus berjalan mendahuluinya. Mimpi apa aku semalam bertemu dengan Gadis ini lagi.

“Kau sudah makan?’ tanyanya menarik perhatianku.

“Sudah.” Jawabku ketus.

“Kalau begitu temani aku makan.” Dia menarik tanganku.

“Sampai kapan kau mau memaksaku Min Ra~ya?”

“Memangnya kenapa? Kita kan sudah bertunangan, oh, belum akan bertunangan.” Dia berkata sambil tersenyum a itu membuatku muak.

“Min Ra, tidak bisa kah kau menghargai dirimu sendiri? Bukannya aku sudah bilang aku tidakmencintaimu dan aku tidak ingin bertunangan apalagi menikah denganmu.”

“Tapi Appamu sudah merestui kita.” Dia memeluk lenganku.

“Memangnya aku terlihat peduli dengan Appaku?”

“Tapi kau tidak bisa melawannya.”

Siapa yang mengatakan itu? Appa?”

“Pokonya kau harus menikah denganku.” Paksanya keras kepala.

“Apa aku sudah bilang? Atau kau lupa? Atau…” aku berhenti dan menatapnya tajam.

“Kau ingin aku mengatakan sekali lagi, bahwa aku sangat membencimu?!” aku mulai naik pitam.

“Aku tidak akan melepasmu begitu saja Choi Minho, dengan cara apapun!” ancamnya.

“Terserah kau saja jika kau ingin mempermalukan dirimu lebih dalam lagi.” Jawabku santai. Dia berjalan meninggalkanku. Kepalaku pusing dipenuhi emosi, ku tending tong sampah yang aku lewati.

“Kenapa pagi-pagi dia sudah menggangguku?! Sialan!” umpatku.aneh, jika sedang emosi aku suka tidak terkontrol, tapi semarah apapun aku pada rae Na, aku tak mampu mengenyahkannya dari otakku. Begitu dalam kah racun cinta menggerogoti jiwaku? Hingga disaat seperti ini aku hanya memikirkannya? Bahkan saat aku marah dengan orang lain aku malah memikirkannya. Disaat amarah menguasai diri seseorang biasanya dia tidak akan mengingat apapun, tapi aku malah teringat padanya? Ck! Ini baru beberapa jam kau tidak melihatnya. Aku jadi berpikir tentang kejadian Eun Kyo Noona beberapa waktu yang lalu, begini perasaan Jung Soo Hyung? Sangat menakutkan, aku rasa ldia lebih takut dari ini. Rae Na~ya, kuharamkan kau pergi dari hidupku, karena aku benar-benar tidak bisa hidup tanpamu.

Jung Soo’s POV

Pagi ini benar-benar suatu keajaiban telah terjadi. Aku tidak menemukan Eun Kyo saat aku membuka mataku. Aku kembali mencarinya ke dalam kamar mandi, tapi dia tidak ada. Mmasih tidak berubah, dia masih suka menghilang di pagi hari semenjak kejadian itu. aku berjalan keluar dari kamar, mendapati Rae Na juga baru keluar dari kamarnya.

“Ribut sekali.” Ujarku sambil mengusap wajahnya, masih setengah sadar. Aku mendengar suara Eun Kyo dan seorang anak kecil sepertinya sedang berceloteh di telingaku samar-samar.

“Di dapur.” Sahut Rae Na sambil menunjuk kearah dapur. Aku dan dia berjalan ke dapur dan mendapati EunKyo sedang asik memasak dengan semangat sesekali dia menyuapi Ryu Jin disela kegiatan memasaknya. Aku terbelalak dan mulutku menganga lebar. Tidak pernah aku melihat Wanitaku seperti ini.

“Oppa, dia kesurupan?” tanya Rae Na setengah berbisik padaku.

“Sepertinya.” Jawabku setengah tidak percaya. Aku masih menatapnya. Dia bahkan semakin seksi bersikap keibuan seperti itu. terkadang Ryu Jin berceloteh tentang hal yang tidak aku mengerti, tapi Eun Kyo berusaha memahaminya. Dia benar-benar seperti seorang ibu juga teman bagi Ryu Jin.

“Kalian berdua, mengapa berdiri saja, mandi dan sarapan.” Perintahnya. Aku dan Rae Na saling memandang dan menggidikkan bahu namun setelahnya pergi kekamar masing-masing.

***

Hari ini aku meliburkan diri. Eun Kyo merengek padaku minta diantar ke rumah Halmeoni. Aku rasa dia ingin mengenalkan Ryu Jin pada Halmeoni. Aku tidak bisa menolaknya saat dia dengan manja meminta padaku.

“Oppa, kita kerumah Halmeoni, kau mau pergi bersama? Hari ini kau libur saja, kau tidak pernah libur.” Dia mendekatiku dan memainkan kancing kemejaku untuk bekerja. Dia sangat manis.

“Kita bawa Ryu Jin kesana, bagaimana?” tanyanya dengan wajah menggoda, dia seperti anak kecil yang meminta permen dariku.

“Tapi kau harus bekerja, Yeobo…” tolakku halus. Aku bukannya tidak ingin mengantarnya atau tidak ingin menemaninya, hanya saja aku lagi dikejar deadline.

“Sekali saja, aku tidak pernah meminta apapun darimu.” Dia mengerucutkan bibirnya, tangannya masih memegang kancing bajuku, kini dia mulai meremas kantong bajuku dan semakin mendekatkan tubuhnya. jadi Begini cara dia merayuku? Jika tidak mengingat Rae Na dan Ryu Jin sedang di luar menonton TV, kau akan menerima balasannya Park Eun Kyo!

“Bagaimana?” tanyanya pebuh harap aku mengangguk.

“Hem…” aku menatapnya, dia semakin mengeluarkan muka malaikatnya. Aku tersenyum melihat perubahan drastisnya.

“Berarti boleh?” tanyanya dengan senyuman mengembang di wajahnya.

“Boleh, asal ada bayarannya.” Aku mencoba meraih bibirnya namun sudah keburu ditutupnya dengan tepak tangannya.

‘’Tepati dulu janjimu, baru kau boleh menyentuhku.” Tolaknya.

“Arasseo, sekarang siap-siap.” Dia melompat senang.

“Gomawo nae Yeobo~ya.” Dia mengecup bibirku kilat, lalu membuka lemari dan berganti baju.

***

Aku berada dalam rumah Halmeoni sekarang. Beliau sangat senang menyambut Eu Kyo yang datang dengan senyum bahagia. Aku hanya melihatnya dari kejauhan, memandangnya berbicara dengan Halmeoni dan Jina di taman belakang, entah apa yang mereka bicarakan, terkadang mereka teertawa membuat Ryu Jin yang ada dalam pangkuan Eun kyo mengerjap heran.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Eomma mengejutkanku.

“Eomma lihat saja, dia lebih baik sekarang.” Jawabku.

“Lalu anak itu?”
“Kami menemukannya di taman dan dia menangis saat Eun Kyo akan meninggalkannya, bahkan dia memanggilnya Eomma.” Jawabku.

“Begitu?”

“Ne.”

“Kau sudah berusaha untuk mendapatkan anak sendiri?”

“Aku masih takut menyentuhnya, beberapa hari dia menjauhiku, tapi sejak anak itu hadir, dalam sekejap dia berubah.” Jelasku.

“Baguslah kalau begitu.”

“Rae Na bagaimana?” tanya Eomma.

“Dia baik-baik saja.”

“Kapan dia selesai kuliah agar bisa membantumu?”

“Mungkin sebentar lagi Eomma.”

“Aku sudah letih melihat Appamu bekerja, sudah saatnya dia istirahat.”

“Ne, aku mengerti.” Sahutku. Aku memandang dari kejauhan Ryu Jin berlarian mengelilingi Eun Kyo. Sungguh sangat bahagia, benar-benar sebuah karunia yang aku dapat. Seperti inikah rasanya sebagai seorang Appa?

 

Author’s POV

Donghae terlihat sedang di make over di ruang rias, ini tawaran pertamanya di Korea. Dia merasa sangat gugup dan salah tingkah. Dia mengenakan pakaian karya Lee Chaerin. Para pekerja yang mendukung dan ikut andil dalam pagelaran ini sibuk berlalu lalang kesana kemari, membuat Donghae merasa pusing dengan keadaan sekitarnya.
“Kau sudah siap Donghae~ah?” tanya Chaerin pada Donghae.

“Ne, Noona.” Jawabnya sambil mengeluarkan nafas dari mulutnya.

“Kau gugup?” tanya Chaerin.

