Money, Love and Trouble (Part 7)

Standar

334

Bisikan-bisikan di pagi hari
Pecinta yangtertidur lelap
Bergulir seperti guntur
Saatu aku melihat matamu

Aku berpegang pada tubuhmu
Dan merasakan setiap gerakan yang kau buat
Suaramu hangat dan lembut
Sebuah cinta yang saya tidak bisa aku tinggalkan

Ide Cerita : Rae Na & Eun Kyo

Eun Kyo’s POV

Aku membuka mataku. Perlahan cahaya menyilaukan memasuki retina mataku. Aku memicingkan mataku, mencoba mengahalaunya dengan tanganku. Kepalaku masih terasa sangat pusing, semuanya terasa berputar-putar. Aku memegangi kepalaku, sedikit meringis menahan sakitnya, sebuah desisan kecil keluar dari mulutku. Perlahan aku membuka mataku, sedikit demi sedikit, serba putih, dimana aku? Sudah mati? Jika mati, kenapa aku masih merasakan sakit? Aku mengedarkan mataku ke sekeliling, melihat seseorang sedang  tertidur di sofa sudut ruangan. Jung Soo Oppa. aku memandanginya yang sedang tertidur, tersenyum melihat wajahnya, begitu tenang, namun membuat jantungku berdetak tidak karuan melihat wajahnya. Aku menggapai wajahnya dengan tanganku dari kejauhan. Melihatnya dari berbagai sisi, aku memandangnay dari sela-sela jariku yang dijalari selang infus. Matanya yang selalu memandangiku setiap waktu, meskipun dia mengira aku tidak menyadarinya. Hidung mancungnya, bibirnya yang selalu dengan sadar atau tidak selalu menciumku setiap pagi. Aku merasa haus, dan meraih segelas air dari atas meja, aku mencoba menggapainya tapi ternyata malah menjatuhkannya. Suara berisik itu membangunkan Junng Soo, dia langsung bangkit dan menghampiriku.

“Kau sudah sadar?” dia langsung panik melihat keadaanku. Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaannya.

“Kau haus?” tanyanya lagi, aku juga hanya bisa menjawab dengan anggukan kepala. Lalu dia menuangkan segelas air putih di gelas yang lain. Aku menyambutnya tapi tanganku terlalu lemah, dia membantuku untuk minum.

Kami terdiam, aku tak mampu mengeluarkan kata-kata, Jung Soo Oppa dia memandangiku dengan pandangan sangat khawatir.

“Aku tidak apa-apa.” Aku membalikkan badanku memunggunginya.

“Mengapa tidak mengatakannya padaku?”

“Mengatakan apa?”

“Jangan berpura-pura tidak tau.”

“Aku memang tidak tau apa-apa.”

“Eun Kyo~ya, kau hamil, kau tau?” aku tidak menjawab, hanya diam dan tidak berusaha menjawabnya.

“Kau tidak senang?”

“Mengapa menanyakan seperti itu?”

“Harusnya ini tidak terjadi kan?” tanyaku

“Apa maksudmu?”

“Kita akan susah menjalankan rencana kita jika punya anak.”

“Kau tidak suka?”

“Bukan begitu.”

“Lalu? Mengapa mengatakan ini tidak seharusnya terjadi?”

“Pikir saja sendiri.”

“Kau menyesal?” aku tidak menjawab.

“Kau menyesal karena tidak menginginkannya denganku kan? Harusnya tidak denganku kan?” aku masih diam.

“Kau mengharapkannya dengan Jung Jin.” Aku menghela nafas.

“Mengapa selalu menyangkutpautkan dengan Jung Jin?”

“Kenyataannya memang begitu.”

“Apa aku pernah mengatakan seperti itu?” aku berbalik menghadapnya. Wajahnya terlihat lelah dan memprihatinkan, aku menyentuh wajahnya, dia memegang tanganku yang ada di pipinya, meraihnya dan mengecup tanganku.

“Tidak pernah, dan aku berharap kau tidak akan mengatakan hal semacam itu.” dia menggenggam tanganku dengan erat diletakkannya dibibirnya.

“Kau tau? Mendengarmu hamil, aku sangat berterima kasih, aku sangat bahagia sekaligus sedih melihatmu seperti ini.” Bulir airmata mengalir dari pipinya, hidungnya memerah . aku ikut merasakan kesedihannya, entah sedih karena apa.

“Kau tau? Melihatmu tergeletak di lantai membuatku serasa jatuh dari lantai gedung paling tinggi di dunia. Kau sangat pucat, putih tanpa darah. Aku sangat takut.” Dia mengecup tanganku sekali lagi.

“Aku baik-baik saja.” Jawabku lirih dan menitikkan setetes air mata di sudut mataku.

“Jangan pernah terjadi lagi.” Aku menggeleng.

“Sekarang apa yang kau rasakan?”

“Aku baik-baik saja.”

“Benar?” aku mengangguk.

“Bagaimana dengan seseorang yang dalam perutmu?” dia menyentuh perutku, aku tersenyum.

“Aku akan menjaganya dengan baik.”

“Janji?”

“Aku berjanji.”

“Mengapa kau tidak mengatakannya dari awal?”

“AKu takut kau tidak mau menerimannya.” Jawabku lirih.

“Tidak menerimanya? Bagaimana mungkin aku tidak menerima darah dagingku sendiri?” dia mengacak rambutku.

“Kita kan..” aku mengurungkan niatku untuk mengatakannya.
“Pura-pura lagi?” dia tersenyum, aku juga tersenyum.

“Perasaanku tidak pura-pura EunKyo~ya, aku mencintaimu.” Jawabnya, aku tidak mampu menjawab.

“Tidak  bisa mengenyahkanmu dari pikiranku, dan bagaimana mungkin kau bisa mengatakan ini adalah pura-pura?”

“Tapi kan sejak awal kita sudah sepakat untuk tetap bersama sampai kau menemukan seseorang yang kau cintai.”

“Aku sudah menemukannya.”

“Sudah?” dia mengangguk.

“Yang sedang terbaring lemah di hadapanku, yang sedang menyimpan malaikat kecil dalam perutnya untukku.” Airmataku sekali lagi menetes. Dia menyekanya dengan ibu jari tangannya.

“Aku tidak berharap kau mengatakan atau membalas perasaanku, karena aku tau kau mungkin masih belum bisa melupakan Jung Jin.” Aku menutup mulutnya dengan telunjukku.

“Kau beranggapan seperti itu? Jika beranggapan seperti itu maka akan seperti itu.” sekarang dia yang berganti menutup mulutku dengan telunjuknya. Aku menggigitnya.

“Aku tidak akan beranggapan seperti itu jika saja kau berhenti menemuinya.”

“Aku tidak pernah seperti itu. tidak pernah menemuinya.”

“Tapi kata Eomma kau sering keluar?”
“Aku ke dokter.” Dia terkejut.

“Aku memang memiliki penyakit anemia yang sering kambuh akhir-akhir ini, mungkin karena kehamilanku yang membutuhkan banyak asupan oksigen dan hemoglobin, untuk seseorang yang ada dalam diriku, tapi nyatanya aku tidak mampu memenuhinya, karena memang aku memiliki riwayat penyakit ini.”

“Kita kan menjaganya bersama, arasseo?” aku mengagguk.

“Tapi mengapa Jung Jin selalu berada di dekatmu?”

“Aku juga tidak tau.”

“Dia tidak akan berhenti berusaha mendapatkan apa yang dia inginkan, aku sangat tau itu, akan melakukan berbagai cara, itu sebabnya aku selalu emosi jika kau berdekatan dengannya, karena aku tau bagaimana Jung Jin.”

“Aku tidak ingin membicarakannya.”

“Apa kau masih mencintainya?” aku menoleh padanya, dia balas menatapku, mencari kesungguhan dari mataku. Aku menggeleng.

“Aku mencintai orang lain.”

“Nuguya?” aku berusaha untuk duduk namun tidakbisa.

“Jangan dipaksakan, berbaring saja.” Aku tetap bersikeras untuk duduk. Dia akhirnya membantuku untuk duduk, setelah duduk, aku mencondongkan badanku kearahnya, lalu mencium bibirnya. Dia terpaku dengan perlakuanku. Kuletakkan tanganku di dadanya untuk bertumpu, dia masih terdiam, membiarkanku merasakan bibirnya, beberapa detik kemudian dia membalas ciumanku, memegang tanganku yang ada di dadanya, meremasnya perlahan seiring dengan lumatan bibirnya. Dia mengambil alih kendali, perlahan menuntunku untuk berbaring, tangan kanan memegang salah satu tanganku yang masih ada di dadanya, tangan kiri memegang punggungku dan mendorongku pelan untuk berbaring sambil bertumpu di tangan kirinya, aku hanya mengikuti naluriku. Akhirnya tubuhku berbaring di ranjang, masih tidak melepaskan ciumannya, malah semakin dalam menciumku, saat tubuhnya mendarat di tubuhku, aku terhenyak menahan bobot tubuhnya.

“”Ah!” teriakku tertahan. Dia melepaskan ciumannya, menatapku lembut.

“Saranghae.” Ucapku penuh kesungguhan. Dia kemudian mengecup dahiku.

“Na do Saranghae, neomu saranghae.” Dia kembali menciumku kilat, setelah saling pandang kami tertawa bersama. Dia kembali duduk di kursi yang ada di samping ranjang.

“Sudah pagi, sebaiknya kau tidur, besok harus bekerja kan?” dia mengangguk.
“Aku tidak akan bisa tidur sebelum memastikan kau baik-baik saja.”

“Haha, kau bohong, buktinya tadi kau bisa tidur.” Dia balas tertawa.

“Tapi sekarang tidak bisa lagi.” Jawabnya.

“Tapi kan.” Dia menghentikan kalimat yang ingin aku ucapkan.

“Kau tidur duluan, aku akan menyusul.” Aku mengangguk. Lalu mulai memejamkan mataku. Perlahan aku tertidur.

***

Aku membuka mataku, menemukannya sudah rapi dengan setelan jasnya. Dia terlihat sangat tampan hari ini, berpuluh-puluh kali lipat lebih tampan dari sebelumnya. Aku melemparkan senyum manisku padanya.
“Merasa lebih baik?” tanyanya sambil membelai pipiku.

“Kepalaku masih terasa pusing.”

“Istirahat yang banyak kalau begitu.”

“Tidak berangkat bekerja?” tanyaku.

“Aku menunggu Eomma untuk menemanimu disini.”

