Money Love and Trouble (Part 8)

Standar

MLT part 10 8 9

Kau datang padaku seperti suatu kebetulan
Sekarang kau telah menjadi nasibku
Aku bisa merasakannya

Bahwa kau lah orangnya
Ketika aku pertama kali melihat senyummu
Aku mabuk oleh aroma segarmu
Aku pikir seperti itulah bagaimana cinta telah dimulai
Air mata yang jatuh dari wajahmu
Dituangkan ke dalam hatiku
Aku ingin memeluk hatimu dengan erat

Aku mencintaimu

Mendekatlah padaku
Aku mencintaimu

Mari kita memikirkan hanya tentang kita saja sekarang
Aku mencintaimu

Aku mencintaimu
Aku hanya bisa melihat dirimu

Kau hidup dalam diriku sendirian
aku hanya ingin melihatmu
Mari kita memikirkan masa depan bersama
Ini bukan mimpi
Percayalah, kita tidak akan berakhir
Pegang tanganku

Satu-satunya orang di dunia

(Hope It’s You – Zia feat. K Will – Mir)

Jung Soo’s POV

Aku melihatnya menuruni tangga dengan senyum mengembang. Aku pun tersenyum menyambutnya. Di belakangnya terlihat Chaerin juga sedang menuju turun kearahku dengan cepat, aku melihatnya sedikit oleng karena sepatu yang dipakainya tidak berpijak dengan benar, hingga dia tanpa sengaja mendorong Eun Kyo dari tangga. Begitu cepat kejadian itu terjadi, aku berlari menghampiri Eun Kyo menyambutnya agar dia tidak terjatuh ke lantai, namun aku terlambat. Tubuh Eun Kyo terlanjur terhempas di lantai. Dia terlihat shock memegangi perutnya, saat aku sampai dihadapannya, aku lihat, darah merembes disela kakinya. Dia ambruk tak sadarkan diri setelah sebelumnya melihat darah mulai mengalir di sekitar pahanya. Aku mengangkat tubuhnya, segera berlari menuju mobil. Membawanya menuju rumah sakit terdekat.

Selama perjalanan wajahnya mulai memutih, bibirnya, matanya, tangannya dan di antara selangkangannya tak berhenti mengeluarkan cairan kental berwarna merah. Dadaku bergemuruh melihatnya seperti itu. rasa takut mulai menyelimutiku. Bibirku tak henti mengucapkan permohonan pada Tuhan agar tidak secepat ini mengambilnya dariku. Setelah sampai di parkiran rumah sakit, aku segera bergegas mengangkat tubuhnya dan melarikannya ke ruang gawat darurat.

“Tolong.” Tenggorokanku tercekat, aku tak mampu berkata apa-apa. Hanya bisa meletakkan tubuhnya diatas ranjang yang ada disana. Beberapa orang terlihat menghampiri kami dan segera membawa Eun Kyo.

“Anda sebaiknya tunggu disini.” Aku hanya mengangguk. Terduduk lunglai di kursi tunggu. Otakku berpikiran hal terburuk yang terjadi. Tidak mungkin. Aku tidak ingin menerimanya jika harus kehilangannya.

“Apa anda kerabatnya?”

“Aku suaminya.” Sahutku.

“Ah, ye, istri Anda kehilangan banyak darah, ada seseorang yang bisa mendonorkan darah? Kami kehabisan stok darah.”

“Dia, dia golongan darah apa?”

“B.”

“Sebentar aku hubungi  keluargaku dulu.” sahutku panik. Belum sempat aku menghubunginya, semua orang sudah berkumpul dihadapanku. Halmeoni, Appa, Eomma, Jina, Chaerin yang kelihatan pias, Rae Na juga Minho. Aku mengabsen mereka satu persatu dengan mataku.

“Eun Kyo membutuhkan beberapa kantong darah, ada yang golongan darah B?” semua mata saling memandang. Aku tau Appa bukan karena golongan darahnya AB, eomma sama sepertiku, Jina AB.

“Aku A.” sahut Rae Na lemah.

“Aku O.” sahut Chaerin.

“Aku saja kalau begitu.” Sahut Minho.

Aku segera menariknya dengan kasar, dia terlihat kesulitan menjajari langkahku. Minho segera menjalani pemeriksaan di laboratorium. Beberapa saat menunggu, akhirnya Minho keluar juga.

“Bagaimana?” tanyaku langsung. Dia menatapku prihatin. Sepertinya wajahku memang sangat memprihatinkan, tapi aku tidak butuh kasian dari mereka, aku hanya ingin Eun Kyo.

“Akan segera diproses, Hyung.” Dia menataku iba.

“Jangan menyuruhku untuk tenang, sejak tadi aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk tenang namun aku tidak mampu.” Mataku tajam menatapnya.

“Aku hanya bisa berkata, aku turut berduka, dan kau, hufh, tenang saja Hyung, aku tau dia wanita yang kuat.”

“Bagaimana aku bisa tenang?! Aku tidak bisa berpikir apa-apa.” Minho merangkul pundakku, aku berusaha menahan airmataku yang sudah hampir keluar.

“Baiklah, aku akan ke ruangan ganti dulu, kau tenang saja Hyung, Noona pasti bertahan.”

“Aku harap juga begitu.” Jawabku lemah.

***

Aku menunggui Eun Kyo disampingnya selama sehari semalam dia koma. Wajahnya benar-benar seperti mayat hidup. Hal ini mungkin karena dia kehilangan banyak darah dan dia memang menderita anemia kronis.

“Eun Kyo~ya, aku mohon buka matamu untukku.” Aku menungguinya tanpa menutup mataku selama 24 jam. Beberapa orang  melihatku prihatin, namun aku tidak peduli. Aku bisa gila jika saja dia tidak membuka matanya selamanya. Aku sudah kehilangan bayiku, sekarang aku tidak ingin kehilangannya.

“Jung Soo~ya, istirahatlah.” Eomma membujukku untuk melepaskan penatku. Aku takbergeming.

“Jika kau seperti ini, Eomma juga bisa gila.” Suara Eomma bergetar. Aku menatapnya, ternyata dia bersama Chaerin. Chaerin terlihat bersalah. Aku tidak butuh rasa bersalahnya, yang aku ingin Eun Kyo membuka matanya.

“Kau istirahat, atau akan kupaksa!” seru Eomma. Aku berjalan gontai.
“Aku ingin Rae Na yang menemaninya.”

“Aku akan menjaganya.” Debat Eomma.

“Aku hanya ingin Rae Na yang ada disini.”

“Kau kira aku mau membunuhnya?”

“Aku tidak mengatakan seperti itu.”

“Aku bisa menjaganya.”

“Aku tidak percaya.” Aku menatap Chaerin.
“ Park Jung Soo!”

“Aku tidak ingin berdebat Eomma, aku tau kau selama ini tidak menyukainya.”

“Aku hanya tidak menyukainya, bukan membencinya.” Bela Eomma.

“Terserah, aku mau mandi istirahat, tapi setelah Rae Na kemari.”

Beberapa selang waktu berlalu setelah aku meneleponnya, memastikan bahwa dia tidak sibuk hari ini, akhirnya Rae Na datang bersama Minho.

“Bagaimana Oppa?” tanya Rae Na tentang keadaan Eun Kyo.

“Belum menunjukkan perubahan yang signifikan.” Sahutku, Rae Na memandang kearah Kakaknya.

“Semoga saja dia segera sadar. Kau istirahat saja, serahkan dia padaku.” Tatapannya beralih padaku.

“Hem.” Sahutku singkat. Sebelum aku meninggalkan mereka, aku mengecup dahi Eun Kyo dan Eomma terlebih dahulu.

Rae Na’s POV

Aku menggantikan Jung Soo Oppa menunggui Onnie yang terbaring tak berdaya diatas ranjang, tangannya putihnya terpasang selang infus yang tergantung di tiang. Aku tidak pernah melihatnya selemah ini sebelumnya. Dia terlihat tegar meskipun aku sering mendapati wajahnya yang terlihat pucat. Aku terus memandangi wajahnya. Eomma dan Chaerin Onnie juga terlihat sedang menatapnya kasian. Onnie saat ini memang memprihatinkan, namun jika dia tau semua orang mengkhawatirkannya dia pasti akan marah. Dia tidak pernah mengeluh sakit, dia hanya sering mengeluh kesal ataupun lelah, apa itu tandanya dia sedang sakit? Entahlah, yang pasti sekarang dia benar-benar sakit. Ingin rasanya aku memarahinya, dia memang sangat ceroboh dalam segala hal.

“Apa dia sering seperti ini?” tanya Eomma memecahkan keheningan diantara kami.

“Ani, Onnie tidak pernah mengeluh sakit, hanya saja jika dia sedang mengeluh lelah atau sedang kesal, dia akan mengurung dirinya di kamar. Bisa jadi saat itu dia sedang sakit.”

“Apa kau tidak pernah memperhatikannya?!” tanya Eomma sengit. Aku menghela nafas.

“Bukan aku tidak memperhatikannya, dia yang tidak ingin membuat orang panik.”

“Dasar gadis bodoh.” Desis Eomma.

“Dia memang bodoh.” Sahutku, namun detik berikutnya aku melihat Eomma menangis.

Aku menarik kursi yang ada di belakang Eomma dan Chaerin, memperhatikan mereka dengan seksama. Kembali hening seperti tadi. Aku masih tidak habis piker, hufh, Onnie, aku tidak mengerti apa yang terjadi padamu, namun melihatmu seperti ini membuatku miris.

“Rae Na~ya..” panggil Minho membuyarkan lamunanku.

“Jangan menyuruhku untuk tenang.” Minho hanya membalasnya dengan remasan tangannya di atas tanganku.

“Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya.” Keluhku.

“Seperti apapun kesulitan kami dia tidak pernah sampai seperti ini.”

“Kau tenang saja, atau kau mau kita keluar?” aku menggeleng

“Oppa menyuruhku agar aku tidak meninggalkannya sampai dia kembali.”

“Atau mau aku belikan makanan?” aku menatapnya.

“Terserah saja.” Minho berlalu dari hadapanku.

“Tunggu saja disini.”

“Memangnnya aku mau kemana?” protesku. Dia hanya tersenyum.

“Sebaiknya aku pulang saja.” Eomma berkata sambil menarik Chaerin Onnie.

“Ye, Eomma.” Sahutku.

Beberapa saat kemudian Minho terlihat datang dengan bungkusan ditangannya. Aku mengambil bungkusan di tangannya.

“Aku hanya membeli ramen dan jus.” Sahutnya.

“Tidak apa-apa.” Aku melahapnya tanpa berkata apapun pada Minho.

“Terima kasih sudah mendonorkan darahmu untuk Onnie.”

“Gwaenchana, sebentar lagi juga akan menjadi Noonaku kan?” aku menghentikan suapan dan kunyahanku. Apa yang dia katakan? Aku menatapnya sambil mengerjapkan mataku. Dia terkekeh pelan. Aku membulatkan mataku padanya, berusaha menelan makanan yang ada di mulut dan tenggorokanku dengan susah payah, sialan! Setelah berhasil menelan sepenuhnya, aku menepuk-nepuk dadaku yang terasa sakit saat menelan tadi, menyambar minuman yang ada di meja dan meneguknya dengan cepat. Aku terengah-engah setelah meminum minuman itu sampai habis.

“Pelan-pelan.” Ucapnya sambil masih terkekeh.

“Yak!” sahutku.

“Ssssttttt…” dia meletakkan telunjuknya dibibir, menyuruhku untuk diam. Aku mendecak kesal.

“Mau mengganggu Onniemu?” tanyanya dengan raut senang. Aku hanya diam, melanjutkan makanku.

“Jika kau yang berada di tempat itu sekarang, aku pasti juga akan gila melebihi Jung Soo Hyung.” Gumamnya, aku mencoba tidak menghiraukan perkataannya.

“Maka dari itu Rae Na~ya, hiduplah dengan baik, demi kelangsungan hidupku.” Lanjutnya. Kali ini aku tidak bisa menghiraukan semua yang dia katakan. Demi kelangsungan hidupnya? Maksudnya?

“Aku ingin kau selalu bersamaku.” Ucapnya lirih, namun aku bisa mendengarnya. Dadaku bergemuruh seketika. Berhentilah tersanjung Rae Na~ya, ck! Itu hanya bualannya saja. Atur jantungmu kembali normal. Sialnya jantungku bekerja bukan dibawah kendaliku, hufh, menyebalkan. Rasa tersanjung adalah awal dari sebuah perasaan suka, ini tidak boleh terjadi. Tapi, beberapa waktu yang lalu, aish! Kenapa aku mengingatnya lagi! Beberapa waktu yang lalu dia menciumku dan bodohnya aku bukan hanya menikmatinya, aku bahkan membalasnya, Park Rae Na, jangan bilang jika kau mempunyai perasaan yang sama? Perasaan yang sama? Memangnya seperti apa perasaan Minho padaku? Tidak mungkin sama! Maldo andwae!

Aku mencoba mengalihkan perasaanku dengan berjalan menuju Onnie, mendekatinya dan memegang tangan dinginnya. Jangan menangis Rae Na, kau bukan orang yang gampang menangis, tapi melihatnya terbujur lemah seperti ini membuatku benar-benar ingin menangis.

“Onnie… hanya kau yang tersisa, hanya kau keluargaku, aku mohon kau jangan pergi.” Aku tak mampu membendung airmatau lagi, dasar Rae Na cengeng.

“Aku mohon buka matamu Onnie…” Minho mendekatiku, menyentuh pundakku dan memberinya remasan kecil, oke, aku artikan itu adalah sebuah penyampaian energi positif agar aku lebih kuat.

“Tidak akan terjadi apa-apa padanya.” Minho berkata menguatkanku. Aku semakin terisak.

“Aish, kenapa aku menjadi melankolis seperti ini?! Onnie! Kau harus membayar airmataku! Aku tidak pernah mengeluarkan airmata di depan siapapun! Tapi kau membuatku tak mampu menahannya! Kau harus bertanggungjawab atas semua ini! Awas saja jika kau sadar! Sadarlah agar kau bisa membayar hutangmu padaku!” Minho membenamkan wajahku di perutnya. Aku tidak tau, mungkin aku perlu seseorang yang menopangku sekarang.

“Uljima…” Minho mengusap kepalaku.

“Bagaimana kalau dia tidak sadar lagi?” tanyaku polos.

“Yak! Kau ini, jika kau saja pesimis, maka bagaimana dengannya?”

