Unmyeong (2 of 2)

Standar

Orang bilang wanita itu butuh kasih sayang

Sedangkan lelaki butuh kepercayaan

Namun saat kasih sayang itu menghilang

Dan kepercayaan dpertanyakan

Apa cinta masih akan tetap bertahan?

Jung Soo’s POV

 

Matahari mulai merangkak naik dari peraduannya. Cahayanya hangat menerobos jendela kamarku. Hari menjelang pagi, namun aku enggan untuk membuka mataku. Aku masih ingin bermimpi. Tak terasa sudah 5 tahun berlalu.

Sayup terdengar suara riuh dilantai bawah. Ah, istriku pasti sedang mengurus Eun Jung yang susah sekali dibangunkan.

“Oppa, mau tidur sampai kapan? Apa kau tidak masuk kerja?” Eun-kyo membuka tirai jendela. Silau. Mau tidak mau aku harus membuka mataku.

“Aku masih lelah…” kutarik selimut, kututupi wajahku dan kembali memejamkan mataku.

“Oppa, pilih salah satu, disiram pakai air atau kuseret ke kamar mandi?” Aku tidak menjawab. Kurasakan selimutku tidak menutupi tubuhku lagi. Eun-kyo menariknya dan menyeretku ke kamar mandi.

Dia menarik tanganku. Kulingkarkan kedua tanganku dipundaknya. Aku berbisik di telinganya.

“Jagi, apa kau mau mencobanya di kamar mandi?” Dia menghentikan langkahnya.

“O? Apa maksudmu?”  Mukanya terlihat kaget dan memerah.

Aku sangat suka melihat tampang bodohnya seperti ini. Sangat menggoda. Kudorong tubuh mungilnya menuju kamar mandi.

Pletak! Dia memukul kepalaku.

“Oppa, kau jangan macam-macam!” Dia berlalu mninggalkanku. Haha, aku senang sekali menggodanya.

Eun Kyo’s POV

Aku menyiapkan sarapan untuk anak dan suamiku. Kusiapkan sandwich dan segelas susu. Kutata rapi di atas meja.

“Jung-ah… ayo habiskan makanannya sayang. Nanti kau lapar di sekolah…”

Eun Jung terlihat enggan menyentuh makanannya. Tapi aku paksa untuk untuk menghabiskannya.

Jung Soo Oppa sudah siap dengan jas putih kesayangannya. Bersiap untuk berangkat bekerja.

“Oppa, sarapan dulu… apa kau tidak lapar?” Dia tidak mendengarkan perkataanku. Hanya sibuk bermain dengan anaknya.

“Yak! Kalian berdua mau makan apa mau bermain? Kalau tidak mau makan biar kuberikan sama Pussy saja!” aku menarik kedua piring dihadapan ayah dan anak itu. Cih, terlihat mesra dan kompak sekali. Terkadang aku berpikir Oppa lebih menyayangi anaknya daripada aku, tapi aku merasa aneh cemburu pada anak sendiri.

“Jagi… jangan marah, kami mau makan…” suamiku merengek dengan muka malaikatnya.

“Eomma, kau jelek saat marah, aku mau makan…” muka anakku tidak kalah innocentnya.

“Selesaikan makannya, jangan banyak bicara!” aku kesal melihat kemesraan ayah dan anak ini saat acara makan.

Setelah selesai sarapan aku membereskan makanan yang ada di meja sebelum aku berangkat mengurus kafeku.

“Oppa, hari ini kau yang mengantar Eun Jung ke sekolahnya, aku harus membereskan ini dulu, nanti Eun Jung terlambat”

“Jagi… tapi dasiku belum dipasang…” dia merengek lagi, aigoo apa tidak bisa sehari saja tidak manja.

“Eomma, aku berangkat dulu…”

“Baby, apa kau melupakan sesuatu?” aku berkata tanpa menoleh kea rah Eun Jung.

“Ne? apa Eomma? Aku sudah membawa bekalku dan segelas susu, tidak boleh belanja sembarangan, tidak boleh nakal disekolah, tidak boleh membantah guru, sudah, apa lagi?”

“Hem…” aku menempelkan telunjukku ke pipiku.

“Hehe, mian Eomma, aku lupa!” cengirannya persis seperti Appanya.

Jung Soo’s POV

Aku menepikan mobilku di depan sekolah Eun Jung. Kubukakan pintu mobil untuk malaikatku yang sudah beranjak besar.

“Silakan turun Tuan Putri” aku memperlakukannya bak seorang Putri Raja. Dia sangat senang jika kuperlakukan seperti itu.

“Tuan Putri, Permaisuri yang galak itu berpesan padaku kalau Tuan Putri harus menghabiskan bekalnya, dan meminum habis susunya, arasseo?” Aku berlagak seperti pengawal kerajaan.

“hahahaha, Appa… Ne Appa, aku akan menuruti titah Permaisuri yang galak itu.”

“hahahahahaha….” Kami tertawa bersama. Sebelum aku meneruskan perjalananku, tidak lupa kuberikan kecupan untuk malaikatku.

Kulajukan mobilku menuju kantorku. Aish! Aku terlambat.

Sesampainya dikantor aku langsung menuju ke ruanganku.

“Sajangnim, hari ini anda ada meeting dengan Klien jam 10” Min Ra mengingatkanku hari ini ada  meeting dengan klien dari Amerika.

“Ne, siapkan berkas yang harus aku bawa” Sebenarnya aku malas untuk meeting ini. Tidak mungkin aku menyuruh Donghae lagi untuk mengerjakannya.

===============

Aku bingung, aku bertemu lagi dengannya. Orang yang selama ini ada bersamaku saat aku terpuruk. Meeting itu, meeting itu mempertemukan aku kembali. Emily, yah Emily, adalah gadis yang selalu memberiku semangat saat aku putus asa dengan hidupku. Saat aku menjalani operasi dan masa penyembuhan di Amerika. Kami bertemu tidak sengaja saat aku sedang melarikan diri dari pusat rehabilitasi. Sejak itu kami berteman baik. Aku menyukainya, tapi saat itu dia menolakku karena dia sudah mempunyai kekasih. Tapi kami tetap berteman baik.

Aku pulang dengan perasaan campur aduk, terkejut, canggung dan khawatir. Terkejut bisa bertemu lagi dengan seseorang dimasa laluku. Canggung ketika berhadapan lagi dengannya di situasi yang berbeda. Dan khawatir dengan perasaanku sendiri.

===============

Aku telah sampai dirumahku saat akan makan malam. Terdengar dari luar suara riuh di dalam rumah. Pasti Jina ada dirumah, karena Eun Jung terdengar tertawa senang dan berlarian, pasti sedang bermain dengan dengan Hae Na, sepupu kesayangannya.

Aku memencet bel rumah. Eun Jung yang membukakan pintu.

“Appa… kau sudah pulang, apa kau lapar Appa?” Eun Jung menyambutku dengan senyuman khasnya. Aku menciumnya dan mengangkat tubuh mungilnya dalam gendonganku.

“Permaisuri galak itu sedang masak besar Appa” Eun Jung berbisik padaku. Aku hanya terkekeh melihat tingkah anakku. Kami menuju dapur.

“Oppa, kau sudah pulang? Kita kedatangan tamu, tetangga baru, mereka akan tinggal disebelah rumah kita, dia temanku saat aku kuliah dulu.”

Aku menoleh, dan  benar, ada tetangga baru.

“Annyeong… Cho Kyuhyun imnida…” dia membungkuk. “Ini istriku Nanhee”. Mereka menunduk hormat.

“Ne, Park Jung Soo, sepertinya kita harus berteman baik seperti orang-orang yang ada dipojok sana” aku menunjuk Eun Jung, Hae Na dan Kyuhee anak Kyu dan Nanhee. Kami tertawa.

“Aku dan Jina mengajak mereka makan malam, kau belum makan malam kan Oppa?”

Dia berkata tanpa menoleh kepadaku.

“Kau sedang memasak apa?” aku melingkarkan tanganku dipinggulnya dan meletakkan daguku dibahunya. Kucium aroma tubuhnya yang selama ini menjadi candu bagiku. Inilah alasanku pulang. Mencium aroma tubuhnya.

“Yak! Oppa! Jangan memamerkan kemesraan kalian di depan kami!” Jina berteriak padaku.

“Waeyo? Apa kau juga mau?” Aku membalasnya.

