The Way of Love (Jinhae Couple)

Standar

Aku ingin mencintaimu

Memperlakukanmu dengan benar

Aku ingin mencintaimu

Setiap hari dan setiap malam

Kita akan bersama-sama satu atap

Akan berbagi tempat tinggal dan berbagi tempat tidur

Serta berbagi ruangan yang sama

(Is This Love – Bob Marley)

Jina’s POV

Aku berjalan menyusuri lorong Gereja. Melewati orang-orang yang duduk dengan rapi menyaksikan pernikahanku. Aku berjalan perlahan menuju altar bersama Appa. Beliau menggenggam tanganku erat, seolah tak ingin melepaskanku. Aku menatapnya dalam, ada sebuah kejanggalan yang aku tangkap dari tatapannya. Entah apa itu, aku juga tidak tau.

Hari ini adalah hari pernikahanku. Appa yang memintaku untuk menikah dengan lelaki pilihannya. Aku dilarang membantah demi kebaikanku. Melihatnya memelas padaku membuat hatiku luluh. Lagipula aku belum mempunyai kekasih, apa salahnya aku membahagiakan Appa? Satu-satunya keluargaku yang tersisa. Dia ingin aku menikah dengan Song Yeong Jun, orang kepercayaannya di perusahaan. Perusahaan Appa adalah perusahaan eksport impor yang terbilang bonafit di Korea.

Aku telah sampai pada mempelai pria yang sudah berdiri menungguku di depan altar. Appa menyerahkanku pada pria itu, namun tangannya menggenggam erat tanganku, hingga aku menatap pada tangannya yang masih menggenggam tanganku, aku menatapnya bingung. Ada sebuah ketidak relaan tersirat dari genggamannya. Aku tersenyum padanya, Appa memalingkan wajah dan aku masih bisa melihat, beliau menitikkan airmata. Aku bingung, Appa tidak pernah bersikap seperti ini, bahkan saat melepasku pergi ke Jepang untuk sekolah saja tidak seperti ini. Seperti aku tidak akan bertemu dengannya lagi. ‘Appa, ada apa denganmu?’ hatiku bertanya-tanya.

Sumpah setia di hadapan Tuhan telah terucap. Lelaki itu tersenyum padaku dan mengecup ujung kepalaku. Seiring dengan kecupannya di puncak dahiku, aku mendengar bunyi tembakan. Seketika suasana menjadi tak terkendali. Seseorang menarik tanganku. Membawaku lari dari tempat itu. aku terus berlari dengan gaun pengantinku yang sedikit robek karena tersangkut berbagai macam benda yang aku lalui. Dia terus membawaku berlari. Appa.

“Jina, apapun yang terjadi, tetaplah berlari, jangan memperdulikanku, ara?” ucapnya sambil terbata-bata karena kami sedang berlari.

“Waeyo Appa? Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang, yang pasti, jangan pernah percaya pada siapapun, arasseo?!”

“Ne, arasseo.”

“Satu hal lagi, hal yang paling membahagiakan dalam hidupku adalah saat melihatmu lahir dan mendengar tangisanmu. Park Jina.”

“Appa, apa yang kau katakana, apa maksudmu?” dia semakin membawaku lari dengan kencang, namun sebuah tembakan bersarang di kakinya membuatnya  tersungkur.

“APPA!” aku terkejut dan langsung memapahnya, airmata mengalir di kedua mataku.

“Lari Jina~ya, ingat, jangan percaya pada siapapun, teruslah berlari!” Appa mendorongku dan menyuruhku berlari. Aku berlari sekuat tenaga meninggalkannya yang sedang sekarat.

Aku menoleh beberapa kali saat berlari meninggalkannya. Airmataku terus mengalir melihatnya tergeletak tak berdaya bersimbah darah. Appa, mianhae. Sambil terus berlari, aku terus berpikir apa yang sedang terjadi. Aku baru saja menapakkan kaki kembali di Korea setelah lama tidak pulang karena Appa yang sering mengunjungiku ke Jepang. Aku tidak tahu sama sekali daerah Seoul, aku terus berlari mengikuti arah jalan. Orang-orang yang tadi mengejar Appa, sebagian mengejarku. Aku kebingungan memilih arah. Gaun pengantinku menyulitkan gerakanku.

Saat aku kebingungan menentukan arah, tiba-tiba sebuah tangan menarikku dan melayangkan senjata kearah orang-orang yang mengejarku, lalu melepaskan tembakan. Dengan gesit dia melindungiku dan memainkan senjatanya. Aku hanya bisa terpaku dengan tindakannya. Siapa lelaki ini?

Donghae’s POV

Aku baru saja ingin menuju Gereja tempat lelaki itu melangsung pernikahannya. Song Yeong Jun, aku akan membalas semua perbuatanmu. Isi kepalaku dipenuhi dendam yang belum terlampiaskan pada seorang lelaki bernama Song Yeon Jun. Dadaku bergemuruh saat mendengarnya akan menikah.

Aku menyusuri jalan menuju tempat pernikahan itu berlangsung. Dari kejauhan aku melihat seorang Gadis sedang berlari dengan mengenakan gaun pengantin. Aku memperhatikannya. Ada beberapa orang berjas mengejarnya. Hatiku tergerak untuk menolongnya.

Aku menarik tangannya dan mendorongnya ke belakangku dan mengarahkan tembakan pada beberapa orang yang mengejarnya. Kudorong dia untuk mundur, lalu berlari bersama Gadis itu. saat sampai di persimpangan yang sepi, aku menarik tangannya dan membawanya bersembunyi di balik tempat sampah yang besar. Dia menatapku heran namun tidak juga berusaha lari dariku. Sepertinya aku pernah melihat Gadis ini, tapi dimana? Mukanya pucat ketakutan, airmatanya sesekali menetes dari sudut matanya. Melunturkan make-up yang menghiasi wajahnya. Tangannya menggenggam erat tanganku, dia kesulitan bernafas karena lelah berlari.

Krek!

Aku merobek baju bagian bawahnya hingga lutut, melepaskan jasku dan memakaikannya di punggungnya, menutupi bahunya yang tidak tertutup apapun membuatku risih melihatnya. Dia tidak merespon semua perlakuanku. Bahkan saat aku merobek bajunya pun dia hanya diam saja. Mungkin karena rasa takutnya lebih besar hingga mengabaikan perlakuan tidak sopan yang aku lakukan padanya. Tidak sopan? Aku hanya memudahkannya dalam bergerak.

“Gwaenchana?” tanyaku. Dia mengangguk.

“Siapa mereka?”

“Aku juga tidak tau.” Jawabnya lemah.

“Lalu, mengapa kau mengenakan ini?” aku menunjuk kearah gaunnya.

“Oh, aku baru saja menikah, tapi setelah itu kekacauan ini terjadi.”

“Siapa kau?” tanyaku.

“Aku Park Jina.”

Park Jina. Bingo! Akhirnya aku menemukannya. Apa yang harus aku lakukan dengan keadaanya yang seperti ini? Aku menarik tangannya dan membawanya berlari. Aku membawanya berlari kearah jalan raya.

“Hentikan!” dia menepis tanganku.

“Aku ingin pulang.” Katanya sambil berlari ke tepi jalan. Aku terpaku dan berbalik meninggalkannya. Namun suara dentuman keras menghentikan langkahku. Aku melihat gadis itu tergeletak di jalan bersimbah darah. Aku langsung berlari menghampirinya dan meminta orang-orang untuk menolongnya. Mobil yang menabraknya raib entah kemana.

Aku menemaninya di dalam ambulance yang membawanya ke rumah sakit terdekat. Wajahnya penuh dengan tetesan darah yang mengalir dari kepalanya. Aku menyeka wajahnya dengan sapu tangan yang aku ambil dari sakuku. Gadis malang.

Setelah sampai di rumah sakit dia langsung ditangani para dokter dan masuk dalam ruang operasi. Aku masih menunggunya diluar. Ck! Lee Donghae, sebenarnya apa yang terjadi dengan dirimu? Mengapa kau mengkhawatirkannya? Aku ingin meninggalkannya begitu saja, namun hati kecilku melarangnya. Hufh, pikiranku berkecamuk.