“Tapi dia tidak  pernah seperti ini sebelumnya.”

“Jelas saja dia tidak pernah seperti ini sebelumnya, dia kan belum pernah hamil sebelumnya.” Minho memukul pelan kepalaku.

“Jika dia mempunyai anak, semoga dia mewarisi wajahku.” Ucap Minho percaya diri.

“Mwo? Sepertimu? Tidak mungkin! Dia pasti akan seperti aku, aku kan saudaranya, kau bukan siapa-siapanya.” Protesku.

“Bisa saja kan?” Minho membela dirinya.

“Hahahaha, tidak mungkin, dia pasti seperti ibunya dan sekuat aku.”

“Tertawa seperti itu kau lebih cantik.” Aku langsung terdiam, dan menyadari apa yang sedang terjadi, wajahku memerah seketika dan aku membuang muka untuk menutupinya, namun terlambat, Minho sudah menyadarinya.

“Akui saja jika kau menyukaiku.” Tantang Minho.

“Jangan mulai Choi Minho, kau terlalu percaya diri.”

“Jika tidak mengapa kau membalas malam itu?” tanyanya .

“Itu, itu, itu hanya.” Aku mencoba mencari alasan namun aku tidak menemukannya, dan dia menatapku penuh harap menunggu jawabanku, maaf Choi Minho, sampai kapanpun aku tidak akan mengakui perasaanku.

“Bagaimana keadaannya?” suara seseorang menyelamatkanku dari hal paling memalukan di dunia, Jung Soo Oppa, aku tersenyum menatapnya.

“Dia tidak bergerak sedikitpun.” Jawabku.

“Eun Kyo, bagaimana bisa seperti ini?” ada lagi suara seseorang yang langsung masuk dan menghampiri Onnie, Yoon Jung Jin. Aku segera bangkit dan segera ingin menendangnya, namun tangan Jung Soo Oppa menahan gerakanku hingga hasilnya aku hanya menendang angin.

“Minho, bawa dia keluar.” Jung Soo  Oppa melempar tubuhku kearah Minho. Dari sudut mataku, aku bisa merasakan amarah dalam diri Oppa melalui matanya. Minho membawaku keluar area rumah sakit.

“Lepaskan aku, aku bisa jalan sendiri.” Aku menggidikkan badanku untuk lepas dari rangkulannya.

Rasanya aku ingin membunuhnya detik itu juga, untuk apa lagi dia datang kesini? Aku mnggerutu dalam hati. Aku berjalan dengan amarah di dadaku. Jika mengingat kejadian beberapa waktu lalu yang hampir membuat aku dan Onnie jadi santapan buaya lapar, aku ingin sekali mencekik lehernya.  Tanpa sadar aku berjalan entah kemana, aku menyadari sekelilingku, memandanginya dengan seksama, omo! Ini ruangan apa? Aku berbalik dan mendapati Minho tersenyum mengejek.

“Minggir.” Dia terkekeh pelan, membuatku semakin kesal.

Author’s POV

“Kita mau kemana Noona?” tanya Donghae sambil memandangi Chaerin yang duduk gelisah disampingnya.

“Ke rumah sakit.” Jawabnya singkat.

“Bukannya tadi sudah?” tanya Donghae.

“Aku ingin kesana sekali lagi.”

“Noona, tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri, kau kan tidak sengaja?”

“Tapi tetap saja aku merasa bersalah, aku jahat.”

“Noona…” Chaerin menghela nafas.

“Seandainya saja aku tidak mendahuluinya di tangga waktu itu, mungkin semua ini tidak akan terjadi.” Sesal Chaerin.

“Tapi kan semua ini sudah terjadi.”

“Kau tau, aku tidak pernah melihat Jung Soo sefrustasi ini.” Chaerin menundukkan kepalanya.

“Itu artinya dia sangat mencintai Eun Kyo, dan tidak akan ada celah untukku.”

“Kau berniat merebutnya?” tanya Donghae cemas. Chaerin mengangguk pelan.

“Aish! Noona, apa seluruh hidupnya hanya kau gunakan untuk mengejar cinta seorang pria? Dulu juga seperti itu, hingga kau benar-benar dicampakkannya, dan sekarang?”

“Dia tidak mencampakkanku, aku yang menolaknya terlebih dahulu, namun sekarang, aku benar-benar menginginkannya, tapi aku terlambat, dulu saat aku sedang putus asa dia selalu memberiku semangat, tapi sekarang, saat aku terpuruk, dia telah memiliki orang lain.”

“Menyesal juga tidak akan berguna Noona~ya, kau harus tetap optimis.”

“Ne, arasseo.”

“Lalu sekarang mau apa ke rumah sakit?”

“Aku ingin meminta maaf padanya.”

Tanpa terasa ditengah pembicaraan hangat mereka berdua, Chaerin dan Donghae tidak menyadari jika mereka telah sampai pada halaman rumah sakit. Chaerin segera keluar dari mobil Donghae setelah Donghae membukakan pintu untuknya.

“Aku tidak bisa menemanimu Noona~ya, kau bisa sendiri kan?”

“Ne, aku sudah tau tempatnya.” Sahut Chaerin sambil tersenyum.

“Kau baik-baik saja kan?” tegas Donghae.

“Nan Gwaenchana…” sahut Chaerin menenangkan Donghae.

Saat Donghae berbalik ingin membuka pintu mobil, dia mengenali sosok yang berjalan dihadapannya. Dia terpaku sesaat, dan seperti mendengar sebuah tepukan dia tersadar.

“Jina~ssi, Jina~ssi?” kejar Donghae.

“Ye?” Jina berbalik bingung.

“Kau… Jina?”

“Ne.” sahut Jina.

“Masih ingat denganku?” Jina terlihat bingung dan berpikir.

“Kecelakaan kecil di pinggir jalan?” Jina menatap Donghae, masih mencari jawaban dimana dia pernah bertemu dengan lelaki ini.

“Acara makan malam di rumahmu beberapa hari yang lalu?” tanya Donghae mengingatkan.

“Ah, aku ingat, maaf, aku baru ingat, bagaimana keadaanmu? Sakit?” tanya Jina salah tingkah.

“Ah, aku baik-baik saja, kau mau kemana?”

“Aku, aku mau pulang, menunggu jemputan Oppa.” jawab Jina.

“Bagaimana jika aku yang mengantarmu?” tanya Donghae, Jina memutar kedua bola matanya dan mencoba berpikir.

“Oppamu bisa langsung ke rumah sakit kan? Tidak perlu mengantarmu terlebih dahulu?” setelah beberapa lama berpikir akhirnya Jina mengangguk. Senyum mengembang di wajah Donghae. Dia membukakan pintu untuk Jina.

Eun Kyo’s POV

Aku membuka mataku diruangan serba putih ini lagi. Beberapa selang memasuki tubuhku. Anehnya aku tidak merasakan sakit sedikitpun. Yang terasa sakit adalah jiwaku. Aku membiarkan  seseorang yang baru saja akan berkembang dalam rahimku pergi, aku tidak menjaganya dengan baik. Rasanya ingin mengembalikan waktu dimana aku menjadi diriku saat kecil, tidak ada kesedihan, tidak ada tangis dan yang lebih penting tidak ada masalah yang berarti. Aku benci dengan diriku yang lemah seperti ini. Aku mengingat kembali kejadian yang membawaku kemari. Aku ingin melangkahkan kakiku di beberapa anak tangga, tiba-tiba saja tubuhku limbung kehilangan keseimbangan. Aku tidak bisa mengendalikan diriku dan aku merasa tubuhku sebentar lagi terjatuh. Dan benar saja, tubuhku mulus mendarat di lantai dengan posisi duduk.  Aku merasakan sakit dibagian perutku, tanganku reflex memegang pangkal rahimku. Omo… Demi Tuhan ini sangat sakit, aku tidak bisa berkata apa-apa untuk menjelaskan sakitnya. Kepalaku pun terasa pusing, aku memegang kepalaku, sepertinya sebentar lagi aku akan ambruk, namun sebelum aku kehilangan kendaliku atas alam sadarku, aku sempat melihat sesuatu yang merah menggenang di antara pahaku. Aku menutup mulutku melihat semua itu, perlahan cairan merah itu melebar, aku meneteskan airmata dan menyentuhnya, darah. Sekarang sakit di perutku berangsur-angsur pulih dan berganti dengan rasa sakit menusuk dihatiku. Aku melihat Jung Soo berlari kearahku sebelum aku benar-benar menutup mataku. Wajahnya terlihat panik menghampiriku. Aku sudah tak sadarkan diri saat Jung Soo menghampiriku.

Aku memejamkan mataku saat seseorang membuka pintu kamarku. derap langkahnya membuatku gugup, siapakah gerangan yang berada dalam kamarku?

“Eun Kyo~ya..” itu suara Eomma.

“Maafkan aku selama ini  mengacuhkanmu. Bukan maksudku seperti itu, aku hanya, aku, aku hanya belum mengenalmu.” Aku dengar suara Eomma bergetar, menangiskah?

“Eun Kyo~ya, selama ini Jung Soo hanya punya tiga orang wanita dalam hidupnya. Eomonim, aku dan Jina.” Sesekali Eomma terisak.

“Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya, tidak pernah melihatnya melindungi orang seperti ini meski dia memang terlihat sangat penolong.” Eomma menghentikan pembicaraannya dan mengambil   nafas.

“Eun Kyo~ya, aku tidak bermaksud menyakitimu, tapi bisakah kau menjaga dirimu dengan baik? Eoh?” kembali dia mengambil nafas.

“Jung Soo, dia sangat mencintaimu, aku tau itu. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya, bahkan dengan Chaerin dulu dia tidak seperti ini. Kau tau? Saat dia di Jepang dia setiap saat meneleponku menanyakan keadaanmu, saat aku tanyakan kenapa tidak bicara langsung padanya saja, dia bilang, dia tidak ingin mengganggumu. Kau tau? Dia tidak pernah seperhatian itu dengan wanita.” Lanjutnya.

“Saat semua orang menyuruhnya menikah, dia selalu mengelak, tapi aku tidak tau sejak kapan dia bertemu denganmu. Tapi saat dia membawamu bersamanya malam itu, aku tau, aku tau dari binar wajahnya. Dia menjadi berbeda.” Eomma tertawa kecil.

“Aku baru menyadari putraku memang benar-benar sudah dewasa.”

“Jadi Kyo~ya, aku mohon jaga dirimu baik-baik, em? Demi kelangsungan hidup Jung Soo.” Eomma membelai kepalaku dangan lembut.

“Aku akan berusaha lebih baik padamu, aku berjanji.” Isakannya kembali terdengar. Aku tidak tahan lagi, aku membuka mataku dan cairan bening berhasil merembes keluar dari kantung mataku, yang sekuat tenaga aku tahan. Mata Eomma sudah basah dengan airmata, dia menyeka airmataku.

“Aku yang tidak baik padamu, padahal kau selalu sendirian, kau kesepian?” tanya Eomma, aku menggeleng.

“Aku mohon jangan seperti ini lagi.” Eomma menyunggingkan senyumnya  disela isak tangisnya. Aku ingin mengatakan sesuatu namun tenggorokanku tercekat. Tak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Beginikah rasanya kelembutan seorang Ibu? Aku semakin terisak.

“Kau lelah? Sebaiknya kau istirahat saja.” Eomma membelai pipiku. Aku mengangguk.

“Aigoo, mengapa kita jadi berurai airmata seperti ini? Kau istirahat saja, aku mau pulang dulu, nanti aku suruh Jung Soo menemanimu, hem? Dia sedang sibuk sebentar menangani proyek barunya itu.” jelas Eomma, lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk.

Aku menatap punggung Eomma yang perlahan menghilang dibalik pintu. Aku terpaku mengingat kembali kejadian yang beberapa saat lalu  berlangsung. Aku jatuh dari tangga? Darah? Perutku? Bayiku? Omona! Jangan katakan aku kehilangannya! Andwae! Aku kembali mendengar derap langkah menuju ruangan inapku. Aku menutup kedua mataku, berpura-pura tidur, rasanya aku belum sanggup menghadapi tatapan kasian orang lain terhadapku. Seseorang itu duduk disamping ranjangku.

“Eun Kyo~shi, ini aku, Lee Chaerin, aku, aku tidak tau harus berkata apa padamu.” Dia berhenti bicara. Entah apa yang dilakukannya.

“Aku hanya merasa belum terima jika Jung Soo menemukan orang lain, menyukai orang lain selain aku. Dulu dia selalu ada untukku, namun saat aku mendengar dia sudah menikah, aku sangat terkejut.” Dia kembali berhenti beberapa saat.

“Tapi melihatnya memandangmu, aku tau dia sangat melindungimu. Aku merasa iri, tidak ada orang lain selain wanita dalam rumahnya yang dia perlakukan seperti itu. Bahkan dengan ahjumma dia tidak pernah seperti ini. Aku, aku tidak bermaksud menyakitimu.” Apa yang dia bicarakan? Tidak ingatkah dia bahwa semalam dia hampir menghilangkan nyawaku?

“Mengenai aku akan merebutnya darimu, aku hanya bercanda, aku tidak sungguh-sungguh, aku tau dia hanya mencintaimu, aku saja yang bodoh ingin menyangkalnya.” Aku masih tak bersuara, masih berpura-pura tidur.

“Aku pulang ke Korea karena aku dicampakkan lelaki, sangat shock dengan keadaanku sendiri, aku memutuskan untuk kembali ke Korea dan memulai kembali dari sini, aku jadi merindukan Jung Soo saat aku disana. Terkejut saat mendapatinya sudah menikah.”

“Dan mengenai tragedi di tangga itu, aku tidak sengaja, benar-benar tidak sengaja, kuharap kau mau memaafkanku, aku tidak bermaksud membunuh bayimu.”

“Jangan dipikirkan.” Sahutku membuka mataku. “Aku yang tidak menjaganya dengan baik.”

“Bukan, bukan karena dirimu, tapi aku yang menyebabkannya, tapi aku benar-benar tidak sengaja.”

“Sudahlah, semua sudah terjadi, biar kau menangis darah atau aku meronta-ronta menolak semua ini tidak akan ada gunanya.” Jawabku lirih.

“Kau tidak akan menuntutku kan?” aku menoleh menatapnya. Jadi dia menjelaskan semua ini hanya takut akan aku tuntut? Menggelikan sekali.

