Money, Love and Trouble (Part 6)

Standar

334

Ini bukan cinta

Hanya saat-saat yang aku habiskan bersamamu

Seiring waktu yang berlalu

Sekarang aku mulai mengerti

Ini bukan hanya sekedar cinta

Tapi sebuah kebutuhan

Kebutuhanku akan dirimu

Seperti layaknya bumi membutuhkan langit

Agar bisa disebut dunia

 IDE CERITA : PARK RAE NA

Author : Park Eun Kyo


Jung Soo’s POV

Ini adalah kesekian kalinya aku memandang wajahnya saat tidur, begitu tenang, begitu polos. Tidak ada raut sedih, ataupun kesal. Sudah beberapa hari ini dia mendiamkanku. Aku mengerti dengan aksi diamnya, dia tidak mau berbicara denganku saat berdua, juga tidak ingin menatapku. Entah apa yang ada dipikirannya. Eun Kyo~ya, dengan kau bersikap seperti ini semakin membuatku bersemangat menggodamu. Kau tau? Saat paling bahagia dalam hidupku adalah saat aku berada disampingmu menatap wajahmu, menyusuri tiap jengkal tubuhmu dengan mataku. Semua yang ada pada dirimu terlihat sempurna dan begitu alami, caramu tertawa, caramu memperlakukan orang, caramu tersenyum, bahkan caramu marahpun terlihat mempesona, semua terlihat apa adanya. Setiap memandang wajahmu  membuat semua yang ada disekelilingku berjalan tidak normal. Aku merasa kuat namun juga disisi lain merasa lemah.

Aku teringat ucapan Jung Jin beberapa hari yang lalu, merebut Eun Kyo dariku? Mungkinkah dia tidak main-main? Setelah apa yang dia lakukan pada Gadis disampingku ini dia berani merebutnya kembali? Aku merasa Eun Kyo tidak mungkin kembali padanya, namun juga merasa takut jika itu benar-benar terjadi. Sepertinya Eun Kyo tidak menunjukkan kebencian yang besar terhadap Jung Jin seperti yang ditunjukkan Rae Na. Meskipun begitu, tetapi mereka punya cerita masa lalu, tidak ada aku ataupun yang lainnya, dan semua yang mereka lalui hanya mereka yang tau. Saat aku memikirkan kejadian beberapa hari yang lalu sambil menatap wajahnya, tiba-tiba dia menggeliat. Ck! Rasanya aku ingin memeluk tubuhnya tidak ingin aku lepaskan, tapi itu tidak mungkin.

“Jam berapa sekarang?” tanyanya.

“Jam 7 pagi.” Jawabku sambil menatapnya intens, dia balas menatapku dan mengerutkan dahinya.

“Jam 7? Aku terlambat, harus menyiapkan sarapan pagi.” Dia mulai beranjak dariku, namun aku menahannya.

“Hari ini hari libur, kau tidak perlu menyiapkannya.”

“Tapi apa kata orang tuamu jika aku bangun sesiang ini.” Dia mencoba bangkit, namun aku masih menahannya.

“Park Jung Soo, lepaskan aku!” serunya dingin.

“Kau sudah mau bicara denganku?” aku memberanikan diri memeluk punggungnya yang sedang duduk di tepi ranjang. Kuturunkan kepalaku dan berbaring dipangkuannya sambil menatapnya.

“Bilang saja kau sedang lelah jika mereka bertanya.”

“Tidak masuk akal, cepat berdiri aku mau mandi.” Aku bukannya bangkit tapi membenamkan wajahku di perutnya.

“Park Jung Soo, kau mau aku kembali diam?” dia mengancamku. Aku segera bangkit.

“Tidak bisa kah hari ini kita menghabiskan waktu bersama? Tanpa ada yang mengganggu?” dia berdiri dan tidak memperdulikanku.

“Aku akan pergi ke Jepang besok siang.” Dia menghentikan langkahnya.

“Aku mohon bicaralah padaku hari ini, bersamaku.” Dia melanjutkan langkahnya, masih tidak memperdulikanku. Aku segera menutup kembali pintu yang tadi dibukanya dengan cepat dan tidak membiarkannya keluar.

“Aku akan sibuk di Jepang selama sebulan, Park Eun Kyo, aku mohon jangan bersikap dingin padaku, aku tau kau marah tentang kejadian malam itu. tapi coba berusaha menempatkan dirimu di posisiku. Kau..! kau malam itu, kau yang memulainya.” Aku terbata-bata menjelaskan kejadian malam itu yang tidak sempat kami bahas karena dia terlebih dahulu memasang aksi diamnya. Dia menatapku tajam.

“Tapi mengapa kau tidak menghentikannya?”

“Aku, aku tidak bisa, lelaki manapun tidak akan bisa menahan hasratnya saat dia melihat gadis yang ada dihadapannya bersikap sepertimu pada malam itu.”

“Jadi jika yang berada di hadapanmu bukan aku, kau akan tetap melakukannya?!”

“Bukan begitu maksudku, aku hanya, aku hanya tidak bisa menahannya.”

“Sudah lah, lupakan saja.” Dia mencoba membuka pintu, namun aku tetap menahan pintunya.

“Biarkan aku keluar!” serunya.

“Aku tidak akan membiarkanmu keluar jika masalah kita belum selesai.”

“Masalah? Masalah apa yang kau maksud?”

“Kau, kau mendiamkanku seperti ini, apa itu bukan masalah?”

“Itu biasa saja.”

“Kau pintar sekali Park Eun Kyo, dihadapan yang lain kau bersikap manis, tapi saat kita berdua kau berubah 180 derajat.”

“Bukannya orang yang seperti yang kau butuhkan? Supaya kau bisa berlindung dibelakangku dengan sebuah kebahagiaan yang pura-pura ini kan?”

“Jadi kau menganggap semua ini pura-pura?!” aku mulai terbawa emosi.

“Lalu apa sebutannya jika bukan pura-pura? Hey, kita tidak saling mencintai, kita hanya pura-pura mencintai.” Dia menekankan kalimat terakhirnya.

“Dan aku dibayar untuk itu kan?” dia semakin sinis.

“Jadi begitu anggapanmu?!” dia terdiam. Aku menarik tubuhnya dan menghempaskannya ke tempat tidur.

“Aku bayar kau untuk melayaniku.” Aku membuka paksa pakaiannya, dia berusaha menahannya.

“Apa yang kau lakukan?” suaranya tercekat karena menahan bobot tubuhku yang lebih berat darinya. Aku mengunci tubuhnya dengan tubuuhku. Menahan kedua tangannya dikedua sisi kepalanya.

“Kau menganggap semua ini pura-pura kan?” aku menciumi lehernya, dia berusaha meronta, namun tenagaku lebih besar darinya, sekuat apapun dia menolaknya tetap tidak akan bisa. Airmata keluar dari kedua sudut matanya, aku tidak peduli. Otakku sudah dipenuhi dengan emosi yang memuncak.

“Jika kau menganggap semua ini adalah pura-pura, maka berpura-puralah kau menikmatinya,Park Eun Kyo.” Dia menahan teriakannya dan airmata mengalir deras di kedua pipinya.

***

Seminggu telah berlalu, aku menunda keberangkatanku hingga besok sore, dia tidak pernah mengungkit kejadian itu lagi. Dia bersikap seperti biasa, hanya saja keadaan menjadi lebih canggung. Aku tidak mengerti jalan pikirannya, mengapa tidak dibuat mudah saja? Dengan sikapnya yang seperti ini, meski tidak sedingin waktu itu, dia mau menjawab pertanyaanku jika aku bertanya, tidak seperti sebelumnya yang tidak memperdulikanku, akan semakin membuat masalah. Apa perlakuanku terlalu membuatnya takut? Park Eun Kyo, demi Tuhan aku tidak ingin membuatmu takut, aku hanya apa sebutannya? Tidak bisa menahan hasrat lagi? Aish! Apa semua lelaki bersikap sepertiku? Tapi mengapa Jung Jin mampu menjaganya seperti itu? Meskipun dia menyakiti hatinya tapi setidaknya Jung Jin tidak menodainya, ah, tapi sama saja, dia bahkan menjual Eun Kyo, itu lebih parah. Hufh, mengapa aku jadi membandingkan diriku dengan Jung Jin. Apa karena sejak kecil kami memang selalu dibandingkan? Aku rasa bukan karena itu. Park Jung Soo, jangan katakan kau merasa terancam dengan Jung Jin. Eun Kyo bahkan tidak pernah menemuinya lagi hingga saat ini, tidak menemuinya? Benarkah? Atau mereka bertemu tanpa sepengetahuanku? Entahlah.

“Jung Soo~ya, makanannya sudah siap.” Suara Eomma menyadarkanku.

“Ne, Eomma.” Aku segera merapikan bajuku dan bergegas turun.

“Mana Eun Kyo?” aku mencari Eun Kyo yang sejak aku membuka mata tidak melihat batang hidungnya.

“Dia bilang ada urusan.” Urusan? Sepagi ini? Begitu pentingkah? Dia menyiapkan semua keperluanku tapi tidak menampakkan bayangannya sedikitpun dihadapanku.

“Urusan?”

“Ne, dia tidak bilang padamu?” tanya Eomma.

“Tidak.” Aku menatap Rae Na yang sedang menyantap makanannya, dia balas menatapku dan menggidikkan bahunya tanda bahwa dia juga tidak tau apa-apa.

Jangan-janga dia… Park Jung Soo, berhenti berpikiran yang tidak-tidak!

“Aku sudah selesai, harus cepat-cepat ke Kampus.” Rae Na bangkit dan mencium pipi Halmeoni. Halmeoni juga dari tadi diam saja. Mengapa pagi ini semua orang terlihat aneh?

“Aku mau ke kamar.” Ucap Halmeoni sambil dipapah Kepala Pelayan Oh. Hanya aku berdua dengan Eomma dimeja makan. Appa jangan ditanya lagi kapan dia berangkat ke perusahaannya. Eomma menyiapkan makananku.

“Kau baik-baik saja?” tanya Eomma.

“Ne? aku baik-baik saja.”

“Maksudku hubunganmu dengan istrimu apa baik-baik saja?” tanyanya sekali lagi.

“Ah, itu, ne, kami baik-baik saja, memangnya kenapa Eomma?”

“Ani, hanya saja Eun Kyo terlihat aneh akhir-akhir ini, dia sering keluar saat kau bekerja, dia tidak bilang padamu?” aku menghentikan makanku. Keluar? Untuk apa?

“Ah, mungkin dia bertemu dengan temannya.’

“Hampir setiap hari? Itu aneh sekali.”

“Eomma.. tidak perlu khawatir, dia bisa menjaga diri.” belaku, namun otakku juga sedang berpikir keras sedang apa Eun Kyo sekarang? Dimana?

Aku meneleponnya tapi tidak diangkat, membuatku sangat resah. Aku tidak jadi membelokkan mobilku ke parkiran Restoran tapi terus berjalan menyusuri jalanan kota Seoul yang semakin padat. Aku mengendarai mobilku dengan perasaan kalut. Baru saja aku memikirkan Jung Jin dan Eun Kyo tadi pagi tapi kini aku semakin dihantui perasaan takut itu. aku menepikan mobilku saat mataku menangkap sosok yang aku kenal tengah duduk di bangku halte diujung sana. Dia terlihat murung dan tidak bersemangat. Sesaat kemudian dadaku bergemuruh melihat sosok yang lain yang menghampirinya. Jung Jin dan Eun Kyo. Sedang apa mereka? Eun Kyo terlihat menghindar namun tangan Jung Jin menangkapnya. Mereka terlibat pembicaraan serius, ingin sekali aku menghampirinya namun kakiku terasa kelu untuk melangkah.

