Like a Last Bite (Teukyo Couple)

Standar

teukyo lalb

Jika aku harus mati sebelum aku bangun
Ini semua karena kau mengambil napasku pergi
Kehilanganmu seperti hidup di dunia dengan tidak ada udara

Katakan bagaimana aku harus bernapas tanpa udara
Tidak bisa hidup
Tidak bisa bernapas tanpa udara
Ini perasaanku setiap kali kau tidak ada

(No Air – Chris Brown with Jordin Sparks)

Teuki’s POV

Aku baru saja memeriksa berkas yang dikumpulkan beberapa rekanku atas analisa yang mereka duga pada kasus yang aku tangani. Aku adalah seorang detektif dari sebuah instansi pemerintah, sekarang aku lagi menangani sebuah kasus sindikat perdagangan wanita di Korea. Banyak masyarakat yang  mengeluh kehilangan anak gadisnya. Aku menduga gadis itu diculik, dijual dan dijadikan wanita penghibur. Aku sangat tertarik dengan kasus ini karena ini kasus lama yang mencuat kembali. Dulu waktu aku menangkap tersangka 4  tahun yang lalu, pengadilan memutuskan vonis bebas atas orang itu dengan alasan tidak cukup bukti, dan bukti yang aku kumpulkan tidak kuat. Aku sangat terobsesi dengan kasus ini. Jaringannya sepertinya sudah tersebar diseluruh penjuru Korea, karena akhir-akhir ini banyak warga desa terpencil yang melaporkan kehilangan anak gadisnya.

Aku duduk di belakang meja kerjaku sambil menyandarkan kepalaku. Memang tidak cukup bukti, tidak ada saksi dan itu hanya sebuah analisaku. Tidak akan membuat para tersangka dijatuhi hukuman jika aku terburu-buru memasukkan kasus ini ke Pengadilan. Kasus ini membuat aku pusing dan mampu membuatku melupakan Eun Kyo selama 5 bulan.

Eun Kyo, dia adalah gadis yang aku temui di tepi Sungai Han saat aku melepaskan penatku atas kasus yang aku tangani. Kala itu aku menangkap kepala sindikat prostitusi terbesar di korea, namun lelaki itu di vonis bebas karena aku tidak cukup bukti. Aku terlalu dini memasukkan kasus itu di pengadilan. Hasilnya? Sudah bisa ditebak. Saat itu jiwa mudaku masih menggebu dan egoku masih sangat kuat. Aku bersikeras menangkapnya dan sangat ingin menjebloskannya ke penjara hingga mengabaikan kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi. Saat aku duduk di tepian Sungai Han dan menikmati suasana malam di kota Seoul, tiba-tiba saja aku dikejutkan oleh seorang gadis yang duduk disampingku, dia sedang membawa kotak makanan. Membukanya dan memakannya tanpa memperdulikanku yang sangat kebingungan melihat tingkahnya. Porsi makannya sangat banyak, kotak makanan besar itu hampir tak bersisa. Dia menoleh padaku saat ingin menyuap makanan terakhirnya.

“Buka mulutmu.” Serunya padaku. Aku melihat wajahnya yang… aku tidak bisa menjabarkannya. Sederhana dan cantik, dengan sisa makanan ditepi mulutnya, membuatku terpana, bagaimana mungkin aku bisa mengatakan seorang gadis itu masuk dalam ketegori cantik saat melihat mulutnya penuh dengan makanan. Seperti terbius wajah cantiknya ataupun terjangkit virus rakusnya, aku membuka mulutku. Dia memasukkan makanan itu ke mulutku. Aku mengunyahnya sambil terus menatap lekat wajahnya. Dia tersenyum dan menyapu sisa makanan yang ada dimulutku. Setelah itu dia berlalu pergi. Setiap hari aku mengunjungi Sungai Han saat malam tiba, tapi tidak menemukannya. Namun saat hari ketujuh aku mengunjungi Sungai Han, hufh, aku seperti mengunjungi sebuah mall saja jika ingat setiap hari ke tepian Sungai Han. Hari ketujuh aku menemukannya, dia duduk ditempat yang sama dan aktifitas yang sama. Aku duduk mendekatinya.

“Heran menemukanku lagi?” tanyanya padaku. Aku menoleh padanya.

“Jadwalku kesini adalah setiap malam Kamis.” Jawabnya lagi sambil meneguk minuman.

“Heran lagi kenapa setiap malam kamis? Karena setiap malam kamis aku selalu makan disini bersama Appa, kami membeli makanan dan berlomba menghabiskannya, siapa yang kalah akan berlari sepanjang Jembatan Sungai Han.” Dia menjelaskan semuanya tanpa aku minta.

“Heran juga kenapa sekarang aku tidak bersama Appa? Itu karena Appa sudah meninggal sejak 2 tahun yang lalu. Buka mulutmu.” Dia kembali menyuruhku membuka mulut. Suapan terakhir kembali dia berikan padaku. Sejak itu suapan terakhirnya selalu berakhir dimulutku.

Lamunanku buyar oleh sebuah ketukan pintu seseorang dari luar. Aku mempersilakannya masuk. Lee Hyukjae, rekan kerjaku yang selalu menemaniku lembur.

“Hyung, aku menemukan korban dari trafficking ini, kita harus melindunginya. Disembunyikan dimana agar aman?” tanya Hyukjae padaku.

“Eoh? Siapa?”

“Seorang gadis, dia korban yang bisa melarikan diri.” jelas Hyukjae.

“Tidak mungkin membawanya ke rumahku, aku kan masih sendiri.” Jawabnya.

“Tidak mungkin juga membawanya ke hotel, tidak ada yang menemaninya.” Dia mencoba berfikir.

“Ke rumahku saja.” Sahutku sambil berlalu dari hadapannya.

“Nde? Bagaimana dengan Eun Kyo?” tanya Hyukjae khawatir.

“Wae? Aku kan tidak membawa seorang istri padanya, hanya menampungnya sementara kan?”

“Ah, benar juga, tapi jika terjadi apa-apa dengan hubunganmu dengannya, aku tidak ikut campur.” Seru Hyukjae.

***

Aku membawa seorang gadis ke rumahku. Memang keputusan yang keliru, tapi mau bagaimana lagi? Aku terlalu antusias dengan kasus ini, hingga mengabaikan kemungkinan terburuk, toh, aku tidak membawa selingkuhan ke rumah, hanya menampung seorang saksi saja. Tenangku dalam hati.

Eun Kyo’s POV

Aku membolak-balik majalah yang ada dihadapanku dengan malas. Semua artikel yang ada di majalah itu aku perhatikan berkali-kali, tidak menarik. Aku menyalakan televisi dan menekan tombol secara acak, mencari channel yang membuat perhatianku tertarik tapi hasilnya tetap saja, bosan.

“Argh, membosankan sekali!” aku menggumam pada diriku sendiri.

“Kapan dia akan pulang?!” aku membuka kembali majalah yang tadi aku tinggalkan tergeletak diatas meja. Ck! Tetap tidak bisa mengusir rasa jenuhku.

Setiap hari seperti ini. Menunggunya pulang dari bekerja. Aku bosan Park Jung Soo kau acuhkan seperti ini. Dia pasti sedang asik dengan file-file penemuan bukti barunya hingga melupakanku hingga selarut ini. Park Jung Soo, yang lebih senang dipanggil Leeteuk atau Teuki adalah tunanganku. Dia adalah seorang Detektif dari instansi pemerintah. Dia sangat suka bekerja, dan sering membiarkanku sendirian di rumah. Aku memutuskan tinggal bersamanya setelah 3 tahun menjalin hubungan dengannya, hingga kami sekarang sudah bertunangan setengah tahun yang lalu. Hufh, awal-awal hidup bersama setengah tahun yang lalu tidak seperti ini, dia selalu pulang tepat waktu. Tapi ketepatan waktu pulangnya hanya bertahan satu bulan, sisanya aku dibiarkannya menunggu hingga larut malam. Alasannya? Karena dia sibuk mengurus kasusnya.

Aku berjalan ke dalam kamar dan merebahkan tubuhku diatas tempat tidur. Aku berguling kesana kemari mengusir bosan. Kupasang headset ditelingaku dan mendengarkan musik kesukaanku, hingga tidak sadar aku terlelap. Aku terbangun setelah merasakan getaran ponselku di balik bantal. Aku mengangkatnya.

“Kemana saja kau? Aku sudah lama menunggu di depan pintu!” sahut suara itu nyaring di telingaku saat aku memencet tombol ‘answer’.

Ck! Menyusahkan sekali. Kenapa harus pulang malam-malam seperti ini? Mengganggu tidur orang saja!

Aku berjalan gontai menuju pintu depan, kutekan angka kombinasi kode sebelum membuka pintu. Aku membukanya dengan malas. Mataku masih mengantuk, ini sudah jam 1 pagi dan dia baru pulang? Dia masuk tanpa aku persilakan.

“Mengapa tidak menginap di kantor saja? Menyusahkanku membuka pintu.” Kataku ketus.

“Ini rumahku, aku berhak pulang kapan saja.” Mulutku menganga mendengar ucapannya. Rumahnya? Oh, jadi begitu? Aku hanya menumpang disini? Begitu maksudnya? Setelah melepas sepatunya dia terlihat berbalik menuju pintu depan.

“Silakan masuk.” Eh? Dia membawa seseorang? Tiba-tiba seorang gadis muncul di depan pintu.

“Kau mau minum hangat?” tawarnya pada gadis itu.

“Terserah saja.” Jawab gadis itu. Teuki Oppa berlalu di hadapanku menuju dapur. Aku masih bingung dengan kejadian yang baru saja berlangsung. Aku mengikutinya kearah dapur. Dia terlihat memasukkan beberapa sendok kopi ke dalam cangkir. Saat aku mendekatinya, langsung menarik tubuhku dan memeluk punggungku.

“Buatkan aku kopi.” Bisiknya ditelingaku.

“Aku bukan pembantu.” Jawabku seraya melepaskan pelukannya.

“Ya.. kita harus menghormati tamu, jika tidak membuatkannya, aku tidak akan melepaskanmu.” Dia semakin erat memelukku.

“Silakan saja, tidak ada ruginya bagiku, mau kau semalaman memelukku juga aku tidak peduli.” Jawabku enteng. Dia mendengus kesal.

“Ck! Membuat kopi seperti ini saja kau susah sekali, gampang, tinggal tuangkan air panas dan tambahkan sedikit gula.” Dia melepaskan pelukannya dariku dan mulai membuat kopi.

“Kalau mudah kenapa menyuruhku membuatnya?” tanyaku sinis. Yak! Park Jung Soo! Aku masih kesal denganmu tapi kau dengan mudah melupakan kesalahanmu!

Dia membawa nampan berisi dua buah kopi buatannya ke ruang tamu dan menyuguhkannya pada gadis itu. aku memperhatikannya dari dalam.

“Silakan diminum, untuk sementara waktu kau akan tidur disini, tidak apa-apa kan?” tanya Teuki Oppa pada gadis itu.

“Ah, ye, maaf merepotkan anda.” Jawabnya manis. Entah mengapa aku tidak menyukai gadis itu.

“Jagiya… Bisa kesini sebentar?” Teuki Oppa memanggilku. Aku berjalan gontai menghampirinya.