“Oppa, sebaiknya kau mandi dulu, setelah itu kita makan malam bersama” Eun Jung melepaskan pelukanku “Kau tau Oppa? Tubuhmu bau dan itu merusak selera makanku”

Eun Kyo’s POV

Seperti biasa aku membuka kafeku hari ini, hari ini pengunjungnya sangat banyak. Aku sampai kewalahan melayani mereka. Hari menjelang malam pengunjung juga sudah mulai berkurang. Saat aku bersiap untuk menutupnya, lonceng berbunyi, tanda ada orang yang masuk, aku menghampirinya.

“Tuan kami hampir tutup, jika tuan ingin minum sa… Min Wo Oppa!” Aku terkejut.

Min Wo Oppa.

Dia adalah orang yang mengejarku saat aku kuliah dulu. Tapi aku waktu itu belum memikirkan menjalin sebuah hubungan. Dia selalu berusaha mendekatiku, tapi usahanya terhambat karena aku dijaga ketat oleh Yunho Oppa. Aku sering tersenyum jika mengingat hal itu. Yunho Oppa tidak bisa membiarkan seorang namja mendekatiku. Dia takut aku terluka, itu alasannya waktu itu.

“Bagaimana kabarmu? Kau terlihat lebih cantik.” Min Wo Oppa senang sekali menggodaku, kupastikan mukaku sekarang semerah tomat.

Kami berbicara panjang lebar. Pertama kalinya aku berbicara dengannya tanpa Yunho Oppa.

===============

Aku pulang terlambat. Untung saja Eun Jung aku titipkan dengan Jina hari ini karena pengunjung hari ini banyak jadi aku takut pulang terlambat, dan memang benar. Sesampainya di rumah aku langsung mandi.

Aku mendengar suara mobil Oppa memasuki halaman rumah. Aish! Aku belum memasak! Oppa masuk dengan muka lelahnya. Aku menyambutnya dan membawakan tas kerjanya.

“Eun Jung mana? Kenapa rumah sepi?” Oppa mencari anak kesayangannya.

“Eun Jung di tempat Jina Oppa, tadi aku pulang larut, ah, apa Oppa sudah makan?” aku bertanya balik.

“Ne, aku sudah makan malam dengan Klien tadi”

“Oh, syukurlah kalau begitu, sebaiknya Oppa mandi dulu, sangat bau…” aku menutup hidungku. Dia mengacak rambutku dan tersenyum kecut.

Oppa sudah selesai mandi. Dan memakai bajunya, bersiap untuk tidur.

“Oppa, apa Eun jung tidak dijemput?”  aku bertanya.

“Aku lelah Jagi… Biarkan saja dia ditempat Jina, mungkin sekarang dia juga sudah tidur.” Oppa memejamkan mata dan tidak berkata apa-apa lagi. Sepertinya dia sangat kelelahan.

“Oppa, tadi aku bertemu teman lamaku, kami berbincang sebentar, makanya aku terlambat pulang dan tidak memasak untukmu, mianhae Oppa.” Dia tidak menjawab.

Dia tidur memunggungiku. Tidak biasanya. Biasanya dia akan tidur memelukku. Ah, mungkin dia sangat kelelahan.

Jung Soo’s POV

Aku memejamkan mataku. Memikirkan kejadian tadi siang. Aku bertemu dengan Emily lagi. Kami berbicara panjang lebar. Dia menanyakanku apakah aku sudah menikah aku menjawabnya sudah, bahkan aku sudah mempunyai anak. Dia tertawa. Aku tau dia terkejut. Dan yang paling membuatku gundah adalah dia mengatakan bahwa dia kehilanganku saat aku kembali ke Korea.

Emily adalah gadis berdarah campuran Inggris-Korea. Wajahnya sangat mempesona. Dia juga terlihat sangat anggun dan sangat perfeksionis. Dia selalu ingin terlihat sempurna. Dia tau bagaimana menarik hati seorang namja. Dan aku dulu sangat tergila-gila padanya. Berbeda dengan istriku. Istriku tampil apa adanya. Polos dan terkadang terlihat bodoh. Hey, apa yang kulakukan? Aku membandingkan istriku sendiri.

===============

Keesokan harinya aku bekerja seperti biasa. Yang membuat berbeda adalah aku selalu pergi makan siang bersama Emily akhir-akhir ini. Itu membuatku berbeda, apakah perasaan itu masih ada? Aku bertanya pada hatiku sendiri.

Hari menjelang malam, aku bersiap-siap untuk pulang. Tapi tiba-tiba ponselku berbunyi. Emily. Aku mengangkatnya.

“Yoboseo? Emily? Wae?” aku berkata.

“Jung Soo-ah… bisa menemaniku malam ini? Aku sedang dalam masalah.” Suaranya parau dan sepertinya dia sedang mabuk.

“Kau ada dimana sekarang?” Aku bertanya khawatir.

“Aku ada di bar dekat kantormu”

Aku melajukan mobilku menuju Bar yang dia maksud. Setelah sampai, aku mencari disekelilingku. Bingo! Aku melihatnya sedang berada di pojok bar dan benar sekali dia sedang mabuk. Aku menhampirinya.

“Emily, ayo kuantar pulang, katakan kau tingga dimana?” Aku memapah tubuh rampingnya. Dia memberontak. Wajahnya merah, dia sudah sangat mabuk. Aku meraih kembali tubuhnya dan kubawa keluar. Aku membawanya ke mobilku.

“Aku tidak mau pulang! Aku mau bersamamu! Park Jung Soo, kau tau? Aku sangat kehilanganmu…” Dia memeluk tubuhku dan terus mengoceh tidak karuan. Aku mengemudikan mobilku. Kuhentikan mobilku di sebuah hotel. Aku memutuskan untuk membawanya ke hotel saja karena kau tidak tau dimana dia tinggal. Aku memapahnya memasuki kamar hotel. Kubaringkan tubuhnya di ranjang. Aku membalikkan tubuhku berniat untuk pulang. Tapi tiba-tiba kurasakan langkahku tertahan. Emily menarik tanganku.

“Tolong jangan pergi, aku membutuhkanmu.” Dan aku tidak bisa menolaknya. Aku masih belum mampu menepis pesonanya. Ini salah Park Jung Soo, kau sudah mempunyai istri.

Min Wo’s POV

Aku keluar dari sebuah hotel setelah dijejali dengan presentasi yang membuat kepalaku terasa berat. Aku berniat akan mampir ke kafe Eun-kyo untuk menenangkan diri sejenak. Paling tidak aku bisa melupakan lelahku dengan melihat senyuman manisnya. Choi Eun Kyo. Gadis itu adalah satu-satunya gadis yang mampu mencuri perhatianku. Aku pernah beberapa kali menyatakan cinta padanya, tapi selalu ditolak dengan alasan bahwa dia belum mau berurusan dengan masalah hati. Aku rasa bukan itu alasannya, dia menghindariku karena Yunho, yah pasti karena itu, namja satu itu tidak pernah membiarkan seseorang mendekati Eun Kyo.

Saat berada di lobby hotel aku berpapasan dengan seseorang, Emily, dia Emily, gadis yang dulu pernah mengejarku. Tapi aku menolaknya, Emily memang sangat mempesona, siapa yang tidak tertarik dengannya, tapi sayang aku tau kelakuan buruknya, dia itu seorang gadis cantik yang berhati busuk, itu menurutku. Dia akan mendapatkan apa yang dia inginkan dengan segala cara. Kulihat dia sedang mabuk, itu cara ampuhnya untuk mendapatkan seorang pria. Siapa lagi korbannya sekarang. Rupanya dia belum sembuh, beberapa tahun yang lalu aku dengar dia sedang terapi ketergantungan alkohol di Amerika. Tapi ternyata tidak berubah sedikitpun. Cih, beruntung aku tidak terperangkap dalam jebakannya dulu.

Aku melajukan mobilku menuju kafe milik Eun Kyo, aku selalu datang malam, aku sengaja, agar pengunjung tidak terlalu banyak dan aku lebih leluasa berbicara dengannya. Aku suka dengan interior kafenya, banyak terdapat lukisan di dinding, dan bernuansa ungu lembut, warna kesukaannya.

“Apa sudah mau tutup lagi Nyonya Cantik?”aku berkata padanya. Dia tidak menyadari kehadiranku.