***

Menjelang keberangkatanku, Eun Kyo menyiapkan semua keperluanku dengan detail. Dia memasukkan semua yang aku perlukan ke dalam koper. Tindakannya sekarang berubah dari yang sebelumnya. Apa wanita memang seperti ini?

“Ada yang kau perlukan lagi? Bajumu sudah cukup?” tanyanya hangat, aku menatapnya bingung. Ingin sekali aku menanyakan sedang apa dia semalam, tapi bibirku terkunci.

“Hey, melamun saja, sudah cukup? Semua keprluanmu sudah aku masukkan semua.”

“Sudah cukup.” Aku menjawabnya tanpa melepaskan tatapanku padanya, memperhatikan setiap gerak geriknya.

“Mengapa memandangiku seperti itu?” dia menoleh padaku.

“Ah, tidak.” Jawabku mengalihkan pandangan darinya beberapa detik, namun kembali menatapnya, aku tak bisa mengalihkan pandanganku darinya, mengapa dia terlihat cantik hari ini? Baju terusan putih selutut yang pas ditubuhna terlihat sangat… aku memukul kepalaku sendiri mengenyahkan pikiran kotor di kepalaku.

“Wae? Mengapa memukul kepalamu sendiri?”

“Ani, aku hanya sedikit pusing.” Kilahku.

“Kau mau pergi?” tanyaku penasaran.

“Eoh? Pergi? Iya.” Jawabnya.

“Kemana?” tanyaku cepat.

“Aku akan mengantarmu ke bandara,Oppa.” dia merapikan bajuku. Aneh kan? Terlihat sangat aneh, mengapa dia jadi berubah hangat seperti ini saat akan aku tinggalkan? Dia bahkan memanggilku Oppa.

“Wae? Mengapa memandangiku seperti itu?” mukanya terlihat bingung.

“Ani, maksudku, setelah mengantarku ke bandara, apa kau akan pergi setelah itu?”

“Pergi? Kemana?”

“Yah, barangkali saja kau mau pergi.”

“Aku tidak akan pergi setelah itu, ayo berangkat, jam berapa pesawatmu berangkat?” tanyanya sambil meraih tanganku, aku memandangi tangannya yang melingkar manis dilenganku.

“Wae? Ada yang salah?”

“Ani, hanya saja kau terlihat aneh.” Jawabku.

“Aneh? Aneh bagaimana?”

“Kau, kau terlihat lebih cantik dan.. lebih hangat hari ini, apa karena aku akan meninggalkanmu?”

“Oppa, apa yang kau bicarakan? Aku biasa saja, sama seperti sebelumnya.” Dia menarikku keluar, dan membiarkanku bingung dengan semua kelakuannya. Baru beberapa langkah keluar dari kamar, aku menahannya.

“Kau, kau tidak marah dengan kejadian… kemarin?” tanyaku ragu.

“Kejadian kemarin?” tanyanya bingung, aku juga tidak berani menjelaskan, takut dia kembali berubah. Lama kami terdiam

“Ah, kejadian itu, kau menyuruhku berpura-pura menikmatinya kan? Aku mencoba menikmatinya.” Jawabnya santai. Hufh, wanita memang aneh.

Eun Kyo’s POV

Hidup ini adalah sebuah jebakan kecil, sebuah permainan besar yang tak bisa aku hindari. Aku terjebak disini dengan beberapa alasan yang terasa sangat konyol. Sudah satu bulan lebih aku hidup disini, di rumah suamiku yang aku sendiri belum mengenalnya secara detail. Rumah suamiku yang penuh dengan berbagai peraturan. Disatu sisi aku senang disini, aku mendapatkan keluarga baru yang sangat perhatian terhadapku maupun Rae Na. Disisi lain aku juga terbebani dengan semua tuntutan ini. Dan ditengah-tengah sisi itu aku berusaha menekan perasaan cinta yang mulai tumbuh bertunas dalam jiwaku. Aku tak kuasa menahan semua rasa ini. Perasaan yang bergejolak hebat dalam dadaku jika berdekatan dengannya. Ada sebuah rasa yang tidak mampu aku terjemahkan dengan bahasa apapun untuk menjabarkannya. Aku tidak kuasa mengontrol perasaanku sendiri.

Aku sangat merindukannya. Satu bulan dia di Jepang untuk menindak lanjuti kontrak yang telah dia lakukan. Rasanya aku kehilangan semangat hidup tanpanya selama beberapa hari. Ingin mendengar suaranya, merasakan sentuhannya. Aku duduk di balkon rumah dan dikejutkan dengan sebuah dering telepon di dalam kamar, aku segera mengangkatnya. Jung Soo.

“Yeoboseyo?” aku menjawab ragu-ragu.

“Ini, aku, bagaimana kabarmu? Baik-baik saja?”

“Ne, aku baik-baik saja.” Jawabku gugup. Seperti berada dipuncak gunung yang sejuk saat mendengar suaranya.

“Bagaimana dengan Halmeoni?”

“Dia jga baik-baik saja.”

“Ah, bagus lah kalau begitu. Aku akan pulang paling cepat besok pagi.”

“Ah, ye.” Jawabku singkat.

“Kau tidak merindukanku?” tanyanya.

“Ani!” jawabku ketus.

“Sama sekali?” tanyanya.

“em… sedikit.” Jawabku.

“Hanya sedikit?” godanya.

“Jangan mulai, besok mau aku jemput atau pulang sendiri?”

“Jika kau tidak keberatan.”

“Hufh, kau tau? Disini sangat melelahkan.”

“Nde? Kau mengerjakan pekerjaan rumah?’

“Ck, justru karena aku tidak mengerjakan pekerjaan rumah makanya sangat melelahkan.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Kau kira enak hanya diam tidak mengerjakan apapun?”

“Kau kan bisa menemani Halmeoni atau kalau tidak menemani Eomma?”

“Menemani mereka selama sebulan juga begitu membosankan, bukannya aku tidak suka, hanya saja aku kehabisan bahan pembicaraan.”

“Kau kan bisa menemani Eomma, belanja mungkin?”

“Hufh, aku yang terlalu sensitive atau memang otakku yang salah, Eomma sepertinya tidak terlalu menyukaiku.”

“Itu hanya perasaanmu saja. Baiklah, aku menyelesaikan pekerjaanku dulu. Nanti kita bicarakan.” Dia mengakhiri pembicaraan.

“Chakkamman, bisa kau pulang lebih cepat?” aku berkata lirih setengah memohon padanya.

“Akan aku usahakan.” Dia menutup telponnya.

Aku menatap langit-langit kamarku, mencoba untuk memejamkan mataku, namun tidak bisa. Aku berbaring kesana kemari mencari posisi yang nyaman. Menyalakan televisi dan memencet-mencet channel yang mungkin bisa menarik perhatianku, tapi hasilnya tetap sama. Otakku terlalu kacau, mendengar ucapannya akan pulang paling cepat besok membuat system kerja jantungku bekerja dua kali lebih keras. Ada rasa yang membuncah dalam dadaku, entah apa itu aku juga tidak tau, terlalu merindukannya kah? Sepertinya, Tuhan, jangan katakan aku benar-benar jatuh cinta padanya, jangan iarkan ini terjadi karena aku tau akhirnya aku akan terluka.

Jam menunjukkan pukul 3 pagi. Aku masih tidak bisa memejamkan mataku, kini tak hanya mataku yang rewel, kepalaku pun mulai menunjukkan aksinya karena aku tidak membiarkannya istirahat. Rasanya kepalaku terasa sangat pusing, berputar kesana kemari. Aku memegang kepalaku, sambil meringkuk diatas ranjang. Apa ini efek dari tidak tidurku? Aku sering tidak memejamkan mata karena lembur tapi tidak seperti ini hasilnya. Perutku bergejolak, seolah ada yang mengaduk-ngaduk isinya, aku tidak tahan, aku muntahkan semua makan malam yang aku telan, beberapa kali aku mengeluarkan isi lambungku, setelah semuanya keluar baru aku merasa lega.

“Onnie~ya, kau kenapa?” suara rae Na mengagetkanku.

“Aku tidak apa-apa.” Jawabku sambil mengusap mulutku dengan sapu tangan yang aku basahi.

“Kau muntah? Kau sakit?” tanya Rae Na.

“Aku hanya sedikit pusing dan mual, aku belum tidur, makanya mungkin aku masuk angin.”

“Begitu? Sudah minum obat?” dia memapah tubuhku yang sedikit sempoyangan saat berjalan. Rae Na mendudukkanku di tepi ranjang.

“Mau kuambilkan sesuatu?” tanyanya.

“Tolong ambilkan air putih saja.” Jawabku. Rae Na menyodorkanku segelas air putih.

“Onnie, boleh aku bertanya?”

“Hem?” aku menoleh padanya, dia menatapaku tajam.

“Aku ingin bertanya tentang perasaanmu.”

“Tanyakan saja.” Aku menunduk.

“Apa kau masih mencintai Jung Jin?”

“Kenap menanyakan hal itu? bukannya kau senang aku sudah terbebas darinya?”

“Bukan begitu, hanya saja kau kan dulu pernah mencintainya, dan menikah dengan Jung Soo Oppa juga karena terpaksa kan?”
“Yang penting aku sudah terlepas darinya kan? Tidak usah pedulikan perasaanku, itu urusanku.” Jawabku tegas.

“Onnie, tapi Jung Soo Oppa..”

“Mau membelanya lagi? Cukup! Aku tidak ingin membicarakannya. Kau tidur saja.” Aku merebahkan tubuhku.

“Tapi Onn..”

“Park Rae Na! perasaanku itu urusanku, kau tidak perlu ikut campur! Aku masih mencintai Jung Jin atau tidak itu urusanku, berhenti menganggapku bodoh, aku tau apa yang aku lakukan.” Aku menarik selimutku dan mencoba memejamkan mataku.

“Mianhae Onnie~ya, aku hanya khawatir dengan hubungan kalian, jika kalian tidak saling mencintai apa mungkin kau bisa bertahan ditengah keluarga ini? Kau tau? Aku sudah mulai bosan tinggal disini, semuanya penuh dengan aturan. Dan kau tau? Aku menangkap tatapan tidak suka dari ibu mertuamu, itu membuatku risih, rasanya ingin pergi dari tempat ini, tapi aku mengkhawatirkanmu jika kau tinggal sendirian disini.” Aku mendengar tiap kalimat yang keluar dari mulut Rae Na, berarti bukan hanya aku yang merasa janggal dengan sikap Eomma.

“Onnie, aku tau kau belum tidur. Apa ada cara kita bisa keluar dari sini?” aku menghela nafas lalu membalikkan tubuhku menatapnya.

“Aku hanya boleh keluar dari tempat ini jika sudah memiliki anak pertama.” Aku menjawabnya lirih.

“Benarkah? Apa kau sudah punya rencana?” aku menggeleng.

“Kau selalu tidak punya rencana cadangan!” jawab rae Na ketus.

“Mianhae.” Aku membalik tubuhku membelakanginya.

“Tidak perlu minta maaf, setidaknya disini lebih baik daripada kita tinggal penuh dengan tekanan.” Jawab Rae Na.

“Onnie, berarti kau harus menjalankan misi pertamamu memberikan Jung Soo Oppa anak.” Aku membalasnya dengan lemparan guling kearah mukanya.

“Onnie, apa kau sudah melakukannya?”

“Bagaimana rasanya? Kau melakukannya pertama kali kan?” Rae Na mulai membicarakan hal yang membuat mukaku terasa terbakar.

“Apa ada kemungkinan kau akan hamil? Onnie?” aku tidak menjawab pertanyaannya, karena jika aku menjawabnya pembicaraan ini akan semakin membuatnya tertarik.