“Anda suaminya?” tanya seorang Dokter yang keluar dari ruangan operasi.

“Ne? ah, ne.” jawabku, aku tidak tau kenapa aku menjawabnya seperti itu.

“Silakan anda tanda tangani surat pernyataan operasi, istri anda harus dioperasi sekarang juga.”

“Ah, ye.” Aku mengikuti Dokter itu berjalan keruangannya.

***

Lama menunggu proses operasi, aku terlelap di bangku ruangan tunggu rumah sakit. Seorang perawat membangunkanku. Aku segera berdiri.

“Maaf Tuan, Anda di suruh ke Ruangan Dokter Han.”

“Ah, ye. Gamsahamnida.” Jawabku sambil membungkukkan badanku. Akumenuju ke ruangan yang dimaksud dan mengetuk pintunya.

“Silakan masuk.” Suara dari dalam menyuruhku masuk. Aku menunduk padanya seorang Lelaki yang berpakaian serba putih yang duduk dibalik meja itu.

“Silakan duduk Tuan Lee.” Aku mengikuti instruksinya.

Dia menyalakan sebuah mesin yang akutidak tau namanya.

“Ini adalah hasil CT scan istri anda.” Dia menunjuk kearah gambar hitam.

“Istri anda mengalami benturan keras di kepala bagian sini.” Dia menunjuk ke salah satu bagian gambar yang aku sangat tidak mengerti itu bagian apa. Aku hanya mengangguk mendengarkan penjelasannya.

“Kemungkinan ada beberapa efek yang ditimbulkan oleh benturan keras itu, Saya tidak berani memastikan, kita bisa melihatnya saat istri Anda sadar.”

“Kira-kira apa yang akan terjadi?” tanyaku.

“Kemungkinan besar dia akan mengalami amnesia. Paling tidak dia mengalami amnesia saat kejadian itu berlangsung karena dia sedang shock. Tapi juga tidak menutup kemungkinan dia akan melupakan siapa dirinya. Tapi kemungkinan paling fatal adalah koma. Tapi bisa juga tidak terjadi apa-apa. Kita hanya bisa memastikannya setelah dia sadar.”

***

Aku berjalan menuju rumahku dengan perasaan bimbang. Akan terus menemuinya dan mengakuinya sebagai istriku, atau meninggalkannya begitu saja? Jika aku mengakuinya sebagai istriku, maka aku akan bisa membalas dendam atas kematian Yoon Jo, tapi itu jika dia amnesia, tapi jika tidak dia tidak akan percaya kalau aku adalah suaminya. Tapi jika kutinggalkan begitu saja, kasian juga, hey, tapi aku sudah membiayai semua administrasi rumah sakit, harusnya dia berterima kasih padaku. Pikiranku masih kalut. Aku memarkir mobilku di bawah gedung apartemen.

Aku membersihkan badanku. Rasanya lelah sekali. Aku mengingat kembali kejadian beberapa jam yang lalu. Gadis itu dikejar orang-orang yang tidak dikenalnya, padahal dia baru saja menikah, apa yag sebenarnya terjadi? Dia adalah seorang putri seorang pengusaha kaya. Aku memakai bajuku dengan rapi dan berniat kembali ke rumah sakit.

***

Memasuki lorong rumah sakit yang mempunyai bau khas ini membuatku mual. Aku teringat Appa yang meregang nyawa disini, juga mengenang Yoon Jo yang bersimbah darah disini. Aku berhenti di ruangan tempat Gadis itu dirawat. Ragu ingin kembali, tapi..

“Tuan Lee, istri anda sudah sadar.” Seorang perawat membuyarkan lamunanku.

Jina’s POV

Aku membuka perlahan kedua mataku. Cahaya yang masuk ke retina mataku membuat mataku menyipit. Aku mengingat kembali apa yang terjadi pada diriku? Mengapa aku bisa berada disini sambil memejamkan mataku tapi tidak satupun yang aku ingat. Aku sudah terbiasa dengan cahaya itu dan mulai beradaptasi dengan keadaan. Ruangan serba putih, baju putih, dimana aku? Aku mengamati setiap sisi ruangan. Terlihat beberapa orang juga mengenakan pakaian putih. Aku ingin bertanya tapi mulutku tercekat.

“Kau sudah sadar Nyonya Lee?” seorang Lelaki berpakaian putih menyapaku. Nyonya Lee? Aku sudah menikah?

“Sebaiknya kau istirahat dulu, Tuan Lee sedang mengambil keperluanmu.” Lelaki itu beranjak meninggalkanku, dari pakaian dan raut wajahnya yang tegas, dia terlihat seperti seorang dokter.

“Dokter, dimana aku? Kenapa aku berad disini? Dan… siapa aku?” aku menanyakan kalimat terakhir dengan ragu. Dokter itu hanya tersenyum.

“Istirahat saja dulu.

Setelah beberapa lama sendiri dalam ruangan ini, aku masih berusaha mengingat semua yang terjadi namun hasilnya tetap sama, tidak ada memori sedikitpun dalam otakku. Bahkan aku tidak bisa mengingat namaku sendiri, dan itu membuat kepalaku sakit. Ketika aku bergelut dengan pikiranku sendiri, tiba-tiba seseorang membuka pintu, aku menoleh kearah pintu. Seorang Lelaki berpakaian rapi masuk dalam ruanganku sambil tersenyum, aku terpaku melihat senyumnya tidak bisa membalasnya.

“Kau sudah sadar?” tanyanya sambil menatapku. Matanya, aku menyukai tatapan matanya saat melihatku. Membuatku terasa nyaman. Aku mengangguk. Dia lagi-lagi tersenyum dan menatapku.

“Sudah merasa baikan?” tanyanya sambil mengambil kursi dan duduk di dekatku. Mataku masih lekat memandanginya. Mukanya sedikit berubah, sepertinya risih aku perhatikan. Aish! Aku ini apa-apaan? Tapi aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya! Sial!

“Ne, apa yang terjadi?” tanyaku sambil menunduk mencoba menghindari tatapan matanya.

“Kau semalam kecelakaan, tepat beberapa saat setelah menikah.” Jawabnya.

“Ne? Benarkah?” tanyaku membulatkan mataku tak percaya. Kecelakaan? Mengapa aku tidak mengingatnya sama sekali? Bahkan aku tidak ingat aku sudah menikah. Bagaimana ini? Mungkin benar yang dia katakan aku semalam kecelakaan, itulah sebabnya mengapa aku ada di tempat ini, tapi kalau aku menikah? Mengapa aku tidak mengingatnya sama sekali? Jika aku menikah, mana cincin pernikahanku, mana suamiku? Suami? Mereka memanggilku Nyonya, berarti benar aku sudah menikah.

“Siapa namaku?” aku memberanikan menanyakannya padanya.

“Eoh?” tanyanya sambil menatapku bingung. Tatapan itu lagi, mata itu lagi berhenti, menunjukkannya padaku.

“Maaf aku tidak ingat siapa namaku. Apa kau tau?” tanyaku.

“Ah, ye, namamu Jina, Park Jina.” Jawabnya.

“Tapi mengapa mereka memanggilku Nyonya Lee?”

“Nde?” tanyanya bingung, dia bingung aku bahkan lebih bingung lagi.

“Maaf, siapa namamu?”

“Aku? Aku Lee Donghae.” Jawabnya.

“Kau belum menjawab pertanyaanku. Mengapa mereka memanggilku Nyonya Lee?” dia tidak menjawab. Hanya terdiam.

“Mereka memanggilku Nyonya Lee. Kau bernama Lee Donghae.” Gumamku sambil memainkan jariku dimulutku.

“Apa…” tanyaku ragu.

“Apa kau suamiku?” tanyaku sedikit ragu-ragu padanya.

