OUR LIFE (Chapter 4) : Like A Shining Star

Standar

MINNA COUPLE

Genre : Romance

Cast : Choi Minho

Park Rae Na

hufh, akhirnya selesai juga, sebenarnya sih udah selesai dari tadi sore, cmn nunggu yang empunya diri nongol dlu… kalo tu anak kaga nongol tadi malam ini ff kaga bakalan kelar!!!!!

sok lah my family yang ditag baca yeeeeee, gaje si, aku nulisnya cuman buat fun aja, biar kita punya kisah kita sendiri, meski kita tidak pernah bertemu, tapi kita bertemu disini… iya kan??? sok lah dibaca, kalo sempet dikomen yeeeeeee. yang punya nama diatas wajib komen…..!!!

Minho POV

Dari halaman Rumah Sakit, tapi aku lebih senang menyebutnya Hotel Pribadiku, Eun Kyo noona tampak sibuk dengan seorang pasien yang baru saja keluar dari mobil ambulance. Aku tidak berani mengganggunya kendati seharian ini aku sudah sangat merindukannya. Aku masih menunggu Eun Kyo Noona selesai dengan pekerjaannya, jika sudah selesai dia pasti akan menemuiku.

Saat aku sedang asik memperhatikan seorang anak kecil yang sedang bermain, aku melihat dari kejauhan  Eun Kyo noona sedang mengarah kesini. Aku tersenyum dalam hati. Ah, akhirnya aku bisa melihat wajah wanita ini lagi. Dia duduk dikursi yang sedang aku tempati, kebiasaannya jika sedang menunggu jemputan suaminya.

“Ada masalah serius noona?” aku menanyakan padanya, raut wajahnya terlihat sangat lelah.

“Ani, hanya lelah saja.” Dia menjawab sambil meregangkan tubuhnya.

“Ada masalah lagi dengan suamimu?” Ah, aku memang selalu ingin tahu perkembangannya dengan suaminya. Noona aku sangat menyukaimu, andai kau tau.

“Ne?” Wajahnya langsung menoleh padaku. “Ani, aku sudah bilang aku kelelahan, aish! Bocah ini selalu saja ingin tahu urusan orang lain.” Dia menoyor kepalaku, aku pura-pura meringis.

“Noona! Jangan panggil aku bocah! Aku sudah 20 tahun! Kalau kau mau aku bisa menikahimu.” Aku terkadang jengkel padanya yang selalu menganggapku anak kecil.

“Tapi sayangnya kau tidak bisa Choi Minho, aku sudah dimiliki orang lain, dan aku tidak bisa hidup tanpanya.”

***

Aku berjalan menyusuri lorong sepi. Hari memang menjelang malam, sudah bukan saatnya lagi orang-orang yang berada dalam lingkungan ini dikunjungi. Saat akan memasuki kamarku, aku melintasi sebuah kamar yang menarik perhatianku. Em? Pasien baru? Tepat disamping kamarku. Yang baru masuk tadi sore? Seperti ada kekuatan yang membawa kakiku melangkah mundur kearah kamar itu. Aku mengetuk pintu, membukanya perlahan.

“Hai, boleh aku masuk?” aku menyembulkan kepalaku sambil tersenyum. Karena dia tidak menjawab aku masuk saja.

“Siapa kau?” Dia berkata dingin.

“Ah, perkenalkan, namaku Choi Minho, aku pasien disini.”

“Em, bisa terlihat dari bajumu, sama denganku.” Dia masih menjawab dingin dan lirih.

“Kenapa kau berada disini?” Aku menanyakan alasannya ada disini, terlihat bodoh memang, pastilah dia sedang sakit, kecelakaan lebih tepatnya.

“Apa kau buta? Tidak lihat kakiku digips begini?” Dia berkata ketus. Aish! Yeoja ini kasar sekali.

“Ah, ne, benar juga.” Aku benar-benar terlihat seperti orang bodoh dihadapannya, tapi dia terlihat sangat acuh.

“Em, sebaiknya kau istirahat saja, aku mau kembali ke kamarku.” aku berpamitan dengannya.

“Memang sejak tadi aku ingin istirahat, tapi kau masuk permisi tanpa persetujuanku.” Dia bergumam. Aku hanya tersenyum mendengarnya.