“Sedikit.” Jawabnya.

“Yakin hanya sedikit?”

“Oke, aku memang sangat gugup.” Jawab Donghae gugup.

“Onnie~ya, ini yang kau minta?” tanya sebuah suara membuat Donghae dan Chaerin meoleh pada suara itu.

“Ne, gomawo Jina~ya, kau sudah membawakanku rancanganku.” Ucap Chaerin.

“Gwaenchana Onnie~ya..” jawab Jina. Sedangkan Donghae menatap Jina tak berkedip. Masih memandangi Jina saat mata Jina.

“Bagaimana keadaan Eun Kyo?” tanya Chaerin khawatir.

“Dia sudah lebih baik, dia dan Oppa bahkan merawat seoarang anak sekarang, sangat lucu, kami menyukainya.” Jawab Jina.

“Baguslah kalau begitu, aku masih merasa bersalah.”

“Onnie~ya, kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri, kami tidak menyalahkanmu.”

“Terima kasih kalian menganggapnya begitu.”

“Jelaskan padanya, dia selalu menyalahkan diri sendri.” Donghae ikut dalam dalam percakapan Jina dan Chaerin.

“Benar-benar tidak apa-apa Onnie~ya, meski dia sempat depresi, tapi mereka bisa melewatinya.”

“Jung Soo memang benar-benar mencintainya.” Sahut Chaerin lemah.

“Sepertinya memang begitu.”

“Baiklah, kau tunggu disini ya, aku mau memeriksa keadaan dulu.” chaerin meninggalkan ruang hias.

Tinggal Donghae dan Jina yang mebisu di ruangan itu.

“Kau, kau ada acara setelah pentas ini berakhir?” tanya Donghae memecah keheningan.

“Ani, wae?” tanya Jina.

“Aku hanya ingin mengajakmu makan malam, bersedia?” tanya Donghae.

“em…” Jina memainkan jarinya di dagu.

“Boleh saja.” Sahut Jina setelahnya.

***

Jina dan Donghae duduk berhadapan di sebuah restoran di pusat kota tak jauh dari tampat Donghae tadi pentas. Keduanya saling diam dan salah tingkah.

“Kau baru saja datang ke Korea?” tanya Jina.

“Ne, aku lama tinggal di California.” Sahut Donghae.

“Kau sendiri? Di Jepang?” tanya Donghae.

“Darimana kau tau?” tanya Jina balik.

“Noona yang mengatakannya padaku.”

“Benarkah? Dia bilang apa saja?” tanya Jina sambil memotong steak di piringnya.

“Itu rahasia.” Jawab Donghae menggoda sambil tersenyum.

“Kau ini.” sahut Jina.

“Ehem, Jina~ya..” Donghae menatap Jina, Jina membalas tatapan Donghae dan menghentikan kegiatannya dengan garpu dan pisaunya.

“Boleh aku menyebut makan malam kita ini…” Dongahe menggantungkan kalimatnya, muka Jina terlihat bingung dan mengerutkan dahinya menunggu lanjutan kalimat Donghae.

“Sebuah kencan?” tanya Donghae mengakhiri kalimatnya. Jina langsung terpaku. Dalam sanubari keduanya mengalun melodi yang saling bersahutan.

***

Rae Na’s POV

Sudah beberapa hari Ryu Jin ada di rumah ini, memberikan sentuhan warna baru dalam hidup kami. Celotehannya menggema diseluruh ruangan, lucu dan membuat geli. Eun Kyo Onnie juga lebih banyak tersenyum bahkan tertawa akhir-akhir ini. Aku memperhatikannya yang sedang bermain di depan TV sambil menonton TV. Banyak mainan bertebaran di sekitarnya, dia sibuk memainkan beberapa mainan, aku terus memperhatikannya dan tersenyum.

“Senang melihatnya?” tanya Jung Soo Oppa yang tiba-tiba ada disampingku.

“Em.” Ashutku sambil mengangguk.

“Aku senang melihat perubahannya, meskipun aku tidak tau sampai kapan ini akan berlangsung.

“Kau tidak kuliah?”

“Satu jam lagi” sahutku.

“Oppa, sebenarnya darimana kau dapatkan anak itu?” tanyaku sambil memandangnya.

“Bertemu di taman, saat kau kehilangannya, dia sedang ada di taman, saat aku menjemptnya dia sudah dengan anak itu.” jelasnya.

“Tapi itu anak siapa?”

“Entahlah.” Jawab Oppa sambil menunduk.

“Bagaimana jika kalian dituduh menculik anak itu?”

“Tapi kami sudah melaporkannya ke kantor polisi, dia mengatakan tidak ada yang kkehilangan anak akhir-akhir ini, saat kami akan menitipkannya disana, anak itu menangis dan memanggil Eun Kyo Eomma, dia bukan malaikat yang dikirim untuk kami kan? Aku tidak percaya.”

“Aku juga tidak mempercayai hal itu. tapi kau lihat sendiri kenyataannya.” Sahutku.

“Memang benar.”

“Tapi bagaimana jika tiba-tiba ada yang mengambilnya dari kalian?” aku menoleh padanya. Oppa masih memandangi Ryu Jin dan Eun Kyo yang sedang tertawa senang menertawakan sesuatu yang aku tidak mengerti.

“Itu yang aku takutkan.” Aku terdiam, kata yang diucapkannya begitu dalam, seolah menyimpan ketakutan yang begitu dalam.

“Jika Ryu Jin diambil, maka aku akan kehilangan Eun Kyo, aku tidak mau.”

“Tapi jika memang harus begitu, kita tidak bisa menghindar.”

“Aku akan membayarnya dengan apapun.”

“Mengapa tidak membuat ‘Ryu Jin’ sendiri?” tanyaku jahil.

“Ish.. Kau ini, masih kecil tidak mengerti tentang itu.”

“Apa? Tidak mengerti? Aku sudah sangat mengerti.”

“Kau belum tahu.”

“Buahahahahaha, belum tahu? Suara menjijikkan kalian terdengar dikamarku, kau lupa aku tidur diatap kalian, hah?”

“Hahahahahaahahaha, jinjja~yo?”

“Kalian berdua memang pervert.”

“Bagaimana hubunganmu dengan Minho?” tanyanya.

“He? Minho? Aku tidak punya hubungan dengannya.” Jawabku ketus.

“Benarkah?” senyum jahil menghiasi wajahnya. Aku menimpuknya dengan bantal.

“Jangan membicarakannya!”

“Kau menyukainya?” aku menggeleng keras.

“Dia menyukaiku?”

“Mana aku tau!”

“Kalau dia tidak menyukaimu, bagaimana mungkin dia mau setiap hari jadi supirmu?”

“Tanyakan padanya, jangan padaku.” Tiba-tiba Ryu Jin menghampiri kami dan menyerahkan sebuah bungkusan biscuit pada Jung Soo Oppa.

“Kau mau makan ini?” tanya Jung Soo Oppa sambil membungkukkan badannya hingga wajahnya sejajar dengan Ryu Jin, aku senang meilhat sisi seorang Appa dari Jung Soo Oppa. Andai Appa dan Eomma masih disini, dia pasti sangat bahagia melihat Onnie seperti ini. ryu Jin mengangguk sambil terus memandangi biscuitnya yang ada ditangan Oppa, dia menunggu Oppa membuka bungkusan itu hingga Oppa memberikan makanan kesukaan ke tangannya.

“Sudah pantas menjadi Appa rupanya.” Ledekku.

“Aku hanya belum siap berbagi tempat dengannya.” Dia mencubit pipi Ryu Jin dengan gemas. “Mala mini giliran Appa tidur dengan Eommamu, arasseo?” Jung Soo Oppa memangku Ryu Jin, bocah kecil itu tidak memperdulikan Oppa malah asik menikmati biscuitnya.

“Kau tiadk kuliah Rae Na~ya?” tanya Onnie. Dia mengambil Ryu Jin dari pangkuan Oppa.

“Sekarang kau mandi, hem?” Onnie menyentuh hidung Ryu Jin, anak itu mengangguk.

“Kalian berdua, tidak mandi? Oppa, kau tidak bekerja?” tanya Onnie menatap tajam Oppa.

“Ne, sebentar lagi Yeobo..” sahut Oppa.

“Oppa, cepat mandi, ibu suri cerewet sudah mulai menunjukkan aksi.” Ledekku pada Jung Soo Oppa.

“Dasar.” Dia menarik rambutku lalu berlalu begitu saja. Aku melemparnya dengan bantal.