Donghae’s POV

Aku berdiri ragu di depan pintu salah satu kamar, aku masih bingung, apa aku harus menemuinya? Bagaimana kalau dia tidak apa-apa dan memarahiku karena mengatakan pada orang lain bahwa dia adalah istriku, mau di letakkan dimana mukaku? Belum lagi jika suaminya datang? Aish! Kau memang bodoh Lee Donghae!

Saat aku ingin melangkahkan kaki berbalik arah. Tiba-tiba sebuah suara mengejutkanku.

“Tuan Lee, istri anda sudah sadar.” Suara itu membuyarkan lamunanku.

“Ah, ye.” Jawabku.

“Anda boleh menjenguknya sekarang juga.” Jawab orang itu sambil berlalu. Aku membuka pintu kamar itu dengan hati-hati. Masuk dengan perlahan agar tidak mengganggunya. Aku menoleh padanya dan menatapnya sejenak. Aku terpana. Gadis ini, bagaimana aku menjabarkannya. Dia sangat cantik. Lebih cantik dari pertama kali aku melihatnya. Pertama kali aku melihatnya, wajahnya penuh dengan lunturan make-up karena airmata yang mengalir di kedua pipinya. Membuat maskaranya meleleh kemana-mana, membuatku ngeri. Kedua kali aku melihatnya, muka yang penuh dengan warna-warni make-up yang kuntur, saat itu berubah menjadi warna merah darah karena memang darah mengalir dari kepalanya. Namun, ketiga kali melihatnya wajahnya polos tanpa olesan apapun dan tanpa noda darah sedikitpun, hanya sebuah perban yang membalut kepalanya. Aku tertegun melihatnya.

“Kau sudah sadar?” aku membuka pembicaraan sambil menyunggingkan senyum padanya. Dia hanya diam. Apa dia mengingat semuanya? Aku bukan siapa-siapanya. Tapi meski aku adalah orang lain, setidaknya dia berterima kasih padaku karena menyelamatkan nyawanya.

“Sudah merasa baikan?” tanyaku sambil menggeser kursi dan duduk di dekatnya. Ck! Aku tidak bisa tidak memandang wajahnya.

“Ne, apa yang terjadi?” tanyanya sambil mengalihkan pandangan.

“Kau semalam kecelakaan, tepat beberapa saat setelah menikah.”

“Ne? benarkah?” tanyanya membulatkan mata, seolah tak percaya. Aku hanya mengangguk, takut salah bicara.

“Siapa namaku?” dia bertanya dengan wajah bingung padaku

“Eoh?” wajahku tak kalah bingung darinya.

“Maaf aku tidak ingat siapa namaku. Apa kau tau?” tanyanya pelan.

“Ah, ye, namamu Jina, Park Jina.”

“Tapi mengapa mereka memanggilku Nyonya Lee?”

“Nde?” seruku bingung. Mati kau Lee Donghae, kau harus menjawab apa?

“Maaf, siapa namamu?”

“Aku? Aku Lee Donghae.” Jawabku.

“Kau belum menjawab pertanyaanku. Mengapa mereka memanggilku Nyonya Lee?” aku masih diam tidak menjawab apa-apa.

“Mereka memanggilku Nyonya Lee. Kau bernama Lee Donghae.” Gumamnya sambil memainkan jari dimulutnya. Park Jina, jangan menebarkan pesona di hadapanku. Wajahnya terlihat sangat cantik dengan berpikir polos seperti itu.

“Apa…” tanyanya menggantung.

“Apa kau suamiku?” dia menatap polos padaku. Aku bingung harus  menjawab apa. Tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku.

“Tuan Lee, anda disuruh ke ruangan Dokter Han.”

“Ah, ye.” Jawabku sambil menoleh kearah suara.

“Aku pergi dulu, kau istirahat saja.” Aku membelai lembut pipinya. Perlakuan yang tidak pernah aku lakukan terhadap orang lain, bahkan dengan Yoon Jo sekalipun. Aku bingung dengan tindakanku sendiri. Dia tersenyum padaku sambil mengangguk.

Aku memasuki ruangan Dokterdan dan dia mempersilakan aku duduk. Terlihat Dokter Han membuka-buka lembaran kertas yang ada dihadapannya.

“Tuan Lee, sepertinya istri anda mengalami amnesia.” Katanya sambil terus mempehatikan kertas dihadapannya.

“Aku turut berduka.” Dia menatapku prihatin.

“Apa maksud anda?” aku masih bingung.

“Karena benturan itu menyebabkan istri anda kehilangan ingatannya. Anda tidak perlu khawatir, kita akan berusaha mengembalikan memorinya secara perlahan. Anda harus sabar menghadapinya.” Jawab dokter itu.

“Ah, ye.”

“Ini obat yang harus di tebus, istri anda juga harus menjalani pemeriksaaan seminggu sekali selama 1 bulan untuk melihat perkembangannya.”

Aku berjalan kembali menuju ruang rawat Jina. Berpikir sejenak mencerna penjelasan Dokter Han tadi. Amnesia? Berarti tidak masalah jika aku mengatakan dia istriku. Song Yeong Jun, kau akan merasakan apa yang aku rasakan. Aku membuka pintu kamar dan mendapati Gadis itu sedang terlelap. Aku kembali duduk disampingnya. Menatap wajahnya, gadis yang malang, maafkan aku memanfaatkanmu. Aku menatap lekat wajahnya, garis wajahnya yang terukir sempurna membuatku terpana. Pantas saja Yeong Jun bersemangat sekali menikahinya, selain karena dia sangat cantik, Gadis ini juga pewaris tunggal perusahaan Eksport import ternama di Korea. Tanpa sadar tanganku bergerak menuju wajahnya. Menyapu pipi lembutnya, bergerak turun ke rahangnya lalu berhenti di bibir tipisnya.

Jina’s POV

Aku terlelap setelah lama berpikir, memikirkan kejadian beberapa saat yang lalu yang menghilang dari ingatanku. Aku terlelap setelah berusaha keras mengingatnya. Namun sebuah sentuhan di wajahku membangunkanku. Tangan lembut menyapu pipiku dan seluruh wajahku, lalu tangannya berhenti di bibirku. Aku membuka mataku. Mendapati Donghae sedang menatap lekat wajahku. Mata kami saling beradu. Terpaku sejenak sampai dia menarik bibirnya membentuk sebuah senyum padaku.

“Sudah bangun?” dia menatapku. Aku mengangguk.

“Sakit?” tanyanya, aku kembali mengangguk.

“Istirahat saja.” Dia mengusap lembut pipiku. Aku merasa sangat nyaman dengan perlakuanku.

“Banyak-banyak istirahat agar kau cepat pulih dan kita bisa pulang, arra?” dia mengecup pipiku. Wajahku bersemu merah.

“Aku merasa sudah baikan, bisa kita pulang sekarang?” tanyaku manja padanya, menahan tangannya yang ingin kembali menyentuh pipiku. Jangan lakukan itu lagi Lee Donghae! Atau aku akan lebih lama lagi disini karena komplikasi jantung.

“Ya.. tidak boleh seperti itu, kita harus melihat perkembanganmu dulu, jika Dokter memperbolehkanmu pulang, maka kita kan pulang. Hem?” dia menatap lembut padaku, memberiku ketenangan.

“Baiklah, tapi baru sehari disini, aku sudah merasa bosan.” Aku membalikkan badan memunggunginya.

“Makanya banyak istirahat agar segera keluar dari sini.” Jawabnya.

“Aku tidak bisa mengingat semuanya.” Kataku lirih padanya.

“Kita akan perlahan membuatmu mengingat semuanya, bersabarlah.” Aku berbalik menatapnya.

“Memangnya bisa?” tanyaku.

“Tidak ada yang tidak mungkin.” Dia tersenyum padaku. Aku memajukan bibirku.

“Sekarang istirahat saja, ini sudah pagi.” Dia beranjak meninggalkanku.

“Jangan pergi, tetap disini.” Larangku saat dia ingin pergi.

“Aku tidak akan kemana-mana, kau tenang saja, hanya ingin membeli kopi keluar.”