***

“Noona, siapa penghuni kamar yang ada disebelahku?” Aku bertanya pada Eun Kyo  Noona yang melintas dihadapanku.

“Euh?” Dia menoleh padaku. “Ah, pasien yang itu, dia baru masuk kemaren sore. Namanya Park Rae Na, memangnya ada apa?” Wajah Eun Kyo noona terlihat bingung. Aku senang melihat wajahnya seperti ini.

“Ah, ani, hanya bertanya saja Noona.” Kemudian Eun Kyo Noona berlalu dari hadapnku.

Aku melihat gadis itu sedang duduk di taman Rumah Sakit dengan kursi rodanya. Aku menghampirinya.

“Boleh aku temani?” Dia menoleh kepadaku dan mengangguk lemah. Aku membawanya berkeliling halaman Rumah Sakit yang luas ini. Sesekali menyapa anak-anak dan para orang tua yang sedang dirawat disini.

Rae Na POV

Dia menyapaku dan mengajakku berkeliling Rumah Sakit. Aku suka pribadinya yang hangat. Caranya menyapa dan bermain dengan anak kecil dan caranya menghormati orang yang sudah tua.  Eh? Apa aku bilang tadi? Menyukainya? Haha, yang benar saja! Aku menjadikan namja sebagai objek untuk berkelahi, bukan yang lain, aku tidak pernah sedekat ini dengan seorang namja. Ah, molla!

“Sudah berapa lama kau ada disini?” aku memulai pembicaraan setelah lama berkeliling.

“Ne? Aku? Aku sudah lupa sejak kapan aku berada disini. Meski sudah dinyatakan bisa pulang dan sesekali kontrol, aku enggan untuk pulang, aku lebih menyukai tempat ini, saling berbagi.”

Aku hanya mengangguk mendengar ceritanya.

“Aku tidak betah dirumah, Appa selalu saja sibuk, Eomma? Aku tidak mengerti apa yang dilakukannya, selalu menyibukkan diri dengan kegiatannya, hufh, aku seperti anak yang terbuang.”

Cerita itu meluncur bebas dari mulutnya, aku hanya terdiam. Appa dan Eomma? Bagaimana rasanya mempunyai Appa dan Eomma? Aku hanya seorang anak yatim piatu, semua pendidikanku berasal dari beasiswa.

“Ah, apa aku bercerita terlalu banyak?” Dia menoleh kebawah menatap wajahku. Aku hanya tersenyum.

“Kau seharusnya bersyukur mempunyai orang tua, bisa membiayaimu, tak perlu memikirkan harus makan apa kau keesokan harinya.”

***

Aku jadi teringat dongsaeng-dongsaeng aku di panti asuhan. Umurku sudah 20 tahun, dan aku tidak mungkin terus-terusan hidup di dalam Panti. Aku memang sudah mencari pekerjaan. Tapi jika keadaanku seperti ini, bagaimana aku bisa mencari pekerjaan, aish! Ada-ada saja. Untung saja orang yang menabrakku ketika pulang kuliah bertanggungjawab. Aku bahkan dirawat di ruangan VIP, membayangkannya saja aku tidak pernah. Saat aku melamun, tiaba-tiba saja terdengar suara pintu kamarku diketuk, aku mempersilahkannya masuk.

“Agasshi, Tuan Besar meminta maaf tidak sempat menjengukmu saat ini, Beliau sedang ada keperluan yang tidak bisa ditinggalkan.” Lelaki paruh baya yang berpakaian rapi ini membungkuk sopan padaku. Aku jadi bingung, siapa sebenarnya orang ini.

“Anda tidak perlu khawatir, semua biaya Rumah Sakit akan ditanggung Tuan Besar.” Aku tak mampu berkata apa-apa lagi.

“Ah, ye, Gamsahamnida Ahjussi.” Hanya itu yang keluar dari mulutku.

“Ah, Tuan Besar juga berpesan, jika nanti Agasshi sudah sembuh, Tuan Besar ingin anda tinggal dirumahnya.”

“Ne?” Aku terkejut mendengar ucapan Lelaki itu. Tinggal dirumahnya? Untuk apa? Mengenalnya saja aku tidak.