***

Hari menjelang, kuliah soreku batal karena dosennya tidak datang. Aku pulang lebih cepat jadinya, ah, senangnya, aku bisa tidur sore ini. Aku kembali pulang naik taksi, tanpa diantar Minho karena dia ada kuliah sore. Aku memasuki halaman rumah, terlihat sepi. aku masuk kedalam rumah, kenapa saat aku datang semua orang selalu sepi? apa mereka ketempat Halmeoni lagi? Baru saja melepaskan sepatuku, tiba-tiba Oppa berkata.

“Rae Na~ya, kami titip Ryu Jin sebentar, dia sedang tidur dikamar, tolong jaga dia.”

“Memangnya kalian mau kemana?” tanyaku.

“Aku mau membawa Onniemu ke dokter.” Jawabnya.

“Sebenarnya tidak perlu, aku tidak apa-apa.” Elak Onnie.

“Tidak bisa, kau harus tetap periksa.” Oppa bersikeras membawa Onnie.

“Baiklah, baiklah, kalian jangat berdebat, nanti Ryu Jin bangun, aku yang susah menjaganya, kalian pergi saja.” Aku mendorong keduanya.

“Kami sedikit lama, tidak apa-apa an?” Oppa mengeipkan matanya padaku.

“Arasseo, silakan kembali sesuka kalian..”

Aku menonton TV sambil berbaring dilantai, membaca sebuah novel ditanganku, ah senangnya punya waktu luang di kahir pekan seperti ini. hari belum terlalu sore, dan aku punya banyak waktu untuk membaca. Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan keras. Aku langsung terkejut dan berdiri, jantungku serasa turun kekaki.

“Eomma…” suara tangis khas anak kecil menggema ke seluruh ruangan. Aku segera menghampiri Ryu Jin, dia teru menangis.

“Ryu Jin~ah.. berhenti menangis, Eommamu sedang keluar sebentar, ne?” aku menghapus airmatanya, namundia tidak mau berhenti menangis, dan terus memanggil Eomma. Dia menangis sesenggukan.

“Sssssttt, uljima, Eommamu sebentar lagi datang,ne?” aku menatap matanya memberikannya keyakinan, tapi sepertinya dia tidak percaya dan terus menangis. Aigoo bagaimana ini? aku harus bagaimana? Tidak mungkin memanggil Onnie, bisa tidak jadi check up dia jika mendengar Ryu Jin mengamuk. Aish! Aku harus bagaimana? Aku harus minta bantuan siapa? Eun Cha! Yang diotakku hanya ada nama itu. aku segera menelponnya.

“Onnie~ya.. bisa kau bantu aku?” tanyaku tanpa basa basi.

“Ye, minta bantuan apa?” tanyanya di seberang sana.

“Onnie~ya, aku minta bantuanmu, aku sedang mengasuh keponakanku, dia mengamuk, aku tidak tau harus berbuat apa padanya.”

“Panggil Oemmanya?”

“Tidak bisa, Onnie sedang check up ke dokter, Eotthke Onnie~ya?” rengekku.

“Baiklah, aku kesana sebentar lagi, kau tunggu saja, meski aku juga tidak terlalu lihai membujuk anak kecil, tapi setidaknya mungkin aku bisa membantu.” Sahutnya. Dia menutup telponnya. Aku menunggunya sambil terus mencoba membujuk Ryu Jin agar tenang.

 

Author’s POV

Eun Cha dan Jinki sedang dalam perjalanan pulang, Jinki terlihat tenang menyetir kemudi disamping Eun Cha. Tiba-tiba ponsel Eun Cha berbunyi.

“Onnie~ya.. bisa kau bantu aku?” Eun Cha menjauhkan ponsel dari telinganya, karena orang yang menelponnya langsung bicara tanpa menyapa.

“Ye, minta bantuan apa?” jawab EUn Cha.

“Onnie~ya, aku minta bantuanmu, aku sedang mengasuh keponakanku, dia mengamuk, aku tidak tau harus berbuat apa padanya.”

“Panggil Oemmanya?”

“Tidak bisa, Onnie sedang check up ke dokter, Eotthke Onnie~ya?” renge suara ditelinga Eun Cha. Jinki meliriknya danmengangkat alisnya.

“Baiklah, aku kesana sebentar lagi, kau tunggu saja, meski aku juga tidak terlalu lihai membujuk anak kecil, tapi setidaknya mungkin aku bisa membantu.” Eun Cha menutup telepon.

“Nugu~ya?” tanga Jinki sambil menyetir.

“Rae Na, dia bilang dia lagi mengasuh keponakannya.”

“Keponakannya? Onnienya sudah melahirkan? Bukannya kemarin keguguran? Kita belum sempat menjenguknya.” Jinki menoleh pada Eun Cha.

“Benar juga, entahlah, yang pasti sekarang dia mau kita kesana, lebih tepatnya dia memintaku kesana, bisa mengantarkanku?”

“Kita pergi berdua saja.” Ucap Jinki.

“Baiklah.” Sahut En Cha.

Mobil mereka melaju dengan cepat menuju rumah Rae Na. jinki membisu dibelakang kemudi mobilnya.

“Mengapa kau diam saja?” tanya Eun Cha.

“Ani.” Jawab Jinki.

“Sebelah sana rumahnya.” Tunjuk Eun Cha. Mereka memasuki halaman rumah besar itu. saat mereka baru saja menghentikan mobil, seorang anak kecil berlari keara mobil mereka sambil menangis.

“Eomma…” anak kecil itu menggedor pintu mobil Jinki, Jinki mematung seketika. EUn Cha turun dari mobil dan menghampiri bocah kecil itu.

“Annyeong haseyo bocah manis..” sapa Eun Cha pada Ryu Jin, bocah kecil yang sedang menangis mencari induknya. Eun Cha mencoba meraih Ryu Jin namun ditepis tangan kecil Ryu Jin. Ryu Jin berlari kedalam rumah dan masih menangis.

“Benar-benar seperti anak ayam kehilangan induknya.” Gumam Eun Cha.

“benar kan? Aku pusing menghadapinya.” Rae Na mengacak rambutnya sendiri.

“Onnie, kau bersama siapa?” tanya Rae Na.

“Dengan Jinki.” Sahut Eun Cha sambil memandang ke mobil. Jinki masih terdiam di dalam mobil dan mematung, tatapannya kosong.

“Jinki~ya, mengapa diam saja disana?”

“Ani.” Jawab Jinki bergetar.

“Ada apa denganmu?” tanya Eun Cha sambil menghampiri Jinki. Jinki terlihat tegang, keringat mengucur dari pelipisnya.

“Kau berkeringat.” Kata Eun Cha sambil menyeka keringat Jinki.

“Aku baik-baik saja.” Jawab Jinki terbata.

“Kalau begitu ayo kita masuk.” Eun Cha membuka pintu mobil dan menyeret Jinki masuk ke dalam. Di dalam terlihat Ryu JIni sedang menagis diatas sofa sambil menyembunyikan tangisannya, dia masih tetap memanggil Eomma tanpa henti.

“Ryu Jin~ah.. jangan menyulitkanku.” Bujuk Rae Na. Ryu Jin mengangkat kepalanya dan menatap Rae Na sambil sesenggukan.

“Eomma..” serunya lirih, dia sudah mulai lelah menangis.

“Eommamu sebentar lagi pulang, ne?” bujuk Eun Cha.

“Dia tidak mau diam, bagaimana ini Onnie?” tanya Rae Na.

“Mengapa tidak memanggil Minho saja? Dia sangat suka anak kecil.” Suara Jinki mengemuka setelah lama terdiam. Rae Na mau tidak mau menelpon Minho dan menyuruhnya . beberapa saat kemudian Minho datang.

“Mana anak itu?” tanya Minho sambil masuk kedalam, Minho memandangi Ryu Jin yang masih terisak sesenggukan dibalik bantal yang menutupi wajahnya.

“Kita pulang saja.” Ajak Jinki menarik Eun Cha, Eun Cha hanya bingung dengan Paksaan Jinki, mau tidak mau dia menuruti JInki. Mereka pulang meninggalkan Minho dan Rae Na yang sedan membujuk Ryu Jin agar berhenti menangis.

“Kau kenapa?” tanya Eun Cha saat mereka dalam perjalanan.

“Aku takut anak kecil.” Jawab Jinki.