“Jagi, kenalkan ini Oh Yeon Ji, dia sementara akan tinggal bersama kita, tidak keberatan kan?” tanyanya dengan nada manis padaku. Aku menatap tajam kearahnya, dia balas dengan senyuman. Park Jung Soo! Jika ada maunya baru bersikap manis padaku.

Teuki’s POV

Dia bersikap  lain padaku. Aku tau dia sangat kesal padaku karena meninggalkannya setiap hari sampai larut malam, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi sekarang aku membawa seorang gadis kerumah ini. Dia pasti marah, paling tidak dia pasti curiga. Aku memperhatikan gerak-geriknya melalui sudut mataku.

“Kau akan tinggal disini beberapa waktu Yeon Ji~shi, kuharap kau betah.” Aku berkata pada Yeon Ji, Eun Kyo menatap tajam padaku.

“Jagi, kau sudah menyiapkan kamar yang aku jelaskan tadi di telepon kan?” bohongku padanya, matanya membulat padaku. Hihi, aku senang melihat ekspresinya seperti itu, ekspresi favorit kedua setelah ekspresi makannya. Aku membulatkan mataku juga agar dia mengerti yang aku maksud. Berbohonglah Park Eun Kyo, sekali saja demi aku.

“Ah, ye.” Jawabnya kemudian, itu baru Gadisku.

“Bisa kau antarkan dia istrirahat?” pintaku padanya. “Ini sudah larut malam, silakan kau beristirahat Yeon Ji~shi.” Aku menoleh pada Yeon Ji.

“Ah, silakan, mari kuantarkan.” Eun Kyo membawa Yeon Ji menuju kamar tamu yang ada di rumah kami.

Aku memasuki kamarku. melepaskan jasku beserta atribut yang ada dibadanku. Lalu beranjak ke kamar mandi. Ah, segar sekali rasanya. Aku mengguyur badanku dengan air hangat. Setelah selesai membersihkan semua keringat yang melekat ditubuhku, aku meraih handuk dan memakainya di pinggulku. Aku membuka pintu kamar mandi. Betapa terkejutnya aku mendapati Eun Kyo bersandar disamping pintu kamar mandi sambil menyilangkan tangannya di dadanya. Aku tersenyum, dia pasti marah.

“Siapa dia?!” serunya keras. Aku lansung membekap mulutnya dengan tanganku.

“Jangan keras-keras, nanti dia mendengarnya.” Bisikku padanya.

“Memangnya kenap kalau dia mendengar?”

“Dia kan tamu, kita harus membuatnya merasa nyaman, jangan sebaliknya malah membuatnya tidak nyaman.”

“Membuatnya tidak nyaman? Kau takut membuatnya tidak nyaman, apa kau pernah merasa bersalah membuatku tidak nyaman?”

“Jagi, jangan seperti ini. Dia adalah korban dari penyelundupan wanita yang berhasil melarikan diri.” aku menjelaskan, dia mulai melemah.

“Berapa hari dia disini?”

“Sampai kasusku selesai.” Jawabku santai.

“AP!” aku langsung menutup mulutnya yang ingin berteriak dengan bibirku. Menyudutkannya ke dinding. Dia berusaha mendorongku. Aku melepaskannya.

“Aku sudah bilang jangan keras-keras. Atau kau akan berakhir di tempat tidur.” Ancamku.

“Aku tidak akan membiarkannya. Kau hanya boleh menyentuhku saat malam pertama.” Dia berbaring di tempat tidur.

“Kita akan menikah setelah aku menyelesaikan kasus ini.”

“Kalau begitu acara di tempat tidurnya juga menunggu kau menyelesaikan kasusmu.” Serunya sambil memunggungiku.

Aku berbaring disampingnya. Aku memang serumah dengannya sejak setengah tahun yag lalu. Bahkan satu ranjang berdua dengannya setiap hari, namun aku tidak pernah menyentuhnya. Paling jauh menyentuhnya adalah meraba tubuhnya dan mencium bibirnya. Jika aku ingin berbuat lebih dia selalu menahanku dengan perkataan ‘aku akan melakukannya setelah kita menikah’ aku sudah hapal kalimat itu. aku tersenyum memandanginya yang membelakangiku, kubelai punggungnya dengan telunjukku.

“Jangan sentuh aku.”  Dia berkata sambil menggerakkan badannya menghindari tanganku. Aku mendekatinya dan memeluknya.

“Kau marah?” tanyaku ditelinganya.

“Bagaimana kelihatannya?” tanyanya.

“Kau terlihat marah, tapi aku senang, itu artinya kau mencintaiku.” Aku mengecup lehernya dan memejamkan mataku. Gadis aneh ini, aku sangat mencintainya, ingin selalu memeluknya seperti ini, merasakan detak jantungnya, bibir manisnya dan hembusan nafasnya yang membelai dadaku jika dia sedang tidur normal, tidak dalam keadaan marah seperti ini.

***

Pagiku dikejutkan oleh sebuah teriakan keras yang menusuk telingaku. Aku mencoba mengabaikannya dan berusaha tetap bermimpi. Namun guncangan keras ditubuhku tidak mampu membuat mataku terus terpejam.

“Oppa, siapa yang berteriak?” tanya Eun Kyo sambil terus mengguncang tubuhku.

“Aku masih mau tidur.” Jawabku malas, ini hari minggu,aku ingin bermalas-malasan sebentar.

“Tidak bisa, sepertinya terjadi sesuatu dengan gadismu.” Serunya. Gadisku? Nuguya? Aku bangkit dari tidurku. Oh Yeon Ji.

Aku bergegas menuju kamarnya diiringi Eun Kyo dan langsung membuka pintu, aku melihat keadaan Yeon Ji yang sangat memprihatinkan, dia meringkuk di sudut kamar sambil menangis.

“Dimana aku?” aku menghampirinya.

“Tenang saja kau aman disini.” Aku menenangkannya.

“Dimana aku? Aku tidak mau dijual lagi, aku mohon lepaskan aku.” Dia terus merapat ke dinding ketakutan.

“Kau tenang saja, ada aku disini.” Eun Kyo mendekatinya dan menenangkannya. Perempuan akan lebih mudah menghadapi perempuan.

Setiap hari dia ketakutan seperti itu, aku jadi iba padanya. Aku mengerti keadaannya. Dia ketakutan karena ini adalah tempat asing baginya. Dia mengira masih ditempat penampungan, hampir setengah bulan dia seperti itu, hingga sekarang mulai tenang. Dia masih tidak bisa dimintai keterangan. Saat aku menanyakan apa yang terjadi dia menjadi panik dan mulai mengamuk. Seperti pagi ini. Aku membawakan makanan ke kamarnya.

“Yeon Ji~shi, silakan makan.” Aku membuka kamarnya, tidak dikunci. Dia sedang mandi. Aku beranjak meninggalkannya.

“Oppa.” panggilnya dari dalam kamar mandi.

“Ye?” sahutku.

“Oppa, bisa tolong ambilkan handuk? Aku lupa mengambilnya.”

“Ye?” tanyaku bingung.

“Dikursi di depan cermin Oppa.” aku melihat selembar handuk disana, aku mengambilnya dan mengetuk pintu kamar mandi.

“Ini handuknya.”dia mengambilnya dari tanganku.

“Gomawo,Oppa.” sahutnya. Aku mulai beranjak dari kamarnya.

“Ada perlu apa denganku Oppa?” tanyanya yang sudah keluar dari kamar mandi. Aku menatapnya, sepertinya dia dalam keadaan yang baik hari ini, semoga saja aku beruntung.

“Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan.”

“Tanyakan saja.” Jawabnya sambil menyapukan bedak ke wajahnya.

“Mengenai peristiwa yang kau alami dulu, apa kau masih mengingatnya?” tanyaku ragu-ragu.  Dia mendekat padaku.

“Masalah itu..” dia sudah ada dihadapanku, mulai menangis, sedikit tidak terkendali aku menahannya, dia memeluk tubuhku erat.

“Aku takut, sangat takut.” Ucapnya disela tangisnya. Aku belum pernah menghadapi wanita menangis, aku hanya bisa menghadapi wanita yang sedang merajuk. Aku bingung dan kikuk.

“Tenanglah, kau tidak akan apa-apa disini, ada aku kan? Kau aman.” Aku menenangkannya sambil melepaskan pelukannya.

“Sebaiknya kau istirahat saja. Aku mau berangkat bekerja.” Aku meninggalkannya, namun sebelumnya aku berhenti di depan pintu. Eun Kyo sudah berdiri disana, saat aku ingin meraih tangannya tapi dia sudah melesat pergi. Marah lagi.

***

“Hyuk~ah… aku mulai risih.” Keluhku pada Hyukjae.

“Wae? Kau punya dua gadis dirumahmu, mengapa kau risih?”

“Ani, hanya saja Yeon Ji mulai bertngkah aneh, selain itu juga dia belum bisa dimintai keterangan.”sambungku.

“Lalu kau mau bagaimana?” tanyanya.

“Aku juga tidak tau.”

“Bersabarlah Hyung, kau sendiri yang mau menampungnya dirumahmu.”

“Eun Kyo mulai tidak terima dengan alasanku.”

“Dia marah?”

“Sepertinya.”

“Terang saja dia marah, kau membawa gadis lain dalam rumahmu.”

“Tapi dia hanya diam saja.”

“Itu lebih gawat, kau jangan heran, saat dia diam seperti itu tiba-tiba saja dia menghilang.”

“Kau jangan menakutiku!” aku menatapnya tajam.

“Mau semuanya berjalan dengan baik? Kau tetap bisa mengawasi gadis itu dan Eun Kyo tetap ada yang mengawasi dan kau tidak didiamkannya?”

“Bagaimana caranya?”

“Biarkan Eun Kyo aku yang menjaga dirumahku.” Aku langsung memukul kepalanya dengan Koran, Hyukjae tertawa keras.

“Hyung, kau tahan sekali hidup bersamanya, tapi tidak menyentuhnya, kalau aku, aku sudah menikahinya dan menikmati bulan madu bersamanya.”

“Hentikan pikiran kotormu itu.”

Eun Kyo’s POV

Aku memasak di dapur. Menyiapkan makan malam untuk Teuki Oppa. Saat aku sedang asik memasak dengan keahlianku yang dibawah rata-rata, seseorang memperhatikanku dari belakang.

“Mengiris bawang jangan seperti itu, harusnya seperti ini agar saat digoreng terlihat bagus.” Yeon Ji, dia mengomentari cara memasakku. Aku mencoba sarannya. Setelah itu aku memotong sayuran.

“Yak, jangan potong seperti itu, sini, biar aku yang mengerjakan.” Aku bingung menatapnya yang merebut semua pekerjaanku. Aku meninggalkannya ke ruang tengah sambil menonton tv.

Bau harum menyengat hidungku. Membuatku terasa lapar. Aku menengoknya di dapur. Dia pintar memasak, batinku berkata. Dia terlihat sibuk menata masakannya diatas meja tanpa memperdulikanku yang memperhatikan setiap gerak-geriknya. Dia hapal semua letak perabotan, hebat.

“Jam berapa Teuki Oppa akan pulang?” tanyanya padaku.

“Sebentar lagi.” Jawabku singkat.