“Ah, Oppa… aniya Oppa, Oppa mau pesan apa? Mocchacino hangat lagi?” dia bertanya sambil tersenyum. Aigoo, bisakah kau tidak selalu ramah seperti ini? Mengembalikan rasa yang dulu pernah ada Kyo-ya…

“Aigoo, kau masih ingat minuman favoritku? Apa kau dulu menyukaiku? Tapi kau takut mengakuinya karena takut dengan malaikat pelindungmu?” Aku senang sekali menggodanya.

“Oppa! Jangan ungkit-ungkit masa lalu… Apa kau lupa dulu kau pernah menjabarkan semua hal yang kau suka padaku? Berharap aku memberikan hal-hal yang kau sukai?” wajahnya cemberut.

“Kau dulu sangat memalukan Oppa.” Kami tertawa. Aku suka dengan Eun-kyo yang seperti ini, ceria, polos dan apa adanya.

“Apa kau pulang sendiri? Boleh aku mengantarmu? Sekalian aku ingin berkenalan dengan keluarga kecilmu, bagaimana?” aku menawarkan tumpangan padanya.

“E, tapi Oppa…” dia terlihat ragu.

“Tidak apa-apa, aku tidak akan mengacau, kau tenang saja.” Aku meyakinkannya.

“Baiklah kalau begitu.” Dia menjawab pasrah.

Aku mengantarnya sampai kerumahnya. Rumah yang bagus. Ada kolam di depan rumahnya, ah, Eun-kyo memang menyukai air. Rumahnya sederhana dan minimalis. Aha, aku jadi mengomentari rumahnya seperti acara reality show saja. Dia membuka pintu. Terlihat anak kecil menghambur ke pelukannya.

“Eomma! Eomma sudah pulang? Aku menunggu Appa…” Anak itu sangat lucu. Yah, tidak jauh dengan ibunya. Dia menoleh kepadaku.

“Ahjussi, kau siapa? Kenapa datang bersama Eommaku?” dia menatapku heran.

“Annyeong… aku teman ibumu saat sekolah anak manis… Sapa namamu?” aku bertanya sambil mencubit pipinya.

“annyeong ahjussi, Park Eun Jung imnida…” Dia membungkukkan badan dalam gendongan ibunya.

“Park Eun Jung? Aigoo… nama yang manis persis seperti orangnya. Kau tau? Eommamu dulu sangat cantik…”

“Jinjjayo ahjussi? Huwaaa aku beruntung mempunyai eomma yang cantik.” Dia memuji diri sendiri, sangat lucu, aku menyukainya.

“Tapi aku rasa sekarang ada yang lebih cantik dari ibumu.” Aku mengerling padanya. Mukanya terkejut dan menjawab.

“Jeongmal? Nuguya?” Mukanya berubah antusias, persis seperti ibunya.

“Kau mau tau?” aku menggantungkan jawabanku, membuatnya semakin antusias.

“Kau lebih cantik dari ibumu.” Haha, wajahnya memerah dan langsung tertawa.

“Oppa, bakatmu merayu memang tidak bisa dihilangkan, tapi kau jangan merayu anak kecil Oppa!” Eun Kyo memarahiku.

“Hari sudah larut, sebaiknya aku pulang dulu, kapan-kapan boleh kan aku berkunjung Anak Manis?” aku mengacak rambut Eun Jung. Dia mengangguk semangat.

Eun Kyo’s POV

“Apa Appamu belum pulang sayang?” aku menanyakan Ayahnya.

“Ne.” Eun Jung mengangguk pelan.

“Sebaiknya kau tidur saja, tidak usah menunggu Appa, besok kau harus sekolah, jika kau tidur larut malam, nanti bangunnya kesiangan, jadi tidur sekarang, arasseo?” Dia mengangguk pelan, tidak membantah, sepertinya malaikat kecilku memang sangat kelelahan hari ini, biasanya dia akan selalu menolak disuruh tidur jika tidak ada Appanya. Aku membawanya ke kamar. Mendengarkannya bercerita tentang hari ini sampai dia terlelap. Aku mematikan lampu kamar dan mengecup keningnya. Aku meninggalkannya yang sudah terlelap.

Sayup-sayup kudengar suara mobil memasuki halaman rumah, pasti Jung Soo Oppa sudah pulang. Aku membukakan pintu untuknya. Dia terlihat lelah dan sangat… berantakan. Aku juga mencium aroma alkohol ditubuhnya. Aku mundur perlahan.

“Oppa, kau dari mana saja baru pulang? Apa penciumanku salah? Aku mencium bau alkohol.” Aku bertanya padanya sambil mundur teratur.

“Aku tadi sedang menjemput teman di Bar, dia sangat mabuk.” Dia menjawab dan langsung berlalu. Apa aku salah lihat? Dia berlalu begitu saja. Tanpa kata, bahkan tidak menanyakan anaknya. Oppa terlihat aneh hari ini.

===============

Aku sengaja menutup kafeku hari ini, aku ada janji untuk makan siang bersama dengan Jina dan Nanhee. Mengenang masa lalu, itu yang dikatakan Jina. Kami bersenang-senang hari ini. Shopping, makan, jalan-jalan dan ke salon. Benar-benar seperti muda kembali jika seperti ini.

Acara pertama kami ke salon. Aku sebenarnya tidak terlalu suka ke salon, itu membuatku gerah, tapi Jina dan Nanhee memaksaku. Mereka bilang sekali-sekali tidak apa-apa untuk merawat diri. Aku tidak mampu menolaknya.

Acara kedua shopping. Ini juga aku tidak terlalu suka. Tapi demi mereka yang gila shopping aku ikuti saja. Membosankan. Tidak bisakah mereka membelinya tanpa berbelit-belit? Jika suka di ambil saja, tidak perlu kesana-kemari mencari yang lain tapi pada akhirnya pilihan yang pertamalah yang diambil. Aku hanya geleng-geleng kepala melihat kedua temanku ini. Setelah lelah, kami memutuskan untuk makan di restoran terdekat. Aku sudah sangat lapar.

“Bagaimana hubunganmu dengan suamimu Kyo-ya?” Nanhee tiba-tiba bertanya.

“O, aku? Baik-baik saja, kami baik-baik saja. Memangnya kenapa?” aku balik bertanya.

“Oh, ani, aku melihat mobil Min Wo Oppa kemarin keluar dari rumahmu, apa dia masih menghubungimu?” Nanhee menjawab.

“Mwo? Min Wo Oppa? Nugu?” Jina menatap tajam ke arahku.

“Min Wo Oppa adalah namja yang selalu mengejar Eun-kyo saat kuliah dulu… Tapi sayangnya tidak pernah berhasil, karena pertahanan Yunho Oppa lebih kuat.” Nanhee terkekeh menceritakan semuanya kepada Jina. Aku dan Jina memang bersahabat baik. Tapi kami beda kampus saat kuliah dulu. Sedangkan aku satu kampus dengan Nanhee. Kami bercerita panjang lebar, tidak terasa hari telah menjelang sore.

Aku pamit dengan dengan kedua temanku untuk ke toilet. Ketika akan ke toilet aku melihat seseorang yang aku kenal. Suamiku. Tapi tunggu, siapa wanita cantik yang sedang menggandeng tangannya mesra? Mereka terlihat akan keluar dari restoran ini melewati pintu satunya. Dadaku bergemuruh, otakku tak mampu berpikir, tapi aku berusaha menenangkan diri. aku bergegas mengikuti mereka, aku cepat-cepat pamit kepada kedua temanku, aku mengatakan kepada mereka kalau Eun Jung minta dijemput, dia bosan.

Aku mengikuti mobil mereka dengan taksi, mereka terlihat menuju sebuah apartemen mewah. Aku mengikuti mereka. Aku menjaga jarak agar meraka tidak menyadari kalau ada yang mengikuti. Aku masih melihat wanita itu bergelayut mesra ditubuh suamiku. Wanita yang cantik. Dia tinggi dan mempesona. Juga terlihat elegan. Pasangan yang serasi. Aku berbalik untuk pulang. Membawa hatiku. Sakit. Apakah ini rasanya patah hati? Aku belum pernah merasakan ini sebelumnya. Bahkan saat kehilangan Yunho Oppa pun tidak sesakit ini. Namun aku berusaha tegar.