“Mwo?” sahut Eun Cha terkejut. Mereka menyusuri jalan dengan diam. Hingga sampai di depan rumah Eun Cha. Eun Cha hendak membuka pintu mobil dan keluar dari mobil, namun Jinki mencegahnya. Eun Cha menatap tangan Jinki yang memegang tangannya. Jinki mencodongkan badannya pada Eun Cha dan perlahan mengcup bibir Eun Cha.

“Second kiss.” Ucap Jinki sambilmenyembunyikan wajahnya. Eun Cha hanya terpaku dan memegang bibirnya.

 

Minho’s POV

Aku menerima telepon dari Rae Na, dia bilang dia minta bantuanku? Bantuan? Bantuan apa? Membujuk anak kecil berhenti menangis? Dia mengatakan jika aku tidak datang secepatnya dia akan membunuhku, eoh? Yang benar saja, mendengar dia marah saja membuatku merasa lebih hidup, bagaimana mungkin dia bisa membunuhku jika aku hidup bereinkarnasi setiap hari karenanya? Mati saat malam hari karena tidak bisa bernafas tanpa meliahtnya, dan hidup kembali ketika pagi melihat wajahnya. Aku sudah sampai di rumah itu dan segera masuk ke dalam.

“Mana anak itu?” aku bertanya pada Jinki Hyung, dia menunjuk kearah sofa, memang benar, terlihat anak kecil sedang menangis dibalik bantal yang menutupi wajahnya. Lucu sekali, dia meredam tangisnya denganbantal, namun tubuhnya bergetar karena menahan isakan yang keluar dari mulutnya.

“Kau apakan dia?” tanyaku pada Rae Na. dia melotot padaku.

“Aku tidak melakukan apa-apa.” Sahut Rae Na.

“Lalu mengapa dia menangis seperti itu?” tanyaku.

“Dia mau Eommanya.” Jawab Rae Na.

“Eomma?” tanyaku bingung.

“Maksudku Eun Kyo Onnie.. Onnie menemukan anak ini dan sejak melihat Onnie dia terus menempel pada Onnie seperti anak ayam mengikuti induknya.”

“Kenapa bisa begitu?” tanyaku sambil mendekati anak itu.

“Ya.. bocah kecil, siapa namamu?” tanyaku sambil mengambil bantalnya. Aku menarik bantalnya hingga wajahnya terlihat olehku, dia menutup mukanya dengan tangan mungilnya.

“Ya.. hahahahaha, kau malu padaku?” dia masih tetap tidak mau membuka wajahnya. Aku tersenyum menatap wajahnya, begitu lucu, aku ingin sekali memeluknya.

“Tidak mau berkenalan denganku?” dia merenggangkan tangannya hingga matanya bisa melihatku, aigoo tingkah anak ini begitu menggemaskan.

“Menggemaskan sekali, annyeong..” aku melambaikan tanganku padanya, dia merapatkan kembali tangannya hingga mnutupi wajahnya.

“Aigoo, tidak perlu malu, aku Minho, panggil Minho Appa.” Aku meraih tangannya. Dia berhenti menangis dan mulutnya maju beberapa centi.

“Mulai sekarang panggil aku Minho Appa, ne?” aku benar-benar menyukainya.

“Minho Appa? Apa-apaan itu? dia bukan anakmu!” protes Rae Na.

“Bila kau menikah denganku kan dia jadi anakku juga, lebih baik membiasakannya sekarang.” Jawabku dibalas dengan lemparan bantal di tengkukku. Anak itu tersenyum dikulum.

“Ya.. Kay tertawa? Hem?” aku memegang pipinya, dia mengalihkan pandangan dariku, memang benar-benar menggemaskan.

“Eomma..” wajahnya mulai cemberut ingin menangis. Airmata kembali menetes dipipinya, namun dia tidak mengelurkan suara isakan.

“Eommamu pasti akan kembali, ne? percayalah padaku.” Aku menatap mata anak itu.

“Siapa namanya?”

“Ryu Jin, panggil saja dia Ryu Jin.” Jawab Rae Na dari dapur.

“Arasseo, Ryu Jin~ah… bagaimana kalau kita main PS?” dia menghentikan tangisnya dan matanya mulia berbinar. Aku menggendongnya dan membawanya ke depan TV, memasanga beberapa kabel dan menyalan PS. Dia memperhatikanku bermain, kadang-kadang dia juga ikut memencet tombol. Matanya tidak lepas dari layar. Mulai tersenyum dan perlahan dia mulai tertawa sampai akhirnya gelak tawanya menggema.

“Ryu Jina~ah.. ayo makan.” Ujar Rae Na menghampiri Ryu Jin dengan membawa semangkuk bubur. Aku menatapnya, Ryu Jin masih tidak menghiraukan Rae Na, dia malah asik memencet tombol di tanganku. Rae Na mendekat mencoba menyuapi Ryu Jin, anak itu menurut, dia membuka mulutnya dan menunggu Rae Na menyuapinya.

“Anak pintar.” Puji Rae Na, Ryu Jin tidak menjawabnya dan matanya tak beralih pada layar TV. Rae Na terus menyuapi mulutnya dengan makanan, aku malah terus memperhatikan Rae Na, sosoknya berubah, meski wajah kerasnya masih tidak luntur, tapi dia begitu perhatian dengan anak ini, membuatku merasa tersaingi. Saat Rae Na ingin menyodorkan sesendok bubuk ke mulut Ryu Jin, aku segera menyambarnya dan bocah kecil itu segera menoleh padaku dengan cepat, matanya membulat menandakan dia kesal padaku.

“Aaaaaaa….!!!” Teriaknya sambil melempar stick PS yang sejak tadi beralih ketangannya.

“Aish! Kau ini!” Rae Na, memukul kepalaku.

“Enak, rasa pisang.” Aku mengecap lidahku dan memang benar enak. Ryu Jin masih berteriak dan mukanya berubah masam.

“Ryu Jin~ah, buka mulutmu.” Rae Na menyodorkan sesendok bubur padanya, dia menyambutnya dengan cepat dan masih menatapku tajam.

“Aigoo.. kau seperti Ahjumma, sering mengamuk.” Aku mencubit pipinya. Rae Na sekarang yang menatapku tajam.

“Sekarang suapan terakhir, buka mulutmu Ryu Jin~ah…” anak itu mulai kembali asik dengan  permainannya, dia hanya memencet sembarang dan tertawa melihat objeknya bergerak. Rae Na membawa piring kotor ke dapur. Aku kembali bermain denga Ryu Jin. Rae Na kembali ke ruang tengah bergabung bersamaku. Pikiranku mulai jahil.

“Ryu Jin~ah.. kau mau lollipop ini?” aku mengeluarkan sebuah lollipop dari sakuku, wjah Ryu Jin berbinar, dia langsung mengangguk. Dia mencoba meraih lollipop itu dari tanganku tapi aku menariknya keatas.

“Tapi ada syaratnya.” Dia menatapku.

“Siapa yang paling pertama bisa berbaring di pangkuan Rae Na Noona, maka akan dapat lollipopnya.” Dia mengangguk, anak ini mengerti perkataan orang lain tapi dia tidak berbicara, yang dia tau hanya memanggil Eomma dan Appa, jarang sekali mau berbicara.

“Aku hitung sampai 3.”

“Hana…” Ryu Jin mengambil posisi.

“Dul…” dia semakin bersemangat mengmabil kuda-kuda.

“Set!” dia langsung berlari meniggalkanku, aku sengaja tertinggal darinya, hingga dia hampir sampai dipangkuan Rae Na baru aku melangkah, dan Ryu Jin sedetik lebih dulu merebahkan kepalannya dipangkuan Rae Na yang sedang membaca. Dia terkejut tiba-tiba aku dan Ryu Jin sudah berbaring dengan manis berbantal kakinya.

“Aigoo.. Kau hebat, lollipopnya untukmu.” Pujiku, Ryu Jin langsung menyambarnya dan bangkit lalu pergi ke depan TV lagi. Aku yang tertinggal enggan untuk beranjak. Memejamkan mataku di pangkuannya.
“Hadiahku mana menaklukkan makhluk kecil manja itu?” aku berbicara dengannya.

“Tidak ada hadiah.” Sahutnya.

“Aku hanya ingin kau ada, aku melihatmu, itu sudah cukup.” Ucapku sambil meninggalkannya, namun sebelumnya mengcup bibirnya kilat.