“Kau masih kecil, belum saatnya mengetahui hal itu.” jawabku mengakhiri pembicaraannya.

“Onnie, jangan-jangan kau mual dan sakit kepala karena kau hamil!” pekiknya.

“Rae Na! kau jangan bicara sembarangan!”

“Benarkan? Mungkin saja kau hamil.”

“Itu tidak mungkin.” Jawabku datar.

“Sudah kuduga kau belum melakukannya kan? Aish Onnie, kau ini bagaimana, bagaimana caranya kau bisa terlepas dari sini jika kau tidak hamil?”

“Jangan bicara yang tidak-tidak.”

“Tidak-tidak bagaimana?”

“Bicara kalau aku hamil.”

“Mungkin saja jika kau sudah melakukannya kan? Tapi itu tidak mungkin.”

“Apanya yang tidak mungkin?”

“Tidak mungkin kau hamil.” Jawabnya santai.

“Mengapa kau mengatakan seperti itu?”

“Kau sendiri yang bilang kau tidak mungkin hamil, berarti kau belum melakukannya kan?”

“Siapa bilang aku tid..” aku menggantungkan kalimatku. Shit! Dia memancingku.

“Berarti kau sudah melakukannya.” Jawabnya tak kalah santai dari ucapannya tadi.

“Kau!”

“Onnie, aku sudah besar aku mengerti akan hal itu.”

“Kau masih kecil, belum mengerti tentang semua itu.”

“Belum mengerti? Siapa bilang aku belum mengerti?!” protes Rae Na.

“Kau belum pernah terlihat jalan dengan siapapun selama ini, bagaimana bisa mengerti tentang cinta.”

“Onnie, aku sudah besar!”

“Oh ya? Tapi kau belum tau rasanya.”

“Rasanya? Maksudmu?!”

“Bagaimana rasanya melakukan itu, jadi berhenti memancingku.”

“Aku tau!”

“Jinjjayo? Aku tidak yakin!” jawabku ketus “Mana ada lelaki yang mau melirikmu.”

“Onnie, kau!” dia terlihta kesal.

“Wae? Aku benar kan? Kau belum pernah melakukan apapun, karena kau masih kecil dan belum mengerti apa-apa.”

“Aku!” dia menghentikan ucapannya.

“Wae? Jangan bilang kau sudah melakukannya.”

“Ani! Aku belum pernah melakukannya.”

“Tapi mengapa kau bersikeras kau tau rasanya?”

“Aku, aku aku..”

“Berarti kau sudah ciuman.” Aku menarik selimutku dan mencoba menutup mataku meninggalkan Rae Na yang terlihat gusar. Skor satu sama Park Rae Na.

***

Aku membantu Eomma menyiapkan makan pagi untuk semuanya. Seperti biasa, beliau tidak banyak bicara. Aku juga tidak mampu mengeluarkan kata-kata untuk mencairkan suasana.

“Apa kau sakit?” tanyanya sambil merapikan perabotan makan diatas meja.

“Tidak Eomma.” Jawabku singkat dan canggung, padahal ini sudah satu bulan lebih aku berada disini.

“Mukamu terlihat pucat.” Dia masih tidak memandangku.

“Oh, itu, aku hanya kurang tidur, tadi malam susah sekali memejamkan mata.” Jawabku masih dengan nada canggung, aku tidak bisa menghilangkannya.

“Perlu dibawa ke DOkter?”

“Tidak perlu Eomma, ini hanya pusing biasa.”

“Aku tidak mau kau tiba-tiba sakit dan menyusahkan orang lain, terlebih lagi menyusahkan Jung Soo, kau tau kan dia sangat sibuk, jika kau sakit maka akan semakin membuatnya sibuk.” Eomma berkata dengan nada sinis.

“Ah, ye, nanti sore aku akan ke Dokter.” Putusku. Semuanya sudah selesai.

“Aku akan memanggil yang lain, semuanya sudah siap.” Aku berlalu dari hadapannya. Mengapa semua yang aku lakukan selalu keliru dimatanya?

Rae Na’s POV

Suara mobil itu, pasti Minho. Aku memakan sarapanku dengan tergesa-gesa. Mendengar suara mobilnya membuatku salah tingkah memakan sarapanku. Aku menatap orang-orang dihadapanku dengan seksama. Mereka bingung melihatku yang makan dengan cepat.

“Tidak perlu secepat itu, dia tidak akan meninggalkanmu.” Halmeoni berkata dengan suara beratnya tanpa menatapku.

“Uhuk, uhuk uhuk, ehem.” Aku meraih gelas minuman dan segera menggaknya.

“Jangan terlihat seperti orang yang sedang diburu bila berhadapan dengan lelaki.” Sambungnya. Aku menatapnya.

“Teruslah bersikap tenang.” Dia kemudian menatapku. Aku masih bingung mencerna semua perkataannya.

“Aku hanya ingin cepat- cepat masuk kuliah.” Belaku.

“Perlihatkan sisi anggunmu, jangan terlihat sembarangan.” Aku menghela nafas.

“Aku sudah selesai.” Aku segera bangkit dan mencoba meninggalkan ruang makan.

“Tidak sopan sama sekali.” Dia mengataiku dengan pelan namun telingaku menangkap suaranya. Ck! Inilah mengapa aku merasa gerah hidup disini. Aku terus berlalu dan tidak memperdulikannya.

Dia menungguku di kursi teras rumah. Aku melihat punggung besarnya, dadaku terasa sesak hanya demi melihat punggungnya. Park Rae Na, jangan katakana kau mulai menyukainya, kau jangan bersikap bodoh Park Rae Na. Cita itu akan menyusahkan hidupmu.

“Kau sudah siap?” dia menoleh kearahku. Aku tidak menjawabnya. Ini adalah yang kesekian kalinya dia menjemputku, meskipun aku menolaknya dia akan tetap memaksaku. Bahkan saat dia tidak ada kuliah dia akan tetap ke Kampus untuk sekedar menjemput atau mengantarku.

“Kau tidak perlu repot-repot mengantarku, aku bisa pergi sendiri.” Aku berlalu dari hadapannya dan menjauh dari mobilnya. Dengan sigap menangkapku dan memasukkanku ke dalam mobilnya secara paksa.

“Aku sudah bilang, kau suka ataupun tidak, kau tidak akan punya pilihan selain pulang dan pergi bersamaku.” Aku malas berdebat dengannya dan aku memilih diam.

Tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku mengambilnya dari tasku. Melihat layar ponselku, aku ragu-ragu untuk menjawab. Nomor asing.

“Yeoboseyo?” aku menjawabnya dengan nada ragu.

“Yeoboseyo, Rae Na?” suara di seberang sana menyahut.

“Ye, ini siapa?” aku menoleh kearah Minho, dia pun melakukan hal yang sama, dahinya berkerut, aku menggidikkan bahuku.

“Ini, Jung Jin.” Jawabnya singkat. Aku tidak menjawabnya.

“Apa Kakakmu baik-baik saja? Apa dia bahagia?” tanyanya membuatku jijik.

“Mau apa lagi kau? Jangan menggaggu hidupnya lagi!” sahutku dengan nada tinggi.

“Aku tidak ingin berdebat denganmu, bisa kita bicara?” aku masih diam.

“Kafe dekat Kampusmu setelah kau tidak ada kuliah, aku akan berada disana sepanjang hari.” Teleponnya terputus. Aku menghela nafas.

“Nuguya?” tanya Minho sambil mengemudika setirnya.

“Jung Jin.” Jawabku singkat.

“Dia bilang apa?”

“Dia mau bertemu denganku.” Jawabku.

“Mau apa lagi dia?”

“Molla.”

“Apa yang akan kau lakukan?”
“Aku juga tidak tau.”

“Mau aku temani menemuinya?”

“Terserah kau saja.”

“Jaga-jaga kalau kau berbuat kriminal.” Mobilnya berhenti di parkiran Kampus.

“Apa maksudmu?” aku menoleh tajam padanya. Dia terlihat santai.

“Mungkin saja kau berniat membunuhnya.”
“Kau! Sialan kau!” aku memukulnya dengan tas ranselku. Dia menahannya dan dengan cepat dia mengunci tubuhku dengan tubuhnya. Jarakku dengannya hanya beberapa centi, aku bisa merasakan deru nafasnya diwajahku. Mataku dan matanya saling beradu, aku terhimpit diantara pintu dan tubuhnya. Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku, aku tidak bisa berbuat apa-apa, tinggal beberapa mili lagi bibirnya menyentuh bibirku, dan bodohnya aku tidak menghindar. Saat bibirnya menyentuh bibirku tiba-tiba saja aku mendengar suara ketukan di belakangku. Aku tersentak, begitu juga dengan Minho. Dia segera menarik tubuhnya dari tubuhku, aku segera membenahi pakaianku agar tidak terlihat seperti orang bodoh meskipun pada kenyataannya aku memang benar-benar bodoh.

“Minho ~ya, jangan melakukan itu di area Kampus.” Suara lelaki terdengar di telingaku. Jinki Oppa. aku membuka pintu mobil dan segera berlalu dari hadapan mereka berdua.

***

Aku memutuskan untuk menemui Jung Jin di Kafe dekat Kampusku, tanpa Minho, karena dia ada kuliah, aku memanfaatkannya untuk pergi sendiri. Aku menemukan sosok Jung Jin di kursi paling pojok, dia melambaikan tangannya kearahku. Aku berjalan kearahnya.

“Mau minum apa? Atau kau mau makan?” tanyanya basa-basi.

“Tidak perlu berbasa-basi, katakan kau mau apa.” Jawabku dingin.

“Kau tidak berubah Rae Na~ya.” jawabnya sambil menatapku lekat.

“Cepat katakan.” Aku mendesaknya, dia menghela nafasnya.

“Aku masih mencintai Eun Kyo.” Jawabnya singkat.

“Lalu?” tanyaku tidak antusias.

“Aku akan merebutnya dari Jung Soo.”

“Lalu? Silakan jika kau bisa, tapi perlu kau tau, kau akan berurusan denganku terlebih dahulu.” Ancamku.

“Itulah sebabnya aku mengajakmu untuk bertemu.”

“Sekarang kau mau apa?”

“Aku hanya ingin kau tau, dan tidak ingin membuatmu terkejut jika suatu saat Kakakmu tiba-tiba kembali padaku.”

“Kau percaya diri sekali.” Cibirku.

“Haha, demi Eun Kyo akan aku lakukan apapun.”

“Kau terlihat sangat pemberani dan yakin, mengapa tidak dari dulu kau lakukan?” tanyaku penuh selidik.

“Aku menyadari jika aku tidak bisa hidup tanpanya.”
“Tapi kau sudah terlambat.”

“Tiadak ada kata terlambat bagiku.”

“Terserah padamu.” Jawabku.

“Apa itu artinya kau mengijinkanku?”

“Apa aku mengatakan seperti itu? Yoon Jung Jin, kau terlihat berbeda, ada yang kau sembunyikan dari kami?” aku menatapnya tajam, dia hanya tertawa dan berlalu dari hadapanku sambil meninggalkan uang di meja. Dia terlihat sangat aneh, aku menatap kepergiannya, sepertinya memang ada yang dia sembunyikan.

Minho’s POV

Aku sangat kesal pada Jinki Hyung, dia menggagalkan usahaku, sedikit lagi aku bisa merasakan bibir manis Rae Na. entah mengapa jika berada di dekatnya aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri, otakku bahkan terkadang berpikir sedikit mesum jika berada disampingnya. Aku heran dengan diriku sendiri, begitu dalam pengaruhnya dalam kehidupanku hingga terkadang aku mengesampingkan akal sehatku.