“Ah, tidak perlu Ahjussi, semua biaya perawatan ini sudah cukup.” Aku menolak.

“Tapi Tuan Besar ingin anda tinggal dirumahnya. Dan anda akan membantu Nyonya dalam kegiatannya.”

“Ne?” Lagi-lagi ucapannya tak mampu kucerna dalam otakku.

“Tuan Besar ingin anda jadi asisten Nyonya dalam menangani sebuah galeri yang akan dibuka sebentar lagi.”

“Tapi ahjussi, aku masih kuliah.” Aku menimpali.

“Masalah itu Tuan Besar sudah tau, maka dari itu Tuan Besar ingin anda bergabung dalam perusahaannya, anda akan tinggal di rumah bersama Nyonya.”

“Ah, tapi itu sangat berlebihan Ahjussi.” Aku berusaha menolak meski tergiur dengan tawaran pekerjaan yang sangat aku butuhkan itu.

“Anda akan tetap kuliah, hanya saja saat anda tidak kuliah, anda akan bekerja bersama Nyonya.”

Aku hanya mengangguk tanda mengerti.

“Anda boleh mencoba dulu, bila anda tidak betah maka anda boleh pulang.” Ahjussi itu sepertinya mengerti jalan pikiranku. Aku tidak mau berhutang budi. Biaya perawatan ini sudah lebih dari cukup.

“Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu Agasshi.” Lelaki itu berpamitan padaku. “Anda sebaiknya memikirkannya dengan baik, kesempatan jarang datang dua kali.” Dia membungkuk padaku sebelum keluar dari pintu. Aku hanya menatapnya bingung.

Minho POV

Setiap hari aku melihatnya latihan berjalan setiap pagi di ruang fisioterapi, dia adalah yeoja yang tangguh. Sepertinya aku menyukainya. Aku selalu memperhatikannya. Sesekali dia terjatuh, tapi tetap semangat untuk bangkit lagi tak pernah lelah. Aku tersenyum melihatnya. Tanpa sadar hari ini aku belum sekalipun bertemu Eun Kyo noona, aku hanya berkeliaran disekitar yeoja ini. Memperhatikannya dari kejauhan. Ada sebersit rasa kagum pada dirinya. Caranya menghadapi hidup. dia menoleh ke arahku, aku melambaikan tanganku, dia tersenyum tipis. Aku berjalan ke arahnya.

“Apa kau tidak ada kerjaan berkeliaran disini?” Dia bertanya acuh padaku sambil meneruskan aktifitasnya latihan berjalan.

“Sudah aku bilang aku penghuni tetap disini, jadi aku bebas melakukan apa saja.” Aku menjawab dan duduk dikursi sambil memperhatikannya.

“Cih! Apa menurutmu ini sebuah Hotel bintang lima? Ck! Dasar orang kaya.” Berkata ketus padaku. Aku hanya terkekeh mendengarnya. Yeoja ini benar-benar berbeda.

“Mau kuantar ke kamarmu?” Aku menawarkan diri. memapahnya ke kursi roda.

“Aku bisa sendiri, tidak perlu bantuanmu.” Dia menepis tanganku. Aku hanya menghela nafas. Selain suka berkata ketus dia juga sangat keras kepala.

Aku mengikutinya dibelakang, terkadang dia menoleh kebelakang dan berdesis padaku. Aku berpura-pura tidak melihat, mengikutinya seperti orang bodoh.

Dia membuka kamarnya, aku mengikutinya.

“Apa selain berkeliaran kau juga suka menguntit orang lain?” Dia menoleh tajam kearahku. Aku hanya tersenyum. “Aish! Kau menyebalkan sekali.”

***

Sudah lima belas hari dia disini, terapinya juga berjalan dengan baik, dia sekarang bisa berjalan tanpa bantuan kursi roda dan tongkat penyangga lagi. Aku menghampirinya ke dalam kamar inapnya. Terlihat dia sibuk merapikan barang-barangnya. Eh? Apa dia akan pulang hari ini?

“Apa kau akan pulang hari ini?” Aku mengagetkannya.

“Yak! Kau senang sekali mengejutkan orang dengan tiba-tiba!” dia setengah berteriak padaku.