Eun Kyo’s POV

Aku sedikit tidak terima saat Oppa memaksaku untuk check up ke dokter. Aku sudah tidak sakit lagi, aku sudah tenang, bahkan aku tidak tenang jika meninggalkan Ryu Jin bersama Rae Na saat ini. bukannya aku tidak percaya terhadap Rae Na, hanya saja entah kenapa aku merasa tidak tenang meninggalkannya. Bagaimana kalau Ryu Jin mencariku? Bagaimana kalau dia menangis? Apa Rae Na mengerti jika Ryu Jin sedang lapar? aku menatap Jung Soo Oppa dengan kesal, dia sedang focus menyetir mobil, sepertinya dia juga sedikit kesal karena aku kurang bekerjasama saat ini. Dia hanya diam, tidak enak juga diam seperti ini.

“Oppa, aku tidak sakit, jika kau menganggapku sakit kemarin, sekarang aku sudah merasa sembuh.” Oppa tidak menjawab.

“Oppa…” rengekku. “Kita pulang saja.”

“Tidak!” jawabnya tegas. Aku hanya diam sekarang, tidak mencoba berkompromi dengannya lagi. Tak terasa, ditengah kebisuan kami, kami telah memasuki halaman tempat praktek dokter. Dia turun dari mobil dan membukakan pintu untukku. Aku turun dengan kesal. Setelah sampai di tempat praktek itu, kami menunggu antrian, Oppa sudah mendaftarkanku, pantas saja di abersikeras memaksaku.

“Nyonya Park.” Seseorang memanggil namaku, Oppa menoleh padaku namun aku tidak menghiraukannya. Oppa menarik tanganku dan masuk kedalam ruangan. Hey, ini bukan dokterku yang biasanya. Di papan namanya tertulis Psikolog di belakang namanya. Aku menatap tajam lada Oppa! yak! Aku memang bermasalah dengan kejiwaanku, tapi tidak untuk saat ini, itu sudah berlalu.

“Silakan duduk.” Wanita setengah baya itu mempersilakanku untuk duduk idsebuah kursi khusus. Aku setengah berbaring di kursi itu.

“Nyonya Park, aku disini bukan untuk mengintrogasimu, apalagi menghakimimu atau mungkin menyalahkanmu, aku hanya ingin membantumu, anggap aku adalah seorang sahabat untukmu, jadi ceritakan padaku semuanya apa yang mengganjal dihatimu, aku kan mendengarkannya dengan baik, mengerti?” dia mentapaku lembut, akutanpa sadar tersenyum padanya dan mengangguk.

“Sekarang pejamkan matamu.” Aku menuruti perintahnya. Memejamkan mataku dan cerita itu mengalir begitu saja dari mulutku tanpa bisa aku hentikan.

“Sekarang buka matamu. Tarik nafasmu, lalu hembuskan.” Lagi-lagi aku melakukan perintahnya.

“Merasa lebih baik?” tanyanya.

“Lumayan.” Sahutku. Wanita itu duduk kembali dikursinya berhadapan dengan Oppa.

“Kau harus sabar menghadapinya, dia punya kekhawatiran berlebih terkadang, jangan membuatnya cemas.”

“Apa itu sebabnya dia terkadang bisa senang berlebih atau sedih berlebih?” tanyaku.

“Emosinya labil. Kadang dia merasa sangat senang, ada kalanya dia merasa sangat terpuruk. Tapi melihat kedaannya sekarang dibandingkan secritamu dan ceritanya, aku rasa dia mengalami kemajuan pesat.”

“Itu karena anak itu.”

“Aku mengerti, ketakutannya tidak memiliki anak membuatnya merasa takut.” Jawab Psikolog itu, aku rasa yang dia katakana sangat benar, bagaimana jika seandainya aku benar-benar tidak mempunyai anak? Ryu Jin satu-satunya yang bisa membuat aku merasa lengkap.

“Kau harus membuatnya selalu merasa tenang.” Kata wnita itu memberikan solusi. Aku bangkit dari dudukku dan menghampiri mereka.

“Sudah selesai?” tanyaku.

“Sudah, kalian boleh pulang, dank au Nyonya Park, jangan memendam ketakutanmu sendirian, berbagilah dengan orang lain.” Aku mengangguk. Kami keluar dan menuju jalan pulang. Oppa menyetir seperti tadi, tangannya yang satu memegang kemudi, satunya lagi menggenggam tanganku.

“Kau ingat tempat ini?” aku menoleh padanya. Bingung dengan tempat ini, apa maksudnya.

“Ini tempat pertama kali kita bertemu.” Lanjutnya.

“Kau dengan muka pucatmu menghampiriku dan menyuruhku membawamu, berawal dari situ sampai akhirnya kau benar-benar membuatku tidak bisa melepaskanmu dan sungguh-sungguh membawamu dalam kehidupanku.” Dia biacar panjang lebar.

“Aku ingin mengenag pertemuan kita.” Oppa menyandarkan kepalanya dibahuku. Aku menyentuh pipinya.

“Jangan pernah berpikiran aku akan meninggalkanmu, aku tau kau akhir-akhir ini berpikiran seperti itu, berpikir aku bisa menemukan yang lebih baik darimu, aku tau kau ingin melepaskanku, tidak akan kubiarkan, karena aku tau aku tidak akan menemukan yang sepertimu, meski itu lebih baik darimu, tapi itu bukan kau. Aku hanya ingin kau dalam hidupku, tidak ingin yang lain, banyak yang lebih baik, banyak yang lebih cantik, tapi mereka bukan kau, yang membuatku merasakan perasaan cinta berbeda setiap detik, oleh karena itu, aku tidak akan pernah bisa jika kau tidak ada. Aku tidak akan merasakan cinta jika kau menghilang, hanya akan ada cinta untukmu, tidak ada celah untuk yang lain, karena tiap detiknya hanya merasakan cinta untukmu.” Aku menangis mendengarkan penjelasannya.

“Jangan menangis, aku tidak ingin membuatku menangis.” Dia mengusap air mataku. Tuhan, bagaimana mungkin kau bisa mengirimkannya untukku? Dia membunyikan mobil dan mulai melajukannya memecah jalanan kota. Aku tertidur saat dia membawaku. Aku terbangun dan sudah mendapati diriku diatas ranjang.

“Sudah bangun?” aku mengerjapkan mataku.

“Dimana kita Oppa?”

“Dirumah Eomma.”

“Ne?” tanyaku bingung. Aku bangkit dari ranjang dan memang benar, ini kamar kami dulu, lebih tepatnya ini adalah kamar Oppa.

“Aku tidak tega membawamu langsung ke rumah, kesini lebih dekat.” Aku berbalik menatapnya. Dia mendekatiku, aku berdiri terpaku saat dia sampai berada di hadapanku. Membelai pipiku, aku menunduk.

“Ini tempat pertama kali kita tidur bersama setelah menikah dan itu benar-benar kengan manis untukku.” Dia meraih daguku dan menarik wajahku menghadapnya. Mendekatkan wajahnya dengan perlahan, mengamati bibirku, aku juga mengamati wajahnya, dia menatap mataku beberapa ddetik seolah meminta ijin untuk menyentuhku, aku memejamkan mataku, dan bibirnya menempel di bibirku beberapa detik, lalu setelah itu bibirnya mulai bergerak dan melumat bibirku. Tanganku bergerak menyentuh dadanya. Tadinya dia yang merendahkan tubuhnya meraihku, kini aku yang berjinjit menjaga agar ciuman ini tidak terlepas. Aku menginjakkan kakiku dikakinya. Dia mulai membawaku berjalan menju ranjang dan kakiku masih bertumpu dikakinya. Tangannya berada dileherku, memainkan jarinya disana, memberikan sensasi yang berbeda. Hari ini dia benar-benar membuatku terbuai.

“Oppa..” aku melepaskan ciumannya, namun dia masih membelai leherku dengan jarinya, menatapku dengan intens.

“Kita meninggalkan Ryu Jin, kita pulang sekarang?” aku menunggu jawabannya, dia tidak menjawab, malah kembali menciumku, dan mendorong tubuhku ke tempat tidur. Aku tidak menolaknya.

“Oppa… Aku ingin pulang.” Pintaku. Dia tersenyum, mianhae Oppa, aku benar-benar teringat Ryu Jin.

“Baiklah.” Dia mengecup bibirku sekali lagi lalu bangkit dari tempat tidur.

“Pamit pada Eomma dan Halmeoni dulu.” dia menungguku berdiri, lalu kami keluar bersama untuk berpamitan.