***

Satu bulan berlalu, ini hari kepulanganku. Donghae membawaku menuju rumah. Rumah? Aku tidak tidak mengingat rumah sama sekali. Dia membawaku terus melaju di jalanan kota Seoul. Aku diam disampingnya, terlalu gugup. Bagaimana keadaan rumah? Apa aku akan betah? Atau malah semakin membuat ingatanku tenggelam?

“Gwaenchana?” dia menyentuh punggung tanganku. Aku menoleh padanya.

“Wae? Kau kenapa? Dari tadi diam saja?” tanyanya sambil membelai punggung tanganku.

“Ani, apa kita tinggal bersama orang tuamu?” tanyaku ragu.

“Kau takut?”

“Sedikit, bagaimana jika mereka tidak menerima keadaanku?”

“Kau tenang saja, selama ini aku sendiri, jadi kita hanya akan tinggal berdua.”

“Oh.” Jawabku.

Tanpa terasa kami sudah memasuki halaman sebuah apartemen besar, dia memasukkan mobilnya dihalaman parkir bawah tanah. Aku masih bingung.

“Kau masih takut?” dia membuka pintu mobilku dan menatapku. Aku menatapnya dan mengangguk.

“Jangan takut, ayo turun, kita sudah sampai.” Dia memapahku keluar dari mobilnya tangan satunya menjinjing tas yang berisi semua keperluanku.

Kami berjalan menyusuri lorong apartemen . Aku masih terdiam. Sampai pada sebuah pintu apartemen, dia berhenti.

“Sebentar, aku buka dulu.” dia melepaskan tas yang ada ditangannya, namun tangan satunya tetap tidak lepas dari lenganku.

Aku memasuki ruangan itu. Luas, sangat luas. Aku mengelilingi seluruh ruangan yang ada di apaertemen ini.

“Mengingat sesuatu?” dia berada dibelakangku dan memeluk pinggangku. Aku menggeleng.

“Gwaenchana, nanti kau pasti mengingatnya.” Dia mengecup pelan leherku. Aku menoleh padanya.

“Katakan padaku bagaimana kita bertemu.” Pintaku.

Donghae’s POV

Aku membawanya ke apartemenku dan dia terlihat sangat bingung. Terang saja dia tidak mengingat semuanya karena ini bukan rumahnya. Dia terlihat ragu-ragu ketika aku membawanya kesini. Namun aku meyakinkannya dengan mengatakan sedikit demi sedikit dia pasti mengingatnya. Dan saat kau mengingatnya semua sudah terlambat Park Jina. Lebih tepatnya Song Jina. Aku tersenyum sinis menatapnya yang terpaku di depan meja makan. Aku menghampirinya.

“Mengingat sesuatu?” tanyaku sambil melingkarkan tanganku dipinggangnya, dia menoleh sambil menggeleng padaku. Ck! Jika berada di dekatnya aku tidak bia mengontrol tindakanku. Ingin senantiasa menyentuhnya. Hufh.

“Gawenchana, nanti kau pasti mengingatnya.” Aku mencoba menenangkannya, agar dia tidak mencoba mengingat kejadian itu. Aku mengecup lehernya pelan. Dia menoleh padaku.

“Katakan padaku bagaimana kita bertemu.” Dia mengerjapkan matanya beberapa kali menatapku. Membuatku kembali terpana. Aku harus mengarang cerita.

“Kita bertemu di jalan raya. Sejak saat itu aku selalu mengikutimu.” Jawabku.

“Lalu?” dia membalikkan tubuhnya menghadapku. Aku mendorong tubuhnya hingga ke dinding dan tersenyum lembut.

“Lalu aku jatuh cinta padamu.” Aku meraba lehernya dengan telunjukku, dia menepisnya dan beralih ke meja makan sambil mengambil buah. Aku mendekatinya.

“Lalu bagaimana kita sampai menikah?” dia berbalik dan menatapku dengan mata polosnya. Aku mengangkatnya ke meja makan dan berdiri diantara kedua kakinya.

“Karena kau juga mencintaiku.” Aku mengecup bibirnya. Dia memegang wajahku.

“Ya… Lee Donghae, kau membuatku risih.” Ucapnya sambil mengalihkan pandangan dariku, mukanya memerah.

“Wae?” aku menatap kedua bola matanya.

“Ani, aku hanya merasa canggung.”

“Kenapa mesti canggung? Kita sudah menikah.” Jawabku dan mendaratkan ciumanku di lehernya. Kau akan bertekuk lutut di hadapanku Song Jina.

“Aniyo.. aku hanya belum terbiasa. Aku lapar, aku ingin memasak.” Dia mendorongku dan turun dari meja.

Dia berjalan menuju lemari es dan memandang barang yang ada di dalamnya. Lalu mengeluarkannya dan mulai memotong sayuran. Aku kembali memeluk tubuhnya, hufh, aku benar-benar tidak bisa mengontrol diriku. Pesonanya terlalu memikatku, hingga membuatku lupa dia sebenarnya adalah umpanku.

Dia menghidangkan masakan yang dari tadi dia buat dengan rapi di meja makan. Aku memperhatikan setiap gerak-geriknya. Sungguh sangat mengasikkan melihat wajahnya yang serius.

“Kajja, kita makan, kau tidak lapar?” tanyanya sambil menoleh padaku.

“Melihatmu kembali ke rumah ini membuat selera makanku menghilang. Terlalu senang kau kembali kesini.”

“Ya.. biar bagaimanapun senangnya, kau harus tetap makan, atau nanti kita bisa berganti posisi, keesokan harinya kau yang akan menginap di rumah sakit, mau?” aku menggeleng. Dia menyodorkan mangkuk makanan padaku.

***

Dia keluar dari kamar mandi dan duduk di depan cermin, merapikan rambutnya dengan sisir. Aku memperhatikan gerak-geriknya dengan seksama.

“Wae? Ada yang salah?” dia menoleh padaku.

“Ani, hanya saja kau terlihat sangat cantik.” Jawabku menggoda.

“Kau ini.” Dia terlihat salah tingkah.

Aku masik asik memandanginya di depan cermin, aku duduk di tepi tempat tidur tepat di belakangnya. Bau harum menyeruak dalam hidungku. Kuhirup dalam aroma sabun yang masih melekat di tubuhnya. Aku menarik tubuhnya dalam pelukanku dan membawanya duduk di tepi ranjang, dengan posisi dia membelakangiku. Aku menciumi lehernya.

“Harum sekali.” Aku berkata lirih.

 Dia bangkit. Aku memutar pinggulnya agar dia menghadap kearahku. Aku menengadah menatap wajahnya.

“Aku senang sekali kau pulang.” Dia memegang kepalanya dan meringis.

“Wae? Kau sakit?” dia mengangguk, aku bangkit dan memapahnya berbaring ke tempat tidur.

“Kalau begitu kau istirahat saja.” Aku mengecup bibirnya dan berbaring disampingnya. Aku mengangkat kepalanya, menaruhnya di lenganku.

“Tidurlah.” Aku mengecup puncak kepalanya. Tak lama kemudian dia terlelap.

Lee Donghae, bersabarlah, akan tiba waktunya kau melakukannya. Aku berkata pada diriku sendiri. Kemudian mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu, semuanya membuatku sesak. Rasa dendamku memenuhi otakku.

Jina’s POV

Sudah beberapa hari aku disini. Namun memoriku tidak juga menunjukkan kemajuan, aku semakin bingung dan semakin tidak mengingat apa-apa. Aku hanya berjalan mengikuti alur yang ditentukam oleh takdir. Aku sendirian saat Donghae berangkat bekerja. Dia tidak membiarkanku keluar jika tidak bersamanya, alasannya adalah agar aku tidak tersesat karena aku belum mengingat semuanya. Ada-ada saja, mana mungkin aku tidak mengingat jalan yang aku lalui sebelumnya. Pernah sekali merengek padanya di telepon, namun hasilnya tetap sama, dia melarangku. Dia bahkan datang beberapa menit setelah aku meneleponnya untuk menemaniku ke pasar. Aku tidak berani lagi untuk memintanya mengijinkanku keluar sendirian, itu akan menyusahkannya.