“Aku bertanya apa kau akan pulang hari ini?” Aku tidak menghiraukannya yang bergumam kesal padaku.

“Untuk apa aku berlama-lama disini, itu membuang-buang uang! Lebih baik aku pakai uangnya untuk makan.” Dia menjawab sambil merapikan koper dan pakaiannya. Aku memperhatikan gerak geriknya. Ada rasa yang menusuk kecil disudut hatiku menerima kenyataan dia akan keluar dari sini. Setengah bulan memang waktu yang singkat untuk membuatku jatuh cinta, tapi lima belas hari mampu memberi warna lain dalam hidupku, sebuah semangat, aura kegighannya memberikan energi positif terhadapku.

“Kau…” Dia menoleh padaku dan menggantungkan kata-katanya. “Sebaiknya jangan berlama-lama disini, itu membuatmu lemah, hadapi kenyataan, kau masih punya orang tua, meski mereka sibuk mereka tetap orang tuamu, mereka bekerja keras untukmu, bukan untuk hidup mereka, tapi untuk kesembuhanmu, jadi berhentilah mengahambur-hamburkan uang Choi Minho, kau terlalu kekanak-kanakan.” Omo! Baru kali ada orang yang berkata seperti itu padaku. Bahkan dia menyebut namaku bukan ‘kau’. Aku hanya terdiam mendengar perkataannya, memperhatikan gerak geriknya mengemasi barang-barangnya.

“Assa! Selesai, saatnya aku pulang!” terlihat matanya berbinar-binar saat akan meninggalkan tempat ini.

Aku menatapnya dari kejauhan sampai punggungnya tak terlihat lagi.

***

Aku melewati hari-hariku ditempat ini menjadi berbeda. Tanpanya aku merasa kehilangan. Aku sering mendatangi tempat-tempat yang sering dia kunjungi. Mulai dari taman, kamar anak-anak, sampai ruangan fisioterapi. Aku seperti sebuah puzzle yang kehilangan sebagian kecil potongannya.

Aku duduk ditaman sembari memperhatikan para pasien manula yang sedang duduk menghirup udara segar. Aku memperhatikannya. Nantinya aku juga akan seperti itu. Keriput dan renta. Aku memandangi sepasang manula yang sedang duduk itu, istrinya tampak telaten merawat suaminya yang sedang sakit. Terdengar lirih terkadang mereka tertawa kecil, betapa bahagia. Aku memperhatikan mereka sambil tersenyum sampai seseorang mengejutkanku duduk tepat disebelahku. Park Jung Soo. Aku hanya diam tanpa menoleh kepadanya, kami sama-sama membisu.

“Aku ingin seperti itu, tertawa dan hidup bahagia sampai renta, dan salah satu dari kami pergi meninggalkan dunia ini.” Aku mendengar dia berkata, padaku? Bukan, sepertinya dia berkata untuk dirinya sendiri.

“Tapi kau hampir menyia-nyiakan orang yang punya impian besar untuk tetap disampingmu.” Aku menimpalinya. Dia menoleh padaku dan tersenyum.

“Beruntung aku tersadar dari kekeliruanku, dan orang itu tidak jatuh ke tangan orang lain.” Aish! Dia menyindirku.

“Kau merasa terancam?” Aku mencibir padanya.

“Kalau boleh jujur, iya, aku merasa sangat terancam denganmu.” Dia menjawab.

“Dia adalah yeoja yang sabar, kau bodoh bila meninggalkannya.”

“Lagi-lagi aku beruntung karena ternyata dia lebih sabar dari dugaanku dan tetap berada disisiku.” Aku tertawa kecil mendengar jawabannya.

“Bagaimana rasanya mencintai Eun Kyo Noona?” aku bertanya padanya. Dia terdiam sejenak.

“Kau sudah makan?” Dia bertanya padaku.

“Ye, aku sudah makan, memangnya kenapa?” aku menjawab.

“Apa jika kau makan kau juga minum?” Dia bertanya lagi. Aku tertawa meremehkannya.

“Tentu saja, bagaimana mungkin makan tanpa minum.” Aku menjawabnya setengah tertawa.

“Seperti itulah rasanya.” Dia menoleh kepadaku. Aku mengerutkan dahiku.