***

Kami telah sampai dirumah, aku mendapati rumah dalam keadaan sepi, ini kan sudah malam, mungkinkah mereka tidur? Saat aku memasuki ruang tengah, aku mendapati Ryu Jin tertidur di lantai sedang memegang stick PS dan layar TV menyala tanpa ada yan menonton atau memainkannya. Disebelah sana terliah Rae Na dan Minho tertidur berlawanan arah namun satu bantal, kaki Rae Na mengarah ke Utara, kaki Minho mengarah ke selatan. Benar-benar pasangan yang aneh.

“Yak kalian berdua bangun.” Aku membangunkan mereka berdua, tapi tidak ada yang bergeming.

Jung Soo’s POV

Aku mendapati bocah kecil itu tertidur di lantai. Posisinya sangat lucu, dia memegang stick PC di dadanya, wajahnya sangat pols, benar-benar seperti malaikat. Tak bisa dipungkiri, karena kehadirannya aku dan Eun Kyo menjadi lebih dekat meski juga tidak bisa menyangkal terkadang aku sangat cemburu padanya. Bagaimana aku tidak cemburu jika dia selama beberapa minggu terakhir memonopoli Eun Kyo?

Aku mengangkat tubuh mungilnya, dia menggeliat, aku mambawanya kedalam kamar dan merebahkannya.

“Dia masih tidur Oppa?” tanya Eun Kyo.

“Em, dia masih tidur.” Jawabku.

“Pasti mereka berdua tidak memandikannya. Tidurnya pasti gelisah malam ini”

“Begitu?”

“Em, karena pasti gerah.”

“Bagaimana kalau kita mandi juga biar tidak gerah?” aku menatapnya menggoda.

“Oppa, kau ini apa-apan.”

“Sudah lama kita tidak ‘melakukannya’.” Dia memukul dadaku.

“Ada Ryu Jin.” Sahutnya menyembunyikan muka merahnya.

“Bisa di tempat lain kan?”

“Kalau dia terbangun dan mencari kita?”

“Ada Rae Na dan Minho.”

“Tapi eeumfh!” aku sudah menyambar bibirnya, kali ini aku sedikit memaksanya. Membawanya ke kamar mandi. Aku meraba tubuhnya. Dia hanya diam dan memejamkan matanya. Aku tau kau menginginkannya juga Yeobo~ya..

Aku mendorong tubuhnya hingga dia terdesak d washtafel. Aku mengangkat tubuhnya dan terus menciumnya, mendudukkan tubuhnya di washtafel. Melepas kancing bajunya satu-persatu, benar-benar tidak sabar, aku melepaskan beberapa kancing bajunya karena aku menariknya. Dia juga melakukan hal yang sama, beberapa detik berlalu lidah saling bertaut.

“Oppa..” dia melepaskan ciumanku dengan menjauhkan kepalaku.

“Wae?” tanyaku.

“Melakukannya disini?” tanyanya dengan ragu.

“Dimana lagi? Di tempat tidur ada Ryu Jin.” aku benar-benar melakukannya.

***

Kami keluar dari kamar mandi bersama. Sudah mengenakan pakaian lengkap dan Ryu Jin masih tertidur dengan memeluk gulingnya. Eun Kyo merebahkan diri di dekat Ryu Jin dan aku mengambil posisi disamping Eun Kyo. Memeluk tubuhnya yang sedang memeluk Ryu Jin.

“Gomapta.” Bisikku ditelinganya lembut.Dia menoleh padaku tapi badannya tetap memunggungiku, aku menyusupkan kakiku diantara kedua kakinya.

“Memang seharusnya seperti itu.” jawabnya sambil mencium bibirku. Aku menyambutnya dan kami kembali berciuman, dia membalik badannya, namu sebuah suara mengejutkan kami.

“Eomma…” Ryu Jin mengusap matanya, Eun Kyo segera melepaskan ciuman kami.

“Ye, ada apa sayang?” dia mencium dahi Ryu Jin.

“Pi..pis.” ucapnya terbata, kata ketiga yang pernah aku dengar darinya selain Eomma sebagai kata favoritnya dan Appa pilihan terakhirnya.

“Ayo sini sama Eomma.” Eun Kyo membawa Ryu Jin kekamar mandi. Ish! Anak ini mengganggu saja, sisi egoisku mulai muncul. Aku menatap mereka berdua yang baru keluar dari kamar mandi. Ryu Jin kembali tidur di posisinya semula. Dia bangkit duduk setelah melihat Eun Kyo tidur diantara aku dan dia.

“Appaaaa…. Aaaaaa.” Dia menjauhkan tanganku yang memeluk Eun Kyo. Aku tidak memperdulikannya dan memeluk Eun Kyo kembali. Dia kembali berteriak, apa maksudnya ini? dia tidak mau aku menyentuh Eun Kyo? Begitu maksudnya? Hah? Yang benar saja! Aku lebih dulu hidup dengannya bocah kecil!

“Oppa, mengalahlah sebentar.”

“Dia selalu menghabiskan waktu denganmu sepanjang hari, tidak bisakah malam giliranku?” protesku pada Eun Kyo.

“Tapi dia hanya anak kecil Oppa!”

“Iya dia anak kecil yang sangat pintar memonopoli dirimu!” aku memeluk pinggangnya.

“Aaaaaaaa…..” Ryu Jin kembali berteriak.

“Oppa, sebentar saja.”

“Shireo!” tolakku keras.

“Hiks, hiks.” Wajah anak itu mulai cemberut, matanya mulai berkaca-kaca. Aigoo.. pintar sekali dia menggunakan trik.

“Oppa…” aku tetap bersikeras. Kini Ryu Jin juga mengambil tindakan. Dia menyusup diantara aku dan Eun Kyo, Eun Kyo menggeser tubuhnya dan memberikan celah untuk Ryu Jin. Dia memeluk Eun Kyo dan membelakangiku.

“Yak tidak sopan sekali!” omelku.

“Oppa! sampai dia tertidur saja!” Eun Kyo mulai marah.

“Hanya sampai dia tertidur, paling-paling juga 15 menit!” sambung Eun Kyo. Ck! Bagaimana mungkin anak ini menggeserku di tempat tidur? Hah? Benar-benar keterlaluan.

“Sampai dia tertidur, setelah itu terserah kau mau apa!” dia membelai dan mencium kepala Ryu Jin, benar kan? Anak itu pintar sekali memonopoli Eun Kyo?

TBC

Hufh, akhirnya selesai juga… ide mengalir tapi ada aja kendala buat ngetik, laporan lah, ada kegiatan lah, disuruh kesini lah, atau apalah. Padahal lagi asik membayangkan MLT… hohohohoho, part ini agak yadong sedikit yah??? Biarlah, kan udah menikah juga kan??

Aduh aku ngantuk udah dulu yah… yang baca harap dikomen… selalu aku sampaikan di bagian akhir, ini tanpa edit, dan kalo nemu kata yang kurang huruf, atau ketuker.. atau kurang pas, tolong artikan sendiri ya…

122 responses »

  1. gemeeeesssss ama ryujin nya,,
    ryujinnaaa annyeong,kenalin ini ahjumma*cubit2 pipi ryujin*
    mau punya anak kya ryujin,,
    han oppa nikahi aku*tarik hanppa ke KUA*,,
    itu si minho renkarnasi tiap hari berarti mati tiap hari juga dong,,
    minna kenapa tdurnya beda arah,satu arah kan lebih asik*plakk*,,,
    ehm ehm,,duh yg udah ngebet,,ga di tempat tdur kamar mandipun jadi,,,
    oppa merasa cemburu ma ryujin,,ayo oppa rebut kembali eunkyo,biar ryujin buat aku*bawa lari ryujin*
    fik si onew tkut ma ank kecil ya,,kalo ma aku ga takut dong*colek2 jinki*,,
    hae ya keluarkan jurus gombalmu untuk memikat jina,,sepertinya donghae sedikit kalem dsini,,bener ga fik*reader sok tau*,,
    wah sepertinya ini komen terpanjangku deh,,
    ryujinnaaa ahjumma pulang dulu ya,,daaaaa*chu ryujin dan appanya*

    • masya allah…. jgn dengerin nak… *tutup telinga ryu jin* ada tante genit jgn dliat……!!
      masih tetap kan onn predikat fika miss typo??
      onnieeeeeeee tidak ada akar rotanpun jadi, masa iya aku di samping ryujin, klo dia bangun gmna?? hancur dunia onn anakku liat ortunya begituan.
      ih onyu tu emang alergi anak kecil…..!! dia keringetan panas dingin… bener ga pit? *colek pity*
      kalem? dia pemalu onnie sayang… sm ky kembarannya, aku sm onge kan sehati…

      tau noh si kodok mati tiap hari….! kaga cape apa ya?
      ryu jin cakep plus ngegemesin kan onn ya??