===============

Beberapa hari berlalu. Oppa sedikit berubah. Dia sering pulang larut malam. Juga tidak sehangat dulu. Aku mendiamkannya. Jika aku bertanya dia hanya menjawab banyak proyek yang harus diselesaikannya. Aku hanya tersenyum kecut. Tapi aku berusaha menutupi apa yang telah aku lihat. Aku mempercayaimu Oppa, kau masih mencintaiku, aku tau itu.

Jung Soo POV

Aku merasa berbeda akhir-akhir ini. Hari-hariku dipenuhi dengan Emily. Dia membuatku terbuai, kembali ke masa lalu. Aku selalu makan siang dan makan malam bersamanya. Sangat senang, mungkin sedikit bahagia. Dulu aku sangat menginginkannnya. Tapi dia selalu menolakku. Dulu dia selalu mengejar pria-pria kaya. Tapi sekarang dia datang padaku dan mengatakan dia membutuhkanku. Aku bermain dengan api. Aku tau ini salah tapi aku juga tidak mampu menolaknya.

Tok tok tok…

Kudengar pintu ruanganku ada yang mengetuk.

“Silakan masuk.” Aku mempersilakan orang itu masuk. Ternyata Emily. Dia tersenyum kepadaku.

Dia terlihat menggoda hari ini. Bisa aku katakan begitu. Dia memakai blouse tipis berwarna putih dan rok mini yang memperlihatkan kaki jenjangnya. Sangat menggoda. Dia memang menggoda setiap hari. Tapi hari ini dia terlihat lebih sexy *?*.

“Emily, ada apa datang kesini?” aku gelagapan bertanya padanya. Dia menatapku tajam dan berkata.

“Aku merindukanmu Park Jung Soo!” perlahan dia mendekatiku. Dan sampai dihadapanku. Aku menahan nafasku.  Dia menarik tubuhku agar berdiri, dan mendekatkan wajahnya ke arahku. Dia mencium bibirku. Pada awalnya aku terkejut tapi akhirnya aku terbuai. Sampai akhirnya sebuah ketukan membuyarkan konsentrasiku. Aku menjauh darinya. Dan mempersilahkan orang itu masuk. Sekretarisku, dia mengatakan bahwa 15 menit lagi ada rapat. Emily pamit untuk pulang. Aku bersandar dikursiku, mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. Ini salah Park Jung Soo. Tapi lagi-lagi aku tidak bisa mengontrol diriku.

================

Aku pulang ke rumah larut malam. Kulihat istriku terbaring di atas sofa sambil memegang remote tv dan tvnya masih menyala. Dia pasti menungguku. Aku mengangkat tubuh mungilnya, dia menggeliat dan membuka matanya.

“O, Oppa! Kau sudah pulang?” dia terkejut dan berusaha turun dari gendonganku. Aku menahannya.

“Apa Eun Jung sudah tidur?” aku bertanya sambil membuka pintu kamar dan meletakkan tubuh istriku ke atas ranjang dan mencium bibirnya lembut dan dalam. Dia mendorong tubuhku.

“Oppa, sebaiknya kau mandi dulu…” dia kembali mendorong tubuhku. Aku berdiri dan melangkahkan kaki ke kamar mandi.

Selesai mandi aku melihat istriku sudah tertidur, aku naik ke ranjang dan berbaring disampingnya, kutarik selimut menutupi tubuh kami. Aku menatapnya. Gadis ini, beberapa tahun yang lalu telah kurenggut kebahagiaannya. Kini dia adalah bagian dalam hidpuku. Gadis manis yang polos. Terkadang dia malah terlihat bodoh. Berbeda dengan Emily yang sedikit, oke, bukan sedikit tapi lumayan banyak juga, dia lebih agresif, dan sangat mempesona tentunya. Seandainya saja istriku seperti itu. Hey, aku kembali membandingkan kedua gadis ini. Tapi sepertinya aku lebih mencintai gadis yang berbaring disampingku. Tapi aku juga tidak mampu menahan hasratku untuk berada disamping Emily. Aku tau aku salah. Tapi aku tidak mampu berbuat apa-apa.

================

Rutinitas berjalan seperti biasa. Setiap pagi istriku selalu mengomel karena dua peliharaannya sangat susah dibangunkan. Putri kecilku juga selalu manja padaku. Tidak ada yang berbeda. Yang berbeda hanyalah saat aku berada dikantor. Setiap hari Emily mengunjungiku.

Eun Kyo’s POV

Aku berusaha bersikap seperti biasa. Memendam semua perih yang telah ditorehkan Jung Soo Oppa. Aku meyakini bahwa Jung Soo Opa pasti masih mencintaiku.

Drreett dreet…

Ponselku bergetar.

From : Jung Soo Oppa

Jagi… aku pulang terlambat hari ini.

Ada meeting hari ini.

Pulang terlambat lagi. Aku menghela nafas. Ini sudah kesekian kalinya dia pulang terlambat. Dan aku sudah mulai terbiasa. Aku tidak terlalu mempermasalahkannya. Tapi aku benar-benar penasaran kali ini. Aku bergegas melajukan mobilku, menuju kantor suamiku.

Sesampainya dikantor suamiku, aku melihat pemandangan yang kurang enak dilihat lagi. Lagi-lagi aku melihatnya dengan wanita itu. Sekilas wanita itu menoleh ke arahku. Aku cepat-cepat beranjak dari sana.

==============

Aku kembali ke kafe dengan perasaan tidak menentu. Benarkah suamiku telah berselingkuh? Rasanya tidak mungkin. Dia sangat mencintai anaknya. Tapi apa yang aku lihat tadi?

Ditengah kegundahanku seseorang membuyarkan lamunanku.

“Nyonya Cantik aku pesan mocchacino ice” Min Wo Oppa. Dia selalu seperti itu memanggilku seenak hatinya. Aku menyuguhkan pesanannya.

“Mau menemaniku minum Nyonya Cantik?” Dia kembali menggodaku.

“Sekali ini saja kuijinkan kau mengganggu dan mengambil waktuku Oppa.” Entah darimana datangnya jawaban itu. Aku terlalu gundah. Saat aku berbincang-bincang dengan Min Wo Oppa. Aku lihat seorang wanita menghampiriku.

“Eun-kyo~ssi, boleh kita bicara sebentar?” wanita itu! Wanita yang bersama Jung Soo Oppa, mau apa dia kesini.

“Ne, ada apa mencariku?” aku balik bertanya.

“Oh, Min Wo Oppa, apa yang kau lakukan disini? Heh! Dunia ini ternyata sempit, benar kan Oppa?” dia berbicara dengan Min Wo Oppa dengan sinis.

“Aku ingin berbicara empat mata denganmu Eun-kyo~ssi, bisakah?” aku mengangguk. Aku memilih kursi paling pojok.

“Apa yang ingin kau katakan? Aku bahkan belum tau namamu.” Dia menatapku dengan pandangan meremehkan.  Aku balik menatapnya. Wanita ini selain cantik tapi juga angkuh, aku bisa melihatnya dari tatapan matanya menatapku. Apa yang ingin dia lakukan sebenarnya?

“O, aku lupa memperkenalkan diri, Emily, namaku Emily. Aku adalah gadis yang disukai suamimu. Sebelum kau hadir dalam kehidupannya dia mati-matian mengejarku. Tapi aku selalu menolaknya. Tapi dulu dia berkata akan selalu mencintaiku. Sekarang aku menagih janjinya. Apa kau mau membantunya?” wanita ini kurang ajar! Aku menahan emosiku sekuat tenaga. Aku ingin tau seberapa angkuh dia terhadapku.

“Apa yang kau inginkan dariku?” aku balik bertanya.

“Tinggalkan suamimu untuk memenuhi janjinya.” Aku tersentak. Tetapi aku berusaha untuk menyembunyikan keterkejutanku. Aku tersenyum.

“Itu terserah pada takdir Emily-ssi, takdir yang memilih. Kita lihat saja, apa takdir akan memilihku atau memilihmu,  ada lagi yang ingin kau bicarakan?” aku berkata lirih namun tegas.

“Baiklah, kita lihat saja, tapi aku rasa kau harus bersiap-siap untuk kehilangannya.” Dia berdiri dan melangkah pergi, aku mengikutinya dari belakang.

“Oppa, apakah wanita ini yang telah membuatmu menolakku dulu?” dia berhenti tepat di depan Min Wo Oppa.