“Saat kita makan, kita perlu minum, dia kebutuhan untukku seperti air, seperti itulah rasanya. Kau mungkin bisa saja menahan lapar, tapi kau tidak akan bisa menahan haus. Seperti itulah rasanya. Ada kesejukan saat menegak air, seperti itulah rasanya, dia seperti air yang memenuhi tubuhku. Kau bisa saja makan tanpa minum, tapi itu akan merusak organ tubuhmu, perlahan menggerogotinya dan berbagai penyakit akan datang. Seperti itulah aku mencintainya. Dia kebutuhan untuk kelangsungan hidupku.” Dia menoleh padaku. Ada kesungguhan dimatanya.

***

Sudah beberapa hari aku merasa tidak bersemangat. Ah, apa yang terjadi padaku? Mengapa aku seperti ini? Jangan katakan aku mencintai gadis itu!

Aku duduk bersama Eun Kyo Noona ditempat biasa dia menunggu suaminya menjemputnya.

“Kau terlihat murung, ada apa denganmu Minho-ya?” Eun Kyo Noona bertanya padaku.

“Ani.” Aku menjawab lesu.

“Kau juga tidak berkeliaran disekitarku akhir-akhir ini.” Dia menoleh padaku.

“Haha, apa kau merindukanku Noona?” aku tersenyum menggodanya. Dia hanya mencubit lenganku. Aku pura-pura meringis kesakitan.

“Noona, aku mencintaimu.” Aku berkata perkataan yang rutin aku katakan padanya. Dia tidak menjawab, atau dia sudah bosan menjawab karena jawabannya pasti sama.

“Noona, sepertinya aku mencintai gadis lain.” Aku berkata lirih. Dia langsung menatapku bingung.

“Aish! Noona, jangan menatapku seperti itu, apa kau takut aku tidak akan mencintaimu lagi?” Lagi-lagi aku menggodanya, aku sangat senang menggodanya.

“Apa kau bilang? Takut? Haha, Choi Minho, aku malah bahagia, akhirnya kau menemukan seseorang, nuguya?” Dia bertanya penuh antusias.

“Apa kau senang karena aku tidak akan mengganggumu lagi?”

“Yak! Apa yang kau katakan?! Anak ini! Bagaimana perasaanmu terhadapnya? Apa dia cantik? Apa aku tau orangnya?” dia mencecarku dengan pertanyaan.

“Dia…” Aku menahan kata-kataku, matanya terlihat berbinar0binar menunggu kata yang keluar dari mulutku, aku tersenyum. “Dia yeoja yang tangguh, tidak seperti yeoja pada umumnya, terlihat sedikit tomboy dan…. Dia jadi terlihat tegar.” Eun Kyo Noona memperhatikan dengan seksama perkataan yang keluat dari mulutku.

“Lalu bagaimana dengan perasaanmu?” Dia kembali bertanya.

“Perasaanku? Aku belum yakin dengan perasaanku, hanya saja dia selalu berkeliaran di otakku, satiap saat,” Aku mengutarakan perasaanku.

“Itu artinya kau jatuh cinta bodoh!” Dia menyela.

“Tapi itu tidak sama dengan yang aku rasakan terhadapmu, Noona.” Aku bingung dengan perasaanku sendiri dan menunduk.

“Kau hanya menyayangiku, Minho-ya.”

“Hem, mungkin saja.” Aku menoleh padanya.

“Kau hanya menganggapku satu-satunya orang yang memperhatikanmu, itu sebuah rutinitas untukmu, hingga perlahan kau akan sedih jika tidak melihatku, karena kau merasa tidak ada yang memperhatikanmu.” Dia menjelaskan, aku hanya mengangguk.

“Tapi aku memang mencintaimu, aku tau Noona…”

“ Tidak perlu mendaki gunung yang tinggi yang belum tentu apalagi memang tidak bisa kau daki untuk mengambil setangkai edelwais, lambang cinta keabadian Choi Minho, jika ternyata setangkai bunga mawar dihalaman rumahmu mampu membuatmu merasa lebih hidup hanya dengan mincium baunya saja.” Dia beranjak pergi karena suaminya sudah menjemput. Dia berhenti dan menoleh sambil tersenyum padaku.