“Kau berangkat saja, aku baik-baik saja.”

“Baik-baik saja? Memegang gelas saja tidak bisa, apanya yang baik-baik saja?” aku terkekeh pelan.

“Aku kan bisa minta tolong perawat yang jaga. Kau berangkat saja.” Aku mendorongnya pelan.

“Kau ini, aku tidak akan meninggalkanmu sendirian.”

“Aku tidak apa-apa.” Sahutku.

“Kalau begitu aku tidak ingin meninggalkannya sendirian.” Dia mengelus perutku.

“Dia punya aku.”

“Dia juga milikku.” Tiba-tiba pintu terbuka, Eomma, membawa beberapa buah dan beberapa rantang makanan. Aku tersenyum pada Eomma, namun beliau tidak membalasnya.

“Kau berangkat saja Junng Soo~ya, nanti terlambat.”

“Baik, Eomma, aku titip Eun Kyo.” Jung Soo Oppa mengecup pipi Eomma sebelum meninggalkan ruangan ini. Hanya ada aku dan Eomma, aku kembali merasa canggung. Kami berdua terdiam. Eomma sibuk mengeluarkan buah-buahan yang ada di keranjang, merapikannya diatas meja.

“Aku bilang juga apa, kau selalu keluar, itu melelahkan, hingga akhirnya seperti ini kan?” ucapnay sedikit sinis. Aku mencoba menganggapnya adalah sebuah perhatian.

“Jika kau sakit seperti ini siapa yang repot? Suamimu kan? Dia harus bekerja untukmu, tapi kau malah tidak bisa menjaga kesehatanmu dan membuat semua orang panik.” Aku masih terdiam.

“Mengenai kehamilanmu, aku turut senang, tapi tidak bisa kah kau menjaga lebih baik lagi? Kau ini, menjaga dirimu sendiri saja tidak bisa, bagaimana bisa menjaga anakmu.” Aku tidak tahan lagi, airmata mengalir darimataku.

“Mianhae.” Jawabku lirih.

“Aish! Anak manja, malah menangis. Kau ini lemah sekali, bagaimana mungkin Jung Soo bisa memilihmu.” Apa itu sebuah penolakan untukku. Ya Tuhan, apa yang harua aku lakukan? Aku tak mampu berbuat apa-apa.

“Berapa usia kandunganmu?” tanyanya.

“Sekitar satu bulan, kurang lebih.”

“Apa kau tidak menyadarinya?” aku terdiam. Memang satu bulan, saat aku menikah harusnya setelah itu aku mendapat menstruasi, tapi tidak.

“Kau ini perempuan apa bukan sih?” tanyanya semakin sinis.

“Tidak ada gunanya berbicara denganmu.” Dia beranjak meraih ponselnya yang berbunyi.

“Yeoboseyo? Chaerin~ah? Aigoo, sudah lama sekali, dimana kau sekarang?” dia berbicara dengan temannya.

“Pulang ke Korea? Kapan?”

“Sore ini? Ah, kalau begitu aku akan menyuruh Jung Soo untuk menjemputmu, kau tenang saja.”

Chaerin? Nuguya? Salah satu keluarga mereka? Aku benar-benar tidak tau apa-apa dan merasa menjadi orang paling bodoh jika berhadapan dengan Eomma. Aku menghela nafas. Mencoba menenangkan pikiranku. Kepalaku semakin sakit jika memikirkan perkataan Eomma tadi.

“Aku ingin keluar sebentar, tidak apa-apa kan aku tinggal?” tanya Eomma.
“Ne, Eomma.” Jawabku.

“Mungkin agak lama, siang baru aku kesini.”

“Tidak apa-apa, jika memerlukan sesuatu aku akan memanggil perawat penjaga.” Sahutku. Eomma akhirnya keluar dan itu membuatku lega. Rasanya seperti meghadapi ujian berat jika berhadapan berdua dengannya, dan aku tidak cukup belajar untuk menghadapinya.

Beberapa saat setelah kepergian Eomma, pintu dibuka  oleh seseorang. Sosok yang begitu familiar muncul dihadapanku. Yoon Jung Jin. Dia lagi, mau apa dia? Aku tidak menghiraukannya.

“Kau kenapa? Sakit?” aku tidak menjawab.

“Kau terlihat sangat pucat.” Dia mencoba meraih kepalaku. Aku menepisnya dengan tanganku. Dia tersenyum kecut.

“Kau harusnya menjaga kesehatanmu, apa Jung Soo tidak menjagamu dengan baik?”

“Tidak usah mengkhawatirkanku, aku bisa menjaga diriku sendiri.” Jawabku ketus.

“Tapi lihat yang terjadi pada dirimu, apa dia menyakitimu?”

“Harusnya kau bertanya pada dirimu sendiri.” Jawabku.

“Kau tidak akan seperti ini jika bersamaku.”

“Jangan mulai, jangan selalu merasa kau yang paling tahu keadaanku.”

“Tapi pada kenyataannya memang aku lebih mengenalmu daripada dia. Kau tidak bisa lelah, kau tidak bisa ditekan, kau akan  merasa sangat terpojok jika ada salah satu orang yang tidak menyukaimu, aku tau Park ahjumma tidak menyukaimu.”

“Jangan menuduh sembarangan.”

“Aku tidak bicara sembarangan, dia memang tidak menyukaimu karena dia punya seseorang yang lain untuk dijadikannya menantu.” Aku berusaha mengacuhkan perkataannya.

“Kau tau? Gadis itu akan pulang ke Korea hari ini.” Sahutnya. Aku menatapnya.

“Lebih baik mundur sebelum kau sakit hati.”

“Aku tidak akan mundur, aku lebih berharga darinya.”

“Hahahahaha, Eun Kyo~ya, kau memang gadis polos. Memangnya kenapa selama ini Jung Soo selalu tidak mau jika disuruh menikah? Dia selalu menolak Gadis yang dijodohkan dengannya.” Jung Jin mendekat padaku.

“itu karena dia menunggu Chaerin, Gadis yang selama ini sangat dia cinntai, cinta pertamanya.” Bisik Jung Jin pelan di dekat wajahku. Aku terdiam, dia mengusap rambutku lalu berlalu dari hadapanku, sebelum benar-benar pergi, dia menoleh padaku.

“Aku akan selalu berada ditempat kita jika kau membutuhkanku Eun Kyo~ya, jadi aku harap kau kembali padaku sebelum kau terluka karenanya.”

Jung Soo’s POV

Aku membuka-buka berkas sambil sesekali membaca laporan yang bertumpuk di mejaku. Laporan ini membuatku pusing, tidak ada masalah yang serius, aku segera menandatangani beberapa berkas yang harus aku tanda tangani. Pikiranku masih melayang pada Eun Kyo, bagaimana keadaannya? Lebih baik kah? Masih terbayang kejadian mengerikan itu, melihatnya pucat pasi seperti mayat membuatku takut setengah mati. Namun melihatnya membuka mata di pagi buta, membuatku merasa lega, terbayang ciuman yang beberapa waktu lalu kami lakukan, dia mencintaiku? Aku sangat bahagia, akan aku buat dia melupakan Jung Jin selamanya, seperti dia tidak pernah bertemu dengannya. Sekarang apa yang Jung Jin lakukan? Masih mengganggu Eun Kyo? Sebaiknya aku memastikannya. Aku mengambil ponselku dan mencoba menghubungi Eomma.

“Eomma, apa Eun Kyo baik-baik saja?” tanyaku saat Eomma mengangkat teleponku.

“Aku sedang keluar Jung Soo~ya.”

“Lalu Eun Kyo bagaimana?”

“Dia baik-baik saja saat aku tinggalkan.”

“Eomma, mengapa meninggalkannya sendirian? Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengannya?”

“Yak! Dia tidak apa-apa, kau terlalu berlebihan mengkhawatirkannya, jika kau terus seperti ini dia akan semakin manja, kau mengerti?” Eomma berbalik memarahiku.

“Aku hanya khawatir padanya.”

“Itu salahnya sendiri tidak menjaga kesehatannya.”

“Eomma…”

“Dia sudah aku peringatkan untuk memeriksakan keadaannya, tapi dia mengabaikanku.”

“Baiklah, jika dia baik-baik saja aku bisa tenang.”

“Kau tidak perlu mencemaskannya.”

“Baiklah, kalau begitu aku akan meneruskan pekerjaanku, terima kasih sudah menjaganya.”

“Kau ini berlebihan, saat aku sakit kau tidak pernah secemas ini.” Gerutu Eomma.

“Eomma…” akhirnya Eomma menutup telepon. Mengapa Eomma jadi seperti itu? aku jadi mengkhawatirkan Eun Kyo, aku mencoba untuk menghubunginya melalui ponselnya, namun tidak diangkat. Aish! Kenapa berkas yang bertumpuk banyak sekali? Aku jadi pusing dan tidak konsentrasi.

***

Aku masih mengerjakan laporan ini hingga sore. Berkas kerjasama dan laporan keuangan, serta grafik pelanggan. Mencoba menelaah masalah yang terjadi. Tapi masih saja otakku memikirkan Eun Kyo, bagaimana keadaannya. Tiba-tiba ponselku bordering. Eomma lagi.

“Ye, Eomma, wae geurae?”  tanyaku.

“Bisa kau menjemput Chaerin ke Bandara sekarang?”

“Sekarang?”

“Iya sekarang, jangan sampai dia menunggu lama.” Eomma menutup teleponnya, membiarkanku yang sedang kebingungan. Chaerin? Ke Korea? Bukannya dia di luar negeri? Dia kembali? Aku masih bingung. Chaerin, cinta pertamaku.

Aku membawa mobilku menuja Bandara. Menjemput Chaerin, aku bodoh, mengapa aku menjadi berdebar-debar seperti ini? Bagaimana dia sekarang? Aku tersenyum memikirkannya. Setelah sampai Bandara, aku segera menuju ruang tunggu kedatangan dari luar negeri. Tidak berapa lama aku melihat sosok wanita tinggi semampai yang sangat anggun dan mempesona. Dia memakai gaun putih dan menggerai rambut lurusnya. Sangat mempesona, tidak berubah, sama seperti dulu. namun debaran dadaku tiba-tiba berangsur menghilang, normal seperti biasa.

“Teuki~ya.” Dia melambaikan tangannya padaku, aku membalasnya. Dia memang punya sebutan berbeda denganku. Dia memanggilku Teuki.

“Chaerin.” Sahutku pelan.