“Oh, baiklah, sudah siap.” Wajahnya berseri memandang semua hidangan yang tertata rapi dimeja. Aku meninggalkannya di dapur kembali menonton tv. Aneh, dia seperti menyiapkan masakan untuk suaminya. Sebenarnya siapa yang tuan rumah disini? Aku? Atau dia? Saat aku sedang binngung memikirkan sikapnya, dia duduk disampingku sambil mengambil majalah dan membuk-buka halamannya.

“Sejak kapan kau bertemu dengan Teuki Oppa?” tanyanya sambil membalik halaman.

“Kira-kira 4 tahun yang lalu.”

“Lumayan lama.” Aku bingung bagaimana arah pembicaraannya.

“Kau sudah menikah dengannya?” tanyanya lagi.

“Aku masih bertunangan.” Sahutku sambil memasukkan cemilan dalam mulutku. Sesekali aku melihat jam di dinding, Teuki Oppa, kapan kau pulang? Aku sudah sangat lapar.

“Sejak kapan kau tinggal bersamanya?” dia kembali bertanya.

“Sejak aku bertunangan dengannya kurang lebih setengah tahun yang lalu.”

“Apa makanan kesukaannya?” dia menatapku kali ini.

“Aku tidak terlalu memperhatikannya, dia memakan apapun yang aku masak, lagipula dia bisa membelinya pulang dari kantor jika dia lapar.” sahutku membalas tatapannya. Dia tersenyum sinis. Gadis yang aneh, untuk apa dia mengorek semua kehidupanku. Aku mengalihkan pandangan ke layar tv.

“Mari kita bersaing secara sehat.” Ucapannya kali ini membuatku terperangah. Saat aku memikirkan maksud dari ucapannya tadi, tiba-tiba bel berbunyi. Yeon Ji langsung berlari kearah depan, mendahuluiku. Dia membukakan pintu.

“Oppa, kau pulang.” Serunya manja pada Teuki Oppa, Teuki Oppa membalasnya dengan senyuman. Yeon Ji melepaskan jas yang dikenakan Oppa. ck! Aku jijik melihatnya. Aku beranjak meninggalkan mereka.

“Jagi, kau masak apa hari ini? Aku sudah sangat lapar.” perkataan Oppa mencekat langkahku. Aku berbalik menatapnya.

“Hari ini aku yang memasak Oppa.” Yeon Ji menautkan tangannya di lengan Teuki Oppa, lalu menariknya kearah dapur, mempersilakan Teuki Oppa untuk duduk.

“Ayo Oppa, kau sudah lapar kan? Aku memasak banyak hari ini.”

“Wah, makan besar hari ini, mengapa tadi aku tidak mengajak Hyukjae saja kesini.”

“Tidak perlu, aku juga bisa menghabiskannya.” Jawabku ketus.

“Aish! Kau takut berebut makanan dengannya?” Teuki Oppa mendekatiku.

“Ani, hanya saja aku tidak suka caranya mengambil makananku.” Sahutku. Oppa menarik kursi dan menekan pundakku untuk duduk. Saat Teuki Oppa menarik kursi disampingku.

“Oppa, aku sudah menyiapkan makananmu disini.” Suara manjanya membuat telingaku sakit. Oppa tidak jadi menarik kursi dan duduk disampingnya, cih!

“Oppa, coba yang ini, terasa enak tidak?” Yeon Ji menaruh makanan pada mangkuk nasi Oppa. aku berusaha mengabaikannya dengan memasukkan makanan silih berganti dalam mulutku, agar aku fokus merasakan makanannya saja, bukan situasinya.

“Enak?” tanyanya sambil menatap Oppa manja.

“Em, sangat enak.” Jawab Teuki Oppa.

“Kalau begitu aku akan membuatnya lagi besok.” Serunya. Oppa hanya mengangguk. Aku mengambil makanan dan terus memasukkannya dalam mulutku.

“Onnie~ya, kau ini makan tidak sopan sekali.” Dia mengomentari cara makanku kali ini. Aku tersedak.

“Uhuk uhuk!” aku memukul-mukul pelan dadaku dan mencoba meraih gelas lalu menenggaknya sampai habis.

“AKu sudah selesai.” Aku berdiri dan meninggalkan sepasang manusia yang terlihat seperti suami istri itu. Teuki Oppa menatapku, aku bisa merasakannya. Sebenarnya aku masih lapar, tapi melihat tingkah menjijikkan gadis itu membuatku kehilangan selera makan. Onnie? Sejak kapan dia memanggilku Onnie? Dia bahkan bertindak seolah-olah dia lebih tua dariku dan mengetahui segalanya saat Teuki Oppa belum pulang. Aku masuk kekamar dan tertidur dengan rasa yang mengganjal dihati.

***

Aku bangun dipagi hari seperti biasa. Teuki Oppa tidur disampingku seperti biasa, memelukku. Aku memandangi wajahnya. Wajah lelaki ini, yang sungguh sangat memikatku. Saat pertama kali bertemu dengannya aku sudah menyukai tekstur wajahnya yang sempurna. Hidungnya, rahangnya, bibirnya, barisan giginya yang rapi, membuatku larut dalam auranya. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama padanya, tapi aku tidak mau berharap lebih, tapi anehnya, setiap aku melewati Sungai Han dengan sepedaku, dia selalu ada disitu, ditempat ritualku. Apa dia mencariku? Aku selalu makan di Tepian Sungai Han sambil menikmati gemerlap lampu malam kota Seoul yag indah. Dulu aku selalu bersama Appa melakukan itu, namun sejak Appa meninggal, aku sendirian melakukan ritual itu. Hingga aku menemukan lelaki itu. Aku memberikan diri menyapanya, sampai akhirnya seperti ini, berada disampingnya setiap malam, meski belum terikat sebuah pernikahan, tapi aku selalu menjaga diriku dengan baik, seperti pesan Appa ‘Lelaki yang baik adalah lelaki yang bisa menjaga wanitanya dengan baik dengan tidak menyentuhnya sampai janji suci mengikat keduanya’. Pesan Appa selalu aku pegang, saat dia bertindak lebih, aku selalu menghentikannya, dan dia, dia mengerti semua dengan baik, dia menghargai keputusanku. Dia berjanji akan menikahiku setelah kasusnya selesai, tapi ini sudah berbulan-bulan, kasusnya tidak ada kemajuan selain dia menemukan saksi yang tidak mau buka mulut dan kerap bertingkah manja padanya. Aku jadi teringat ucapan Yeon Ji semalam, bersaing secara sehat? Bersaing untuk apa? Teuki Oppa? Aku tersenyum. Oppa, salahkah aku jika sekarang aku meragukanmu? Bukan karena gadis itu, tapi karena pekerjaanmu. Aku tidak terlalu suka kau bekerja terlalu keras meskipun itu untuk masa depan. Aku hanya ingin kita bisa menikmati waktu bersama hingga tua.

Dari luar kamar terdengar teriakan yang rutin setiap pagi terjadi. Teriakan dari Yeon Ji. Aku membangunkan Oppa. mengguncang tubuhnya, bukannya bangun dia malah memelukku dengan erat.

“Eun Kyo~ya, kita menikah saja.” Ucapnya dengan mata masih terpejam.

“Urusi dulu gadismu itu, baru kita menikah.”

“Kau saja, kalian kan sama-sama perempuan.” Tolaknya tanpa melepaskan perlukannya malah membenamkan kepalanya di dadaku.

“Aku sedang malas, lagipula dia lebih senang diurusi olehmu.”

“Ck! Aku juga malas.” Sahutnya.

“Ini kan pekerjaanmu, mana semua orasimu yang berkoar, kau adalah hamba hukum, yang akan menegakkan keadilan dan melindungi kaum yang lemah.” Aku mengejeknya.

“Kau mengejekku?” dia menghimpit tubuhku dibawah tubuhnya.

“Ani, aku tidak mengejekmu.” Belaku.

“Jinjjayo?” dia mulai menciumi leherku, turun kebawah semakin kebawah.

“Park Jung Soo.” aku menarik rambut dan kepalanya menjauh.

“Panggil aku Oppa.” dia mencium bibirku kali ini, meraba leherku dengan tangannya.

“Oppa, hentikan.” Aku menjauhkan wajahnya, dia berusaha menciumku lagi namun aku menahannya.

“Urus gadismu itu atau telingaku akan pecah.” Rajukku.

“Aku tidak peduli dengan telingamu.” Dia meraih bibirku lagi.

“Oppa, jika tidak membuatnya diam, aku yang akan angkat kaki dari rumah ini!” ancamku. Dia mulai beranjak dan berjalan dengan gontai.

Aku memperhatikannya menenangkan Yeon Ji, perhatian sekali, dia tidak pernah seperti itu padaku, aku memperhatikan merek tanpa mereka sadari. Yeon Ji memeluk Teuki Oppa dengan dalih rasa takutnya, Oppa terlihat kewalahan menghadapinya. Dadaku bergemuruh, ada ribuan jarum menusuk jantungku saat dia memeluk orang lain, beberapa detik kemudian Yeon Ji mencium bibir Teuki Oppa. aku terperanjat dan meninggalkan mereka. Airmataku jatuh setetes demi setetes. Yeon Ji tidak main-main. Aku mulai jengah dengan keadaan ini.

Oppa terlihat sibuk dengan ponselnya. Aku memperhatikannya.

“Mwo? Ada petunjuk?” dia memakai jaketnya dengan sebelah tangannya.

“Aku akan kesana, tunggu saja.” Jawabnya.

“Jagi, aku akan ke kantor sebentar, kau tunggu disini, arasseo?” dia mengecup bibirku sekilas. Aku menyapu bekas ciumannya. Bibir itu yang tadi mencium gadis lain.

Teuki’s POV

Saat aku sedang menenangkan Yeon Ji, tiba-tiba saja Yeon Ji menciumku, aku sangat terkejut dan diam terpaku. Yeon Ji menatapku lekat, aku beranjak darinya. Ponselku berbunyi. Aku melihat layar ponselku, tertera nama ‘Lee Hyukjae’. Aku langsung mengangkatnya.

“Yeoboseyo?”

“Hyung, ada petunjuk, kau bisa kemari?” tanya Hyukjae.

“Mwo? Ada petunjuk?” aku meraih jaketku yang ada dikamar dan memasangnya dengan satu tangan.

“Aku akan kesana, tunggu saja.” Aku bergegas keluar kamar dan mendapati Eun Kyo sedang duduk di ruang tengah. Aku menghampirinya.

“Jagi, aku akan ke kantor sebentar, kau tunggu disini, arasseo?” aku meraih dagunya dan mencium bibirnya, melumatnya dalam hitungan detik, tidak ingin rasanya melepaskannya.

Aku bergegas mengemudikan mobilku menuju kantor, memarkirnya sembarang dan berlari kelantai atas tempat kerjaku.

“Ada perkembangan?” aku menghampiri Hyukjae yang sudah duduk di depan computer.

“Menurut informan yang aku dapat, mereka akan mencari mangsa di Seoul. Mengelabui para gadis yang pengangguran dengan iming-iming pekerjaan.”

“Begitu?”

“Ye.” Sahut Hyukjae.

“Bagaimana kita masuk dalam jaringan itu?” aku bergumam.

“Kita perlu umpan.” Sahut Hyukjae.