“Aku tidak akan menuntutmu, kau tenang saja. Bisa kau biarkan aku istirahat?” pintaku mengusirnya secara halus. Melihat wajahnya membuat semua penggalan cerita itu kembali berputar di otakku.

“Ye, Gomapseumnida Eun Kyo~shi.” Dia meninggalkan ruanganku.

Airmata kembali menyeruak tanpa permisi di kedua sudut mataku. Ini bukan mimpi, ini memang nyata dan benar-benar terjadi. Aku kehilangan bayiku. Rasanya ingin berteriak saat ini juga. Ada ribuan palu yang memukul-mukul dadaku, rasanya sesak dan sakit. Aku benar-benar tidak ingin kehilangannya. Bukan karena aku ingin keluar dari rumah itu, meski memang aku ingin keluar, tapi aku benar-benar menginginkannya, menantikan kehadirannya.

“Maafkan Eomma tidak menjagamu dengan baik.” Aku memegang perutku, mengelusnya perlahan. Sakit rasanya, mengingat jiwa kecil itu tak ada lagi dalam tubuhku. Pintu kamarku kembali terbuka. Rae Na dan Kibum.

“Kalian juga ingin menyampaikan rasa duka? Aku tidak ingin mendengarnya.” Aku memunggungi mereka berdua.

“Noona, aku tau kau sangat kecewa.” Kibum membuka pembicaraan.

“Aku lelah.” Sahutku, entah kenapa emosiku tiba-tiba tidak stabil.

“Kau tidak ingin diganggu?” tanya Rae Na. aku tidak menjawab. Mereka sepertinya mengerti dan beranjak meninggalkanku. Sebenarnya aku ingin ditemani, aku merasa kesepian, tapi entah mengapa melihat sorot mata iba orang lain membuatku semakin miris. Aku mecoba memejamkan mataku tapi tidak bisa, airmtaku tak berhenti mengalir, entah aku menangisi apa. Menangisi kehilangan bayiku? Betapa bodohnya aku, baru saja aku bilang meski aku menangis darah sekalipun tidak akan mengembalikan keadaan. Tangisku semakin nyaring menggema di seluruh ruangan.

Aku terlelap tak sadar setelah lelah menangis.

Jung Soo’s POV

Aku mendapati dirinya sedang lelap tertidur. Dia tidur menghadap kearah dinding, bisa kupastikan dia habis menangis. Aku mendekatinya, memandangi punggung indahnya. Sangat menyedihkan melihatnya terkapar sendirian seperti ini. Aku melonggarkan dasiku dan melepaskan jas yang melekat ditubuhku. Aku sangat lelah, tapi aku rasa dia lebih lelah dariku. Dia tidak sadarkan diri selama dua hari, wajahnya begitu pucat. Perlu beberapa kantong darah untuk menyuplai jantungnya agar terus bekerja. Aku terus mendekatinya dan duduk di tepi ranjang, merebahkan diriku perlahan diatas ranjang. Aku mengangkat dengan hati- hati kepalanya dan kuletakkan di lenganku. Memeluk tubuhny dari belakang karena dia memunggungiku. Kucium harum rambutnya dalam. Tubuh ini yang tergeletak lemah, aku tidak bisa melindunginya.

“Yeobo, mianhae.” Aku merasakan dadaku mulai menyempit dan terasa sesak, memaksa airmata untuk melesak keluar. Perlahan memang bulir air itu merembes dari mataku.

“Kau tau? Dua kali aku melihatmu seperti ini, terbujur lemah menutup mata, pucat pasi seperti mayat.” Aku memeluk tubuhnya dengan erat, membelai lengannya.

“Sangat menakutkan, tak pernah aku setakut ini sebelumnya.”

“Kau datang padaku dengan tiba-tiba, tapi aku mohon jangan pergi secara tiba-tiba juga.” Dadaku mencelos saat kata ‘pergi’ keluar dari mulutku. Airmataku semakin deras mengalir, menyebabkan tubuhku bergetar menahan gejolak sakit dadaku.

“Tetap lah bersamaku, jangan tinggalkan aku sendiri.” Aku tau dia tidak mungkin mendengarnya, tapi aku ingin mengatakan semua perasaanku padanya.

“Kau ingin keluar dari rumah itu kan? Akan aku usahakan, kita akan tinggal berdua jika kau mau, eoh? Bagaimana? Asal kau jangan seperti ini lagi, aku akan menjagamu lebih baik.” Aku menghela nafas untuk melebarkan paru-paruku untuk mengambil oksigen lebih banyak.

“Aku tidak bisa bernafas jika kau tiba-tiba menghilang dari hidupku.” Aku masih ingin mengeluarkan semua perasaanku meski dia tidak mendengarnya. Aku masih terisak, masih tidak bisa menghentikan airmata yang mengalir di pipiku. Lama aku terdiam dan menenangkan jiwaku, tetap optimis jika dia akan tetap hidup bersamaku hingga sesuatu hal memisahkan kami.

“Kita berpisah saja.” Aku mendengar suara, Eun Kyo? Dia sudah sadar? Aku tidak ingin menjawab.

“Aku ingin membatalkan perjanjian kita, kita berpisah saja, kau bisa mencari orang lain yang lebih baik dan tidak menyusahkan.” Aku mengeratkan pelukanku tanda aku tidak menyetujuinya.

“Kau mendengarnya kan?” tanyanya meyakinkanku.

“Aku tidak ingin mendengarnya.” Dia mulai terisak, tubuhnya bergetar, aku bisa merasakannya jika dia sekarang lagi menangis. Aku mendekapnya lebih erat lagi.

“Kau itu..” ucapnya terhenti.

“Aku susah bernafas, menjauh dari sini.” Dia menggerakkan tubuhnya untuk melonggarkan pelukanku. Aku melepaskan tanganku dari tubuhnya. Dan bangkit duduk di tepian ranjang. Dia masih tidak bergeming dari posisinya, tetap memunggungiku.

Tiba-tiba seseorang masuk dan membawa beberapa injeksi. Aku memperhatikannya memasukkan cairan injeksi kedalam pembuluh darah Eun Kyo melalui selang infus yang terpasang di tangan pucatnya. Eun Kyo sedikit meringis saat cairan itu perlahan memasuki urat tangannya. Aku menatapnya prihatin. Entah apa yang dipikirkannya, aku melihat raut wajahnya yang datar dan kosong membuatku merasa lebih takut dari yang sebelumnya.

“Tuan Park, Anda ditunggu di ruangan Dokter Han.” Ucap Perawat perempuan setengah baya itu padaku setelah selesai melakukan pekerjaannya dan menunduk hormat padaku, aku juga membalasnya dengan membungkukkan badanku.

“Ah, ye, aku akan kesana sekarang juga.”

Aku menatap wajah Eun Kyo yang sayu. Sangat memprihatinkan melihatnya seperti itu. aku masih terus memandangi wajahnya dari kejauhan, tersenyum padanya namun dia masih menatapku kosong. Aku mengerti dia merasa sangat kehilangan.

“Pergilah, kau sudah ditunggu.”

“Em, aku pergi dulu, sebentar saja.” Dia tidak menjawab.

***

Aku memasuki ruangan Dokter Han dan mengambil kursi dihadapannya. Duduk dengan cemas yang aku sembunyikan dalam dadaku. Aku tersenyum hambar menatap kearah lelaki paruh baya yang menatapku tegas. Aku mencoba tenang mendengar segala kemungkinan terburuk yang dipancarkan raut wajahnya.

“Aku harap anda bisa menerimanya dengan lapang dada, istri anda keguguran, mungkin itu anda sudah tau.” Ucap Dokter Han berwibawa.

“Ye.” Sahutku.

“Satu hal lagi, dia mungkin akan kesulitan memiliki keturunan, disamping karena memang rahimnya yang lemah, penyakit anemia kronisnya yang sering kambuh membuatnya akan susah mengandung. Jika mungkin akan membahayakan dirinya. Seandainya kecelakaan ini tidak terjadi pun dia pasti akan kesulitan mempertahankannya.” Terang Dokter itu menjelaskan keadaan Eun Kyo. Seperti  dihantam sebuah palu berduri saat mendengar penjelasan dari Dokter Han.

“Ye, aku mengerti.”

“Bukan tidak mungkin kalian memiliki keturunan, hanya saja jika dia mengandung dia harus istirahat total.”

“Aku mengerti.”

“Baiklah, sudah cukup yang saya sampaikan.”

“Kalau begitu aku permisi.”

Tidak bisa mengandung? Eun Kyo? Buatku itu tidak apa-apa, bukan tidak bisa mengandung, sulit untuk mempertahankan kandungan, aku lebih suka menyebutnya seperti itu. jika disuruh memilih, antara anak dan dia, aku pasti akan memilihnya, pasti. Tidak langsung kembali ke kamarnya, aku berbelok menuju taman yang ada di tengah lapangan sebuah rumah sakit. Duduk di bawah pohon, dan menerawang keatas langit. Tuhan, bagaimana mungkin dia akan bahagia? Aku menitikkan airmata, memikirkan bagaimana perasaannya saat mendengar semua kenyataan ini.

Aku dikejutkan seseorang yang duduk disampingku sambil menepuk tanganku.

“Maafkan aku.”

“Tidak ada yang perlu dimaafkan Noona.”

“Noona? Kau tidak pernah memanggilku Noona.” Aku terdiam, dia tertawa hambar.

“Aku yang menyebabkan semua ini.” Lanjutnya. Aku memang sedikit kecewa padanya, jika saja dia tidak mendahului Eun Kyo turun dari tangga itu semua ini pasti tidak akan terjadi. Tapi nasi sudah menjadi bubur, tidak mungkin mengembalikannya seperti semula.

“Jangan menyalahkan dirimu sendiri, jika ini tidak terjadi, tetap akan membahayakan nyawanya jika dia bersikeras untuk tetap mempertahankan janinnya.” Terangku.

“Dia juga mengatakan itu padaku, aku jadi merasa sangat bodoh.”

“Jangan terlalu dipikirkan.”

“Aku hanya belum terima jika dia menggantikan posisiku dihatimu. Saat itu aku memang sedang mencoba membelokkan hatinya, tapi aku malah membuatnya seperti itu. aku tidak bermaksud seperti itu. aku, aku hanya menakutinya, meski aku awalnya berniat merebutmu darinya, tapi, melihatmu dua hari ini, begitu tertekan, membuatku sadar. Aku sangat menyesal, jeongmal mianhae.”

“Gwaenchana.”

“Tapi boleh aku tau, kenapa kau mencintainya?”

“Nan mollasseo.” Sahutku, dia menoleh padaku.

“Aku hanya merasa dia adalah orangnya, dia datang tanpa di duga seperti sebuah kilat, tak berbekas, namun setelah kilat berlangsung akan terjadi sebuah gesekan yang dahsyat dan menyebabkan sebuah dentuman keras yang membuatku tersadar. Seperti itu lah aku menyadari kehadirannya. Aku juga tidak tau mengapa aku mempunyai rasa itu, hanya senang melihat semua yang ada pada dirinya, sangat menenangkan. Mencintai setiap hal yang dia lakukan. Dia selalu membuat orang lain nyaman tanpa memperdulikan dirinya sendiri, aku mencintai kepribadiannya yang apa adanya dan dia tidak bisa menyembunyikan apapun dari wajahnya. Tapi dia pandai mengelak, agar membuat orang nyaman, meski dia sendiri tersakiti.”

“Darimana kau bisa menilainya seperti itu sedangkan kalian baru saja bertemu dan belum mengerti satu sama lain kan?”

“Aku memperhatikan setiap gerak-geriknya. Aku tau dia sering mengeluh di kamar mandi tentang hal yang dia kesalkan hari ini. Tapi saat dia keluar dari kamar dia tidak menunjukkan wajah kecewa. Dia pintar menyembunyikan sebuah kekecewaan namun senang membagi senyuman pada orang lain, berkorban apapun demi orang yang dia sayangi, meski terkadang itu membuatnya terlihat bodoh.”

“Itu yang aku pelajari dari dirinya selama ini.” tambahku.

“Kau mengganti posisiku? Bahkan Eommonim merasa tersaingi dengan kehadirannya, begitu besarkah kau mencintainya?” aku menoleh  padanya dan tersenyum.

“Aku tidak pernah menggugat posisi siapapun dalam hatiku.”

“Tapi kau.”

“Dia punya posisi khusus dihatiku, sama seperti kalian, hanya rasanya yang berbeda.”

“Bagaimana dulu rasamu padaku?”

“Rasaku padamu?”

“Eoh, bagaimana dulu kau mencintaiku?”

“Aku menyayangimu, aku tidak terbiasa tanpamu. Tapi saat kau meninggalkanku demi mimpimu, aku bahkan turut bahagia, dan menyadari aku memang bukan ditakdirkan untukmu.”

“Begitukah?”

“Beda halnya dengan Eun Kyo. Aku tidak bermaksud membandingkan kalian, hanya saja, mencintainya rasanya sebuah kebutuhan untukku hidup.”

“Begitu? Aku sebenarnya kesini ingin kembali padamu, tapi ternyata semua itu sudah tidak mungkin. Maafkan aku jika kehadiranku mengacaukan kehidupanmu.”

“Aku tidak berpikiran seperti itu.”

“Terima kasih jika kau tidak berpikiran seperti itu. aku pergi dulu.”

Minho’s POV

Sejak makan malam yang aku hancurkan itu, Appa selalu memantau gerak-gerikku. Aku tau dia mengirimkan orang untuk memata-mataiku. Aku hanya tersenyum dengan sikap kekanak-kanakannya. Bagaimana mungkin Eomma tahan dengan lelaki seperti dia? Aku merebahkan tubuhku setelah beberapa waktu lalu mendonorkan darahku untuk Eun Kyo Noona. Sangat menakutkan melihatnya pucat pasi seperti itu. Jung Soo hyung seperti mayat hidup melihat istrinya seperti itu, aku bergidik melihatnya. Lamunanku dikejutkan oleh suara bel yang nyaring. Aku melangkah gontai menuju pintu depan. Saat aku membuka pintu. Aku tercengang. Appa dan Eomma. Wajah Eomma terlihat tegang. Aku mempersilakan mereka untuk masuk.

“Silakan duduk.” Aku mempersilakan mereka berdua untuk duduk, jika tidak ada Eomma, jangan harap aku mempersilakannya untuk duduk.

“Mau minum apa?” tanyaku.

“Tidak perlu, kami hanya sebentar.”

“Jika ingin membicarakan pertunangan itu lagi, aku tidak tertarik.”