“Ya, kau tidak berubah, semakin tampan saja.” Dia memperhatikanku dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Kau juga.” Sahutku. Aku menarik troli yang membawa barang-barangnya, lalu memasukkannya ke bagasi.

“Mau diantar kemana? Mengapa tiba-tiba pulang?”

“Aku ingin mengembangkan karir designer dan modellingku disini, bersama saudaraku.” Jawabnya.

“Oh.” Sahutku. Aku segera menginjak pedal gas dan meninggalkan bandara. Aku membawanya ke rumah sakit terlebih dahulu sebelum mengantarnya.

“Eoh? Ke rumah sakit? Siapa yang sakit?” tanyanya bingung.

“Istriku.” Jawabku.

“Istrimu? Kau sudah menikah?”

“Ne, aku sudah menikah.”

“Kapan? Kenapa tidak memberitahuku?”

“Kira-kira dua bulan yang lalu, aku tidak bisa menghubungimu.” Kilahku.

“Oh.” Jawabnya sedikit melemah. Wajahnya sedikit berubah. Aku menghentikan mobil ketika sampai di parkiran rumah sakit.

“Mau ikut masuk?” tawarku.

“Boleh.” Jawabnya. Kami turun dari mobil menuju rumah sakit. Sesampainya di kamar Eun Kyo, aku mendapatinya sedang tertidur. Eomma yang menjaganya. Aku mendekati Eun Kyo, wajahnya masih sangat pucat, bibirnya putih.

“Ahjumma.” Seru Chaerin.

“Chaerin~ah.. aigoo, sudah lama sekali, mengapa tidak pernah pulang? Aku sangat merindukanmu.” Eomma memeluk Chaerin, seperti ibu dan anak. Suara gaduh mereka membuat Eun Kyo terkejut dan bangun dari tidurnya. Dia perlahan membuka matanya.

“Kau bangun?” dia mengusap matanya. Aku duduk dikursi disampingnya.

“Bagaimana keadaanmu?” tanyaku sambil mengelus pipinya, dia meraih tanganku.

“Aku sudah lebih baik.” Jawab Eun Kyo lemah.

“Sudah minum obat?” tanyaku, dia mengangguk lalu menoleh ke belakangku.

“Nuguya?” tanyanya bingung.

“Ah itu, itu Chaerin, temanku sejak kecil. Chaerin~ah, kenalkan ini istriku, Park Eun Kyo.” Eun Kyo terlihat menundukkan kepalanya sambil berbaring.

“Annyeong haseyo.” Sapa Eun Kyo.

“Annyeong, aku Chaerin.” Sahut Chaerin.

“Chaerin~ah, kau menginap saja dirumah, bagaimana? Aku sangat merindukanmu.” Eomma memotong pembicaraan Chaerin dengan Eun Kyo. Chaerin menoleh pada Eomma.

“Ah, tidak usah, nanti merepotkan Ahjumma.”

“Merepotkan bagaimana?” aku tidak terlalu mendengarkan pembicaraan mereka, aku sedang memandang Eun Kyo yang memperhatika Eomma dan Chaerin. Dai menghela nafas.

“Wae?” tanyaku sambil memegang tangannya.

“Aniya.” Sahutnya lalu beralih menatapku.

“Bagaimana keadaan seseorang didalam sini?” aku mengelus perutnya.

“Dia baik-baik saja.” Eun Kyo menatapku sayu. Aku mengusap rambutnya.

“Banyaklah istirahat, agar kau cepat sembuh.”

“Dokter menyuruhku transfusi darah.”

“Lakukan saja.”

“Tapi aku takut, tidak pernah melakukannya sebelumnya.”

“Aku akan menemanimu.” Aku mengecup pipinya. Aneh sekali, beberapa waktu yang lalu kami sedang bertengkar, kali ini keadaan berubah 380 derajat, setelah menyatakan perasaan masing-masing. Memang sangat singkat waktunya menyimpulkan bahwa aku mencintainya. Namun aku yakin, benar-benar yakin bahwa dialah pilihanku. Dia juga berubah, sangat berbeda, terlalu cepat ini terjadi, namu ini juga terlalu membahagiakan.

“Sudah dapat darahnya?”

“Sudah, ada di bank darah.”

“Bagus kalau begitu.”

“Sudah makan?” aku menggeleng.

“Jung Soo, kalau begitu kau makan bersama Chaerin saja.” Sahut Eomma.

“Aku belum lapar Eomma.”

“Ya, kasian Chaerin, temani dia makan kalau begitu.”
“Temani dia.” Eun Kyo menyahut. Sebenarnya aku tidak ingin meninggalkan Eun Kyo dan berusaha menahan laparku, tapi aku tidak bisa menolak tatapan Eomma. Aku menurutinya dan membawa Chaerin makan.

Aku menyuap makanan kedalam mulutku dengan malas. Chaerin terlihat sangat berhati-hati memasukkan makanannya, aku jadi teringat Rae Na, gadis kecil itu, sangat jauh berbeda dengan Gadis anggun di hadapanku, begitu juga dengan Eun Kyo. Aku kembali teringat Eun Kyo, mengkhawatirkannya ditinggal bersama Eomma, sepertinnya memang Eomma tidak terlalu menyukai Eun Kyo.

“Sebenarnya aku pulang karenamu.” Chaerin membuka pembicaraan setelah beberapa lama kami diam.

“Eoh?”

“Aku pulang demi dirimu.” Aku terdiam, sedikit terkejut dengan pernyataannya.

“Aku menyukaimu, ternyata jauh darimu membuatku menyadari perasaanku.”

“Ne?”

“Tapi kau ternyata sudah punya istri.” Sahutnya lirih.
“Mianhae.” Jawabku.

“Kau mencintainya?”

“Sangat.” Jawabku.

“Kapan kalian bertemu?”

“Kira-kira tiga atau empat bulan yang lalu.”

“Baru saja?”

“Iya.”

“Mengapa kau mencintainya?”

“Karena dia istimewa.”

“Lebih istimewa dariku?” aku tidak menjawab.

“Tentu saja lebih istimewa, tapi aku akan membuatmu menganggapku lebih istimewa darinya, aku tau kau masih menyukaiku.” Ucapnya percaya diri.

Rae Na’s POV

Aku tidak masuk kuliah sore ini. Juga berangkat-pagi-pagi untuk menghindari makhluk paling menyusahkan sedunia yang bernama Choi Minho, aku tidak ingin melihat wajahnya. Aku memutuskan untuk berangkat pagi-pagi tanpa sarapan untuk menghindarinya. Pulang juga lebih awal dan memutuskan untuk tidak masuk kuliah sore ini. Aku berhenti bekerja dari toko roti Jung Soo Oppa karena Halmeoni melarangku, juga disuruh mengambil lebih banyak lagi materi kuliah agar aku cepat selesai. Hufh, selalu harus mengikuti apa yang dia inginkan, pantas saja Jung Soo Oppa tertekan, tapi sepertinya Halmeoni sangat menyayangi Eun Kyo Onnie.

Aku memutuskan untuk ke rumah sakit untuk menjenguk Onnie. Aku memberhentikan taksi dan segera meluncur ke rumah sakit. Sesampainya disana aku melihat Jing Soo Oppa terlihat berjalan bersama seorang wanita. Siapa dia? Aku tidak memperdulikanya, angin segera mengetahui keadaan Onnie. Aku membuka pintu kamarnya, dan mendapatinya terbaring lemah di ranjang. Dia tersenyum padaku.

“Bagaimana keadaanmu?” aku menghampirinya.

“AKu sudah bisa tersenyum.” Jawabnya.

“Kau ini, tidaktau kami sangat mengkhawatirkanmu?”

“Aku tidak apa-apa.”

“Hah, liahat apa jawabnya, tidak bisa apa-apa dia bilang tidak apa-apa?!” Eomma menyela pembicaraan kami, aku menoleh pada Eomma. Aku tidak suka dia berkata seperti itu.

“Onnie memang tidak pernah mengatakan sesuatu jiak dia sedang sakit.” Belaku.

“Tidak bilang lalu menyusahkan orang lain jika sudah seperti ini.”

“Kau salah, dia tidak ingin menyusahkan orang lain!” jawabku tegas.

“TIdak ingin menyusahkan orang lain?!” Eomma semakin meninggikan nadanya menjawabku.

“Eomma, jika ini menyusahkanmu, kau tidakperlu menungguinya!” jawabku ketus tak kalah tinggi dari ucapannya.

“Aish!kalian berdua memang tidak tau aturan dan tata krama.” Gerutu Eomma.

“Sudah, aku tidak apa-apa.” Onnie angkat bicara.

“Daripada tekana darahku naik, aku lebih baik pulang saja.”

“Ada apa ini?” tanya Jung Soo Oppa yang tiba-tiba muncul, bersama wanita itu. aigoo, dia sangat cantik jika diamati dari dekat. Kami tidak ada yang menjawab.

“Tidak apa-apa Oppa.” sahut Onnie, aku menatapnya, Onnie balas menatapku tajam, aku menghela nafas. Onnie memang seperti ini, dia selalu tidak ingin membuat masalah. Selalu memperhatikan orang lain meski dia sendiri sebenarnya sakit dengan perbuatan orang lain.

“Rae Na, kapan kau datang?”

“Baru saja Oppa.” sahutku sambil cemberut.

“Hey, kau kenapa lagi?” Jung Soo Oppa mencubit pipiku.

“Oppa, Appo..” aku semakin cemberut.

“Wae? Bertengkar lagi?” tanyanya.

“Ani.” Jawabku ketus.

“Jung Soo~ya, antarkan aku dan Chaerin pulang.” Ucap Eomma pada Jung Soo Oppa.

“Tapi Eomma, aku harus menemani Eun Kyo.” Sahut Jung Soo Oppa.

“Ada Rae Na kan?”

“Tapi Eomma..”

“Biar aku saja yang menungguinya.”

“Tapi aku.” Eomma buru-buru menarik Jung Soo Oppa. dan mereka menghilang dibalik pintu. Eun Kyo Onnie menghela nafas berat.

“Wae?”

“Ani.” Jawabnya, seperti menyembunyikan sesuatu.

“Siapa wanita yang bersama Jung Soo Oppa?”

“Chaerin.”

“Aku tau namanya adalah Chaerin, maksudku apa hubungannya dengan mereka?”

“Chaerin sudah seperti saudara mereka sendiri.”

“Darimana kau tau?”

“Aku tau.” Jawab Onnie lirih.