Aku memasak untuknya seperti biasa. Memasak makanan kesukaannya yang aku amati sejak aku tinggal bersamanya. Saat tengah asik memasak sebuah tangan melingkar di pinggangku mengagetkanku.

“Kau sudah pulang?” tanyaku.

“Belum, aku belum pulang.” Jawabnya, aku memukul kepalanya.

“Kau menanyakan jawaban yang sudah kau ketahui jawabannya.” Jawabnya manja.

“Sudah makan?” tanyaku.

“Aku hanya akan makan masakanmu, tidak akan makan masakan orang lain.”

“Kau senang sekali berkata menjijikkan seperti itu.” jawabku.

“Menjijikkan? Menjijikkan bagaimana?” dia mengecup leherku, tapi kali ini lebih lama, menimbulkan bercak kemerahan karenanya.

“Lee Donghae!”

“Wae? Risih lagi?” jawabnya.

“Kau senang sekali menggangguku saat memasak!”

“Karena saat kau memasak itu terlihat sangat seksi.” Dai menjilat bekas kecupannya.

“Lee Donghae, kita makan dulu.” jawabku sambil menggidikkan bahu dan menjauhkan dagunya dari bahuku, namun dia semakin erat memelukku.

“Aku mau mencicipimu dulu, baru setelah itu makan malam.” Bisiknya di telingaku, membuat bulu romaku meremang. Aku menoleh kearahnya. Dia menatapku, sedetik kemudian bibirku sudah dikuncinya dengan bibirnya tanpa bisa mengeluarkan kata-kata. Aku sudah menyelesaikan masakanku saat dia menggendong tubuhku kedalam kamar. Aku terbius dengan perlakuannya. Dia membaringkan tubuhku diatas tempat tidur dan kembali menciumku. Tangannya dengan gesit melepaskan kancing bajuku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Dia terus meraba tubuhku dan aku benar-benar tidak berkutik dibuatnya.

Donghae’s POV

Aku menciumi bibirnya. Hasratku tidak dapat aku bendung lagi, aku ingin memilikinya, seutuhnya meskipun aku tau dia bukan milikku, tapi setidaknya dalam ingatannya dia adalah milikku. Aku meraba tubuhnya dan melepaskan semua kancing bajunya melemparnya ke sembarang sudut. Aku terus menyentuhnya.

***

Matahari pagi menyeruak masuk dari sela jendela kamarku. aku terbangun, namun wanita disampingku ini masih betah terlelap. Aku memandanginya, memperhatikan lekuk wajahnya yang sempurna. Jina~ya.. maafkan aku. Aku telah menipumu, menipumu mentah-mentah demi sebuah dendam. Dan… wanita ini tidak tersentuh siapapun, aku yang pertama kali menyentuhnya. Aku terus menatap lekat wajahnya. Beruntung sekali orang yang menghabiskan hidup dengannya. Wanita yang penurut, dia tidak pernah membantahku sekalipun. Song Yeong Jun, aku akan merebutnya darimu. Memang benar dia adalah istrimu, tapi dia milikku. Aku berharap dia amnesia selamanya dan terus berada disisiku.

Matanya terbuka perlahan, menutup sebagian wajahnya dengan tangannya karena sinar matahari menyilaukan matanya. Aku tersenyum padanya, dia balas dengan senyuman paling manis yang pernah aku lihat dari bibirnya.

“Makanannya.” Dia berusaha bangkit mengingat masakannya. Aku menahan tubuhnya dan memeluknya agar dia tetap disisiku.

“Biarkan saja.” Jawabku.

“Biarkan aku memelukmu beberapa saat lagi.” Dia terdiam dalam pelukanku.

“Lee Jina, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu, jangan pernah meninggalkanku, berjanjilah.” Aku berbisik ditelinganya.

“Memangnya aku akan pergi kemana? Tentu saja aku tetap berada disisimu.” Dia membalikkan tubuhnya menghadap padaku.

“Berjanjilah padaku.”

“Aku berjanji.”

“Apa kau bahagia?” tanyaku. Dia mengangguk sambil mengecup dadaku.

“Aku bahagia, bahagia bersamamu.”

“Apa kau mencintaiku?”

“Ne, aku mencintaimu.” Jawabnya.

“Jeongmal? Mengapa kau mencintaiku?” tanyaku padanya, benarkah dia mencintaiku?

“Aku benar-benar mencintamu karena hanya kau yang ada di hidupku, hanya kau yang memenuhi momeriku, dan hanya kau yang aku miliki sekarang.” Jawabnya, aku mengecup dahinya.

***

Aku membawanya makan diluar kali ini. Dia terlihat sangat senang dan sangat antusias saat aku mengajaknya. Beberapa baju telah dicobanya dan berbagai macam sepatu silih berganti dipakainya.

“Bagaimana?” tanyanya.

“Cantik.” Aku memandangnya sambil tersenyum, gaun yang dipakainya membuatnya semakin mempesona.

“Ayo kita berangkat.” Dia menarik tanganku.

Aku membawanya ke sebuah restoran pinggir kota yang terkenal sangat enak. Dia kelihatan sangat senang. Wajahnya sangat ceria, aku tidak pernah melihat wajahnya seceria ini sebelumnya.

“Kau senang?” tanyaku. Dia mengangguk.

“Enak?”

“Sangat enak!” jawabnya sambil memasukkan makanan dalam mulutnya.

Setelah selesai makan, aku mengajaknya berjalan menyusuri jalan menikmati suasana sore. Senyum masih tidak beranjak dari wajahnya. Dia berjalan mundur menatapku. Tiba-tiba sebuah mobil melintas dan hampir menabraknya jika saja aku tidak cepat menarik tubuhnya.

“Yak! Hati-hati!” teriakku padanya sambil memeluk tubuhnya. Dia terdiam. Tubuhnya membeku.

“Gwaenchana?” tanyaku sambil melepaskan pelukanku. Wajahnya pucat.

“Kau bukan suamiku!” dia beranjak berjalan meninggalkanku.

“Jina!” aku mengejarnya dan mencengkram lengannya.

“Lepaskan aku, kau bukan suamiku! Siapa kau?!” dia menatapku tajam. Aku terdiam namun tidak melepaskan tanganku dari lengannya.

Jina’s POV

Dia mengajakku keluar, aku sangat senang. Makanannya sangat enak, suasananya juga sangat nyaman. Lelaki dihadapanku ini, membuatku merasa sangat aman berada didekatnya. Selesai makan kami menyusuri jalanan yang penuh dengan bunga sakura. Aku sangat bahagia, berjalan mendahuluinya dan menghadap padanya, aku berjalan mundur. Namun tiba-tiba dia berlari memelukku. Aku baru sadar jika ada sebuah mobil melintas dengan kecepatan diatas rata-rata. Aku terkejut. Tiba-tiba saja otakku dipenuhi dengan kejadian-kejadian aneh. Sebuah pernikahan. Suara peluru. Appa. Dan mobil yang menabrakku. Aku mengingat semuanya. Mengingatnya dengan jelas.

“Yak! Hati-hati!” Donghae meneriakiku. Tubuhku membeku dalam pelukannya. Dia menjauhkan tubuhku.

“Gwaenchana?” tanyanya cemas sambil menatapku. Aku menatapnya tajam.

“Kau bukan suamiku.” Seruku sambil berjalan menjauhinya. Semua kejadian kini melintas diotakku. Donghae memang bukan suamiku namun dia orang yang menolongku saat itu.

“Jina!” Donghae berteriak memanggil namaku, aku tetap berjalan menjauhinya, dia mengejarku dan mencengkram lenganku.

“Jina!” serunya lagi.

“Lepaskan aku, kau bukan suamiku! Siapa kau?!” aku setengah berteriak padanya dan menatapnya tajam, namun dia tetap diam. Aku melepaskan tangannya dan pergi meninggalkannya.