    • kalo g typo berarti aku lg g normal, karena aku normalnya ya gila terus bgini..
      ga full? udah mau dbikin full, tapi aku kburu ngantuk karena jam 1 td mlm baru selesai…
      ryu min? m sm j deketan, j itu diatas m jadinya yanh salah pencet… mianhae… diakhir note aku pasti bilang pasti byk typo karena g aku edit, males…

  2. Eon.. Bacanya jdi pgn nikaahh n pny anak.. =P
    Hehe..
    Aku jadi takut kalo eunkyo knapa”, kalo anaknyaa diminta balik.. T.T

    Aku suka bgt tuh kata” Eeteuk wktu di tmpat pertama kali ketemu.. Hoho.. Siiippp bgt deh..

  3. wkwkwk…..

    DAEBAK!!!

    Ryujin~ah…..
    neomu neomu qyoptta… >Δ<

    hahaha…
    dapet namdongsaeng grais…..

    gagagagaga…

    MinRa…..
    aQ suka banet manreka….
    kakakaka…
    Raena~yaaa…
    akui saja… kau mulai menyukai Minho….
    hahahaha….

    penyakit random ank kcl Jinki oppa blm ilang….

    hahahaha…
    gmna entr kalo dh kwin trs punya ank??

    hahahaha..
    kasian bnget dh ank.a…

    gegegegege..

    next!!!!
    Lanjutannya jangan lama"
    khekhekhe…
    ^Δ^

  4. eoni part ini part paling bgs… Haha
    Ahh, ryujin pasti lucu bgt dh…. Kan jd mw… Wkwk
    Aigoo, ini part yg gk bnyk galaunya malah bnyk kisseunya…wkwk

    Ah minrae n jincha nya jg gk terlalu bnyk… Kyk nya lg memperbnyak teukyo nih eon.,hehe tp gk papa romantis tis tis….
    Aigoo, teukyo ngelakuin d kamar mandi? Omo, awas nanti kdengeran ryujin loh.. Haha

    Teuk appa ngalah donk sma ryujin,
    Ryujin pinter bgt sih eon… Ah kan jd unyu2 tuh…

    Ah pkknya dtunggu MLT part 10 nya eon…

    • pastinya dong, siapa dulu dong mamahnya??
      gak byk galau… masa galau mulu?
      Minna iyah ga terlalu byk, byk mereka sndiri2… rae na aja yg lumayan nyempil dimana2…
      romantis? aye kan selalu romantis…. *plak, najong iya*
      eh trnyata dkamar mandi tu sensasinya lebih beuh…. wahahahahaahha.
      tau noh si oppa pengennya menang mulu…
      pinter? dia mah cerdas…
      part 10 aku masih blm tau….

  5. fika orangnya pemalu,,masa sih,
    pertahankan gelar miss typo nya fik,,
    eonn ga pernah nyinggung mslah typo lgi dikomenan,
    karna eonn tau pasti ga berubah,,
    typo itu manusiawi sodara2,,
    fikaaaa eonn mau piku nya ryujin donggg,,biar ntar anak eonn ma han oppa selucu ryujin*ngayal*,,
    oke oke,,oke dong

  6. Keren bnget onnie. .
    Keliatan.a ryujin imut bgt ya, pinter lg ank.a. . Teukyo makin romantis aja ya. .
    Eunkyo makin brani nyosor dluan yah, biasa.a kan teukppa yg nyosor. . Haha
    MinNa kurang bnyak ya onn, tpi kren bgt kta”.a minho it. . Bsok” part minna ma jincha agk bnyak ya onn😀

  7. part ini benar2 part ryu jin, aih gemes bgt

    Ngakak bc.a saat eunkyo nyuruh teukppa tdr ma raena kekekekeke

    Onew takut ma anak kecil dan mino bisa menaklukan ryu jin jd ingat HB SHINee

  8. part ini benar2 part ryu jin, aih gemes bgt

    Ngakak bc.a saat eunkyo nyuruh teukppa tdr ma raena kekekekeke

    Wah teukyo makin romantis aja
    Janguan ryu jin makin membuat mrk harmonis

    Onew takut ma anak kecil dan mino bisa menaklukan ryu jin jd ingat HB SHINee

    • kagaaaa aku blg sm raena mau bikin nc, tpnya dia ktnya rada gimana gtu, berhubung aku udah diatas jam 12 ngetiknya smbl konsul curhat gaje sm rae na sputar ff… dan udah ngantuk, g jd bikinfull…
      sensasi apa ayo….

  9. @cho miara: sesujuuuuuuuuu,,,
    fikaaaaa,,pokoknya eonn mau ryujin,,
    ato ff buat fika ga eonn kasih nih,,hayooo pilih mana,,*ngancem ceritanya*
    anak fika berarti keponakan eonn dong,,boleh ya yayaya

  10. Teukyo,ah.. kalian harmonis sekali klo sprti ini.. teruslah sprti ini eonnie ya.. aq ga bs bayangin andai Ryujin d’ambil ortu’y..aq tdk rela #plakk Ryujin membawa kebahagiaan utk kita..hehe

    Donghae hyung,ayo tunjukan pesonamu..kekeke

    Jinki takut anak2..kasian bgt ayam sipitmu eonnie.. tp klo anak pemberianmu aq yakin dia tdk akn takut.. #plakk

    MinNa,MinNa couple..bkn Minra/minrae..huweee ;'( *nangis d’pojokan*
    Rae Na-ya~ kuharamkan kau pergi dr hidupku,krn aq tk bs hidup tanpamu !!
    Nado Minho-ya~

    • terus sperti ini?? jiahahahahahaha, oke lah kalau begitu…
      aku balas apa yah?? miss siputkasih ide dong…
      minho elok bt dah kata2nya………..!!
      aku sampai khilangan kata2 smpai cengonya liat km gila.

  11. Eon i’m cming haha😀
    Sorry bru cment al’y ngebet (?) pngen cpet” baca next part’y :p udah ga da wkt mpe mlm” bca ff ni trus ktdran pgi” bca lg (curcol)
    seneng dech liat couple teukyo bahagia pa lagi ada ryujin ! Tp ryujin anaknya siapa eon ?
    Minra couple > aduh raena km tuh o0n pa 0neng sich msa ma perasaan sendiri ja ga tau ntar xlo minho ngilang (?) baru nyesel !
    EXCITED for Next part Eon ! FIGHTING🙂

    • makasih sayangku…
      buahahahahahaahahaha, g papa baru nongol, ngebut banget neh sepertinya… 2 hari 9 part? *geleng2*
      terima kasih udah suka sayang…
      Minna sayangku, Minna… bukan Minra… minra mah saingan Rae Na, wahahahaahahahha
      Ryu Jin itu anak aku… cakep pan? kaya mamihnya….

      next pasrtnya tunggu yah….

  12. arrgghh!!!!!!penasaran-penasaran-penasaran, ryu tu anak nya capa ci?????????

    rae kagag keren ah, masak ga bisa jinakin ryu, malah minho yang bisa, aigoo….
    minho bisa jadi penjinak anak itu,wkwk

    Aduh jin ki ya, lw kamu takut anak kecil gimana besok lw punya anak nanti?

  13. huah eon…
    setelah melalui banyak halangan dan rintangan dalam membaca ff ini akhirnya aku sampai di part ini eon…huah~
    *seka keringat*

    eon…ffnya hebaaat…bkin kecanduan bacanya…

    itu MinNa couple gengsinya ngga abis” deh…jdi gemes…
    ><

    aku tunggu ya eon part selanjutnya…
    \(^^)

  14. eonniiii…
    money, love and trouble part 10 nya udah publish kan..???
    tapi kok di proteksi sih..???
    aku pngen baca nih eon…
    paswordnya gimana eon..???

    penasaran nih eon,,kelanjutannya gimana…😦

  15. Waaah, Ryu Jin makin hari makin ngegemesin ajaaa~
    Teukie oppa jadi takut posisinya trgeser😛
    Onn~
    Lagi mogok nulis ya? Tumben banget post nya lama (MLT part 11-nya), biasanya kan kiat😀
    Tp gpp juga sih, lama tapi hasilnya memuaskan itu juh lebih baik.
    Hwaiting onn !

  16. Haha.. Ryujin, lucu bgt c..

    Raena ya~, udh suka jga msh ga mw ngaku, kasian tau minho’y.. He..