“Kau mengenalnya?” Onnie menggeleng. Lama kami terdiam, aku memotong buah untuknya.

“Chaerin adalah cinta pertama Jung Soo.” Onnie berkata lirih, aku menghentikan aktifitasku sejenak, menoleh kearahnya, matanya terlihat sayu.

“Jinjjayo?”

“Em.”

“Darimana kau tau?”
“Jung Jin yang mengatakannya padaku?”

“Kapan?” sambarku.

“Tadi pagi.”

“Dia kesini?”
“Em.”

“Mau apa lagi dia?”

“Dia hanya menjengukku.”

“Tapi apa maksudnya dia menceritakan tentang Chaerin?”

“Dia hanya menceritakan tentang Jung Soo.”

“Mengapa harus menceritakan tentang cinta pertamanya Oppa, bukannya itu adalah hal pribadi? Kenapa bukan Oppa saja yang mengatakannya.”

“Mungkin Jung Jin kehabisan bahan pembicaraan.”

“Tidak mungkin, dia mengusikmu?”
“Tidak.”

“Onnie, jangan berusaha menutupinya.”

“Aku tidak menutupi apapun.”

“Kau masih mencintainya?”

“TIdak ada pembicaraan lain selain membahasnya?”

“Kau harus berhati-hati terhadapnya.”

“Aku tau.”

“Bagaimana dengan Jung Soo Oppa?”

“Bagaimana apanya?”

“Apa dia masih mencintai wanita itu?”

“Mengapa menanyakannya padaku?”

“Aku hanya ingin tau tanggapanmu.”

“Tanyakan saja pada Oppa tersayangmu itu.”

“Kau cemburu?”

“Tidak, buat apa aku cemburu.”

“Onnie, kau sedikitpun tidak mencintai Oppa?”

“Itu urusanku.” Dia berbaring memunggungiku.

“Selalu jawabnya seperti itu.”

“Lalu harus aku jawab seperti apa?”

“Jawab saja kau mencintainya.” Dia diam tidak menjawab.

“Diam berarti iya.”

Tiba-tiba dering ponselku berbunyi. Aku menatap layar ponselku. Menghela nafas, dan membiarkannya tetap berbunyi. Minho, mau apa lagi dia? Tidak cukup puas menyakitiku?

“Tidak diangkat?”

“Aku malas.”

“Minho?” aku tidak menjawab.

“Kenapa tidak diangkat saja, mungkin ada yang penting.”

“Tidak ada yang penting.”

“Kau ini keras kepala sekali.

Ponsel itu masih bordering beberapa kali. Aku pusing mendengarnya dan menekan tombol ‘reject’. Setiap kali aku merejectnya, ponsel itu berbunyi kembali. Aku mematikannya dan melepaskan baterainya.

Minho’s POV

 Hari ini aku menjemputnya, namun dia sudah lebih dulu berangkat dariku, sial! Aku terlambat. Bukan terlambat, dia mendahuluiku, apa dia marah padaku? Dan menjengkelkan lagi hari ini jadwalku sangat padat, aku tidak bisa menemuinya. Aku melalui jam-jam belajarku dengan tidak tenang. Memikirkan rae Na hingga hampir gila. Aku tidak mendengarkan apa yang disampaikan Dosen, aku hanya memikirkan dimana Rae Na berada, apa dia baik-baik saja saat ini?

Aku keluar dari kelasku dan menuju kantin. Mencoba mencari Rae Na namun tidak ada, aneh, padahal sore ini dia ada kuliah, mengapa dia tidak menampakkan batang hidungnya?

“Yak, melamun saja.” Seseorang menepuk bahuku, hanya satu orang yang berani melakukan itu padaku, Jinki Hyung.

“Yak, Minho~ya, jangan menunjukkan muka mengerikan seperti itu.”

“Aku baik-baik saja Hyung.”

“Minho, aku sudah mengatakan aku menyukai Eun Cha.” Ucapnya sambil menundukan kepalanya. Hyung, maaf, aku sedang tidak tertarik dengan pembicaraan ini, aku memikirkan Rae Na.

“Minho~ya, apa aku salah?”

“Tidak Hyung, kau benar. Apa tanggapannya?”

“Dia masuk dalam kamarnya tanpa menjawab perasaanku.”

“Mungkin dia malu.”

“Atau mungkin dia tidak menyukaiku.”

“Kau jangan mengatakan seperti itu.”

“Tapi dia tidak menjawabnya.”

“Berikan dia waktu.”

“Benar juga, bagaimana denganmu?”
“Naega?”

“Em, bagaimana hubunganmu dengan Rae Na?”

“Kau melihatnya hari ini?”

“Nugu? Rae Na?” aku mengangguk.
“Aku melihatnya tadi siang, dia terlihat tergesa-gesa.”

“Oh, begitu?”

“Ne, ada masalah?”

“Ani, hehe, Hyung, aku pergi dulu.”

“Em.” Aku meninggalkan Jinki Hyung menuju mobilku. Aku menelepon Rae Na beberapa kali, namun dia tidak mengangkat. Aku terus meneleponnya, tapi dia menolak panggilanku beberapa kali, hingga akhirnya ponselnya tidak aktif sama sekali. Dia benar-benar menghindariku, Rae Na~ya, aku tau kau marah padaku, tapi tolong jangan begini, aku tidak bisa kau acuhkan seperti ini. Rasanya tidak berpijak di dunia saat aku menghilang dari pandanganku, aku merasa kosong dan melayang.

Tiba-tiba ponselku berbunyi, aku segera mengangkatnya.

“Rae Na, kau dimana? Kau tidak tau aku sangat mengkhawatirkanmu? Eoh? Katakana dimana kau sekarang!” aku meneriakinya.

“Minho~ya, ini Eomma…”

“Eomma?” aku seperti orang bodoh.

“Ye, bisa kau datang untuk makan malam hari ini?”

“Sebenarnya aku tidak ingin kemana-mana hari ini, tapi sebaiknya aku menerima tawaranmu.”

“Kau kenap Minho~ya?”

“Aniyo Eomma.”

“Bertengkar dengan Rae Na?”

“Bukan.”

“Bukan? Lalu karena apa? Kenapa mencarinya?”

“Bukan apa-apa.”

“Tidak apa-apa jika tidak ingin menceritakannya. Malam ini jam 7 dirumah, jangan lupa.”

“Ne Eomma.”

***

Makan malam dirumah terasa sangat membosankan. jika saja aku tau akan seperti ini jadinya, aku tidak akan pernah datang kesini. Eomma memandangku prihatin. Aku tidak butuh tatapan itu, aku hanya butuh ruang untuk sendiri. Ingin segera pergi dari sini.

“Bagaimana kalau kita tentukan saja acara pertunangannya.” Appa berbicara pada Soe Ahjusshi, apaanya Min ra.

“Itu terserah padamu saja.”

“Siapa yang akan bertunangan?” tanyaku pura-pura bodoh.

“Tentu saja kau bersama Min Ra.” Sahut Appa sambil menatapku tajam.

“Kau kan sudah lama menjalin hubungan dengannya.”

“Siapa yang bilang aku mempunyai hubungan dengan Min Ra?” sahutku.

“Kau tidak usah menyembunyikannya.”

“Aku tidak menyembunyikan apapun.”

“Minho~ya.” Appa melunak.

“Aku tidak akan bertunangan apalagi menikah dengan Min Ra, karena aku tidak mencintainya.”

“Choi Minho!” bentak Appa.

“Kau kan sudah tau aku tidak mencintainya, mengapa memaksakan kemauanmu?” aku beranjak dari ruang makan, menuju teras belakang.

“Minho~ya, mianhae.” Eomma menghampiriku.

“Gwaenchana Eomma, aku mengerti posisimu.” Eomma menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Kau sangat mencintainya?”

“Sangat Eomma, aku merasa seperti mayat hidup tanpanya.”

“Aku akan mencoba berbicara dengan Appamu.”

“Tidak perlu, nanti kau jadi sasarannya.”

“Tidak apa-apa.”

“Aku tidak ingi menyusahkanmu Eomma..” aku memegang kedua pipinya dengan tanganku. Tidak ingin membuatnya terluka hanya karena aku.

“Aku tidak ingin kejadian seperti Noonamu terulang.”

“Aku bisa mengatasinya sendiri Eomma.”

“Bagaimana jika Appamu mencabut semua tunjanganmu?”
“Aku bisa bekerja.” Sahutku santai.

“Memangnya semudah itu?” dia memukul pelan kepalaku.

“Aku akan berusaha Eomma.”

***

Ini sudah tiga hari Rae Na menghilang dari manic mataku. Namun dia tidak benar-benar pergi dari otakku. Aku terus memikirkannya. Tidak bisa tidak memikirkannya sedetikpun, rasanya bukan hidup tidak ada dirinnya mengiringi hariku. Sehari lagi dia tidak muncul aku tidak akan hidup lagi. Ditengah pikiranku yang sedang kacau, aku melihat sekelebat sosok yang begitu kurinduka. Dia melewatiku begitu saja dengan cepat, sejenak aku terdiam, lalu kemudian berlari menghampirinya.

“Rae Na!” aku memanggilnya, namun dia terus berjalan. Aku menarik tangannya kasar. Dia mencoba melepaskan cengkramanku, namun aku semakin kuat memegangnya.

“Kita harus bicara.” Aku membawanya ke belakang kampus.

“Kita?”

“Ne.”

“Sejak kapan ada kita?”

“Apa maksudmu?” aku terus menariknya tidak peduli.

“Minho, sakit, kau kira aku boneka?”

“Aku tidak suka kaumenghindariku.” Aku menghempas tubuhnya ke sebuah pohon besar yang ada di belakang kampus, menatapnya dengan tajam. Dia mengalihkan pandangannya dariku. Aku memegang wajahnya agar menatapku.

“Aku tidak suka kau mengacuhkanku, apalagi menghindariku.”

“Aku juga tidak suka dipaksa.”

“Kau harus tetap bersamaku.”

“Choi Minho, belum cukupkah kau menyakitiku?”

“Aku tidak pernah menyakitimu.”

“kau memang tidak menyakitiku, tapi orang sekitarmu membuatku sakit.”

“Aku akan mengatasinya.”

“Tidak perlu, aku hanya ingin kau membiarkan aku sendiri.”

“Tidak akan pernah.”

“Biarkan aku berjalan dengan sedikit harga diriku yang tersisa, yang telah kau injak-injak.”