“Bersiaplah Oppa, kau akan mendapatkannya.” Lagi-lagi dia menatapku sinis.

Aku menghela nafasku. Bebanku terasa sangat berat. Mimpi apa aku semalam. Hey, harusnya aku yang yang marah. Kenapa jadi terbalik seperti ini. Min Wo Oppa menatapku heran.

“Apa dia mengganggu ketenanganmu?” Min Wo Oppa bertanya, aku tak mampu menjawab. Perlahan air mata metes di kedua sudut mataku membasahi pipiku. Min Wo Oppa menggenggam tanganku. Aku tau dia mencoba menenangkanku. Tapi aku terlalu lemah saat ini.

Jung Soo’s POV

Aku ingin pulang lebih cepat hari ini. Aku ingin menceritakan semuanya dan meminta maaf. Aku menyadari ini hanya salah dan ini hanya nafsu sesaat. Aku mencintai istriku.

Sebelumnya aku membeli seikat mawar putih di toko bunga. Berharap dia mau memaafkanku. Aku tau setulus apa hati istriku. Meskipun setiap hari kerjanya hanya marah-marah dan selalu protes dengan apa yang aku dan Eun Jung lakukan, tapi aku tau dia mencintai kami lebih dari dirinya sendiri. Aku tau itu.

Ah, ini masih sore. Dia pasti masih di kafe tersayangnya itu. Aku memutar balik arah mobilku menuju Caffe yang dikelola istriku. Aku menepikan mobilku. Dari kaca mobil aku melihat istriku sedang duduk disalah satu kursi di Caffé itu *belibet bgt, pokonya begitu deh*

Tapi tunggu, siapa lelaki yang ada dihadapannya, dia menggenggam tangan istriku. Kulihat Eun-kyo sedang menangis. Apa yang mereka lakukan?! Emosiku menyeruak seketika. Aku membuka pintu mobil dan membantingnya keras. Kubuka pintu dengan kasar. Aku lihat kedua manusia itu tersentak. Eun-kyo menyapu airmata dipipinya. Lelaki itu segera menarik tangannya.

“Oppa…”  Eun Kyo berkata lirih. Wajahnya pucat pasi, bisa kuartikan dia sangat terkejut dengan kehadiranku.

“Oppa, apa Oppa sudah pulang? Mengapa tiba-tiba ada disin?” Dia bergetar menanyakan kedatanganku.

“Tiba-tiba?! Tiba-tiba kau bilang?!! OH! Jadi kau tidak suka suamimu menjemputmu disini?!HAH?!” aku membentaknya. Reflek lelaki yang ada dihadapannya berdiri. Aku menatapnya tajam.

“Jadi ini yang kau lakukan disini?” aku beralih menatap Eun Kyo, dia sangat terkejut aku membentaknya. Dia hanya terdiam dan tidak mampu berkata apa-apa.

“Dia milikku! Dan jangan coba-coba menyentuhnya tanpa seijinku!” Aku berkata tegas pada lelaki itu. Kutarik lengan Eun-kyo dengan kasar, kubawa dia pulang dengan mobilku. Sepanjang perjalanan kami hanya diam. Dia tidak ada henti-hentinya menangis. Cih! Baru kali ini aku melihatnya jijik saat menangis.

Kami sudah sampai dirumah. Eun Jung masih berada di penitipan. Aku sengaja tidak menjemputnya agar tidak menyaksikan pertengkaran hebat kami yang pertama kali. Kucengkram lengannya, kuseret dia masuk ke rumah, ku hempaskan dia di atas ranjang.

“Siapa lelaki itu?! Apa hubunganmu dengannya?! Kekasihmu?! Apa yang kau lihat dari dirinya?! Hah?! Apa dia lebih dariku?!” aku menumpahkan emosi yang memuncak di otakku. Dia hanya menangis.

Aku menyeka airmatanya dengan kasar.

“Jangan menangis Park Eun-kyo!! Jawab pertanyaanku!!!” suaraku semakin tinggi, dan aku benar-benar tidak dapat menahan emosiku. Aku mendekatinya dan menciumnya kasar. Dia memberontak.

“Apa dia lebih hebat dariku?!” aku kembali menciumnya dan menindih tubuh mungilnya. Dia berontak hebat. Tapi tenagaku lebih kuat. Dia menangis keras. Berhenti memberontak.

“Berapa kali kau melakukan dengannya?! Hah?!” aku memegang tangannya dengan kasar agar dia tidak beranjak dariku.

“Akhir-akhir ini kau sering menolakku. Apa kau melakukannya dengan lelaki itu?! Kau terlihat murahan Choi Eun-kyo!” dia berhenti berontak, reflex aku mengendurkan cengkramanku. Dia mendorongku kuat. Dia terlepas dariku. Dia beranjak dari ranjang. Aku hanya menatapnya.

Eun Kyo’s POV

“Akhir-akhir ini kau sering menolakku. Apa kau melakukannya dengan lelaki itu?! Kau terlihat murahan Cho Eun Kyo!” aku berhenti berontak. Choi Eun Kyo? Dia memanggilku Choi Eun Kyo. Apa begitu murahan aku dimatanya? Aku mendorongku kuat. Aku beranjak dari ranjang. Dia hanya menatapku. Membenarkan pakaianku. Aku menoleh padanya.

“Jika matamu sakit melihat wanita murahan sepertiku, baiklah, aku akan pergi dari kehidupanmu Oppa! Dan satu hal yang perlu kau tau, aku tidak pernah mengkhianatimu, aku hanya mencintaimu, tapi jika aku terlalu murahan untukmu aku akan pergi.” Aku berkata sambil memasukkan baju-bajuku ke dalam koper. Aku keluar dari kamar membawa koper itu. Aku menuju kamar sebelah, kamar Eun Jung, kumasukkan baju-baju yang diperlukan Eun Jung.

Kulihat Oppa sedang bersidekap di sofa. Matanya menyiratkan kemarahan.

“Jika aku murahan, bagaimana denganmu Oppa? Tanyakan pada dirimu sendiri.” Aku berkata padanya. Dia tersentak, tapi kurasa emosinya lebih dominan. Terlihat dari matanya.

===============

Aku menjemput Eun Jung di tempat penitipan. Dia menatapku heran. Aku membawanya ke apartemenku dulu saat aku kuliah. Eun Jung semakin heran.

“Eomma, kita kan kemana? Appa mana Eomma? Kenapa Appa tidak ikut?” Dia bertanya heran.

“Untuk sementara kita akan tinggal disini sayang… Appamu sedang sibuk, tidak bisa diganggu.” Aku menjawab pertanyaannya. Dia hanya mengangguk tidak mengerti.

Ini pertama kalinya kami bertengkar hebat. Selama ini rumah tangga kami baik-baik saja. Entah mulai kapan jadi seperti ini. Aku juga bertanya-tanya. Apa aku kurang sabar menghadapinya? Apa aku kurang mencintainya? Aku tidak ingin seperti ini. Ini menyakiti Eun Jung. Tapi yang membuat aku sangat terluka adalah Oppa menuduhku selingkuh, sedang dia sendiri? Menggelikan! Ini sangat memuakkan! Dia bersembunyi dibalik kesalahpahaman ini. Dia bahkan menganggapku wanita murahan. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Seperti yang telah aku katakana kepada wanita itu. Takdir. Hanya takdir yang mampu menjawabnya. Jika benang merah ini putus. Aku juga tidak mampu berbuat apa-apa.

===============

Hari-hariku berjalan seperti biasa. Aku mengantar Eun Jung ke sekolah. Untungnya putri kecilku ini tidak terlalu cerewet akhir-akhir ini. Aku melajukan mobilku menuju Caffe.

“Selamat Pagi Nyonya Cantik!” Aku tau suara siapa itu.

“Min Wo Oppa, sepagi ini sudah datang?” aku membalas sapaannya.

“Aku ingin melihat mentari pagi komplit dengan senyum manismu.” Dia sudah berada dihadapanku

“Kau tidak bekerja Oppa?” aku bertanya.

“Hari ini aku off, aku ingin menemanimu. Meski aku bukan orang yang kau cintai, bolehkah aku menggantikan tugas Yunho melindungimu?” Dia menatapku dengan serius, sedetik kemudian tawanya meyeruak di telingaku.

“Aish! Oppa! Kau ini apa-apaan! Jangan bercanda ini masih terlalu pagi!”