“Tapi siapa?” tanyaku memandangnya.

“Gadis yang ada dirumahmu?” sarannya.

“Kau gila, dia sedang tertekan. Kita sewa seorang pelacur saja, kita bayar mahal, tapi harus mendapatkan yang kita inginkan, bukti bahwa mereka memang memperdagangkan orang keluar negeri.” Sahutku,

“Siapa pelacur yang akan kita sewa?”

“Itu bagianmu, kau kan yang sering main diluar.”

“Hyung! Aku tidak sebejat itu!” protes Hyukjae.

“Lalu wanita-wanitamu itu? dari mana kau dapatkan?”

“Mereka hanya selingan, aku masih menunggu kau memutuskan tunanganmu.” Jawabnya.

“Jangan bermimpi!” aku melemparnya dengan Koran.

“Hahahahaha, wae? Kau sangat menjaganya, sepertinya dia sangat istimewa, membuatku penasaran.”

“Lee Hyukjae! Jangan berpikiran kotor!” dia terus menertawakanku.

***

Kami memutuskan menyewa seorang pelacur untuk dijadikan umpan, masuk kedalam jaringan itu dan mengumpulkan bukti-bukti. Jin Hye, begitu kami menyebutnya, entah nama itu benar atau tidak. Kami membekalinya berbagai peralatan mulai dari alat perekam mini, sampai kamera canggih mini berbentuk kancing yang kami pasang di kancing bajunya. Alat perekam dengan kekuatan baterai selama seminggu penuh, aku menyuruhnya untuk selalu mengaktifkannya agar tidak ketinggalan percakapan. Begitu juga dengan kameranya. Dia bertugas selama seminggu dan kami berencana meringkusnya seminggu kemudian.

“Hyung, apa menurutmu akan berhasil?” tanya Hyukjae, setelah seharian kami menyiapkan semua ini hingga larut malam, aku lembur, sepertinya aku tidak akan pulang, besok aku harus memastikan Jin Hye sudah masuk dalam jaringan mereka. Aku tidur bersama Hyukjae dikantor.

“Hyung, apa kau sudah pernah bercinta dengan Eun Kyo?”

“Bisa kau hentikan pembicaraanmu tentang wanita?” aku menatapnya tajam.

“Aish! Aku kan hanya ingin tau, tidak perlu marah.” Hyukjae mendengus kesal.

“Hyuk, kau pernah menghadapi wanita yang sedikit agresif?”

“Ne? Agresif? Apa Eun Kyo bertindak agresif akhir-akhir ini? Aigoo.. itu malah bagus, kau tidak perlu memulai permainan, hanya perlu menikmatinya.” Hyukjae menjelaskan dengan semangat.

“Berhenti memanggil nama EunKyo, aku tidak sudi kau mengucapkannya.”

“Kau pencemburu sekali. Aku kan hanya bercanda.”

“Sudah lah, tidak ada gunanya bicara denganmu.”

***

Rencana hari ini berjalan dengan lancar. Hye Jin sudah masuk dalam perangkap mereka. Perbekalan yang kami pasangpun juga sudah kami pastikan berfungsi dengan baik. Aku mengendarai mobilku menuju rumah. Aku meninggalkan pesan pada Eun Kyo, bahwa aku tidak pulang tadi malam, dia tidak membalasnya. Rasa khawatir datang terlambat menghampiriku. Dia tidak pernah tidak membalas pesanku. Sesampainya aku dirumah aku langsung menuju ke kamar, mencari sampai ke kamar mandi. Tidak ada, kemana dia? Aku menghampiri Seong Ji.

“Kau tau kemana Eun Kyo?” aku bertanya padanya.

“Dia tidak pulang tadi malam.” Sahut Seong Ji. Tidak pulang? Kemana dia? Park Eun Kyo, kau tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya, tidak pernah pergi tanpa seijinku. Aku kembali kekamar, merebahkan tubuhku yang penat. Ada secarik kertas dibalik bantal.

‘Jika kau ingin aku kembali, selesaikan urusanmu dengan gadismu dulu, lalu jemput aku.’

Eun Kyo’s POV

Sejak dia pergi semalam, aku juga memutuskan untuk menjauh darinya. Aku berkunjung ke rumah Sungmin Oppa. Temanku sejak sekolah. Aku dekat dengannya, dia juga dekat dengan Appa dulu. Sungmin Oppa adalah seorang pemilik kedai makanan di pinggiran kota, dia juga seorang anggota aktivis HAM, sama seperti Appa. Aku sangat bosan dirumah, bosan melihat gadis itu.

“Masih tidak mau pulang?” tanyanya padaku.

“Kau tidak mau menampungku?” tanyaku merajuk.

“Ya.. Bukan begitu, meninggalkannya seperti ini, kau malah menambah masalah baru. Kau tidak takut wanita itu benar-benar merebutnya? Bagaimana jika Teuki juga menyukainya?”

“OPPA! jangan menakutiku…” aku memasang muka cemberut.

“Makanya selesaikan masalahmu segera, kau tidak mencintainya hingga nekat meninggalkannya?”

“Aku sangat mencintainya. Aku hanya ingin member waktu padanya untuk berpikir, bagaimana jika hidupnya tanpa aku.”

“Tapi itu tidak akan menyelesaikan masalah Eun Kyo~ya.” Sahutnya.

“Masalah tidak akan selesai jika kasusnya tidak selesai.”

“Kasus? Kasus apa?”

“Dia bilang itu kasus lama, trafficking, perdangan perempuan.”

“Itu juga kasus yang ditangani Appamu sejak dulu. Tapi belum selesai hingga beliau meninggal.” Aku tercengang mendengarnya.

“Appa?”

“Ne, kasus Appamu, aku juga menduga Appamu bukan meninggal karena kecelakaan, tapi dibunuh.”

“Oppa, kau jangan bercanda.”

“Itu hanya dugaanku. Aku lagi menyelidikinya. Appamu menemukan bukti-bukti pengiriman itu dalam sebuah foto, namun foto itu raib bersama kematiannya, apa itu tidak janggal?”

“Kenapa semua orang yang ada di dekatku sangat antusias dengan kasus ini?” dia memukul kepalaku.

“Kau ini tidak peka sama sekali.”

“Sampai mana perkembangan kasusnya?” tanyaku ingin tahu.

“Yang aku dengar, mereka akan mencari beberapa orang gadis lagi disini, baru setelah itu dikirim keluar negeri yang menurut mereka berkualitas.” Terangnya.

“Lalu apa yang akan kau lakukan?”

“Aku belum tau, aku ingin masuk dalam sindikat itu tetapi sulit.”

“Perlu seseorang untuk membantumu?”

“Sepertinya iya, aku perlu menyewa seseorang, seorang wanita.”

“Bagaimana kalau aku saja?” tawarku.

“Kau jangan gila! Jika terjadi sesuatu padamu apa yang akan aku katakan pada Teuki Hyung? Bisa hilang tak bersisa mayatku.”

“Kau terlalu berlebihan, bagaimana? Aku saja, aku juga ingin kasus ini cepat selesai dan menyelesaikan masalahku, aku mohon Oppa…” aku merengek padanya.

“Park Eun Kyo! Banyak yang dipertaruhkan disini, ini bukan kasus penjualan barang illegal, tapi ini prostitusi! Kau mau jadi korban?” aku menggeleng.

“Kau diam saja disini.”

“Aku tidak bisa diam saja, ini sudah terlalu banyak mengambil hidupku, aku ingin kasus ini cepat selesai, katakan apa rencanamu?”

“Aku ingin seseorang masuk kedalam sana, merekam semua kegiatan mereka. Aku sudah membeli peralatan canggih untuk itu.”

“Kau hanya perlu umpan kan? Aku saja, aku mohon Oppa…” lagi-lagi aku merengek padanya. Dia menatapku dalam. Lama kami terdiam.

“Aish! Aku benci mengatakan ini, tapi kau bisa berjanji menjaga dirimu dengan baik?” aku mengangguk yakin.

“Besok kita berangkat ke tempat pendaftaran pencarian tenaga kerja.”

***

Aku telah sampai pada tempat yang dimaksud Sungmin Oppa. mereka memeriksa kesehatanku. Namun aku berhasil memasukkan peralatan yang dibekali Sungmmin Oppa. ‘Biar  bagaimanapun jangan pernah lepaskan baju ini’ aku sangat ingat pesan Sungmin Oppa. didalam baju itu terdapat kamera mini canggih. Aku juga tidak mengerti cara kerjanya, aku hany disuruh merekam semua kegiatan mereka yang mencurigakan dengan menghadapkan badanku kearah mereka, dia bilang sebuah pin yang ada dibajuku adalah sebuah kamera.

Aku berhasil masuk kedalam, waktuku hanya 3 hari, setelahnya, kameraku akan mati, dan jika dalam waktu 3 hari aku tidak bisa melarikan diri, dia tidak berani menjamin akan menemukanku karena GPS yang ada dibajuku hanya bisa bertahan 3 hari.

Hari pertama aku berada ditempat itu tidak ada kejadian, semua berjalan dengan lancar, aku pun tidur dengan nyenyak, yang membuatku tercengang disini adalah, lebih dari separuh yang menempati tempat ini adalah anak antara umur 13-16 tahun. Ya Tuhan, apa yang ada dibenak mereka saat melamar pekerjaan? Tidakkah mereka berpikir jika mendapatkan uang dengan mudah satu-satunya jalan adalah dengan melakukan ini? Apa mereka dipaksa? Atau malah itu kemauan mereka sendiri? Aku satu ranjang dengan seorang gadis kecil umurnya kisaran 14 tahun.

“Siapa namamu?” tanyaku padanya?

“Han Hye Mi.”

“Mengapa ada ditempat ini?” matanya terlihat sembab, sepertinya habis menangis.

“Aku gelandangan yang disuruh mereka untuk ikut.” Jawabnya polos, wajahnya dekil namun tetap manis, hidungnya mancung, kulitnya putih susu, sangat cantik.

“Kau tau tempat ini apa?” dia mengangguk.

“Sungguh?”

“Aku baru mengetahuinya tadi. Dan tidak diperbolehkan keluar dari tempat ini.” Airmatanya kembali mengalir. Aku memeluknya.

“Sssttt, uljima.. kita akan melarikan diri bersama? Mengerti?” dia menatap bingung padaku.

“Aku berjanji akan membawamu keluar dari tempat ini.” Aku berbisik padanya.

Malam kedua, semuanya terlihat tegang. Kami berbaris berjejer , aku tidak mengerti mengapa mereka menyuruh kami berjejer. Aku menangkap raut ketakutan diwajah beberapa gadis kecil yang ada dihadapanku. Seseorang mendekatiku.

“Sepertinya aku pernah melihatmu.” Bisiknya.

“Eh?” aku menatap bingung padanya.

“Apa kau ada hubungannya dengan Leeteuk?” aku terperanjat dia menyebut nama tunanganku.

“Bagaimana kau tau?” tanyaku dengan suara ditekan.

“Aku pernah melihat fotomu dimeja kerjanya.”

“Apa kau?”

“Ssstt” dia menyuruhku diam.

“Gadis manis, kau ikut kami, sudah ada seseorang yang memesanmu.” Seseorang bertubuh besar menarik Hye Mi, aku menahan tangannya.