“Rae Na~ya, demi Tuhan, aku tidak ingin kau terluka, tolong jangan menghindariku.”

Author POV

Eun Cha membuka pintu rumahnya. Bersiap untuk berangkat ke Kampus. Dia terpaku mendapati sosok namja yang berdiri di hadapannya. Jinki juga menatap Eun Cha penuh arti. Mereka saling berpandangan beberapa saat sampai dikejutkan oleh suara deheman seseorang.

“Ehem, sampai kapan kalian seperi ini?”

“Donghae Hyung.” Seru Jinki.

“Masih ingat denganku?”

“Bagaimana mungkin aku lupa denganmu.” Jawab Jinki.

“Barangkali saja kau lupa denganku karena sudah 15 tahun aku tidak kembali.”

“Kau, sejak kapan kau datang?” Tanya Jinki.

“Pagi tadi.”

“Apa yang kau lakukan disini setelah lama tidak kembali?” tanya Jinki pada Donghae.

“Aku membantu Chaerin Noona mengembangkan karirnya disini.” Jawab Donghae.

“Nde? Chaerin Noona juga kembali?”

“Dia kembali sejak tiga hari yang lalu.”

“Jinjjayo?”

“Nde, dia menginap di rumah Park Ahjumma, keluarga tercintanya itu. ya, nanti siang temani aku mencari apartemen.” Pinta Donghae pada Jinki.

“Yak, kau tinggal di rumah saja, kita kan masih saudara.”

“Terserah saja, mungkin sementara akan tinggal ditempatmu.” Donghae berlalu dari sepasang muda mudi dihadapannya.

“Nuguya?” tanya Eun Cha.

“Dia?” tanya Jinki

“Ye.” Sahut En Cha

“Dia kakak sepupupku, dia tinggal di California selama ini, aku dengar disana dia jadi model, namun tidak pernah kesini lagi, sekarang dia datang kembali, bersama Charin Noona.”

“Chaerin Noona?”

‘Ye, dia sepupuku yang lain. Bekerja sebagai Designer terakhir kali di Paris, dia selalu berkeliling dunia, melebarkan karirnya, sekarang dia kembali.” Terang Jinki.

“Oh.” Jawab Eun Cha.

“Eun Cha~ya, mengenai beberapa hari yang lalu, aku..” mereka terdiam.

“Nado.” Jawab Eun Cha. Jinki terlihat bingung menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Nado?”

“Ye.

“Apanya yang sama?” tanya Jinki dengan muka polosnya. Eun Cha terbelalak mendengar pertanya an Jinki. Eun Cha berlalu meninggalkan Jinki.

***

Donghae berjalan menyusuri kota Seoul yang selama ini sangat dia rindukan, sudah banyak berubah. Dia terus berjalan menyusuri jalanan kota yang mulai padat. Saat dia akan melangkah untuk menyeberang, tiba-tiba sebuah taksi mendadak mengerem mobilnya, Donghae terkejut, terpaku seketika, ini kan lampu merah. Seorang Gadis keluar dari taksi itu.

“Mianhae, kau terluka?” tanya Gadis itu. donghae terpana melihat wajah Gadis itu. Matanya terus memandangi Gadis itu, membuat yang punya diri merasa risih.

“Hey, Gwaechana?” tanya Gadis itu. donghae tersadar.

“Ah, ye, gwaenchana.” Sahutnya gugup. Dia merasakan getaran berbeda saat memandang wajah Gadis itu.

“Kau perlu ke Dokter?” tanya Gadis itu.

“Ah, tidak perlu.” Jawab Donghae terbata-bata.

“Ah, kalau begitu aku permisi.” Gadis itu membungkuk sopan. Donghae masih memandangi Gadis itu hingga memasuki taksi. Donghae masih terpaku.

“Agasshi, siapa namamu?” Donghae berteriak saat taksi itu melaju pergi.

“Park Jina.” Sahut Gadis itu.

Jung Soo’s POV

Aku risih sejak Chaerin berada dirumah ini. Eomma seakan memanfaatkan semua waktuku untuk menyuruhku untuk menemaninya. Aku sangat tidak suak, aku ingin Eun Kyo, bukannya Chaerin. Halmeoni terkadang juga protes jika aku terus bersama Chaerin, aku merasa terjepit diantara dua wanita berpengaruh dalam rumah ini. Aku ingin beranjak dari rummah menuju rumah sakit. Hari ini hari kepulangan Eun Kyo, aku sudah tidaksabar ingin membawanya dan merawatnya sendiri.

“Oppa…” sebuah teriakan mengagetkanku.

“Jina~ya.” Aku tersenyum pada Jina. Dia memelukku.

“Aku merindukanmu, aku dengar Eun Kyo masuk rumah sakit, wae gurae?”
“Ah, dia hanya kurang istirahat, anemianya kambuh.”

“Oh, sekarang bagaimana keadaannya?

‘Sekarang sudah lebih baik, kemarin sudah transfusi darah.”

“Ah, syukurlah kalau begitu.”

“Kau mau kemana pagi-pagi begini? Tidak bekerja?”

“Aku tidakmasuk hari ini, ingin menjemput EunKyo, dia boleh pulang hari ini.”

“Jinjjayo? Aku ikut kalau begitu.”

Aku dan Jina mengendarai mobil menuju rumah sakit. Banyak hal yang dia ceritakan, studinya sudah selesai, dia ingin bekerja di Korea.

“Oppa, bagaimana hubunganmu dengan Eun Kyo?”

“Baik-baik saja, dia sedang hamil.” Sahutku sambil tersenyum.

“Jinjjaro? Ah Chukkae..”

“Ne.”

“Oppa, aku juga dengar, Chaerin Onnie ada disini.” Ucap Jina hati-hati.

“Ye, sudah tiga hari dia tinggal dirumah kita.

“Ne? tinggal dirumah kita? Jadi semakin ramai ya?”

“Kau ini ada-ada saja.” Aku memukul kepalanya.

“Benarkan? Anggota keluarga kita akan bertambah sebentar lagi.”

“Ne.” jawabku.

“Oppa, apa kau masih mencintai Chaerin Onnie?” tanya Jina, aku terdiam.

“Oppa…”

“Kau ini, selalu saja ingin tau.” Jina hanya tesenyum.
“AKu memang menyukainya dulu, tapi sekarang aku mencintai orang lain.” Sahutku.

“Eun Kyo?”
“Menurutmu siapa lagi kalau bukan dia?” tanpa terasa kami sudah sampai di rumah sakit. Aku mendapati Eun Kyo sudah bisa berdiri, dia merapikan semua baju dan memasukkannya kedalam koper. Aku segera membantunya.

“Mengapa tidak menungguku dulu?”

“Aku bisa sendiri.” Jawabnya lemah.

“Tapi kan kau belum sembuh total, jangan terlalu lelah.”

“Apa melipat dan memasukkan bajukedalam koper itu melelahkan? Oh.Jina~ya.” Eun Kyo ternyata baru menyadari bahwa aku datang bersama Jina. Jina tersenyum lalu memeluk tubuh Eun Kyo.

“Kau baik-baik saja?” tanya Jina.

“Ye, aku baik-baik saja.” Sahut Eun Kyo.

“Kau harus selalu menjaga kesehatanmu, demi jiwa yang ada didalam sini.” Jina mengelus perut Eun Kyo.

“Ne, aku akan menjaganya dengan baik.” Sahut Eun Kyo sambil mencubit pipi Jina.

“Sudah selesai?” tanyaku pada kedua gadis di hadapanku.

“Em, sudah selesai.”

“Biar aku yang bawa.” Aku menarik koper menuju keluar. Jina dan Eun Kyo berjalan bersama, sesekali mereka tertawa.

***

Makan malam pertama di rumahku, formasi lengkap, menggunakan meja yang sering digunakan untuk pertemuan keluarga besar. Memang ada pertemuan keluarga besar, mengadakan perayaan kecil-kecilan karena Eun Kyo sudah keluar dari rumah sakit, dia sebenarnya tidak mau, tapi Halmeoni bersikeras melakukannya, karena kata Halmeoni dia ingin mengumumkan kehamilan Eun Kyo, Eun Kyo tidak dapat membantah. Dia terlihat gelisah di dalam kamar, aku memperhatikannya yang sedang bolak-balik kamar mandi.

“Wae? Kenapa dari tadi selalu buang air?” aku mendekatinya.

“Aku hanya, gugup.”

“Tidak perlu gugup, tidak aka nada yang memarahimu.”

“Bukannya ini terlalu berlebihan? Aku baru disini, hanya gara-gara aku kalian menjadi repot.”

“Kau ini bagaimana, Halmeoni hanya ingin berbagi kebahagiaan.”

“Tapi aku.”

“Sssssttt, kau jangan mengecewakannya.” Aku memeluk tubuhnya dan berusaha mencium bibirnya, namun dia mengelak.

“Kau, habis makan sayur?”

“Eoh?”
“Mulutmu bau sayur, aku menjadi mual.” Eun Kyo segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan sesuatu yang tidak ada, karena dia belum makan. Aku memandanginya di depan pintu kamar mandi.

“Sudah baikan?” aku memijit punggungnya. Dia mengangguk.

“Bisa mengikuti makan malam?”

“Sepertinya bisa.” Aku memapahnya sampai ke meja makan. Belum banyak yang datang. Aku mendudukkannya di kursi dekat dengan Halmeoni, tidak ingin beresiko mendudukkannya di dekat Eomma, sepertinya memang benar Eomma tidak terlalu menyukai Eun Kyo. Aku duduk disampingnya. Melihatnya sedikit pucat aku menjadi khawatir.

Dari arah luar aku mendengar suara yang sedikit ramai. Ada Rae Na dan Jina yang sedang sibuk menyambut tamu yang datang. Ada Jung Jin dan Appanya. Aku melihat Eun Kyo yang menoleh kearah Jung Jin, lalu beralih menatapku, aku menggenggam tangannya, dia tersenyum. Setelah itu datang Chaerin dan seseorang yang tidak aku kenal.

“Chaerin~ah, aigoo, kau cantik sekali, sini duduk dekat denganku.” Eomma menyambut Chaerin.

“Nuguya?” tanya Eomma menunjuk seseorang yang berdiri disamping Chaerin.

“Oh, dia Lee Donghae, adik sepupuku Ahjumma.” Jawab Chaerin.