***

Aku sudah pulang kerumahku sendiri. Para pelayan rumahku sangat senang dan menyambutku dengan gembira. Hanya satu yang menyambutku yang menampakkan raut datar. Song Yeong Jun. Suamiku.

“Aku senang kau kembali.” Ucapnya sambil berusaha memelukku. Aku menghindar darinya. Mengapa aku merasa seperti mengkhianati seseorang saat suamiku sendiri mencoba memelukku? Aku merasa mengkhianati… Lee Donghae.

“Ye, aku sudah kembali. Aku ingin istirahat.” Jawabku berlalu dari hadapannya. Dia tidak berusaha mengikutiku, syukurlah.

Aku memanggil seorang pelayan kepercayaan Appaku dan menyuruhnya menjelaskan semua kejadian saat aku tidak ada.

“Nona Muda, sejak kepergian Tuan Besar, seluruh urusan dipegang oleh Tuan Song, rumah dan juga perusahaan.” Jawabnya.

“Bagaimana dengan perusahaan?”

“Maaf Nona Muda, saya hanya bertugas mengurus rumah, jika masalah perusahaan, sebaiknya anda tanyakan pada Manajer Jung. Saya peringatkan, jangan menanyakannya kepada orang lain selain Manajer Jung.”

“Memangnya apa yang terjadi?” tanyaku bingung.

“Bukan kuasa saya menjelaskan semua itu.” jawab Kepala Pelayan Oh.

“Baiklah, hubungi Manajer Jung, suruh menghadapku sekarang.”

***

Aku berjalan di koridor perusahaan Appa, beberapa orang membungkuk hormat padaku. Aku terus berjalan dan masuk ke ruangan kerja Appa. Memeriksa semua berkas yang dijelaskan oleh Manajer Jung. Aku memeriksanya dengan seksama. Memang ada kejanggalan. Ada beberapa berkas yang membuatku curiga, pengiriman barang ke Singapura, tapi tidak disebutkan barang apa yang dimaksud. Aku mencurigainya. Siapa yang bermain di belakangku?

“Yeobo, kau rajin sekali. Sebaiknya kau istirahat saja, kau kan baru kembali.”

“Tidak, aku ingin memeriksa semua barang yang akan dikirim hari ini. Ada beberapa berkas yang janggal. Aku ingin memeriksanya ke lapangan.” Aku meninggalkan suamiku di ruangan kerjaku. Aku meminta supir untuk mengantarku ke tempat pengemasan barang. Setibanya disana aku langsung mencocokkan berkas dan barang yang ada disana.

“Ini dia barangnya.” Aku menemukan barang yang tertera di berkas.

“Buka.” Aku menyuruh beberapa pekerja untuk membukanya, terlihat beberapa orang ketakutan membukanya.

“Buka saja, jangan takut, aku yang menyuruhmu.” Jawabku tegas. Akhirnya mereka berani membuka barang itu. betapa terkejutnya aku saat melihat isi barang itu. Setumpuk uang. Uang palsu.

“Siapa yang menyuruh mengirim ini?” tanyaku keras dihadapan beberapa pekerja. Tidak ada yang menjawab.

“Jawab! Atau kalian aku pecat!” ancamku.

“Kami hanya disuruh untuk mengemasnya dan mengirimnya, tidak tau darimana asal uang ini.” Jawab mereka ketakutan. Aku sangat marah. Ini adalah barang illegal! Siapa mengirim ini, perusahaan kami bisa dituduh mengedarkan uang palsu jika begini. Aku tidak terima, perusahaan yang dirintis Appa sejak dulu berakhir seperti ini. Aku melaporkan barang ini ke polisi dan mereka datang beberapa saat setelah aku menghubunginya.

Saat keluar dari Gudang pengemasan aku sangat terkejut, beberapa tembakan mengarah padaku, namun meleset karena seseorang telah menarikku dan membawaku menghindar dari bidikan senjata mematikan itu.

Donghae’s POV

Sejak kepergiannya, aku merasa sangat kesepian. Tidak ada lagi suara berisiknya di dapur sedang memasak. Tidak ada lagi senyum polosnya. Tidak ada lagi rengekan manjanya saat mengajakku keluar. Semua telah berlalu, namun aku tetap terpaku sendiri tak mampu beranjak dari keadaan pasca kepergiannya.

Aku mengambil kunci mobilku dan mengemudikannya menuju ke perusahaan tempat dia bekerja. Aku menunggunya keluar di sudut jalan. Beberapa lama aku menunggu, akhirnya mobil yang membawanya keluar. Aku mengikutinya.

Ada beberapa polisi datang ketempat yang tadi didatanginya. Aku semakin bingung, tapi yang lebih membingungkan, mengapa ada orang-orang bersenjata bersembunyi dibalik mobil dan sudut-sudut tersembunyi. Otakku langsung berpikir tentang Jina. Orang ini pasti orang yang memburunya dulu.

Saat Jina terlihat keluar dari lokasi, orang-orang itu siap membidiknya, aku berlari sekuat tenaga dan menarik tubuhnya. Beberapa tembakan terdengar di telingaku, namun tidak mengenai Jina, syukurlah. Aku membawanya bersembunyi dibalik sebuah mobil, beberapa tembakan masih terdengar.

“Ini mobilku, kau bisa membawaku pergi dari sini?” pintanya, aku mengangguk. Kami memasuki mobil yang tadi melindungi kami. Aku menyalakan mobil itu dan menginjak pedal gas dengan kencang. Berusaha menghindar dari tembakan.

Aku membawanya kembali ke apartemen. Dia tidak membantahku lagi. Tidak ada tatapan marah lagi dalam matanya, hanya ada tatapan lesu.

“Kau baik-baik saja?” aku menyerahkan kaleng minuman padanya yang sedang duduk di meja makan.

“Aku baik-baik saja.” Jawabnya.

“Siapa yang mencoba membunuhmu?” tanyaku.

“Aku juga tidak tau.” Jawabnya.

“Tidak berusaha mencari tau?”

“Aku belum sempat, banyak masalah yang terjadi saat aku tidak ada. Penyelundupan uang palsu terjadi di Perusahaanku, aku sangat bingung.” Jelasnya.

“Tidak ada petunjuk apapun?” tanyaku. Dia menggeleng.

“Ah, ada Laptop Appa di belakang mobil, aku akan mengambilnya siapa tau ada petunjuk.”

“Biar aku saja yang mengambilnya.” Jawabku.

Dia mengutak-atik isi Laptop yang ada dihadapannya. Terkadang dahinya berkerut memandang layar dihadapannya.

“Ada sesuatu?” aku berdiri di belakangnya.

“Aku bingung, ada sebuah file yang ada passwordnya, aku tidak tau kata sandinya.” Jawabnya dsambil menoleh keatas menatap wajahku.

“Coba saja masukkan kata yang menurutmu cocok, apa yang biasa digunakan Appamu.” Aku mencoba memberinya solusi.

“Sudah, aku sudah memasukkan tanggal lahirnya, tanggal lahir Eomma, namanya, tanggal lahirku, kota asalnya, kota kelahiranku.. semuanya…” dia menggantungkan kalimatnya. Namun dengan sigap dia mengetik sesuatu.

Jina’s POV

Aku bingung mengutak-atik laptop yang ditinggalkan Appa. Tidak ada satupun petunjuk. Tapi mataku tertuju pada sebuah folder yang dilindungi kata sandi. Aku mencoba semua kata sandi yang biasa digunakan Appa, tapi tidak ada yang cocok.

“Ada sesuatu?” dia berdiri di belakangku.

“Aku bingung, ada sebuah file yang ada passwordnya, aku tidak tau kata sandinya.” Jawabku sambil menatap wjahnya. Aku sudah lelah.

“Coba saja masukkan kata yang menurutmu cocok, apa yang biasa digunakan Appamu.” Dia mencoba memberikan solusi.

“Sudah, aku sudah memasukkan tanggal lahirnya, tanggal lahir Eomma, namanya, tanggal lahirku, kota asalnya, kota kelahiranku.. semuanya…” aku teringat sesuatu.