“Hwaiting!” dia mengepalkan tangannya. Aku tersenyum.

Rae Na POV

Akhirnya aku menerima tawaran Jung ahjussi untuk menjadi asisten Nyonya Besarnya. Hari-hariku juga sibuk. Pagi sampai siang aku kuliah. Sore hari aku membantu Nyonya untuk mempersiapkan galerinya yang akan dibuka sebentar lagi. Nyonya adalah tipe wanita karir yang tidak mau diam. Wataknya keras dalam melakukan suatu hal, tapi dia juga terkadang sangat lembut dan perhatian. Aku seperti menemukan sosok ibu pada dirinya. Dia juga sangat perhatian padaku, aku dianggap seperti anaknya sendiri, karena dia tidak mempunyai anak perempuan. Rumah yang aku tinggali sangat besar, tapi juga sangat sepi.

“Rae Na-ya.. Nanti malam temani aku menemui seorang kolektor lukisan, aku ingin membelinya untuk galeri kita.”

“Ah, ne.” aku menjawab sopan.

“Tidak perlu seformal itu Rae Na-ya… Kau sudah aku anggap seperti anakku, aku menyukaimu, menyukai semangatmu.”

***

Aku melangkahkan kakiku meninggalkan area kampus, aigoo hari ini sangat melelahkan. Tadi malam mengerjakan tugas kampus yang bertumpuk. Hari ini harus menemani ahjumma ke tempat kolektor benda-benda antik lagi. Saat aku akan menoleh ke depan, betapa terkejutnya aku, Choi Minho! Untuk apa dia kesini? Aku mencoba menghiraukannya. Mungkin saja dia menjemput seseorang disini, sangat mungkin.

Choi Minho! Namja yang akhir-akhir ini memenuhhi pikiranku! Aish! Chuan bilang aku jatuh cinta, mwo?! Jatuh cinta? Yang benar saja! Cinta adalah prioritas kesekian dalam hidupku.

Tapi tidak bisa dipungkiri aku memang memikirkannya, mata besarnya, senyumnya, semuanya terekam jelas dalam ingatanku, bagaimana tidak terekam jelas, setiap hari dia berkeliaran disekitarku.

Dan kau berhasil mengacak sistem kerja otkakku, Choi Minho sialan!

Aku menghentikan langkahku saat dia tersenyum. Eh? Dia tersenyum? Padaku? Aku menoleh ke belakang mencari-cari barangkali dia tersenyum pada orang lain, tidak ada orang lain yang berjalan kaki, dan matanya lurus menatapku. Dia melambaikan tangannya. Aku masih tetap melangkah sampai akhirnya mendekatinya.

“Sombong sekali kau.” Dia tersenyum padaku, lagi.

“Eh? Aku? Aku kira kau senyum pada orang lain.” Aku menjawab santai, padahal dalam dadaku aku menahan semua gemuruh yang terjadi.

“Mau apa kau kemari”? Aku bertanya heran padanya.

“Aku mau menjemputmu.” Dia berkata sambil meraih tanganku. Ada sebuah arus listrik menjalari permukaan tanganku ketika tangannya menyentuh jemariku. Sesaat aku tertegun. Dia menarikku, aku menurut tanpa ekspresi.

***

Aku berbaring diatas kasur sekembalinya aku menemani ahjumma tadi sore. Ah, melelahkan sekali. Tapi aku banyak belajar darinya.

Tiba-tiba saja pintu kamarku diketuk oleh seseorang. Aku membuka pintunya. Betapa terkejutnya aku yang berdiri dihadapanku adalah Choi Minho.

“Mengapa kau ada disini?!” aku setengah berteriak padanya. Tentu saja berteriak, bagaimana mungkin dia berdiri didepan kamarku jam 11 malam! Itu bukan waktu yang wajar bertamu bahkan mengetuk pintu kamar seorang yeoja. Dia hanya tertawa, dan masuk ke kamarku. aku mengikutinya.

“Yak! Apa yang ingin kau lakukan dikamarku?” aku masih memperhatikan gerak geriknya.

Dia membuka pintu balkon dan berdiri di depan pagar.