Rae Na’s POV

Aku mulai gerah dengan makan mala mini, mengapa harus ada Jung Jin dan wanita sok perfeksionis itu. dia terlihat sempurna namun aku tidak suka melihatnya, bukannya aku membela Onnie, hanya saja dia terlihat menguasai keadaan. Semua mata tertuju pada ceritanya yang memang luar biasa, keliling dunia dengan karirnya.

“Jung Soo~ya, kau masih ingat dulu selalu ingin berdua dengan Chaerin?” tanya Eomma, sepertinya dia memancing suasana. Onnie terlihat tenang tidak terlalu memperhatikan, tapi aku tau telinganya menangkap semua pembicaraan itu.

“Aku permisi sebentar.” Aku menatap tajam pada Jung Soo Oppa. tidaklama kemudian aku mendengar derap langkah di belakangku. Jung Soo Oppa.

“Oppa, sebenarnya siapa dia?”

“Dia temanku sejak dulu.”

“kau mencintaiya?”

“dulu.”

“Kau!”

“kau tenang saja, aku tidak akan menyakiti saudaramu tercinta itu.”

“Awas saja jika kau lakukan.” Aku menginjak kakinya. Dia meringis.

***

Beberapa hari berlalu. Aku masih menghindar dari Minho. Selalu berusaha tak terlihat olehnya. Selalu berusaha untuk pulang sebelum dia pulang. Seperti hari ini, aku diantar pulang oleh Kibum Oppa.

“Kau sibuk hari ini?”

“Ani, waeyo Oppa?”

“Bisa temani aku makan malam hari ini?”

“Eoh? Ada acara apa?”

“Bertemu teman lama, dia sama sepertiku, dia baru kembali kesini.”

“Nuguya?”

“Lee Donghae.”

“Sepertinya aku pernah mendengar nama itu.”

“kau ini.” Kibum oppa memukul kepalaku. Sesampainya di rumah aku mendapati Minho sudah ada di depan rumah. Dia menatapku tajam. Aku mengalihkan pandanganku darinya dan berusaha mengacuhkannya. Saat akan memasuki pagar, dia menarik tanganku. Seperti biasa yang dia lakukan padaku, memaksaku menuruti keinginannya. Aku hanya diam, dia membawaku ke sebuah danau kecil dipinggiran kota.

“Aku tidak suka kau pergi dengannya. Aku sudah bilang kau hanya boleh diantar dan dijemput olehku.”

“Aku tidak ingin berdebat denganmu.”

“Park Rae Na, berhentilah menyakitiku.” Aku tidak menjawabnya.

“Berhenti membuatku menghancurkan diriku sendiri.”

“kau ini bicara apa?”

“Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, tidak bisa membayangkan hidupku tanpamu, beberapa hari terakhir kau menghindariku, aku tidak bisa menjalani hariku dengan benar.”

“Choi Minho, jika seandainya akupun mencintaimu, semua itu tidak akan mungkin terjadi, karena banyak factor yang tidak akan membiarkan hubungan kita.”

“Appa?”

Itu salah satu dari beberapa faktornya.”

“Apa lagi?”

“Aku belum yakin aku mencintaimu, dan aku tidak ingin terlalu cepat mengambil keputusan.”

“Aku akan menunggunya.”

“Itu terserah padamu, tapi aku mohon beri aku ruang untuk bergerak.”

“Aku tidak bisa.”

“Wae?”

“Melihatmu dengan orang lain membuat emosiku tidak terkendali.”

“Kau harus belajar mengendalikannya jika tidak ingin hacur oleh emosimu sendiri.”

“Mudah mengatakannya.” Sahut Minho lirih.
“Kau harus mencobanya.”

“Aku tidak bisa.” Aku memukul pelan kepalanya.

“Belum apa-apa sudah bilang tidak bisa. Sekarang antarkan aku pulang.”

“Menginap di tempatku saja.”

“Kau gila? Mau aku kehilangan harga diri lagi?”

“Dia tidak akan tau.”

“Seluruh dinding di tempatmu itu punya mulut dan telinga.”

“Ne?”

“Pasti akan ada yang menyampaikannya, lagipula kita bukan sepasang suami istri, mana mungkin aku menginap di rumahmu.”

“Dulu kenapa kau mau?”

“Dulu kan karena terpaksa.”

“Kau takut Min Ra mengatakannya pada Appa?”

“Aku tidak takut dengannya.”

“Lantas karena apa?”

“Malam ini aku ada janji.”

“Janji? Dengan siapa?”

“Kibum Oppa.”

“Kalau begitu aku tidak akan mengantarmu pulang.”

Minho’s POV

Dia bersikeras untuk diantarkan pulang. Padahal aku tidak ingin mengantarnya pulang. Namun saat melihat wajah putus asanya dan dia mengatakan itu hanya janji biasa, baru aku sedikit rela mengantarnya pulang. Setidaknya hari ini aku sudah bertemu dengannya dan lumayan berbicara banyak dengannya. Emosinya pun tidak terlalu terlihat, dia lebih tenang hari ini. Aku juga sebenarnya ada janji dengan Jinki hyung, ada pesta kecil-kecilan dirumahnya.

Aku bersiap-siap untuk kepesta. Tidak resmi namun aku harus terlihat rapi. Aku memakai baju kaos kerah V dipadu dengan jas semiformal dan memakai celana jeans berwarna hitam. Sepertinya sudah rapi. Aku lalu pergi menuju rumah Jinki hyung. Disana sudah berkumpul beberapa orang, kata Jinki hyung itu adalah pesta kecil-kecilan menyambut saudara jauhnya yang sudah lama tidak pernah pulang. Namun, disana aku menangkap sosok yang sangat aku kenal Rae Na. bersama Kibum. Dia terlihat akrab dengannamja itu, tersenyum dan sesekali tertawa berbicara dengan seorang namja lain yang aku juga tidak kenal. Aku menghampiri Jinki hyung yang sedang memanggang daging sapi. Aku terus memperhatikan gerak-gerik Rae Na dan Kibum. Kibum selalu mengikuti Rae Na kemanapun dia pergi, sulit sekali mendekatinya.

“Hyung, siapa mereka?”

“Nuguya?” aku menunjuk tiga makhluk yang sedang berbincang-bincang dihadapanku dengan daguku.

“Oh itu, itu Lee Donghae, sepupuku, di depannya ada Kim Kibum, temannya saat di California, kalau yang disampingnya kau tau sendiri.”

“Rae Na.” gumamku. Aku mendekat kearah mereka.

“Jadi ini ang membuatmu bersikeras  untuk mengikuti pertukaran mahasiswa itu?” Donghae terlihat berbicara dengan Kibum. Telingaku dapat mendengarnya karena aku berdiri dibelakang kedua lelaki itu dan aku bisa melihat jelas wajah Rae Na yang menghadap kearahku. Dia terlihat canggung setelah melihatku, aku menatap tajam padanya.
“Apa maksudmu?” sahut Donghae.

“Kau ingin mengejar cinta masa kecilmu?”

“Jangan bicara sembarangan.” Sahut Kibum. Oh, jadi begitu? Kibum menyukai Rae Na sejak kecil?

“Rae Na-shi, kau tau? Kibum banyak menceritakan banyak hal tentangmu.

“Ne? benarkah? Pasti selalu yang buruk.” Jawab Rae Na.
“Dia ter.” Kibum segera membekap mulut Donghae dan membawanya pergi dari hadapan Rae Na. ini kesempatanku untuk bicara dengan Rae Na. dia menghindar namun selalu saja tanganku lebih gesit darinya. Aku membawanya kesalah satu sudut yang tidak terlihat orang lain.

“Jadi ini maksudmu janji biasa?” Rae Na menghela nafas.

“Dia mengenalkanmu pada sahabatnya.”

“Minho apa maksudmu?”

“Haha, kau ini bodoh atau memang benar-benar tidak tau? Kibum itu menyukaimu.” Seruku padanya.

“Lalu apa hubungannya denganmu, itu kan perasaannya.” Jawab Rae Na santai.

“Apa kau juga menyukainya?”

“Apa urusanmu?”
“Itu urusanku.”

“Mau mengatakan aku milikmu lagi? Aku sudah bosan.” Dia ingin pergi dariku, namun aku menariknya dan mencium bibirnya. Dia tidak meronta seperti biasa. Aku melumat bibirnya dan memegang kedua pipinya dengan tanganku. Beberapa detik kemudian dia mulai membalas ciumanku. Ada sebuah keberanian muncul dalam diriku, aku mendororng tubuhnya ke tembok dan mulai menciumnya lebih dalam. Dia meremas bajuku. Ciumanku mulai turun ke lehernya. Namun sebuah deheman menghentikan aktifitas kami.

“Rae Na~ya, kau sudah makan? Jika sudah makan ayo kita pulang nanti Noona mengkhawatirkanmu. Dia baru keluar dari rumah sakit kan? Sebelum dia tidur aku ingin menemuinya. Aku belum sempat menjenguknya.” Ucap Kibum dingin.

“Ne,Oppa.” sahut Rae Na menunduk. Akuhanya bisa terpaku, apa yang sedang kami lakukan tadi? Apa yang sedan terjadi? Aku menciumnya,dan yangluar biasa dia mulai membalas ciumanku. Tidak pernah sebelumnya dia bersikap seperti ini padaku. Ada apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya? Ada sesuatu yang salah? Bukan rae Na yang biasa. Aku memandangi kepergiannya. Masih terpaku tak mampu bergerak.

“Yak, melamun saja.” Jinki Hyung menepuk punggungku, aku tersentak.

“Kau mengagetkanku.” Saeruku.

“Wae? Mengapa ada disini.”

“Tidak apa-apa.”

“Jangan berdusta, apa yang kau lakukan dipojok sepi ini?” tanya Jinki hyung menggodaku.

“Aku tidak melakukan apapun.”

“Kau jangan berpura-pura.”

“Apa maksudmu?”

“I know what you did.” Dia tertawa meledekku sambil berlalu dari hadapanku.

“Hyung!” teriakku.

“Pokoknya aku tau.”

“Aku tidak melakukan apapun!”

“Kau tidak bisa berbohong dariku.” Teriaknya lebih keras.

Eun kyo’s POV

Sudah beberapa hari ini Jung Soo sibuk di kantornya, selain itu juga dia sibuk menemani Chaerin untuk memilih tempat untuk butiknya. Jujur aku sedikit cemburu dengan kedekatan mereka, namun aku tidak bisa apa-apa, mereka sudah dekat sejak dulu, tidak seharusnya aku cemburu. Aku yang hadir diantara mereka.