“Jangan dia!” aku langsung mencegatnya.

“Wae? Kau mau menggantikannya? kau sangat cantik, sayang jika berakhir disini, aku akan memeberikanmu pada lelaki berkelas.” Seringainya menjijikkan.

“Jangan, aku mohon jangan dia!” aku menahan Hye Mi dalam pelukanku, gadis kecil ini menangis.

“Onnie, aku aku ingin pulang..” isaknya.

“Aku saja.” Jawab wanita disebelahku. Dia mengerling padaku.

Semuanya terekam dengan jelas karena kejadian itu ada dihadapanku. Semoga ini bisa menjadi bukti kuat untuk meringkus jaringan ini.

Malam terakhir seharusnya aku disini. Suasana tidak mencekam seperti semalam. Sepertinya tidak ada pria hidung belang yang membutuhkan mainan. Tapi dari ujung sana terdengar kegaduhan.

“Anak manis, aku mau bermain sebentar denganmu.” Suara lelaki menjijikkan itu terdengar ditelingaku. Yang lebih menjijikkan lagi dia melakukan asusila di depan seluruh penghuni tempat ini.  Aku tidak bisa menghentikan airmata yang mengalir dipipiku. Kejahatan besar terjadi dimataku, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku membenamkan muka Hye Mi dalam pangkuanku, juga menutup telinganya, satu lagi bukti yang aku dapatkan.

“Sampai kapan kau harus berada disini?” tanya wanita itu padaku saat kegaduhan itu mereda. Aku tidak bisa tidur, takut terjadi sesuatu saat aku tidur.

“Hanya sampai hari ini, besok aku harus melarikan diri.”

“Bagaimana caranya?”

“Saat melalui pos penjagaan, ada seseorang yang akan menungguku disana, aku harus bisa keluar dari truck bagaimanapun caranya, saat petugas memeriksa muatan.” Terangku padanya.

“Tidak menunggu sampai hari terakhir? Polisi akan mengadakan penyergapan di pelabuhan.”

“Ani, aku tidak berani jamin aku bisa keluar dari sini secara utuh.”

“Benar juga, disini terlalu berbahaya, jika terjadi sesuatu denganmu, Teuki bisa mengamuk.”

***

Akhirnya besok pagi kami disuruh untuk berkemas, pergi ke pelabuhan. Aku semakin cemas, bagaimana caranya keluar dari sini, hanya bisa berdo’a dalam hati agar dimudahkan jalan untukku melarikan diri karena aku tidak lari sendirian, aku membawa Hye Mi.

Kami dibagi dalam 2 kelompok, aku bersama Hye Mi, tapi terpisah dengan wanita yang mengenalku tapi aku tidak tau namanya. Aku tidak dibawa menggunakan truck, tapi menggunakan mobil. Sial, naluriku berkata, ada yang tidak beres.

Mobilku melaju cepat tanpa hambatan. Tidak melalui pemeriksaan, ada apa ini? Bagaimana aku melarikan diri jika mobilnya tidak berhenti?

Teuki’s POV

Ini sudah hari kelima Eun Kyo menghilang. Jagiya.. sebenarnya dimana dirimu? Aku sangat merindukanmu… tidak terbiasa tidur tanpamu. Gadis itu juga semakin menyusahkan. Dia bertindak seolah aku ini suaminya, beberapa kali dia mengajakku tidur bersama, juga tidak malu menggodaku. Saat itu terjadi, aku sangat merindukanmu Eun Kyo~ya.. aku merindukan saat-saat aku menggodamu. Tapi dua hari ini aku meminta Sungmin untuk menemaniku, dia aktivis HAM, aku rasa lebih pandai menghadapi psikologis Seong Ji.

“Hyung, memikirkannya lagi?” tanya Hyukjae.

“Setiap detik aku memikirkannya.” Jawabku.

“Tidak berusaha mencarinya?”

“Sudah, semua tempat yang kemungkian disingggahinya sudah aku datangi, hasilnya tetap tidak ada.”

“Hyung, jangan-jangan dia diculik.”

“Lee Hyukjae, bisakah kau berpikir rasional jika membicarakan tunanganku?!” jawabku gusar.

“Yah, mungkin saja.”

Saat aku berdebat dengan Hyukjae tentang dimana kemungkinan Eun Kyo berada. Seseorang membuka pintu ruangan kerjaku dengan keras.

“Hyung, maafkan aku.” Sungmin.

“Wae?” tanyaku dingin.

“Maafkan aku selama ini membohongimu.”

“Katakan dengan jelas.”

“Eun Kyo, dia masuk sindikat perdagangan wanita. Aku sudah melarangnya, tapi dia bersikeras ingin menuntaskan kasus ini. Aku memberinya sebuah GPS dibajunya, GPS itu hanya bertahan 3 hari, selebihnya akan mati. Dan aku… kehilangan jejaknya.” Jelas sungmin padaku. Aku langsung panik, otakku tak mampu berpikir, Eun Kyo? Masuk jaringan itu? untuk apa! Aku langsung meninju muka Sungmin, tapi Hyukjae dengan cepat menangkapku.

“Hyung tenang.”

“Bagaimana mungkin aku bisa tenag?! Hah! Eun Kyo, Eun Kyo dalam bahaya.”

“Tenang dulu Hyung, aku yakin dia bisa menjaga dirinya.” Ucap Hyukjae.

“Menjaga dirinya? Yak! Aku susah payah menjaganya tapi sekarang, sekarang dia menyerahkan dirinya sendiri ke lubang buaya yang kelaparan!”

“Bukannya kau juga buaya yang kelaparan? Kau takut Eun Kyo sudah tidak perawan lagi saat keluar dari sana? Sedangkan kau belum menyentuhnya sama sekali?” skak mak! Sepertinya Hyukjae bisa membaca pikiranku, aku menjaga harta paling berharga yang dia miliki, tapi dia? Dia melah menyia-nyiakannya.

“Aku rasa dia punya alasan melakukan itu. Wanitamu itu tidak mungkin ceroboh.”

“Tidak mungkin ceroboh?!” sahutku.

“Yahh.. baiklah dia memang ceroboh, tapi aku rasa dia bisa menjaga dirinya sendiri.” Hyukjae menenangkanku.

“Aku rasa dia benar.” Sergah Sungmin.

“Yak! Diam kalian! Lalu bagaimana caranya kita menemukannya? Lee Sungmin! Kau orang pertama yang akan aku bunuh jika aku tidak menemukannya.” Ancamku

“Aku akan mengerahkan beberapa anggota perempuan untuk mencarinya.” Seru Sungmin.

“Mau memakan berapa banyak korban?” tanyaku sinis padanya.

“Park Eun Kyo, aku harap kau pintar menjaga dirimu.”

“Tenang Hyung, jika kau tidak bisa menerimanya secara utuh, aku yang akan menerimanya.” Ucap Sungmin.

“Yak! Aku lebih dulu.” sergah Hyukjae. Aku memukul kedua kepala manusia tidak berguna dihadapanku ini.

“Aku tidak akan melepaskannya, bodoh!”

“Barang kali saja kau tidak suka barang bekas.” Sahut Hyukjae. Aku melotot kearahnya. Dia segera pergi dari hadapanku. Lalu kembali menyembulkan kepala di ambang pintu.

“Hyung, semoga saja Hye Jin bersamanya.” Ucap Hyukjae. Semoga, bisikku batinku khawatir.

“Hyung, aku ingin bicara sesuatu padamu.” Sungmin duduk dihadapanku.

“Aku bukannya ingin mencampuri urusan kalian, hanya saja Eun Kyo tidak pernah berbuat ini sebelumnya. Mengenai gadis yang ada dirumahmu, kau tidak merasa dia menyukaimu?” tanya Sungmin.

“Hufh, aku sudah merasa tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa.” Jawabku.

“Kondisi psikologisnya sudah normal, kenapa dia masih tetap berada di rumahmu?”

“Tapi dia belum memberikan bukti apa-apa.”

“Kau tidak merasa ini menyakiti Eun Kyo?” aku menatap padanya.

“Aku mengenalnya sudah sejak lama, dia selalu bercerita apapun padaku, maaf, aku tidak bermaksud menyaingimu, hanya saja dia melakukan semua ini karenamu.”

“Apa maksudmu?”

“Dia merasa kau mengacuhkannya demi pekerjaan sudah beberapa bulan, dan kau tiba-tiba membawa wanita lain masuk dalam rumah kalian, itu secara tidak langsung kau membiarkannya masuk dalam hubunganmu.” Aku mendengarkan ceritany dengan seksama.

“Ada beberapa cara perempuan mempertahankan miliknya, salah satunya adalah seperti Eun Kyo, dia membiarkanmu berpikir tenang dan membiarkanmu membedakan secara jelas bagaimana hidupmu setelah dia tidak ada. Dia menggunakan gengsinya, tapi juga tetap memikirkan kemungkinan buruk”

“Ada lagi cara yang lain yang digunakan Yeon Ji, dia menggunakan kelemahannya untuk mempertahankan ataupun merebut sesuatu.”

“Aku bingung.”

“Bingung? Apa kau sudah tidak mencintainya lagi?”

“Tentu saja tidak! Dia adalah seluruh hidupku. Aku tidak bisa melanjutkan hidup tanpanya.” Tegasku pada Sungmin.

“Baguslah kalau begitu. Dia melakukan ini karenamu, dia ingin kasusmu segera selesai, dan kau tidak lagi menampung gadis itu dirumahmu.”

“Aku juga berharap semua ini segera berakhir.” Seruku lirih.

Eun Kyo’s POV

Aku tidak tau kemana mereka akan membawaku. Aku memeluk Hye Mi yang bergetar ketakutan. Airmatanya mengalir dikedua pipi merahnya. Gadis kecil ini, malang sekali nasibnya.

“Hye MI~ya, jangan takut aku ada disini.” Aku mencoba menenangkannya. Tiba-tiba mobil berhenti dan kami disuruh masuk kedalam sebuah villa. Aku tidak tau ini villa siapa. Aku hanya mengikuti perintah mereka. Saat sampai disana. Beberapa orang disuruh melayani beberapa tamu di dalam kamar. Aku merasa sangat ketakutan, baru kali ini aku merasa sangat takut dalam hidupku. Aku ingin segera pulang, bersama Teuki Oppa. Aku merindukannya, merindukan pelukan hangatnya. Ya Tuhan, tolong aku.

Beberapa orang berlalu lalang dihadapanku dan Hye Mi, aku tidak pernah melepaskannya sedetikpun. Seseorang menghampiriku membuat jantungku seakan turun ke kaki.

“Kau Gadis cantik, kau akan melayani tamu terhormat, beruntung sekali dirimu.” Tamu terhormat? Aku semakin takut. Setelah beberapa lama kami mulai terlelap karena kelelahan. Tapi derap langkah besar membangunkanku. Ini adalah malam keenam aku berada dalam sarang mereka. Sungmin Oppa… apa yang harus aku lakukan?

“Kau, ikut aku.” Seru seorang berbadan besar menunjuk kearahku.

“Onnie, jangan tinggalkan aku.” Hye Mi tidak melepaskan tanganku.

“Bawa saja mereka berdua.” Jawab seorang yang lain. Mereka membawa kami berdua ke dalam sebuah kamar.