“hahahahahaha” dia tertawa lagi. Dia senang sekali menggodaku. Hei, sudah berapa kali aku mengatakan ini? Haha.

“Kau jangan khawatir, wanita itu tidak akan bisa menyakitimu.” Aku mengernyitkan dahi mendengar perkataan Min Wo Oppa.

“Ne?” akumenunjukkan raut bingung.

“Tidak usah dipikirkan, suamimu pasti akan tau kebenarannya.”

Waktu terasa cepat berlalu hari ini, aku ditemani dengan rayuan dan celotehan Min Wo Oppa hari ini, sangat menyenangkan.

===============

Aku menjemput Eun Jung pulang dari sekolahnya. Kami pulang ke apartemenku lagi. Sudah beberapa hari aku tinggal disini dan Oppa tidak pernah sekalipun mencoba menghubungiku. Apa dia tidak merindukanku? Jika dia membenciku setidaknya dia merindukan malaikat kecilnya. Belahan jiwanya, tapi nyatanya dia tidak mencariku sama sekali.

Tok tok tok

Aku mendengar suara pintu diketok *jadul banget, orang sekarang kan pake bel*

Aku membuka pintu. Aku terkejut yang datang adalah Jina dan Nanhee beserta ekornya, haha, maksudnya suami mereka masing-masing. Jina dan Nanhee masuk ke dalam sedangkan Donghae dan Kyu terlihat sedang mendekati Eun Jung.

“Anak manis, apa kau mau es krim? Bagaimana kalau kita makan es krim di kedai depan?” Donghae mendekati Eun Jung, Eun Jung segera mengangguk dengan semangat dan berlari ke pelukan Donghae.

Jina menatapku tajam. Aku merasakan atmosfer yang berbeda saat ini. Aku rasa Jina sedang marah. Dan benar saja.

“Apa yang kau lakukan disini iparku sayang?!” dia berkata sengit. Nanhee terlihat menenangkan Jina.

“Apa yang terjadi selama ini? Oppaku jarang pulang kerumah, dan kau berada disini, sebenarnya apa yang terjadi? Kau selalu seperti ini, selalu menanggungnya sendirian.” Jina berkata lirih namun penuh emosi.

“Ada apa antara kau dan Min Wo? Kau terlihat dekat dengannya akhir-akhir ini. Apa kau menyukainya? Apa yang lebih darinya?!” Jina mulai diluar kontrol. Namun sebelum dia mengatakan yang bukan-bukan tentang aku dan Min Wo Oppa, aku terlebih dahulu menyanggahnya.

“STOP!! Stop Jina-ya, cukup! Jangan kau teruskan prasangkamu yang tidak beralasan!” aku membalasnya tak kalah sengit.

“Tidak beralasan?! Tidak beralasan katamu? Kau bersama namja lain, itu tidak beralasan? Eun Jung juga sering dijemput olehnya, itu yang kau sebut tidak beralasan?!” Jina semakin emosi.

Aku menghela nafas.

“Aku tau Jung Soo Oppa adalah Oppamu Jina-ya… tapi tolong dengarkan aku dulu…” aku mulai menurunkan intonasi suaraku berharap emosi Jina juga mereda.

“Alasan apa lagi?! Kau sudah jelas-jelas telah berselingkuh!” Rupanya emosi masih menguasainya.

“Cukup!! Cukup Jina-ya. Jika kau menuduhku seperti itu untuk apa kau datang kemari?! Bukankah kau akan tetap menuduhku seperti itu? Sia-sia kau datang kemari Park Jina!” aku tak kalah emosi. Nanhee kebingungan menghadapi semua ini. Aku tidak peduli.

“Aku memang mencintainya.” Sebuah suara membuyarkan emosi kami. Min Wo Oppa.

“Aku memang mencintainya Jina-ya, jauh sebelum dia ditakdirkan untuk Oppamu. Tapi kau jangan salah paham. Aku tau dia hanya mencintai Oppamu. Aku sangat tau itu. Dan kau tau yang sebenarnya terjadi?” Min Wo Oppa menoleh kepadaku. Aku menggelengkan kepalaku. Mengisyaratkan bahwa kau jangan mengatakannya.

“Mereka harus tau yang sebenarnya Nyonya Cantik.” Jina membelalakkan matanya mendengar Min Wo Oppa memanggilku Nyonya Cantik.

“Yang sebenarnya selingkuh adalah Oppamu. Dia menuduh Eun-kyo berselingkuh saat aku menenangkannya di kafe, saat itu Emily datang dan meminta Eun Kyo untuk melepaskan Oppamu untuknya. Oppamu melihat aku bersama Eun-kyo yang sedang menangis. Aku hanya menenangkannya, kami tidak ada hubungan apa-apa meskipun aku berharap hubungan ini lebih. Aku rasa kau lebih mengerti Eun-kyo daripada aku Jina-ya, dan kau Nanhee aku rasa kau lebih mengerti situasi ini, sekeras apapun aku membuat Eun-kyo jatuh cinta, tetap tidak akan bisa.”

Min Wo Oppa berkata panjang lebar.

“Chakkammanyo! Oppa, apa yang Oppa maksud Emily yang itu?” Nanhee bertanya pada Min Wo Oppa. Min Wo Oppa mengangguk.

“AISH! Wanita jalang itu tidak kubiarkan kali ini!” Nanhee menggeram.

Aku kebingungan.

“Aku memang sudah tau kalau Oppa bersama wanita itu, tapi aku diam saja sampai wanita itu mendatangiku dan memintaku untuk melepaskannya, Oppamu melihatku bersama Min Wo Oppa, kami bertengkar hebat saat itu, bahkan dia mengatakan aku wanita murahan.” Aku menambahkan.

“Park Jung Soo!!! Kau akan terima balasannya!” Jina tak kalah emosi. Seketika kedua gadis yang sudah mempunyai anak itu melesat pergi.

================

@ apartement Emily

Nanhee terlihat tergesa-gesa menuju apartemen berlantai 20 nan megah itu. Dia mempercepat langkahnya sambil mengumpat. Tidak dipedulikannya orang menatapnya aneh. Dipencetnya bel apartemen yang ada dihadapannya.

Saat pintu terbuka dia langsung masuk tanpa permisi.

“YAK! Wanita jalang! Tidak akan kubiarkan kau menghancurkan kehidupan sahabatku setelah apa yang kau lakukan dulu pada suamiku!!!!” Nanhee mencengkram kuat tangan Emily dan menjambak rambutnya.

“Kupastikan kau tidak akan mendapatkan Park Jung Soo Emily sayang!” Nanhee berkata sinis.

“Oh ya? Buktikan ucapanmu, akan kupastikan Park Jung Soo bertekuk lutut dihadapanku!” Emily berkata sangat yakin.

“Memangnya selama ini kemana larinya Park Jung Soo saat ditinggalkan Eun-kyo, Nyonya Cho? Dia bersamaku!”

PLAK! Tamparan keras mendarat di pipi Emily. Dia memegang pipinya.

“Kita lihat saja, siapa yang akan bertahan! Jika kau terus membayangi pasangan itu kupastikan kau tidak akan bernafas lagi Emily sayang!”

Nanhee meninggalkan Emily yang menggeram memegang pipinya.

@ Jung Soo Office

Jina berlari menuju ruangan Oppanya, tidak dipedulikannya orang yang menatapnya heran. Dia bertanya kepada sekretaris Oppanya. Dia bilang sebentar lagi Oppanya selesai meeting.

Jina tidak sabar lagi, dia menuju ruang meeting, dan didapatinya Oppanya keluar dari ruangan. Dia segera menarik tangan Oppanya. Park Jung Soo  terlihat bingung. Jina membawanya keruangannya.

“Oppa! Apa yang terjadi sebenarnya?! Mengapa Eun-kyo dan Eun Jung tidak dirumah?” Jina bertanya sengit.

“Aku.. Aku” Park Jung Soo tidak tau harus berkata apa.

“Katakan Oppa, apa hubunganmu dengan Emily? Kau sering menghabiskan waktu dengannya? Ada apa denganmu Oppa? Kau mencampakkan Eun-kyo! Sudah lupa kah kau bagaimana membuatnya menderita dulu? dan sekarang kau lebih membuatnya menderita!”