“Kau marah padaku?” tanya Jinki Hyung.

“Ani.” Jawabku ketus.

“Yak! Kau ini, aku kan hanya bercanda.”

“Tapi bercandamu diwaktu yang tidak tepat.” Sahutku dingin.

“Haha, kau ini, dilarang berbuat mesum di area Kampus.” Jawabnya. Aku berlalu meninggalkannya yang meneriakiku. Aku tidak peduli.

***

Aku mencarinya ke sekeliling Kampus. Tidak ada. Kemana lagi kau Park Rae Na? kau seperti hantu, kadang ada kadang pergi. Tanp amemberitahuku. Aku terus mencarinya hingga ke tempat yang tidak  mungkin dia datangi sekalipun. Tapi hasilnya tetap tidak ada.

Aku melihatnya keluar dari sebuah Kafe, aku langsung berlari menghampirinya dan meraih tangannya.

“Kemana saja kau? Aku mencarimu.” Kataku dingin padanya.

“Kau ini, bisakah sehari saja enyah dari hadapanku?” jawabnya ketus.

“Tidak bisa!” jawabku yakin.

“Terkadang aku merasa seperti seorang tahanan berada didekatmu.” Sahutnya.

“Kau kira aku tidak?”

“Apa maksudmu?”

“Kau kira aku tidak tersiksa? Eoh?! Aku bahkan lebih tersksa darimu!” aku setengah berteriak padanya. Beberapa orang menoleh kearah kami, aku segera menarik tangannya seperti biasa tanpa persetujuannya, memaksanya masuk mobil, dan ku kemudikan mobil itu dengan kecepatan penuh.

“Choi Minho, kau mau membuat kita mati konyol berdua?” aku tidak memperdulikannya, dia kembali diam, entah dia takut atau dia malas untuk berdebat, tapi yang aku lihat, wajahnya menunjukkan raut kekesalan. Aku menghentikan mobilku tiba-tiba, membuat Rae Na terhunyung ke depan, dia menghela nafas tanpa berkata sepatah katapun.

“Sebenarnya apa maumu Choi Minho?” setelah lama terdiam dia akhirnya membuka mulutnya.

“Tidak bisakah kau bersikap lebih baik terhadapku? Eoh? Kau menyakitiku.”

“Kau kira aku tidak sakit? Sangat tersiksa hidup dalam baying-bayangmu Park Rae Na, kau yang selalu berkeliaran diotakku, seperti tak pernah lelah kau menggangguku.”

“Jadi ini semua adalah balasan semua itu? karena aku selalu berkeliaran diotakmu? Hah, sangat konyol, itulah mengapa aku tidak ingin terlibat dengan cinta, semua yang kau lakukan sangat konyol.”

“Tidak bisakah kau memberikan celah sedikit saja untukku?” tanyaku dingin.

“Jika aku memberikannya apa kau akan senang?”

“Entahlah.”

“Kau tidak memberiku ruang untuk bergerak sendiri, lelaki lain bahkan segan mendekatiku karena kau selalu berada di dekatku.”

“Jadi kau ingin ada lelaki lain mendekatimu begitu? Kau Kibum mendekatimu?”

“Mengapa menyangkutpautkan Kibum dengan hal ini, ini urusan kita, salah, ini urusanmu, masalahmu, kau menyeretku secara paksa dalam duniamu.”

“Aku? Secara paksa? Bukannya kau yang tiba-tiba datang dalam hidupku dan mengacaukannya?”

“Mengacaukannya? Apa maksudmu? Oh, jadi aku mengacaukan hubunganmu dengan Min Ra begitu?!” tanyanya sengit. Hey, mengapa dia menyangkutpautkan ini dengan Min Ra?

“Bukan begitu maksudku.”

“Aku pengacau hubunganmu, begitu kan maksudmu?”

“Apa aku mengatakan seperti itu? mengapa kau tiba-tiba membawa Min Ra dalam masalah ini? Aku hanya ingin kau membiarkanku mencintaimu.”

“Apa aku pernah melarangmu?”

“Tidak, hanya saja, hanya saja.”

“Hanya saja apa?”

“Hanya saja, hanya saja, aku ,menginginkanmu lebih.”

“Kalau aku tidak bisa?”

“Aku akan memaksamu.”

“Itu yang selalu kau andalkan.”

“dan kau, berhentilah menemui orang yang bernama Kibum itu, tadi kau habis menemuinya kan?”

“Choi Minho! Kau keterlaluan menuduhku! Jika aku memang bertemu dengannya, memangnya apa urusanmu? Kau bukan siapa-siapa dalam hidupku! Ingat itu!” dia berusaha membuka pintu, namun aku menekan tombol kunci otomatis.

“Kau akan menyesal mengatakan seperti itu. kau mencintainya?”

“Ck, meskipun aku mencintainya lalu apa hubungannya denganmu?!” jawabnya sengit.

“Kau milikku, dan tidak aka nada seorangpun yang dapat memilikmu selain aku.” Jawabku pasti.

“Kau gila!”

“Aku memang sudah gila.” Sahutku, aku menekan pedal gas dan melajukan mobilku menuju apartemenku.

***

Aku menarikanya keluar dari mobil dan memaksanya untuk mengikutiku. Dia berusaha melepaskan cengkramanku namun tidak bisa. Aku menggenggam tangannya kuat.

“Ke apartemenmu lagi?” tanyanya tajam. Aku tidak menjawab namun masih menyeretnya.

“Apa tidak ada tempat lain selain apartemenmu?” tanyanya lagi yang masih tidakaku jawab hingga sampai di depan pintu apartemenku.

“Aku bahkan hapal dengan kombinasi kodemu.” Dia memencetnya terlebih dahulu dan melangkah mendahuluiku.

“Aku tau dimana letak perabotanmu.” Dia mengambil gelas dan menuangkan jus lemon kedalam cangkir itu lalu meminumnya.

“Aku juga hapal letak mak.” Aku mengakhiri ocehannya dengan sebuah ciuman saat dia menoleh padaku. Dia terdiam dan membeku, kau mulai terbiasa Park Rae Na? aku melepaskan ciumanku. Dia masih terpaku, namun tidak ada tamparan lagi mengiringi ciumanku. Aku tersenyum padanya.

“Mau menginap disini?” tawarku.

“Kau gila!” serunya sambil memukul dadaku dengan ranselnya.

“Aku tau kau bosan tinggal dirumah itu.” dia menoleh padaku.

“Terlihat dari sikapmu.”

“Begitu?” dia duduk santai di sofa sambil mengambil remote tv dan menekan tombol channel.

“Lagipula hari ini kakak iparmu datang kan? Kau tidak bisa leluasa bersama Onniemu.” Aku merebut remote yang ada ditangannya dan duduk disampingnya. Aku mencari channel olah raga.

“Aku tidak mau menonton itu.” dia kembali merebut remotenya dari tanganku.

“Aku juga tidak mau menonton drama.”

“Setidaknya lebih menyenangkan daripada menonton orang memperebutkan bola.”

“Nona Park, ini rumahku, kau lupa?”

“Aku tamu, kau lupa?”

“Tamu? Kau calon penghuni ruangan ini.” Aku berbisik di telinganya, membuatnya menarik tubuhnya ke sudut sofa. Wajahnya terlihat bingung, aku ingin menggodanya, aku mendekatinya dan terus mendekatinya, dan dia terus menghindar hingga terpojok di sudut sofa, aku mendekatkan wajahku. Menatapnya lekat dan dia masih terdiam.

“Kau, mandi dulu, badanmu bau.” Aku segera melesat kedalam kamar.

“Yak! Choi Minho kau kurang ajar!!!” teriaknya namun aku sudah berlalu pergi meninggalkannya yang sedang kesal.

Author’s POV

Jinki terlihat bosan diruang tamunya. Dia membuka-buka majalah Sport yang dati tadi tidak dibacanya, hanya dilihatnya dan dibolak-baliknya.

“Jinki~ya, kau kenapa?’ tanya Eomma Jinki yang keheranan melihat anaknya.

“Aniyo Eomma, aku hanya bosan.” Jawab Jinki.

“Ah, Jinki~ya, darimana asalnya kayu yang ada disamping rumah?” tanya Eomma Jinki melanjutkan.

“Kayu” yang mana?”

“Kayu patah yang ada di ha;aman samping dibawah kamarmu.”

“Eoh? Itu? itu tadinya mau aku jadikan jemuran, tapi tidak jadi.” Jawab Jinki sekenanya.

“Jemuran?” Tanya Eomma Jinki semakin bingung. Tiba-tiba suara telepon bordering.

“Jinki~ya, angkat teleponnya.” Seru Eomma Jinki.

“Eomma saja, aku sedang malas.”

“Tapi kau lebih dekat.” Akhirnya Jinki mengalah dan mengangkatnya.

“Yeoboseyo?” sahutnya. Suara diseberang sana menjawab.

“Jinki~ya, kau sibuk?”

“Tidak, ada apa Ahjumma?”

“Aku bersama Appa Eun Cha harus pulang kampung sekarang, Nenek Eun Cha sakit, bisa aku titip Eun Cha malam ini padamu?”

“Silakan saja, dia mau menginap disini?”

“Aish, kau kan tau, Eun Cha tidak bisa tidur ditempat asing, ingat dia pulang tengah malam saat kalian kecil? Gara-gara tidak bisa tidur dirumahmu?”

‘benar juga’ bathin Jinki.

“Lalu?”

“Apa kau bisa menginap disini malam ini?” tanya Eomma Eun Cha. Hati-hati.

“Ah, ye.” Jawab Jinkki tak kalah ragu.

“Ah, syukurlah kalau begitu, terima kasih sebelumnya Jinki~ya.”

Jinki segera mengambil jaket dan segera melesat pergi ke rumah Eun Cha.

“Jinki~ya, kau mau kemana?”

“Kerumah tetangga Eomma.” Jawab Jinki sambil berlari.

“Jinki, kau belum makan.” Teriak Eomma Jinki tapi Jinki tidak memperdulikannya.

***

Jinki duduk manis di depan televisi bersama Eun Cha, mereka terlihat sangat canggung dan seperti tidak mengenal satu sama lain.

“Eun Cha~ya, mengenai kejadian semalam, aku aku tidak sengaja.” Jinki mengawali pembicaraan dengan gugup.

“Gwaenchana, aku sudah melupakannya.” Eun Cha tak kalah gugup, dia sedang mengatur perasaanya yang dari tadi bergejolak. Begitu juga dengan Jinki, dia sedang memepertahankan suara detak jantungnya yang semakin terdengar kencang dan cepat. Dia mendengar suara detak jantungnya sendiri di telinganya.

“Oh, begitu?” jawab Jinki.

“Iya.” Sahut Eun Cha.

Mereka diam membisu tak bersuara, sibuk dengan perasaannya sendiri. Jinki terlihat sangat canggung, keringat keluar dari kedua pelipisnya, dia menyekanya dan mencoba mencairkan suasana hatinya dengan mengedarkan pandangannya kesekeliling.

“Masih tidak berubah, tetap seperti dulu.” dia kembali membuka pembicaraan.

“Kau mau minum?” tanya Eun Cha.

“Boleh.” Jawab Jinki.

Eun Cha segera melesat ke dapur dan menyiapkan dua gelas air untuknya juga Jinki. Lalu membawanya dengan nampan ditangannya. Saat dia sudah hampir sampai di hadapan Jinki, tiba-tiba saja kakinya menyandung kaki meja, hasilnya dia mendarat di tubuh Jinki. Mereka terdiam beberapa saat, hingga akhirnya sadar.