“Choi Minho!” seru Appa nyaring.

“Yeobo..” Eomma menenangkannya.

“Kau! Dasar anak tidak tau terima kasih. Aku memikirkan masa depanmu, tapi kau malah menghancurkannya.”

“Yeobo, tenanglah.” Eomma masih berusaha meredam amarahnya, namun perkataannya membuat emosiku merangkak.

“Kau diam saja! Aku harus membuatnya mengerti arti sebuah kehidupan padanya.”

“Masa depan? Kehidupan? Kehidupan mana yang kau maksud!” tanyaku sinis.

“Kau lihat bagaimana dia bersikap dengan orang tuanya sendiri? Bagaimana kau mendidiknya?!” Appa memarahi Eomma. Eomma terdiam.

“aku tidak mau tau. Kau harus meminta maaf dan menerima semua keputusanku.”

“Yeobo, Minho masih kecil dia masih belum mengerti, aku harap kau memberinya waktu.”

“Masih kecil? Masih kecil seperti ini saja dia sudah membantah, apalagi dia sudah dewasa!”

“Cukup!” teriakku. Appa menatap garang padaku, matanya menyiratkan kemarahan yang besar.

“Aku tidak ingin mendengar kalian bertengkar, kau! Sudah cukup kau menyiksa orang yang selama hidupnya hanya tau menjaga perasaanmu. Berhentilah membuatnya menangis!” aku menunjuk Appa.

“Kau! Beraninya kau.”

PLAK!

Perkataan sumpah serapah Appa terhenti oleh sebuah tamparan keras dari Eomma. Mata Eomma berkaca-kaca, nafasnya naik turun, seolah menahan sesuatu dalam dadanya.

“Cukup! Sudah cukup aku bersabar selama ini, kau, kau memang lelaki yang berkuasa, namun kau gagal dalam mempertahankan orang yang ada disekitarmu, kau kira mengapa anakmu sendiri membantah semua keinginanmu?! Hah! Dia tidak buta juga tidak tuli! Dia bisa membedakan yang benar dan yang salah! Kau selalu menyalahkanku mendidiknya jika sedikit saja dia membantahmu, kau tau?! Sifat kerasnya sama sepertimu! Dan kau! Kau orang paling egois yang pernah aku temui. Kau selalu memaksakan dan selalu ingin dimengerti dengan semua sikapmu, tapi apa kau pernah mengerti orang lain?!” semua perasaan Eomma tersampaikan hari ini.

“Eomma…” aku mencoba menenangkan Eomma yang mulai menitikkan airmata.

“Tidakkah kau merasa aku lelah denganmu?” airmatanya tak mampu dibendung lagi, dia terisak dipelukanku.

“Sebaiknya kau pulang, Eomma biar tidur disini.” Appa terlihat pasrah melihat istri satu-satunya membantahnya. Apa dia mulai sadar? Semoga, jika tidak aku tidak ingin melihat mereka bertengkar seperti ini.

***

Aku kembali mencari Rae Na di kampus, karena tidak mendapatinya di rumah. Dia bilang dia menunggui Eun Kyo Noona di rumah sakit. Aku ingin menjenguknya tapi tidak tega melihat muka datarnya seperti mayat hidup. terakhir kali aku melihatnya dua hari yang lalu saat dia sadar dia memang sudah membuka matanya, tapi dia berganti menutup mulutnya. Aku menemukan Rae Na sedang melangkah ringan di koridor fakultasnya, aku menjajari langkahnya.
“Bagaimana keadaan Noona?” tanyaku basa-basi.

“Baik-baik saja.” Sahutnya santai.

“Oh, syukurlah kalau begitu.”

“Em, terima kasih sudah mau mendonorkan darahmu untuknya.” Dia tersenyum padaku. Aku terpana dan menghentikan langkahku.

“Ehem, kau lebih cantik jika lebih banyak tersenyum seperti itu.” dia melayangkan ranselnya ke perutku.

“Yak! Kau membawa batu? Perutku sakit sekali!”

“Aku bawa batu bata!” sahutnya ketus, kembali ke watak aslinya.

“Kau ke rumah sakit lagi hari ini?”

“Ani.”

“Kau punya waktu luang?”

“Memangnya kenapa?”

“Luangkan waktumu dari jam 6 sampai jam 10.”

“Memangnya ada apa dengan saat itu.”

“Aku ingin mengajakmu nonton.”

“Film horror, aku hanya akan menonton film horror bukan yang lain!”

Aku memperhatikan wajahnya yang terlihat antusias dengan film yang sedang diputar dilayar lebar tepat dihadapannya. Sangat berbeda, dimana kebanyakan gadis sangat membenci film thriller ataupun horror, tapi gadis ini justru sebaliknya. Raut wajahnya terlihat sangat menikmati semua adegannya, seperti melihat film drama romance.

“Jangan memandangiku seperti itu.” jawabnya sambil memasukkan popcorn ke dalam mulutnya.

“Wae?”

“Aku tidak suka pandangan mesum seperti itu.”

“Bukannya kau suka?” dia menatapku tajam. Lalu memalingkan wajah kembali, menikmati adegan yang terpampang di depannya.

“Neomu yeoppuda..” gumamku. Entah mengapa aku sangat menyukai setiap gerak geriknya. Sangat berbeda dan tidak lumrah, itu yang membuatku jatuh cinta. Dia menampar pelan pipiku.

“Diam, filmnya hampir selesai.” Aku diam dan terus memperhatikan wajahnya, dia mengalihkan mukaku ke depan. Aku terkekeh.

***

“Mulai sekarang kau adalah kekasihku, kau tidak bisa menolakku, karena aku tidak suka kau menolakku.” Aku menggandeng tangannya keluar dari studio. Dia ingin menarik tangannya tapi aku menggenggamnya dengan erat.

“Aku tidak mau.”

“Sepertinya kau lebih suka dipaksa. Aku tidak peduli, kau milikku, tiap akhir pekan kita akan menonton seperti ini, aku akan menjemput dan mengantarmu, kau suka ataupun tidak.”

“Kau! Kau jangan memaksaku! Aku tidak suka dipaksa!” dia menarik tangannya sekali lagi, tapi aku sudah mengantisipasinya. Aku semakin erat menggenggam tangannya. Haha, Park Rae Na, aku sudah mempelajari semua gerak-gerikmu, jadi kau tidak bisa lepas dariku.

Author’s POV

Eun Cha terlihat memijit kepalanya dan menggaruknya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali. Dia membaca beberapa buku yang berserakan di ranjangnya. Terlihat seorang wanita paruh baya mengernyitkan dahi melihat putri semata wayangnya berantakan seperti itu.

“Eun Cha, gwaenchana?” tanya wanita itu kepada Eun Cha,

“Hem, Eomma.” Sahut Eun Cha malas. Dia berguling ke sisi kanan ranjang.

“Kau sedang apa? Berantakan sekali?”

“Eomma, aku pusing dengan semua tugas ini.”

“Kau kan mau selesai, terang saja banyak tugas, proposalmu lagi? Kenapa dengan proposalmu?” tanya Nyonya Kim pada Eun Cha sangat perhatian.

“Hufh.” Eun Cha menghela nafas berat, seolah ingin menghembuskan bebannya bersamaan dengan keluarnya udara dari hidungnya. Tapi semua sia-sia, tetap saja kepalanya pusing dan beban proposal yang belum diselesaikannya tidak akan hilang begitu saja.

“Jika kau seperti ini terus mana bisa selesai sayang?” Nyonya Kim berjalan sambil meletakkan cemilan dan segelas coklat hangat disamping laptop. Eun Cha mengambil cemilannya dan mengunyahnya. Dia menekan tombol laptop untuk menyalakannya. Dia menunggu dengan sabar layar laptop menyala sambil meniup coklat hangat dan menghirupnya. Saat layar itu menyala, dia membuka file-file dalam laptopnya.

“Eomma, proposalku terserang virus!” seru Eun Cha panik.

“Nde?” sahut Nyonya Kim bingung.

“Bagaimana ini? Tiga hari lagi aku harus mengajukannya, Eomma…” rengek Eun Cha pada Nyonya Kim.

“Eomma tidak terlalu mengerti, tapi mengapa kau tidak minta bantuan pada Jinki saja?” Nyonya Kim memberikan solusi.

“Eh?” sahut Eun Cha bingung. Tanpa banyak bicara dia langsung menyambar laptopnya dan berlari kesebelah rumah. Nafasnya berat ketika sampai di depan pintu rumah tersebut, Eun Cha memencet belnya. Seorang wanita cantik membukakan pintu.

“Annyeong, ahjumma.” Sapa Eun Cha sambil membungkukkan badannya.

“Eun Cha. Silakan masuk, sudah lama sekali kau tidak kesini.” Sahut Nyonya Lee sambil menggandeng tangan Eun Cha hangat. Eun Cha tersenyum pada Nyonya Lee.

“Kau, pasti mencari Jinki kan?” tanya Nyonya Lee langsung tepat sasaran dijawab dengan anggukan oleh Eun Cha.

“Sudah kuduga.” Sahut Nyonya Lee. “Dia ada dikamarnya, kau keatas saja.” nyonya Lee mendorong tubuh Eun Cha untuk menyuruhnya menaiki tangga. Eun Cha terlihat bingung, namun laptop ditangannya membuatnya segera bergegas setengah berlari menuju kamar Jinki. Setelah sampai di depan pintu kamar Jinki, dia menghela nafas dan mengatur detak jantungnya yang mulai tidak normal jika dia ingat dia akan berhadapan dengan Jinki. Dia serasa memasuki atmosfir lain jika tiba-tiba tubuhnya berdekatan dengan Jinki. Dia terdiam sebentar di depan pintu untuk mempersiapkan dirinya. Lalu dia mengetuk pelan pintu kamar Jinki. Sudah beberapa hari sejak kejadian Eun Cha menemukan seorang wanita disini dia tidak pernah menginjakkan kaki dikamar ini lagi.

“Masuk.” terdengar sahutan dari dalam kamar. Eun Cha membuka dengan perlahan dan menyembulkan kepalanya.

“Ini aku.” Sahutnya sambil membuka lebar seluruh pintu. Jinki terdiam sesaat mendapati seseorang yang berdiri di hadapannya.

“Eun Cha?” sahutnya sambil berdiri. Detik berikutnya dia sudah kelabakan membersihkan semua perabotan kamarnya yang sedikit berantakan. Baju kotor di lemparnya sembarang ke dalam kamar mandi. Tempat tidur dia bersihkan dengan asal-asalan. Lalu menghadap kembali kearah Eun Cha.

“Ada apa kau kemari?” tanya Jinki gugup.

“Aku… aku, ini, laptopku terserang virus, semua file penting ada disini, bisa kau membantuku?” jinki berjalan kearah Eun Cha dan mengambil laptop itu dari tangannya.

”Sini biar aku liat dulu.”

“Ah, ye.” Sahut Eun Cha canggung.

“Kenapa masih berdiri disitu?” Tanya Jinki tanpa menoleh kearah Eun Cha. Dia menyalakan tombol on pada laptop.

“Eh?” Eun Cha semakin kikuk.

“Masuk saja, duduk disini.” Jinki menarik kursi disampingnya sambil fokus kepada laptop dan meng-klik sesuatu yang Eun Cha tidak mengerti. Setelah lama diam, Jinki tersenyum

“Sudah selesai, jangan meng-klik apapun jika kau tidak kenal dengan folder itu.” jinki terlihat puas dengan pekerjaannya. Eun Cha menyunggingkan senyumnya.

“Gomawo.” Sahutnya lirih.

“Mau diletakkan dimana makanannya anak-anak?” sebuah suara mengejutkan mereka.

“Oh, Eomma, disana saja.” Sahut Jinki sambil menunjuk kearah meja belajarnya dengan dagunya.

“Baiklah, aku keluar saja, tidak akan mengganggu.”

“Eomma, jangan lupa pintunya.” Sahut Jinki santai, Nyonya Lee dan Eun Cha saling berpandangan bingung, lalu Nyonya Lee menggidikkan bahunya.

‘ada apa dengan Jinki? Mengapa dia seperti berubah menjadi orang lain? Menyuruh Ahjumma menutup pintunya? Hey, kita hanya berdua dikamar ini, Jinki~ya!’

“kau sedang melakukan apa?”

“Aku?” tanya Eun Cha.

“Ya, kau, sepertinya terlihat stress.”

“Ah, itu, aku mengerjakan proposalku, tapi kekurangan bahan.”

“Mengapa tidak mencarinya di internet saja?” jawab Jinki sambil bangkit dari duduknya dan menghampiri makanan yang dibawa Eommanya.

“Benar juga.” Sahut Eun Cha, dia terlihat sibuk membuka-buka dunia maya melalui media yang tadi dibawanya dari rumah.

“Jinki~ya, apa Chaerin itu sepupumu?” tanya Eun Cha.

“Ye, waeyo?” tanya Jinki.

“Ada berita tentangnya, desaigner terkenal Lee Chaerin, menjalin hubungan dengan seorang pengusaha terkenal dari Paris yang sudah mempunyai istri.” Eun Cha mengeja berita yang didapatnya. Semua itu membuat Jinki berhenti sejenak untuk menyimak apa yang dikatakan Eun Cha. Dia perlahan mendekati Eun Cha. Berdiri di belakangnya.

“Mana?” tanya Jinki.

“Ini, coba kau lihat, ada fotonya juga.” Sahut Eun Cha. Jinki mencodongkan tubuhnya mendekat kearah Eun Cha. Jinki meletakkan tangannya di meja untuk menahan bobot tubuhnya. Semakin mendekat hingga kulit mereka bersentuhan. Eun Cha hanya memakai kaos oblong lengan minim dan Jinki mengenakan kaos besar tanpa lengan. Deru nafas Jinki menyapu tengkuk Eun Cha, memberikan sensasi menggelitik bagi Eun Cha. Eun Cha memandangi kulit mereka yang bersentuhan. Terdiam tanpa kata hingga Jinki sadar apa yang sedang Eun Cha lihat. Jinki menyentakkan tangannya dan kembali ke posisi berdiri tegak. Mereka terdiam, muka Jinki terlihat merah, sedangkan Eun Cha merona. Teringat kembali ciuman mereka beberapa waktu lalu.

“Aku..” ucap mereka bersamaan.

“Kau duluan.” Sahut Jinki.

“Kau saja.” Sahut Eun Cha.

“Wanita lebih dulu.”