    Ya ampun oppa, udh ga thn ya, smpe d kamar mandi pun jadi.. Kkk~

  17. cayo Ryu Jin…hahaha,,, kasian kau soo oppa,,

    oenni..aku baru nyadar nama korea aku sama ama ce menel yg nempel ama minho terus..
    huuffttt,,,,

  18. onnie-ya anakmu lucuu…chu*cium ryu jin*♥♥

    tak ad kamar..toiletpun jadi..^_^¦¦¦wakakak

    apaa??jinki ga suka anak kecil??
    tp klo bkin anak suka kan??*plak#

  19. Kyaaaa part nie mang agak yadong tp sya suka…jahahaha
    caelah rae na sm minong mkin sweet aja cie, jinki tkut sm anak kcil jd inget dy d’hello baby!!
    Ryu jin, noona bner2 gemes byangin km nak…>,<
    lanjut bca aahh…
    Komen'a lompat2 aja!!
    *reader sableng*

  20. ryujin,,,,,,,kyeopta bgt sih kamu,ngegemesin lagi,,,,
    oen,,ini part romantis bgt deh,suka ma kata” teuk dsini,bnr”menggambarkan sosok suami idaman*ceileh*kkkk

    minna couple udah mulai romantis”an nih,,,
    tapi rae na nya msih malu buat mengakui perasaannya,,,
    pokoknya nih ff daebak bgt deh!!!!

  21. KYAAAAA Ryujin neomu kyeopta (≧ω≦) *cubit pipi teoltoel hidung Ryujin* kkk~
    eon kok bagian Raena kaget klo Ryujin mendadak ada kok g dibuat siiich (∩︵∩) kan pengen ngliat eh(?) mbaca ekspresinya xD

  22. aiyaaaaa~ ryujin ngegemesinnn bangett deh, berasa pengen adekku yg TK nan menyebalkan itu berubah jadi kecil lagi yg unyu unyu #plak

    minho daebak lah, udh cocok jadi appa, kapan raena bersedia? LOL

  23. good, ny park udah mulai waras dicerita ini,tp tetep pnasaran ryu jin anak sapa toh,kok bs nyasar ke pangkuan ny park,gak bs ni, harus bc lanjutannya!

  24. Aahh,Ryu lucu bgt dah!
    Jungso,bs2nya dy cemburu m ankx ndri!hahaha
    tp bknx dy hrusx sneng,dh bs “gt” lg m Kyo!
    tp syng dskip lg!hahaha*yadong kumat
    Minho tu tetep tdr dstu n g plng yah?
    Uhuu,.,yg tdr b’2!
    q yakin ntar bngunx tu Minho dh ngrubah posi2 tdrx n dsmbut m pkulan dr RaeNa!hahaha
    Oksud,q mw lnjt lg onn bcx!hehe

  25. waah appa eomma idaman. lucu nya ryujin nya. kok bisa ada yg ninggalin anak selucu itu
    kapan raena sama minho jadian nya? raena nya sih gengsian

  26. Hwahahaaa…hayo loooo…anak siapose ntu si ryu jin…masak tb2 manggil kyo eon eomma gtu yah…ajaib…hehehee…eoooonnn…ryujin jgn boleh diambil orang lain yah…ntar aku nangis lg…ckckck…
    Yaaaahh…sayah antara rela dan tidak liat pasangan minho – raena…tp kenapa pasangan ini cute sangaaaaattt…
    Buju buneng…d mana2 dek onew takut mulu ama anak2…wkwkwk…
    Bagian terakhirnya cuteeee…jd pengen nikah plus punya anak…wkwkwk…

  27. masih penasaran sebenernya ryujin tu anaknya siapa..
    hwaaaa eunkyo sayang banget ama ryujin..
    hyaaaa!!teuki oppa gimana sihh,masa cemburu ama anak kecil..

    kekeke~ onew takut anak kecil,jadi inget hello babynya shinee..
    d situ kan onew paling anti klo d suruh gendong yoogeun..

    ihhhh eonni aku paling suka ama minna couple..
    suka ama sikap kekeuhnya minho buat ngejar terus raena,padahal raenanya galak abis..
    ayo hwaiting oppa!!semangat buat naklukin hati raena

  28. Keasyikan baca ampe lupa coment..hehe

    kasian bgt tu teuk oppa cemburu ma baby ryu jin

    rae na ma minho manis bgt tdr satu bantal beda arah…ckck

  29. lucu Ryu jin y ngegemesin,,,, wiow eun kyo n jungsoo ngebuat anak lagi ngak sabar kyk y mau bikin ade buat Ryu jin…
    seneng part ini semua couple adem ayem n mesra2 j terutama TeukYo couple n Ryu jin ngebayangin y jadi mau cepet2 punya anak………

  30. eun kyo aneh ?? kya’y sih iya ya dia berubah banget..
    ryu jin bisa bikin eun kyo jdi berubah🙂 dia jdi lebih happy ya sekrg..
    eyy pada main apa itu d kamar mandi ?? hhaa😀
    itu min ra ngpain sih nempelin minho trus -,-

  31. waktu baca jung soo oppa cemburu ngeliat ryu jin tidur deket eun kyo lucu banget .

    apalagi eun kyo udah sayang banget sama ryu jin

    Tp ada yng aneh ngeliat jinki kayak gitu , knp dia kaget waktu ngeliat ryu jin , emang ada apa dgn mereka berdua ?

  32. wualaaa sebenernya ada beberapa typo wehehehehe tapi masih ngerti kok ^^

    kenapa coba jinki bisa takut sama anak kecil? padahal mereka lucu loh , kayaknya harus ngilangin pobianya jinki sama anak kecil nih *sodorin taemin*😀

  33. Ya…kirain ryu jin da hubungn ama jinki…omo…ternyata tkt anak kecil LOL…onnie/saeng?? blh minta PW part 9 n 8..gomawo..

  34. anyeong eonni.. aku reader baru kamu.
    celin imnida🙂
    aku udah baca ni ff dari part awal tapi baru komen d part 9.. karena terlalu asyik bacanya terus terlalu penasaran sama kelanjutannya jadi gk keinget buat komen satu2 d part sebelumnya…
    aku suka ceritanya walaupun banyak typo sih,, aku suka banget ma karakter jung soo disini… manly banget deh….
    tapi castnya kebanyakan eon jadi agak pusing bacanya tp aku tetap suka kok🙂

  35. hahahaha…… part ini lucu,, bkin ktawa mulu gara2 ryujin😀
    jungsoo yadooooong !! tpi gk papalh kan ma bini ndri bkan bini org laen
    lanjut baca lge….

  36. annyeong… humm 1kata deh daebak. aku baru nemu wp nih kmrn. oya mian tor bru nongol, ol pke ponsel jd sering gagal kl mw komen. bangapda ^^
    jadi sebenernya ryujin atau ryumin tor? karakter eeteul oppa keren disini, aku suka aku suka aku suka. buat si eunkyo hamil n punya anak dari eeteuk donk tor. aku sempet beranggepan kl si eunkyo bkal mati, 2 kali dy msuk RS. smoga yg ke3 nya karna melahirkan bayi ya, bukan sakit atau hal laen yg buruk

  37. uhhmmm.. sweet bgd.. bener” dah tuh anak.. mengganggu saja.. kkkkkk. tp eun kyo jd tersenyum kembali. aq mw baca part 1-7 krn blm baca. tp penasaran bgd dgn part selanjutnya. baca.a nanti aja y chingu klw udah selesai akhir.a.. jd ky flash back.. kkkkkkkkk

  38. ah gumawo chaerin dia ga se nenek lampir minra ternyata o:) aduuh ryujin hahaha pinter deh monopoli eunkyo nya gemees>< kirain td tuh jinki kenal sm ryujin makanya minta buru2 pulang.. eh gataunya gara2 dia tkt anak kecil hahahaha xD

  39. wah ryu jin sdh mule beraksi buat merebut perhatian eonni kasian teuki, itu si minho pinter jga nenangin nak kcl, cie abang ikan yg lagi pdkt,,,

  40. Eiyyyy. . . Eunkyo sneng bgt ad ryujin tpi kalo keluarga asli ryujin datang gmn???
    Aplgi eunkyo bermslah sma kejiwaannya. .
    Aigooo. .aigooo
    brb next chap

  41. Ryujin manja sekali,, tapi tetap membuat gemasss,,
    eunkyo tiba2 bisa menjadi seorang ibu,, good job for her,,
    teuki oppa cemburu abis yah sma anak sendiri,, hahah

    minra ngapain dateng lagi yah,, bikin gemas deh,, pengen banget bisa tendang bokongnya tuh,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s