“Eoh, ah, Mianhae, kau, kau, kau basah.” Eun Cha terlihat sibuk menyapu baju Jinki yang basah karena air yang dia bawa tumpah ke baju Jinki. Jinki menahan tangan Eun Cha.

“Biarkan saja.” Jawabnya. Eun Cha masih berusaha mengelap baju Jinki dengan tangannya yang masih digenggam Jinki.

“Tapi kau, aduh, maafkan aku.” Dia berusaha menggapai baju basah Jinki.

“Eun Cha.” Seru Jinki, Eun Cha tidak menghiraukannya.

“Eun Cha, hentikan aku tidak apa-apa.”

“Tapi kau..”Eun Cha sadar Jinki menatapnya tajam.

“Maafkan aku, sebaiknya kau ganti baju saja.” Eun Cha, berdiri dan ingin mengambilkan baju untuk Jinki, namun Jinki menahannya.

“Eun Cha, Joahae.” Jinki berbisik di telinga Eun Cha yang terduduk dipangkuan Jinki.

Eun Kyo’s POV

Aku menunggunya di ruang tunggu. Melihat orang berlalu lalang membuat kepalaku pusing, aku menundukkan kepalaku. Sebuah tepukan di bahuku mengagetkanku. Yoon Jung Jin. Aku menghela nafas.

“Mau apa lagi kau?” tanyaku lirih, aku lelah dengannya, dia selalu membuntuti kemanapun aku pergi. Dia duduk disampingku.

“Menunggu Jung Soo?” aku tidak menjawab.

“Kau mencintainya?” tanyanya sambil menoleh padaku.

“Kau tidak perlu tau.”

“Biar kutebak, kau hanya memanfaatkannya kan? Bagaimana kalau kau kembali padaku saja? Seperti dulu, kita mulai dari awal.” Jawabnya, rasanya aku ingin menebas kepalanya sekarang juga, namun aku menahannya.

“Jangan bertindak seolah-olah kau tau segalanya tentangku, Yoon Jung Jin, perasaanku itu urusanku, bukan urusanmu.”

“Apapun yang menyangkut dirimu adalah urusanku.”

“Cih, mengapa tiba-tiba mengejarku setalah kau mencampakkan dan mengkhianatiku? Ah, bukan, Yoon Jung Jin, kau menjualku!” aku balik menatapnya tajam, mataku dan matanya saling menatap.

“Maafkan aku, aku bisa menebus semuanya.”

“Haha, menebusnya? Setelah kau melakukannya padaku, segampang itu kau meminta maaf dan memintaku kembali?”

“”Aku tau kau masih mencintaiku.” Katanya yakin.

“Yakin sekali dirimu, kau memang tidak tau malu.” Aku beranjak meninggalkannya. Namun dia manahanku.

“Lepaskan aku.” Aku menatap tajam kearahnya.

“Aku tidak akan melepaskannya sampai kau benar-benar tidak bisa aku dapatkan.”

“Yoon Jung Jin, kau lupa jika kau yang membuat keadaan seperti ini?”

“Itulah sebabnya aku ingin memperbaiki semuanya.”

“Memperbaiki semuanya? Memperbaiki apa maksudmu? Semuanya sudah lebih baik sekarang.”

“Eun Kyo~ya, aku mohon, aku tau kau masih mencintaiku.” Aku baru saja ingin mengatakan sesuatu namun didahului oleh seseorang.

“Sebaiknya kau tidak menampakkan dirimu lagi dihadapan kami.” Jung Soo tiba-tiba datang dan menarikku dari tempat itu.

“Dimana kau memarkir mobil?” tanyanya dingin. Aku menunjuk salah satu mobil. Dia membuka pintu bagasi dan memasukkan koper kedalamnya, membukakan pintu untukku lalu dia mengemudikan mobil.

“Apa dia masih mengganggumu saat aku tidak ada?”

“Ani, hanya saja aku seperti dihantui oleh sesuatu.”

“Eomma bilang kau sering pergi saat aku bekerja, kau kemana?”

“Oh, itu, aku pergi berjalan-jalan dan mengunjungi teman.”

“Teman? Jung Jin?”

“Jung Jin? Apa maksudmu”

“Kau masih sering bertemu dengannya?”

“Aku tidak mengerti arah pembicaraanmu.” Dia tidak menjawab hanya memfokuskan matanya pada jalan.

“Oh, ah, aku mengerti, kau mencurigaiku bertemu dengan Jung Jin?”

“Bukannya memang seperti itu?” dia menoleh padaku.

“Hentikan mobilnya.” Aku yang sudah tersulut emosi semakin tak bisa menahan amarahku.

“Hentikan mobilnya atau aku akan turun sendiri!” aku mencoba membuka pintu mobil, seketika Jung Soo Oppa menghentikan mobilnya, aku segera turun dan berjalan kaki. Mobilnya mengikutiku dengan pelan. Aku berhenti disebuah halte, duduk menunggu bus lewat, mobilnya juga berhenti namun dia hanya diam saja. Tiba-tiba Jung Jin sudah ada di sampingku.

“Kita memang jodoh, bertemu disetiap kesempatan, bahkan suamimu pun tidak bisa berbuat apa-apa.” Terlihat Jung Jin menatap sinis pada Jung Soo, entah masalah apa yang terjadi pada mereka. Aku seperti terjepit diantara keduanya. Jung Soo segera membuka pintu mobil dan berjalan kearahku, menarik tanganku dan memaksaku masuk ke dalam mobil.

“Aku tidak suka kau berdekatan dengannya, apa kau lupa apa yang telah dia lakukan padamu? Semudah itu kau memaafkannya?!” dia membentakku.

“Aku tidak pernah memaafkannya! Apa aku bersikap dingin itu artinya memaafkannya? Apa aku harus selalu menunjukkan emosiku sebagai tanda aku tidak memaafkannya?! Eoh?!”

“Tapi setidaknya kau menunjukkan sikap tegasmu agar dia tidak selalu mengganggumu!” dia semakin keras membentakku.

“Memangnya apa urusannya dengnmu?! Sikapku itu terserah aku!”

“Tapi kau wanita yang bersuami!”

“Tapi kita hanya!”

“Kita hanya pura-pura?! Kau mau mengatakan itu lagi?!” dia memotong pembicaraanku. Aku terdiam, entah itu ucapan yang keberapa kali aku mengatakan jika pernikahan kami adalah sebuah sandiwara.

“Tidak bisa kah kau menjaga perasaanku Park Eun Kyo?” dia menatapku, bukan tatapan marah, tapi tatapan, sebuah tatapn putus asa.

“Aku mencintaimu.” Dia berkata seraya menginjak pedal gas. Aku membeku.

Rae Na’s POV

Masih berada di apartemennya. Aku tidak ingin pulang. Membosankan, meski hari ini adalah kepulangan Jung Soo Oppa, tapi aku merasa enggan untuk ke rumah itu lagi. Jung Soo Oppa, satu-satunya orang yang mengerti aku di rumah itu, tidak ada dirinya sebulan membuatku jenuh, harusnya aku merindukannya, tapi entahlah, aku tidak ingin melihatnya. Akhir-akhir ini emosiku tidak terkendali, terkadang aku merasa kesal tanpa sebab tapi juga kadang merasa senang tanpa alasan. Aku berbaring di sofa sambil mendengarkan music yang mengalun di i-podku. Ketika tengah menikmati alunan music, aku merasakan nyeri di perutku, perlahan mulai mulai terasa berkontraksi, shit, hari ini waktunya, ck! Menyusahkan sekali dan aku melupakannya!

“Minho~ya…” suaraku tertahan memanggil Minho sambil memegangi perutku, sakit sekali.

“Choi Minho!” aku berteriak memanggilnya. Tersungkkur jatuh ke lantai dan meringkuk menahan nyeri perutku. Terdengar suara pintu terbuka. Aku melihat Minho segera berlari menghampiriku.

“Rae Na~ya, kau kenapa?” tanyanya cemas.

“Perutku sakit sekali.” Jawabku lemah. Aku merasa keringat dingin mulai mengucur deras dari dari kedua pelipisku. Rasanya ingin menangis dan menghentikan sakit ini. Aku semakin erat memegangi perutku.

“Kau kenapa? Salah makan? Tadi kau makan apa?” aku tidak menjawab hanya meringis. Minho mengangkat ku keatas sofa, namun aku masih meringkuk memegangi perutku.

“Kau kenapa? Mau aku ambilkan sesuatu?” wajahnya terlihat sangat khawatir.

“Aku…” aku ragu untuk mengatakannya. Haruskah aku katakan? Bukan kah ini sangat memalukan? Tapi mau bagaimana lagi? Rasanya tidak mungkin membiarkan ini semakin berlarut-larut.

“Kau mau apa? Katakana saja!” dia memegangi kedua pipiku.

“Tubuhmu dingin, sakit sekali?” aku mengangguk. Dia meremas tanganku, berusaha menenangkanku, tapi tidak ada gunanya, sakitnya tidak berkurang sedikitpun, malah semakin nyeri.

“Kau kenapa? Katakanlah padaku.” Desaknya.

“Aku, aku, aku sepertinya sedang menstruasi.” Jawabku lirih. Dia terdiam sesaat.

“Lalu bagaimana?” tanyanya ragu.

“Bisa kau?” aku memandang wajahnya.

“Akan kulakukan.” Jawabnya yakin.

“Aku ingin kau, bisa kau membelikanku pem…balut?” dia terdiam sesaat.

“Baiklah. Tunggu disini, kau bisa bertahan?” aku mengangguk. Dia merebahkanku di sofa. Dan segera beranjak dariku.

“Jangan pakai sayap, aku tidak suka.”

“Memangnya ada yang pakai sayap?” tanyanya bingung, aku jadi merasa malu, tapi aku memang tidak suka yang pakai sayap.

“Katakan saja pada penjaganya, dia akan tau.” Jawabku.

“Baiklah.” Dia segera bergegas pergi.

“Mau dibelikan obat?” tanyanya kembali.

“Penghilang rasa sakit.”

“Yang mana?”

“Terserah saja, bilang saja pada penjualnya, dia juga pasti tau.”

“Baiklah, tunggu sebentar, aku tidak akan lama.” Jawabnya.

***

Lumayan lama juga aku menunggunya, aku masih berbaring diatas sofa. Ck! Lama sekali kau Choi Minho, mau sofamu penuh dengan noda? Tidak bisa ditahan sama sekali, apa kau tidak mengerti? Eoh? Aku segera mengambil ponsel dan memencet nomornya.

“Yak! Mau berapa lama lagi? Mau sofamu penuh dengan noda?” aku langsung mencecarnya dengan omelanku.

“Kau ini tidak sabaran sekali. Sebentar lagi juga sampai.” Memang benar, tidak sampai 5 menit dia sudah berada dihadapanku. Aku segara mengambil bungkusan yang ada ditangannya dan segera berlari ke kamar mandi. Aku mengganti pakaian dalamku. Shit, aku tidak punya pakaian dalam cadangan, percuma punya pembalut.

“Minho~ya.” Aku memanggilnya.

“Ye, ada apa lagi?’ jawabnya sedikit kesal.

“Kau, aku, ah, apa…”

“Celana dalam?”

“Itu maksudku.”

“Buka pintunya.” Aku membuka sedikit celah agar tangannya bisa masuk. Aku segera menggantinya. Akhirnyaaku bisa bernafas lega, meskipun rasa nyeri di perutku masih sangat terasa. Aku segera keluar dan menghampiri Minho yang duduk di sofa.

“Ada nodanya?” menanyakan sofanya, siapa tahu ada noda yang merembes.

“Tidak ada.” Jawabnya singkat.

“Mana obatnya?” aku menagihnya sambil menjulurkan tanganku.