“Apa maksudmu?! Dia yang sel”

“Kau mau mengatakan dia yang selingkuh?! Hah?! Jauh sebelum kau memergokinya dengan pria itu dia sudah tau kau bersama wanita itu! Dia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri! Kau bersama wanita itu Oppa, dan satu hal lagi, Eun-kyo tidak ada hubungan apa-apa dengan pria itu, pria itu memang mencintai Eun Kyo jauh sebelum kau merenggut kebahagiaanya, tapi Eun-kyo menolaknya, dan sampai saat ini pun Eun-kyo tetap menolaknya!” Jung Soo tersentak. Dia menyadari kesalahannya.

“Kau sangat memalukan Oppa! Kau bahkan mengatakan padanya bahwa dia adalah wanita murahan, sekarang kau lihat, siapa yang lebih murahan, Eun-kyo, wanita yang kau peluk itu…. Atau dirimu sendiri Oppa!” Jina beranjak pergi dan membanting pintu.

Jung Soo’s POV

“Kau sangat memalukan Oppa! Kau bahkan mengatakan padanya bahwa dia adalah wanita murahan, sekarang kau lihat, siapa yang lebih murahan, Eun-kyo, wanita yang kau peluk itu…. Atau dirimu sendiri Oppa!” Jina beranjak pergi dan membanting pintu.

Aku terkejut mendengar pernyataan Jina. Jadi selama ini aku yang jahat! Aku yang telah mengkhianatinya. Tiba-tiba saja jantung terasa berhenti berdetak. Aku merasa seperti mayat hidup seketika. Aku tanpa sadar telah membuang jantungnya sendiri demi menikmati hawa surga sesaat yang disuguhkan iblis dengan konsekuensi tanpa sadar jantungku telah diambil.

Aku harus menemuinya sekarang. Harus sekarang! Aku sudah tidak bisa bernafas jika ini terus berlangsung lama. Aku merindukan senyumnya. Seketika aku merindukan ocehannya dipagi hari. Aku merindukan wajah merahnya saat aku goda. Aku merindukan aroma tubuhnya. Aku merindukan pelukannya. Aku merindukan segalanya dari dirinya.

Aku langsung berlari ke parkiran menuju mobilku. Kukendarai mobilku dengan kecepatan tinggi. Aku melihatnya sedang melayani pelanggan. Seketika aku merasa tenang, jiwaku kembali terisi.

Aku memasuki kafe itu. Dia terlihat tersentak. Dia menawarkan minuman kesukaanku. Aku tersenyum. Dia terlihat bingung. Namun beranjak melayani pelanggan yang lain. Aku memperhatikan gerak-geriknya. Senyumnya, caranya melayani pelanggan, caranya membungkuk dan caranya menghormati orang lain, aku mencintainya, aku mencintainya yang sederhana dan apa adanya ini. Jika ditanya mengapa aku mencintainya, aku tidak akan bisa menjawab. Aku membutuhkan dirinya disampingku, itu saja, apa cinta butuh alasan?

Saat aku memperhatikan gerak-geriknya aku dengar ponselku berbunyi. Donghae. Mengapa dia menelponku? Bukankah semua berkas sudah selesai semua aku tandatangani.

“Yoboseo?” Aku mengangkatnya.

“Mworagoya?! Ne, aku akan segera kesana.” Aku meraih tangan Eun Kyo dan segera membawanya ke mobil, dia sangat kebingungan.

“Oppa, ada apa? Mengapa kau membawaku dengan paksa seperti ini?” kulihat wajahnya terlihat kesal.

“Eun Jung menghilang.” Aku menjawabnya datar.

“Mwo?!” muka terlihat shock.

“Jangan khawatir, kita pasti menemukannya, anak kita anak yang pintar, dia tidak akan ceroboh.” aku menenangkan istriku, padahal hatiku sendiri lebih galau.

Kami sampai di sekolah Eun Jung. Eun Kyo Nampak tergesa-gesa keluar dari mobil.

Kami berbicara dengan gurunya. Disana sudah ada Jina dan Donghae. Mereka tidak kalah paniknya.

“Eun Jung meninggalkan surat ini untuk kedua orang tuanya.”

To : Eomma

Eomma… kapan kita bertemu Appa?

Aku merindukan Appa…

Apa Eomma dan Appa bertengkar?

Kata teman-teman, Eomma dan Appa akan bercerai..

Emily Ahjumma juga bilang begitu.

Aku tidak ingin Eommma dan Appa bercerai.

Aku ingin mencari Appa, Eomma…

Eomma tenang saja, Appa pasti akan menjemput Eomma.

Tapi saat Appa menjemput Eomma, Eomma jangan marah-marah lagi…

Kau tau Eomma? Aku dan Appa sering memanggilmu Permaisuri galak

Eomma do’akan aku menemukan Appa.

Eomma saranghae…

Tuan putrimu

Park Eun Jung

Kami berdua membaca surat Eun Jung berurai air mata. Eun-kyo tidak dapat menahan tubuhnya lagi. Tubuhnya limbung seketika. Aku menopangnya.

Lagi-lagi suara ponsel berbunyi. Milik Eun-kyo. Dari Min Wo.

“Yoboseo?” aku mengangkatnya.

“Mwo? Dimana? Ne, kami akan segera kesana.” Aku bergegas membawa Eun Kyo ke mobil, begitu juga Jina dan Donghae setelah berpamitan dengan gurunya Eun Jung.

“Ada apa lagi Oppa?” Eun-kyo bertanya lagi. Aku bingung harus menjawab apa. Kuputuskan tidak menjawabnya. Eun-kyo hanya menangis.

Kami memasuki halaman rumah sakit. Eun-kyo sadar kemana arah dari semua ini, airmatanya semakin deras. Saat berhenti dia langsung menghambur keluar dan berlari. Aku mengikutinya. Aku kembali menghubungi Min Wo. Dia mengatakan Eun Jung sudah berada di kamar inap. Kami lansung menuju kesana. Jina dan Donghae mengikuti. Aku memasuki kamar dimana malaikat kecilku terbaring lemas disana. Aku melihatnya penuh dengan perban. Kabel-kabel menempel dimana-mana. Jarum infus terpasang ditangan mungilnya. Eun-kyo roboh seketika. Aku mengangkatnya ke atas sofa. Kubaringkan tubuh mungilnya. Airmataku tak terbendung lagi. Min Wo menepuk pundakku.

“Aku melihatnya ditabrak seseorang, dia kehilangan banyak darah, aku mendonorkannya Jung Soo~ah… maaf tidak meminta ijin kepadamu terlebih dahulu. Orang yang menabrak Eun Jung juga sudah ditangkap. Kau tau siapa yang menabraknya?” aku mendongak ke arah Min Wo.

“Emily, Emily yang melakukannya, dia terlalu takut kehilanganmu, dia menyadari kau tidak mungkin mencintainya. Dan dia ingin memutus benang merah kalian. Eun Jung, Eun Jung yang selama ini membuat kalian bersatu, aku benar bukan? Dia mau melenyapkannya. Emily itu seorang yang ambisius, aku mengenalnya sebelum kau mengenalnya Jung Soo-ah.. dia dulu mengejarku, tapi aku suda tau sifat buruknya.”

Aku menyimak pekataan Min Wo, pantas saja Eun Kyo betah bersamanya. Aku salah, dia pria yang baik dan menyenangkan, juga penyayang kurasa.

“Park Jung Soo, jaga baik-baik istrimu dan putrid kecilmu ini, jika kau membuat mereka menangis dan melukai mereka lagi, kupastikan kau tidak akan melihat mereka lagi, aku akan mengambilnya darimu secara paksa, kau suka atau tidak. Baiklah, aku melepaskanmu kali ini.” Dia menepuk bahuku lagi.

“Gomawo, gomaweo telah menjaga malaikat-malaikatku selama ini.”

“Hei, Tuan Putri… Appa disini sayang. Kau lihat? Aku membawakan Permaisuri galak untukmu, kau menginginkan aku membawanya kan?” Aku menyentuh pipinya.

“Cepat sadar sayang.” Aku berbisik ditelinganya.

Eun Kyo sudah mulai sadar. Dan Min Wo pamit pulang. Sebelum pulang dia berkata pelan untuk berpamitan kepada Eun jung.