“Masuk.” Mereka mendorong kami. Seseorang bertubuh subur menunggu kami didalam kamar.

“Aigoo, ditemani dua Gadis cantik, aku beruntung sekali malam ini.” Aku menatap wajah orang itu, sepertinya aku mengenalnya, bukannnya dia adalah Kepala Polisi, atasannya Teuki Oppa, aku memang belum pernah bertemu dengannya, namun siapa yang tidak mengenal Kepala Polisi Jung. Aku sedikit terperanjat, namun otakku berpikir keras bagaimana caranya melarika diri dari sini sebelum terjadi apa-apa denganku.

“Tuan, kami ingin kekamar mandi dulu.”

“Oh, silakan.” Dia tertawa menjijikkan.

“Hye Mi~ya, saat aku menendang selangkangnya, kau tutup mulutnya dengan jaketku, Ara? Jangan sampai dia berteriak, mengerti?” Hye Mi mengangguk. Kami keluar dari kamar mandi, aku melancarkan aksiku.

“Tuan, bagaiman kalau aku pijit dulu.” tawarku padanya mengulur waktu, saat aku mendekatinya aku memberikan kode pada Hye Mi untuk bersiap, beberapa detik kemudian, aku menendang selangkangannya, bersamaan dengan itu Hye Mi menyumpal mulutnya dengan jaketku, hingga tidak terdengar teriakan sama sekali. Aku membuka jendela, untung kami hanya berada dilantai satu, bukan lantai dua, setelah melihat keadaan aman, aku yakin mereka lagi bersenang-senang sehingga penjagaan sedikit longgar, aku membawa Hye Mi berlari. Aku berlari juga tidak tahu arah, bersembunyi dari balik pohon yang satu ke pohon yang lain, setelah beberapa ratuus meter kami berlari sepertinya mereka menyadari kami hilang, beberapa orang mengejar kami, tapi aku berlari sekuat tenaga, aku melihat sebuah perkampungan beberapa ratus meter dari villa itu. aku segera berlari ke sebuah rumah yang pintunya terbuka dan meminta pertolongan.

“Tolong kami, kami dikejar orang jahat.” Nafasku terputus-putus. Untung saja mereka menerimaku dengan baik.

“Tenanglah kau aman disini, siapa yang mengejarmu?” seorang ahjumma memberiku minum.

“Mereka akan menjual kami.” Aku meneguk air yang disuguhkannya.

“Bagaimana bisa?” Ahjumma itu terperanjat.

“Panjang ceritanya, Ahjumma, kau punya telepon?” tanyaku.

“Mianhae, kami tidak punya telepon.” Jawabnya. Tapi tiba-tiba Hye Mi menyodorkanku sebuah telepon genggam. Aku rasa dia mencurinya dari pria hidung belang itu sebelum berlari.

“Gadis pintar.” Aku memberikannya senyuman termanisku. Aku menelepon Sungmin Oppa.

“Oppa, jemput aku sekarang, sebelum mereka menemukanku..” aku hampir menangis meneleponnya.

“Aku ada disebuah kampung, ah, tanyakan dimana letak villa Kepala Polisi Jung pada Teuki Oppa, tapi jangan katakan aku ada disini.” Aku menutup telepon.

Sungmin Oppa datang pagi-pagi sekali ke tempat ini, untung saja dia menemukanku. Aku tidak kuasa membendung bahagia, saat dia datang aku langsung memeluknya dan menangis dalam pelukannya.

“Gadis bodoh!” dia memegang kepalaku dalam pelukannya.

“Aku sangat takut.”

“Aku sudah memperingatkanmu, ini sangat berbahaya tapi kau keras kepala.”

“Mianhae, menyusahkanmu Oppa.”

“Aish, aku yang harusnya berterima kasih padamu. Kau punya buktinya?” aku menyerahkan pin dan beberapa alat lainnya dalam bajuku.

“Ini.”

“Kau baik-baik saja kan?” tanya Sungmin Oppa. aku mengangguk.

“Yaish! Kau ini membuatku sangat khawatir, 3 hari tanpa kabar, GPS mu mati, aku tidak bisa melacak keberadaanmu. Dan kau tau? Teuki Hyung menghadiahiku bogem mentah dipipiku saat dia tahu kau menghilang.”

“Mianhae.” Sahutku merasa bersalah. Dia mengacak rambutku.

“Tapi kau sekarang baik-baik saja aku bisa tenang.”

“Aku tidak ingin Teuki Oppa tau keberadaanku, kau belum memberitahunya kan?” Sungmin Oppa mengangguk.

“Aku adalah orang yang menepati janji, kecuali saat aku menghilang kemarin, aku terpaksa memberitahunya.” Sahutnya, aku tersenyum padanya.

Sungmin Oppa mambawaku beserta Hye Mi ke rumahnya. Aku yang memintanya untuk sementara tinggal dirumahnya. Aku belum ingin bertemu dengan Teuki Oppa.

Teuki’s POV

Aku masih memikirkan keberadaan Eun Kyo, seperti tidak mempunyai nyawa saat dia tidak berada didekatku. Aku merindukan kemarahannya, aku merindukan suapan terakhirnya, aku merindukan tubuhnya, aku merindukan harum rambutnya ketika aku memeluknya tidur, aku merindukan wajah merahnya saat aku menggodanya, aku merindukan suaranya, aku merindukan perkataannya ‘Oppa, aku akan melakukannya setelah kita menikah’. Aku merindukan semuanya dari dirinya.

“Kau sudah siap, Hyung?” tanya Hyukjae.

“Aku sudah siap.” Jawabku lemah.

“Ya.. jangan lesu seperti itu, harusnya kau senang, Eun Kyo pasti ada bersama Hye Jin.” Hyukjae mencoba menenangkanku.

“Semoga saja Hyuk, tapi kenapa hatiku sangsi?” tanyaku padanya.

“Yak! Jangan berkata seperti itu, yakin, dia pasti baik-baik saja.”

Aku melajukan mobilku dalam penyergapan yang akan aku lakukan di Pelabuhan. Beberapa anak buahku terlihat mengambil posisi. Aku juga tak lupa mengambil posisi, tapi aku sangat tidak sabar dan melangkah maju ke depan mengabaikan peringatan Hyukjae.

“Jangan bergerak, kalian sudah dikepung!” aku mengarahkan senjata pada seorang yang menarik paksa seorang gadis untuk masuk ke kapal. Orang itu terkejut dengan kehadiranku.

“Katakan dimana Park Eun Kyo berada.” Aku menodongkan senjata dikepalanya. Melihatku melakukan itu, yang lainnya mengarahkan senjata padaku dan mulai menembakiku, aku memakai rompi anti peluru dan menjadikan orang yang aku todong sebagai pelindungku. Baku tembak tidak dapat dihindarkan lagi. Terdengar beberapa teriakan dari dalam kapal. Ada juga yang berteriak minta tolong. Setelah satu jam bergelut dengan mereka akhirnya kau bisa meringkus jaringan ini.

Setelah keadan terkendali aku segera berlari ke dalam kapal untuk mencari Eun Kyo. Aku menemukan Hye Jin.

“Kau bersama Eun Kyo?” tanyaku langsung padanya. Aku berharap dia tau dimana Eun Kyo.

“Tiga hari yang lalu aku masih bersamanya, tapi sekarang, kami terpisah, mereka membagi kami menjadi dua bagian, menurutku, satu mobil yang membawa Eun Kyo bersama gadis lainnya adalah semua gadis perawan.” Jelas Hye Jin, dia menyerahkan hasil pengintaiannya.

“Jadi Eun Kyo tidak bersamamu?”

“Menurut pengalamanku, gadis perawan akan melayani tamu ekslusif, bisa juga dikirim keluar negri.” Jelasnya lagi. Aku menghantam meja.

“Sial!” geramku. Dadaku bergemuruh menahan amarah, emosiku sudah sampai ke ubun-ubun. Hyukjae menatapku iba.

“Hyung, tenanglah.” Dia mencoba menenangkanku.

“Bagaimana mana aku bisa tenang!” aku menendang tong sampah yang ada dihadapanku.

“Park Eun Kyo, begini caranya kau sama saja membunuhku perlahan.” Gumamku.

***

Aku mengumpulkan berkas-berkas yang akan aku serahkan ke pengadilan. Tiba-tiba pintu ruanganku dibuka seseorang.

“Hyung, kau sudah mengatar Seong Ji pulang?” Sungmin bertanya padaku.

“Belum.” Sahutku.

“Aku saja yang mengantarnya Hyung, kau tenang saja.” Jawabnya.

“Ye.” Sahutku dengan mata masih menatap layar monitor.

“Hyung, saat kau menyelesaikan pekerjaanku, silakan buka berkas ini, aku permisi dulu.” dia berpamitan padaku.

“Silakan, nanti aku lihat.” Aku memandang berkas yang ditinggalkannya. Memungutnya dan membukanya. Sebuah chip, aku memasukkan chip itu dalam computer dan segera membukanya. Mencengangkan sekali. Semua bukti dalam video ini sangat lengkap. Tidak ada yang dipotong, aku sedikit mempercepatnya karena tidak ada kejadian. Aku menghentikan percepatan saat video itu merekam Hye Jin. Dia menyebut namaku, ini pasti Eun Kyo! Aku menelepon Sungmin untuk meminta penjelasan! Sial Sungmin tidak mengangkat teleponnya, harusnya sejak tadi aku membukanya! Penyesalan memang selalu terlambat. Jika Sungmin mendapatkan bukti berarti dia tau keberadaan Eun Kyo. Aku menemukan secarik kertas dalam amplop itu. Di dalam amplop itu juga ada bukti lain, bukti bahwa ayah Eun Kyo mati karena racun, bukan seranga jantung.

‘Hyung, aku tau kau kesal sekarang, maafkan aku, ini Eun Kyo yang minta tidak memberitahumu.

Coba kau periksa villa Kepala Polisi Jung, mungkin masih ada bukti disana, para gadis perawan’

Aku segera memanggil Hyukjae dan menuju lokasi yang disebutkan oleh Sungmin, tidak lupa membawa beberapa anggota untuk berjaga-jaga. Saat sampai di lokasi aku memang menemukan bukti lain yang mencengangkan. Villa keluarga Kepala Polisi Jung berubah menjadi rumah bordil para orang berkelas. Aku segera meringkusnya, tak kenal itu atasan jika dia melakukan kejahatan. Pada awalnya Kepala Polisi Jung bersikeras melakukan pembelaan mengatakan dia tidak bersalah dan itu hanya pertemuan keluarga. Tapi aku tetap menahannya. Eun Kyo yang akan menjelaskan semua ini jika dia kembali. Cepatlah kembali Jagi~ya…

Pantas saja jaringan ini sangat sulit sekali diringkus, saat terkumpul beberapa bukti, mereka selalu bisa lolos, itu karena mereka mempunyai orang berpengaruh yang ikut andil dalam sindikat ini. Kematian Ayah Eun Kyo juga bisa mereka manipulasi karena yang melakukannya adalah orang yang mengerti hukum. Aku mengemudikan mobilku menuju kearah kota. Tiba-tiba saja poselku berbunyi, ada sebuah pesan.