“baiklah, mengenai kau tidak suka aku jauh darimu, apa maksudmu?”tanya Eun Cha ragu.

“Itu, itu, itu karena kau tidak terbiasa.” Jawab Jinki.

“Apa kau menyukaiku?” tanya Eun Cha lagi memberanikan diri.
“Sepertinya begitu.” Sahut Jinki lemah.

“Mengapa kau tidak mengatakannya dari dulu?”

“Itu karena aku takut kau tidak menyukaiku.” Jawab Jinki.

“Bagaimana aku bisa tau jika kau tidak mengatakannya.”

“Aku hanya merasa takut.”

“Jadi?”

“Jadi apa?” tanya Jinki bingung.

“Sudahlah lupakan saja. Kau mau mengatakan apa?” Jawab Eun Cha.

“Aku… aku… kau… Mau kah kau menganggapku lebih dari sekedar sahabat? Maksudku, mau kah kau menjalin hubungan denganku?” Eun Cha terdiam, dia berpikir, bukan apa yang harus dia jawab, karena dia sudah tau jawabannya, tapi yang dia pikirkan adalah, mengapa Jinki berubah secepat ini? Apa yang membuatnya tiba-tiba menyatakan perasaannya?

“Sudah kuduga, kau tidak mempunyai perasaan yang sama.”

“Ne? Siapa bilang aku tidak mempunyai perasaan yang sama?” sahut Eun Cha Cepat.

“Maksudku, aku…” Eun Cha mengurungkan perkataannya.

“Aku mengerti.” Jinki mendekat kearah Eun Cha.

“Mulai hari ini kita pacaran.” Jinki mengambil kesimpulannya. Eun Cha tersenyum lebar.

“Tapi darimana kau mendapatkan keberanian ini? Setauku kau orang yang tidak mudah mengatakan perasaanmu dengan gamblang.” Eun Cha juga mendekatkan diri pada Jinki.

“Aku baru saja, menonton film.” Sahut Jinki santai, sedangkan Eun Cha membelalakkan matanya tidak percaya. Selama bertahun-tahun dia menunggu ini, dan inspirasi itu datang karena sebuah film? Jinki paboya!

Rae Na’s POV

Sudah beberapa hari sejak kepulangan Eun Kyo Onnie kerumah. Aku ikut andil memantau keadaannya jika Oppa sedang bekerja. Dia tidak pulang ke rumah Halmonie seperti yang telah direncanakan. Jung Soo Oppa membawanya pulang ke villa yang dulu aku tempati bersama Onnie. Alasannya agar Onnie tidak mengingat kejadian itu lagi. Memang menyenangkan, namun membosankan juga jika aku ditinggal sendiri seperti ini diakhir pekan. Onnie pergi untuk memeriksakan kesehatannya. Akhir-akhir ini Onnie terlihat lebih banyak diam. Aku juga ikut prihatin melihatnya. Binar di wajahnya perlahan memudar seiring wajah pucat selalu ia tampakkan setiap harinya. Aku menonton televisi untuk mengusir jenuhku. Namun tiba-tiba saja ponselku bordering.

“Yeoboseyo?” sahutku malas, Choi Minho.

“Aku ada di depan rumah, bukakan aku pintu.” Perintahnya lalu menutup sambungannya secara sepihak. Aish! Anak ini, kenapa datang dan pergi seperti hantu?

Aku membukakan pintu dengan malas. Dia bergerak masuk tanpa aku suruh. Aku mengikutinya dengan muka yang sedikit aku tekuk karena tingkat kebosanannku meningkat beberapa level saat melihat wajahnya.

“Wae? Wajahmu berubah, kau mau datang bulan lagi?” ledek Minho yang langsung kubalas dengan sebuah lemparan ponsel kearahnya.

“Ouch, hampir saja. Ini media penting dalam hubungan kita, tanpa ponsel komunikasi kita tidak akan mungkin lancar.”

“Jangan bicara sembarangan!”

“Cepat kau mandi, kita nonton malam ini.”

“Aku sedang malas keluar.”

“Hem.. baiklah, disini juga lumayan, kencan di rumah sepi seperti ini lebih menyenangkan, lebih leluasa.” Aku memicingkan mataku padanya. Dia hanya membalasku dengan kerlingan nakalnya. Membuatku merinding saja!

“Aku mau mandi.” Aku langsung pergi meninggalkannya.

Akhir pekan ini terasa sangat membosankan. aku tidak mengerti dengan perasaanku akhir-akhir ini, mengapa sering sekali berubah-rubah seperti ini? Kadang aku terasa sangat kesal tanpa alasan yang jelas.

“Bagaimana keadaan Noona?” suara berat Minho membuyarkan lamunanku. Akhir-akhir ini aku juga sering sekali melamun dan berpikir.

“Oh, Onnie? Dia mulai membaik, tapi harus selalu menjalani terapi setiap sabtu.”

“Bagaimana jika waktu itu dia tidak ada lagi?”

“Jangan bicara sembarangan!”

“Kau takut kehilangannya?”

“Hem.”

“Seberapa takut?”

“Mengapa kau menanyakan itu?”

“Jawab saja seberapa takut?”

“Aku… Aku hanya tidak ingin dia tiada, karena aku hanya punya dia di dunia ini.”

“Aku bisa membayangkan bagaimana takutmu hingga kau menangis dibuatnya.”

“Jadi kau menanyakan ini hanya untuk mengejekku?” tanyaku keras.

“Ani.. hanya saja kau seperti tidak takut akan apapun, ternyata ada juga yang kau takutkan, jika aku yang tidak ada lagi, apa kau akan setakut itu?”

“TIDAK!” jawabku lantang. Meski dalam hatiku aku menyangkalnya, entahlah, akhir-akhir ini Choi Minho memenuhi otakku tanpa aku mau. Semakin aku mengusirnya aku semakin terjebak. Dan aku sangsi jika aku tidak takut kehilangannya.

***

Minho sudah pulang sejak beberapa menit yang lalu. Menyebalkan sekali, dia datang kesini hanya untuk menggodaku, jika tau seperti itu, aku lebih baik mati dalam kejenuhan. Aku mendengar deru mobil di halaman rumah. Aku segera berlari membukakan pintu.

“Oppa, Onnie, kalian sudah pulang, mengapa sampai selarut ini?” tanyaku bingung. Jung Soo Oppa menatapku, aku mengerti arti dari tatapannya. Dia menyuruhku untuk tidak menanyakan apa-apa dulu. Aku mengikuti mereka yang berjalan pelan. Oppa menggandeng Onnie mesra, namun Onnie terlihat sebaliknya, dia seakan menjaga jarak dengan muka dinginnya. Aku tidak akan menanyakannya sampai Oppa menceritakannya padaku.

Aku melanjutkan acara menontonku, melihat sepasang suami istri itu menghilang dibalik pintu. Aku mengkhawatirkan Onnie padahal, namun bukan wewenangku lagi untuk mencampuri urusannya karena dia sudah menikah. Aku tau apa yang dirasakan Onnie, sepertinya dia sangat menyesal dengan keadaannya yang seperti itu.

“Kau belum tidur?” sapaan Oppa mengagetkanku.

“Hem. Oppa kenapa sampai selarut ini?” Jung Soo Oppa mengambil cemilan yag ada diatas meja dan memakannya.

“Eun Kyo, dia sepertinya sangat tertekan, entah karena hal apa.”

“Nde? Hem, dia memang tidak pernah seperti ini.”

“Apa dia tau kalau dia dilarang mengandung dulu hingga hal itu membebaninya?”

“Darimana dia tau? Aku bahkan baru tau sekarang, benarkah? Wae?”

“Dokter bilang kandungannya sangat lemah, dia tidak bisa mengandung dulu sebelum keadaannya benar-benar pulih. Hal ini semakin berat karena penyakit yang di deritanya yang akhir-akhir ini sering kambuh.” Terang Jung Soo Oppa tentang keadaan istrinya.

“Bagaimana Onnie sampai tau?”

“Mollasseo, itu hanya dugaanku saja, mengapa dia berubah seperti itu?”

“Hem, aku juga tidak tau, mungkin dia shock kehilangan bayinya.” Sahutku.

“Oppa, apa kau benar-benar mencintai Onnie?” kepalaku langsung dapat pukulan kecil darinya.

“Sudah berapa kali kau menanyakan itu?”

“Aku hanya ingin memastikan saja.”

“Kau ini, sudah tidur sana.”

“Oppa.. Apa kau ingin memiliki anak?”

“Aish, tentu saja ingin, tapi nanti dulu, sampai Eun Kyo siap, sudah tidur sana.”

“Oppa.. satu hal lagi, bagaimana rasanya menikah?” pertanyaan terakhirku mampu membuatnya terdiam.

“Apa yang sedang meracunimu?” Jung Soo Oppa menyentuh dahiku.

“Oppa, apa maksudmu?”

“Minho yang meracunimu?”

“Ani, kenapa menuduhnya?”

“Aigoo, kau membelanya?”

“Oppa!”
“Baiklah, sebaiknya kau tidur saja.” Jung Soo Oppa mengusap kepalaku. Aku benar-benar menemukan sosok seorang Oppa darinya. Entahlah, aku menemukan sosok Oppa sekaligus Appa dalam dirinya. Onnie~ya, sudahkah aku mengatakannya padamu jika kau beruntung mendapatkannya?

Minho’s POV

Aku dan Rae Na memang telah menjalin hubungan, itu menurutku. Tentang pendapatnya, aku tidak peduli. Aku terbangun karena hidungku mencium aroma masakan yang menggugahku untuk bangkit dari lelapku. Aku berjalan menuju dapur, siapa yang memasak? Aku berjalan sambil mengumpulkan jiwaku yang masih belum benar-benar kembali pada ragaku. Aku mengucek mataku melihat siapa yang ada di dapur.

“Eomma..” aku berjalan kearahnya.

“Kau sudah bangun? Cepat cuci mukamu, mandi lalu sarapan.” Eomma mengacak rambutku. Dia sedang terlihat mengaduk masakannya setelah itu.

“Yang ini diapakan Ahjumma?” suara seseorang mengejutkanku. Aku menoleh padanya dan setenagh tidak percaya. Tidak percaya karena sangat mustahil dia pagi-pagi kesini, percaya karena aku melihat dengan mata kepalaku sendiri dia berdiri di hadapanku. Park Rae Na, dengan senyum mengembang diwajahnya. Aku semakin terlihat bodoh dibuatnya.

Eomma dan Rae Na terlihat sangat senang melakukan aktifitas paginya, dan Eomma? Aku tidak pernah melihatnya secerah ini.

“Wae? Minho~ya, kenapa masih mematung disana?”

“Ah, ye.” Sahutku benar-benar bodoh. Apa Rae Na sudah berubah dan mulai berkompromi dengan prinsipnya?

“Kau pasti bingung kan mengapa Rae Na ada disini?” Aku masih terdiam dan tak mampu menjawab.

“Sangat kecil kemungkinan untuk bisa membuatmu mengenalkannya padaku, jadi aku mencari tau sendiri tadi malam, jangan tanyakan aku bagaimana aku memperoleh informasi tentangnya.” Eomma melirik kearah Rae Na, Rae Na tersenyum manis.

“Yang penting sekarang aku sudah menemukannya.”

“Eo, sekarang kau mandi.” Rae Na mendorongku sampai ke kamar mandi. Dan aku masih belum mengerti sebenarnya apa yang sedan terjadi. Rae Na melepaskan dorongannya.

“Jangan salah paham, aku hanya tidak mau membuat ibumu kecewa.” Ucapnya dingin. Sudah kuduga, tidak mungkin dia mau bernegosiasi dengan hatinya.

“Tidak ingin membuat Eomma kecewa atau kau memang suka?” godaku.

“Siapa bil!” aku langsung melumat bibirnya. Beberapa hari tak merasakan manisnya bibir gadis ini membuatku sedikit memaksa kali ini. Dia memukul dadaku seperti biasa. Aku memperdalam ciumanku dan menggigitnya pelan. Dia sedikit mengerang namun tertahan oleh bibirku. Nafasku menderu menahan hasrat yang benar-benara diluar kendaliku. Dia tiba-tiba hadir disini tanpa sebuah pemaksaan dariku membuat hatiku melonjak. Dan aku tidak mampu untuk membendung perasaaku kendati tadi malam aku sudah menghabiskn sepertiga malam bersamanya. Saat aku mendorongnya dan menghimpit tubuhnya di ranjang ciumanku terlepas, aku terus menekannya hingga menyebabkan dia tak berkutik sedikitpun, namun dia menahan ciumanku dengan menutup bibirnya dengan tangannya.

“Ehem.” Suara deheman membuatku tersentak dan refleks melepaskan terkamanku darinya. Park Rae Na, kau lolos kali ini. Dia terlihat kikuk memperbaiki bajunya yang sedikit berantakan karena perlakuanku.

“Makanannya sudah siap, dan kau Minho, mandi atau aku akan menghukummu.” Aku hanya tersenyum pada Eomma.

“Kau jangan macam-macam!” ancam Eomma sambil menarik Rae Na dari hadapanku.

“Gwaenchana?”

“Ne.” sahut Rae Na.

“Jika dia bersikap seperti itu lagi, katakan saja padaku.” Samar-samar aku masih bisa mendengar pembicaraan mereka.

***

Rae Na terdiam disampingku, aku mengantarnya ke Kampus hari ini, dan aku tidak ada kelas. Dia masih terdiam, wajahnya dingin, aku bisa merasakan aura hitamnya kali yang sangat terasa. Aku tau dia marah. Saat aku menghentikan mobilku, dia langsung keluar tanpa aku bukakan pintu dan berjalan cepat meninggalkanku.

“Rae Na, tunggu.” Aku menarik tangannya.

“Mau apa lagi? Aku harap kau menjaga jarakmu dariku.”

“Oke, aku tau kau marah, tapi aku.”

“Choi Minho.” Dia memotong pembicaraanku dan menatapku tajam. Kali ini dia benar-benar marah aku rasa.

“Dengarkan aku Tuan Choi, aku sudah berulang kali mengaskan padamu, bahwa aku bukan bonekamu, dan aku tidak suka kau perlakukan seenaknya seperti tadi, kau menciumku? Oh, please Mr. Choi, itu membuatku semakin tidak bisa menerima cinta.” Ucapnya penuh penekanan pada tiap katanya sambil matanya tak pernah lepas dari mataku, mencoba mengintimidasiku, namun kau tidak bisa melakukannya Mrs. Choi.