“Omo! Aku lupa. Tunggu sebentar akan aku belikan.” Dia berlari cepat.

Minho’s POV

Aku terkejut melihatnya kesakitan seperti itu, aku bahkan lebih takut darinya karena tidak tahu apa yang telah terjadi pada dirinya, setelah aku tau bahwa tamu bulanannya datang, baru aku merasa lega. Aku segera berlari membelikannya. Semoga tidak akan lama. Sangat menakutkan menemukannya meringkuk seperti itu, apa sesakit itu? aku menjadi kalut. Segera menuju toko obat terdekat.

“Agasshi, bisa minta obat penahan sakit?”

“Tunggu sebentar.” Penjaga toko itu masuk ke dalam dan kembali dengan membawa obat.

“Mau yang mana?” dia menyodorkanku beberapa obat.

“Yang ini penahan sakit, lumayan cepat.”

“Kalau yang ini, obat alami, tidak banya efek samping.”

“Aku mau yang cepat menghentikan nyeri saat sedang menstruasi.” Jawabku cepat. Pelayan itu terlihat bingung menatapku, dia melihatku dari kaki sampai kepala.

“Untuk istriku.” Jawabku cepat. Dia tersenyum.

“Aigoo, kau suami yang bertanggung jawab.”

“Sudah lah, cepat berikan padaku.” Aku mendesaknya.

“Yang ini saja Tuan, ini mengatasi kejang perutnya. Tapi yang herbal ini llebih aman, jika tidak terlalu sakit yang ini saja.” Aku bingung dengan semua penjelasannya.

“Aku beli semuanya saja.” Aku mengeluarkan kartu kreditku dan segera menyambar bungkusan yang ada ditangan pelayan itu, lalu berlari ke mobil dan melesat pergi kembali ke apartemenku, semoga rae Na bisa menahannya.

***

Aku mendapati pintu apartemenku terbuka, siapa yang amsuk tidak menutup pintu? Apa Rae Na sedang pergi? Aku langsung masuk ke dalam dan terhenti melihat sosok yang ada dihadapanku.

“Berani sekali kau mengganggu putraku, memangnya kau siapa? Berani mendekati putraku?” aku terdiam, dia tidak menyadari keberadaanku. Rae Na terlihat pucat, entah menahan sakit perutnya atau sakit hatinya.

“Sebaiknya kau jangan mendekatinya lagi, karena dia akan menikah dengan Min Ra sebentar lagi, aku sudah menetapkan tanggalnya. Kau sebaiknya menyingkir jika tidak ingin aku lenyapkan, mudah bagiku menyingkirkan sampah tidak berguna sepertimu.” Ini sudah keterlaluan.

“Kau memang tidak tau malu, ingin berhadapan dengan Min Ra  memangnya siapa dirimu?” dia semakin menjadi, Min Ra yang ada di belakangnya tersenyum penuh kemenangan.

“Cukup.” Aku memotong pembicaraannya.

“Cukup, keluar kalian dari apartemenku.” Aku mengusir Appa dan Min Ra.

“Kau berani mengusirku?” jawabnya emosi.

“Minho~ya.” Sahut Min Ra manja.

“Diam kau!” aku menatap tajam kearahnya.

“Harusnya dia yang keluar.” Min Ra menunjuk kearah Rae Na. Rae Na segera mengambil ranselnya dan beranjak, aku menahan tangannya namun dia menepisku. Aku melihat bulir airmata mengalir dari sudut matanya, dia menyembunyikannya tapi aku bisa melihatnya. Dia pergi.

“Apa yang kau katakana padanya?” aku menghampiri Appa.

“Kau! Apa otakmu sudah tidak normal?!” dia membentakku.

“Apa yang kau katakana padanya! Kau keterlaluan!” aku berteriak dihadapannya.

“Kau tidak menuruti perkataanku, sudah aku bilang jangan menemuinya lagi, tapi kau tidak menurutiku.” Bentaknya.

“APPA! Apa aku pernah membangkang darimu? Kau selalu mengaturku! Aku selalu berusaha mengertimu, meskipun aku tidak suka tapi aku tetap menjalaninya!” nafasku menderu menahan emosi yang meluap. Dia hanya diam dan menatapku tajam.

“Dari kecil aku selalu menuruti perintahmu! Aku bukan robot! Aku manusia yang punya perasaan! Perasaan marah, tidak suka dan juga benci! Aku membencimu, sangat, tapi aku tetap menghormati semua keputusanmu! Kau tau pasti aku membencimu tapi kau terus memaksaku, kau lupa aku juga punya rasa cinta! Aku mencintainya! Dan aku akan menikahinya, aku sudah bilang kau suka atau tidak, aku akan tetap menikahinya!” dia terdiam. Min Ra mencoba menenangkan.

“Minho~ya.” Serunya menjijikkan.

“Diam kau! Kau yang menyebabkan semua ini, apa kau tau aku tidak suka padamu? Apa kau tidak mengerti aku tidak mencintaimu? Atau kau ingin aku mengatakan secara jelas bahwa aku membencimu Seo Min Ra!” Min Ra terlihat berkaca-kaca, aku tidak perduli, aku sudah menahan semua ini, mencoba mentolerir kelakuan dua makhluk dihadapanku ini.

“Aku, aku tidak.” Min Ra masih mencoba membela diri.

“Tidak perlu menjelaskan apa-apa. Sebaiknya kalian segera enyah dari sini. Jangan kembali lagi.”

“Kau, kau akan menerima akibatnya Choi Minho.” Ancam Appa.

“Aku tidak takut.” Aku menatapnya tajam. Eomma, maafkan aku, aku tidak menuruti semua keinginanmu untuk tetap menghormatinya. Mereka berdua keluar dari apartemenku. Rae Na!

Aku berlari keluar ruangan. Memencet ponselku mencoba menghubunginya. Tidak dijawab sama sekali. Aku menelepon Eun Kyo Noona.

“Noona, kau sedang sibuk?” aku mencoba berbasa basi dengannya.

“Tidak, wae? Aku masih dalam perjalanan.” Sahutnya.

“Rae Na, jika dia sudah pulang, beri tahu aku.” Aku mengakhiri pembicaraan, aku yakin Eun Kyo Noona sedang kebingungan di seberang sana.

Aku masih tidak tenang tetapi tidak bisa berbuat apa-apa, dia dalam keadaan kurang baik, ditambah lagi hatinya sedang kacau. Dua jam berlalu, tidak ada kabar darinya, dihubungi juga tidak diangkat, Park Rae Na, tidak tahu kah kau aku sangat mencemaskanmu?

Jung Soo’s POV

Aku masih mendiamkannya setelah insiden pertengkaran kami tadi. Minho sempat menelepon Eun Kyo menanyakan keberadaan Rae Na, ada apa lagi dengan anak itu? sepertinya ada banyak masalah ketika aku datang. Tidak bisa istirahat, padahal aku pulang ingin memperbaiki keadaan, tapi nyatanya semakin memperparah keadaan. Dia juga hanya diam saja, tidak berusaha memulai pembicaraan. Aku memperhatikannya yang sedang menyisir rambutnya setelah mandi. Wajahnya terlihat pucat, aku sebenarnya khawatir terhadapnya. Apa dia benar-benar tertekan disini seperti yang dia ceritakan semalam? Mianhae Eun Kyo~ya, kita tidak bisa keluar dari sini sebelum kau melahirkan anak pertama. Aku masih menatapnya, ingin rasanya aku memeluknya melepaskan rindu yang selama sebulan ini aku pendam. Dia masih diam dan masih asik menyisir rambutnya. Aku mendengar derap langkah di luar kamar, Rae Na, dia pasti sudah pulang, Eun Kyo segera menghampirinya, namun tidak digubris oleh Rae Na, Eun Kyo kembali ke kamar dan meraih ponselnya.

“Rae Na sudah pulang, ada apa dengan kalian?” pasti Minho. Aku tidak ingin mendengarkan pembicaraan mereka, aku lebih memilih untuk keluar dari kamar. Kakiku melangkah keatas, kamar Rae Na.

Tok tok tok.

Tidak ada sahutan. Aku mencoba mengetuknya lagi, tetap tidak ada jawaban. Ada sedikit kekhawatiran dalam benakku tentang Rae Na.

“Rae Na~ya, ini aku.” Aku mencoba memanggilnya.

“Rae Na, kau baik-baik saja?” tidak ada jawaban.

“Biarkan aku masuk, jebal.” Beberapa saat kemudian terdengar suara kunci terbuka, namun pintu tetap tertutup. Aku mencoba membuka pintu dengan perlahan, menyembulkan mukaku di depan pintu.

“Boleh aku masuk?” aku meminta ijin padanya.

“Silakan saja Oppa.” sahutnya. Aku duduk di tepi ranjang tempatnya berbaring.

“Kau kenapa? Berselisih lagi?” dia tidak menjawab.

“Kau sakit?” dia tetap tak menjawab.

“Aku lagi nyeri haid.”

“Oh.” Aku tidak biasa menghadapi wanita yang sedang haid dan aku tidak mengerti bagaimana rasanya.

“Ada apa oppa?” dia duduk disampingku.

“Jika kau sakit, tidak perlu duduk, aku keluar saja.”

“Gwaenchana, aku baik-baik saja, jangan khawatir.”

“Kalau begitu kau istirahat saja.” Aku menyentuh kepalanya, dan melangkah pergi.

“Oppa, temani aku.” Aku berbalik menatapnya.

“Ne?”

“Temani aku.” Jawabnya lirih, aku berbalik arah menujunya.

“Kau kenapa?” dia hanya diam dan menyandarkan kepalanya dibahuku.

“Aku lelah.”

“Nde?”

“Apa aku begitu tidak berguna?”

“Apa yang kau katakan?”

“Apa aku terlalu kekanak-kanakan? Mengganggu orang lain? Aku menyusahkanmu? Menyusahkan orang lain?”

“Mengapa bicara seperti itu?” aku menatapnya.

“Minho yang mengatakan seperti itu?” dia menggeleng.

“Lalu?”

“Bukan siapa-siapa.” Jawabnya. “Kau sendiri? Ada masalah?” tanyanya padaku mengalihkana pembicaraan. Aku tidak ingin memaksanya bercerita meski rasa penasaranku begitu besar.

“Aku… memang ada sedikit salah paham.”

“Wae?”

“Aku bertemu Jung Jin.” Dia menghela nafas.

“Dia lagi.” Sahutnya lirih.

“Aku tidak suka dia dekat dengan Eun Kyo, apalagi menemuinya.”

“Apa yang dia lakukan?”

“Aku tidak tau, apa dia terlihat mengganggu Eun Kyo akhir-akhir ini?”

“Molla, wae?”

“Eomma bilang Eun Kyo sering keluar. Apa mungkin mereka sering bertemu? Kau sendiri kan bilang Eun Kyo pernah sangat mencintai Jung Jin.”

“Dasar gadis bodoh, aku tidak tau dia sering keluar, tapi jika dia melakukan hal itu, dia sangat bodoh!” ucap Rae Na geram.

“Itu yang aku takutkan.” Lirihku sambil menunduk.

“Oppa, kau benar-benar mencintai Onnie?”

“Molla, hanya saja aku tidak bisa mengontrol diriku jika berdekatan dengannya, kadang emosiku meluap oleh hal-hal yang tidak perlu dikhawatirkan, kadang juga bahagia dengan hal yang tidak penting, kadang ingin selalu di dekatnya, tapi kadang juga merasa sangat jauh darinya.”

“Begitu rumit kah?”

“Itu yang aku rasakan.”

“Apa itu salah Oppa? Jika seandainya aku menyukai orang lain, apa aku terlihat bodoh seperti Onnie?” aku memukul kepalanya.