“Satu hal lagi, hal yang paling membahagiakan dalam hidupku adalah saat melihatmu lahir dan mendengar tangisanmu. Park Jina.”

Aku memasukkan kata sandi yang menurutku akan cocok. PARK JINA. Kode akses diterima.

“Dapat.” Aku berseru pada Donghae. Dia juga terlihat antusias.

“Menemukan sesuatu?” tanyanya. Aku membuka semua berakas yang ada di folder itu. Isinya adalah seluruh berkas penyelewengan yang terjadi di Perusahaan. Aku sangat terkejut. Folder ini baru dibuat tepat sehari sebelum aku menikah. Apa maksudnya semua ini? Mengapa Appa tidak menyerahkannya ke pihak yang berwajib? File terakhir yang belum aku buka adalah sebuah video. Aku membukanya. Saat melihat video itu, aku tak kuasa membendung airmataku. Isi video itu adalah sebuah pemaksaan terhadap Appa. Memaksanya tetap tutup mulut, jika tidak mereka akan membunuhku. Mereka juga memaksa Appa untuk menikahkanku dengan Yeong Jun.

“Song Yeong Jun.” aku berkata lirih.

“Aku sudah menduganya.” Ucap Donghae di belakangku.

“Apa maksudmu?” aku menoleh padanya dan meminta penjelasannya.

“Song Yeong Jun, suamimu, adalah seorang lelaki bejat.”

“Apa maksudmu, jelaskan padaku.”

“Dia, dia menghancurkan seluruh keluargaku. Membunuh Appaku dengan cara menipunya. Tidak hanya itu, dia juga menghamili Yoon Jo, tunanganku. Hingga Yoon Jo bunuh diri karena dia tidak mau bertanggungjawab, beberapa waktu kemudian, terdengar kabar dia akan menikah denganmu.” Jelasnya. Aku semakin mengerti sekarang. Dia menikahiku untuk medapatkan hak waris. Membunuh Appa agar aku benar-benar menjadi pemilik perusahaan. Lalu dia mencoba membunuhku agar perusahaan jatuh ke tangannya. Tetapi rencananya sedikit terhambat karena Appa sudah mengetahui rencananya, lalu dia memaksa Appa, dan akhirnya sampai seperti ini. Aku menhela nafas.

“Aku akan memberikan berkas ini ke polisi.” Jawabku yakin.

***

Satu bulan berlalu. Semuanya berjalan lancar setelah Yeong Jun masuk penjara dan dijatuhi hukuman, hidupku kembali tenang. Aku memutuskan untuk menetap di Korea menjalankan perusahaan. Tidak akan kembali ke Jepang. Tapi akhir-akhir ini kondisi kesehatanku menurun. Aku sering sakit kepala, aku berusaha menahannya. Ini hanya efek dari benturan kecelakaan beberapa waktu lalu. Namun sekarang aku tidak kuat lagi aku pergi ke rumah sakit untuk chek up.

Aku sudah duduk dihadapan Dokter yang beberapa waktu lalu menanganiku. Tapi kali ini berbeda, aku pergi sendirian, tanpa Donghae.

“Nyonya Lee, keadaan anda sudah sangat baik. Tapi aku akan memberikan surat rujukan kepada Dokter Kim.” Surat rujukan? Apa maksudnya? Aku hanya menuruti semua instrusinya. Berjalan kearah ruangan Dokter Kim. Saat aku masuk keruangan itu, seseorang mendorongku.

Donghaee’s POV

Aku terus mengikutinya sejak dia tidak lagi bersamaku. Aku hampir gila dibuatnya, sepanjang hari hanya teringat padanya. Membuatku seperti seorang penguntit yang selalu mengawasi gerak-geriknya. Dia terlihat meninggalkan rumahnya menggunakan mobil. Aku mengikutinya. Dia menuju rumah sakit. Aku terus mengikutinya. Dia memasuki ruangan Dokter Han, aku masih menunggunya keluar, aku ingin memastikan keadaannya. Beberapa lama kemudian dia keluar dan membawa satu berkas menuju ke ruangan Dokter Kim. Dokter Kim?

Aku mendekatinya saat dia masuk ke dalam ruangan itu dan mendorongnya masuk, aku ikut masuk. Dia sangat terkejut dan menoleh tajam padaku. Dokter Kim pun tidak kalah bingung melihat kejadian di depannya.

“Aku suaminya Dok.” Jawabku sambil tersenyum kearah dokter Kim. Jina menginjak kakiku.

“Silakan duduk, Nyonya Lee, silakan berbaring.” Jina mngikuti semua perintah Dokter Kim dan berbaring di ranjang pasien.

“Aku akan memeriksanya.” Jawab Dokter Kim setelah mengamati berkas yang tadi dibawa Jina.

“Buka bajumu Nyonya Lee.” Jina nampak terkejut namun tetap menuruti perintah Dokter perempuan itu. Dokter Kim mengoleskan semacam gel ke perut Jina dan mengarahkan sebuah alat diperutnya.

“Usia kandungan anda suda memasuki minggu kelima, lihatlah.” Aku ikut melihatnya. Jina menoleh ke layar monitor. Terlihat gumpalan hitam dilayar itu. Jina? Hamil?

“Anda harus terus menjaga kesehatan anda Nyonya, Tuan Lee jangan biarkan Nyonya Lee tertekan.” Terang Dokter Kim. Jina menatap bingung padaku. Aku juga tidak kalah bingung darinya. Namun setelah itu aku melemparkan senyuman manis padanya. Dia masih terdiam.

***

Aku membawanya keluar dari rumah sakit. Dia diam seribu bahasa. Tidak berkata apa-apa. Jina hamil? Itu berarti anakku? Rasa bahagia menyeruak dalam dadaku. Aku menghentikan mobilku di depan Gereja tempatnya menikah dulu.

“Mengapa kau berhenti disini?” tanyanya.

“Kau lupa? Gereja dan sepanjang jalan ini yang mempertemukan kita.” Jawabku.

“Aku tidak ingin mengingatnya.” Jawabnya ketus.

“Menikahlah denganku Park Jina.”

“Aku tidak ingin menikah.” Jawabnya dingin.

“Tapi kau sedang mengandung.” Seruku sambil menatap wajahnya, dia tidak bergeming.

“Aku akan menggugurkannya.” Jawabnya lirih.

“Kau gila?! Dia anakmu, juga anakku! Tidak akan kubiarkan kau melakukannya.”

“Aku tidak menginginkan ini!” teriaknya sambil memukul dadaku dengan tasnya berkali-kali. Airmata menetes dari matanya. Aku menahan pukulannya.

“Aku akan menikahimu.”

“Aku tidak mau! Aku tidak mau! Aku tidak mau!” serunya berkali-kali sambil berusaha memukulku, aku menahan tangannya. Mencium bibirnya dengan cepat untuk menahan semua kata penyesalan yang keluar dari mulutnya. Aku terus mencium bibirnya, dia memberontak, semakin dia memberontak aku semakin dalam menciumnya. Sampai akhirnya dia lelah dan membalas ciumanku.

***

Aku berada di apartemenku bersama Jina. Kami baru saja melangsungkan pesta pernikahan tadi pagi. Aku sangat bahagia, akhirnya dengan perjuangan keras aku bisa membujuk Jina untuk menikah denganku dengan alasan anak yang sedang dikandungnya. Dia tidak bisa menolak. Dia terlelap didadaku, wajahnya terlihat lelah sekali. Aku mengecup dahinya. Park Jina, aku tidak akan melepaskanmu lagi, tidak akan membiarkanmu pergi lagi, karena hanya kau yang aku miliki di dunia ini.

‘Hanya kekutan cinta yang bisa memadamkan kobaran api dendam.’