“Aku tidak bisa menerima kau memperlakukan tubuhku seperti bonekamu. Dan aku, kau tau tadi kau melakukannya diluar batas?! Dihadapan ibumu sendiri?!”

“Baiklah, aku memang keterlaluan, tapi tolong jangan semarah ini.”

“Jangan semarah ini? Jangan semarah ini kau bilang?!” dia melemparkan ranselnya padaku.

“Kau memang gila, dan aku lebih gila lagi!” serunya terdengar frustasi.

“Lebih gila lagi? Apa maksudmu lebih gila lagi?” dia langsung melangkahkan kakinya meninggalkanku. Aku mengejarnya namun dia semakin cepat melangkah, aku setengah berlari menjajari langkahnya. Menarik tangannya dengan erat.

“Aku mau bicara padamu.” Aku menyeretnya kembali ke mobil.

“Apa maksudmu aku lebih gila lagi?” dia tidak menjawab. Aku menyalakan mobil dan langsung menginjak pedal gas dengan amarah, entah kenapa amarahku merangkak naik. Sudah aku bilang jika berada di dekatnya aku tidak bisa mengontrol diriku?

“Kau merasa lebih gila karena kau juga menyukaiku kan?” tembakku langsung.

“Hentikan mobilnya.” Dia tidak menjawab pertanyaanku.

“Jawab pertanyaanku.”

“Hentikan mobilnya atau aku akan benar-benar melompat kali ini.” Dia terlihat tidak main-main. Aku menepikan mobilku.

“Apa susahnya? Apa susahnya mengakui perasaanmu sendiri Park Rae Na?!!” aku semakin tidak bisa mengontrol diriku.

“Tidak taukah kau seberapa besar aku menahan diriku? Aku merendahkan harga diriku dengan tidak peduli dengan penolakanmu, tapi apa yang kau lakukan? Kau pembohong besar yang pernah aku temui!” aku benar-benar meluapkan amarahku kali ini. Aku heran, terbuat dari apa hatinya? Jelas-jelas dia membalas ciumanku, aku tau dia punya perasaan yang sama padaku.

“Tau apa kau tentang hatiku?!” balasnya.

“Aku tau kau juga mencintaiku.”

“Kau terlalu percaya diri.”

“Apa sulitnya? Apa sulitnya mengakuinya Rae Na~ya?” aku mulai berkompromi, menatapnya lembut.

“Tidak ada salahnya kan?” lanjutku.

“Kalau aku juga menyukaimu kau mau apa?” tanyanya. Senyumku mulai mengembang, angin segar mulai terasa.

“Setidaknya kau jujur dengan perasaanmu, itu akan membuatmu lebih nyaman.” Aku menginjak pedal gas dengan  perlahan dan mulai mengemudi dengan senang. Aku tau suatu saat nanti kau pasti mengatakan cinta padaku.

Jung Soo’s POV

Aku mendapati rumah dalam keadaan kosong sore ini. Rae Na, tidak ada, mungkin dia masih ada urusan di Kampus. Tapi yang mengkhawatirkanku adalah Eun Kyo, dia tidak ada di rumah? Kemana dia? Dia sedang dalam keadaan tidak baik. Kepalaku mulai pusing memikirkan kemungkinan-kemungkinan tentang tidak adanya Eun Kyo disini. Aku tidak ingin putus asa, aku mencarinya ke semua ruangan, bahkan ke kamar Rae Na. tidak ada. Aku kembali ke ruang tamu dan melonggarkan dasi yang mengikat leherku, kurebahkan tubuhku untuk menlenyapkan penat dari tubuhku dan berharap Eun Kyo baik-baik saja. Mataku mulai terpejam, kesadaranku mulai hilang, samar aku mendengar derap langkah yang mulai mendekat. Aku ingin membuka mata namun rasanya berat sekali.

“Kenapa tidur disini?” kudengar sebuah suara menyapa, aku rasa dia menyapaku, namun aku benar-benar tidak bisa membuka mataku.

“Mandi… kamar… sakit..” suaranya timbul tenggelam seperti sebuah radio usang. Aku bisa menebak itu adalah suara Eun Kyo. Perlahan aku membuka mataku dan benar-benar mendapati Eun Kyo sedang mengeluarkan beberapa sayuran dan memasukkannya ke dalam kulkas. Aku berjalan kearahnya. Memeluk punggungnya dan meletakkan daguku di pundaknya. Dia diam dan tetap melakukan kegiatannya seperti sebelum aku memeluknya, tidak ada penolakan darinya namun dia juga tidak merespon sama sekali, seolah tak menganggapku sama sekali. Aku mengecup lehernya untuk menandakan bahwa aku ada, agar dia mengakui kehadiranku, namun dia tetap tak bergeming.

“Yeobo, kemana saja?” tangannya kesana-kemari merapikan belanjaannya. Aku mengecup bahunya kali ini.

“Tidak liat aku sedang sibuk?” tetap dingin seperti biasa.

“Aku mau bicara denganmu.” Aku menarik tubuhnya dan mendudukkannya di kursi makan. Aku menghela nafas.

“Mau bicara apa?” dia memilin-milin bajunya, menundukkan kepalanya.

“Lihat aku.” Aku meraih dagunya dan menatapnya selembut mungkin, tidak ingin membuatnya takut.

“Jika ingin membicarakan perpisahan kita, sebentar dulu aku mau membereskan ini dulu.” dia meraih belanjaannya lagi. Aku menahan tangannya.

“Apa aku pernah mengatakan seperti itu? tolong jangan selalu mengambil kesimpulan sendiri, Kyo~ya, aku tidak ingin berpisah, kau yang membuat kita terpisah, kau menjaga jarak, dan itu membuatku tidak mengenalmu lagi.”

“Memangnya selaman ini kau mengenalku?” tanyanya dengan nada sinis.

“Jangan mengungkit hal itu.” balasku.

“Tadi kau bilang ingin bicara.” Lirihnya menjawab.

“Dengarkan aku, mengenai yang kau bicarakan di rumah sakit tempo hari, aku mohon kau jangan memintaku melakukannya. Sekarang aku tegaskan padamu, aku tidak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi, sampai salah satu dari kita tidak ada lagi, camkan ucapanku, jangan terpengaruh oleh siapapun.” Jelasku padanya, dia mulai menoleh dan menatapku dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan.

“Sudah selesai?” dia bangkit dari duduk, tepat berada dihadapanku. Nafasnya menerpa dadaku. Aku mengangkat wajahnya agar menatapku.

“Dengarkan kata-kataku, masukkan melalui indra pendengarmu, analisa di otakmu dan simpan dihatimu. Aku mencintaimu, dan aku tau ini bukan sesaat, aku tidak ingin kehilanganmu, karena aku yakin padamu, jadi jangan berpikir aku akan meninggalkanmu, maka aku tidak akan berpikir kau akan meninggalkanku. Aku percaya padamu.” Airmata menetes dari matanya. Aku meraih dagunya. Mendekatkan wajahku pada bibirnya. Kupandangi dengan intens bibir tipisnya sebelum aku meraihnya, perlahan aku dekatkan, semakin dekat seperti gerakan slow motion dalam sebuah film layar lebar, hingga akhirnya bibirku menyentuh bibirnya. Kudiamkan sesaat, lalu ku kecup bibirnya dengan lembut. Dia tidak membalasnya, kuartikan dia menikmati ciumanku selama dia tidak menolaknya. Kukecup bibir bawahnya, dia mengecup bibir atasku. Mulai ada penerimaan darinya. Kualihkan kecupanku pada bibir atasnya, dia melakukan hal sebaliknya, lama saling bertaut, tangannya berada di dadaku, nafasnya mulai berat. Aku meremas pinggangnya membuatku tersebtak namun tidak melepaskan ciumannnya, ku perkecil jarak tubuhku dengan tubuhnya, kutarik pinggulnya hingga tidak ada jarak lagi. Ciumanku mulai liar, mengangkat tubuhnya dipinggangku, nafasku dan nafasnya beradu saling menderu. Menghimpitnya di dinding tanpa melepaskan kontak bibir sedikitpun, benar-benar tidak bisa mengontrol diriku. Aku mengangkat tubuhnya kakinya melingkar di pinggangku, kami menuju menuju kursi dan meletakkan tubuhku disana sambil memangku Eun Kyo. Ciumanku turun ke lehernya. Mengecupnya hingga lehernya sedikit basah karena perlakuanku. Dia meremas rambutku.

“Makan malam, aku harus menyiapkan makan malam.” Suaranya berat, menahan deru nafasnya. Seperti berlari ratusan meter, aku juga mulai mengontrol nafasku seiring dengan lepasnya kontak intim kami.

“Kau… kau mau, hufh, makan apa?”

“Terserah saja, apa Rae Na suka dan kau suka, aku akan suka.” Sahutku. Dia turun dari pangkuanku. Aku menyadari, jika saja dia tidak menghentikannya, maka akan terjadi hal-hal yang lebih jauh lagi. Dan aku membiarkannya menjauh, agar tidak menyakitinya. Memperhatikannya dari jauh, dan terus mengekori gerak-geriknya dengan mataku, dia terlihat salah tingkah, dan aku hanya tersenyum melihatnya.

“Jangan melihatku seperti itu.” dia melemparkan tissue makan padaku. Aku merasa lega, dia tidak sedingin dulu.

***

Bangun dipagi hari tak mendapatinya disampingku, aku langsung bangkit dan mencarinya. Aku mencarinya ke dapur karena setiap pagi dia memasak, namun aku tidak menemukannya. Pergi ke halaman, tetap saja tidak menemukannya. Ck! Yeobo~ya… akhir-akhir ini kau sering sekali membuatku sport jantung.

“Oppa, pagi-pagi sudah bangun, sedang mencari apa?” suara Rae Na membuat jantungku semakin berpacu.

“Aish, aku ini mengagetkan saja.” Jawabku sambil memegang dadaku sendiri.

“Dari tadi aku perhatikan kau terlihat sibuk, berjalan kesana kemari.”

“Kau melihat Onniemu?”

“Onnie? Memangnya kenapa dengan Onnie?”

“Onniemu tidak ada, saat aku bangun dia tidak ada disampingku.”

“Aigoo.. kau ini seperti kehilangan apa saja, ternyata kehilangan istrimu..” ejek Rae Na sambil memalingkan tubuhnya. Aku segera berjalan cepat menjajari langkahnya dan memukul kepalanya.

“Oppa.. Appa~yo…” ringis Rae Na.

“Siapa suruh kau bicara sembarangan.”

“Aku beritahu ya, dari tadi aku sudah bangun, dan aku tidak melihat Onnie, mungkin dia masih ada dikamar, hanya saja mungkin tak terlihat olehmu.”

“Kau ini!” aku menggandenganya duduk di tempat tidur.

“Oppa, kalau Onnie tidak ada siapa yang akan memasak?” tanya Rae Na sambil mengerjapkan matanya.

“Kau saja.” Jawabku santai.

“Aku tidak bisa memasak.”

“Memangnya Onniemu bisa memasak? Tidak, masakannya terlihat aneh, tapi entah kenapa aku menyukainya.”

“Yak! Kau mengatai istrimu sendiri.” Wajah Rae Na cemberut, memprotesku.

“Memang benar seperti itu kan? Aku mau ke kamar dulu mencarinya.”

Aku pergi meninggalkan Rae Na yang bergerak kearah dapur. Aku berjalan menuju kamarku sendiri, aku masih tidak menemukan Eun Kyo.

“Yeobo…” panggilku, namun tidak ada sahutan. Aku membuka pintu kamar mandi. Tidak ada siapapun disana. Namun aku menemukan sebuah gelas yang beisi setengah air putih di depan cermin, aku memegang gelas itu, dingin, berarti dia tadi habis dari sini. Aku ingin melihat dibalik pintu, aku rasa dia ada disana, tetapi aku mengurungkan niatku, berhenti sejenak memandang daun pintu yang aku yakin menyembunyikan, lebih tepatnya tempat Eun Kyo bersembunyi. Menghela nafas, aku rasa dia tidak ingin diganggu. Aku keluar dari kamar mandi dan keluar kamar, menemani Rae Na memasak.

Eun Kyo’s POV

Aku mendengar suaranya memanggilku. Aku tau sekarang dia panik mencariku. Aku tidak ingin dia melihatku, aku menekan suara tangisku agar tidak kedengaran olehnya. Hufh, sebenarnya apa yang aku lakukan aku juga tidak mengerti, mengapa aku sedih? Mengapa aku menangis? Aku tidak tau sebabnya. Kehilangan bayiku sedikit banyaknya mungkin memang mempengaruhi kejiwaanku. Tapi terapi ini sungguh memuakkan. Aku yakin kejiwaanku memang sedang terguncang, tapi mengetahui aku sulit untuk mengandung lagi membuatku terhempas benar-benar terpukul. Darimana aku tau? Aku tau dari obat yang setiap hari aku minum. Aku menanyakannya pada petugas apotek beberapa hari yang lalu. Aku terus bersembunyi dibalik pintu dan menyandarkan diriku di dinding.

“Apa yang harus aku lakukan?” gumamku pelan. Terdengar suara Rae Na dan Jung Soo ditelingaku naik turun gelombangnya. Aku mendengarnya lirih, pasti sedang bertengkar.

Tetap berada dikamar mandi hingga Jung Soo Oppa hampir berangkat bekerja. Aku yakin dia tau aku berada disini, hingga dia lebih memilih mandi di kamar Rae Na. aku masih menangis, tak bisa menghentikan bulir airmata yang menggenang di pipiku. Keadaan menjadi hening, Oppa pasti sudah berangkat, Rae Na juga pasti sudah dijemput Minho. Aku menghela nafas dan menyentuh kenop pintu kamar mandi, membukanya perlahan dan berjalan keluar dari kamar mandi. Sebuah pelukan dibelakangku membuatku menghentikan langkah. Aku terdiam, pelukanya makin erat.

“Aku mohon jangan seperti ini lagi.” Dia mengeluarkan getaran suara saat mengucapkan kata itu. aku menunduk, tak menjawab.

“Jangan seperti ini lagi.” Tegasnya, aku tak kuasa membendung airmataku.

“Aku tidak tau kau tau kondisi ini dari mana, tapi aku tegaskan padamu, aku tidak akan meninggalkanmu.” Dia membalik tubuhku menghadapnya dan memelukku kembali. Aku menangis dalam pelukannya.