“Onnie~ya!” teriak Rae Na.

“Onnie~ya, lihat siapa yang aku bawa.” Aku keluar dari kamar dan menghampiri Rae Na, namun sebelumnya aku berpapasan dengan Eomma.

“Adik dan Kakak sama saja, tidak tau aturan.” Eomma menatap sinis padaku. Terkadang aku bertanya pada diriku sendiri, apa salahku hingga dia tidak menyukaiku? Aku melihat Rae Na bersama seseorang, sepertinya aku mengenalnya.

“Kibum?” tanyaku menghampirinya.

“Ne.” kibum membungkuk padaku, aku membalasnya, saat aku membungkukkan badanku kepalaku terasa pusing, aku hampir kehilangan keseimbangan.

“Onnie, kau kenapa? Sakit lagi?”

“Aku hanya ingin mrlihat keadaanmu Noona.” Seru Kibum. Aku tersenyum padanya.

“Ayo silakan duduk.” Aku myuruh Kibum duduk. Dia duduk di ruang tamu.

“Mau minum apa?”

“Tidak perlu, aku hanya sebentar Noona.” Sahut Kibum.

“Kau terburu-buru?”

“Ani, hanya saja tadi aku sudah makan dan minum banyak.”

“Kalian pergi bersama?” aku menatap mereka satu persatu, Kibum terlihat tersipu, dia tersenyum simpul.

“Hanya makan malam biasa.”

“Ah, lama tinggal disini?”

“Mungkin, paling cepat setahun.”

“Oh?”

“Aku mengambil penelitian disini untuk program masterku.”

“Oh, begitu.” Dari arah luar aku melihat Jung Soo Oppa memasuki rumah, dia berhenti di depan kami.

“Oppa, kenalkan ini temanku masa kecil, Kim Kibum.” Jung SOo Oppa menjabat tangan Kibum.

“Dia suamiku, Park Jung Soo.”

“Ah, ye, aku permisi dulu, badanku bau, belum mandi.”

“Aku juga ingin permisi saja, kapan-kapan aku kesini lagi.” Kibum mohon diri, aku dan Rae Na mengantarnya sampai depan rumah. Lalu ak masuk kedalam dan menuju kamarku yang ada di lantai dua. Jung Soo Oppa sudah mandi dan rapi dengan piyamanya.

“Oppa.”

“Ne? bagaimana keadaanmu hari ini?”

“Aku baik-baik saja.”

“Kau selalu bilang baik-baik saja meskipun kau sakit.” Aku tersenyum.

“Bagaimana dengan ini?” dia menyentuh perutku.

“Dia juga baik-baik saja.” Aku merapatkan tubuhku padanya. Berjinjit dan mengecup bibirnya sekilas. Entah mengapa sejak aku tau aku hamil, aku selalu ingin berdekatan dengannya. Bermanja dengannya, padahal ini bukan kepribadianku, aneh. Dia melingkarkan tangannya di pinggangku dan mengangkat tubuhku.

“Benarkah?”

“Em.” Aku mengangguk.

“Kau terlihat cantik hari ini.” Godanya.

“Jangan menggodaku.” Aku menjauh darinya. Namun dia tidak membiarkanku menjauh.

“JIka ingin bercinta tutup pintunya terlebih dahhulu kunci pintunya.” Rae Na berdiri di depan pintu, spontan aku langsung berusaha melepaskan pelukan Jung Soo. Setelah Rae Na berlalu aku kemudian memukuli lengan Jung Soo Oppa, dia hanya tertawa dan berusaha menghindar.

***

Hari ini Eomma keluar bersama Chaerin. Dia lebih senang menghabiskan waktu bersama Chaerin daripada denganku. Rumah menjadi sangat sepi. aku duduk di balkon rumah sambil termangu. Memegangi perutku sendiri.

“Kau tau? Eomma sangat bahagia kau ada disini. Meskipun Eomma belum benar-benar mencintai Appamu, karena Eomma takut, takut jika pada akhirnya akan menyakiti Eomma. Hey, kau mendengarkan Eomma kan?” aku tersenyum sendiri.

“Tidak, tidak, tidak, bukannya Eomma belum benar-benar mencintai Appamu, hanya saja Eomma masih merasa ragu. Tapi saat Eomma tau kau hadir dan ada dalam diri Eomma, Eomma berusaha membuat keadaan ini menjadi nyaman, tapi sepertinya tidak semudah itu.” aku merasakan sedikit sakit di ulu hatiku.

“Sendirian?” sebuah suara mengagetkanku. Aku menoleh padanya. Chaerin.

“Ne.” sahutku sambil tersenyum. Dia membalas senyumku dengan sinis.

“Kau, merebutnya dariku.” Aku terdiam.

“Dulu dia sangat memujaku, sangat.” Dia duduk disampingku.

“Tapi sejak dua bulan yang lalu mengubah segalanya. Kau datang dan membuatnya berpalinng dariku.” Aku menoleh padanya. Serasa ada yang menikamku ketika dia mengatakan seperti itu.

“Haha, waktu 13 tahun dihapus oleh waktu 2 bulan, miris sekali.”

“Apa maksudmu?”
“Park Eun Kyo, aku akan merebutnya darimu, kau suka ataupun tidak.”

Aku semakin nanar menatapnya, apa maksudnya? Aku tidak mengerti. Aku melihat mobil Jung Soo Oppa memasuki halaman, aku berdiri dan ingin menyambutnya. Saat menuruni tangga, aku melihat Jung Soo Oppa membawakan bungkusan untukku, pasti hamburger, aku meminntanya membelikan hamburger untukku. Tiba-tiba keseimbangan tubuhku hilang oleh sebuah senggolan dilenganku saat Jung Soo Oppa menoleh pada Eomma. Aku tidak bisa mengendalikan tubuhku. Aku terjatuh dengan cepat, padahal beberapa anak tangga lagi, aku terduduk dilantai, seketika aku terpaku, merasakan perutku yang begitu sakit. Bagai diremas rasanya, begitu perih, aku melihat darah keluar dari selangkanganku, perlahan semakin banyak dan menggenang. Aku tidak mampu berkata apa-apa lagi, aku menyentuh darah itu. rasa sakit diperutku hilang berganti dengan rasa sakit dihatiku. Aku melihat Jung Soo berlari menghampiriku dengan muka panik, setelah itu aku tidak sadarkan diri.

TBC

Aku kembali lagi dengan khayalan liarku. Aneh kan? Aku tidak mau banyak bicara karena emosi sedikit terganggu… moory. Terima kasih nasehatnya, aku akan berusaha bahagia dengan diriku sendiri. Hufh, ini juga sebagian ide rae na, dan sebagian aku rombak idenya menyesuaikan cerita. Yang sudah baca silakan komen jika mampu..

106 responses »

  1. part ni bnr2 bnyk trouble ny….rasanya aq pngn jd super hero buat eun kyo yg g bsa berbuat bnyk ngadpin eomany jungso ma caerin,,,@ jambak caerin@ g bsa y mertua akur ma menantu @mkin nyesek ni dada@ curhat.com….

  2. eoni, eoni, eoni
    Kau knp bsa jatoh, pasti si chaerin tuh!
    Eon jgn biarkan kau khilangan anakmu! Gak rela!
    Ah eon tambah seru,
    Apalagi pas rae na di cium minho, trus rae na ngbales…
    Wah udah mulai suka nih…
    Wag jinki-euncha tambh ngegemesin…
    Trus ada couple hae-jina…
    Wah…
    Pkknya aku tunggu next part..
    Semangat eon!!!

    • ya oloh ko jd chaerin? anakku?? buahahahahaha.
      rae na pasti ngamuk k aku tuh part dia aku bikin begitu…
      jincha ngegemesin?? emang iya, dasar o’on emang..
      hae_jina ibaratnya masakan tuh yah, bawangnya, hehehehehehe.
      aku suka bawang soalnya…

  3. ngomong-ngomong foto onnie cantik *.*
    Leeteuk so sweet deh, nanya-nanya kandungan Eunkyo terus :3 konfliknya nambah banyak-_- makin penasaran akunya~
    di part ini aku kurang dapet feelnya Minho sama Raena u,u

  4. I’m Cunfused. . . wkwk

    TeuKyo,aq percaya kalian bisa melewati ini semua,jgn prnah berpisah, hwaiting !!

    JinCha., ohooo,,eun cha eon lg galau nih ky’y.. jinki yg sabar yaah..kekee

    JinHae,chukkae sdh brtemu,secepat’y yah😉

    MinNa, yak!! minho nepsong amat.. Rae Na jg nih,udh tau d’sakitin,mending sm kibum aja,whahahaa *d’popo si mata belo*
    anii,Minho jgain Rae Na donk,jgn smpe d’sakitin Appamu lg,Rae Na jg kudu jd seseorg yg bs menguatkn Minho,ne? #plakk

    Part ini byk Misteri’y.. Lanjut !!

  5. onnieeeee. .
    sbelum komen curcol dulu yah:D
    sms onnie bru msuk d hpku, maklum aku lgi pkl d desa. .
    dan skrang akhir.a bsa komen allhamdulillah bgt,
    foto.a teukppa ya ampun geregetan liat.a sesuatu bgt deh. .
    di saat eunkyo udah blas cinta teukppa knapa muncul tuh
    nenek sihir *chaerin*, pka acara mau ngerebut teukppa lah
    chaerin kan yg ngedorong eunkyo ampe jatuh, awas aja klu
    anak.a knapa”. .
    jungjin jga dtg di saat eunkyo udah bhagia dgn teukppa
    slama ini kmana aja. .
    aiyaaa raena udah mulai jatuh hati tuh sma minho,
    aku suka bnget part.a Minra. . Raena cepetan deh terima cinta.a
    Minho kasian tuh anak. .

    • ya oloh kesian bgt drmu… PKL brapa hari…
      tau noh si chae dtg2 juga kenapa, trus knpa juga jung jin datang lagi, wahahahaahaha, aku suka karakternya si jung jin tapi… kekekekeke
      rae na??? hahahaahahahahahaha, dia mah malu2 singa….

      • sebulan onnie, tpi klu jmat sore bsa plg k rumah mnggu sore balik lagi yah meski menempuh p’jalanan yg jauh dan melelahkan. .
        chae dan jungjin minta di pites kali yah. . hahahaha
        aku malah suka karakter.a si minho ngegemesin gmana gtu. .
        aigooo malu-malu singa ya? hihihi

  6. ituuuuuu Kyo cepat bangat suka ma Tuekie…
    kenapa nggak di siksa dulu….. #onn skrg aku lagi suka cerita penganiayaan#

    jadi mereka ngk bisa kluar dari rumah itu…

    chaeriiiin…… aku menyukai dirimu yang telah kembali…. chukkae…..