“Oppa, Appeuda..” dia meringis.

“Kau mengatai saudaramu sendiri.”

“Aku hanya tidak ingin seperti Onnie, tapi aku juga tidak bisa mengendalikan perasaanku sendiri, meski aku sudah mencobanya.” Dia menunduk.

“Minho, kau menyukainya?”

“Entahlah.”

“Kalau begitu kau lebih bodoh dari Onniemu.”

“Yak! Aku tidak lebih bodoh darinya, aku masih punya akal sehat.”

“Tapi setidaknya dia tau perasaannya sendiri.”

“Oh ya? Kau tau dia sekarang mencintai siapa?”

“Itu hanya dia yang tau. Tapi aku sudah mengatakan aku mencintainya, dia hanya diam, aku mengatakannya saat bertengkar dengannya.”

“Haha, terang saja dia tidak menjawab, kalian akan sedang bertengkar, sekarang dimana dia?”

“Dia ada dikamar.” Beberapa saat kemudian aku mendengar sedikit kegaduhan. Suara sesuatu yang jatuh. Aku segera turun kebawah bersama Rae Na, tidak ada yang salah, aku memasuki kamar, Rae Na mengecek ke ruangan lain, tidak ada Eomma dan Appa karena mereka sedang makan malam diluar. Halmeoni sudah malam begini pasti sudah tidur. Aku tidak mendapati Eun Kyo di dalam kamar, dimana dia? Pergi lagi? Aku mencoba mencarinya di kamar mandi. Betapa terkejutnya aku, Eun Kyo tergeletak pingsan di kamar mandi, semua perabotan dikamar mandi berantakan. Aku segera mengangkatnya dan memanggil Rae Na.

“Rae Na~ya, panggil Dokter kemari.” Rae Na terlihat bingung, melihat Kakaknya tak berdaya baru dia sadar dan segera keluar menelepon Dokter. Aku melihat muka Eun Kyo putih pucat, tangannya dingin aku memeluknya, harusnya aku menyadarinya dari tadi ada yang tidak beres dengannya. Mukanya sudah pucat sejak tadi. Aku terus memeluknya memberikan kehangatan. Setengah jam kemudian Dokter Han datang. Dia memeriksa keadaan Eun Kyo, aku memperhatikan Dokter itu memeriksa keadaan Eun Kyo.

“Tuan Park, istri Anda sedang mengalami anemia berat.” Aku terkejut.

“Apa berbahaya?”

“Jika dibiarkan saja akan berbahaya.”

“Jadi harus bagaimana Dok?”

“Dia harus segera dibawa ke rumah sakit.”

“Bawa sekarang juga Dok, aku tidak mau terjadi apa-apa dengannya.”

“Apa dia selama ini bekerja berat?”

“Aku tidak ada disini selama sebulan.”

“Sepertinya penyakitnya sudah lama, namun dia menahannya, hingga seperti ini.”

“Dia memang tidak pernah bercerita jika sedang sakit Dok.” Timpal Rae Na.

“Keadaannya semakin buruk karena dia sedang mengandung.”

TBC

Akhirnya selesai juga, aku kembali dengan imaji liarku yang tidak tau arahnya kemana, sebenarnya aku tidak ad aide sama sekali, tapi liat sms Rae Na yang bilang kalo kangen MLT aku jadi tidak enak, juga tidak enak membuat kalian menunggu *emang ada yang nunggu gitu, pede amat dirimu Fika~ya* iayh, akhirnya aku mint aide dari Rae Na, jadi ini semua idenya Rae Na, ide aku cumin dikit, aku hanya mengembangkan ide Rae NA, hanya membantunya menyampaikan dengan sebuah tulisan. Ini tulisanku ancur banget g nyambung sama sekali, mianhae… aku terlalu lelah, dan ideku benar-benar tidakada, aku juga ga tau bakalan dibawa kemana ini MLT pada akhirnya. Jika ini tidak sesuai harapan kalian aku minta maaf *bow bareng Teuki* jika ada yang suka aku sangat berterima kasih… *dapat ciuman dari aku* daripada banyak omong akunya, kalian komen aja, silakan sampaikan kritik tapi yang sopan yah… terus ini aku males ngedit, jika ada typo harap maklum…

110 responses »

  1. Hohohooo. . .
    hai,hai,haaiiii *lambai2 ala miss kodok*
    krna trobsesi pen muncul d’komen prtma,jd saia muncul sja..
    ayoo.. baca dlu ah..wkwk *saia bca’y lelet eon,jd mian muncul dluan*wkwk xp xp

  2. Aje gile onn..
    Daebaaakkk..
    Ga ada mesumnya tapi aku tetep merinding..wakakakak

    ah itu minho..dmen banget nyosor2 deh…
    Aku mauuuu…

    Onnie, dirimu mengandung??
    Mengandung apa??

    Jungjin,,sini kejar aku aja jangan kejar eun kyo mulu..aku kosong ko *ngakak*

    errr…onnie..

    • buahahahahaha, dirimu kepengen dkejar jg??? *geleng2 kpala* km mah memang gila yeobo…….!!!

      mau disosor juga? sm angsa mau??? *merinding karena tiap pagi brhadapan dgn angsa*
      tau jg aku bingung mengandung apaan yah??

      pertamanya pngn bikin NC tp rasanya aneh bgt, tapi aku memang lg tergila-gila sm skinship… rasanya bikin greget gmana gtuh.

  3. Yah eon ga da nc nya…padahal dah ngarep gila ada ncny hehhe..eon tau ga gara gara ni ff..aku jadi tergila gila ma teuki oppa*dihajar.digebukin.diceburin di sungai han ma eonni* *hwa minta tolong ma wonppa*
    jadi eon mending lanjutanny cepet cepet lok ga teuki oppa aku iket n sekap di kamarku..*seora ngancem* hehe..tapi ni epep beneran bagus eon..lanjut

  4. aku dataaaaanggggg….!!!!!!!!!!

    itu.. itu… oppa… kenapa dirimu jadi Crazy??? terpesonahkah???
    Onn dirimu hamil?????
    wow,,,,, chukkae….. #lempar telur+tepung#…. akhirnya penantian keluar rumah itu bakalan terkabul…
    tp Oppa… kamu haruz mnjg istrimu baik2 #lirik jung jin#

    minho ma rae na tambah seru juga tuh…
    jika rae na nggak mau minho buat aku aja #boleh rae na??#

    jinki akhirnya bil ma eun cha…. *gitu donk,,, dari dulu kah*

    Onn… kasihan banget dirimu d gituin ma mertuamu…
    hiks…hiks….

    finally,,,,,
    hoam,,, sleepy…
    see U later onni….

    • see u next time..
      makasih syg udah nyempetin baca muah muah…
      oh pasti mah oppamu bakalan jagain aku… tenang aja..
      rae na? minho? tau tuh siluman kodok bedua ga jelas banget hubungannya…
      digituin mertua? yak! itu ibumu sndiri…

      • omma memang seperti itu onn…
        sebenarnya dia baik kok… #belain omma#
        beliau susah dekat dengan orang baru mengingat dirimu yang langsung masuk di keluarga kami secara tiba-tiba d bawa oleh tuekppa… *Jjjaaah*
        tapi ketika dia dah kenal palagi dah sayang dia akan amat sangat menyayangimu, melindungimu dengan baik #pandangan sbg anak#

        tuekppa kan anak kesayangannya omma.. hueeee aku bukan….
        makanya dy kaget tiba2 oppa datang dan membawa dirimu bersamanya dan mengatakan akan menjadi istrinya padahal slama ni oppa tdk prnah bawa gadis k rumah..
        sooooooooo……
        beruntunglah dirimu menempati posisi itu onn… #posisi penyerang#
        wink2,,,,,

  5. Omoooo…Pda hoby main paksa sja…Tp romantis jg !! huwaaa….akhrny impian trbesarmu trwujud…mengandung buah hati dr teuki oppamu…membyangkanny sdkt tdk percya @dgorok fika@ tau g aq jg ingn skali brbuat krminal trhdp min ra dan jun jin….bisa2ny kau mencptkn orng sebenybalkn itu…onnie tggu part lnjtnny…HWAITING…. @HUG FIKA@

    • tidak percaya? emang tidak bs dpercaya onn, hahahahahahaha
      mengandung? sbnrnya fika kaga mau onn…
      mau berbuat kriminal? jgn onn, nanti masuk penjara…
      menciptakan org menyebalkan seperti mereka? mereka itu penyeiimbang onn… ibarat bumbu tu mereka pedes2nya, g pedes g sip…

  6. Omoooo…Pda hoby main paksa sja…Tp romantis jg !! huwaaa….akhrny impian trbesarmu trwujud…mengandung buah hati dr teuki oppamu…membyangkanny sdkt tdk percya @dgorok fika@ tau g aq jg ingn skali brbuat krminal trhdp min ra dan jun jin….bisa2ny kau mencptkn orng sebenybalkn itu…onnie tggu part lnjtnny…HWAITING…..yg ttg jinki mb eun cha dtmbhin yg bnyk..hehe

  7. hehehe….
    mianhae omma… hpQ aktiv cuma Q silent….
    hehehe^^v

    dh kment dlu….
    ngpain si jungjin ngubek” khdpan.a eunkyo lg???
    gk tau ap eunkyo dh pu.a malaikat surga yg bsa brubh mjdi iblis untk menbasmi org” yg brniat mengganggu khdpan.a enkyo.
    ckckck….
    cri mati tu org…

    calon pnghuni apartement???
    clon istri donk….
    khekhekhe….
    dh mulai jath cinta nh kyk.a si raena… ;p

    yeeee…
    dapet adeeeee….. \(^Δ^)/

    #plaaakkk

    khekhekhe….
    aQ minta yg kembar ya…. ^Ξ^

    hehehehe….
    cwe-cwo ya….😉

    lnjutan.a jgn lma” ‘mma…
    aye bsa kratan nunggu.a…
    okok…. ^^b
    klo prlu bntuan, aQ brsdia membntu…😀

    • iya noh jung jin cari mati… dasar bunuh aja deh tu org…
      rae na mau g sm minho, kaga tau akunya…
      karatan?? aigoo kasian….
      tolong ketikin aja yah, bs ga? cape ngetiknya…..
      mnta kembar, yak! enak aja drmu…

  8. Huweeeee..
    aq gila lg *makin hari makin gila aja*

    teukyo,baru 2kali ngelakuin lgsg hamil.,hahaa *2kali yg trshoot kamera,sisa’y rahasia*wkwk *d’timpuk eon gr2 bongkar rhsia eonnie*

    minna ajigeleeee.. ga ada tenang2’y yah kehidupan 2bocah ini.. sm2 kekeuh,yg 1 kekeuh pen memiliki,yg 1 kekeuh gr2 ga mau jd org bodoh..ckck *toyor pala minna b2* ==’

    horeee.. jinki akhir’y blg,tp hati2,blm tentu lho eun cha mu itu ngerti mksud’y.. coz itu yeoja 1 rada2 jg sie *pity eon: rada2 apa euh? (ngasah golok)*

  9. horayyyy teukppa ma eunkyo ‘GITUAN’ dan akhirnya menghasilkan anak *punya ponakan baru*

    Tapi tapi tapi….
    Apakah teukppa nanti nya akan mencurigai eunkyo hamil anak joonji ?????????????????????????????????????