“Ya, anak manis, cepatlah sadar… jika kau tidak sadar maka cermin ajaib akan mengatakan eommamu lah yang akan jadi wanita paling cantik di dunia, kau tidak ingin itu terjadi kan?” Min Wo tersenyum, aku juga tersenyum

“O, jika kau cepat sadar kau akan dapat hadiah, ahjussi akan membawamu ke kedai es krim setiap hari saat kau pulang sekolah, bagaimana?” Lelaki ini, begitu perhatian, pribadi yang hangat, aku harus waspada, aish! Sempat-sempatnya aku disaat seperti ini cemburu.

“Oh, jika kau cepat sadar… maka orang tuamu akan memberi hadiah, hadiah yang selalu kita bicarakan saat ahjussi menjemputmu sekolah, bagaimana? Hem? Jika kau cepat sadar, orang tuamu akan memberimu adik.”

“MIN WO OPPA!!!” Eun Kyo sudah sadar dan dia terlihat jengkel dengan Min Wo, aku melihat muka merahnya lagi, muka yang sangat kurindukan.

“Oppa, sebaiknya kau cepat pulang sebelum kau meracuni anakku dengan janji-janjimu itu!”

Kami semua tertawa, Jina dan Donghae yang paling keras tertawa, Eun-kyo melirik tajam kearah mereka. Tawa mereka berhenti seketika.

“Baiklah, anak manis, ahjussi pulang dulu, jangan lupa apa yang aku katakan tadi.”

===============

Seminggu berlalu, Eun Jung sudah keluar dari rumah sakit, Eun-kyo sudah kembali kepadaku. Kami bersama lagi. Untuk menyambut kepulangan Eun Jung dari rumah sakit kami menggelar makan malam bersama. Aku mengundang Jina dan Donghae, tidak lupa juga Hae Na juga ikut. Serta Keluarga Cho. Makan malamnya sangat meriah, penuh gelak tawa. Aku melihat istriku tersenyum lagi. Eun Jung bisa bermain lagi dengan sepupu kesayangannya dan teman barunya, Kyuhee. Setelah lelah bermain, anak-anak tertidur. Kyuhee dibawa Kyu pulang bersama Nanhee. Jina menggendong Hae Na. Dan Donghae? Dia mengangkat Eun Jung.

“Hei, mau dibawa kemana anakku?” Eun Kyo protes saat Donghae mengangkat Eun Jung.

Jina dan Donghae tidak menjawab, mereka berlalu begitu saja. Eun Kyo melanjutkan membersihakan sisa kami makan. Aku melingkarkan tanganku dipinggangnya, memeluknya dari belakang.mencium lehernya. Dan merapatkan pelukanku.

“Oppa, jika kau terus melakukan ini bagaimana aku bisa cepat menyelesaikan pekerjaanku?” Eu-kyo protes.

“Aku merindukanmu.” Aku tidak mempedulikan ocehan yang keluar dari mulutnya.

“Bukannya kau lebih senang dipeluk Emily?” Mukanya cemberut.

“Baby… jangan mengungkit hal itu lagi, jebal.” Aku enggan mengingat hal memuakkan itu lagi.

Aku lihat Donghae dan Jina kembalai lagi.

“Wae? Kenapa datang lagi?” aku menoleh kearah mereka. Donghae menarik tanganku sedangkan Jina menarik Eun-kyo. Mereka menyeret kami ke dalam kamar dan menguncinya dari luar. Eun Kyo terlihat menggedor pintu.

“Yak! Jina-ya! Buka pintunya, pekerjaanku belum selesai!” Eun-kyo berteriak.

“Selesaikan saja pekerjaanmu di dalam sana! Jangan lupa kau punya hutang dengan Eun Jung, cepat lah memberinya adik!” Jina dan Donghae tertawa puas. Aku menyeringai kea rah Eun Kyo. Eun Kyo mulai menjauh.

“Yak! Yak! Yak! Oppa! Jangan mendekat! Atau kau akan kubunuh! Jina-ya! Donghae-ah…! Kalian akan mati jika dalam hitungan ketiga tidak membuka pintunya! Oppa! Jangan mendekat!”

Aku semakin ingin menggodanya, aku mendekatinya dan memeluk tubuhnya, sebelum sempat dia mengeluarkan kata-kata ancamannya lagi aku sudah membungkamnya dengan mulutku.

Akhirnya aku merasakan lagi aroma tubuhnya.

My feelings for you

Whether it’s the morning, the afternoon, or the evening

I want to see you, you are my heaven

 

NOTE : nyahahahahahahahaha, hohohohohohohohohoho, aku kembali lg dengan kegilaanku, hohohohhohoho, aneh super gaje, hanya saja aku lagi bête, penuh emosi, maka lahir lah ff abal ini lagi. Vha! Aku tidak mau menjadikan dirimu orang ketiga, enak saja, aku tidak rela kau mnggerayangi suamiku……!!!! Jadi aku jadikan Emily (nama Inggris aku) hahahahahaha aku memang egois!

 FIN

20 responses »

  1. oppaku,,knpa kmu jdi tukang selingkuh sih,,,kasian eunkyo,,,kalo selingkuh ma aku sih gapapa *ngarep*,,,fika konfliknya kren,,,ternyta bnang merah antra oppa n eunkyo ttap trjalin,,jdi ngebyangin wjah eunjung yg mirip oppa psti ngegemesin deh,,
    fika aku tunggu ff yg lainnya ya,,,,

  2. Lapang bgt ya say hatiny eun kyo…
    Teuki selingkuh, eh dy masih maafin ajahhhh

    huaaa
    ada No Min Woo…..
    Say, MinWoo buat aq aja yah haha
    habis si ikan dah ada yg punya #lirik2 jina hoho

    • buahahahahahaha, lapang dada? engga juga ah, buktinya aku sempat kabur…
      cinta itu seperti pasir, semakin besar kau menggenggamnya, semakin banyak kau kehilangannya.
      jiahahahhahahahahahaha, klo dia ga suka lagi ya sudah, tapi klo dia cinta aku, aku juga cinta dia, ngapain susah-susah buat sakit hati?
      iya kan? memaafkan orang itu lebih melegakan…
      tapi ya klo misalnya udah ga bisa balik ya g usah…
      tapi kan biar gimanapun dia suami aku, appanya anak aku…
      g mungkin dong aku ga maafin, kecuali dia nyakitin aku banget…

      itu Seo Min Woo bukan No Min Woo…
      iya buat kamu aja ga papa…

  3. Yeobo, aku baru tau cerita ini.
    Jujur.
    Kenapa aku ketinggalan?
    Padahal aku udah ngubek2 ini blog !!

    Huweee…emilly..di penjara ya? Kasian deng..haha

    eh, itu jungsoo pernah ngelakuin ‘itu’ ga sama emily?
    Ke hotel, apartmen bdua mulu masa ga ada apa2 sih..wkwkwk

    hmmmm…aku mau minwoo donk jagi..hahaha

  4. Eonni….
    aku pengennn nikahhhh ==”

    Ommonaaa!!!
    masak aku baca dari part dua eonn?? eonni pasti udah tidur dimintain PW yang part 1….
    nyambung gak ngambug dah ni kepala baca ff dari past teraikhir,,
    sempet deg-degan pas eonni kabur dari rumah,,kirain mau kabur ke rumah min wo,,eh untunglah tidak….hahhaaaa

  5. aigoo wanita penggoda itu benar2 nyeremin yah, kalo rasa cinta teuki cm seupil pasti mrk bkal pisah th#maka.a cr cowo yg setia#jd curcol lg

    gemes bget aku sm emily, brhbg mrk gjd pisah, gjd dibejek2 dh# mehrong

  6. untung yaa eunkyo onnie puna sahabat2 yg baeekk hati dan suka menolong..
    berkat mrka smua jdi beeress…!!
    haha..itu jina am donghae semangat amet ya..
    nyruh ngasik adekk ke eunjung..
    “selamat buat adek onn..yg lembut2 ajahh jgn ganas2 haha..😀
    buat jung soo oppa terkapar n menyerah dluan*(?)^^
    kuumatt..(g.n.o.d.a.y)

  7. oppa maka’a dengerin penjelasan’a dulu jgn asal ngejudge ajj..

    hahaha..
    aq suka kta” terakhir..
    akhir’a aq merasakan lgi aroma tubuhnya..
    berarti klo oppa bilang rindu aroma tubuh’a eun kyo, brarti oppa rindu berhubungan dgn eun kyo y..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s