    BTW,,,,, onn itu tuekppa cakep bangeeeettttt di atas,,,,,,,

    whisk behind oppa…..

  7. Onnie..
    Aku datang bayaarr utaaaaaaaaaaannngggg…
    *ngedipngedip*

    onnie, sbenernya aku msh kesel bgt sama temen aku kalo inget2 msalah komen aku yang ilang ditelen hape !

    Horeee *tepok tangan*
    onnie keguguran ya?
    Jungsoo suruh bikin anak sama aku aja onn..*lirik oppa*

    ah dahsyat tau onn ini part..skinshipnya fullll……..
    Hahahaha

    besok aku mau nularin ff ini k tmen aku ah onn…
    Tau kan knp? *tingtingting*

    eh iya onn..typo bertebaran dimana2 loh tapi waktu aku baca yang dulu…

    Onnie, itu knp its hurt hurt di protek lg?
    Aku pengen baca onn…

    MinNa kopel makin keren onn…

    Jinki oppa, sini sama aku aja oppa….*tarik jinki*

    hmmmm…..
    Onnie mual bikin skinship?
    Ko bs?
    Aku malah cintaaaaaaaaaa bangeeeettt sama itu….
    Hahahahahaha

    onnie, tungguu…

    • lah?? memangnya aku mau kmna?? aku g kmna2…
      enak aja bikin anaknya sm km…. kaga bisa!!!!!
      aku mual emang, trus senyum g jelas….
      tp akhir2 ini lg suka, wahahahaha.
      minna kan emang ngegemesin….
      jgn jinki~ya, jgn mau!!!

  8. huehee..lama bgt si pity balik #plakk *mianhamnidaa*
    ugh…chaerin sundel ngeselin eon !! ngapain sih balik” Ganggu Tauk !!
    Si Names…jual muahaaallll…huahahaaa XDD
    dan Jinki !!! Paboyya Namja !!! huh *buang muka*

    ok…Pity tancap ke part 8, nee ^^

  9. Teukyo makin romanti Aja >.<
    tapi pasti deh diantara kebahagiaan orang2 Ada aja penganggunya.
    Sumpah yah emaknya teuk jahat banget disini pengen gue remuk-remuk *?*
    Kkkkk

  10. Aigoo.. Scene rmh skit’y so sweet bgt, akhir’y eunkyo bls cinta jungsoo oppa..
    Raena, udh cpt trima Minho, kasian tuh anak galau mulu.. He..
    Yaak, jgn bilang eunkyo’y kguguran.. Andwee.. Gak rela..:-(
    yg nynenggol psti chaerin tuh..*dasar nenek sihir jelek*

  11. Ya ampuuunnn eon… Aku ga ridho eunkyo keguguran
    (˘̩̩̩____˘̩̩̩)
    Astagaaaaaaaaaaa
    Sumpaaah yaaa sebel bgt ama chaerin !!!
    (•`..΄•”)

    Jihiihiiiyyyy
    Rae na ngebales ciuman minho niyeeeee
    Wkwkwwkwkwkwkwkw

    Lanjut eon !!!
    \(^▿^)/

  12. Ehhmm..eonni sesuai janji sy mao komeng, sya dh bca dr part 1-6 tp komen’a d’sni aja deh,
    jahaha uukhh…sumpah sya kesel bgd sm eomma’a jung soo d’sni sinis bgd, appa’a minong jg bqin gedek stngah mati…*emosi*
    d’tmbah lg ad si rubah betina noh (baca:chaerin) pngen jambak2 rmbut’a!!
    Yg sbar ych eun kyo eonni, aq akn slalu mndo’akn mu *apaan coba*
    Kisah cinta rae na sm minong bqin gemes bgd, dan waw d’sni ad si ikan jg toh!!
    Rada pusing jg krna kbnyakan pmaen dgn kisah yg brbeda2 tp ttp seru bgd crita’a,
    waduh kya’a dh kpajangan nih komeng, yasud sya mao lanjut bca smpe kelar..
    Brangkaattt…^^

  13. aduh eon chukae. Aduh pnya anak ya. Tpi knpa pihak 3 datang lg😦. Pasti eun kyo tertekan batinnya. Pdhal bru snang2. Aduh mau ngerajam eomma dan chaerin. *eon aku msh bca teukyo aja.* aku harus tdur dlu. Karna bsok mau ujian. Gak mungkin kan aku ngisi tentang teukyo dilembran jawban gr2 aku ngeblank kurang tidui *ciuman mesra dri readermu ini*

  14. aish si chaerin ni bkn eun kyo syok mpe dia khlgn kseimbgn gt#ckcck

    lucu bget wkt eun cha, blg nado tp jinki.a ga ngerti#dasar sangtae

    kibum kamu tryt suka sm rae na#kita end#bletak

  15. aish si chaerin ni bkn eun kyo khlgn kseimbgn, mpe jatoh gt#ckcck

    lucu bget wkt eun cha, blg nado tp jinki.a ga ngerti#dasar sangtae

    kibum kamu tryt suka sm rae na#kita end#bletak

  16. makin bnyk couple dicrita ini,kyknya nasib ny park makin apes aja,dpt saingan brat,dibenci mertua,terancam keguguran lg,wduh poor ny park.

  17. Aish,Chaerin!*teriakpaketoak
    nyebelin bgt ce!
    jngn blng Eunkyu kguguran?
    q cekik jg tu Chaerin!
    Minho m Raena,ehm ad yg sneng tu ciumanx dbls!hahaha
    mdh2n tu awal hub yg lbh bwt mrk!
    tp itu,knp Yeoboq muncul?
    Donghae oppa,ntar m Jina ya?
    wah mkin bxk castx,makin seru aj ne!
    Yesungdeh,q mw lnjt bc dl onn!hehe

  18. wah mulai banyak skinship ni, suka-suka ama ni part…

    eunkyo kok bs jatuh dr tangga pasti ini gara2 chaerin awas aja klu ampe eunkyo keguguran…
    andweee…

  19. masalahnya jadi ruwet begini*jedotin kepala*
    masalah jungjin yg mau rebut eunkyo belum selesai tapi dateng chaerin,trus hyaaa apa apaan..jadi chaerin tu cinta pertama teuki ya…

    minna couple..
    udah jelas2 minho suka raena,tapi gara2 appanya raena jadi ragu deh,,
    eh aku kira kibum cuma nganggep temen k raena..tapi sebenernya kibum suka raena kan..

    hyaaaaa eonni!!kenapa bikin eunkyo jatoh gitu..eunkyo jangan keguguran dong,jebal
    issshh tu pasti perbuatanya chaerin kan,coba kalo teuki tau chaerin tu kyk gimana

  20. ahhhhhh…. padahal pas diawal2 part 7udah agak seneng krn jungsoo n eun kyo udah ngebuka hati y masing2 n jujur saling cinta aatu sama lain api knp pas mereka bahagia org2 yg nak suka pada ada disekeliling y n buat mereka susah,,,, tu siapa yg nyenggol eun kyo mpe jatoh gt eomma y jungsoo or chaerin??? tega bgt mau misahin mpe segitu y…. jujur sedih part ini n nyesek baca y eun kyo y nelen sendiri penderitaan y,,, mana jungsoo y dibuat ma eomma y ma chaerin mulu banyak halangan y dari jungjin,eomma y jungsoo n chaerin…..
    minho ma Rae na juga ngak kalah ruwet y hubungan y udah tau saling cinta tapi susah bersatu….minho jgn sampe lepas kontrol……
    bat part ini kebanyakan sedih ma nasib y eun kyo diperlakuin kyk gt,,,, eun kyo y keguguran dong???? T.T

  21. wuaahh cukhae eun kyo🙂 akhir’y kmu hamil juga
    anak’y bwa berkah nih hhe bisa bikin mereka baikan *ciee…
    itu jung soo eomma kenpa jahat banget sih,,bwa chaerin krumah’y jga #haduuh
    rae na kliatan bgt sayang sma eun kyo,,nyampe bilang kya gtu sma jung soo
    huuhh apa maksud’y itu chaerin ngomong kya gitu,, bagus dong 13 tahun dihapus oleh 2 bulang bagus dong,, eun kyoo kau hebat😀

  22. jiah…ini kenapa pada mw rebut2an ya?? jungjin mw rebut eunkyo. nah sekarang chaerin mw rebut jungsoo

    trus napa ntu eomma jungsoo ampe jahat begono seh,ampe bqn si eunkyo pendarahan

  23. OhEmjiK,, ini msalahnya udah mulai muncul atu2 ye ?! jgan blg eun kyo kguguran ? oh no……
    si nyebelin 1 belum hilang (re: jung jin),,eh nyebelin 2 mlah dtang (re: chaerin)…..
    jungsoo eomma knapa jhat gtu seeh ?!
    siapa yg drong eun kyo ampe jtuh gtu ? siapa ? siapa? ngaku gak? #esmoni…. *emosi kalee -_-

  24. semakin bnyak cast yg bermunculan.. smakin bnyak pula masalah yg mreka hdapi..

    smoga kandungan’a gpp..
    klo terjadi ap” psti eun kyo makin terpojok ajj ap lgi sma ibu mertua’a..

    huh..
    menguras emosi thor

  25. part ini banyak orang yang menyebalkan ih..dimulai dari eomma nya jungsoo yang judes banget ma eun kyo eh tiba-tiba first love nya jungsoo dateng…ckckck chae ri nyebelin yahhhh…
    kasian eun kyo, baru nikah dah tertekan gitu..
    nah loh, setelah jung jin yg mau rebut eun kyo dr jungsoo, sekarang chae rin yang mau rebut jungsoo dari eun kyo..duh semoga cinta meraka kuat ya..
    tetep ya pasangan minna, si minho tetep harus giat berjuang, hwaitting minho oppa
    next >>

  26. OH MY. . . Jgn bilang eunkyo kguguran. .dan apa itu, chaerin mau merebut teuk. . Hahaha
    cuman bisa ngakak. . Semoga part selanjutnya gag mkin sedih *terseraauthorsihyaa
    ditemuka beberapa typo. . Chukkae
    . *ampunnnn
    thanks for nice story. .keep writing. .fighting!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s