“Sudah lama aku tidak melihat bintang dari sini.” Eh? Apa maksudnya.

Dia berbalik menoleh kearahku dan menarik tanganku membawanya berdiri disampingnya.

“Sepertinya aku menyukaimu.” Dia berkata apa? Menyukaiku?

“Terlihat bodoh memang, tapi itu yang aku rasakan.” Dia melanjutkan perkataannya.

“Kau selalu berada dipikiranku beberapa waktu terakhir, sampai mampu membuatku berpikir ingin keluar dari tempat itu, mencari keberadaanmu. Dan ternyata aku menemukanmu. Bahkan lebih dekat dari yang aku bayangkan.” Aku menjadi seperti orang bodoh mencerna perkataannya. Dia pergi meninggalkanku dalam kebisuan.

Ditengah kebisuanku tiba-tiba tubuhku tertarik kebelakang dan mendarat didada seseorang, sepasang tangan kekar melingkar manis dipinggangku. Dadaku bergemuruh, jantungku bekerja tiga kali lipat lebih kuat dari biasanya, ada sebuah kehangatan yang menjalari tubuhku.

“Saranghae.” Sebuah bisikan ditelinga membuyarkanku. Suara berat itu. Choi Minho.

Dia melepaskan pelukannya. Aku menoleh kebelakang, dia tersenyum padaku.

“Kau tidak perlu menjawabnya sekarang, karena setiap hari aku akan berkeliaran disekitarmu, jadi aku bisa meminta jawaban kapan saja, kamarku diseberang kamarmu jika kau perlu sesuatu.

Minho POV

“Kau tidak perlu menjawabnya sekarang, karena setiap hari aku akan berkeliaran disekitarmu, jadi aku bisa meminta jawaban kapan saja, kamarku diseberang kamarmu jika kau perlu sesuatu.” Aku berkata sambil beranjak pergi darinya. Dia pasti sangat lelah.

“Park Rae Na, mulai besok kau akan diantar jemput olehku! Kau tidak bisa menolak! Tidak kubiarkan orang lain menjemputmu!” aku menyembulkan kepala sebelum benar-benar meninggalkan kamar itu.

Ternyata selama ini Jung ahjussi memperhatikanku, dia melihatku yang selalu bersama Rae Na akhir-akhir ini, dan kebetulan Rae Na adalah gadis yang ditabrak Appa beberapa waktu lalu. Appa memutuskan untuk merekrut Rae Na, yang sebelumnya dia lakukan investigasi terlebih dahulu sebelum memasukkan seseorang kedalam lingkungan bisnisnya. Aku rasa Eomma menyukai Rae Na, terlihat sekali karena Eomma jarang menyukai orang lain, tapi dengan Rae Na dia seperti menemukan partner yang tepat.

Aku membutuhkan wanita yang tangguh sepertinya. Yang mampu menopang jiwaku yang rapuh.

Where ever you are hiding

I can find you

If there were no you

Then my heart would stop

Even if you don’t say “Love”

I can feel with my heart

If you are here

I don’t need anything

You are my everything to me

Please shine like a star in the sky

FIN

na…. maafkan aku endingnya ga jelas, aku buntu ide…..!!! maaf jelek…. tidak seperti yang diharapkan…. *bow bareng Oppa*

17 responses »

  1. minho..minho..gue suka gaya lluu..
    cuucok daah mereka berduaa..
    couple yg pantang menyerah..
    kereen..kereenn
    “lanjuutt..bca yg berikutnya”

  2. ooo ternyata appa’a minho ya yg nabrak rae na,,,,
    tapi minho peka juga ternyata bisa nyadarin perasaannya dy buat rae na itu beda sama perasaannya dy k eunkyo eonni
    pengen tau lanjutan’a,,

  3. Huahahaha *muncul setelah sekian tahun lamanya*

    Gomawo eonnie, udah ngebuatin banyak cerita buat Na..
    Na emang ga tau terimakasih yah, ga ada buatin ini ff satu pun.. Mianhae.. otaknya ga nyampe bikin ff, cuma bisa menghayal gila ngalur ngidul tanpa seni.. #bow
    I Love Minho.. I Love MinNa..
    jeongmal kamsahamnida~ :)))<

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s