FIN

 

Hufh *lap keringat lagi* akhirnya selesai juga ff ini, huweeeeeee dari pagi aku kerjakan hingga siang. Aku lagi tergila-gila menulis sesaat sebelum aku masuk diklat. FF ini aku persembahkan buat Dwi, iparku sayang, maaf akhir-akhir ini mengabaikanmu. Aku pengen bikin kejutan, wahahaahahahahaha, bikinin kamu ff, semoga kamu senang. Tapi ini bukan ff NC yang km suka, hanya sebuah cerita romantis menurutku dan suamimu *secara aku sehati sama suamimu yang notabene adalah kembaranku*

 Jangan kecewa yah ga ada NC nya… ff ini terinspirasi dari ngeliat Onge si ikan hiu di Ceci Magazine *lagi-lagi Ceci Magazine* juga sebuah ff yang paling amat aku suka karya saeng kesayangan aku “Hye Na” 2060 yang hampir gila aku kalo nunggu ff itu publish! Mungkin beberapa reader tau ff itu, benarkan? Secara reader disini adalah sebagian orang yang nyasar dari blog sebelah… hehe, benarkan? Keren kan 2060? Huwaaaaaaa banget banget kerennya, apalagi Teukyo disana, beuh….. bikin meleleh… hahahahaha *muji diri sendiri* pas waktu liat filming Ceci Magazine aku langsung sms author 2060, kyaaaaaaaaaaaaaaa 2060 is real! Gila Ceci Magazine realisasi dari 2060…!! Kebetulan yang sangat pas! Secara kan Ceci magazine rilis setelah 2060 rilis. Yah, ko jadi ngomongin 2060? Hahahaahaha, sudah lah, reader-nim, silakan komen jika sudah membaca *bow bareng teuki* ini ff tanpa edit, jadi maklum yah kalo typo, aku males banget ngeditnya. Aku lagi tergila-gila bikin ff beginian, next oneshoot Teukyo Couple, buat Indah Onn.

42 responses »

  1. wuah daebak eonni ku yg cantik…nah aku suka ff yg kay gini..ini bikin aku enyum lok kemarin bikon aku nangis…tapi semuanya daebak…suamiku bahagia disini..aku juga ikut bahagia

  2. dr awal baca sampai akhir, jantung ku terus dagdigdug

    Baby aku selalu suka story jinhae yg kau buat, selalu menangtang dan bikin jantung dagdigdug *i like it baby*

    Aih sumpah keren dah
    Apalg saat menjalani rmh tangga palsu ma haehae *gemes* ga ada Nc nya tapi benar2 mantap

    Baby gomawo….

  3. Assalamualaikum..
    Bwahahahahahaha…
    Sebenernya aku lbih suka yang kaya gini daripada NC..
    Ga menjijikan soalnya..tapi, tetep aja aku demen baca NC..
    Gyahahahaha

    ONNNNNNNNNNNNIIIIEEEEEEE….INI DPT BGT FEELNYA..SUMPAH DEH..JUJUR..AKU KETAR KETIR DAG DIG DUR JDER BACANYAA…
    Hahahahaha

    hmm..mianhe ya onnie sayang, aku udh buka ini 2x tapi cuma komen ini aja..hehe
    td waktu pertama baca, aku di ganggu sama anak aku meer#buah cinta aku sama hyukjae
    *ngakaksetanbrengheechul*
    eh menurut aku ini ga ada typo deh..hehe
    daebak euy…
    hmm…2060 yaa??
    Huwaaa…itu ff emang dahsyat..tp aku ga bisa baca !
    Komen disana membludak..loading jadi lama..alhasil mogok ditengah jalan !!

    Huft..apa lagi yaa??
    Aku cinta deh pokoknya sama kamu onn…
    Tiap hari aja ya publish ff bginian..hahahaha

    note : janganlupa6maret2012ffnc-25akutunggu !!
    Eh jangan deh ky gni aja..tp agk hotin dikitlah…hoho

    baii..
    Walaikumsalam..

    • wa’alaikum salam…
      lah, katanya suka NC 24, terus suka begini juga? kamu gimana si ah….
      ketar ketir jadi inger tri mas ketir…
      terima kasih udah suka, udah beberapa kali baca juga…
      apaan tuh meer? buah cinta dengan hyuk? asal jangan bawa buah cintamu bersama teuki aja ke hadapanku, aku cincang2 kamunya… *kidding*
      nadao saranghae…
      tiap hari publish baginian akunya yg ga bisa tidur…

      note : sebentar, kita tidak punya janji kan 6 maret? aku mau honeymoon bareng Teuki…
      apaan tuh yang hot dari ini?

  4. eoni aku suka ff ini…
    Sumpah dah bgs, ckckck gk dimana2 si ikan mokpo mah suka mengumbar gombalannya… Haha
    Iya eon aku tw lah 2060 emang bnr ffnya keren,,, hehe
    Aku blm liat ceci magazine, akhhh aku jd pnasaran, jd pngen ngisi pls modem nih pdhl lg mw hemat *malah curhat* hahaha
    Aku tunggu eon yg teukyonya, yg ini bkin sequelnya donk eon… Hehe *bnyk mw*

    • terima kasih udah suka ff ini…
      ikan mokpo mah tiada duanya kalo soal roamnsiong2an mah…
      ayo liat Ceci magazin… liatin Siwon noh mukanya keren sinis gila, tp rada sdkt tua…
      itu teukyo kopelny udah publish…

  5. fikaaaaaa,,,kren bangettttt,,,ini efek dri ga tdur semaleman ya,,
    kamu masukin sisi hae yg romantis tpi ga gombal,,
    beneran ini mah,,keren keren keren pokokna mah,,
    aku bener2 puas bacanya,,ga da typo deh kayanya,,
    gelar miss typo fika dah copot ya,,,
    bingung mo komen apalgi alnya keren sih,,
    daebak deh buat drimuuuu*chu fika sambil peluk hae*

    • keren kan onn? jiah otakku selalu brpikir ff onn, smsin onn lupa dah jam brapa pokonya masih gelap lah…
      puas? ga miss typo kan kali ini? hati2 ngetiknya…
      apalagi kembaran fika noh, jiah…. nyosornya yg keren…
      makasih onnie chunya.. *chu onnie balik*

  6. huwaaaa
    ffnya ngena bangettt
    hae ngegombalin jina mulu nih,,
    wkwk
    untung akhirnya jina mau nikah ama hae,,
    kan kasian hae kalo jina ga mau…
    *peluk hae

    koment apa lg ya??
    Ffnya daebak deh…
    Hwaiting!!

    • makasih syg… iya tuh hae ngegombal mulu kerjaannya
      Hae : yak! kita beda tipis Eun kyo~ya.. kita kan kembaran
      Aku : iya deh iya…

      makasih udah komen… silakan berkeliling… *tarik reza baca ff yg lain*
      semoga betah yah…
      Reza : makanannya mana neh?
      Aku : *cengo*

      semoga betah syg… muah muah…

  7. eonni ff nya keren..!!
    si donghae gombal banget sama jina, haha. jadi pengen liat mukanya jina pas digombalin sama donghae. pasti merah-merah gimana gitu. hahaahaha😀
    abang donghae mau juga dong digombalin *colek donghae**kyu cemberut**peluk kyu*
    akhirnya donghae sama jina nikah juga.
    ahh senangnya…🙂
    istri kyuhyun pamit ya eonni. annyeng eonni *hormat bareng kyuhyun*

  8. *bru komen*hehehe
    waooww..critana menarik onni..^^
    seruu…ada penjahatnya..tdk ktinggalan romantisna..
    tak kirain mereka pisahh..tp akhirna bersama..
    keereenn daahh pkokna..versi beda..

  9. kasian appanya jina meninggal pula..
    untung jina nya ketemu ama donghae..
    meskipun awalnya dimanfaatin dl sih..
    tp akhirnya donghae cinta benaran ama jinna nyaa..

    lanjut baca ff yg laen.. ^^

  10. Waaaaaahhhhhh Daebak~~
    Ceritanya keren banget,,
    Daebak, Daebak, Daebak
    speechless, bingun hrus ngomong ap lg, pokok nya Keren pakek banget😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s