From : Sungmin

Hyung, sekali lagi aku minta maaf menyembunyikan keberadaan Eun Kyo

Tapi aku tidak tahan melihat muka putus asamu

Jangan katakan padanya bahwa aku memberitahu ini padamu

Dia ada dirumahku, rumahnya aku kunci dari luar, dia tidak menyadarinya karena tadi dia sedang tidur.

Kuncinya ada didalam pot bunga disamping pintu.

 

Dadaku semakin bergemuruh menerima pesan dari Sungmin, kejutan apalagi hari ini yang akan aku terima. Park Eun Kyo kau membuatku gila. Aku menuju rumah Sungmin dengan terburu-buru, aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Eun Kyo dan menumpahkan emosiku. Aku memarkir mobilku sembarang di halaman rumah Sungmin, membanting pintu dengan keras dan mengambil kunci lalu membuka pintu. Aku memasuki rumah Sungmin dan mencari Eun Kyo disetiap sudut rumahnya, aku menemukannya di dapur melahap makanan. Aku langsung menarik tangannya menuju kamar, entah itu kamar siapa. Aku menghempasnya didinding dan menatapnya tajam.

“Apa yang kau lakukan?!” aku menumpahkan emosiku padanya.

“Kau gila?! Kau membahayakan dirimu sendiri!” lanjutku. Dia hanya terdiam.

“Kau tau itu berbahaya? Kau bisa kehilangan hartamu paling berharga, mengerti?!” aku masih marah, dia menunduk.

“Mianhae membuatmu cemas.” Sahutnya lemah. Aku terdiam lama.

“Aku sangat takut kehilanganmu.”

“Takut tidak bisa melihatmu lagi.”

“Ya.. sekarang aku ada disini kan? Aku baik-baik saja.” Dia memegang pipiku.

“Baik-baik saja? Benarkah?” aku menatapnya tajam.

“Tidak kurang sesuatu apapun?” tanyaku.

“Apa maksudmu tidak kurang sesuatu apapun?” nadanya meninggi.

“Kau?” aku memeluk tubuhnya merapat padaku sambil terus menatap matanya. Aku mencium lehernya, hal yang paling suka aku lakukan setelah mencium bibirnya. Dia menggeliat, aku terus menciumnya, perlahan membuka kancing bajunya satu persatu dan menurunkan kecupanku lebih ke bawah.

“Oppa apa maksudmu?” dia meraih kepalaku disejajarkannya dengan wajahnya.

“Kau menuduhku sudah tidak perawan lagi?” protesnya. Aku mencium bibirnya.

“Siapa tau.” Sahutku menggodanya.

“Yak! Kau jangan menuduhku sembarangan, aku masih perawan!” protesnya.

“Aku tidak akan tau jika belum memastikannya.” Aku meraba perutnya sambil menciumnya.

“Oppa, kau!” aku mencium bibirnya menghentikan aksi protesnya. Aku membawanya ketempat tidur. Mengunci tubuhnya dengan tubuhku. Saat aku memperdalam ciumanku dan Eun Kyo mulai tak berkutik, tiba-tiba saja..

“Onnie~ya.. aku lapar.” suara seseorang mengagetkanku.

“Hye Mi!” pekik Eun Kyo sambil mendorong tubuhku ke samping. Nafasnya tersengal-sengal akibat dari perlakuanku.

”Ye, silakan ambil di dapur sayang.” Eun Kyo menyahut gadis kecil itu dengan lembut.

“Nuguya?” tanyaku.

“Ceritanya panjang, nanti aku ceritakan.” Dia mulai beranjak dari sisiku.

“Ya.. kita belum selesai.” Aku menariknya dalam pelukanku.

“Park Jung Soo!” jika dia memanggil nama lengkapku itu artinya dia sedang marah.

“Aku sudah bilang padamu aku tidak akan melakukannya sebelum kita menikah!” dia menendang kakiku, aku hanya tertawa membalasnya.

“Kalau begitu kita menikah besok, aku sudah menyiapkan semuanya, gaun pengantin, gereja, cincin dan saksi, aku sudah menyiapkannya jauh-jauh hari.” Teriakku padanya yang sudah menghilang dari hadapanku.

“Darimana kau tau ukuran bajuku?” tanyanya dengan kepala menyembul di depan pintu.

“Aku setiap malam memelukmu, tau semua ukuran pada tubuhmu, mau aku sebutkan?” aku menggodanya.

“OPPA HENTIKAN!”

***

Aku sudah menikah dengannya. Ini adalah malam pertamaku, meski malam pertamaku tidur dengannya sudah terjadi sejak  7 bulan yang lalu, tapi tetap saja ini adalah malam pertama setelah kami menikah. Dia keluar dari kamar mandi, aku langsung memeluknya.

“Oppa, kau tidak sabaran sekali.”

“Kau kira mudah menahan naluriku berbulan-bulan sementara kau tidur disampingku setiap hari? Gerakan tanganmupun membuatku tergoda namun aku menahannya!”

“Aigoo.. begitu tersiksanya.” Ejeknya.

“Makanya malam ini kau jangan membuatku tersiksa lagi.” Aku meraih bibirnya, mengangkat tubuhnya dan melingkarkan kakinya dipinggangku. Aku menciumnya dalam, setelah itu aku membawanya ke tempat tidur dan mengunci setiap gerakan menolaknya seperti biasa. Park Eun Kyo, malam  ini kau adalah milikku!

###

Selalu aku yang bangun lebih dulu, menikmati wajahnya setiap pagi saat dia terlelap. Park Eun Kyo terima kasih kau telah hadir dalam hidupku.

“Bagaimana? Sudah terbukti kan?” dia berkata tapi matanya masih terpejam, dia tersenyum membuka matanya. Aku menciumnya.

“Katakan padaku semuanya terbukti kan? Aku masih utuh milikmu?” tanyanya meminta jawabanku.

“Hem, kau terbukti hanya memberikannya padaku.” Aku menciumi lehernya.

“Oppa, apa kau tau? Mengapa aku selalu memberikan suapan terakhirku padamu?”

“Hem?” aku masih betah mengecup lehernya.

“Karena pada suapan terakhir, aku menyisakan makanan yang paling aku suka.” Aku berhenti menciumnya dan menatap wajahnya.

“Aku menyisakan makanan yang menurutku paling enak dan terakhir aku nikmati pada suapan terakhir, dan aku selalu memberikan suapan terakhir itu padamu.” Aku mengerti sekarang. Seperti suapan terakhir itu, dia menyisakan sesuatu paling berharga dalam dirinya untuk dia persembahkan padaku. Aku mengecup bibirnya.

“Aku menyisakan seluruh hidupku dan sesuatu paling berharga untukmu.” Dia berkata disela ciumanku.

“Aku mengerti, aku sangat mencintaimu Park Eun Kyo, akan menjalani kehidupan terakhirku bersamamu.”

‘Seseorang akan menyadari sesuatu itu berharga setelah kehilangannya.’

  FIN

Lalalalalalalaalalalala *nari hula-hula* akhirnya selesai juga… Penuh perjuangn manyelesaikannya. Bête aku mah, disuruh-suruh jalan kesana-kemari, padahal aku lagi moodnya nulis, mianhae jika ini kurang memuaskan, aku gila nulis ff. ff ini juga terinspirasi dari Ceci magazine dan sebuah film. Aku nonton pilem yang perdagangan wanita aku lupa judulnya apaan, gila ih, menegangkan sekali.. bikin mewek.. dan itu adalah kisah nyata.. mengerikan sekali.. para wanita, jagalah dirimu baik-baik, ara?!

Ini ff aku persembahkan buat indah onn, yang pengen oneshoot, dari kemaren nyuruh aku bikin oneshoot, katanya cape baca yang sequel, sekarang udah fika kasih, semoga onnie puas… yang lainnya juga silakan menikmati yah… maaf jika ceritanya aneh dan ga nyambung banget, disini actionnya, ceileh action… action tidak terlalu berasa seperti dua ff terdahulu, aku ingin menojolkan sesi dramatisnya, ceileh gayanya fika ini… semoga ini dramatis dihati pemirsa sekalian, eh salah ding, dihati reader sekalian.. aku mah bikinnya udah hati-hati banget… biar itu nyambung ceritanya, tapi kalo misalnya dibenak kalian ga nyambung, lain kali aku akan lebih hati-hati lagi.. akhir kalam aku mau berangkat kerja, silakan menikmati… *bow bareng Teuki* jangan lupa meninggalkan jejak kalau bisa yah… *Chu reader satu2, sun jauh buat sider* love u… rindukan aku selalu…

Teuki : Jagi… cepetan mandi, bau!

Aku : Bukannya kau terbiasa dengan bau tubuhku?

46 responses »

  1. ceritanya sukses bikin aku ngerasain emosinya fik*jailahh*,,feelnya dpt bgt,,pas eunkyo ngrasa enek ma siseongji noh,,aku juga jdi ikutan ngerasa,,
    tpi eonn ga trima kalo hyukjae menyukaimu,,apalgi ampe rebutan gtu ma umin,,
    hyukkie kau hanya milikku*seret hyukki*,,
    keren fik ceritanya,,mlam pertmanya kok ga dijabarin sih,,pdhal seru tuh kalo dijelasin,,hihihihi*yadong akut*,,
    actionnya jga cukup,,,pokoknya kereeeenn,,,
    utk teuki oppa,fika kan mo diklat tuh,,tuk sementra oppa tgl bareng aku aja ya,,kasian sendri ga da yg urus,,mau ya oppa
    teukpa :iya saeng
    aku :cihuyyyyyyy*chu oppa*

    • aih onnie komen pertama… yah secara kan emang buat onnie, tp buat yang baca juga sih…
      onnie….. fika salah… itu bukan seong tapi yeon ji, yaelah… gegara dibawa oom keliling neh, fika nyambung endingnya jadi error… lupa sama peran pembantunya…
      hyuk? suka sama fika? kaga……!!! itu cuman godain Teuki doang…. kaga seriusan itu mah..
      umin juga…. dia cuman sahabat aku… dalam hidup memang ada seseorang yang kita jadikan kepercayaan kan? fika juga punya satu temen kaya gitu, kemanapun dia selalu ada buat fika… cowo juga, sampe2 dikirain tetangga pacaran… cuman engga…… ga pacaran… dia juga punya cewe… cuman enak aja ngomong semuanya sam dia…. fika si ga punya perasaan apa2… cuman kalo cerita ke dia tu nyambung gitu… begitu juga eun kyo sama umin….

      ga aneh kan actionnya??? huwehehehehehe, tp ga se action siwon kemaren…
      malam pertama? malam pertamanya hanya kami berdua yang tau onn, kata Teuki Oppa tuh pamali ngumbarin malam pertama ke orang… ya kan Oppa? kekekekekekekeke
      kagaaaaaaa Oppa tetap sendirian… nanti Oppa jengukin fika di asrama…… jangan cium2 Oppaaaaaaaaa

  2. ONNIE…
    Sekali kali bikin Pg-25 donk..
    Hahahahaha

    ish…mupeng aku bacanyaa….
    Onnie..aku ga mau tau !
    Neo harus mesti wajib kudu fardhu ain Tanggung Jawab !!
    Gyahahahaha

    eh onnie, masa aku baca ini d tmenin sm lagu2 suju k.r.y.s.d . .hahahaha
    ga nyambung bgt…
    Jelas2 itu kyuhyun,ryeowook,yesung,sungmin,donghae..bukan eeteuk eunyuk..hahahahai

    onnie, berkali2 baca ini tapi aku ga bosen bosen…sumpah deh..felnya dapet bgt !!
    Aku makin cinta deh sama kamu..
    Muach muach..