“Oppa… aku menginginkan bayi itu.”
“Sssstttt.. arasseo, kita bisa mencobanya lain kali, saat kau sudah sembuh, hem?” aku menggeleng kuat.

“Jangan disesali, karena semuanya tidak mungkin kembali.”

“Aku juga selalu mengatakan seperti itu, tapi salah jika aku tetap menyesalinya?” aku menengadah menatap wajahnya. Dia menggeleng.

“Tidak ada yang salah, karena ini adalah sebuah jalan yang harus kita tempuh dalam hidup. susah, senang, bahagia, sengsara, pertemuan, perpisahan dan semua kenangan adalah sesuatu yang tidak dapat kita hindari.” Aku mengangguk.

“Baiklah, sekarang aku mau berangkat dulu, jika perlau apa-apa telpon aku, arasseo?” aku menjwabnya hanya dengan anggukan sambil menyeka airmataku. Dia menggandengku ke pintu depan. Mengecup bibirku sekilas, hingga dia menghilang dibalik pagar besar.

***

Aku duduk di kursi dibawah sebuah pohon dipinggir jalan. Berjalan kaki menuju kesini. Aku bosan tinggal sendiri di rumah, hingga berjalan sampai pada tempat ini. Di depanku ada sebuah taman bermain anak, seberapa jauh aku berjalan, aku juga tidak tau, mungkin aku terlihat seperti orang gila yang berjalan tak tentu arah. Lamunanku dikejutkan oleh seseorang.

“Eomma…” seorang anak kecil menangis menarik bajuku. Aku bingung menatapnya. Beberapa orang menatap kami. Anak it uterus menangis, tangannya menggapaiku, sepertinya ingin aku gendong. Aku tidak menghiraukannya dan mulai beranjak dari sana, mencari tempat yang nyaman untuk menenangkan diri.

Anak itu… anak itu mengikutiku sambil terus memanggilku Eomma. Aku semakin bingung, kaki kecil melangkah mengikuti langkah besarku, berjalan tertatih dan tangannya menggapai kearahku. Semua mata memandangku, aku terlihat seperti seorang ibu yang membuang anaknya. Kakiku berbalik menghampiri anak itu dan menggendongnya. Anak itu berhenti menangis seketika, memelukku dan membenamkan wajahnya dileher dan rambutku.

“Eomma..” kata itu terdengar jelas ditelingaku, aku seperti diguyur air hujan saat mendengarnya. Ponselku berbunyi, tanganku kesulitan meraih ponsel yang ada dikantongku, setelah beberapa saat akhirnya aku bisa mengeluarkannya dari sakuku. Jung Soo Oppa.

“Yeoboseyo? Ne? Aku ada di taman Oppa, kau jangan khawatir, aku baik-baik saja, taman di dekat rumah, bisa jemput aku disini?”

Anak itu memandangiku berbicara di telpon, dia menatapku tanpa kedip aku membalas menatap matanya. Aigoo.. begitu manis, siapa yang tega meninggalkannya disini. Aku menutup flip ponsel dan meletakkannya kembali ke saku.

“Eomma.” Ucap anak itu sambil tangan kecilnya membelai pipiku, aku tertegun, seulas senyum mengembang diwajahku.

“Hem, aku Eommamu.” Aku mencium pipi kenyalnya. Dan membawanya duduk di kursi semula kami bertemu.

“Kau haus? Sebentar aku belikan susu, jangan kemana-mana, arasseo?” matanya mengerjap seoalh paham apa yang aku bicarakan, aku mencari penjual susu terdekat dan kembali pada anak itu. dia masih duduk manis menungguku. Aku berhenti sejenak, apa maksudnya semua ini?

Selang waktu berlalu, terlihat Jung Soo Oppa berjalan kearahku, aku melambaikan tanganku padanya. Dia membalas lambaianku. Dan duduk disampingku. Wajahnya terlihat bingung menatap aku dan seorang anak kecil yang ada disampingku.

“Eomma.” Celoteh anak itu sambil menyerahkan kaleng susu yang telah habis dia isap.

“Nugu~ya?” tanya Jung Soo Oppa kelihatan bingung.

“Mollasseo, aku menemukannya disini.” Jawabku tanpa menoleh pada Jung Soo Oppa dan melemparkan senyumku pada anak itu.

“Anak siapa? Apa orang tuanya tidak mencari?”

“Aku orang tuanya mulai detik ini.” Sahutku.

“Mwo?” mata Jung Soo Oppa membelalak kaget.

“Kita bisa membawanya ke rumah kan? Sebelumnya bawa aku ke toko pakaian anak-anak dulu. aku mau membeli baju.” Jung Soo Oppa tidak menjawab, ekspresinya masih sama seperti tadi.

“Ryu Jin, aku memanggilnya Ryu Jin saja, bagaimana Oppa?” aku menatap Jung Soo Oppa.

“Kyo~ya..” dia menyentuh dahiku.

“Yak, aku tidak sakit, aku masih normal. Dia yang memanggilku Eomma, coba saja kita tinggalkan, dia pasti menangis.” Aku bangkit dan mencoba sekali lagi meninggalkan anak itu, tanpa di duga, anak itu langsung turun dari kursi dan memeluk kakiku.

“Eomma..” suara anak itu bergetar.

“Lihat? Kau bisa lihat sendiri kan? Tega meninggalkannya disini?” aku menoleh kearah Jung Soo Oppa. Jung Soo Oppa terlihat tidak percaya, dia mengerjapkan matanya. Aku meraih tangan anak itu dan berjalan menuju mobil.

“Oppa, ayo kita pulang.” Jung Soo Oppa masih tidak bergeming.

“Panggil Appa, ajak dia pulang.” Aku menyuruh anak itu memanggil Jung Soo Oppa.

“Appa…!” teriaknya, Jung Soo Oppa berjalan kearah kami.

“Yakin mau membawanya pulang?”

“Yakin.” Jawabku tegas. Memandang anak itu sekilas dan tersenyum, anak itu ikut tersenyum. Lalu dia menggapai tangannya pada Jung Soo Oppa dan memeluknya, aku rasa dia ingin di gendong olehnya. Aku menyerahkannya, sama seperti yang dia lakukan padaku, dia memeluk pria disampingku itu dan berkata

“Appa.” Jung Soo Oppa tersentak dan memandangku, aku menggidikkan bahuku.

TBC

Buahahahahahahaha, perasaan kalo aku selesai nulis aku selalu tertawa deh. Ini ff paling aneh yang pernah aku bikin, kaga ada feel nya sama sekali, itu ceritanya loncat-loncat lagi kaya kodok, semoga kalian yang baca pada ngerti yah? Yang kaga ngerti bisa tanyain aku… itu yah, aku suka partnya Jincha yah… unyu unyu banget… itu inspirasi muncul saat aku habis jalan sama dede aku… dia beberapa hari yang lalu tuh yah, panik smsin aku, bilang kalo laptop dia kena virus, padahal proposal skripsinya disana, dan mau diajukan hari rabu kalo ga salah. Terus panik ke aku, dia bilang, gimana neh? Aku bisa gila kalo begini. Lah dalah, de… begimana coba aku jam 8 malam ketempat kamu, la wong kita beda kota… curcol kan aku?? Itu juga, yang baca, silakan baca… maksudnya silakan komen ekspresikan dirimu sepertiku, komen gaje juga ga papa… aku mau masak dulu…. seperti biasa yah, aku males ngedit, smoga kalian mengerti.

104 responses »

  1. wah ini mah galau semua isinya,,fikaa itu anak eonni mo dibawa kmna?? ommamu dsini nak,,
    dri seluruh piku yg ada dsini
    yg pling eonn suka piku baby nya
    alnya dah bosen ma wajah2 yg da di piku yg lain,,tuh baby unyu sama kya aku wktu kecil
    ga nyangka aku se lucu itu*pdhal dah ga inget wktu kecil kya apa*
    cerita lompat kaya kodok gapapa asal jgn merayap alnya aku ga suka yg merayap2,,
    fika ga jdi hiatus kan.,alhamdllah kalo gtu,,fika hiatus gantian eonni yg galau ga da hiburan,,aku suka ide cerita ini,,adegan omma nya minho*bersa nonton pelem* persis sperti yg eonni pengenin,,teukyo mkin menarik,,ksian adikku trcinta tuh si onge kebagiannya dkit dsni,
    part ini bner2 bkin aku puasssss,,
    yg jdi pertanyaan adlah anak siapakah ryu jin???
    fika jgn asal main comot anak org,,cepetan dibalikin,ntar dilaporin ke komnas perlindungan anak lho,
    hasil kegalauan drimu ternyata bagus fik,,bagus gus gus,,
    sepertinya komen aku dah kelewat batas normal yg biasanya,,biarin dah,,sekian dan terima kasih,,

  2. wah ini mah galau semua isinya,,fikaa itu anak eonni mo dibawa kmna?? ommamu dsini nak,,
    dri seluruh piku yg ada dsini
    yg pling eonn suka piku baby nya
    alnya dah bosen ma wajah2 yg da di piku yg lain,,tuh baby unyu sama kya aku wktu kecil
    ga nyangka aku se lucu itu*pdhal dah ga inget wktu kecil kya apa*
    cerita lompat kaya kodok gapapa asal jgn merayap alnya aku ga suka yg merayap2,,
    fika ga jdi hiatus kan.,alhamdllah kalo gtu,,fika hiatus gantian eonni yg galau ga da hiburan,,aku suka ide cerita ini,,adegan omma nya minho*bersa nonton pelem* persis sperti yg eonni pengenin,,teukyo mkin menarik,,ksian adikku trcinta tuh si onge kebagiannya dkit dsni,
    part ini bner2 bkin aku puasssss,,
    yg jdi pertanyaan adlah anak siapakah ryu jin???
    fika jgn asal main comot anak org,,cepetan dibalikin,ntar dilaporin ke komnas perlindungan anak lho,
    hasil kegalauan drimu ternyata bagus fik,,bagus gus gus,,
    sepertinya komen aku dah kelewat batas normal yg biasanya,,biarin dah,,sekian dan terima kasih,,bener2 susah komen lewat hp,,

    • iya onn, itu ada komennya 2 kali…
      terima kasih onnieku syg, udah suka, ini padahal bikinnya ga berasa, pas part eun kyo terakhir aja fika dapet feelnya, habisnya tadi habis gendongin si merdeka wati… anak kepala puskes fika yang umurnya baru 2 bulan belum genap, astaga, lucu banget……!!! fika jadi keinget si ayis, anaknya temen fika yang kaga kalah unyu2 sm foto diatas, tapi sekarang fika lagi kangen si alex…. bocah berumur 3 tahun yg selalu nemenin fika kerja, alex dgn segala tindak tanduknya, yg ngambek klo dicuekin, yg selalu celoteh sepanjang fika kerja, dan fika meski jawab semua yang dia ceritain mesti jawabannya cm “iya”. huweeeeeeeee
      oppa…. kita bikin anak ayo….
      itu anaknya lucu banget kan onn? fika punya banyak fotonya….
      persis seperti yang onnie harapkan? syukurlah, ide itu kan muncul jg karena onnie… dan adik ipar fika yg protes Eommanya dibikin jahat *colek moory*

  3. YAK YAK YAK !
    YEOBOOOO !
    Mana endingnya??
    Kan aku bilang, buat jungsoo berpaling ke aku !!
    Hahahaha

    Onnie..aku suka deh..kata katanya bagus banget !!

    TYPO BERTEBARAN DI SEPANJANG JALAN MLT PART 8!

    Aigoo…MinNa kopel, makin mesum euy..hahaha
    makin mesum makin ku cinta !

    Opppaaa…aku agresif dan hangat loh !
    Kalo bosen sama kyo onnie yg pasif & dingin, berpaling ke aku aja..aratchi*kedip2*

    kyo onnie, dirimu tertekan ya?
    Ampe anak aku diaku akuin gitu huh !

    Huwaaaa….
    Onnie !!!
    JinHae mesum mana???
    Aku kangen peluk cium tug kopel !!

    Eh iya onnie..lanjuuuttt…
    Yang lebih hot Yaaa..
    Hahahaha

    babaaaaaaiii…
    Aku mau ngincer buku soal USM STAN !!
    STAN STAN STAN. . Aku gila stannnn…

    • emang iya bertebaran typo dmana2, klo ga typo berarti aku lagi waras… wahahahaha
      YAK! ENAK AJA OPPA BERPALING PADAMU! KAGA!!!!

      km mah emang mesum… eh aku blm cerita k km ya apa yg trjadi padaku smlm, km belajar dlu deh, nanti aku ceritain….
      klo minna mah jorok, masa nyium2 ade aye kaga pake sikat gigi dulu??? huwahahahahahaha

      jinhae? disini mah mereka alim… kekeke, pngn lah sekali2 biki kemabaranku kebagian peran baik, yg biasa2 aja gtu maksudnya…

  4. eonni, aigoo…
    Aku jg suka part jincha lucu dah, ky anak smp… Wkwk
    Aku gregetan dh ama minra couple, sbnernya mah lebih ke raena nya…
    Knp gk ngaku aja sih?!

    Ohy eon, itu anak gk da ortunya y? Apa anak nyasar, eunkyo eon biar blm bs pnya anak, ttp semangat bwtnya! Wkwk
    Pa lg da anak pengganti tuh, bs jd pancingan tuh *emang ikan y?* haha

    Eon d tunggu next partnya gpl… Hehe*rewel*

  5. Muahahahaha #lol ketawa knp? molla~ #plakk

    JinHae,kpn jadian? ops,bru ktemu yah..kekee

    JinCha,so sweeet. . ga pke saranghae2 lgsg jdn.. tumben jinki pinter.. terima nasibmu cha eon,.wkwk

    TeuKyo.. aigooo,knpa bwa bayi? gmna klo itu ank org ilang? ortu’y nyari’in n ntar TeuKyo mlah d’sangka penculi’y? ottokhae??? *panik stgh idup* ya iyalah,wong ntar psti aq yg d’sruh ngemong..ckck

    MinNa,. Minhooo phabooo,blm cuci muka,blm sikat gigi begoo.. ih,jorok!! *ngamuk injek2 kodok* ggrrrhh!! *gigit kodok*

    • jgn tagih2 jinhae pacaran dulu, aku mikirin jincha pacaran aja pusing tujuh keliling…
      eh, aku yah, ngurus anak sendiri aja, aku udah g takut lg sm bayi…
      aku bisa gendong bayi sekarang, horeeeeeeee

      ih tau tuh minho jorok….!!!