    Ehmmm Rae na ke ganggu jinki ni kekekekeke

    Omo omo appa mino jahat bgt

    • lihat saja kelanjutannya, apakah oppamu sejahat itu, spertinya dirimu yg tau, wahahahahahahahaaha.
      tau noh rae Na jengkel dgangguin Jinki padahal… wahahahahahaha, g papa syg, g berbobot yang penting asik dan g ngebash, kita saling menyayangi, hohohohohoho, makasih syg udah mampir…

  10. eonniiiiiiii!!
    ah mian baru sempet baca… hehehe

    ahhh aku kangen dengan MLT tp akhirnya terbayarkan jg,,,,
    johae…hahaha
    ahh
    knp sih jung jin balik lagi bkin ruwet aja deh….
    omo omo eun kyo hamil aigoo, jungsoo adjushi tokcer jg..wkwkwk

    aku senasib sam rae na haid yg cukup menyakitkan *abaikan* hahaha

    ahh aku juga tertarik nih eon sama kisahnya jinki eun cha….
    ayo lanjut ak tungguuu!!!

  11. beruntung jadi istrinya maksudku…
    kandidat?????
    kandidat tuk tuekppa buanyaaaak bangaaaattt….
    hahaha,,,,
    z berpikir sama ma @Dwi_h@E….
    jika jealous dah high maka otak pun nggak bisa berpikir jernih…..
    carefully ONN…

  12. onnie~ya .. Maaf baru bisa comment u,u aku suka part ini~~~ Leeteuknya aw, me-nan-tang *.*
    aku suka pas Eunkyo pas ngomong “Ah, kejadian itu, kau menyuruhku berpura-pura menikmatinya kan? Aku mencoba menikmatinya.” ngga tau kenapa, tapi aku merasa miris banget-_-
    kenapa Eunkyo bisa hamil !!!!! Aku ngga pernah baca NCnya !!!!!! #plak~ :p

  13. tapi aku mau liat #plak haha ..
    Onnie !! Teukie ikut WGM😥 aku bukannya ngga suka, malah aku pengen banget Kyuhyun sama dia ikut WGM !! Tapi Teukie .. Ah, aku sebel ! Dia lagi sibuk banget, hello baby aja belum selesai, kenapa harus ditambah lagi ?? Teukie kan jadi sibuk banget !! Kenapa ngga member yang lain aja, Kyuhyun gitu-_-

  14. hahaha….
    Ayo… sapa takut….
    *narik ichul dri camp iliter pke kawat…. -mwo??? (ΘΔΘ”)*

    wkwkwk…
    pasti dh….
    i’m sure rena is starting falling in love with minho…. afterall, who’s can recived his carismatick?? hahaha….

    mwo???
    ngetik??? aQ yg bkin donk jdi.a…:/
    gmna sh ‘mma…:/

    khakhakhakha…. ^Θ^v
    iya aQ minta kembar….!!!!
    wkwkwkwkwk…. ^Ξ^v

  15. Annyeong oenni :* mianhe baru bales kemaren hp lemot sekali T_T aigo oenni aaaaaa ini ff nya feelnya dapat :’ tapi baru 85 % tapi teteupppp bagus ae :*

  16. EONNIEEEE…..MIANHAEEEE BARU NONGOL !!!!!
    SEBENAR’A UDAH BACA SEPARUH, TPI BERHUBUNG PITY LAGI GALAU SAMA SESUATU~ YG GA JELAS YANG MEMBUAT PITY TERMEHEK-MEHEK SENDIRI (?)
    AKHIRNYA BARU LANJUT BACA’A *DEEPBOW BARENG ONEW*

    JUNG JIN NAPPEUN NAMJA !!! ENYAHLAH KAU KE MADAGASKAR !!!!
    EUN KYO BUNTIINGG !!! CEPAT AMAT EON NGISI’A ?? SI TEUKPA SUBUR NIIH (?)

    SI MINNA MESS MESS KOPEL *HUAHAHAAA* UNTUNG ADA JINKI SI ANGEL YG MENYELAMATKAN DARI PERBATAN TAK SENONOH MEREKA…WAKAKAKAA *CIPOKIN UNYU BERTUBI*

    EON…SI EUNCHA ITU BISA TIDUR DIMANA AJA…DIA MAH FINE” AJA ASAL AMA UNYU..HOHOHOONYUUU~
    EH, ABAANGG…KAMU DISINI KO’ BRASA LEMBUT-LEMBUTT GIMANAAA GITU~ *PITY CINTA DWH* XDD

  17. Huaaaaaaaaa seneeengggggg
    Ga sabar nunggu jungso junior
    Wkwkwwkwkwkwkw

    Aaahhh minho
    Kelakuanya bikin guling-guling ditempat tidur aja nih (?)

    Lanjut eon !!!
    \(^▿^)/

  18. minho,,,,,senengnya nyosor mulu nih,,,,tapi kayanya rae na udah mulai seneng tuh dcium minho,kkkk
    golok,,mana golok,,,aq mau pake buat mutilasi si jungjin,ngapain sih tu orang mesti nongol lagi d kehidupan kyo,,,

    akhirnya jinki bilang juga ma euncha,dari dulu keq*dgetok jinki*
    seru oen,sumpah aq sampe g bisa berhenti nih buat baca,,,

  19. Eonni, kau sungguh memporak porandakan hari ujianku buat bsok *nangis dipojok* aduh knpa lg dgnmu eonni? Knpa babo sekali. Udah jelas2 kamu it mencintai eteuk, knpa msh brtngkar. Dan apa it? Kntpa kmu anemia eon? Apa yg kmu kerjakan selama etuek oppa meninggalkanmu. Aku kra kmu hamil eon. Kan kalian udah 2 kali gt2 *bnaran atau salah. Hahaha *reader minta mati saya ini*

  20. akhr.a ucpn cinta keluar jg dr mulut teuki dan jinki#oyeyoyey#nari gaje

    dan kbr baik.a eun kyo hamil, eun kyo tw ga kalo dia lg hamil?

    knflik hbgn minho ma rae na udh mulai naik, kasian jg min ra dimarahn minho..

  21. jungjin sebenernya beneran cinta ama cma mau manfaatin eunkyo lagi sih? kalo mau nyari cewek ambil minra aja deh, drpd gangguin minho ama raena mulu #plak
    yattaaa~ akhirnya eunkyo hamil jugaaa :p

  22. jiyah,chukkae onnie bwt kehamilanx!
    wuah,ikt seneng de!
    Jungso hebat,br 2x nglakuinx dh bs bkin Eun Kyo hamil!hohoho
    Kalo Minho m Raena,q gemes bner dah nglyt mrk!
    Minho dh mulai nakal,n Raena np g ngaku aj ce kalo dy jg cinta m Minho?
    gr2 MinRa m Appax Minho ne,Raena jd tmbh takut kn!Aish..><
    Dh malem onn,q mw tdr de,td siang dh g tdr jd skrg kplaq brat bgt!
    Dilanjutin bsk lg aj bcx!hehe
    Annyeong!^^

  23. Weeew. . minho nya keren. .
    gag kebayang seorang choi minho bli pembalut?? *yang gag ada sayapnya y?* GKGKGK. . sumpah, ngakak wkt bca ini. .
    nah loh. . nah loh. . eunkyo hamil???
    next part. . !!!!

  24. aduh minra sama appa minho bikin rusuh. pdhl lg adem ayem. raena nya napa gak blg kalo juga suka sama minho aduh ribet jd nya
    waaah hamil bakalan ada baby ni, tp jatoh di kamar mandi apa gak napa” ni?

  25. chukae eunkyo akhirnya hamil beneran tokcer jg oppa satu ini…
    wkwkwk…

    minho baik bnget jd cowok dsuruh beli pembalut lgsg nurut…ckckck…

    lanjut next part…

  26. Minho ngebet banget sich ma rae na…oh nooo…minho kan bolehnya ngebet cm sm aku…wkwkwk…
    Waaahh…emang ni jungjin minta dimutilasi bener deh…emang apa tujuannya dy ndeketin kyo eon lg sich…???menyebalkan sekaliiiii…
    Jiahahaa…kyo eon hamiiiiiilll…ajiiiiibbb…ntu kyo eon jangan2 dy diem2 kerja gtu yah bwt bayar utangnya k jungsoo…OMO…sotoy sayah kambuh…hehee…

  27. mwo???eunkyo hamil?jinjja??
    fiuhh brarti mereka bisa pindah dari rumah itu dong..emang bener,kyknya eommanya teuki ga suka ama eunkyo..waeyo??

    aisshh hyaaaaa!jungjin ga tau malu banget,dia udah berani mau rebut eunkyo dari teuki..tapi eunkyo ga akan tergoda ama jungjin kan..ya kann

    huaaaa itu kenapa appanya minho dateng,padahal baru aja hubungan mereka membaik..

  28. eun kyo y sebener y kemana sih dia pas klo jungsoo kerja,,,, bener dia nemuin temen y bukan jung jin or oa dia kerja berat kyk yg disangka dokter?????
    eomma y jungsoo kok ngak welcome gy sih bukan cuma ma eun kyo tapi ma Rae na juga,,, pa yg ngebuat eomma jungsoo kyk gitu…..
    jung jin aa maksud tertentu kah dia mau ngerebut eun kyo dari jungsoo pa bener2 cinta ma eun kyo n nyesel….

  29. yeah~~~~
    akhirnya jungsoo ma eun kyo bisa keluar,
    kekeke
    sumpah Minho ma Rae Na pasangan gokil bgt dach, ngakak bca bgian mrka berdua, ahahaha

  30. jung soo eomma bneran kya yg ngak ska nih sma eun kyo rae na huuhh
    kyaaaa mengandung ?? berartii eun kyo jdii baik sma jung soo bisa aja gra” ada anak jung soo kan yaa ?? hhii
    aku suka tuh sma pasangan rae na minho ,, haduuhh lucu deh kalian😀

  31. eun kyo hamil?
    cepet banget , tp gag papa deh , kalau mereka udah punya anak pertama kan mereka bisa pinda dr ruma itu heheh

    jung soo oppa jaga eun kyo jangan sampai keguguran ya🙂

  32. kyaaaa. . . seneng deh,, akhirnya eunkyo hamil. . . chukkae😀
    eomma nya jung soo jgan galak2 donk!! kasian menantu mu kan lagi bunting noh,,
    jangan yg pke sayap,, aq tdak suka . . . . huahahahah. . . cekikikan pas baca bagian ini #sambil bayangin tampang minho… emang ayam pke sayap -_-”
    lanjutt

  33. wah malam pertama mereka berhasil yah😀 eun kyo langsung hamil gitu…
    wah duh, eommanya jungsoo jutex banget sih, kayanya bener ga suka ya ma eun kyo..
    kasian eun kyo jadi tertekan tuh gegara eomma nya jungsoo..
    setuju ma jungsoo, si rae na lebih babo dari pada eonnie nya😀
    next>>

  34. minra, appa minho, you-know-who, semua menyebalkan -___- kl eommanya jungsoo sih yaaa itu msh wajar deh ya haha selamat eunkyo atas kehamilannya (y)

  35. OMO. . .eunkyo hamil. .chukkae. .
    Apa stelah hamil kelakuan ibu teukie bkaln berubah???aissshhh. Mkin seru aja. .
    Brb next chapter. .

  36. makin banyak deh masalahnya. . .
    minho kasian bgt, kalo aku jadi rae na pasti udah lgsg aku terima #ngarep bgt
    eunkyo kerja apa? eomma teuk salah paham kayaknya. .
    seru2. . .

  37. Mengandung,, aku baca di salah satu scene kaloeunkyo smpet mual2 kan,, yah,, dia sudah menderita , haruskah lebih menderita lagi?? Tpi klo ga menderita pasti konfliknya kurang, jadi jadi kurang greget kan,,

    oke fika eonni, sepertinya ayahnya minho lebih pantas di ruang perawatan,, dia harus dirawat krn punya penyakit yg namanya pemaksa dan gila uang, ckckkc

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s