    • aaaaaaahhhhhhh kaga! apaan noh NC 25, km blm cukup umur….!!!
      tanggungjawab apaan??? fardhu kifayah aja… kaga fardhu ain….
      in my dream? itu mah dlm mimpi km…
      berkali2 baca? ga bosen??? km ngebayangin apaan coba???

  3. berasa aku yang dijamah sama Teukie -3- lalala~
    aku kira Eunkyo dari pertama udah di culik, trus di selametin sama Teukie u,u ternyata analisis aku salah *peluk Kyuhyun*
    Eunhyuk sama Umin ngga ada couplenya-_- sini masuk kantong aku aja :3
    sumpah aku dapet banget feelnya pas Teukie lagi ngejamah Eunkyo, berasa baca NC padahal ngga NC (?) haha~

    • berasa dijamah teuki??? lah, nyonya cho? ada2 saja… kyu~ya… binimu neh apaan coba? hehehe
      berasa dijamah teuki berarti kan fell dapet kan ya?
      syukurlah kalo gtu… makasih ya syg udah baca…
      ini bukan NC ini PG syg….

  4. fika eon, ceritanya seru…
    Tp klo d liat2 dr kmren eoni bkn ff yg bergenre rda k action nih? Ada apakah gerangan?
    Tp aku suka semua kok…
    Di sini bkin tegang deh pas eunkyo dbw pergi bgs dy bs kbur…
    Daebakk dh eon,,,
    Dan sbg wanita Indonesia aku jg spendapat bahwa sesuatu yg brharga bg seorang wanita akan d berikan stelah menikah*gaya bgt y kt2 aku eon?*
    Pkknya okeh dah… rda k action nih? Ada apakah gerangan?
    Tp aku suka semua kok…
    Di sini bkin tegang deh pas eunkyo dbw pergi bgs dy bs kbur…
    Daebakk dh eon,,,
    Dan sbg wanita Indonesia aku jg spendapat bahwa sesuatu yg brharga bg seorang wanita akan d berikan stelah menikah*gaya bgt y kt2 aku eon?*
    Pkknya okeh dah…

    • engga, aku jg setuju……!!!
      makasih mia syg udah mampir dan komen…
      tau neh suka action, drama action, dr kmrn aku tu nonton pilem bergenre bgini, tp g tau judul…
      trus yg aku tonton cerinya nyata itu prdagangan wanita, itu bikin bergidik… aku jg lupa judulnya, mgkn reader lain tau, tapi ff aku brbeda loh, hanya tema yang sama…
      di pilem itu ceritanya pncarian gadis kecil berusia dibawah 13 tahun oleh sodaranya yg diculik adn dijadikan pelacur, jadi itu tuh bukan dirumah bordil ditarohnya, jaringannya rumah bordil brjalan, hanya akan mnerima pesanan lwt telpon, jadi itu mobil truck keliling dari satu negara ke negara lain… bs ngebayangin g tuh kalo aku jd gadus kecil itu aku mah bunuh diri! trus kalo pas ngelewatin pos pnjagaan antar negara, polisinya tu dikasih pelayanan, mknya bs lolos, anak kecil itu sama ada satu wanita dewasa, dia diculik pas boarding pass di bandara, wanita itu mau nyari anaknya yg dibawa sm mantan suaminya kalo g salah, dia terperangkap dalam sindikat itu, trus wanita itu, dicari sama Appanya yg seorang kalo g pejabat apa gtu aku lupa, Appanya itu pisah sm mamanya, wanita itu ikut mama, nah begitu deh ceritanya. seru menegangkan…!!! bikin hati miris liatnya, cwenya cantik banget masih bocah, diculik pas dia pulang pake sepeda bawa bunga buat dirumah, sepedanya dibiarkan begitu saja, abangnya tungeliat tp g bs apa2, secara abangnya juga masih bocah umur kayanya belasan juga deh, huweeeeeee sumpah mewek nangis sesenggukan aku….!!

  5. huahhh sumpah tegang bgt

    Ni ff benar2 sempurna, sampai2 ga tau hrs komen apa

    Aih kenapa selingkuhan ku ikut merebutkan eunkyo *nunjuk2 idung umin* pertengkaran mrk be3 lucu bgt, lg tegang2 nya msh rame ngerebutin eunkyo klo tdk perawan lg kekekeke

    • bukan…. itu mah bukan ngerebutin aku… itu si umin sm hyuk cuman ngegodain oppamu…
      abisnya oppamu kebakaran jenggot kehilanganku…
      tidak ada yg ingin merebutku…
      umin… dia hanya nemen *ngikutin gaya aim manggil temen jadi nemen* berbagi bersama,,, sejak dulu… dia sepertinya kiyut gmana gtu, jd aktivis HAM sepertinya cocok, kan dia lembut dan unyu2 bgt tuh… trus jg penyayang…
      nah kalo si hyuk, dia kan emang sdkt rada yadong, penasaran berat kenapa Oppamu noh jagain aku mulu… jiwa playboynya sering godain Oppamu…
      jangan marah, siapapun jgn marah… *sembunyi dketek Oppa*
      aku tidak bermaksud bikin hyuk sm umin suka sm aku… dia hanya menggoda Teuki…
      terima kasih sayang udah baca ff aku…

  6. Like a Last Wish~

    jujur ahh.. bngung mau komen apa udh bagus kok.. bahasanya, settingnya, pembawaanya, auranya, tokohnya, karakternya, suasananya, kata2nya erhhmm.. apa lagi eon?

    Eonni~~ teuki buat saeng ya?? ngalah dong kan eonni udh gedeee~~ keke~

  7. Baru menemukan blog ini dan….. Kok bagus sih cerita2nya *nangis*
    Kayaknya EunKyo bakalan jd next fav couple ak setelah KyuNa and HaeGa hahahaha
    Cerita kalian semua pada bagus >.<
    ah disini leeteuk juga romantis banget! Suka banget deh. Eh by the way disini kok GD ya banyak yg diproteksi yah? Kan ak mau baca yang lain juga ㅠㅠ

  8. Wuah! Daebakkk!!! Keren onnie!!
    Btw itu typo ya? Jin hye jadi hye jin, yeong ji jadi seong ji.. Wkwkwkwk
    Ah baru aja aku ada lomba mading tema human trafficking, eh baca ini jadi lebih paham~ gomawo onnie!
    Kekeke.. Kasian itu si teuki tersiksa (?) lah, pengen ktmu cowok gitu jadinyaa..
    Tapi tapi, kalo mau mastiin itu namja baik2 ato ga pake cara tinggal srumah n liat dia bisa tahan ato ga bahaya juga ya. Iya kalo bisa, kalo ga??
    Wkwkwk.. Yah pokkoknya seru onni! Pas bagian hyemi sama eunkyo di markas persembunyiannya tegang banget! Romance action gitu ya genrenya.. Hehehehe
    Keep writing~~
    – AlwaysNadineLee –

    • always typo aku ini, kebalik balik.. kebanya kan nama yang berseliweran dalam otakku..
      hehehehehe, ya g mungkin lah tinggal serumah, gila aja…
      hooh, ini action romance, tapi g action2 banget juga sih…

  9. sepertinya ini yang pertama kali hoho lagi bosen dirumah dan akhirnya searching fanfic :p
    udah takut aja kalo eunkyo ga selamat😮 ga bisa bayangin jadi apa uri uminnn >< tapi tapiii
    kereeeen, apalagi akhir"nyaa itu yg jelasin kenapa suapan terakhir :3
    bukan jadi sisa tapi malah menjadi yang terpenting…
    hoho..

    akhir kata~ salam kenal chingu-ya~ ijin baca ff teukyo yang laen yaak😀

  10. ide cerita.a aku suka, perdaganan manusia, sbnr.a wlwpn bkn itu jg gpp si, aku suka drama action (tp lbh k memech kejahtn, kyk dtktf conan)

    cerita ini ngingtn aku sm k-drma prosecutor princess..

    eh tp gd crtain nasib yeoja agresif itu?

  11. Wah eonnie~ya , benar2 daebakkk dirimu ini.
    Feelnya dpt bgt, sumpehhh :>
    cape aku ngubrak abrik blog ini trnyata eh trnyata smuanya ada d library, huftt^^. Wlwpun gtu smua trbalas dgn ep,ep dirimu yg daebakkk ini, hehe,
    gda yg prlu d komentari, smuanya daebakkk .
    Ok deh, comment ku like oxigen buatmu, haha …
    Aku mau bca yg lain, capcusss🙂

  12. D.A.E.B.A.K
    oenniiii
    #teriak pke toak
    aku suka bgd ceritanya feelny dpt bgd aplgi prtengkaran umn hyuk sma teukie sng bgd nih jd eunkyo direbutin ma 3 namja tampan haha..
    ceritany lucu romantis suka bgd udh lma gk mmpir ke blog eonnie trnyta bnyk ff keren bertebaran haha..
    teukyo emang the best ngebayangin muka teukie waktu digodain ma hyukjae bkin aku ngakak..
    trnyta predikatmu sbgai raja yadong tidak brkurang sdkitpun wkwk..
    fighting eonni aku sllu menunggu karya”mu
    #cium eonni chuuu haha..

  13. Trus naseb Yeonji gmana tuh??
    Tp gak pntg banget la ama tuh cewek..
    Uda ditolongin jg gak tau diuntung..
    Malah merasa jd Tuan Rumah pulak lg..
    akhirnya Eunkyo menikah jg ama Jungsoo
    klo gak Jungsoo gak bakalan bs nahan lg tuh.. wkwkkw

  14. seru baca ff action gini
    ngbayangin gmna tampang teuki oppa pas bagian baku tembak,
    jd ikutan sebel si Yeon ji kyaknya gk tau trima ksih bgt dah ditampung malah mau ngrebut Teuki oppa dr Eun Kyo..

  15. Daebaakk daebaak daebaakkkk eonniiii!!!
    *melukVikaeonni*
    Adduuuuhhhh disini LeeTeuk oppanyaa unyu bangeettt:”D
    Aku superduper terharu sama LeeTeuk oppa..
    Aku jadi ngebayangin LeeTeuk oppa senyum… Pake dimplenya ituuu.. Aaaaaaa pasti unyuuuu:’3
    Buset, ini tuh ff terBAGUS yg pernah kubaca! Sueeeerrrrrr:3
    Disini tuh ceritanya unik gitu, ga kaya ff2 kebanyakan x) x)
    Truuss alurnya rapi, ditambah Vika eonni yang ngetiknya jarang ada typo. Huaaaaa eonni emang paling keren deeehh(y)!

  16. Omoooo,, eonnie, ini keren banget ㅠㅠ
    Semuanya jd satu, tegang, kesel, lucu, manis (?) smwnya satu paket d FF ini. Keren eon… :’)
    Tp yah, saiia ngakak, masa iya lg tgng2nya sm hilangnya eun Kyo, si hyuk sm sungmin oppa msh bs b’canda ㅋㅋㅋ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s