  6. maaf onn, baru comment-_-
    aku suka partnya TeuKyo~~~ aku kira cuma keguguran biasa, ternyata T^T ada penyakit lainnya juga !!!
    aku geregetan sama MinRan couple-_- ayo cepet nikahin oooooooooooonnnnn~~~~~~~~~~~~~~~~ #mintagampar
    onnie, nama anaknya susah ni😮 jangan jangan itu anak aku sama Kyuhyun -3- trus onnie sengaja misahin kita (?) #plak~
    tuisan onnie udah mulai kacau nih -3- idenya berasa kurang lancar *sumpah aku minta digampar banget-_- sok tau banget lagi* jadi berasa kurang bagus aja dari part-part sebelumnya –‘ tapi aku sukaaaaaaaaaaaaaaaaa~~~ aku tunggu ya onn kelanjutannya :3

    gravatar aku ngga muncul masa-_-

    • buahahahahaha, ada juga yang nyadar tentang otak aku… kekekekekeke, iya, cuma punya feel yg pas ada ryu jin nya, masalahnya aku habis ngemong, bukan ngemong si, cmn gendong anak bos usianya 2 bulan, giling, aku bisaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
      terus aku lg kangen alex, anak kecil yg selalu nemenin aku waktu kerja, ya oloh, pas aku tinggalin pelatihan, si alex nyariin aku mulu… so sweet banget deh aku…. *plak*

  7. iya mirip, makannya aku heran –‘a aku juga mau bukan onnie doang -3-
    abis rada ngalur ngidul ceritanya. 2 bulan onn ? ah yang bener aja, masih bayi dong ..
    pasti alex imut-imut kaya aku (?) emang onnie kerja apa ? jangan-jangan sama kaya aku lagi, jadi tukang ngelapin keringetnya Kyuhyun –‘
    bapa aku juga lagi ikut pelatihan gitu, tapi aku ngga ngerti dia ngapain-_- belajar katanya, tapi masa sebulan ngga pulang-_- kaya bang toyib aja –‘

  8. Aku datang……. Ledakin petasan…….

    bakar rumah…..

    Hueeeeeeeeeeeeee……….

    tugas statistik sangat menyenangkan………

    make me fly…..

    sampai lupa komen….

    onni……

    jadi sekarang oppa jadi pengeran kodok Ya??????

    yaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkk……

    apa yang kau berikan kepada tuekppa sampai tidak mau lepas darimu???????

    aku penasaran sama jinhae…….

    jinki juga keren….. tapi sikap minho lebih hebat…..

    chukkae minho dah dapatin raena….. #tiup terompet#

    • minho mah maksa……!!!
      jincha aku suka….
      kaga tau yah knp oppamu trgila2 sm aku…
      dikasih makan aja kaga, la wong aku masaknya berantakan…

      lg byk tugas ya??? statistik aku plg benci…..!!
      trus yah, jgn lupa badikan kisah cintaku…

      • STATISTIC……..

        aq suka…..

        bikin pusing……

        oppa………….

        jangan bil kamu terpesona ma eunkyo onni……..

        sampai tidak bisa berpaling…..

        “Tetap lah bersamaku, jangan tinggalkan aku sendiri.”
        “Aku akan menjagamu lebih baik.”
        “Aku tidak bisa bernafas jika kau tiba-tiba menghilang dari hidupku.” *oppa onno itu bukan O2 jadi kamu masih bisa bernapas khan????*

        aq suka kata2 itu #nunjuk2 ke atas#

    • makasih syg udah mampir dan meninggalkan jejak….
      feel nya dapat? bikin nangis? *sodorin tissue*
      sekali lagi makasih yah…. udah mampir…

      kalo rae na nyosor duluan, brarti dunia mau kiamat…

  9. EONNIEEE………………………
    HUEHEHEHEEEEEE *CIPOKKIN EON BERTUBI PAKE BIBIR TEUKPA*
    Akhir’a selesai baca ff eon yg super panjaaang..hihiiii
    tapi PUASSSSS !!!!!! wakakakakkkk
    First !!! Chaerin Sundel udah bail ke alam’a..hahaa
    tu !! Kesian aih~ si kyo eon keguguran😥
    tri !! NAMESS GALAK-GALAK PENGEN WOY !!
    for !! JINKI IS MINE !!! huahahahaa
    paip !! Itu anak siapa ??? Teukyo pindah profesi jadi ‘mayau’ #plakk

    eh, eon…nasib euncha disini beneran dwh sama bgt kya aku dulu data kena virus, tpi aku lari’a ke service..belum nemu juga sih, ada tukang service yg muka’a kya Jinki…biar hilang semua pun itu data aku relaaaa~ ahahaa *lol <– ini mah curcol bukan coment pityyyyy*

  10. pity kasih bibir sooman dwh *taroh bibir unyu dibrangkas*

    biar merakyat eon (?) pake b.banjar..wkwkk
    MWO ???? *tepok jidat* aku kalo bikin 15 hal aja udah tepar..ckckk
    eon nulis berapa jam ini ?? detail bgt lagi..aiguuuu

    • bkn brpa jam lg, 3 hr aku bikin… mslhnya ide yg kdg ngadat… klo yg 1shoot kmrn shari jg slesai klo ide lancar 23 halaman, tp ini, jiahahahahaahaha, 32 klo g salah…

      detail? engga jg, itu cmn nyeritain biasa…

  11. kasian si eun kyo smpe tertekan kyk gt moga ja ank kecil itu bs bwt teukyo couple tmbh bahagia…
    ya si minho seneng bgt ya nyium rae na smpe bru bangun msh sempetx nyium jorok bgt..T.T
    pokokx aq suka bgt ma ffx jgn lama2 ya part 9…😀

  12. Hya onnie!!! itu anak siapa itu??? *nunjuk-nunjuk ryu jin*

    gyahahaa aduh.. aku jadi malu sendiri onn. kukira konfliknya bakal panjang, ternyata eh ternyata😄

    hey onn, kenapa minta cerai?? aigoo.. onnie pasti kerasukan sesuatu nih sampe minta cerai ke oppa -.- hadeuh onnie..

    aku baru tau klo minho agak pemaksa😀 tapi keren onn, gokil jadinya itu couple.

    yg lebih gokil lagi jincha couple. gyaaa romanti-romantis gimanaaa gtu onn ^o^

    onn.. onn.. tar klo ortunya ryu jin nyariin anaknya gimana???

  13. Huaaaaaaaaaaa
    Akhirnyaaa eunkyo nya engga depressi lagii
    Hihihhiihihih
    Itu anak siapa eon ??
    Yaa ampuuunnnnnn
    Langsung manggil eomma ama appa gituuuuuuu
    Hahaahahahaha

  14. jinjja oen,,,saking penasarannya aq langsung baca sampe part 8 nih,baru aq review n kasih komen,tapi g bisa d tiap part,mian y oen*bow 90’*

    tuh kan makin gregetan jadinya ma minna couple,apalagi ma rae na nya knp g ngaku aja sih klo suka ma minho,cara pandang dia ttg cinta trllu sempit sih,huft,,,

    jinna couple so sweet bgt kaya baru ngalamin cinta monyet aja*plak*

    paling miris ma partnya teukyo,jadi nangis nih bacanya,apalagi yg bagian ommanya teukpa ngmong ma kyo oen,hiks terharu bgt deh,,,,
    gimana nih perasaan kyo oen klo tau penyakitnya????

    klo masih kuat baca aq lanjut k next part oen,klo udah g kuat lanjut lagi besok,kkkkk

  15. bnern keguguran dh, tp ada hkmah.a jg si, chaerin ga bkal gangguin orang..
    chaerin tipe.a namja beristri ih#digeplak chaerin

    jinki-eun cha udh jadian#waaaa, tebar tisu

    eun kyo nemu anak?
    gpp dh, mgkn ja dgn ada.a anak itu eun kyo g mkrn soal kguguran.a lg

  16. kyaaaaa ada pengganti baby yang hilaang.. langsung gede lagi :p
    itu anak siapa deh lucu begitu ditinggal ato dibuang sendirian -,-
    untung eunkyo lagi bosen… kalo g tu anak bakal diambil siapa (?) ._.

  17. awal2 udah bikin mewek lagi eon ><

    akhirnya perjuangan minho en jinki membuahkan hasil jugaaa!!! horeee!!!

    eon, itu ryu jin pasti imut bgt deh apalagi waktu manggil jungsoo oppa! aku jadi keinget yoogeun waktu manggil SHINee appadeul di hello baby😀
    kya kya~~

  18. diawal crita nya sedih”an tp dah mau habis tambah seru
    itu anak siapa? kok tiba” panggil eomma. tega bgt ortu nya ninggali gitu aja

  19. Akhirnya rae na mengakui jg, klo dia suka ma minho..^^. D part ini eun kyo sedih bgt sih.. Tp d terakhirnya dia dpt kejutan dpt ank.. Cukup menghibur..

  20. yaaa keguguran…
    sabar ya eunkyo jgn tertekan kayak gitu dbalik musibah pasti ada kebahagiaan yg menanti…

    minra couple makin hot aja bikin ngiri…ckckck…

    anak siapa tu kok manggil eunkyo eomma g mau pisah lg…penasaran ama next part…

  21. Jiahahaa….gila yaaaahhh…d part ini kyo eon membuat air mataku manganak sungai…huwaaa…kyo eon ma teukppa cobaannya berat banget sich…tp untung dateng uri little angel ~ ryujin…hahay…
    Eh bru sadar pasangan jinki ma eunchan cuteeee…malu2 tp mauuuuu…ckckck…

  22. Ryu jin anaknya siapa sebenernya??? Ortu ryujin sesungguhnya udah gak ada ya eon????
    Scene di dapur bikin dag dig dug.. Kirain bakal lanjut di kamar tidur, abis eonnie dah main balas nyium

  23. huaaaa ini kenapa jadi mewek2 begini*susut ingus d baju yeye*
    hyaaaa eonni..demi apa aku nangis pas baca part awal2,adegan yg d rumah sakit tu,trus yg d kamar teuki meluk eunkyo sambil nangis…nyesek banget eonn*peluk yeye*

    minna couple..gemes deh liat kalian,bentar2 marahan,bentar2 baikan..
    minho hobi banget y seret2 raena..

    couple yg paling adem tu y jinki-euncha doang..tinggal nembak,terima,beres deh*d tabok onew*
    setuju ama eonni,couple ni so suitt banget*cubitin pipi onew*

    nugu??anak siapa itu,ko tiba2 manggil eunkyo eomma..masa anak kecilnya lupa ama wajah ibunya sendiri-_-

  24. tu anak siapa?? kemana eomma y main manggil eun kyo eomma ja,,,, sedih deh ma keadaan y eun kyo yg kyk gt ngerasa kehilangan mpe segitu y pa lg pas ketemu anak kecil itu….. pa nanti bakal dijadiin anak adopsi ma eun kyo n jungsoo….
    part ini bikin sedih kasian ma eun kyo y n ada bagus y juga sih eomma y jungsoo n chaerin udah baik ke eun kyo walaupun rasa y kasian sikap mereka berdua jd kehalikan y setelah eun kyo kehilangan anak y…..
    ini apa ngak jungsoo n ngak minho ngak bisa ngontrol nih main cium sana sini nyosor sana sini aduh pusing jadi y….
    Rae na masi ngak mau ngungkapin rasa suka y ke minho,,, susah bgt sih mereka bersatu y pa lg minho lepas kontrol mulu n jd buat Rae na ngerasa dimainin,,,,, setiap cast yg ada disini saling berhubungan satu sama lain ya kyk ini tau y temen itu n tau y saudara y si ini….
    daebak…… jungsoo n eun kyo punya anak lagi kek….

  25. aku baca ini hhmm.. sedih banget
    baru aja tau hamil sekrang udh kehilangan lgi ;'(
    tpi dari sini jung soo eomma jdi baik yaa,,😀
    nah loo,, itu ryu jin siapa ?? part ini datang dan pergi,hhe

  26. Yaa itu kenapa tiba2 ada anak kecil terus manggil eun kyo eomma .
    Anak itu anak siapa kenapa tiba2 muncul ?
    Baca next part biar gag penasaran

  27. annyeonghaseyoooo ^^
    aku reader baru tapi baru sempet komen disini hehehe mianhaeyo😛

    ceritanya keren bikin nagih(?)
    tapi kok pas nemu anak ini kyo kayak sedikit maksa buat memiliki anak ini padahal orang tuanya belom jelas ada disitu apa nggak, semoga itu anak gak dicari sama orang tua nya deh, biar bisa tinggal sama mereka ajah

  28. aigoo part ini menyedihkan banget..kasian eun kyo, tapi lebih kasian lagi sih jungsoo, harus ngeliat orang yang dicintainya terpuruk kaya gitu..ko kebiasaan eun kyo aneh ya, kalo ada masalah ngumpet di kamar mandi..

    kyaaa si rae na mulai gila nih ma cintanya minho😀 benih benih cinta mulai tumbuh,,minho nyosor mulu ihh, jadi pengen😀 wkwkwkw

    nah loh, itu anak siapa yang manggil eungkyo eomma, trus eunkyo maksa banget buat bawa tuh anak,,ntar klo orang tuanya nyariin trus anak itu diambil gimana nasib eunkyo lagi..kan klo kyo sakit jungsoo lebih sakit lagi…
    next>>

  29. huaaaah eunkyo lucky girl.. jungsoo ternyata segitu sayangnya daaan eomma jungsoo jg skrg mau berusaha ramah ah selalu ada hikmah emg :)) semangat eunkyo yaaa~~

  30. ksian eonni keguguran yg sbr ea eon, itu si chaerin bener sudah tdk ganggu lagi kan? smoga sja tdk, cie rae na sdh mule jujur nih, wah eonni nemu bayi? ok mau lnjt bca tpi besok lagi hehehe

  31. Eunkyo nemu bayi. . ???oh my, jackpot tuh
    tpi eunlyo kok gtu maen sembunyi2an , tpi q suka part it. . .mesra euuuyyy. . So sweet
    typo bertebaran. .kkk

  32. Ryujin sudah di temukan, gapap deh walaupun bukan dari rahim eunkyoo,,
    aigoo eunkyo,, jangan bercerai dong dari jungsu oppa,, dia itu kesempurnaan yg dari alam, hehehe
    emmm, begitu lebih baik fika eonni, eomma minho dengan appanya berpisah dulu, mudah2an appanya bisa bertobat deng,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s